Senin, 23 Mei 2011

Karena Kita pernah ADA

Tentang  Menulisku

Sudah sering kita dengar bahwa Universitas untuk menulis itu adalah membaca, dan akupun mengakui kebenarannya. Semakin banyak kita membaca, makin kaya juga ide yang bisa kita tulis.  Sejak kecil aku suka membaca, membaca apa saja. Karenanya aku sangat percaya, bahwa semua orang yang suka membaca sebenarnya bisa menulis.

Tapi mengapa banyak orang yang belum juga mau menulis? 

Padahal bila keutamaan menulis sudah kita ketahui, maka tak ada alasan untuk tidak mulai menulis. Ingatkanlah pada diri kita bahwa tradisi membaca dan menulislah yang telah menghantarkan umat islam mencapai puncak kejayaannya. Tradisi membaca dan menulis terus mewarnai setiap aktivitas ulama dan intelektual muslim terdahulu sehingga mampu menghantarkan kejayaan sebuah peradaban yang diawali dengan mengikat ilmu dengan tulisan dan menyebarkannya. Sebagaimana dikatakan Ali bin Abi Thalib, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”, maka itulah sebabnya para ulama zaman awal tidak pernah melepaskan hari-harinya dari aktivitas menulis.


Setelah tahu keutamaan menulis, selanjutnya semangati diri kita bahwa dengan menulis, kita bisa mengabadikan fananya hidup ini. Bukankah dengan meninggalkan tulisan maka nama kita akan terus ada? Kata seorang adikku, “Dengan menulis aku akan membuat dunia mengingatku, bahwa aku pernah ada”. Atau dalam bahasa yang lain, tulisan yang kita buat akan menjadi rekam jejak atau dokumentasi yang bisa kita tinggalkan untuk anak-anak kita, generasi penerus kita. Meminjam kata seorang teman blogger (dari blog-nya Thia), “Ini kutulis sebagai dokumentasi untuk sang penerus mimpi.”  

Aku sebenarnya suka menulis sejak dulu, biasanya untuk mengungkapkan rasa hati yang menurutku paling aman bila diluapkan lewat goresan jemari, aktivitas menulis yang hanya kunikmati sendiri. Lega rasanya bila sudah menumpahkan rasa yang mengganjal atau harapan yang bertumpuk lewat berlembar tulisan, seolah sebagian bebanku hilang. Saat itu aku suka sekali dengan ungkapan bahwa menulis bisa jadi keranjang sampah yang sehat buat diri.
Pada tahap berikutnya aku terinspirasi dengan ulasan seseorang, “Sebenarnya sampah yang diolah justru akan semakin banyak manfaatnya.”
Maka selanjutnya tulisanku sampai ketangan orang-orang terdekat, walau hanya sesekali alias jarang sekali. Dulu zaman kuliah pernah ikut menulis di mading dan majalah fakultas, tapi hanya sesekali. Faktornya tak lain karena malu :)  Iya malu, entah karena apa, akupun gagal menemukan penyebabnya. Jadi malu, karena pernah menaruh malu justru tidak pada tempatnya. Selain itu juga aku tak punya ilmu yang cukup tentang kepenulisan, sering diajak ikut acara latihan kepenulisan oleh banyak temanku, tapi waktunya selalu tak tepat. Jadilah aku hanya sebatas semangat dan minat saja.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak pula aku belajar. Belajar dari lingkungan sekitar dan beragam peristiwa, aktivitas menulisku diilhami oleh para tokoh yang telah berhasil berjuang dengan tulisannya, dengan karya-karyanya. Terutama sosok Zainab Al Ghazali, beliau yang terlahir di wilayah Al-Bihira, Mesir pada 1917, dan merupakan keturunan dari kalifah kedua Islam, Umar bin Khattab dan Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Zainab Al-Ghazali adalah satu dari banyak pejuang wanita yang mengukirkan sejarahnya dengan menulis. Pena telah menjadi alat perlawanannya untuk menentang kezaliman melawan rezim Mesir pada saat itu, Presiden Gamal Abdul Naser. Hingga ia harus mengalami hidup yang penuh siksaan dalam tahanan. Tapi semua itu tidak membuatnya gentar, penjara dan siksaan tidak pernah mematahkan tekadnya bahkan membuatnya lebih kuat. Zainab Al-Ghazali meninggalkan jejak perjuangannya,  ia telah mengukirkan sejarah dirinya.

Demikianlah, dengan pena, seorang tokoh bisa menombak penguasa yang telah berlaku sewenang-wenang. Pena di tangan seorang tokoh kerap bersuara meskipun harus pula berbuah penjara dan siksaan. Ya, menulis memang mampu menghadirkan banyak fenomena. Begitu banyak tokoh mencipta karya, begitu banyak fenomena tercipta. Satu fenomena yang seakan-akan mengguratkan heroisme adalah perlawanan pena seorang tokoh.

Adalah aku, aku baru mulai menulis lagi, walaupun dengan segala keterbatasan. Alasan utama aku mulai menulis, bukan karena ranah bicaraku kehabisan kata, akau dibungkam penguasa. Bukan. Bukan pula karena medan gerakku disekap atau dikebiri, sungguh bukan karena itu semua. Aku (mulai) menulis karena aku makin meyakini bahwa hanya dengan menulislah aku akan terus hidup. Bahwa hanya dengan menulis, jejakku akan bisa direkam.  
Semangatku untuk menulis lagi banyak dipengaruhi oleh seringnya aku membaca-baca catatan di facebook, senang rasanya bisa dapat banyak hikmah dan pelajaran sekaligus juga persahabatan terlebih caranya mudah dan cuma-cuma. Apalagi ajakan menulis bersama yang menurutku sangat membantu orang-orang yang punya minat menulis tapi tak punya ilmu tentang kepenulisan sepertiku.  Tapi berkat berbagi ilmu kepenulisan juga kesempatan untuk menulis bersama, puisi pertamaku masuk dalam buku antalogi “Selaksa Makna Cinta” yang digawangi group UNTUK SAHABAT. Adrenalin menulisku semakin meningkat. Dan Allah memang sebaik-baiknya pembuat scenario. Saat semangat menulisku sedang menggebu-gebu aku justru dipertemukan dengan tokoh penulis wanita yang sudah go internasional, siapalagi kalau bukan Helvy Tiana Rosa, yang karyanya sudah menginspirasi banyak orang. Dan pertemuan dengan tokoh FLP inipun terjadi di tanah haram, Mekkah Al Mukarromah tanggal 02 Desember 2010 bertepatan dengan musim haji 1431 H yang lalu, saat aku menjalankan tugas sebagai dokter kloter atau dikenal dengan sebutan TKHI (Tenaga Kesehatan Haji Indonesia). Pertemuan ini terjadi atas undangan seorang teman facebook yang juga pengurus FLP Saudi Arabia, karena mereka sedang mengadakan workshop kepenulisan yang menghadirkan Mbak HTR sebagai pembicara, memanfaatkan moment Mbak Helvy yang sedang naik haji. 

Aku yakin, siapapun yang punya mimpi jadi penulis, pasti senang bisa bertemu dengan Mbak HTR, tak terkecuali aku. Apalagi kalau itu di tanah haram, Mekkah. Senangnya tentu berlipat ganda. Terlebih bila tidak hanya sekedar ketemu, melainkan bisa menimba ilmu penulisan langsung darinya. Kebayangkan rasanya. Itu yang kualami. Pesan Mbak HTR tentang menulis, sangat singkat tapi langsung kuaplikasikan. Sederhana saja ternyata. Bahwasanya menulis itu hanya perlu satu kata, mulai, itu saja. Semua kemauan, semangat, bahkan bakat tak akan ada artinya, karena tidak akan pernah bisa menghasilkan sebuah tulisan. Sekali lagi menulis hanya butuh satu kata “mulai”.
Beliaupun mewanti-wanti bahwa menulis itu ibarat jurus kungfu, akan makin lihai bila sering dilatih, jadi menulislah terus. Usahakan tiap hari ada yang kita tulis, walau hanya satu kalimat, anggaplah kita sedang melenturkan otot-otot dalam berlatih kungfu.  Atau dalam kata lain pena itu ibarat pedang, akan tajam sebuah pedang bila sering diasah. Begitu pesannya, singkat saja jadi memudahkan kita untuk melaksanakannya. Dan aku yakin sekali pertemuanku dengan Mbak HTR adalah skenario hebat dari Allah yang Maha Segala agar aku makin rajin menulis. Thanksfull to Mbak Helvy untuk ilmu dan semangat menulisnya. Walau aku hanya pertemu sesaat, bahkan tak sampai acara selesai tapi nasehatmu sangat menginspirasi.

Aku akan terus menulis. Menebar kebaikan dengan tulisan. Merekam jejak diri untuk sang penerus mimpi, semoga bermanfaat minimal untuk orang-orang terdekat. Karena kita pernah ada. Semoga abadi, mampu memberi warna  sekitar, menghusung cerah semesta. 

***
Syukur banget kemarin masih sempat kirim tulisan ini ke email ke ainaalazmi@gmail. Sebenernya kemarin dan semalam dah niatin nulis untuk Vania's May Giveaway, tapi ternyata ini lebih mepet terakhir tanggal 22 Mei jam 22, jadi tunggu ya Vania....mumpung masih dikasih tambahan waktu sampai 25 Mei :)

10 komentar:

warsito mengatakan...

semoga menang bunda

Yunda Hamasah mengatakan...

Aamiin....thanks ya :)

Nufri L Sang Nila mengatakan...

di Indonesia jangan kan menulis bu...membaca saja masih rendah kesadarannya... :) ... tulisannya bagus dan menggugah...

semangattt !!! untuk yang ini >> Aku akan terus menulis. Menebar kebaikan dengan tulisan...

salam :)

Yunda Hamasah mengatakan...

Nufri:
Betul Bang, seperti kata iklan...."tapi bagaimana mungkin, membaca saja aku sulit". Hikkkszz
(Ngak nyambung ya....)

Btw, thanks dah baca dan SEMANGATnya....

Salam juga :)

Bunda Loving mengatakan...

wah...bunda ikutan lomba 'vania' ya... InsyaAllah pasti menang....ceritanya bagus kok...

Yunda Hamasah mengatakan...

Bunda Luv:
Belum Bun, lagi dibuat,abis pake syarat "seperti bercerita pada anak 3 tahun", jadi agak lama mikirnya....alasan.com

Ach, Bunda bisa aja, Bunda ikutan juga ya....biar seru :)

Rio Saputra mengatakan...

Tulisannya sangat menggugah saya bu, terimakasih atas inspirasinya.
salam kenal.

Yunda Hamasah mengatakan...

Rio:
Salam kenal juga :)
Terima kasih juga sudah mampir dan membaca tulisan ini, semoga bisa mengambil manfaat...

Lyliana Thia mengatakan...

Haaa... namaku kok ada di posting ini?? jadi malu *tutup muka*

Mbaaa... maap baru smpt baca nih sore.,..
Mbaaa... artikelnya bagus banget...

diedit dikit deh trus diikutin ke kontes Blogger Return Contest... sampai akhir Mei ini... ini link nya Mba...

http://anazkia.blogspot.com/2011/04/blogger-return-kontes.html

Yunda Hamasah mengatakan...

He eh Tia gpp ya pake acara ngutip dari blogmu :)
Masih ada waktu, semoga bisa, thanks ya infonya....walau agak nggak PeDe, ilmu ngeblogku masih payah :(