Senin, 20 Juni 2011

Bahasa Cinta

Akhirnya jadi juga kirim tulisan didetik-detik terakhir.
Sering kali ya, seolah menikmati sensasi dibatas waktunya.
Pilihankupun jatuh di Tema 4: SAMARA
Khusus buat yang sudah ngejalani pernikahan lebih dari 5 tahun. Apa saja masalah yang paling berat dihadapi dan bagaimana kiat mengatasinya(minimal 5 masalah).

Berikut cuplikannya:

Bahasa Cinta
Kalau angka 10 sering diidentikkan dengan sebuah nilai yang mewakili kesempurnaan, maka 9 adalah bilangan angka yang paling mendekatinya. Adakah menjadi berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jelas ada, tapi tak begitu kurasa nyata. Kalaulah diibaratkan sebuah pelayaran maka 9 tahun berlayar bersama, sudah cukup buatku untuk memahami siapa yang menjadi nahkoda pelayaran ini. Seseorang yang kupercaya membawaku mengarungi sisa usia dibawah kendalinya. Ibarat berlayar kapal ini mulai memasuki tengah lautan, sesekali ombaknya menghantam keras. Ombak pantai tentu berbeda dengan ombat tengah laut. Tapi kapal ini harus terus berlayar, dengan juang yang tentu berbeda. Dan aku menikmatinya, bagiku semua indah pada masanya.
Dari sekian banyak ombak besar yang menguncang pelayaran kami yang menjelang 9 tahun ini, yang paling kurasa adalah:
  • Perbedaan latar belakang
Ini terasa diawal-awal pernikahan kami. Aku adalah sosok mandiri yang ditempa medan perantauan sejak SMP. Semua biasa kulakukan sendiri, praktis dan selalu memperhitungkan semua bentuk efektifitas. Sangat bertolak belakang dengan suami yang tidak pernah merantau, sosok anak yang sangat dekat dengan kehangatan keluarga. Sosok yang selalu diandalkan untuk mengawal Ibunda dan mendampingi Ayahanda. Sehingga saat awal kebersamaan kami, wajar saja bila suami ingin melimpahkan semuanya padaku. Dan aku sangat kaget menerima sebentuk perhatian yang kala itu kuanggap terlalu berlebihan. Misalnya saja, selalu menawariku untuk diantar dan dijemput ditengah kesibukan kami yang jelas berbeda. Aku sempat uring-uringan, mengapa jadi tak disederhanakan saja atasnama sebuah keefektifan. Begitu ungkapku selalu. Aku gagap tak jelas, beginikah menikmati masa setelah menjadi seorang istri? Dan suamiku membahasakannya sebagai bentuk rasa sayang. Jadi setelah kupertimbangkan, apa yang harus kuributkan. Nikmati saja, dan seiring berjalannya waktu aku makin memahami bahwa bersama itu menyenangkan, waktu yang ada bisa digunakan untuk berdiskusi dan memberikan sebentuk perhatian. Misalnya kalau dulu menunggu saat dijemput aku manyun, seolah ingin menggugat, harusnya aku bisa langsung menghambur sendiri. Tapi karena ada yang menjemput, jadi harus menunggu. Tapi sekarang? Seberapa lama kadang aku tak menyadarinya, karena waktu menunggu bisa diisi dengan membaca atau kegiatan lain yang bisa dilakukan sendiri. Ini baru satu contoh. Banyak lagi tentang mandiriku yang bersemberangan dengan sangat perhatiannya suamiku. Namun seiring waktu berlalu gesekan itu tak lagi terasa. Aku bahkan menikmati perbedaan ini.
  • Cara pandang tentang suatu masalah.
Menghadapi masalah biasanya dengan pembawaan anak tua, aku cenderung ngotot dan ingin masalah selesai segera, saat ini juga. Tapi suamiku yang memang pembawaannya sebagai anak tengah yang kerap jadi penengah lebih memilih menyelesaikan masalah dengan tenang dan mencari jalan tengah. Mencari celah seperti air yang mengalir, jangan dibendung karena kita tak tahu pasti seberapa besar arus yang datang. Sediakan saja diri untuk memahami, menjadi muara yang sejuk lagi damai. Agar bagaikan air biarkan masalah itu mengalir sampai ia temukan lubuk landai atau justru laut biru.
Dan kini makin kusadari bahwa pernikahan adalah menyatukan dua hal yang memang sejatinya berbeda, tapi mana kala kita menyadari pernikahan adalah sebuah pelayaran menuju sebuah keridhoan-Nya saja, tak peduli seperti apa cara menyelesaikan masalah yang kita pilih, caraku ataukah caranya, maka akan indah bila kita selalu berada dalam rambu-Nya.
3, 4, dan 5 sengaja dirahasiakan :)

2 komentar:

I-one mengatakan...

wah,ternyata memadukan 2 otak yang berbeda..emang susah ya...Moga selalu kuat melewati ombak yang keras ya

Yunda Hamasah mengatakan...

Aamiin YRA...
Thanks kunjungan dan dukungannya ya ;)