Rabu, 15 Juni 2011

Model Mencintai

Model apa yang pantas aku pakai mencintaimu?  Bisakah bila aku tak tahu tentangmu aku disebut mencintaimu? Atau saat kau sedang diterpa galau tapi aku tak bersamamu, meredakan galaumu. Kita mungkin seringkali saling bercerita, tapi isinya dominan tentang luaran saja. Sedang aku tak ada saat kau butuhkan, aku kerap kali seolah jadi penasehat dalam puncak pelikmu, tapi justru semua tak kau perlukan saat itu.

Mencintaimu, tak hanya kalau saat dekat, meski dekat adalah salah satu model mencintai. Bagai awan dengan hujan, seolah saling melengkapi, bersama ingin hadirkan pelangi padahal berada untuk saling meniada. Model mencintai yang tak semestinya, paling tidak menurutku. Atau model mencintai laksana dua lilin, untuk apa kalau sanding kita hanya seperti saling menerangi, padahal kita akan habis termakan api, tak juga ada artinya. Aku memang tak pernah sinarimu, karena aku bukan bintang dan dirimu pun bukan bulan yang butuh sinar dariku bukan? Model mencintai selayak ini selamanya tak akan pernah mampu kulakukan.

Aku selalu berusaha, agar modelku mencintaimu, tak mencontoh pohon yang hanya bisa subur dengan haramu. Aku juga tak akan mau menjadi kecoa atau lalat yang menebar penyakit di rumah hatimu, sungguh model mencintai yang aku yakin sangat tak pantas ditiru. Tapi apakah aku mencintaimu, bila model cintaku hanya bertandang sesekali, agar terasa manisnya rindu. Model cinta sebatas pembenaran saja, cari-cari alasan. Apapula ini, padahal bisa jadi saatku tak datang butuhmu untuk kudengar, bebanmu sedang perlu dibagi, lelapmu harus segera digebah. Lalu benarkah model ini? Ketika berlalu semuanya, aku datang dengan runtun nasehat otoriter. Mestinya begini, lain kali begitu, menyalahkan, bahasaku saling mengingatkan. Alasan klise. Model mencintai bagai hakim membacakan vonis, seolah kau terdakwa.  

Achh, apakah benar modelku mencintaimu? Bila candaku justu tak saatnya, hiburku tak tempatnya.  Aku datang saat kau butuh hening untuk kembali menata langkah. Atau
aku koreksi ketika kau sedang justru butuh dukungan. Sesungguhnya model mencintai, sepantasnya butuh saling menjaga rasa, model mencintai seyogyanya saling memberi energi baik. Meski ada model kompetisi, tapi semua atas nama berlomba dalam kebaikan.

Saudaraku, aku mencintaimu. Inginku, dulu, kini, selamanya. Bila modelku mencintaimu belum tepat, bila modelku tak kau suka. Ingatkan aku selalu. Aku sadar, bahwa aku pernah, bahkan banyak salah tepatnya padamu. Karena aku manusia biasa. Kala egoku meraja, khilaf kerap terjadi maka kuharap tersisa setulus maafmu. Modelku mencintaimu, berbingkai ikhlas, berawan kebersamaan, semoga model mencintai yang juga kau suka.      

Artikel ini di ikut sertakan di acara Askat New Blogcamp periode 15 Juni 2011

Untuk semua pejuang cinta yang tak kenal lelah, harapan itu masih ada. Suatu sore, saat merindu.  Mengenang saudara yang pernah dekat, bisakah kembali bersama.

9 komentar:

Abdul mengatakan...

Saya sudah membaca artikel sahabat
Dan sudah langsung saya catat
Terima kasih atas partisipasi anda yang hebat
Dari Surabaya saya kirim salam hangat

Yunda Hamasah mengatakan...

Terima Kasih Pakde...

Cihuyyyyyyy ternyata nggak telat ya...

Secara, tadi aku gugup banget hampir habis waktu dan ragu cara daftarnya. Ternyata berhasil masuk daftar.

Dan Pakde langsung merespon, aksi yang sangat cepat tanggap. Saluut...

Salam hangat juga dari Palembang.

mabrurisirampog mengatakan...

maaf komennya ga sesuai,,,

tapi saya tertarik pada kalimat judul blognya bu... :)

menginspirasi dan memotivasi sekali...

salam kenal dari saya, Brebes, Jawa Tengah

R. Indra Kusuma Sejati mengatakan...

Sukses untuk kontestnya Sob !

Dengan segala kerendahan hati Ejawantah’s Blog menghantarkan Blogger Award 2011 secara bergulir kepada sahabat, dan Award dapat diambil di http://ejawantahnews.blogspot.com/2011/06/menerima-menebar-harta-karun-dari-dunia.htm.

Dan selamat pagi sahabat semua, selamat bergembira, dan tetaplah semangat. Sukses selalu.

Salam
Ejawantah's Blog

puteriamirillis mengatakan...

bagaimana model mencintaiku???
salam kenal mbak...^^

Bunda Loving mengatakan...

Wow..ikutan toh yu'
moga berhasil dan jd pemenangnya...
nice post...

Yunda Hamasah mengatakan...

Mabrur:

Salam kenal juga dari kami sekeluarga di Palembang.

Terima kasih sudah berkunjung, semoga silaturrahim yang diberkahi :)

Indra:
Thanks dukungan dan Awardnya, sudah kuambil dan kupajang, semoga berkenan ;)

Putri:
Bagaimanakah? Model apapun semoga dalam rangka mencintai-Nya saja...

Salam kenal juga ;)

Bunda Luv:
Iya nyoba ikutan, kalah menang bukan masalah.
Tapi aku benar-benar senang karena bisa berhasil ikutan, tadinya ndak ngerti cara sehingga nggak PeDe untuk ikutan.
Thanks ya Bun...
Selamat kemarin menang di Giveawaynya FLAST ;)

Lyliana Thia mengatakan...

Hadeeeh pasti deh bahasanya puitis banget... hihihi...
Model mencintaiku spt apa yah? *garuk2 kepala*
hehehe...

Mudah2an beruntung di komtesnya Pakde Mba Keke...

Yunda Hamasah mengatakan...

Tia:
Agak keder juga ikutan ASKAT, mana waktunya mepet. Sebenernya kalau boleh milih, aku pasti buat puisi aja dalam waktu singkat bisa jadi. Tapi karena syaratnya harus artikel ya ketar-ketir juga. Akhirnya jadilah tulisan yang ini, artikel tapi puitis, hiiiiiii

Sebuah tantangan, anggap saja uji nyali...