Sabtu, 21 Mei 2011

In Memorian Ustadzah Yoyoh Yusroh

Bukan Bunga Biasa

Hari ini (Sabtu, 21 Mei 2011) kembali hembusan angin duka menerpaku, satu lagi seorang mujahidah dakwah, Ustadzah  Yoyoh Yusroh Full  pejuang perempuan parlemen yang sangat kukagumi kembali menunaikan janji-Nya menemui Sang pemilik Hidup. Hanya berselang 3 hari dari kepergian seorang pejuang pena Nurul F Huda Full yang juga seorang mujahidah tangguh. Sms yang kuterima ba'da subuh tadi mengabarkan:
Innalillahi wa inna illaihi roji'un.....telah meninggal dunia Ustadzah Yoyoh Yusroh jam 03.30 WIB di RS Mitra Keluarga Plumbon, Cirebon karena kecelakaan lalu lintas di Tol Kanci dalam perjalanan Yogja-Jakarta. Ustadz Budi Darmawan (Suami) dan 5 anaknya masih dirawat di RS, mohon do'a untuk kesembuhannya. 
Almarhumah Ustadzah Yoyoh Yusroh dan Keluarga.
Langit hatiku seketika terasa mendung, kelabu dan siap menjadi gerimis. Beliau memang tak mengenalku, tapi sungguh sosoknya terasa begitu dekat dihatiku. Beliau mempesonaku, menginspirasiku dalam banyak hal. Meski hanya sesekali berjumpa itupun sepintas kilas saat kunjungan beliau selaku Aleg FPKS ke Palembang tapi hembusan semangat yang beliau bagi masih terasa hangat dan akan terus berkobar.

Setidaknya ada tiga perjumpaanku dengannya yang masih nyata membekas. Ketiganya saat beliau sebagai pembicara pada sebuah acara di Palembang. 

Yang pertama pada Seminar keluarga SAMARA Plaju, aku lupa tepatnya tapi sekitar akhir tahun 2002. Saat itu aku masih baru beberapa bulan menikah dan belum punya anak, orang bilang masih pengantin baru :)  Dan bersamaan dengan itu akupun sedang sibuk-sibuknya di fase akhir kepanitraan klinik di RSMH (coass atau dokter muda sebutan populernya). Beliau bukan satu-satunya pembica, tapi kata-kata beliaulah yang mampu menghujam tepat diqalbu-ku, menohok dan mampu membuatku tersadar. Redaksinya aku lupa tapi intinya saat mengkaji tentang salah satu kewajiban istri pada suaminya terkait hadist ini:
Jika suami mengajak tidur istrinya, lalu sang istri menolak, yang menyebabkan sang suami marah kepadanya, maka malaikat akan melaknat istri tersebut sampai pagi tiba. (HR Bukhari dan Muslim).
Dengan lugas dan bahasa yang sangat mudah difahami, Ustadzah Yoyoh Yusroh menghimbau, agar para muslimah bila kita tidak ingin dilaknat oleh penduduk langit, dan inginkan syurga maka jangan pernah menolak ajakan suami ke tempat tidur. Coba sadari, kita yang melayani suami yang sekaligus orang yang kita sayangi akan mendapatkan pahala kok malas-malasan, kenapa kita banyak alasan. Lha wong PSK itu sudah jelas-jelas dosa, pada orang yang tidak mereka sayangi bahakan tak dikenal kok malah semangat sekali, bisa 5-8 kali. Begitu kira-kira intinya, jujur kalimat persisnya aku lupa, tak kucatat kala itu ;(
Tapi yang masih jelas kurekam adalah rasaku ketika itu, seperti kena sengatan listrik bertegangan tinggi. Bagaimana tidak, saat itu dengan segala kondisi sibuk dan padatnya jadwal jagaku di RSMH aku seringkali rajin memcari-cari alasan untuk ibadah khusus tersebut. Alasanku ajukan bisanya sebelum suami mengajak, jadi dalihku bukan menolak kan? Tapi kalimat Ustadzah Yoyoh barusan membangkitkan kesadaranku, pahala yang dijanjikan kok sibuk dihindari, sementara si-PSK yang dapatnya dosa kok malah semangat sekali ya....
Maka sejak itu, aku ingin buktikan bahwa aku bisa, tanpa banyak alasan.

Pertemuan kedua saat beberapa waktu berselang, aku berkesempatan mendengarkan nasehatmu lagi ya Ustdzah....kala itu salah satu anakmu (aku lupa anak yang keberapa) dibawa serta, masih merah berumur sekitar 1,5 bulan. Tak ada keribetan yang tampak, semuanya berjalan lancar dan dirimu tampak sangat menikmati sekali. Menyusui bayi disela-sela acara, padahal baru tiba dari perjalanan Jakarta-Palembang kau tetap bugar dan penuh senyum. Tak ada obrolan pribadi yang sempat tercipta antara kita saat itu, aku mendengarkan nasehatmu kali ini dalam diam, larut dalam perenungan. Begitulah hendaknya kita, para Ibu, jangan pernah menjadikan anak-anak kita beban, mereka adalah amanah yang dipercayakan Allah pada kita, sekaligus juga anugerah terindah dalam hidup kita. Jadi jangan pernah mereka, anak-anak kita dijadikan sebagai alasan yang menghalangi serangkaian aktivitas dan kesibukan kita diluar rumah. Dirimu memang tak suguhkan teori, tapi prakteknya begitu jelas mempesona. 13 orang anak, 9 Putra dan 4 Putri yang kesemuanya berpacu menjadi hafidz-hafidzah. Dimataku, engkau sosok yang luar biasa.
Saat yang bersamaan akupun terkenang dengan salah satu informasi yang pernah kudengar tentang dirimu. Bahwa sejak remaja engkau selalu berusaha untuk mengkonsumsi makanan sehat, kalaupun harus jajan diluar dirimu lebih suka pecel atau gado-gado yang banyak sayurannya ketimbang bakso atau sejenisnya. Betapa sejak dulu sudah kau siapkan kokohnya rahimmu untuk mengandung 13 generasi unggulan. Ya Ustadzah, dirimu memang bunga pilihan, bukan bunga biasa. Semerbak wangi dan juga anggun berhias cantik. Pesonamu meliputi semua tentangmu.
Dan ketahuilah sejak saat itu akupun berazzam untuk punya anak banyak dan tak akan merasa kerepotan merawat mereka, lebih dari itu aku bahkan mengusahakan tetap memilih makanan sehat diwaktu-waktu sulit untuk makan misalnya saat ngidam, inginnya mie-mie, bakso atau pempek saja,tapi aku seperti selalu ingin memaksa diri untuk tetap makan nasi, lauk dan sayuran demi bayi yang kukandung. Adalah engkau yang menginspirasiku.

Yoyoh Yusroh berfoto bersama PM Palestina Ismail Haniya dan Wakil Ketua Parlemen Palestina, Dr. Ahmed Bahar. Ketika itu almarhumah berhasil menembus blokade Israel di Gaza Palestina bersama para relawan (10/2010). (KNRP)
Sebenarnya ini pertemuan kesekian, jujur bukan tak berkesan, tapi itulah manusia, tempatnya lupa dan salah. Maka kuanggap ini pertemuan yang ketiga, kucatat dan kuingat ini karena ternyata ini adalah pertemuan yang terakhir. Ceritamu masih mengalir, sarat hikmah dan motivasi. Cerita kali ini adalah tentang catatan perjalananmu sebagai anggota Tim KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina) yang telah bertemu dengan para mujahid dan mujahidah Palestina. Kau bangkitkan kesadaran kami akan satu semangat untuk kembali akrab mencumbui Al-Qur'an, bukankah tak ada halangan untuk kita para muslimah Indonesia yang hidup penuh kedamaian, tak ada cerita tentang gejolak perang terlebih pembantaian serupa kisah saudara muslim di Palestina. Ya Ustadzah, sungguh aku terpuruk malu. Lalu ada juga kisah pribadimu tentang masalah sekolah anak ke(?), aku lupa, saat ia mogok sekolah, tapi akhirnya tetap berhasil menamatkan SMA-nya dengan dukungan empati penuh cinta darimu. Yang kau tekankan, kau garis bawahi dari ceritamu adalah tak ada masalah besar dalam hidup kita bila hanya terkait suami, anak, rumah, harta, status sosial atau apasaja yang kita sayangi, kecuali bila masalah itu adalah masalah ummat. Artinya masalah itu dikatakan besar bila sudah berhubungan dengan dakwah ini, itu pesan terakhir yang kudengar langsung dari lisanmu.

***

Merampungkan tulisan ini sembari membuka berita terkait tentang wafatnya Ustadzah Yoyoh Yusroh. Dan mendapatkan foto yang bercerita tentang suasana menjelang jenazahnya disholatkan. Merinding, terharu, sungguh ramainya....
Tampak masjid yang penuh oleh jama'ah yang ingin ikut menyolatkan jenazah. 

Lockerz.com: ferryardian's Photos.

Berita DetikNews,21/05/2011.05.40 WIB
Yoyoh adalah salah seorang tokoh pendiri PKS. Wanita yang biasa disapa ustadzah Yoyoh ini dikenal sebagai sosok yang sederhana dan bersahaja.          Ibu dari 13 orang anak ini lahir di Tangerang, 14 November 1962. Dia menjadi anggota DPR sejak tahun 1999 dan sudah menempati sejumlah komisi.
Yoyoh juga kini aktif sebagai anggota Dewan Pakar ICMI Tahun 2005-2010, bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Lansia.
Sejumlah tanda jasa pun pernah diterimanya, seperti International Muslim Women Union (IMWU) tahun 2000, International Muslim Women Union (IMWU) tahun 2003, dan Mubaligh National dari Departemen Agama Pusat tahun 2001. Selamat jalan Ustadzah...
Dakwatuna.com, 21/05/2011.

Anggota Komisi I DPR, Ustz. Yoyoh Yusroh meninggal dunia akibat kecelakaan di Cirebon, Jawa Barat dini hari tadi, sepulang menghadiri wisuda anak pertamanya, Ahmad ‘Umar Al-Faruq yang telah menyelesaikan pendidikan sarjana S1 di Universitas Gajah Mada.
Masih di Dakwatuna. com pada judul berita Ibu Yoyoh, TNI Berjilbab dan Palestina.
Dalam tes uji kelayakan calon Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, seorang anggota FPKS meminta agar Panglima TNI memperbolehkan wanita TNI boleh berjilbab. Hal ini sudah diterapkan di Aceh, dan tidak menjadi masalah.“Kalau wanita bisa berpakaian sesuai aturan agama. Ini tidak akan mengganggu tugasnya,” kata seorang Wanita anggota FPKS. Dialah  Yoyoh Yusroh.
Ibu Yoyoh bilang, dia masih ingin kembali ke Palestina. Melakukan tindakan kemanusiaan di sana. Tapi Allah rupanya berkehendak lain. Beliau meninggal saat kecelakaan dini hari tadi.
Hari ini, PKS kehilangan salah satu tokoh wanita terbaiknya. Umat Islam di Indonesia juga kehilangan seorang pejuangnya.
***

Dan jasadmu memang telah pergi, tapi jejak juangmu akan abadi. 
Izinkan kami mengenangmu sebagai guru dalam banyak kebaikan.....
Telah sempurna engkau tunaikan amanahmu....
Dan kami akan mengabadikan pesonamu dalam memoar perjuangan ini.
Dikau guru sekaligus Ibu bagi banyak orang.
Dirimu Srikandi dalam dakwah ini.... 
Innalilahi wa Inna Ilaihi Rajiun. Allahumma firlaha warhamha waafiha wa'fuanha   Allahumma latahrimna ajraha wala taftinna ba'da ha wagfirlana walaha.... 
Selamat jalan wahai Ustadzah Yoyoh Yusroh Full...
Duhai Ustadzah sekalipun dirimu tak mengenalku, tapi dengan apa yang kutahu, kudengar, kurasakan dan akhirnya kuyakini, sungguh aku bersaksi bahwasanya dirimu orang baik, guru dan juga Ibu yang baik bagi banyak orang.
Semoga Allah menempatkanmu pada tempat yang mulia di sisi-Nya. 
Sekali lagi, Semoga Syurga tempat kekalmu
....dan izin kan kami bertemu lagi kelak Ya Rabb, Sang pemilik Hidup dan Mati.

***
Tulisan ini kukirim ke email maimonh@gmail, semoga berkenan.

8 komentar:

Lyliana Thia mengatakan...

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un...

sedih yah Mba... beliau tokoh yg berani membuat perubahan utk muslimah khususnya...

Semoga beliau diberi tempat terbaik disisi-Nya...

Yunda Hamasah mengatakan...

Thanks Tia dah baca ini :)
Beliau begitu mempesona, terlebih untuk mereka yang dekat....
Aamiin, makasih do'anya :)

Istirhami mengatakan...

smoga Almarhumah dpt diterima amalnya dlm kehidupanya dan tenang di sisi Allah SWT, aamiiin.

Eka Novirna mengatakan...

Subhanallah.. malunya ana sebagai seorang akhwat muda..

Ustadzah Yoyoh memang begitu menginspirasi..

untuk para akhwat, mari kita teladani beliau dengan semerbak perjuangannya di Jalan ini...

fadli mengatakan...

selama 15th perkawinan saya belum pernah merasakan "istri berkewajiban melayani suami" sampai saat ini setelah dikaruniai putra yang sudah besar,effect modernisasi wanita karir,bekerja dliuar boleh saja kalau itu didasari niat tulus membantu ekonomi keluarga tapi kalau hanya mebuat api dalam sekam menjadikan rumah tangga seperti neraka buat apa..?ladang akherat ditinggalkan yang repotnya lagi istri sudah menyandang gelar hajjah..ujian ini terlalu berat bagi saya..sahwat adalah karunia alloh bukan bikinan manusia, diciptakan nya kaum hawa adalah salah satunya agar dapat dikendalikannya sahwat suami yang dapat menimbulkan mudhorat lebih besar, sehingga menjadikan hati menjadi tenang dan tentram.. (Just Sharing) untuk para akhwat apa yang mau kita cari didunia ini ...keridhoan suami atau mengikuti modernisasi wanita karir..pernah sy berpikir tuk berjinah tapi takut murka alloh berpikir menikah lagi kasihan anak2, padahal suami tidak dalam meninggalkan kewajibannya sebagai seorang suami ,Nafkah,Rumah serta kendaraan ..Wanita karir (maaf) Ego terlalu besar karena merasa mampu..entah sampai kapan ujian serta ksabaran ini..Allohuallam bisowab.

BEKAM KEPALA TANPA CUKUR mengatakan...

Assalamu'alaikum, salam kenal Bu, saya kesasar kemari. :)

cara menyembuhkan ambeien mengatakan...

innalilahi.. selamat jalan bu ustadzah.. semoga mendapatkan tempat yg baik di sisiNya

Vertical blind mengatakan...

respect buat ustadzah Yoyoh :")