Senin, 29 Oktober 2012

Berkenalan dengan M-Dinar

Sebuah buku yang membahas tentang Serba-serbi Dinar pernah sucses menghantarkan aku mendapat hadiah diacara Book Review Contest yang diadakan oleh Pakde Komandan BlogCamp sekitar setahun yang lalu. 

Adapun penerapan secara pribadi aku baru memulai dengan segenap kendala. Maka ketika ada sahabat yang menawariku  untuk ikut serta diarisan dinar yang dikoordinirnya ya aku langsung tertarik. Sistem arisan sama seperti arisan pada umumnya, hanya berbeda pada jumlah setoran saja. Yang setiap bulannya berbeda tergantung pada harga dinar pada bulan tersebut. Masih jalan, aku bahkan sudah dapat gilirannya.

Dan dalam perjalanan arisan itulah aku berkenalan dengan M-Dinar, yang memfasilitasi dengan cara yang memungkinkan. Bagaimana tidak kita bisa mulai menabung dinar dengan jumlah yang tidak dipatok, fleksibel gitu. Hanya setoran awal saat kita aktifasi yang ada ketentuan. Semboyannya untuk nabung dinar minimal 10 ribu itu yang menarik hatiku. Untuk lebih jelasnya silakan klik di http://niaremas.com/tabungan-m-dinar/

Coba dech simak yang berikut ini, aku culik dari M-Dinarnya Mbak Niar:
Tanya : Apa itu M-dinar ?

Jawab : M-dinar (Mobile Dinar) adalah produk simpanan online ber basis saldo dinar emas dan rupiah
Tanya : Apa bentuk kelembagaan fisik dari M-dinar ?

Jawab : Kelembagaan fisik M-dinar berbentuk Baitul Maal Wattamwil (BMT),yaitu BMT Daarul Muttaqiien dengan alamat kantor di Ruko Gerai Dinar Jl.Kelapa Dua Raya No.189 Depok, Jawa Barat ,16951.Telpon +62 21 93 300 300

Tanya : Amankah menyimpan dinar emas dalam bentuk saldo di M-dinar ?

Jawab : Sejak berdiri hingga saat ini M-dinar merupakan satu-satunya lembaga penyimpanan fisik dinar emas/Rp ke bentuk saldo dinar emas yang amanah dan akuntabel di Indonesia. Ditambah lagi dengan kemampuan likuidasi saldo M-dinar per akun per hari sebesar 1000 dinar kian menjadikan M-dinar sebagai lembaga penyimpan dinar di Indonesia yang layak untuk digunakan.

Tanya : M-dinar ini termasuk dalam jenis tabungan produk bank atau apa ?

Jawab : M-dinar TIDAK TERMASUK dalam kategori tabungan  produk bank, karena bentuk kelembagaan M-dinar adalah Baitul Maal wat Tamwil (BMT).Saldo M-dinar lebih tepat dikategorikan ke dalam bentuk SIMPANAN dengan spesifik : SIMPANAN INVESTASI, karena dinar emas saat ini masuk dalam kategori investasi.

Tanya : Kalo M-dinar bukan jenis tabungan Bank, berarti saldo dinar / Rupiah saya di M-Dinar tidak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan ya ? Terus pihak mana yang MENJAMIN bahwa saldo M-dinar saya AMAN disimpan di M-Dinar?

Jawab : Benar, sejauh ini di Indonesia BELUM ADA yang mengatur keberadaan Lembaga Penjamin Simpanan Dinar atau yang sejenis. Namun demikian, saldo dinar emas anda di M-dinar didukung penuh dengan fisik dinar yang berada di Gerai Dinar. Setiap pertambahan saldo dinar di M-dinar diimbangi dengan pertambahan fisik dinar di Gerai Dinar. Ijin operasional Gerai Dinar adalah ijin Toko Emas. Dan fisik dinar emas yang ada di Gerai Dinar diasuransikan. Jadi proteksi terhadap fisik riil dinar emas atas saldo dinar kita aman dari resiko kehilangan.

Tanya : Bagaimana cara mendaftar atau membuat akun M-Dinar?

Jawab : 
Caranya sangat mudah, buatlah akun M-Dinar di www.m-dinar.com dengan langkah sebagai berikut:

1. Klik ‘Create An Account’ di bawah menu Login, isi formnya
2. Anda akan mendapatkan email dari m-dinar.com berisi link aktivasi yang harus diklik saat itu juga
3. Setelah berhasil mengklik link aktivasi, log in sesuai data dan klik ‘Mobile Payment’ lalu isi formnya                                                                                                                                
4. Pendaftaran via web selesai, konfirmasi segera data akun m-dinar Anda (nama pemilik rekening, no hp, alamat email, username) via niar.emas@gmail.com beserta scan KTP asli dengan subject: Registrasi dan Koneksi M-Dinar
5. Akun M-Dinar bisa segera di NOMAT kan jika ada konfirmasi pengaktifan dari kami.

Mudah bukan?

Dalam hal ini aku banyak dibantu oleh seorang agen dinar handal yang cukup berpengalaman, bila ingin berkenalan silakan ke Mbak Niar PIN 224D4CCE atau ke webnya niaremas.com

Semoga dengan info dan segenap kemudahan ini kita menjadi orang-orang yang berdaya.

Kamis, 25 Oktober 2012

Cerita Safari Wukuf

Banyak ide yang mendesak-desak ingin dituangkan, tapi berhubung dan berhubung, akhirnya niat mengisi blog ini hanya angan-angan. Kemarin kusempatkan melongok blog ini barang sejenak, memposting tulisan copyan yang tujuannya untuk dokumen pribadi. Dan hari ini biarlah coba kususuri lembar kenangan menjelang detik-detik puncak haji 2 tahun silam. Terbayang juga betapa ketar-ketirnya para rekan-rekan tkhi 1433 H yang sedang bertugas saat ini.

Hari ini bertepatan dengan 9 Dzulhijjah 1433 H, dan sudah sejak beberapa hari yang lalu seorang rekan yang sedang tkhi intens menghubungiku, sekedar menanyakan apakah di Mina ada persiapan air panas, ada colokan listrik kah di 'Arafah? Pertanyaan-pertanyaan sederhana bahkan tak berhubungan langsung dengan tugasnya selaku tim kesehatan haji. Tapi tak mengherankan, sebab tugas inti sudah dibahas tuntas saat pelatihan kompetensi juga integrasi jauh sebelum keberangkatan dulu. Dan saat inipun tentu mereka intens berkoordinasi dengan sektor juga petugas lainnya disana. Soal colokan, air panas itu hanya intermezo yang kebetulan ada akses mudah (dan murah tentu saja) untuk bertanya.

Menjelang punjak haji, sejak sepuluh hari yang lalu adalah saat-saat yang penuh perjuangan buat para petugas haji, termasuk juga tim kesehatannya. Besarnya amanah yang diemban, bagaimana mendampingi dan membantu para jama'ah agar bisa melaksanakan semua tuntunan wajib haji serta terpenuhi semua rukunnya. Tentang apa saja wajib dan rukun haji silakan googling ke tempat lain ya :D Lalu bila ada jama'ah yang sakit, dengan derajat yang berbeda-beda, apa saja yang harus dilakukan petugas kesehatan haji, sehubungan dengan perjalanan 'Arafah-Musdhalifah-Mina yang begitu 'berat'? Ada sekitar 360-450 jama'ah yang harus didampingi lho...

Dulu saat pelatihan, dibanyak simulasi dan bahasan kasus, aku sangat terhibur dengan satu istilah 'Safari Wukuf', bagaimana tidak, sepemahamanku saat itu bila ada satu dua orang jama'ah yang sakit berat menjalang pelaksanaan puncak haji, tinggal didaftarkan 'Safari Wukuf' saja, selesai. Aku dan tim bisa berkonsentrasi dengan jama'ah lainnya. Tapi ternyata, kreteria 'sakit berat' tak sesederhana itu jendral! 

Seminggu menjelang pelaksanaan wukuf, memang pihak sektor (setingkat Puskesmas) sudah meminta daftar jama'ah yang akan diikutkan pada Safari Wukuf. Akupun mendaftarkan 3 nama dari sekian belas kandidat. Tiga orang yang memang KU (keadaan umumnya) sangat memprihatinkan. Satu dengan gagal ginjal yang harus cuci darah setiap dua kali dalam seminggu, atas pertimbangan cuci darah dan keadaan umumnya yang terus memburuk aku daftarkan beliau. Yang satu lagi karena sejak datang sesaknya bertambah-tambah, ada masalah diparu serta DM yang tidak stabil. Aku cemaskan hipoglikeminya yang bisa membuatnya pinsan sewaktu-waktu, dan yang terakhir jama'ah dengan gagal jantung yang sudah ada pembengkakan di kakinya. Buat jalan saja sesak. 

Data masuk, petugas sektor datang menilai, oh masih bisa duduk. Tak lolos ketiganya untuk ikut safari wukuf. Dalam bahasa sederhananya, sakit berat yang boleh diikutkan dalam 'Safari Wukuf' adalah mereka yang sakitnya setara pasien yang ada di ICU. Kalau sakitnya masih bisa rawat di bangsal, maka tanggung jawab pengawasan otomatis ada di pundak dokter kloter. Ada ribuan orang sakit berat yang masuk dalam 'gerbong safari wukuf', mereka hadir untuk wukuf di 'Arafah dengan memakai ambulan. Yang satu ambulannya bisa bersusun delapan tempat berbaringnya. Biasanya dengan pemasangan alat bantu nafas.

Arak-arakan ambulan datang menjelang pelaksanaan wukuf, mereka tak ada bermalam di 'Arafah seperti jama'ah pada umumnya. Datang dan berdiam diri untuk mengisi absen istilahnya, sebab memang tak boleh berwakil, tetap didalam ambulan, karena memang mereka tak berdaya untuk hanya sekedar duduk, atau dalam mobil berkerangkeng karena jiwanya yang terganggu. Dan segera pulang ke RS saat matahari terbenam, bahkan konon khabarnya mereka sudah bergerak keluar 'Arafah jauh sebelum matahari terbenam. Musdhalifah-Mina sudah tak ikut lagi, sebab hanya fase 'Arafah yang memang tak boleh berwakil, tak ada haji bila tak turut serta ke 'Arafah. Maka walau nafas satu-satu dengan pemasangan tabung oksigen, seorang jama'ah harus tetap dihadirkan ke 'Arafah. Agar tak sia-sia puluhan juta ONH yang sudah ia bayar, agar memang benar pantas sepulangnya nanti dikatakan sudah berhaji dan menjadi haji yang mabrur.

Jadi bayangkan, cerita ini menggambarkan, betapa suasana tenda-tenda jama'ah haji di 'Arafah sudah biasa digunakan juga untuk posko kesehatan tingkat pertama. Fase 'Arafah, dimulai sejak kedatangan, yang biasanya siang menjelang sore tanggal 8 Dzulhijjah sampai terbenam matahari di 9 Dzulhijjah adalah satu waktu yang teramat singkat. Jadi bila dalam kurun waktu itu ada satu jama'ah yang sakit lalu sibuk merujuk ke Satgas 'Arafah (di Armina tak ada Dakker, atau pelayanan kesehatan setingkat RS, adanya Satgas, dimana dengan segala keterbatasan, tenda disulap selayak RS), alangkah riwehnya. 

Mana lagi saat aku laporan ke satgas ternyata tempat tidur disana sudah terisi banyak pasien dadakan. Kasian jama'ah yang lain juga bila harus ditinggal-tinggal, mereka butuh pendampingan dan penguatan. Maka bila hanya membutuhkan perbaikan keadaan umum, misal para jam'ah lansia yang mendadak diare atau sekedar tak nafsu makan, ya kembali ke dokter kloter dan tim lagi untuk merawatnya. Pasang infus di tenda saja.

'Arafah, 9 Dulhijjah 1431 H, ada infus di tenda kami.

Dan inipun terjadi pada kloter kami 2 tahun yang lalu, saat malam kami sudah di 'Arafah ada seorang nenek yang karena kecapeaan malamnya gelisah tak bisa tidur, suhu badannya tinggi, panas. Malam itu juga kami infus beliau di tenda, diantara gelimpangan jama'ah lainnya yang tertidur setengah pulas (tak ada yang pulas sepenuhnya kurasa). Saat cairan dan obat-obatan serta vitamin sudah masuk, barulah nenek tersebut bisa tidur. Harapannya kamipun bisa rebahan. Alhamdulillah memang bisa, walau hanya sampai jelang dini hari, ketika saatnya aku dibangunkan lagi karena ada mbah yang diare. Infus lagi ditenda.

Syukurnya jatah tenda kami di 'Arafah lumayan luas. Jama'ah yang sakitpun lebih nyaman bila mereka tetap berada di tenda kloter, sebab mereka berada ditengah orang-orang yang sudah mereka kenal. Kalau harus ke Satgas, duch nelangsanya, mereka mau minta ditemani ya bagaimana yang lainnya. Serba tak memungkinkan. Sementara semua harus disiagakan untuk ke fase Musdhalifah yang hanya singgah sekejab saja. 

Ya demikianlah ceritaku, jadi Safari Wukuf itu memang ada, tapi jangan diharap-harap, sebab bila jama'ah kloter ada yang lolos untuk safari wukuf itu artinya jama'ah tersebut sedang kritis. Sebuah kondisi yang tentunya tak pernah kita harapkan bukan? Biarlah sibuk, tak apalah retok ditenda-tenda. Atau seperti kisah sejawatku yang saat tkhi 1431 lalu ihromnya sampai kena kotoran jama'ah sebab saat di fase Musdhalifah ada jama'ahnya yang sejak di 'Arafah diare, awalnya tak seberapa tapi mendadak jadi muncrat-muncrat, mau di rujuk tapi kemana, semua orang sibuk dengan urusannya masing-masih, sebuah gambaran mini tentang padang mahsyar. Saat semua orang hanya mampu berjuang untuk dirinya sendiri. Tapi tentu tetap sarat bedanya. Saat 'Arafah-Musdhalifah sebagai dokter kloter kami harus tetap peduli dengan jama'ah kloter lainnya, sebab kami berhaji dalam rangka melaksanakan tugas. Jadi meski dengan segenap kepayahan kami harus bisa melayani dan mendampingi para jama'ah demi laporan di akhirat kelak.

Rabu, 24 Oktober 2012

Puasa 'Arafah

Jangan lupa, besok kita puasa 'Arafah ya...

Puasa hari ‘Arafah ialah puasa sunat pada hari ke 9 Dzulhijjah yang disunatkan bagi mereka yang tidak melakukan ibadah haji. Kelebihan berpuasa pada hari ini ialah ia dapat menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lalu dan dosa setahun yang akan datang, sebagaimana hadith yang telah diriwayatkan daripada Abu Qatadah al-Anshari ra:

Dan Rasulullah SAW ditanya tentang berpuasa di hari ‘Arafah. Maka Baginda bersabda: “Ia menebus dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang.” (Hadith Riwayat Imam Muslim) 

Manakala bagi mereka yang melakukan ibadah haji pula adalah disunatkan untuk tidak berpuasa pada hari ‘Arafah dan adalah menyalahi perkara yang utama jika mereka berpuasa juga pada hari itu berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Ummu al-Fadhl binti al-Harith:
Ramai di kalangan sahabat Rasulullah SAW yang ragu-ragu tentang berpuasa pada hari ‘Arafah sedangkan kami berada di sana bersama Rasulullah SAW, lalu aku membawa kepada Baginda satu bekas yang berisi susu sewaktu Baginda berada di ‘Arafah lantas Baginda meminumnya. (Hadith Riwayat Imam Muslim)

Juga daripada hadith yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra:
Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang berpuasa pada Hari ‘Arafah bagi mereka yang berada di ‘Arafah. (Hadith Riwayat Abu Dawud dan an-Nasa’ie; at-Thabrani dari Aisyah rha) 

Disunatkan juga berpuasa pada hari ke 8 Dzulhijjah di samping berpuasa pada hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah) sebagai langkah berhati-hati yang mana kemungkinan pada hari ke 8 Dzulhijjah itu adalah hari yang ke 9 Dzulhijjah (Hari ‘Arafah). Bahkan adalah disunatkan berpuasa lapan hari, iaitu dari hari yang pertama bulan Dzulhijjah hingga ke hari yang kelapan sama ada bagi orang yang mengerjakan haji atau tidak mengerjakan haji, bersama-sama dengan hari ‘Arafah.

Diriwayatkan dari Ibn Abbas ra:
Rasulullah SAW bersabda: “Tiada amal yang soleh yang dilakukan pada hari-hari lain yang lebih disukai daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama dalam bln Dzulhijjah).” (Hadith Riwayat al-Bukhari)

Dalam hadith yang lain yang diriwayatkan dari Hunaidah bin Khalid, dari isterinya, dari beberapa isteri Nabi SAW:
Sesungguhnya Rasulullah SAW melakukan puasa sembilan hari di awal bulan Dzulhijjah, di hari ‘Asyura dan tiga hari di setiap bulan iaitu hari Isnin yang pertama dan dua hari Khamis yang berikutnya. (Hadith Riwayat Imam Ahmad dan an-Nasa’ie)

Adapun berpuasa pada hari Aidiladha (10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyrik (11, 12 dan 13 Dzulhijjah) adalah diharamkan berdasarkan hadith yang diriwayatkan dari Umar ra:
Bahawasanya Rasulullah SAW melarang berpuasa pada dua hari, iaitu ‘Eid al-Adha dan ‘Eid al-Fitr. (Hadith Riwayat Imam Muslim, Ahmad, an-Nasa’ie, Abu Dawud)

Serta hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra:
Rasulullah SAW telah mengirimkan Abdullah Ibn Huzhaqah untuk mengumumkan di Mina: “Kamu dilarang berpuasa pada hari-hari ini (hari tasyrik). Ia adalah hari untuk makan dan minum serta mengingati Allah.” (Hadith Riwayat Imam Ahmad, sanadnya hasan)

Mensyukuri Kehidupan di Rahim



Subhanallah ternyata ya, jutaan keajaiban sudah tercipta seiring dengan tumbuhnya embrio dalam rahim seorang wanita. Pernahkah kita membayangkan wajah mereka di dalam rahim? 

Ketika foto embrio manusia yang sedang berkembang karya Lennart Nilsson pertama kali ditampilkan di majalah Life pada tahun 1965, gambarnya menimbulkan kehebohan. Hanya dalam hitungan hari, sebanyak 8 juta segala hasil cetakan (koran/majalah) yang memuatnya terjual habis.
Embrio berusia 5 minggu. Diperkirakan panjangnya 9 mm. Tahap pembentukan wajah, dengan mulut yang terbuka, lubang hidung dan mata.
 
Dalam Basic Human Embryology oleh Williams P, rujukan yang biasa dipakai dalam bidang embriologi, dikatakan, “Kehidupan dalam rahim memiliki tiga tahapan: pre-embrionik; dua setengah minggu pertama, embrionik; sampai akhir minggu ke delapan, dan janin; dari minggu ke delapan sampai kelahiran.”


Berusia 8 minggu, embrio yang berkembang pesat dilindungi dengan baik oleh kantung dan cairan amnion.


Teknologi maju memungkinkan gambar embrio yang sedang berkembang diambil dengan hasil yang lebih jelas dan lebih besar. Gambar bisa diambil dengan menggunakan kamera konvensional yang dilengkapi lensa mikro. Atau bisa juga menggunakan alat endoskopi. Teknologi pemindaian mikroskop elektron memungkinkan Nilsson mengambil ratusan atau bahkan ribuan gambar embrio yang mengagumkan. Subhanallah...

Mata yang sudah menutup sepenuhnya.
Janin berusia 10 minggu. Kelopak matanya semi tertutup, yang kemudian akan tertutup total dalam beberapa hari kemudian.

Gambar-gambar karya Nilsson dikumpulkan dalam sebuah buku yang diberi judul “A Child is Born”. Adapun bagi umat Islam, kabar mengenai perkembangan janin yang sangat menakjubkan bukan hal yang sangat mengejutkan, karena Al-Qur’an sudah memberitahukannya sejak belasan abad lalu.


“Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (QS. Az Zumar:6)

Dan Allah juga sudah mewanti-wanti agar tidak mengaborsi anak yang dikaruniakan kepada manusia.
“Sesungguhnya Rabb-Mu yang membentangkan rezeki bagi siapa yang Ia kehendaki dan takdirkan. Sesungguhnya Ia Maha mengetahui hamba-hamba-Nya, lagi Maha Melihat. Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut lapar, Kami lah yang memberi rezeki mereka dan kamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah kesalahan yang besar.” (QS.Al-Isra’:30-31)

Awal tahun 2006 di Inggris marak perdebatan masalah aborsi. Sebagian besar wanita Inggris menginginkan Undang-Undang Aborsi diperketat agar para wanita semakin sulit atau bahkan tidak mungkin melakukan aborsi. Survey yang dilakukan oleh MORI ketika itu menunjukkan bahwa 47 % wanita yakin bahwa batas waktu maksimal bisa dilakukan aborsi, yaitu janin 24 minggu, harus dikurangi. Sebanyak 10% wanita bahkan menginginkan agar praktik aborsi dilarang sama sekali. 42% dari total responden (laki-laki dan perempuan) menginginkan agar usia janin yang boleh diaborsi dikurangi. Kiranya apa gerangan yang membuat mereka ingin aborsi diperketat atau bahkan dilarang. Bukankah mereka adalah masyarakat yang permisif dengan hubungan di luar nikah dan seks bebas?

Jawabannya ternyata, karena ketika masalah pembahasan Undang-Undang Aborsi mulai memanas, beredar gambar janin yang sedang tersenyum manis dan meringis di dalam rahim ibunya.