Jumat, 20 Mei 2011

Arti Kebangkitan

Setiap tanggal 20 Mei, Negeri kita memperingati hari Kebangkitan Nasional. Bahkan tahun 2008 sudah menjadi momentum 1 abad hari Kebangkitan Nasional, puncak acara peringatannya diadakan di Gelora Bung Karno, ingat? Ya sudah 3 tahun berlalu. Lalu apa yang berbeda dari tahun ketahunnya setelah lewat 100 tahun? Jangan-jangan malah semakin banyak yang lupa tentang sejarahnya, mari kita ulas sejenak :)

Kebangkitan nasional adalah masa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan 350 tahun. Masa ini diawali dengan dua peristiwa penting Boedi Oetomo [1908] dan Sumpah Pemuda [1928]. Masa ini merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli.

Tokoh-tokoh kebangkitan nasional, antara lain: Sutomo, Gunawan, dan Tjipto Mangunkusumo, dr. Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Suryoningrat (Ki Hajar Dewantara), dr. Douwes Dekker, dll.

Istilah ‘kebangkitan nasional’ dipopulerkan Perdana Menteri Hatta 1948. Saat itu, negeri Indonesia masih diwarnai perang kemerdekaan, ketika situasi politik bergejolak hebat. Melihat kondisi tersebut, Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantoro) dan Dr. Rajiman Wediodiningrat mengusulkan kepada Presiden Soekarno, Perdana Menteri Hatta, serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Ali Sastroamijoyo untuk memperingati kebangunan nasional melalui berdirinya perkumpulan Boedi Oetomo. Perkumpulan yang didirikan 20 Mei 1908 tersebut, dianggap bisa mengingatkan semua orang bahwa persatuan bangsa Indonesia sebenarnya sudah dicanangkan sejak lama. Usulan tersebut kemudian disetujui pemerintah Republik Indonesia dengan melaksanakan Peringatan Kebangunan Nasional yang ke-40 di Yogyakarta.

) 8 (

Itulah ya sejarah kebangkitan di Negeri ini. Adapun buat kita, apa makna kebangkitan itu? Atau dalam makna kebangkitan, sudah kah ada yang bangkit pada diri kita?
Buatku, adalah sosok sahabat Bilal bin Rabbah yang telah berhasil memanfaatkan kemerdekaannya sebagai seorang budak sebagai tonggak melesat bangkitnya semua potensi hebat yang ada dalam diri, yang belum maksimal saat beliau masih berstatus budak. Walaupun sejatinya, menjadi seorang muslim adalah awal bangkitnya seorang Bilal bin Rabbah. Lalu siapa pula sosok dibelakang merdekanya Bilal dari perbudakan? Dialah manusia pilihan, sahabat terdekat Rasulullah, SAW. Ya Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dan inilah penggalan kisah yang telah menebar hikmah kebangkitan menurut pendapatku.

Abu Bakar dikenal sebagai pedagang yang unggul, jujur, berhati lembut, dan hakim yang memiliki kedudukan yang tinggi di suku Qurais. Ketika Muhammad menikah dengan Khodijah RA dan pindah hidup dengannya. Pada saat itu Muhammad menjadi tetangga Abu Bakar dan tahukah anda, bahwa ternyata Abu Bakar memiliki rumah yang sama seperti rumah Muhammad SAW dan istrinya saat masih di Mekah, rumahnya juga bertingkat dua dan mewah.  Rosulullah SAW dan Abu Bakar berusia hampir sama yang juga berprofesi sebagai pedagang yang ahli ekonomi. Dialah manusia yang Allah pilih untuk menjadi teman karibnya Nabi Akhir Zaman, bersama di masa remaja, bersama dimasa dewasa, bersama dimasa dakwah, bersama dimasa hijrah, bersama dimasa hingga akhir dalam Islam, bahkan bersama di Jannahtullah yang dijanjikan Allah.


Abu Bakar dikenal dengan kecakapan dan kepiawaian dalam berbicara dan bernegosiasi sekaligus juga sangat dikenal sebagai pengusaha kaya raya yang dermawan. Dan tidak dipungkiri saat masa awal Islam saat di Kota Mekah, yang paling banyak jadi pemeluk Islam adalah para budak dan, sehingga penyiksaan terparah yang paling banyak diterima oleh kaum muslimin dimasa-masa awal adalah untuk para budak dan faqir yang memeluk Islam. Memang kaum Muslimin yang berpendidikan tinggi juga mendapatkan penyiksaan hanya saja tidak sekeras yang diterima oleh para budak, karena biasanya masih dilindungi oleh rumpun keluarganya masing-masing sebagaimana yang lazim terjadi pada masa itu.

Hal ini juga yang membuat Abu Bakar banyak menggunakan hartanya untuk membebaskan para budak yang menjadi muslim dari kekuasaan tuannya. Hal ini juga berlaku pada seorang Sahabat Rasulullah SAW yaitu Bilal bin Raba RA, sang muadzin Rasulullah. Sahabat Nabi Bilal saat itu adalah seorang budak Habsyi yang hitam legam. Dan saat keislamannya telah  diketahui oleh Tuannya yaitu Umayyah bin Khalaf, maka Umayyah menyiksa Bilal dengan sangat keras, mereka membawanya keluar pada siang hari di padang pasir dan mencampakkannya di atas pasir-pasir yang panas dalam keadaan tak berbaju. Kemudian mereka membawa batu yang telah dipanaskan dan meletakkan di atas tubuh dan dadanya. Siksa yang demikian berulang-ulang setiap hari, tapi Bilal tetap tegar. Hati sebagian penyiksa menjadi lunak seraya berkata: 

"Sebutlah Latta dan Uzza dengan baik" 
Tapi Bilal menolak dan sebagai gantinya ia mengucapkan senandung yang sangat terkenal hingga akhir zaman.
 
"Ahad Ahad" yang mengartikan Allah yang Satu, Allah Yang Maha Esa. Sebuah nilai kepahlawanan arti keteguhan dan kesabaran dalam kebenaran yang hakiki.

Dan disaat itulah satu kisah kepahlawan terukir dengan gemilang. Abu Bakar Ash-Shiddiq tampil ketika mereka menyiksa Bilal bin Rabbah. Abu Bakar lalu meneriakkan:
"Apakah kalian membunuh orang karena berucap Robbku adalah Allah?" 
Selanjutnya Abu Bakar meminta kepada Umayyah untuk menjual Bilal kepadanya, yang memang sesungguhnya Umayyah berkeinginan untuk menjual Bilal. Abu Bakar kemudian membelinya dengan harga yang berlipat ganda dari harga yang diinginkan Umayyah. Ketika Abu Bakar memegang tangan Bilal untuk membawanya, maka Umayyah berkata:
 
"Ambillah! Demi Latta dan Uzza seandainya kamu menolak kecuali membelinya dengan 1 Uqiyah niscaya aku menjualnya dengan harga itu". 
Abu Bakar menjawab "Demi Allah seandainya kamu menolak kecuali seharga 100 Uqiyah niscaya aku akan membayarnya."  
Ya Abu Bakar akhirnya memang membeli Bilal dengan 100 Uqiyah. Seberapa nilainya? 
Tahukah anda berapa 100 uqiyah itu, dalam sebuah Hadist Rasulullah SAW.
Abu Salamah menceritakan, "Aku pernah bertanya kepada Aisyah berapa mahar Nabi untuk para istrinya. Mahar beliau untuk para istrinya adalah sebesar 12 uqiyah dan 1 nasyi, lalu Aisyah bertanya berapakah 1 uqiyah itu. Aku menjawab tidak, Aisyah menjawab lagi 40 dirham, dan tahukah kamu  berapa 1 nasyi itu, aku menjawab tidak, lalu Aisyah menjawab 1 nasyi sama dengan 20 dirham".
1 uqiyah = 40 dirham
1 nasyi = 20 dirham
1 dirham = 2,975 gram emas
Jika harga emas sekarang sama dengan Rp. 300.000,- (pembulatan) maka Abu Bakar mampu memerdekakan Bilal dengan hartanya sendiri sebesar = 100 uqiyah x 40 dirham x 2,975 gram x Rp 300.000,- = Rp 3.570.000.000,- 
Atau senilai Tiga Milyar Lima Ratus Tujuh Puluh Juta Rupiah. 

Subhanallah kalau bukan orang yang kaya, maka tak akan mampu Abu Bakar mengambil peran ini. Dan kalau bukan karena komitmentnya pada islam, tak akan mau mengeluarkan dana senilai ini hanya untuk seorang budak.
Adapun Bilal setelah dia dibebaskan, ia sangat memanfaatkannya, ia menjalani kehidupan ditengah orang-orang merdeka. Membuktikan kapasitas dirinya sebagai seorang muslim terbaik, sampai tercatat sebagai muadzin Rasulullah dan ikut berjuang disetiap medan jihad semasa hidupnya. Karena keutamaannya yang selalu melakukan sholat sunnah 2 rakaat setelah wudhu, Rasulullah mengabarkan bahwa terompah Bilal sudah terdengar di Syurga saat peristiwa Isra' Mi'raj. Subhanallah....Bilal telah mengapresiasikan kebangkitan dirinya dengan sangat maksimal. Bagaimana dengan kita?

Adalah Abu Bakar Ash-Ahiddiq sang saudagar kaya raya sekaligus dermawan berhati mulia yang berperan dibelakang ini semua. Akankah kita mejadi generasi Abu Bakar berikutnya. Semoga....
Karena harta akan semakin terasa manfaatnya bila berada ditangan seorang muslim yang taat.

Pada Bilal kita belajar bangkit, memaksimalkan segenap potensi baik dalam diri...
Pada Abu Bakar kita pun belajar banyak hal. Menjadi muslim yang berdikari, yang kaya hingga mampu menolong saudaranya untuk bangkit.

Siapapun kita, mari maknai setiap moment dalam hidup kita untuk bangkit, songsong kemuliaan, demi hari esok yang lebih baik. 

Thanksful to http://advridwansaiman.blogspots.com yang sudah menginspirasi.

6 komentar:

Lyliana Thia mengatakan...

Subhanallah ya... kalo ingat spt apa sahabat2 Rasulullah dulu... perjuangan org skrg nggak ada seujung kuku dbandingkan mereka... semoga di jaman yg serba mudah ini qta diberi kekuatan utk bangkit dari keterpurukan, amiiiin,....

warsito mengatakan...

seandainya orang kaya sekarang seperti jaman rasulullah mungkin tidak akan orang2 terlantar dan pengangguran yang susah cari hehehehe ga nyambung kali ya komennya

Yunda Hamasah mengatakan...

Thia:
Aamiin....semoga semangat bangkit menyongsong hari yang lebih baik dan menjadi sosok mulia yang mamberi jalan bagi kebangkitan orang lain bisa selalu kita miliki :)

Warsito:
Nyambung kok Pak....mari kita jadi orang kaya selayak para sahabat Rasulullah yang tak pernah berhenti berbagi kepada saudaranya, tak peduli siapapun ia dan berapapun nilainya :)
Seperti Abu Bakar, 3 M lebih untuk Bilal yang seorang budak, hebat bukan? Tapi ini nyata :)

yayu mengatakan...

berati saya juga harus bangkit dan bejuang untuk diri sendiri supaya bisa bantu yg belum bangkit:)

Yunda Hamasah mengatakan...

Setuju Mbak Yayu, thanks dah berkunjung....
Salam semangat :)

Anonim mengatakan...

berat 1 dirham = 2,975 gram perak...bukan emas..coba di lihat lagi......