Jumat, 30 Maret 2012

Catatan Hati Seorang Istri



Ini memang bukan dalam rangka mereview, tapi judul ini aku ambil dari buku karya Asma Nadia yang berisi beragam kisah menyentuh sekaligus menggetarkan tentang perjuangan seorang perempuan yang berstatus sebagai istri menghadapi berbagai prahara dalam rumah tangga. Buatku pribadi buku ini mampu menjadi satu perenungan panjang betapa kisah nyata para istri di luar sana sangatlah berliku, membuatku sepenuhnya tersadar bahwa pada kenyataannya banyak perempuan sebagai seorang istri harus jatuh bangun mencari kekuatan untuk melanjutkan laju rumahtangga.

Akupun diajak menjadi saksi betapa semua kesulitan dan ketabahan harus selalu beriringan dengan perjuangan dan ternyata sungguh panjang jalan menuju sebuah keikhlasan. Berkaca pada perjalanan rumahtanggaku yang memasuki sepuluh tahun, sungguh banyak nikmat dan anugerah tak ternilai buatku sebagai seorang istri. Sehingga mematri hatiku pada satu sikap, sebagai seorang istri aku harus senantiasa pandai bersyukur. Jangan menunggu ada badai baru tersyungkur menyesal dulu tak bersyukur.

Diantara sekian banyak kisah bernuansa perselingkuhan dan beraroma poligami dalam buku ini, ada satu episode dalam buku tersebut yang membuatku tercenung. Yaitu pada kisah ‘perempuan istimewa di hati Aba Aqil’ berisi tulisan seorang anak (yang juga sudah menjadi istri) tentang Ayahnya yang tak mau menikah lagi sepeninggal Ibu mereka. Hal ini dikarenakan betapa sang Ayah yang mulai sepuh, tak sanggup mengantikan figur almarhumah istrinya dihati beliau. Achhh, sebuah romantisme yang aku rasa sangat disukai oleh banyak perempuan, membuat hati tersanjung.

Tapi bukan sekedar pilihan untuk tidak menikah laginya seorang suami sepeninggal istri. Bukan, sangat jelas dalam siroh, bahwa Rasulullah junjunganpun menikah lagi sepeninggal Syaidinna Khodijah, ra. Walau memang sosok istimewanya tak mampu digantikan oleh wanita lain. Pilihan untuk menikah ataupun tidak lagi tersebut tentu melewati serangkaian pertimbangan panjang dari seorang suami. Faktor usia juga sangat menentukan bukan? Aku sangat berbaik sangka pada para suami yang menikah lagi justru untuk menjaga dirinya dari serangan fitnah dan godaan. Yang artinya juga mengikuti sunnah nabi.

Jadi sekali lagi bukan soal pilihan menikah atau tidak menikah lagi, disini aku lebih menggarisbawahi pada faktor keridhoan suami, saat seorang istri telah tiada. Karena syurga hakiki buat seorang perempuan bisa didapat bila suaminya ridho saat kehidupan berakhir, entah suami atau dirinya yang lebih dulu tiada. Membuat harapku membumbung, semoga keridhoan suami selamanya bisa kuraih.  Tak harus menunggu salah satu tiada baru sibuk memulung ridho.


Lain lagi garis hidup yang dialami sepupuku, usianya lebih muda beberapa bulan dariku, ia menikah tahun 2001. Saat hamil anak kedua tahun 2004, suaminya berpulang dalam sebuah  kecelakaan lalu lintas. Dan sepupuku membuktikan ketegarannya, sebagai seorang bidan ia optimis membesarkan kedua anaknya meski single parent. Tapi Allah punya skenario lain, tahun 2007 seorang laki-laki yang sudah beristri melamarnya. Tentu dengan persetujuan istrinya. Aku turut menjadi saksi, bahkan sebelum mereka menikah aku sempat berkenalan dengan sang istri, sebut saja namanya Rahmi. Usianya 3 tahun diatasku. Mbak Rahmi pasti punya alasan, tapi maaf tak bisa kubagi disini. Yang pasti bukan perkara anak, karena dari pernikahnya saat itu mereka sudah dikarunia 3 orang anak.


Singkat cerita sepupuku akhirnya menikah. Dan selang setahun ia melahirkan anak ketiga dari pernikahan keduanya. Lengkap sudah kebersamaan mereka. Kedua anaknya dari pernikahan pertamapun tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan tidak kehilangan keceriaan. Semua tampak baik-baik saja, seperti yang juga kulihat. Sampai suatu hari sekitar pertengahan tahun 2010, Mbak Rahmi menelfonku sambil berurai air mata. Beliau curhat tentang sikap suaminya. Sekarang jadi jarang pulang ke rumahnya, padahal sebelumnya sudah ada kesepakatan pembagian hari. Komunikasi yang aku sarankan. Mudah kalau hanya bicara, nyatanya beliau mengaku sudah melakukannya dengan berbagai cara.



Curhat Mbak Rahmi berlanjut, beliau mengeluhkan sikap suaminya yang selalu mesra pada sepupuku sementara padanya cuek. Bahkan saat bersamanya, sang suami kerap memuji sepupuku. Sepupuku yang penuh pengertian, perhatian dan pandai merayu. Bahkan soal cara menghidangkan makanan dimeja, seduan tehnya yang mantap tak luput dibeberkan suaminya pada Mbak Rahmi. "Mengapa justru sekarang aku dibandingkan", kata Mbak Rahmi meradang. Selama ini suaminya selalu nrimo, bahkan saat harus nyeplok telur sendiri ia tak keberatan. Tapi semua berubah setelah kehadiran sepupuku.


Klimaksnya Mbak Rahmi menelfonku, meminta agar aku memberikan solusi. Ooohhh… Saran sudah kulakukan, meski mungkin tak sesuai kebutuhan atau bahkan tak tepat sasaran. Lalu pada sepupuku, apa yang sebaiknya aku katakan? Bercerita bahwa Mbak Rahmi menelfonku sambil berurai air mata? Memintanya untuk mengurangi kualitas pelayanan pada sang suami? Kurasa itu bukan wewenangku , adakah salah tindakannya pada suaminya? Semua tentu berhak punya pendapat. Adapun tindak lanjut yang kuambil saat itu meminta suamiku berbicara dari hati ke hati pada suami sepupuku yang sekaligus suaminya Mbak Rahmi. Sampailah pada satu kata laki-laki, adil itu tak semudah yang dibayangkan.

Dan buatku, ini satu pelajaran berharga, terkadang sebagai seorang istri aku lupa untuk meningkatkan pelayanan prima pada suami disemua sektor, apalagi bertemu dengan suami yang penyabar, penuh pengertian. Ngelunjak kalau orang bilang, suka semaunya. Astaghfirullah... Padahal suami lebih dari sekedar atasan di kantor yang berhak mendapatkan kerja terbaikku. Aku bertekad untuk selalu sibuk berbenah, tak harus menunggu ada saingan dari luar.

Makin salut aku pada banyak perempuan sebagai seorang istri yang suaminya pemarah, suka mukul, neko-neko dan bermasalah tapi mereka tetap bersabar. Berjuang dengan baktinya sebagai seorang istri. Mereka maknai betul satu hadist yang menegaskan bahwa seandainya sesama manusia boleh bersujud, maka akan diperintahkan seorang istri bersujud pada suaminya. Aku bagai disentil-Nya untuk terus memperbaiki diri lagi, bukan karena takut cinta suamiku berpaling, tapi lebih dari itu, bukankah sebagai seorang muslim kita memang harus selalu lebih baik dari hari ke hari. 


Selamat berjuang untuk semua istri hebat diseantero jagad, semoga cinta dan ridho suami mampu mengantarkan kita pada keridhoan Illahi Robby.




33 komentar:

risa mengatakan...

subhanallah ... no komen deh, mba :)

btw, sukses ya kontesnya.

Mami Zidane mengatakan...

bagus sekali tulisannya mbak, mengingatkan kita para istri untuk lebih berbakti kepada suami....sukses GA nya ya mbak...

Atma Muthmainna mengatakan...

subhanallah...
semoga aku bisa jadi isteri yang shalehah itu,yang berbakti pada suami^^

Haya Nufus mengatakan...

Menyentilku juga nih mbak... agar lebih memperbaiki diri terhadap suami tak harus menunggu adanya saingan dari luar. Terima kasih utk tulisannya semoga sukses kontesnya mbak :) salam

kak Rose mengatakan...

aamiin..yra.
suka dengan kata motivasinya ke : "Selamat berjuang untuk semua istri hebat diseantero jagad, semoga cinta dan ridho suami mampu mengantarkan kita pada keridhoan Illahi Robby.".
smg sukses kontesnya...

Ririe Khayan mengatakan...

Wah..ikutan mengucapkan selamat berjuang para istri hebat. DI samping (maaf saya kurang suka menggunakan istilah di belakang) lelaki yang hebat/sukses ada sosok istri yang luar biasa...

BUku2nya Asma Nadia mmg membumi...daily banget jd seringkali membuat kita langsung bertanya " wah, kok ini mirip saya..ya?"

Sipp, TFS ya Mbak:) dan semoga sukses GAnya.

I'am Sadah mengatakan...

Subhanallah..

@yankmira mengatakan...

Subhanallah...hampir menitikkan air mata...terima kasih atas partisipasinya yaaa, *terhary, dan sudah aku masukkan ke list inspirasiku :)

jus kulit manggis mengatakan...

memang tanggung jawab seorang istri itu besar sekali dan banyak godaannya

xamthone plus mengatakan...

perlu pendidikan atau pengetahuan untuk calon istri seblum menikah supaya tidak teradi hal hal yang tidak diinginkan

jelly gamat mengatakan...

memang sangat berat perjuangan seorang istri, harus tetap sabar ya buat para istri ^^

pengobatan gagal ginjal mengatakan...

subhanalloh....terharu :(

Sarah mengatakan...

huhuhu.....tulisan ini benar2 inspiratif bgt Mbak, tentang pernikahan, poligami, dll. Sukses GA nya ya mbak

Lozz Akbar mengatakan...

Hmm. semoga tulisan ini bisa direnungkan oleh para lelaki tentang apa itu sebuah poligami.. terlihat mudah dilakukan, tapi ada syarat yang sangat berat harus kita penuhi di dalamnya.. bisa adil enggak antar istri satu ke lainnya

sukses giveawaynya Yundo

the-netwerk mengatakan...

bagus bnget tulisannya :D

Phuji Astuty Lipi mengatakan...

subhanallah...wanita memang mulia, jadi pengen segera jadi seorang istri dan wanita mulia..^________^

hajarabis mengatakan...

nais tulisannya jadi inget ibu ku :D

jiah al jafara mengatakan...

wanita memang kerennnn~

sukses mb' buat GAnya :D

DewiFatma mengatakan...

"Dan buatku, ini satu pelajaran berharga, terkadang sebagai seorang istri aku lupa untuk meningkatkan pelayanan prima pada suami disemua sektor, apalagi bertemu dengan suami yang penyabar, penuh pengertian. Ngelunjak kalau orang bilang, suka semaunya."

Mbaaaaakkk.. itu aku bangetttt..hiks..hiks... Aku yang nggak pernah melayani suami dng baik (disegala sektor). Terima kasih sudah menyentilkuuu.. *hug*
Aku berjanji akan memperbaiki diri. Amit-amit, Jangan sampai ada saingan. Naudzubillah..

Gudlak buat GA-nya ya Mbak...

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

terima kasih sharingnya mbak, jadi ikut instrokspesi dan meningkatkan pelayanan juga

srulz mengatakan...

....
_smoga sukses ya GAmya mbak... _

HP Yitno mengatakan...

Ane salut sama ketegaran sang istri yang tabah menghadapi segala prahara rumah tangga. Meskipun terkadang harus meneteskan air mata. Ane paling suka yang berbaik sangka terhadap suami yang berpoligami, suami berpoligami untuk menjaga fitnah jauh lebih mulia dari pada selingkuh. Apalagi istri pertama meridhoinya subhanallah.

Tapi harus bisa adil tentunya.

arr rian mengatakan...

Subhanallah :D
Aku mencintai Ibuku.. :D #eh

Salut bagi semua istri...

Pemilik Restoran Suroboyo mengatakan...

Saya sudah meyakini bahwa sebenarnya ketika isteri menyatakan " ikhlas " ketika suami minta ijin menikah lagi sebenarnya tak sepenuhnya ikhlas.
Bersikap adil sesungguhynya sangat susah dilaksanakan. Jika laki-laki bisa membuatkan rumah beserta isi persis sama untuk dua atau tiga isterinya, barangkali itu bisa dilakukan. Tetapi berbagai perasaan secara adil tidaklah mudah.

So, kepada kaum lelaki,cintailah isteri kalian dengan tulus. Sebelum anda memtuskan untuk menikah lagi , pandangi anak-anakmu, lihat mata mereka. Adakah mereka juga ikhlas ketika bapaknya akan menikah lagi?

Terima kasih book review yang sangat bagus.

Salam hangat dari Surabaya

mimi RaDiAl mengatakan...

iya ya mba, kdg kita lupa bahwa sifat manusia termasuk suami atau kita sendiri bisa berubah, jd jgn menunggu badai itu datang baru kita berbenah diri, inilah saatnya ketika masa2 romantis itu masih ada kita mengikat hatinya,

dan semoga itu tidak terjadi sebagaimana sepupu mba jalani sekarang, mudah2an cpt segera teratasi masalah keluarga beliau ya mba

Cut Maha Ratu mengatakan...

yundaa.. apa kabar? speechless baca tulisan ini. bingung harus komentar apa. kasian juga ya sama mb Rahmi> memang seharusnya sang suami bisa bersikap adil. anyway setuju setiap hari harus lebih baik ;-)

Indra Kusuma mengatakan...

Suatu nasehat dalam memberikan pencerahan Mba, semoga dapat saling mengingatkan untuk kita semua.

Sukse selalu
Salam
Ejawantah's Blog

cara mengobati jantung koroner mengatakan...

bermanfaat bgt mbak, semoga aku juga menjadi wanita solehah.. amien

Anonim mengatakan...

Hati memang begitu mudah terbolak balik. Detik ini sedih sedetik kemudian bs gembira.
Biar bgmnpun, pernikahan harus diperjuangkan. Oleh istri maupun suami. Jk istri berkekurangan, bimbingan suami sgt dibutuhkan. Jk tak mampu membimbing, kursuskanlah. Toh skrg bnyk kursus2 ketrampilan. Dlm menata rumah, memasak, parenting, kepribadian, dlsbgnya.
Suamipun, tetaplah belajar menjadi pemimpin yg baik di keluarga. Sbg suami & sbg Ayah.
Bnyk suami sukses di karir, tp gagal di rmhtgg. Kehilangan respek dari istri & anak2nya.
Intinya, rumahtangga butuh perjuangan. Satukan visi & misi, lalu berjuanglah bersama.

manz mengatakan...

semoga dalam lindungan Allah SWT.
kunjungan sore
Sangat insviratif dan bermanfaat untuk saya baca Terimakasi suda membaerikan informasi.
Masuk balik blog saya juga .,


Properti semarang mengatakan...

istri yang sholehah

Reksadana mengatakan...

Tulisan yang bermanfaat. Salam kenal mbak.

Anonim mengatakan...

berita yg ndak berimbang.. hny yg gagal poligami yg di post.. banyak juga yg berhasil kok.. masalah adil tuh ibarat sholat yg khusuk. kalo manusia ndak bisa adil itu memang benar. tp berbuat adil bukan unt ditinggalkan, tapi berusaha untuk adil. ibarat sholat, ndak bisa sholat yg khusyuk bkn berarti ndak perlu sholat. tetep harus sholat walo g bisa khusyuk. tapi hrs maksimal unt mbuat sholat yg khusyuk.
kalo menilik cerita diatas, bisa jadi istri pertama terlalu cemburu pd suaminya. ato juga, pelayanan ke suami ndak maksimal jadinya suami berat sebelah..
Insya Alloh dg mempererat komunikasi, jln keluar bisa di dapatkan.
so, monggo kita masuk ke dlm Islam secara Kaffah.. jng pilah pilih ayat di Al Qur'an hny yg enak dikerjakan.
Ingat, semakin berat tantangan kita mengerjakan perintah Alloh, maka semakin dekat kita dg Syurga Nya