Selasa, 14 Juni 2011

Akang Mulang Tiyuh

Di Blambangan Umpu, Kabupaten Way Kanan hampir 6 tahun lalu, Akang Hamas dilahirkan. Tepatnya di Ruang Bersalin Puskesmas Rawat Inap Blambangan Umpu pada 18 Juni 2005
*4 hari lagi milad ya, dibantu oleh seorang TS dokter umum yang juga kakak tingkatku sesama alumni FK UNSRI, dr. Farida Ariyani. Melalui sebuah proses kelahiran yang lancar, lahir spontan dengan berat badan lahir 3,5 Kg, panjangnya 52 cm. Alhamdulillah...seorang laki-laki yang gagah lagi tampan. Nama yang disiapkan untuk diresmikan adalah Muhammad 'Abid Hamasah. Nama Muhammad mengandung arti agar bisa selalu meneladani sang Idola, manusia pilihan dan penghulu para Rasul.  'Abid artinya ahli ibadah dan Hamasah artinya semangat. Semoga...

Dan seperti yang sudah direncanakan hari ke 7 langsung pelaksanaan AQIQAH, berusaha menjalankan sunnah dengan yang kita bisa. Mengundang kerabat dekat dan syukurnya juga Kepala Dinas Kesehatan saat itu dr. Hanibal Hamidi, M. Kes berkesempatan hadir. Tak dinyana ini ternyata termasuk cikal bakal terselenggaranya AQIQAH ala Nabi, mengambil keutamaan hari ke 7, atau hari ke 14 atau 21 di kampungku. Lengkap dengan menyemblih hewan AQIQAH berupa kambing, dengan ketentuan 1 ekor bila bayi perempuan dan 2 ekor bila bayi laki-laki,disertai mencukur rambut bayi sampai plontos dan diberi nama. Selama ini yang menjadi tradisi di Blambangan adalah acara syukuran yang biasanya dilaksanakan tanpa memperhatikan hitungan hari, bisa jadi sebulan atau bahkan lebih dan hewan yang disemblih untuk acara inipun beragam, bisa kambing atau bahkan sapi, dan rambut bayinyapun hanya digunting simbolik sekedarnya saja.

Baca yang berikut ini...
Al-Allamah Imam Asy-Syaukhani rahimahulloh berkata dalam Nailul Authar (6/213) : "Jumhur ulama berdalil atas sunnahnya aqiqah dengan hadist Nabi : "..berdasarkan hadist Dari 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah bersabda :"Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing." [Sanadnya Hasan, Hadits Riwayat Abu Dawud (2843), Nasa'I (7/162-163), Ahmad (2286, 3176) dan Abdur Razaq (4/330), dan shahihkan oleh al-Hakim (4/238)]
"Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya, disembelih (hewan) pada hari ketujuh dari kelahirannya, dicukur rambutnya dan diberikan nama" (HR Ahmad)
Sebagian lagi berpendapat bahwa aqiqah bisa dilakukan kapan saja, sekalipun sudah dewasa, alasannya hadist dari Anas bin Malik yang berbunyi : "Rasulullah mengaqiqahi dirinya sendiri setelah beliau diangkat sebagai Nabi. "                  HR. Abdur Razaq
Namun demikian, jika ternyata ketika kecil belum diaqiqahi, ia bisa melakukan aqiqah sendiri disaat dewasa. Satu ketika Al-Maimun bertanya kepada Imam Ahmad, "ada orang yang belum diaqiqahi apakah ketika besar ia boleh mengaqiqahi diri sendiri?" Imam ahmad menjawab,: "menurutku, jika ia belum diaqiqahi ketika kecil, maka lebih baik melakukannya sendiri saat dewasa. Aku tidak menganggapnya makruh".
Nach kok jadi panjang ngebahas tentang sunnah AQIQAH ya? Padahal tadi niatnya mau cerita tentang Akang Hamas mulang tiyuh alias pulang kampung, Selasa pagi sampai Rabu sore yang lalu lantaran ikut Ummi yang mendadak ada acara kedinasan di Ibukota Kabupaten Way Kanan. Jadinya dengan alasan kangen Jidah dan ingin ketemu adik sepupu kembarnya, Akangpun ngerengek ingin ikut. Maka terjadilah aksi mulang tiyuh dadakan, bareng Abi yang ada sidang di Martapura. Yunda? Lebih memilih tidak ikut karena ada jadwal ujian TTQ dan hadist. 
"Tak apa Mi, kan bentar lagi libur panjang, Yunda bisa lama ke rumah Jidahnya", begitu katanya meyakinkanku. 

Dan inilah aksi Akang disehari mulang tiyuhnya...

Akang Hamas asli putra daerah Way Kanan.
Belajar manjat pohon Manggis, dibawah pengawasan Jidah.
Ya selalu, orang yang paling semangat setiap Akang mulang tiyuh adalah Jidah *Ibundaku. Beliau memang sayang sekali pada semua cucunya, sekarang jumlah cucunya ada 7 orang, tapi bukan rahasia lagi kalau Akang selalu yang lebih diistimewakannya, cucu kesayangan kalau bahasa adik-adikku. Secara Akang kan memang romantis, cie...apa sich? Akang memang pandai menyatakan rasa sayangnya termasuk pada Jidah dan Datuknya di Blambangan. Misal, bila lama tak jumpa mereka, Akang akan minta menelfon dan bilang "Jidah ke Palembang dong, Akang kangen", begitu ungkapnya.

Manggis hasil panenan Akang dan Jidah.

Pernah lihat buah Manggis yang masih di pohon? Seperti inilah.

Buah Manggis yang dipetik biasanya masih semu berwarna merah, diperam sehari dua langsung merah masak dan siap disantap, walaupun sering juga ada yang sudah masak di batang seperti ini.


Dan inilah si Kembar Kenzi yang membuat Akang makin heboh ingin segera mulang tiyuh meski belum libur sekolah. Bikin gemes kan? Mana dah tambah banyak kepintarannya.

M. Kenzi Abrari dan M. Kenzi Abqari sudah 8 bulan dan bisa naik sepeda.
Ayo tebak, mana Abrar dan yang mana Abqar?

Pohon apa nich? Kok buahnya kayak tomat.
Ternyata pohon ini tanaman terbaru Jidah, tumbuh di samping kamar,  pertama kalinya berbuah, namanya Cermai Bali. Rasa buahnya masam segar. Aku langsung dapat bibitnya (hasil semaian Jidah) untuk dibawa ke Palembang, cihuuyy...

Ini pohon Manggis hasil tanaman Datuk Muhir, sudah beberapa kali dipanen.
Dulu sewaktu aku masih kecil, pohon Manggis yang sering kami serbu
adalah pohon Manggis yang ada dibelakang rumah Kakekku.
Sampai sekarang masih ada, makin menjulang tapi buahnya justru mulai berkurang.
Mungkin menjelang menopause. Syukurnya sudah ada generasi pengganti tanaman Ayahandaku.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ
“Tak ada seorang muslim yang menanam pohon, kecuali sesuatu yang dimakan dari tanaman itu akan menjadi sedekah baginya, dan yang dicuri akan menjadi sedekah. Apa saja yang dimakan oleh binatang buas darinya, maka sesuatu (yang dimakan) itu akan menjadi sedekah baginya. Apapun yang dimakan oleh burung darinya, maka hal itu akan menjadi sedekah baginya. Tak ada seorangpun yang mengurangi, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya” . [HR. Muslim dalam Al-Musaqoh (3945)]
Dan semoga satu hadist ini makin membuat kita ber-SEMANGAT bercocok tanam.
إِنْ قَامَتْ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ
“Jika hari kiamat telah tegak, sedang di tangan seorang diantara kalian terdapat bibit pohon korma; jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai ia menanamnya, maka lakukanlah”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/183, 184, dan 191), Ath-Thoyalisiy dalam Al-Musnad (2068), dan Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod (479).
Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah  (no. 9)]
~ Sebuah catatan yang tertundA ~

5 komentar:

umah fityan&akifah mengatakan...

seneng lihat pohon2 yang rindang apalgi berbuah, pengen banget seperti hadits di atas, menanam bukan hanya memikirkan mungkinkah kita memakannya tapi bisa jadi untuk warisan anak cucu juga ya mba.

wa akang sebentar lagi 6 tahun ya, fityan tgl 28 ini 5 tahun nya.

selalu semangat ya kang seperti namamu Hamasah

tentang aqiqah, betul mba sepertinya memang harus diberikan contoh tentang aqiqah yg diajarkan rasul saw, pengalaman waktu fityan ketika di daerah yg tidak terbiasa dg aqiqah dan harga kambing yg sangat mahal, akhirnya aqiqah di bandung krn ga sanggup beli kambing di "sana" yang 1 ekornya 2 jt belum diapa2kan padahal di bdg pd waktu itu 1.6jt dg 2 ekor kambing sdh diolah.

semoga semakin byk kesadaran akan sunnah rasul dg contoh dari kita langsung...

Bunda Loving mengatakan...

Syukur anakku sudah aqiqah wkt hbs lahiran....
Yu'..mau dong buah manggisnya...
aku jg punya keponakan yg kembar...bingung deh bedainnya..tp skrng sdh bisa dibedain, tp kalau lht gigi mereka yg lagi ompong di usia 7th..
Salam ya yu'..utk sikembar dan akang amas.

Yunda Hamasah mengatakan...

ESF:
Wach hampir bareng dong miladnya Fityan dengan Hamas, coba kalau rumahnya dekat bisa tukar kado nich, hehe...

Iya dek harga kambing ternyata beda-beda ya di Way Kanan, Lampung juga lebih murah daripada di Palembang. Btw, berarti kampung kelahiran Fityan di Sekayu ya dek? Ayo kapan pulkam?

Aamiin semoga semakin banyak yang melaksanakan banyak hal sesuai sunnah bukan tradisi adat setempat ;)

Bunda Luv:
Senengnya dikunjungi bunda...Mari mampir nyicipi panenan Manggis dalam seminggu ini masih ada buahnya, hehemm...

Kembar emang kereeen ;)
Salam balik Bun...
Aqiqah pancen oye :D

Lyliana Thia mengatakan...

Subhanallah begitu baikkah kegiatan cocok tanam ini? *jadi makin semangat*

Wah Akang... suka manjat2 yah1 seneng bgt yah klo ke rumah Nenek trus manjatin pohon buah2an... duh, aku jd kangen Alm. Eyang aku...

Dan aku baru liat loh yg namanya cermai Bali... besarnya spt cermai biasa yah Mba? kayaknya lebih besar yah? dan nggak bergerombol yah? klo merah2 dipohon banyak... wah cantik bgt deh! :-D

Yunda Hamasah mengatakan...

Tia:
Harus makin semangat Tia, lanjutkan berkebunnya...
Tanam apa yang bisa kita tanam.

Mancat, salah satu kemampuan yang aku ingin anak-anakku bisa sampai pada tahap mahir sepertiku, Ehemm...

Aku juga baru tahu kemarin, dan langsung jatuh cinta. Lebih besar dari cermai biasa. Belum lihat yang banyaknya, tapi pasti cuannntik ;)