Rabu, 15 Juni 2011

Biar Kuncupnya Mekar jadi Bunga

Kuncupnyapun mekar jadi BUNGA. Indah bukan?
Ini bungga anggrek pertamaku. Selama ini aku belum pernah menanam anggrek, suka bunganya, tapi menurutku agak rumit memeliharanya. Dan saat ada seseorang yang memberiku anggrek ketika beliau tahu aku akan pindah dari Sukabumi, aku tak bisa mengelak lagi. Beliau adalah petugas KB yang sering bertemu denganku di Puskesmas, Ibu Istiqomah namanya. Aku bawa setangkai bunga anggrek dalam pot kecil pemberiannya, sekian lama, tumbuhlah tangkai baru dan mulai menampakkan tanda-tanda akan berbunga. Saat itulah anggrek ini mulai kuperhatikan, kusiram dengan ampas teh herba hampir setiap hari, selang waktu hampir 2 minggu kuncup bunga yang kutunggu akhirnya mekar, jadi bunga yang indah. Ya...indah sekali, dan aku sungguh terpikat.

Hingga hari ini akupun membiarkan ingatanku segar akan satu ulasan Ust. Anis Matta dalam bukunya yang berjudul Biar Kuncupnya Mekar jadi Bunga, buku lawas tapi sampai sekarang tetap aku suka.
Dari kumpulan tulisan di Kolom Ayah.
Cocok sekali dibaca para SUAMI.
Ada yang pernah baca? 
Aku ingin mengutip isi buku ini sekilas, 
semoga mampu sekedar menyegarkan.

Cinta itu bunga, bunga yang tumbuh mekar dalam taman hati kita. 
Taman itu adalah kebenaran. Apa yang dengan kuat menumbuhkan, mengembangkan,dan memekarkan bunga-bunga adalah air dan matahari. Air dan matahari adalah kebaikan. Air memberinya kesejukan dan ketenangan, tapi matahari memberinya gelora kehidupan. Cinta, dengan begitu, merupakan dinamika yang bergulir secara sadar di atas latar wadah perasaan kita.

Maka begitulah seharusnya anda mencintai, menyejukkan, menenangkan, namun juga menggelorakan. Dan semua makna itu terangkum dalam kata ini, menghidupkan. Anda mungkin dekat dengan peristiwa ini ; 

bagaimana istri anda melahirkan seorang bayi, lalu merawatnya, dan menumbuhkannya, mengembangkannya serta menjaganya. Ia dengan tulus berusaha memberinya kehidupan.

Bila anda ingin mencintai dengan kuat, maka anda harus mampu memperhatikan dengan baik, menerimanya apa adanya dengan tulus, lalu berusaha mengembangkannya semaksimal mungkin, kemudian merawatnya..menjaganya dengan sabar. Itulah rangkaian kerja besar para pecinta; pengenalan, penerimaan, pengembangan dan perawatan.

Apakah anda telah mengenal isteri anda dengan seksama ?
Apakah anda mengetahui dengan baik titik kekuatan dan kelemahannya ?
Apakah anda mengenal kecenderungan-kecenderungannya ?
Apakah anda mengenal pola-pola ungkapannya; melalui pemaknaan khusus dalam penggunaan kata, melalui gerak motorik refleksinya, melalui isyarat rona wajahnya, melalui tatapannya, melalui sudut matanya?
Apakah anda dapat merasakan getaran jiwanya, saat ia suka dan saat ia benci, saat ia takut dan begitu membutuhkan perlindungan ?
Apakah anda dapat melihat gelombang-gelombang mimpi-mimpinya,harapan-harapannya ?

Sekarang perhatikanlah bagaimana tingkat pengenalan Rosululloh saw terhadap istrinya, Aisyah. Suatu waktu beliau berkata, " Wahai Aisyah, aku tahu kapan saatnya kamu ridha dan kapan saatnya kamu marah padaku. Jika kamu ridha, maka kamu akan memanggilku dengan sebutan : Ya Rosulullah ! tapi jika kamu marah padaku, kamu akan memanggilku dengan sebutan " Ya Muhammad".

Apakah beda antara Rosululloh dan Muhammad kalau toh obyeknya itu-itu saja ?
Tapi Aisyah telah memberikan pemaknaan khusus ketika ia menggunakan kata yang satu pada situasi jiwa yang lain.
Pengenalan yang baik harus disertai penerimaan yang utuh. Anda harus mampu menerimanya apa adanya. Apa yang sering menghambat dlm proses penerimaan total itu adalah pengenalan yang tidak utuh atau "obsesi" yang berlebihan terhadap fisik.

Anda tidak akan pernah dapat mencintai seseorang secara kuat dan dalam kecuali jika anda dapat menerima apa adanya. Dan ini tidak selalu berarti bahwa anda menyukai kekurangan dan kelemahannya. Ini lebih berarti bahwa kelemahan dan kekurangan bukanlah kondisi akhir kepribadiannya, dan selalu ada peluang untuk berubah dan berkembang. Dengan perasaan itulah seorang ibu melihat bayinya. Apakah yg ia harap dari bayi kecil itu ketika ia merawatnya, menjaganya, dan menumbuhkannya? Apakah ia yakin bahwa kelak anak itu akan membalas kebaikannya ? Tidak. Semua yang ada dalam jiwanya adalah keyakinan bahwa bayi ini punya peluang untuk berubah dan berkembang. Dan karenanya ia menyimpan harapan besar dlm hatinya bahwa kelak hari-hari jugalah yg akan menjadikan segalanya lebih baik. Penerimaan positif itulah yang mengantar kita pada kerja mencintai selanjutnya ; pengembangan.

Pada mulanya seorang wanita adalah kuncup yang tertutup. Ketika ia memasuki rumah anda, memasuki wilayah kekuasaan anda, menjadi istri anda, menjadi ibu anak-anak anda; Andalah yg bertugas membuka kelopak kuncup itu, meniupnya perlahan, agar ia mekar menjadi bunga. Andalah yg harus menyirami bunga itu dengan air kebaikan, membuka semua pintu hati anda baginya, agar ia dapat menikmati cahaya matahari yg akan memberinya gelora kehidupan. Hanya dengan kebaikanlah bunga-bunga cinta bersemi.

Dan ungkapan " Aku Cinta Kamu " boleh jadi akan kehilangan makna ketika ia dikelilingi perlakuan yang tidak simpatik dan mengembangkan. Apa yg harus anda berikan kepada istri anda adalah peluang utk berkembang, keberanian menyaksikan perkembangannya tanpa harus merasa superioritas anda terganggu. Ini tidak berarti anda harus memberi semua yang ia senangi, tapi berikanlah apa yg ia butuhkan.

Tetapi setiap perkembangan harus tetap berjalan dlm keseimbangan. Dan inilah fungsi perawatan dari rasa cinta. Tidak boleh ada perkembangan yang mengganggu posisi dan komunikasi. Itulah sebabnya terkadang anda perlu memotong sejumlah yg sudah kepanjangan agar tetap terlihat serasi dan harmoni. Hidup adalah simponi yg kita mainkan dengan indah.

Maka, duduklah sejenak bersama dengan istri anda, tatap matanya lamat-lamat, dengarkan suara batinnya, getaran nuraninya, dan diam-diam bertanyalah pada diri sendiri :
Apakah ia telah menjadi lebih baik sejak hidup bersama dengan anda ?

Dan nafas cintanya meniup kuncupku, maka ia mekar menjadi BUNGA.

Wuiiih indah bahasanya, hatiku terasa ikut berbunga.
Maka 'kan kubiarkan kuncupnya mekar menjadi bunga lewat proses yang sehat, 
tak akan kupaksa. Karena semua 'kan indah pada waktunya...

5 komentar:

Ticka Y mengatakan...

wah bund, bunga anggreknya indah pisan..:)

mama tika dirumah juga hobby nanam bunga, terutama anggrek..

Yunda Hamasah mengatakan...

Mau dong Anggreknya, pasti cantik-cantik ya Ticka, salam untuk Mama.

Ticha apa khabar, lama tak nulis...

Lyliana Thia mengatakan...

Haddduuhhhh indah banget Mba kalimatnya...

Maka 'kan kubiarkan kuncup mekar menjadi bunga lewat proses yang sehat,
tak akan kupaksa. Karena semua 'kan indah pada waktunya...

Bukunya Anis Matta yg ini kayaknya aku punya deh.. dimana yah? *niat mau bongkar2 tumpukan buku*

mesti diliatin ke suami nih... hahahaa...

Btw, anggreknya bagus bgt... dirumah jg lg pd kembang nih Mba... barengan yah! hihihi

Ticka Y mengatakan...

Alhamdulillah sehat bund, insyaAllah salamnya disampaikan sm mama :)

iya belakangan ini memang rada sok sibuk, hehe..

ok, bund kalau maen ke medan, tafadhol singgah ke rumah ya.. :)

Yunda Hamasah mengatakan...

Tia;
Pasti semarak ya kebun Tia dengan anggrek yang bermekaran. Kalau anggrekku ya baru satu-satunya yang berbunga. Bunga perdana, pasti mendalam kesannya ;)

Iya Tia, cari sampai dapat bukunya, dan suami wajib baca, jangan cuma diliatin, heeeee...

Ticka:
Hmm...tentang sibuknya aja dibuat tulisan, hehe

Maen ke Medan? Kapan ya...*bagus juga idenya ;)