Tampilkan postingan dengan label Give Away. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Give Away. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Desember 2014

Yang Bersama Terus Berbenah

Ini kejadian beberapa hari yang lalu saat aku berkesempatan mendengarkan curhat seorang 'adik'. Begini kisahnya, cieee  

Dijeda sebuah pelatihan, aku membaca sebuah pembaharuan dari seorang Ust.Cahyadi Takariawan (beliau baru sepekan lalu dinobatkan sebagai Kompasioner Terfavorit pada penghargaan Kompasiana Awards 2014) yang memang pemberitahuannya rutin masuk ke fb-ku dan biasanya kerap kubaca, seringnya sambil senyum-senyum.

Dan kali ini, demikianlah isi status beliau:
Sekedar menelpon, atau sms, atau ngobrol via BBM atau WA, untuk menanyakan kondisi dan aktivitas masing-masing, adalah sesuatu banget bagi pasangan suami istri.....
Jangan menelpon atau mengontak hanya karena ada sebuah kepentingan yang khusus. Tidak perlu ada sesuatu kepentingan tertentu. Usahakan terus terhubung dan nyambung. Bahkan untuk sekedar "iseng" atau hal-hal yang sepertinya tidak penting.... 
Justru ini menjadi penting dalam rangka menyatukan hati dan jiwa suami istri.
Agar mereka selalu nyambung dan terhubung....

********

Istri : Sudah makan Bang?
Suami : Sudah Dek....
Istri : Makan apa Bang?
Suami : Makan siang Dek...
Istri : Ooh aku kira makan nasi Bang...
Suami : Kalo kamu udah makan Dek?
Istri : Udah Bang...
Suami : Makan apa Dek?
Istri : Makan ati Bang....
Suami : Ooh... kirain makan nasi...

***********
Isinya cuma iseng dan gak penting kan? 

Karena yang penting adalah selalu terhubung dan nyambung.... 
Isi chatting tidak terlalu penting....
Selamat siang sahabat semua.......


Seperti biasa akupun langsung mesem-mesem sendiri. Ternyata peserta pelatihan disebelahku, yang juga kawan sekamarku selama pelatihan kali ini memperhatikan dan langsung bertanya. "Baca apaan sich Mbak?" Serta merta aku menyodorkan hp-ku, dia membacanya dengan seksama. Aku kembali khusyuk dengan materi pelatihan yang mulai serius lagi. Barulah saat istirahat sholat dzuhur, Bunga (bukan nama sebenarnya) menggenggam tanganku erat. "Mbak, aku telat membaca tulisan bagus seperti tadi, sebenarnya aku punya pengalaman pahit seputar kehidupan berumahtangga". Dan akhirnya mengalirlah kisah berharga darinya tanpa kupinta. 

Sepuluhtahun lebih berubah tangga, Bunga merasa mereka hidup dalam keharmonisan, masuk dalam gambaran keluarga SAMARA. Suaminya adalah seorang pengusaha yang mulai menanjak, selain itu ia juga terkenal sebagai orang yang faham agama, bahkan banyak yang menyebutnya Ustadz. Sementara Bunga sendiri bekerja paruh waktu sebagai dokter PNS di Dinas Kesehatan sebuah kota. Kehidupan mereka sangat ideal dengan kehadiran 2 orang anak, yang sulung sudah kelas 4 SD sementara yang kedua masih balita. Saat Bunga ke kantor, dirumah ada asisten rumah tangga dengan Ibunya Bunga yang sudah menjanda dan memang sudah sejak lama tinggal bersama mereka. Bunga merasa sangat beruntung memiliki suami yang sangat menyayanginya dan keluarga, masuk kriteria tipe suami idaman. 

Sampai suatu ketika tanpa sengaja Bunga melihat percakapan mesra di inbox suaminya dengan seorang wanita muda yang bahkan masih mahasiswi. Bagai disambar petir disiang bolong, Bunga melolong, dunianya seperti runtuh. Apa salahnya sampai suaminya tega mengkhianatinya sedemikian rupa. Dialog yang penuh emosipun tak terelakkan lagi, rupanya kejadian ini baru seminggu, sejak Bunga sibuk merawat Ibunya yang sedang sakit, perhatian yang sebagian lagi tercurah untuk kedua buah hatinya dan pekerjaan di kantor yang sedang padat. Bunga memang sempat lalai memperhatikan suaminya, Bunga merasa suaminya baik-baik saja, memaklumi semua keadaan daruratnya. Tapi ternyata Bunga keliru, suaminya merasa kesepian, butuh kawan ngobrol dan merasa Bunga mengabaikan hak biologisnya yang sedang menggebu, layaknya pria yang hampir memasuki usia 40 tahun, sebagai dokter Bunga sebenarnya faham itu.

Yang disesalkan Bunga, mengapa suaminya tak mengkomunikasikan secara terbuka seperti yang biasanya mereka lakukan. Alasan suaminya, ia tak tega melihat Bunga yang kelelahan. Ketika Bunga menggali lebih dalam, suaminya mengakui bahwa seandainya diizinkan memang ia ada niat menikahi mahasiswi tersebut, asal Bunga memang ikhlas menerima keputusannya berpoligami. Bunga benar-benar tepuruk, tak menyangka akan mengalami tikaman sedahsyat ini. Sambil terisak-isak Bunga menegaskan bahwa ia tak sanggup diduakan dan kalau suaminya mau melanjutkan niatnya Bunga memilih bercerai. Bukannya Bunga menentang ayat poligami, tapi menurutnya ia belum sanggup kalau harus membagi hati, takut ia tak ikhlas sebagai istri yang akhirnya malah menjauhkannya dari syurga.

Singkat cerita akhirnya suaminya minta maaf dan berjanji tak akan menyakiti hati Bunga lagi. Meski berat, Bunga bersedia menerima maaf suaminya. Tapi ternyata si mahasiswi tak terima, dia merasa terdepak dan dengan segala cara masih mencuri-curi kesempatan untuk menyambungkan hati dengan suami Bunga, berbagai alasan dibuatnya dari minta nasehat sekaligus minta kasihani sebagai gadis yang tak bahagia karena terlahir dari orang tua yang bercerai. Sampai-sampai si mahasiswi membuatkan akun palsu atas nama 'Donald Duck' untuk suami Bunga agar mereka masih bisa chatt, dasar mahasiswi ganjen perusak rumah tangga orang. Suami Bunga juga masih menanggapi dengan alasan empatik. Syukurnya, lagi-lagi Bunga segera tahu, hatinya yang belum lagi sembuh dari luka kembali berdarah-darah. Perih seperti diiris sembilu, alangkah tega suaminya menghianatinya sampai bertubi-tubi. Kalaupun Bunga bersalah, tetap tak layak suaminya berlaku dzalim sepert itu. Bunga sampai stress berat, berhari-hari tak bisa tidur dan tidak ada nafsu makan, anak-anaknya terlantar, Ibu Bunga sampai merasa bersalah membuat anaknya kelelahan mengurusinya sakit. Pada suaminya Bunga benar-benar mati rasa, sampai terpikir mau bercerai, tapi anak-anak pasti menderita. Suami Bunga adalah Ayah terhebat dimata anak-anaknya. Bunga tahu anak-anak tak mungkin bahagia bila berpisah dari Ayahnya.

Disaat seperti itu, Bunga benar-benar limbung. Hanya pada Allah tempatnya bercerita, Bunga tak mungkin curhat pada kawan atau saudaranya, itu sama saja membuka aib suaminya, Bunga merasa emosinya masih begitu meraja, yang ada dalam ingatannya kala itu hanya kejelekan dan kesalahan suaminya saja. Hapus semua kebaikannya selama ini. Bunga trauma pada banyak hal, setiap suaminya memegang hp rasa curiganya kembali meluap-luap. Kota Bandung tempat mahasiswi ganjen itu tinggal adalah sebuah tempat yang terlarang untuk didatangi suaminya. Melihat boneka atau kata-kata 'Donald Duck' mampu membuatnya meneteskan air mata. Bagi Bunga inilah ujian terberat dalam hidupnya. Saat-saat sulit masa kecilnya sebagai anak yatim tak pernah dirasakan Bunga sebagai suatu derita. 

Suami Bunga sampai kehabisan kata untuk minta maaf. Bunga benar-benar berjuang melawan egonya demi anak-anak. Apalah artinya kebahagiaannya bila dibandingkan kebahagiaan anak-anak mereka. Akhirnya Bunga tak mau berlarut-larut, mereka berdamai. Meski manusiawi saja sampai saat ini kebencian Bunga pada mahasiswi penggoda itu masih membara. Dengan sadar Bunga diam-diam membuka akunnya dan sampailah pada satu kesimpulan memang dia kerjanya begitu, tebar-tebar pesona pada banyak laki-laki. Berharap dijadikan yang kedua. Syair lagi "Jadikan aku yang kedua, buatlah diriku bahagia" kerap diulangnya sebagai status fb-nya. Bunga juga membuka list pertemanan dan siapa saja yang rajin berkomentar, rata-rata adalah para lelaki yang tampaknya 'mapan' dan 'baik-baik'. Jauh dari kesan 'urakan', meski Bunga tak tahu siapa-siapa sajakah mereka itu, karena Bunga tak mau terlalu jauh. Cukup baginya untuk tahu siapa mahasiswi ganjen itu, ternyata tipe perempuan yang mau senangnya saja, tak mau berjuang merintis hidup susah dari bawah sehingga yang diincar adalah para pria yang sudah mapan. 

Saat ini Bunga memang sudah pulih, makanya ia memilih membagi kisahnya untuk dijadikan pelajaran, Bunga tahu aku suka menulis dan punya banyak kenalan. "Semoga bisa diambil hikmahnya Mbak", begitu pesan Bunga.

Bungapun mengakui, dulu sebelum kejadian itu. Bunga tak merasa perlu menghubungi suaminya disela-sela jam kerja, untuk sekedar bertanya keadaannya. Toch semuanya baik-baik saja. Bunga mengaku bahwa dirinya memang termasuk tipe perempuan mandiri, tegas dan tergolong kaku. Dalam hal bercinta Bunga juga tak merasa perlu beromantis ria, dulu Bunga juga nikah sama suaminya tak perlu pacaran, hanya dijodohkan saja. Itulah mengapa Bunga merasa rumah tangga mereka baik-baik saja selama sepuluh tahun lebih ini sampai prahara itu datang. Suaminya Bunga benar-benar bertaubat, dan sebagai istri yang baik Bungapun terus berbenah memperbaiki diri, belajar bahkan memaksa diri untuk bisa romantis pada suaminya. Sekarang Bunga makin meyakini bahwa kehidupan rumahtangga itu perlu diperjuangkan, agar bisa khusnul khotimah. 

Bahkan untuk urusan 'ranjang' Bunga sampai berani bilang kepada suaminya "Kapanpun Ayah meminta Bunda siap memberikan pelayanan terbaik, mau berapakali sehari juga oke. Kalaupun Bunda ogah-ogahan karena lelah, Ayah boleh paksa Bunda. Ayah jangan diam saja, sok nrimo, padahal mendongkol. Bunda lebih baik 'diperkosa' daripada diduakan". Aku sampai mesem geli mendengar komitmen Bunga. 

Aku peluk Bunga erat, banyak pelajaran yang dapat kuambil dari kisah seorang Bunga. Saat ini diluar sana memang makin banyak perempuan yang tak punya malu, mereka sudah kehilangan harga dirinya, mengoda dan merayu suami orang dengan cara yang tidak pantas. Para suamipun makin banyak yang kurang menyadari kewajibannya sebagai imam, hanya mengedepankan haknya saja. Ayat tentang poligami dijadikan andalan tanpa memahami syaratnya yang harus dipenuhi. Belum lagi era tekhnologi canggih zaman sekarang seringkali membuat orang terpedaya. Jadi teringat pernyataan seorang teman yang sampai enggan beli android, biar dech pakai hp jadul saja, alasannya takut terjerumus pada tipu daya dunia maya katanya. Menurutku, semuanya berpulang kepada kita, bagaimana kita mengambil manfaat dari tekhnologi, jangan justru sebaliknya tekhnologi yang mengendalikan kita. 

Adapun intinya dari kisah Bunga yang aku garis bawahi bahwa kita hidup diakhir zaman, rumah tangga kita sangat jauh bila hendak disandingkan dengan rumah tangganya Rasulullah, SAW dengan Bunda Khodijah, banyak sekali cacat celanya. Sebagai sepasang suami istri selayaknya kita bisa saling melengkapi, menguatkan dan mengingatkan. Terus belajar, terus berbenah memperbaiki diri. Silakan ikut pelatihan-pelatihan keluarga SAMARA atau baca-baca buku panduan tips meraih keluarga SAMARA. Berusaha selalu menjalin komunikasi aktif dengan pasangan, jangan hanya menunggu. Buat agenda liburan keluarga, hangatkan kembali suasana kebersamaan dalam keluarga. Jangan terjebak pada rutinitas, merasa berada di zona nyaman. Adalah salah bila membandingkan dengan kehidupan keluarga orangtua kita dulu yang baik-baik saja meski tak perlu bumbu-bumbu romantis ataupun penyegaran. Analoginya begini, sekarang kita hidup di bumi yang sudah makin banyak polusinya, jadi imunitas kita juga harus ditingkatkan. Jangan samakan dengan kondisi bumi zaman dulu yang semuanya masih serba segar alami, tanpa polutan berbahaya. Bila kita tidak mau meningkatkan imunitas, itu artinya kita akan dilibas polutan yang mengganas.


Minggu, 24 Maret 2013

Tiga yang Cetar Membahana

Sungguh rasa 'trimester' pertama kali ini sangat mendominasi, tapi aku terlanjur janji untuk bisa ikutan acara syukuran rame-ramenya 3 sahabat blog yang sangat kukagumi. Jadi ya mau tak mau rasa ini harus bisa aku lawan. Aku harus ikutan meski dengan posting yang teramat singkat. Bisa !!!

***

Jujur, diantara sekian banyak cerita 3 yang ada di rumah kami, ada satu kisah 3 yang cetar membahana saat ini. Ya apa lagi kalau bukan 3 yang menyangkut aktivitas Abinya Hamas. Tak banyak yang bisa aku ceritakan tapi target untuk bisa meraih 3 besar di tahun 2014 bukan suatu angan-angan belaka, melainkan harus disertai dengan kerja-kerja nyata. Kerja cerdas tak hanya sebatas kerja keras semata. 

Maka untuk menguraikan kisah tersebut, agar terang benderang, aku ingin mewakilkannya dengan gambar berikut, semoga pada tahu ya dengan simbol ini :D Ya inilah 3 yang kusebut cetar membahana itu.


POSTINGAN PENUH RASA SYUKUR INI UNTUK MEMERIAHKAN SYUKURAN RAME-RAME MAMA CALVIN, LITTLE DIJA DAN ACACICU



 

Kamis, 28 Februari 2013

Indahnya Kebersamaan

Menemukan satu GA lagi yang bisa dijadikan ajang kembali semangat ngeblog. Sebenarnya ada banyak aktivitas kebersamaan yang terekam indah antara anak-anakku dengan Abinya. Baik yang langsung bertiga seperti yang penah ada di Edisi Mancing atau saat fose berdua saja. Ada kalanya Abi dan Yunda, atau saat Hamas dengan Abinya saja. Namun kali ini kupilihkan yang ini, semoga mampu 'bercerita' tentang indahnya kebersamaan antara anak-anakku dengan Abinya.


Masjid Aqobah, PUSRI. Ramadhan 1430 H pada 10 malam terakhir.

Ini tahun kedua kami berkomitmen memboyong anak-anak beritikaf di masjid pada 10 malam terakhir dibulan Ramadhan. Alhamdulillah sejak tahun 2008 atau Ramadhan 1429 H, saat usia Hamas sudah 4 tahun lebih kami mulai merutinkan untuk mengisi itikaf dengan kebersamaan. Dan syukurnya masjid Aqobah yang ada di Komplek PUSRI mampu memfasilitasi. Suasana yang nyaman, tempat wudhu dan pemandangan sekitar yang asri membuat anak-anak betah. Yunda yang hampir 6 tahun sudah full puasanya, jadi saat tengah hari (pukul 13.02 WIB) ketika rasa gerah dan haus menggoda, maka Abinyapun mengajak mereka main air di belakang masjid. Anak-anak pasti suka dong :) Foto diatas aku ambil dengan kamera Hp Nokia (lupa) jadul, asli tanpa pengeditan.

Postingan ini khusus : “untuk Ibu Fauzan, Mama Olive, Papanya Cintya – Agas”

Jumat, 15 Februari 2013

Narsis Artistik Tralala

Mencoba mendongkrak semangat ngeblog dengan ikutan acaranya Una, meski tak yakin masuk kategori. Tapi ya paling tidak sudah berusaha tak mengecewakan sang pembuat hajat, huuueeekkk... Meski belum bisa mengikuti irama, namun paling tidak bisa ber-tralala.

Dan langsung saja...

Narsis seperti yang dimakudkan Una, menurutku kalau diibaratkan sebagai makanan, ya narsis itu bisa dibilang tidak bisa atau lebih tepatnya tak cocok dijadikan sebagai menu utama. Terlebih makanan pokok. Tapi narsis ibarat makanan asing disebuah daerah yang sesekali bolehlah kita cicipi. Aplikasinya buatku, narsis jelas bukan nasi.

Narsis bisa jadi pizza, bubur manado, rujak cingur, tiwul atau spagetti. Artinya silakan sesekali mencicipi sensasi rasanya.Tapi ya nggak bisa dimakan tiap hari dung, apa kata dunia coba? Ibarat pizza kalau dimakan tiap hari ya nggak sehat juga kalee, kolesterol tinggi dan yang pasti kesehatan kantong bakal terancam.

Itu narsisnya. Nah kalau artistik? Asli ya, jangan libatkan aku, hehee...

So mari silakan bernarsis ria, memenuhi undangan Una, seperti diriku :D

Pantai Lalang, Manggar (dekat rumahnya Pak Yusril Iza).
Nekad ke pantai pakai baju dinas.

Antara Johor-Singapore. Bergaya sok ABeGe.

1. Pantai Tanjong Tinggi, Belitong. Lepas menyambut senja yang luruh (lebay).
2. Pantai Bukit Berahu, Belitong. Menikamati senja dalam keheningan (sok imoet).



"Postingan ini diikutsertakan di Narsisis-Artistik Giveaway."


*berusaha menampilkan foto-foto yang perdana ditayangkan.

Minggu, 20 Januari 2013

Give Away I Love Mimi

Buat Mimi Arie Sayang;
Semoga rahmat dan karunia-Nya selalu tercurah untukmu
Semoga barokah umurmu :D

Terimalah Persembahan Spesial dari kami...

Salam hangat dari Wong Kito Galo :D

Mimi Arie kami mencintaimu karena-Nya semata
Meski kita belum pernah bersua raga
Harapan kami, suatu hari kelak ada kesempatan kita berjumpa
Bukankah Jambi dengan Palembang bertetangga


Giveaway I Love Mimi

Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway I Love Mimi

Senin, 14 Januari 2013

Giveaway Senangnya Hatiku: Saat Bertugas

Sebuah pengalaman yang sebenarnya sudah sering aku ceritakan di blog ini. Sudah berseri bahkan, tapi jujur aku tak pernah bosan untuk mengulangnya, mengambil sisi lain disetiap jengkal kenangan tersebut. Saat dimana pada musim haji tahun 1431 H atau bertepatan dengan tahun 2010 yang lalu aku diizinkan Allah menginjakkan kaki di dua tanah haram, dan bisa menunaikan rukun islam kelima, walaupun bukan sebagai jama'ah biasa. Karena aku diberi kesempatan naik haji gratis, tanpa bayar dan tak perlu mengantri. Pada tahun yang sama untuk bisa berangkat haji seseorang harus sudah mengantri paling tidak sejak dua tahun yang lalu, adapun sekarang antrian calon jama'ah haji khususnya Sumatera Selatan sudah sampai 2023, sepuluh tahun lagi. Dan saat itu akupun mendapat uang honor dari tugas yang dijalankan. Yang jumlahnya lumayan, kalau dibelikan motor bebek merk ternama uangnya masih ada kembalian. Nah kenapa ujung-ujungnya ngomongin duit yak? Ini imbas rasa senang dihati. Pokoknya Subhanallah dech, syukur Alhamdulillah...
 
Alkisah, aku berangkat sebagai Petugas Kesehatan Haji Indonesi, tepatnya sebagai dokter kloter 31 JKG. Tugasku saat itu adalah sebagai koordinator kesehatan kloter yang harus mengurusi 450 orang jama'ah dan didampingi oleh 2 paramedis yang lain. Bayangkan kami bertiga harus mengurusi begitu banyak orang. Berat rasanya, tapi karena aku yakin bahwa ini adalah tugas mulia maka aku tetap bersemangat. Apalagi menjadi dokter kloter atau sering juga disebut TKHI (tim kesehatan haji Indonesia) adalah impianku sejak zaman kuliah dulu. Namun karena saat tamat aku sudah menikah dan sulungku masih batita maka keinginan tersebut hanya aku pendam. Anak kedua lahir tak sampai dua tahun kemudian, dan dengan komitmenku untuk tetap memberikan ASI sampai umur 2 tahun, maka niatan untuk ikut seleksi TKHI belum juga bisa kuwujudkan. Tahun berikutnya saat ananda belum disapih, suami masih berat mengeluarkan izin. Maka tiba masanya Hamas berumur 5 tahun, barulah suami berkenan memberiku izin, lama ya, tapi justru izin suamilah kata kuncinya, maklum masa tugasnya 40 hari.

Awalnya memang suamiku berat melepasku berangkat sendiri ke sebuah Negeri yang jauh dalam waktu yang lama, tapi aku berhasil meyakinkan. Sumber kekhawatirannya adalah karena aku punya penyakit ashtma, sedangkan tugas selama disana terkategori berat dan cuaca yang sangat ekstrim. Panas dan dingin yang berbeda dari Indonesia. Alasan yang masuk akal bukan? Aku sebenarnya juga tak kalah cemas, tapi aku mengantisipasi semuanya dengan persiapan yang matang. Ibarat mau perang, amunisiku harus yang terbaik dan juga harus menguasai medan. Olahraga teratur, bawa habattussauda, spirulina dan kopi Radix untuk menjaga stamina selama disana. Sedangkan untuk berjaga-jaga aku tetap membawa inhaler, obat ashtma pamungkas yang disemprotkan bila terjadi serangan. Dan alhamdulillah selama disana, kesehatanku justru paripurna. Jangankan ashtma, batuk filekpun tak kebagian, bukannya aku termasuk golongan onta atau tiang listrik lho, secara katanya semua jama'ah haji pasti mengalami batuk filek, kecuali onta dan tiang listrik, hiiii... Tapi sungguh, para jama'ahpun banyak yang heran, kenapa aku tak kena batuk filek seperti kebanyakan mereka, bahkan ada yang sampai berulang kali. Ini bisa jadi karena banyak yang mendo'akanku dan yang pasti karena Allah sudah menunjukkan Maha Kuasanya.
  
Dan seperti yang kita ketahui haji itu adalah satu bentuk ibadah fisik. Artinya semua rangkaian ibadah selama di sana sangat mengandalkan kesehatan dan kebugaran jasmani. Saat berangkat sebagai petugas tanggung jawabku adalah membantu para jama'ah untuk tetap sehat saat menjelang, puncak haji dan sampai kepulangannya. Sebuah kebahagian yang luar biasa bila kita bisa mendampingi para jama'ah melaksanakan ibadahnya dengan maksimal karena ditunjang oleh kesehatan yang baik. Karena tak semua jama'ah haji Indonesia dapat sukses menjalankan semua rangkaian ibadah selama disana, paling mereka hanya mampu berada pada zona aman. Artinya berada pada kondisi hanya bisa ikut ibadah wajibnya saja. Padahal berapa banyak biaya yang sudah dikeluarkan untuk berangkat, mencapai > 30 juta. Mau tahu penyebabnya? Umumnya ini karena kondisi kesehatan mereka yang tidak memungkinkan, sudah banyak yang lanjut usia. Jadi untuk tawaf keliling ka'bah 7 kali saja, mereka harus naik kursi roda, butuh biaya lagi. Apalagi sya'i bolak-balik Syafa ke Marwa, banyak yang tak kuat lagi. Ditambah daya ingat para lanjut usia sudah semakin menurun, akibatnya sering nyasar dan banyak lupa tuntunan ibadah haji. Och sungguh disayangkan.
 
Setiap tahunnya jumlah calon jama'ah haji Indonesia akan terus bertambah, seiring dengan kesadaran beragama yang makin baik juga tingkat ekonomi yang semakin sejahtera. Tapi yang justru memprihatinkan, jumlah yang makin banyak itu tidak dibarengi dengan mutu yang makin baik pula. Sedih bila melihatnya, banyak jama'ah haji kita yang hanya sibuk belanja. Kalau ditanya mengapa tak sholat ke Masjid Haram, alasannya kurang enak badan. Tapi kalau belanja oleh-oleh bisa dari pagi sampai malam, enak-enak saja itu badannya. Belum lagi banyak yang rajin mengeluh. Cuaca panas dikeluhkan, antri kamar mandi mengeluh, makanan tak sesedap di Indonesia bisa jadi bahan keluhan berkepanjangan. Kasiankan, jadi hilang rasa syukurnya.

Terlebih pada puncak haji saat fase wukuf di Arafah, Musdhalifah dan mabid 3-4 hari di Mina. Totalnya hanya 5 hari saja pelaksanaan ibadah wajib. Secara lebih jelas pernah kuceritakan disini. Sedangkan sisa waktunya untuk serangkaian ibadah sunnah yang memang sangat menggiurkan pahalanya. Coba renungkan, satu kali sholat wajib di Masjidil Haram, Mekkah sama dengan 10.000 sholat dimasjid biasa. Sedangkan untuk sholat di Masjid Nabawi, Madinah itu setara 1.000 kali. Sebuah keutamaan yang tak selayaknya dilewatkan. Maka bila suatu saat kita berangkat haji, usahakan saat masih muda, agar selama disana bisa optimal beribadahnya bahkan bisa menolong orang lain. Biasanya jama'ah yang masih muda akan lebih banyak melakukan ibadah-ibadah sunnah selama disana karena fisiknya lebih bugar dan kesehatan badannya lebih terjaga.   

Tapi tidak semuanya begitu, banyak juga jama'ah haji yang tetap semangat dalam beribadah selama disana. Sering sulit sekali ketemu mereka di Maktab karena dari sebelum subuh sampai setelah Isya beribadah di Masjidil Haram. Ya, saat di Mekkah kami mendapat Maktab yang jaraknya sekitar 2 Km, jadi tanggung memang kalau mau bolak-balik. Ada juga angkutan, tapikan mesti tambah ongkos, belum lagi cuaca yang memang jauh lebih panas dibanding di Indonesia. Jadi memang kalau aku selaku jama'ah yang leluasa beribadah sunnah, pasti juga memilih banyak-banyak berada di Masjidil Haram, menggunakan aji mumpung, mumpung di Mekkah, kapan lagi. Namun aku sadar, kondisiku berbeda, bila ingin ke Masjidil Haram harus lihat situasi dan kondisi kesehatan para jama'ah dulu, kalau aman baru bisa berangkat. Dan itupun harus gantian dengan petugas yang lain. Namanya petugas, berada di sana adalah dalam rangka tugas, mendampingi para jama'ah haji. Setiap hari selama di Mekkah bisa ke Masjidil Haram pada satu waktu sholat saja sudah bersyukur. Itupun dalam kondisi yang sangat beragam, ada yang mengambil waktu subuh, berangaktnya tengah malam, sekitar jam 2. Atau pada waktu dhuha sampai dzuhur. Biasanya aku pergi bersama dengan rombongan jama'ah yang lain. Kadang lihat mereka jalan bareng suami atau orangtuanya, aku suka sedih sendiri. Tapi aku yakin suatu hari aku akan datang lagi kesana, tidak sendiri lagi dan bukan sebagai petugas. Do'akan ya...

Dan bila berkisah tentang Madinah, membuatku banyak merenung tentang peristiwa hijrah. Ternyata jarak antara Mekkah ke Madinah itu jauh. Kalau naik bus sekitar 7-8 jam perjalanan. Selama dalam perjalanan menuju ke Madinah, aku merasakan suasana yang mengharu biru. Membayangkan sosok Nabi Muhammad yang Agung bersama para sahabat saat peristiwa hijrah, mereka hanya berjalan kaki, sebagian dengan naik onta. Sejauh mata memandang hanya gurun pasir dan batu cadas, panas terik sangat menyengat. Apalagi mereka harus berangkat dibawah kejaran kaum kafir Quraysi, sungguh peristiwa yang luar biasa. Dan aku selalu terkesima kalau mendengar atau membaca cerita hijrah. Sangat fenomenal. Wajarlah bila dianggap sebagai tonggak babak baru dakwah Nabi. 
 
Maka saat kloter kami sampai di Madinah, aku sungguh kagum dan terpesona. Begitu damai. Kota yang bersih, tertib dan sangat bersahaja. Aku langsung jatuh hati. Rasa segera ingin beristirahatpun hilang, dikalahkan oleh hasrat untuk berziarah ke makan manusia paling mulia, Nabi Akhir zaman. Makam Nabi Muhammad, SAW tersebut terletak di salah satu sudut masjid Nabawi. Didukung dengan jarak antara Maktab dengan masjid Nabawi hanya 200 m saja. Kubah masjid bahkan terlihat jelas dari Maktab kami, suara adzanpun terdengar keras. Pokoknya semua jama'ah kloter kami langsung sehat sampai di Madinah. Bukan berarti tak ada jama'ah yang sakit. Ada, tapi tak banyak, rata-rata aman terkendali. Ada satu jama'ah kloterku yang sejak awal datang ke Madinah sampai menjelang pulang ke tanah air harus rawat inap di BPHI karena ashtmanya anfal dan paru-parunya gagal mengembang sehingga selalu perlu dipasang oksigen. Hal ini dipicu juga oleh cuaca dingin di Madinah saat itu yang mencapai 6 derajat Celsius, dingin menusuk sampai ke tulang. Aku yang juga ashtma sangat bersyukur bisa bertahan dicuaca yang sangat dingin itu.

Bersama Nenek Halimah, seorang jama'ah yang berumur 80 tahun,
yang rajin menyambangiku ke Posko Kesehatan. 
Jama'ah tertua dikloterku adalah Nenek Zahro, 90 tahun, sudah lumpuh dan pikun, berangkat bersama anak dan menantunya.

Bersama dua Nini yang selalu semangat ke Nabawi, Nenek Jamilah dan Nyai Masayu.
Jangan tanya umurnya ya karena aku lupa mencatat :D


Berada di Madinah hanya 8 hari, semuanya untuk serangkaian ibadah sunnah. Ziarah ke makam Nabi, ke Raudhah dan sholat wajib selama 40 waktu di Masjid Nabawi (ini yang dikenal dengan sebutan sholat Arbain). Entah karena senang hampir pulang ke tanah air, atau senang karena leluasa bisa ke Masjid Nabawi tampa khawatir tersesat, umumnya jama'ah kloterku jadi sehat dan segar. Mereka bahkan bersemangat bisa ikut sholat Arbain di Masjid Nabawi. Aku juga luar biasa bahagianya, karena semua jama'ah sehat artinya aku bisa leluasa selama di Madinah. Mana lagi memang managemant penanganan jama'ah yang sakit sangat berbeda dengan di Mekkah. Kalau ada jama'ah kloter yang perlu diinfus, maka aku harus langsung merujuknya ke Sektor, dari sanapun biasanya langsung dibawa ke BPHI (Balai Pengobatan Haji Indonesia). Rangkaian kemudahan dari Allah yang sangat aku syukuri. Akupun puas berpetualang di Madinah. Ke Raudhah, ikut shalat Arbain, kepasar kurma, pokoknya puncak bahagianya aku adalah saat berada di Madinah ini. 

Sejujurnya saat bertugas sebagai dokter kloter inilah yang paling membuat hatiku senang, sepanjang sejarah menjalani tugas keprofesian ini. Dan akhirnya berangkat dari pengalamanku bertugas ini, sepenuh hati aku menghimbau kepada semua sahabat blogger agar meniatkan diri untuk bisa berangkat haji selagi masih muda. Selanjutnya usahakan segera mendaftar sesegera mungkin sesuai dengan kemampuan. Jangan menunggu ada kelebihan rezky baru mendaftar, tapi sebaliknya dengan mendaftar haji, Insya Allah akan diberikan keluasan rezky. Karena tugas kita adalah menjalankan serangkaian proses memantaskan diri untuk menjadi tamu-Nya di Baitullah. Sempurnakan do'a-do'a kita untuk menuju kesana. Soal giliran tahun berapa kita akan berangkat haji, serahkan hanya pada-Nya.


ga amazzet
Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway Senangnya Hatiku.

Rabu, 07 November 2012

Kail bukan Koin

Berbagi dengan Yatim adalah sebuah keutamaan, menyayangi mereka sudah dicontohkan langsung Sang Junjungan. Jadi tak ada keraguan lagi tentangnya. Jangan tanya, seberapa besar berkahnya atau sebesar apa ganjaran pahalanya. Semua biarlah tetap haknya Sang Maha Tahu untuk menilainya.

Dulu semasa kecilku di Blambangan Umpu, sebuah Kampung yang sekarang sudah menjadi Kabupaten, aku tak pernah melihat ada plank Yayasan atau Rumah Yatim Piatu. Bukan berarti tak ada anak yatim di sana. Anak-anak yatim masih hidup dalam naungan keluarga yang bertalian darah langung di rumah-rumah mereka. Alhamdulillah dalam kondisi yang pantas dan terpelihara kehormatannya. Tercukupi sandang pangan dan masih terus bersekolah. Bahkan ada diantara anak yatim yang aku kenal mereka hidup berkecukupan dari harta warisan almarhum Ayah mereka. Itu dulu. 

Sekarangpun, saat sudah lama aku merantau alhamdulillah keadaan ini masih terus berlanjut. Tak ada anak yatim yang terlantar disana. Berbeda sekali dengan yang aku temukan di Palembang, kota tercinta tempat kami menetap sekarang ini. Panti Asuhan hampir ada disetiap sudut kota. Di daerah kami tinggal contohnya, ada sekitar 5 Panti Asuhan yang kerap aku lihat disepanjang jalan dari Km 5 sampai Pakjo. Ragam bentuk apresiasi sosial bagi yang ingin peduli tentu bisa disalurkan ke Panti Asuhan ini. Tak ada celaku buat semua Panti Asuhan yang ada. Hanya saja bila ditanya seberapa sering aku mengajak anak-anak ke Panti Asuhan A? Atau lebih suka ke Panti Asuhan B atau C? Pernahkah ke Panti Asuhan D, aku butuh waktu yang cukup panjang untuk menjelaskan jawabanku.

Panti Asuhan di daerah rumahku, ada yang sangat pesat tumbuh kembangnya, dalam banyak hal. Yang paling terlihat adalah perubahan dalam bangunan fisiknya, awalnya ngontrak kini sudah punya gedung sendiri, permanent, bertingkat dan lumayan megah. Tak ada maksudku meragukanya, selain aku ingin katakan bahwa menurut hematku kami sebagai tetangga dekat 'sekelurahan' tak harus lagi mendahulukan Panti Asuhan itu untuk berbagi bukan? Sebab paling tidak, sudah banyak para donatur yang mempercayakan dana mereka pada Panti Asuhan tersebut.

Jadi saat ini, bila ingin berbagi atau mengadakan moment yang melibatkan Panti Asuhan, aku memilih mengadakan koordinasi dengan Komunitas Peduli Anak Yatim, memang ada beberapa orang pengurusnya yang aku kenal. Sehingga aku leluasa menanyakan Panti Asuhan mana yang masih 'minus'. Bukan dalam artian berpikiran negatif, tapi lebih kepada menentukan prioritas sebab terkadan dana yang ingin disalurkan jumlahnya tak seberapa.

Bersama KPAY Palembang, http://www.facebook.com/groups/kpay.palembang/
Ramadhan bersama Yatim,
dibawah koordinasi Komunitas Peduli Anak Yatim.

Dan dari dana yang tidak seberapa tersebut, bila bisa memilih aku sebisanya memilih untuk keperluan para yatim bersekolah atau memulai usaha. Karena aku yakin betul, bahwa banyak anak yatim yang memang berpotensi menjadi pemimpin dimasa depan. Mereka yang sangat antusias menutut ilmu, tapi belum banyak beasiswa khusus anak yatim yang bisa mereka raih.

Bukan berarti aku ingin katakan bahwa masalah pangan sandang mereka tak penting, tapi lebih banyak orang sekitarku yang sudah berbagi dari sisi ini. Misal, kalau ada baju layak pakai yang kekecilan banyak yang sudah bersedia menyalurkannya ke Panti Asuhan daripada menyimpannya di lemari. Kalau ada perayaan ulang tahun atau syukuran, sudah mulai terbuka mereka mengundang anak yatim untuk makan bersama.

Dan untuk hal ini, aku pujikan sebuah program yang aku ketahui sudah intens dilakukan oleh Yayasan Yatim Mandiri untu membangun sebuah sekolah unggulan bagi para yatim. Sekolah yang kelak aku yakin bisa melahirkan pemimpin berkwalitas. Saat ini sekolah tersebut dalam tahap pembangunan. Setiap tahapan dilaporkan dengan begitu lengkap. Aku suka cara Yayasan Yatim Mandiri menyapaikan lewat majalah bulanannya. Semoga tahun ajaran depan sekolah itu sudah beroprasi. Aku mengenal Yayasan Yatim Mandiri sejak bulan April 2012 lalu, saat mana aku baru pindah ke kantor yang sekarang.

Terpikat aku pada program-program Yayasan Yatim Mandiri, sungguh aku jatuh hati. Sebab satu hal yang aku yakini, meski yatim keadaan mereka sekarang harus membuat mereka prihatin, tapi semoga kedepan mereka bisa menjadi pribadi-pribadi yang mandiri. Bisa berdaya guna untuk orang banyak. Dan kita punya peran yang teramat besar untuk itu. Dengan banyak cara yang kita bisa. Namun satu hal yang ingin aku ingatkan, sebisa mungkin biasakan memberi mereka kail bukan koin. Kail yang bisa mereka gunakan untuk mencari koin-koin emas dimasa depan.

Mungkin terkesan menggurui, maafkan, tapi yakinlah bila koin yang biasa kita berikan pada para yatim maka itu tak akan banyak menolong mereka. Kecuali bila koin itu mereka belikan kail, artinya kita yang harus tetap mendampingi mereka, mengarahkannya dengan penuh cinta seperti yang sudah dilakukan saudara kita di Yatim Mandiri.

Semoga dengan kasih sayang pada saudara yatim, bisa membuat hati kita menjadi lembut dan kebutuhan kita bisa tercukupi. Ini bukan cerita isapan jempol semata karena hadist Nabi yang sudah menyatakan demikian. Sebuah janji-Nya yang tak perlu kita ragukan lagi.

 Cerita ini diikutsertakan pada Gaveaway: Cinta untuk Anak Yatim

Jumat, 31 Agustus 2012

Pesona Batik Palembang

Sebenarnya cerita tentang kecintaan sekaligus kebanggaan kami sekeluarga pada Batik Palembang yang mulai bangkit dengan warna dan motif nan memikat bukanlah hal baru. Sebab semuanya pernah kukupas tuntas  di Geliat Batik Palembang dalam rangka lomba blog yang bertema Batik Indonesia. Meski belum menang, tapi aku bersyukur bisa memperkenalkan khasanah Batik Palembang. Bahkan ada seorang yang mengajakku berkenalan secara khusus untuk pemesanan Batik Lasem, salah satu jenis Batik khas Palembang, walau belum tuntas bentuk kerjasama kami karena beberapa kendala. Do'akan lancar ya... 

Kali ini aku sengaja kusajikan foto-foto kami sekeluarga yang kuharap bisa mewakili, dimana Batik Palembang sangat layak dipakai semua umur dan bisa dalam suasana apa saja.


Semoga foto-foto ini membuat makin banyak orang berminat mengenal dan selanjutnya berburu Batik Palembang yang memikat :)

Lebih dari itu, pajangan koleksi foto (sok) narsis ini kupamerkan untuk meramaikan acara
 Giveaway Catatan Akhir Pekan dengan Tema Aku Cinta Batik Indonesia.


Rabu, 29 Agustus 2012

Memasak itu Menyehatkan

Terlahir dari seorang Ibu yang ahli masak, tidak lantas membuatku juga pandai memasak. Ya iya lah, karena memasak itu bukan kemampuan yang bisa diwariskan :) Aku contohnya. Meski ahli masak, Mamaku belum sempat menurunkan keahliannya saat aku mulai merantau setamat SD dulu. Jadilah aku termasuk yang gelagapan walau hanya disuruh menggoreng telur atau sekedar memasak mie instant. Bersyukurnya aku, tempat 'penitipan' pertamaku dulu sebuah Asrama Putri yang menyediakan makan 3x sehari, mengambilnyapun harus antri dan sudah ada jatahnya. Persis suasana Pesantren yang pernah kulihat. 

Singkat cerita sampai SMA tak ada kemajuan dalam kemampuan memasakku, akupun jadi yang tak tertarik untuk belajar seputar masak-memasak. Nanti saja, kalau saatnya tiba, batinku sok yakin. Masuk kuliah, aku kost dengan kawan-kawan yang lebih senang mengolah makanan mentah di dapur mungil kami ketimbang beli nasi bungkus di Warteg. Memasaknyapun bersama-sama, jadi  asli seru. Aku ya senang saja, selain keuangan jadi lebih irit, kebersihan dan kesehatannyapun tak diragukan. Walau soal rasa tak usah ditanya, disedap-sedapkan saja :P Apalagi bila disantap bersama, berkahnya mengalahkan rasa. Dan itu artinya,  ada sekelumit ceritaku untuk berkenalan dengan dunia masak-memasak saat kuliah. Sayangnya hanya sekelumit yang tak begitu bermakna.

Selanjutnya saat dipenghujung masa kuliah, ada seseorang yang melamarku untuk dijadikan istri *catat, istri lho ya, bukan tukang masak... Ya aku terima *atas izin kedua orangtuaku tentunya. Karena aku tahu, tak dibenarkan menolak lamaran hanya karena alasan tak pandai memasak bukan? Maka yang sebaiknya kulakukan (kelak) adalah memantaskan diri belajar memasak demi memanjakan lidah orang yang sudah memilihku menjadi pendamping hidupnya, cieee... Niat awalnya begitu, teramat mulia. Tapi ternyata, aktivitas perkuliahanku sangat tidak mengizinkan, jadilah kami sering menyantap makanan yang kami beli di Warteg. Sesekali memasak saat di rumah Ibu (mertuaku), tepatnya sebatas jadi pemerhati dan pengamat sejati. Ibu mertuaku orang Palembang asli, punya gelar Nyayu malah, hobby dan memang pintar memasak, juga rajin membuat panganan khas Palembang untuk keluarga. Banyak ilmu memasak yang aku sadap dari beliau.

Setamat kuliah, saat sulungku berusia > 6 bulan dan waktunya diberikan makanan pendamping ASI, sebagai Ibu yang ingin memberikan asupan bergizi pada ananda. Maka mau tak mau aku (wajib) rajin turun ke dapur, sebatas membuatkannya nasi tim. Belajar variasi aneka makanan bayi, lewat buku-buku resep, yang tujuan utamanya membebaskan ananda dari MPASI instant yang sekarang banyak tersedia dipasaran. Dan saat Yunda berumur 1 tahun, masa dimana ia bebas makan makanan yang sama dengan kami para orang dewasa, aku baru bergiat belajar memasak. Walau penerapannya belum rutin, karena setamat kuliah aku balik lagi tinggal bersama orangtuaku di Way Kanan, Lampung.

Baru saat tinggal di rumah sendiri sekitar tahun 2007 akhir, niatku untuk rajin memasak kesampaian. Belajar masak lebih giat dari sebelumnya. Tapi bergiat atau rajin belajar memasak tidak serta merta membuatku ahli memasak, sering juga gagal total. Masak ager saja kadang kebanyakan air. Buat Cah Kangkung, warnanya jadi hitam tak menarik, kadang bingung sendiri aku. Perasaan petunjuk dari buku resep sudah aku ikuti satu-satu, tapi kok masih aneh juga rasanya. Tak bosan mencoba dan tak malu bertanya. Itu kata kunci yang aku pakai dalam belajar memasak. Akhirnya satu hal yang aku catat, bahwa justru karena terlalu open book, masakanku jadi kurang mantap.

Dulu, kadang (sering malah) aku jadi bahan tertawaan Ibu-ibu bidan di Puskesmas gara-gara bertanya berapa gram gulanya untuk membuat Cake Pisang. Kata mereka, ndak usah ditimbang, pakai takaran gelas atau sendok saja, atau dikira-kira saja. Akupun nyengir. Adik ketigaku yang lulusan Akademi Gizi, adalah salah satu 'guru' yang kerap kutelfon kalau sedang mentok mencoba resep. "Buat puding aja ribetnya Yuk", celetuknya suatu ketika. Tapi ya itulah diriku beberapa tahun lalu, saat umur sudah menginjak kepala tiga. Memang perkara umur juga bukan patokan seseorang jadi piawai memasak.

Akupun terus belajar. Gemes juga sich kalau hasilnya hancur tak sesuai yang kubayangkan, tapi tidak membuatku kapok, apalagi mundur. Justru karena semuanya tak  pernah membuatku kapok dalam berkarya, mengolah aneka masakan favorite keluarga, kini aku bisa merasakan sensasinya memasak sendiri bahkan untuk makanan yang kata banyak orang "Kenapa mesti repot, tinggak beli aja, murah kok harganya, sebentar juga dapat". Dan cerita ini setelah melewati waktu bertahun-tahun dalam berproses, bahkan hampir menyamai usia pernikahanku yang menginjak tahun kesebelas.

Dan kini saat anak-anakku SD, aku makin keranjingan masak. Sekedar mampu menyiapkan bekal untuk mereka bawa ke Sekolah saja sudah membuatku luar biasa bangga. Menyusun variasi menu yang spesial *menurutku lho ya... buat keluarga menjadi sebuah tantangan tersendiri buatku.


Penampakan bekal sekolahnya Yunda.
Belum lagi membuat cemilan yang mudah, murah lagi sehat sangatlah kusenangi. Sebut saja kue Srikaya, aku lebih suka buat sendiri ketimbang beli, meski kalau beli juga enak dan murah.  Kalau buat, telurnya aku bisa pakai telur bebek, Hamas, putraku kadang alergi telur ayam. Cetakannyapun aku pakai porselen, kalau beli jadi, cetakannya pakai plastik. Resep pembuatan Srikaya ini pernah kubagi disini, saat Ramadhan lalu.

Bebas pewarna, kuning telur bebeknya khas.
Donat Kentang dengan resep kolosal (kuno alias asal) pernah kupertunjukkan di blog kesayanganku ini. Walau penampilannya tak begitu meyakinkan tapi kata anak-anakku, lebih enak dari si DD yang terkenal itu :lol: Meski saat membuatnya lama dan berpeluh ria,  tak seimbang pula dengan waktu untuk menghabiskannya, tapi sungguh, melihat binar mata anak-anakku saat menyantap hasil olahanku sungguh membuat hatiku berbunga-bunga, bahagia. Orang yang bahagia otomatis sehat kan ya, jadilah ini point pertama yang membuktikan pernyataanku, bahwa memasak itu menyehatkan.

Donat Kentang hasil kreasiku.
Demikian juga Somay Labu, pernah kupertontonkan disini. Bahkan aku sudah cukup PeDe membuat untuk skala yang lebih besar, yang menghadirkan orang belasan, saat itu ada acara pengajian.

Somay Labu ala dapurku.
Pokoknya tampil, soal rasa jangan ditanya, pasti memuaskan :oops: Ini juga menurutku lho ya, jadi please jangan terlalu percaya, hehe... 

Boleh sekalian diperiksa ulasan sederhanaku tentang membuat JASUKE (Jagung Susu Keju) yang bikin anak-anakku jera beli jadi, mending masak sendiri kata mereka, muraaaahh. Belum lagi menghias bekal sekolah anak-anak jadi lebih hebat setelah tahu istilah ONIGIRI dari buku resep hadiah GIVEAWAY: PRIBADI MANDIRISemuanya melengkapi cerita memasakku yang makin cemerlang *lagi-lagi menurutku lho ya...

Terus, dengan segala ceritaku memasak saat ini, terkategori ahli memasakkah aku? Tergantung dari sudut pandang mana kita menilainya. Ahli kalau dibandingkan aku belasan tahun yang lalu. Namun yang jelas aku belum PeDe lah kalau harus ikut bertarung di laga ala Master Chef Indonesia seperti di TV-TV itu. Jauuuuuuhhhh... Nach kalau sekarang aku berani tambil ikut lomba masak lewat tulisan itu sangat spektakuler dong *padahal mach PeDe gini karena rasanya tak akan dicicipi, ditambah hadiahnya itu lho yang bikin mupeng, pizzzttt, hiiihiiii...

Tapi paling tidak, sekarang aku bisa lebih selektif lagi memilih makanan yang bebas pengawet, pewarna dan perasa buatan yang efek samping sudah sering menghebohkan itu. Sebab saat ini di Negeriku Indonesia tercinta yang mayoritas muslim ini, mendapatkan makanan yang HALAL itu lumrah namun makanan yang TOYYIB itu butuh perjuangan. Meski dari beberapa yang pernah kudengar dari pemberitaan ada juga pedagang nakal yang tega menipu konsumen dengan menyatakan HALAL tapi ternyata sebaliknya. Semoga ini hanya ulah segelintir orang dan itupun segera bertobat.

Adapun tentang makanan yang TOYYIB, sejauh ini aku meyakini lebih aman bila makanan itu kita masak dan olah sendiri. Misalnya saja kisah Pempek CS (olahan serba ikan) khas Palembang, di beberkan pada beberapa acara TV banyak dicampur bahan pengawet berbahaya sejenis formalin, atau Cukanya yang diberi semacam arak agar awet dan terasa enak, jujur sebenarnya sebelum liputan itu gempar, di Kantorku BTKL pernah mengadakan uji laboratorium dan terbukti banyak pedagang nakal yang lupa pada pentingnya sebuah keberkahan dalam mengais rizky.

Maka sementara ini, untuk melakukan pengamanan atau bahasa kerennya penyehatan pangan keluarga, mau tak mau aku (seolah) dituntut untuk lebih rajin lagi membuat makanan khas Palembang yang sangat digemari oleh penghuni rumah, terutama suamiku, yang sejak kecil memang lidahnya sudah dimanjakan dengan ragam makanan olahan serba ikan tersebut. Akupun mengunakan jurus "tak bosan mencoba dan tak malu bertanya", sebuah kata kunciku yang selalu kupakai dalam memasak.

Ternyata sangat mujarab. Saat ini membuat cuka sendiri aku sudah bisa sampai pada derajat pas banget *Hhayooo menurut siapa?
Mengolah Cuka.
Cuko kalau bahasa Palembangnya.

Pempek? Awalnya memang sering kekerasan, atau seperti ada yang kurang. Tapi sekarang ragam pempek sudah sering aku cobakan dan tak kalah dengan yang ada dipasaran. Dijamin bebas pengawet dan bahan kimia berbahaya lainnya, otomatis lebih sehat untuk dikonsumsi. Lezat dimulut dan sehat diperut *ini istilahnya siapa yak?

Dan jangan ragukan soal harga, karena dengan harga Rp. 70.000,- misalnya kita hanya akan mendapat 5 pempek lenjer yang terkategori lezat, cukuplah untuk paket oleh-oleh satu keluarga. Kalau membuat sendiri, dengan dana Rp. 70.000,- itu bisa untuk oleh-oleh 3 keluarga. Belum lagi kalau cerita tentang si gurih Pempek Kulit yang satuannya sekarang bisa mencapai Rp. 2.500,- maka dengan dana Rp. 50.000,- hanya cukup untuk sekeluarga saja. Berbeda bila kita membuat sendiri dengan dana yang sama kita bisa mengantar tetangga kiri kanan, lebih terasa berkahnya.  Itu artinya memasak sendiri selain menyehatkan perut juga bisa menyehatkan kantong. Lebaran kemarin aku sudah membuktikannya. Untuk pertama kalinya aku membuat Pempek Kulit, dan langsung berhasil, buktinya tak ada yang protes atau mengeluh sakit perut setelah menyantapnya. Dan yang tak kalah penting, ternyata tak sesulit yang aku bayangkan selama ini *info tak penting, jadi malu...

Ini penampakan Pempek Kulitku,
 Sudah seperti di Resto atau Cafe?
 Model khas Palembang, buatnya bareng Cik Yun :D
Belum lagi cerita memasak makanan khas Palembang lainnya, seperti Mie Celor, atau kembarannya Mie Kobak khas Bangka, aku juga sudah bisa membuatnya *bangga lagi... 

Ini namanya Mie Kobak,
adapun Mie Celor baru beberapa hari lalu aku cerita disini.

Ragam pindang juga aku sudah bisa. Rasanya? Boleh, kapan-kapan silakan mencicipi kalau kebenaran datang ke Palembang. Lalu apa aku sudah bisa membuat semua jenis masakan khas Palembang? Sebenarnya bisa *gaya sok PeDe... tapi banyak yang belum pernah aku coba, sebut saja Celimpungan, Laksan, Burgo, Martabak HAR, Laksa, semuanya belum pernah aku buat sendiri, baru sebatas melihat Cik Yun (adik Ibuku) membuatnya pada moment-moment kumpul keluarga, entah itu arisan keluarga, syukuran atau saat ada keluarga yang datang dari jauh.

Yang jelas, kesimpulanku makin mantap, dengan membuat sendiri makanan tersebut, kesehatannya jauh lebih terjamin. Aman dari bahan kimia berbahaya dan jadi lebih hemat bahkan bisa sampai 100 %. Sehat di perut juga sehat di kantong. Akan terbukti bila kita sudah mencobanya sendiri, tak mesti menjadi ahli gizi untuk menyehatkan keluarga kita. Satu lagi, meski kemampuan memasak itu tak bisa diturunkan, tapi karena memasak itu sebenarnya keterampilan, makin sering dilatih maka makin terampillah kita memasak. Betul? Cobalah!


Tulisan ini diikutsertakan dalam "GiveAway Nyam Nyam Enny Mamito"

Rabu, 25 Juli 2012

Giveaway Azzet: Makin Sehat dengan Ngeblog


Ngeblog banyak manfaatnya, itu pasti, sudah banyak yang mengakuinya. Bagaimana tidak, dengan ngeblog kita bisa saling berbagi cerita. Baik pengalaman, cita-cita dan mimpi, juga curhatan. Dengan aktif ngeblog kita juga bisa saling mengenal, menambah sahabat yang menghangatkan hati. Ada beragam acara yang diadakan sahabat maya diblognya, unik, seru dan tentu saja banyak hadiahnya *kalau menang atau beruntung. Alhamdulillah aku sudah merasakan sensai saat dapat bingkisan ataupun award dari para blogger. Yang selalu kuingat, jangan jadikan hadiah sebagai tujuan utama saat ngeblog. Pokoknya ngeblog saja dengan bahagia, itu yang membuat hati kita secerah mentari dan hari kita berwarna pelangi. Tak percaya? Buktikan sendiri  :D


Tapi jangan salah, ada juga lho yang setelah ngeblog jadi bete, kurang tidur, kerjaan terbengkalai, silaturahim ke tetangga di dunia nyata jadi langka. Dan ada beberapa keluhan lainnya yang masih dalam batas kewajaran sich sebenarnya, misal mata lelah atau berair. Maka untuk kondisi yang seperti ini, aku sarankan kegiatan ngeblognya dievaluasi lagi, ditinjau ulang sejenak. Mungkin ada yang kurang pas. Sebab sejatinya ngeblog itu justru bisa membuat kita makin sehat, asal benar cara pemanfaatan ngeblognya.

Maka menurutku yang baru ngeblog sejak akhir Mei 2010, tapi baru terlibat aktivitas BW sejak April 2011 ini sesungguhnya ngeblog itu adalah sarana efektif bagi kita agar makin sehat. Asalkan memperhatikan keseimbangan 3 potensi dasa yang kita miliki. Apa sajakah ketiga potensi dasar tersebut?


Potensi Fisik
Secara umum fisik kita perlu makanan seimbang juga minuman yang sehat. Maka saat ngeblog agar makin sehat kitapun tak boleh lupa makan dan tak boleh kurang minum. Selanjutnya mata tak boleh terlalu dekat dengan monitor, posisi duduk juga harus benar, tegak lurus, jangan membungkuk. Batasan jam ngeblog menurutku sangat relatif, yang penting istirahat kita tak sampai terganggu alias  jangan kurang tidur.

Dan ngeblog justru bisa membuat kita makin sehat secara fisik, karena dengan BW kita bisa mendapatkan sharing ilmu gizi seputar makanan, wisata kuliner dari dalam sampai luar negeri. Banyak rupa dan ragamnya. Sesekali memungkinkan lho untuk kita praktekkan resepnya di rumah.

Selanjutnya info kesehatan seputar pengalaman minum madu, herbal, tips untuk bugar bagi keluarga juga bisa kita dapatkan diblog para sahabat. Info sehat ini bisa kita dapatkan dengan gratis, tampa membayar jasa konsultasinya. Menyenangkan bukan?

Potensi Akal
Bagaimana cara menyehatkan akal kita, apakah kita harus selalu minum suplemen agar tak gampang pikun? Atau kita harus terus belajar mengejar gelar S sampai berjuluk Sang Profesor? Benar, akal yang sehat adalah yang selalu dipakai untuk belajar, karena dengan belajar otak kita menjadi aktif. Sehingga otak kita terstimulasi menyimpan memori dengan baik. Dengan ngeblog artinya kita terbiasa mencerna ulasan dalam banyak tulisan, kita juga terpacu untuk terus menuliskan apa yang ada dalam fikiran kita. Menulis itu bisa membuat kita terhindar dari kepikunan lho. Silakan dipraktekkan dan ceritakan hasilnya  :D

Bahkan kata Ali bin Abu Thalib, RA
"Ilmu itu ibarat kuda, dan menulis itu ibarat tali kekangnya. Maka ikatlah ilmu itu dengan menuliskannya". 

Jadi mari menulis dan teruslah menulis. Menulis diblog salah satu cara termudah yang bisa kita lakukan. 

Potensi Jiwa
Jiwa yang sehat adalah yang terbiasa berbagi, punya fikiran positif yang optimal dan pandai bersyukur. Dengan ngeblog kita dilatih untuk itu semua.

Saat membaca curhat sahabat yang sedang tertimpa musibah, lahirlah syukur dalam jiwa kita, selanjutnya kitapun juga bisa mendo'akan sahabat tersebut. Ach indahnya saling berbagi sayang lewat do'a-do'a kita yang mengangkasa. 

Saat ada sahabat yang sedang berbagi pengalaman, kita bisa diingatkan pada pengalaman kita sehingga kitapun terpanggil untuk ikut berbagi, ketok tular dalam berbuat baik, bahagianya. Saat ada sahabat yang sedang emosi kita upayakan tetap berprasangka baik, menghidupkan iklim untuk terus berfikiran positif, demi sehatnya jiwa kita.

Adalagi yang namanya potensi tambahan, sebut saja potensi finansial. Nach pada tingkatan profesional aktivitas ngeblog bisa diberdayakan untuk membangun kekuatan finansial. Banyak lho yang sudah memetik hasilnya, mereka yang sudah berhasil mendapatkan cring-cring dari ngeblog. Aku belum bisa membahas tentang ini lebih lanjut sebab belum berpengalaman, semoga dimasa mendatang akupun bisa memberdayakan potensiku finansial dengan ngeblog. Mohon do'anya  :D

Selanjutnya, ngebloglah dengan bijaksana dan suka cita. Ngebloglah dengan bahagia. Seimbang dalam semua hal. Terus menulis apasaja yang kita bisa tulis dengan tetap memperhatikan adab kepada sesama blogger. Dan agar makin besar manfaatnya, ngeblog dan menulislah dengan niat ibadah, semoga menjadi tabungan amal kebaikan kita kelak.

Ayo ngeblog dengan seimbang, agar makin sehat jiwa dan raga. Orang pintar itu banyak, tapi tak semuanya mau berbagi, atau bisa jadi suka berbagi tapi belum menemukan sarana untuk berbaginya. Adapun menurutku ngeblog adalah sarana efektif untuk berbagi. Kita sudah menemukanya. Maka teruslah berbagi dengan aktivitas ngeblog ini. 



Kumulai dari diri sendiri dan mengajak sahabat blogger semua untuk tetap ngeblog dengan sehat dan menyehatkan. Sehat untuk diri sendiri, dan berbagi sehat untuk yang lainnya. Syukuri bila bisa ikut menyehatkan sekitar kita.


"Orang pintar yang ingin sehat tak perlu minum obat penolak angin, cukup menulis saja. Ingin terus pintar dan sehat, maka teruslah menulis, dimanapun dan kapanpun, salah satunya dengan menulis di blog"

Satu lagi,  dalam ngeblog aku belajar dari air. Air yang sehat itu tak cukup dengan jernih saja. Tapi yang tak kalah penting air sehat itu tidak tergenang, sebab air yang tergenang bisa menyebabkan berkembangbiaknya jentik nyamuk sumber penyakit. Maka air sejernih apapun harus juga terus mengalir. Agar sehat dan menyehatkan. Begitu juga halnya dengan kita, kalau rajin membaca, sebaiknya lanjutkan dengan menulis. Bagilah ilmu dari yang kita baca. Karena dengan menulis artinya berbagi, kita bagai menjadi air yang mengalir, sehat dan menyehatkan. Semoga !!!

Tulisan ini diikutkan pada kontes Betapa Senangnya Ngeblog dan disponsori oleh Mahabbah.