Tampilkan postingan dengan label Pelangi Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelangi Hikmah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Maret 2015

Waspadai Penanda Cinta

Awas hati-hati! Penanda cinta haram tegangan tinggi
by. Rahmat Idris

Pernahkah anda terdiam dan menangis ketika mendengar sebuah lagu jaman baheula karena mengingatkan cinta lama anda?
Pernahkah anda merindukan seseorang ketika melewati sebuah bangunan, kota, atau propinsi?
Pernahkah anda tersentak dan terdiam untuk beberapa saat ketika bertemu dengan wajah yang dulunya pernah akrab di masa silam?
Pernahkah anda tanpa sadar mengetik nama seseorang di akun search fesbuk anda demi mencari tahu kabar seseorang dari akun tersebut?
Bila pernah dan saya yakin banyak orang pernah mengalaminya, maka anda baru saja menemukan salah satu penanda cinta dalam hidup anda. 
Penanda cinta adalah suatu kondisi dimana anda merasa kembali kemasa lalu anda disaat anda pernah merasakan cinta di dada begitu kentaranya ketika mendengar, melihat, atau kontak langsung dengan suatu hal.
Penanda cinta itu adalah hal yang wajar dan sangat manusiawi sekali. Setiap manusia mungkin memilikinya. Terkisah dalam sirah, di madinah pada masa Umar Radhi Allahu Anhu meminta Bilal untuk melantunkan azan pemanggil shalat. Maka Semua penduduk madinah menghentikan kegiatannya dan keluar dari rumahnya dengan menangis. Umar pun menangis. Mengapa mereka menangis?
“Sungguh setiap kali engkau melantunkan azan wahai Bilal, seolah-olah kami berada dimasa Rasulullah masih anda disekitar kami. Sungguh kami merasa beliau masih ada.”
Itulah penanda cinta para shahabat Rasulullah dan penduduk madinah yang terberkati.
Di kisah lain, banyak shahabat menyimpan beberapa benda peninggalan rasulullah, sebahagian menyimpan pedang Rasulullah, ada yang menyimpan baju miliknya, ada pula yang menyimpan helai rambutnya, demi penanda cinta mereka kepada Rasulullah.
Berbeda lagi dengan para pemuka ilmu selayak ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud serta shahabat unggulan lainnya, Mereka meletakkan penanda cintanya pada perkataan atau hadist Rasulullah. Ada shahabat yang ketika meriwayatkan hadist mereka tersenyum simpul hingga menampakkan gigi serinya. Ketika ditanya kenapa mereka tersenyum ketika meriwayatkan hadist tersebut. 

Mereka menjawab: “Aku mendapati Rasulullah menyampaikan hadist ini sembari tersenyum dan kami tersenyum pula mendengarnya. Maka aku menyampaikannya selayak rasulullah menyampaikan.”
Itulah penanda cinta kaum shalih-shalihin, mereka yang Allah janjikan syurga.
Penanda cinta adalah salah satu hal yang sangat menentukan sikap kita dalam melihat cinta tersebut. Bila penanda cinta berada dijalan keharaman dan maksiat. Boleh jadi seumur hidup kita akan tergugah untuk hal-hal haram. Sebaliknya bila penanda cinta berada dijalan ibadah dan kebaikan, sangat mungkin kita akan selalu tergugah dalam melakukan hal-hal yang baik pula.
Maka tidak heran bila kemudian kita menemukan banyak yang menangis ketika mendengar lagu romantis dan malah tidak pernah menangis ketika mendengar bacaan Al Qur'an ataupun kisah sirah nabawiyah. Hal ini adalah normal, karena dulu sekali, penanda cinta diletakkan pada lagu-lagu tersebut.
Tidak aneh juga bila kemudian kita menemukan banyak jiwa yang kemudian tergugah melihat mini drama 10 menit buatan produk tertentu yang sejatinya hanya cara perusahaan demi melariskan dagangannya karena awal pertama sekali dia mengenal cinta dimulai dari drama yang diputar 12 tahun lalu.
Tentunya sebaik-baik penanda cinta adalah manusia yang meletakkannya di hal-hal yang dekat dengan Allah. Bukan sebaliknya. dan bilapun kita pernah khilaf meletakkan penanda cinta di tempat yang salah, berjuanglah sekuat tenaga untuk melupakannya.
Percayalah, di setiap keinginan kita menjauhi keburukan, disana terdapat keberkahan dan pencatatan amal yang mulia.

Selamat berjuang duhai jiwa.


Jumat, 20 Maret 2015

Jauhilah Mantan

|Bertemu 'sang mantan'? Maka jauhilah|
by Rahmat Idris

'Sudahlah.. itu kan masa lalu..saat ini kita sudah berbeda. kita sudah menginsafinya. kita jadi teman saja ya.'
Begitu indah kalimat pembuka dari seorang lelaki atau perempuan yang mulai berinteraksi kembali dengan mantannya. Namun sungguh saya merinding membayangkan betapa mudah kata 'menjadi teman saja' mengalir dari para mantan-mantan tersebut. seolah dosa masa lalu tidak akan dipertanggung jawabkan, seolah perbuatan maksiat tidak akan masuk dalam catatan amal, seolah perbuatan dzalim tidak memberi efek apapun.
Padahal tidak seperti itu yang seharusnya kita lakukan. dalam urusan dosa khalwat, maka taubatnya adalah tidak melakukan komunikasi apapun lagi setelah bertaubat kecuali hubungan tersebut telah di ikat dengan akad pernikahan.
Tercatat satu kisah, seorang pemuda shalih yang dulu punya keinginan kuat untuk berkhalwat dengan seorang gadis cantik yang menawan. sang gadis itu adalah gadis gampangan yang menawarkan dirinya kepada siapapun demi sejumlah dinar. Maka dengan tekat kuat disebabkan hasrat berbalut cinta, dia bekerja keras untuk mencari prasyarat dekat dengan sang gadis.
Qadarullah, dia mendapati sejumlah dinar dan menuju ke gadis tersebut. ketika dia ditawarkan untuk merapat, belum sempat dia menyentuh sang gadis tersebut, tubuhnya mengigil, lututnya melemah, tangannya bergetar. lalu dia menyerahkan dinar tersebut cuma-cuma dan berlari keluar. Dia menyesal telah melakukan dosa khalwat hingga dia memutuskan diri untuk meninggalkan kota tersebut.
Gadis yang melihat peristiwa aneh tersebut itu pun kemudian bertaubat karena hidayah dari Allah dan memutuskan untuk mencari pemuda shalih itu serta meminta agar dia bersedia menjadi tempat labuhan jiwanya terakhir.
Namun apa yang terjadi? Setelah mencari kesana kesini hingga sampailah sang gadis di kediaman sang pemuda, kedatangan sang gadis yang sudah bertaubat dan berharap mendapatkan kebaikan dalam keinsyafannya itu tidak seperti yang dibayangkannya.
Bukan mendapatkan sambutan hangat nan membahagiakan, sang pemuda shalih tersebut malah terkejut serta menjerit kuat ketika melihat kedatangan sang gadis. dia menjerit karena melihat kedatangan sang penanda dosanya dimasa lalu. seketika itu dia meninggal dunia dan Insya Allah dalam keadaan khusnul khatimah.
Wahai para lelaki atau perempuan yang sudah menikah serta memiliki sejarah khalwat di masa lalu, ambillah ibrah dari kisah diatas. Begitulah seharusnya kita bersikap bila berhadapan atau bertemu dengan pasangan khalwat haram kita di masa lalu. 

Walau tidak berteriak ketakutan, setidaknya jauhilah mereka sejauh-jauhnya sedapat mungkin. tutup pintu-pintu hasrat yang dapat di susupi oleh syaithan. jangan memberi pembelaan seolah masa lalu sudah berakhir dan kita akan baik-baik saja.
Sedapat mungkin tidak usah membalas kontak via bbm, email, telepon, bahkan permintaan bertemu langsung. karena sungguh-sungguh ini dapat menjadi awal dari bencana besar. kalau bisa malah kita menghapus atau tutup segala bentuk hubungan komunikasi yang dapat membuat kita atau mereka berhubungan kembali.
Karena sering terjadi perselingkuhan bahkan perzinaan, banyak dimulai dari komunikasi seseorang dengan 'sang mantan' mereka dimasa lalu. jangan anggap enteng kehadiran mereka karena kelak anda dan mereka akan saling dihadapkan dengan depan Allah dan ditanyakan alasan mengapa anda bermaksiat dengan mereka. 

Bagaimana, masih menganggap remeh temeh hubungan dengan 'sang mantan?' 
Berpikirlah kembali hingga 100 juta kali.

Mari saling mengingatkan.

Jumat, 20 Februari 2015

Mrs. Masalah vs Miss Bahagia

|Mrs Masalah vs Miss bahagia|
by. Rahmat Idris

"Lalu bagaimana engkau bisa memilih menghabiskan waktu berjam-jam menelpon perempuan bukan mahrammu itu sedangkan istrimu sendiri engkau acuhkan? apakah engkau tidak malu dengan shalat dan sujudmu?"
Tanya saya ketika kepada dia, shahabat yang baru saya kenal 6 tahun lalu. beristri satu, beranak dua, berpenghasilan pas-pasan namun masih sempat-sempatnya menebar madu kepada siapun yang dikenalnya.
"Aku tahu menurutmu aku lelaki brengsek. tidak mengapa. aku jujur di depanmu. soal engkau mau menasehatiku dengan semua argumenmu lakukan saja. aku pun melakukan ini bukan tanpa alasan."
"Kamu tahu kan? penghasilannya 2 juta rupiah. dan dari 2 juta itu, semuanya aku berikan kepada istriku. tidak meninggalkan sepeserpun kecuali untuk ongkos transport dan pulsa. menurutmu apa yang kudapatkan dari usaha kerasku sebesar 2juta itu dari istriku?"
"Ucapakan terimakasih? senyuman dan pujian? pelukan selamat jalan di pagi hari dan pelukan selamat datang sore hari? tidak.. bahkan di hari rayapun tidak."
"Yang kudapat dari upah kerja kerasku sebesar 2 jutaan itu malah ratapan kesialan siang dan malam. spp anak semakin mahal. minyak makan naik, cabe menggila harganya. hidup yang semakin sukar. tentang tetangga yang suaminya sudah kerja ke malaysia dan mengirimkan uang tiap bulannya 5 juta sebulan. tentang sepupu istri yang mendadak kaya raya karena ikut-ikutan mencari batu giok ke calang. soal rumah sewa yang semakin sempit dan sumpek. selalu saja ketika aku pulang dalam kondisi capek, yang menyambutku adalah cerita masalah! masalah! masalah! dan kesuksesan orang lain. tidak pernah dia berusaha memahami betapa aku telah berkorban seluruh hariku untuk dia dan anak-anak."
"Lihatlah, dua juta sebulan aku mencari uang pagi hingga malam demi dia. namun berbilang tahun dapat kuhitung rasa hormatnya kepadaku. semakin besar anak-anak, semakin hilang hormatnya."
"Dan kamu tahu siapa yang kutelpon itu? dia entah anak perempuan mana yang ku kenal di jejaring sosial, dia tinggal dimana aku tidak peduli. Dia merahasiakan identitasnya, aku juga. yang kami lakukan hanyalah bicara apa saja yang bisa. Dari hal ringan hingga hal berat. namun tidak pernah sama sekali kami membicarakan masalah-masalah."
"Yang kami bicarakan hanya hal-hal yang membahagiakan saja. aku tidak peduli dia istri orang ataupun perempuan cacat. selama dia mampu membuatku tertawa dan dia juga tertawa itu sudah cukup. inilah hal yang aku dapatkan hanya dengan membayar 2000 rupiah perhari untuk sekedar mengaktifkan talkmania."
"Sedangkan dengan istriku, 2 juta sebulan pun tidak mampu membuat dia ceria sekejap pun seperti perempuan itu.lihat betapa mahal harga senyum seorang halal dan di sudut sana, betapa murah mendengar tertawa renyah perempuan yang tanpa ikatan"
Sering dalam ikatan pernikahan, dimana kebahagiaan seharusnya menjadi lebih dekat daripada hubungan lainnya, malah kebahagiaan itu menjadi nisbi dan sulit di ukur. Siapa yang harus disalahkan? Sepertinya tidak ada yang salah, mungkin iman didada sang suami yang sedang kelelahan, atau rasa syukur si istri yang sedang tiarap.

Namun pertanyaan yang lebih tepat diajukan kepada kita masing-masing adalah siapa yang terlebih dahulu bersedia memperbaiki diri.


Sebagai bahan renungan.


Jumat, 25 Januari 2013

Duduklah saat Makan dan Minum

Semua yang diperintahkan atau sebaliknya dilarang oleh-Nya lewat Al Qur'an ataupun Hadits pasti ada hikmahnya. Meski tak selalu hikmah itu diketahui. Seperti adab seorang muslim makan dan minum contohnya, disini bukan tentang kandungan halalan toyyibah dari suatu makanan dan minuman. Namun lebih kepada cara saat makan dan minum. Dibeberapa daerah misalnya, hal yang paling tabu dilakukan saat makan dan minum adalah sambil berbicara. 

Memang banyak orang yang lupa atau bahkan belum tahu, bahwa makan dan minum sambil berdiri jelas ada dalil pelarangannya, sampai-sampai karena ingin disebut modern, sekarang ini banyak pesta-pesta yang tidak menyiapkan kursi untuk duduk. Akibatnya saat jamuan makan dan minum para tamu melakukannya sambil berdiri. Pantaskah kita sebagai orang yang ingin diakui sebagai umat Muhammad, SAW ikut latah meniru hal tersebut?

Yups, ternyata ada hikmah mengapa Rasulullah, SAW melarang umatnya makan dan minum sambil berdiri, mungkin ada yang sudah pernah membaca, tapi paling tidak izinkan aku untuk sesaat mengingatkan, paling tidak untukku pribadi.

Aku foto dari sekolahnya Hamas dan Yunda.
Zona Makan dan Minum sambil Duduk di SIT Bina Ilmi :D

“Sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri”. Qotadah berkata: “Bagaimana dengan makan?” beliau menjawab: “Itu lebih buruk lagi”. (HR. Muslim dan Turmidzi)


“Jangan kalian minum sambil berdiri! Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan!” (HR. Muslim)

Dr. Abdurrazzaq Al-Kailani berkata: “Minum dan makan sambil duduk, lebih sehat, lebih selamat, dan lebih sopan, karena apa yang diminum atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lembut. Adapun  minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras,  jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar dan jatuhnya usus, yang kemudian menyebabkan sekali minum sambil berdiri menyebabakan disfungsi pencernaan. 

Adapun Rasulullah berdiri, maka itu dikarenakan ada  sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, bukan merupakan kebiasaan. Ingat hanya sekali karena darurat! Begitu pula makan sambil berjalan, sama sekali tidak sehat, tidak sopan, tidak etis dan tidak pernah dikenal dalam Islam dan kaum muslimin.


Dr. Ibrahim Al-Rawi melihat bahwa manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ  keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna. Ini merupakan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat tepenting pada saat makan dan minum. Ketenangan ini bisa dihasilkan pada saat duduk, dimana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat.


Dr. Al-rawi menekankan bahwa makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus. Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf (vagal inhibition) yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak.


Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus –menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung. Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa bebenturan dengan makanan atau minuman yang masuk. Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh sfringer. Sfringer adalah suatu struktur muskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Nah, jika kita minum berdiri air yang kita minum tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih. Ketika langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan disaluran ureter. Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter.


Inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang berbahaya. Susah kencing itu  penyebabnya. Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum. Oleh karena itu marilah kita kembali hidup sehat dan sopan dengan kembali ke pada adab dan akhlak Islam, jauh dari sikap meniru-niru gaya orang-orang yang tidak belum mendapat hidayah Islam.


Sumber @kutipanhikmah

Senin, 14 Januari 2013

Giveaway Senangnya Hatiku: Saat Bertugas

Sebuah pengalaman yang sebenarnya sudah sering aku ceritakan di blog ini. Sudah berseri bahkan, tapi jujur aku tak pernah bosan untuk mengulangnya, mengambil sisi lain disetiap jengkal kenangan tersebut. Saat dimana pada musim haji tahun 1431 H atau bertepatan dengan tahun 2010 yang lalu aku diizinkan Allah menginjakkan kaki di dua tanah haram, dan bisa menunaikan rukun islam kelima, walaupun bukan sebagai jama'ah biasa. Karena aku diberi kesempatan naik haji gratis, tanpa bayar dan tak perlu mengantri. Pada tahun yang sama untuk bisa berangkat haji seseorang harus sudah mengantri paling tidak sejak dua tahun yang lalu, adapun sekarang antrian calon jama'ah haji khususnya Sumatera Selatan sudah sampai 2023, sepuluh tahun lagi. Dan saat itu akupun mendapat uang honor dari tugas yang dijalankan. Yang jumlahnya lumayan, kalau dibelikan motor bebek merk ternama uangnya masih ada kembalian. Nah kenapa ujung-ujungnya ngomongin duit yak? Ini imbas rasa senang dihati. Pokoknya Subhanallah dech, syukur Alhamdulillah...
 
Alkisah, aku berangkat sebagai Petugas Kesehatan Haji Indonesi, tepatnya sebagai dokter kloter 31 JKG. Tugasku saat itu adalah sebagai koordinator kesehatan kloter yang harus mengurusi 450 orang jama'ah dan didampingi oleh 2 paramedis yang lain. Bayangkan kami bertiga harus mengurusi begitu banyak orang. Berat rasanya, tapi karena aku yakin bahwa ini adalah tugas mulia maka aku tetap bersemangat. Apalagi menjadi dokter kloter atau sering juga disebut TKHI (tim kesehatan haji Indonesia) adalah impianku sejak zaman kuliah dulu. Namun karena saat tamat aku sudah menikah dan sulungku masih batita maka keinginan tersebut hanya aku pendam. Anak kedua lahir tak sampai dua tahun kemudian, dan dengan komitmenku untuk tetap memberikan ASI sampai umur 2 tahun, maka niatan untuk ikut seleksi TKHI belum juga bisa kuwujudkan. Tahun berikutnya saat ananda belum disapih, suami masih berat mengeluarkan izin. Maka tiba masanya Hamas berumur 5 tahun, barulah suami berkenan memberiku izin, lama ya, tapi justru izin suamilah kata kuncinya, maklum masa tugasnya 40 hari.

Awalnya memang suamiku berat melepasku berangkat sendiri ke sebuah Negeri yang jauh dalam waktu yang lama, tapi aku berhasil meyakinkan. Sumber kekhawatirannya adalah karena aku punya penyakit ashtma, sedangkan tugas selama disana terkategori berat dan cuaca yang sangat ekstrim. Panas dan dingin yang berbeda dari Indonesia. Alasan yang masuk akal bukan? Aku sebenarnya juga tak kalah cemas, tapi aku mengantisipasi semuanya dengan persiapan yang matang. Ibarat mau perang, amunisiku harus yang terbaik dan juga harus menguasai medan. Olahraga teratur, bawa habattussauda, spirulina dan kopi Radix untuk menjaga stamina selama disana. Sedangkan untuk berjaga-jaga aku tetap membawa inhaler, obat ashtma pamungkas yang disemprotkan bila terjadi serangan. Dan alhamdulillah selama disana, kesehatanku justru paripurna. Jangankan ashtma, batuk filekpun tak kebagian, bukannya aku termasuk golongan onta atau tiang listrik lho, secara katanya semua jama'ah haji pasti mengalami batuk filek, kecuali onta dan tiang listrik, hiiii... Tapi sungguh, para jama'ahpun banyak yang heran, kenapa aku tak kena batuk filek seperti kebanyakan mereka, bahkan ada yang sampai berulang kali. Ini bisa jadi karena banyak yang mendo'akanku dan yang pasti karena Allah sudah menunjukkan Maha Kuasanya.
  
Dan seperti yang kita ketahui haji itu adalah satu bentuk ibadah fisik. Artinya semua rangkaian ibadah selama di sana sangat mengandalkan kesehatan dan kebugaran jasmani. Saat berangkat sebagai petugas tanggung jawabku adalah membantu para jama'ah untuk tetap sehat saat menjelang, puncak haji dan sampai kepulangannya. Sebuah kebahagian yang luar biasa bila kita bisa mendampingi para jama'ah melaksanakan ibadahnya dengan maksimal karena ditunjang oleh kesehatan yang baik. Karena tak semua jama'ah haji Indonesia dapat sukses menjalankan semua rangkaian ibadah selama disana, paling mereka hanya mampu berada pada zona aman. Artinya berada pada kondisi hanya bisa ikut ibadah wajibnya saja. Padahal berapa banyak biaya yang sudah dikeluarkan untuk berangkat, mencapai > 30 juta. Mau tahu penyebabnya? Umumnya ini karena kondisi kesehatan mereka yang tidak memungkinkan, sudah banyak yang lanjut usia. Jadi untuk tawaf keliling ka'bah 7 kali saja, mereka harus naik kursi roda, butuh biaya lagi. Apalagi sya'i bolak-balik Syafa ke Marwa, banyak yang tak kuat lagi. Ditambah daya ingat para lanjut usia sudah semakin menurun, akibatnya sering nyasar dan banyak lupa tuntunan ibadah haji. Och sungguh disayangkan.
 
Setiap tahunnya jumlah calon jama'ah haji Indonesia akan terus bertambah, seiring dengan kesadaran beragama yang makin baik juga tingkat ekonomi yang semakin sejahtera. Tapi yang justru memprihatinkan, jumlah yang makin banyak itu tidak dibarengi dengan mutu yang makin baik pula. Sedih bila melihatnya, banyak jama'ah haji kita yang hanya sibuk belanja. Kalau ditanya mengapa tak sholat ke Masjid Haram, alasannya kurang enak badan. Tapi kalau belanja oleh-oleh bisa dari pagi sampai malam, enak-enak saja itu badannya. Belum lagi banyak yang rajin mengeluh. Cuaca panas dikeluhkan, antri kamar mandi mengeluh, makanan tak sesedap di Indonesia bisa jadi bahan keluhan berkepanjangan. Kasiankan, jadi hilang rasa syukurnya.

Terlebih pada puncak haji saat fase wukuf di Arafah, Musdhalifah dan mabid 3-4 hari di Mina. Totalnya hanya 5 hari saja pelaksanaan ibadah wajib. Secara lebih jelas pernah kuceritakan disini. Sedangkan sisa waktunya untuk serangkaian ibadah sunnah yang memang sangat menggiurkan pahalanya. Coba renungkan, satu kali sholat wajib di Masjidil Haram, Mekkah sama dengan 10.000 sholat dimasjid biasa. Sedangkan untuk sholat di Masjid Nabawi, Madinah itu setara 1.000 kali. Sebuah keutamaan yang tak selayaknya dilewatkan. Maka bila suatu saat kita berangkat haji, usahakan saat masih muda, agar selama disana bisa optimal beribadahnya bahkan bisa menolong orang lain. Biasanya jama'ah yang masih muda akan lebih banyak melakukan ibadah-ibadah sunnah selama disana karena fisiknya lebih bugar dan kesehatan badannya lebih terjaga.   

Tapi tidak semuanya begitu, banyak juga jama'ah haji yang tetap semangat dalam beribadah selama disana. Sering sulit sekali ketemu mereka di Maktab karena dari sebelum subuh sampai setelah Isya beribadah di Masjidil Haram. Ya, saat di Mekkah kami mendapat Maktab yang jaraknya sekitar 2 Km, jadi tanggung memang kalau mau bolak-balik. Ada juga angkutan, tapikan mesti tambah ongkos, belum lagi cuaca yang memang jauh lebih panas dibanding di Indonesia. Jadi memang kalau aku selaku jama'ah yang leluasa beribadah sunnah, pasti juga memilih banyak-banyak berada di Masjidil Haram, menggunakan aji mumpung, mumpung di Mekkah, kapan lagi. Namun aku sadar, kondisiku berbeda, bila ingin ke Masjidil Haram harus lihat situasi dan kondisi kesehatan para jama'ah dulu, kalau aman baru bisa berangkat. Dan itupun harus gantian dengan petugas yang lain. Namanya petugas, berada di sana adalah dalam rangka tugas, mendampingi para jama'ah haji. Setiap hari selama di Mekkah bisa ke Masjidil Haram pada satu waktu sholat saja sudah bersyukur. Itupun dalam kondisi yang sangat beragam, ada yang mengambil waktu subuh, berangaktnya tengah malam, sekitar jam 2. Atau pada waktu dhuha sampai dzuhur. Biasanya aku pergi bersama dengan rombongan jama'ah yang lain. Kadang lihat mereka jalan bareng suami atau orangtuanya, aku suka sedih sendiri. Tapi aku yakin suatu hari aku akan datang lagi kesana, tidak sendiri lagi dan bukan sebagai petugas. Do'akan ya...

Dan bila berkisah tentang Madinah, membuatku banyak merenung tentang peristiwa hijrah. Ternyata jarak antara Mekkah ke Madinah itu jauh. Kalau naik bus sekitar 7-8 jam perjalanan. Selama dalam perjalanan menuju ke Madinah, aku merasakan suasana yang mengharu biru. Membayangkan sosok Nabi Muhammad yang Agung bersama para sahabat saat peristiwa hijrah, mereka hanya berjalan kaki, sebagian dengan naik onta. Sejauh mata memandang hanya gurun pasir dan batu cadas, panas terik sangat menyengat. Apalagi mereka harus berangkat dibawah kejaran kaum kafir Quraysi, sungguh peristiwa yang luar biasa. Dan aku selalu terkesima kalau mendengar atau membaca cerita hijrah. Sangat fenomenal. Wajarlah bila dianggap sebagai tonggak babak baru dakwah Nabi. 
 
Maka saat kloter kami sampai di Madinah, aku sungguh kagum dan terpesona. Begitu damai. Kota yang bersih, tertib dan sangat bersahaja. Aku langsung jatuh hati. Rasa segera ingin beristirahatpun hilang, dikalahkan oleh hasrat untuk berziarah ke makan manusia paling mulia, Nabi Akhir zaman. Makam Nabi Muhammad, SAW tersebut terletak di salah satu sudut masjid Nabawi. Didukung dengan jarak antara Maktab dengan masjid Nabawi hanya 200 m saja. Kubah masjid bahkan terlihat jelas dari Maktab kami, suara adzanpun terdengar keras. Pokoknya semua jama'ah kloter kami langsung sehat sampai di Madinah. Bukan berarti tak ada jama'ah yang sakit. Ada, tapi tak banyak, rata-rata aman terkendali. Ada satu jama'ah kloterku yang sejak awal datang ke Madinah sampai menjelang pulang ke tanah air harus rawat inap di BPHI karena ashtmanya anfal dan paru-parunya gagal mengembang sehingga selalu perlu dipasang oksigen. Hal ini dipicu juga oleh cuaca dingin di Madinah saat itu yang mencapai 6 derajat Celsius, dingin menusuk sampai ke tulang. Aku yang juga ashtma sangat bersyukur bisa bertahan dicuaca yang sangat dingin itu.

Bersama Nenek Halimah, seorang jama'ah yang berumur 80 tahun,
yang rajin menyambangiku ke Posko Kesehatan. 
Jama'ah tertua dikloterku adalah Nenek Zahro, 90 tahun, sudah lumpuh dan pikun, berangkat bersama anak dan menantunya.

Bersama dua Nini yang selalu semangat ke Nabawi, Nenek Jamilah dan Nyai Masayu.
Jangan tanya umurnya ya karena aku lupa mencatat :D


Berada di Madinah hanya 8 hari, semuanya untuk serangkaian ibadah sunnah. Ziarah ke makam Nabi, ke Raudhah dan sholat wajib selama 40 waktu di Masjid Nabawi (ini yang dikenal dengan sebutan sholat Arbain). Entah karena senang hampir pulang ke tanah air, atau senang karena leluasa bisa ke Masjid Nabawi tampa khawatir tersesat, umumnya jama'ah kloterku jadi sehat dan segar. Mereka bahkan bersemangat bisa ikut sholat Arbain di Masjid Nabawi. Aku juga luar biasa bahagianya, karena semua jama'ah sehat artinya aku bisa leluasa selama di Madinah. Mana lagi memang managemant penanganan jama'ah yang sakit sangat berbeda dengan di Mekkah. Kalau ada jama'ah kloter yang perlu diinfus, maka aku harus langsung merujuknya ke Sektor, dari sanapun biasanya langsung dibawa ke BPHI (Balai Pengobatan Haji Indonesia). Rangkaian kemudahan dari Allah yang sangat aku syukuri. Akupun puas berpetualang di Madinah. Ke Raudhah, ikut shalat Arbain, kepasar kurma, pokoknya puncak bahagianya aku adalah saat berada di Madinah ini. 

Sejujurnya saat bertugas sebagai dokter kloter inilah yang paling membuat hatiku senang, sepanjang sejarah menjalani tugas keprofesian ini. Dan akhirnya berangkat dari pengalamanku bertugas ini, sepenuh hati aku menghimbau kepada semua sahabat blogger agar meniatkan diri untuk bisa berangkat haji selagi masih muda. Selanjutnya usahakan segera mendaftar sesegera mungkin sesuai dengan kemampuan. Jangan menunggu ada kelebihan rezky baru mendaftar, tapi sebaliknya dengan mendaftar haji, Insya Allah akan diberikan keluasan rezky. Karena tugas kita adalah menjalankan serangkaian proses memantaskan diri untuk menjadi tamu-Nya di Baitullah. Sempurnakan do'a-do'a kita untuk menuju kesana. Soal giliran tahun berapa kita akan berangkat haji, serahkan hanya pada-Nya.


ga amazzet
Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway Senangnya Hatiku.

Selasa, 06 November 2012

Profesor Gambir

Sekian lama waktu berlalu, banyak peristiwa yang belum sempat terekam disini. Sebab saat ini semua seolah mengejar minta didahulukan, hingga tak kebagianlah waktu untuk bercengkrama diblog ini, gayanya #deuuu...

Tapi begitulah yang terjadi, seperti saat bertemu seorang Prof. hebat dari Kota kami, sepenuhnya diri ini terpesona, alangkah luas ilmunya, betapa berguna hasil penelitiannya, salah satu temuannya tentang gambir yang ternyata punya begitu banyak manfaat, sayangnya hak paten penelitian beliau dibeli negara tetangga, karena Negeri ini seolah (enggan) tak menggubrisnya. Tapi beliau bukan pribadi kemarin sore, jiwanya besar. Dari beliau aku mengambil banyak pelajaran berharga. 

sumber www.foodreview.biz
Prof Gambir, aku menyebut beliau. Padahal nama aslinya Prof. DR. Rindit Pambayun M.P beliau adalah guru besar di Universitas Sriwijaya yang sekarang menjabat sebagai Ketua Umum PATPI yang baru.

Salah satu yang paling berkesan adalah filosofinya tentang ilmu. Betapa bila kita meniatkan sebuah proses belajar untuk mendapatkan ilmu, maka kita pastilah akan mendapat yang lainnya. Apa saja, termasuk wawasan, relasi, bahkan royalti sekalipun. Tapi bila kita meniatkan sebuah proses belajar untuk yang lainnya, niscaya kita tak akan dapat ilmu. Iih bergidik aku membenarkan. 

Teringat pada sebuah kata hikmah yang sejak dulu aku yakini bahwa bila kita menanam padi maka semua jenis rumput akan tumbuh. Dari yang menjalar, yang menusuk, sampai yang seperti bludru. Tapi manakala kita menanam rumput, meski rajin kita pupuk sekalipun maka bisa dipastikan tak akan pernah tumbuh sebatang padi #aaachhh...

Aku sebenarnya mau cerita tentang khasiat gambir lho, tapi kok malah kemana-mana dulu :D Tahu gambir kan ya? Eh ternyata kandungan antioksidannya melampaui teh hijau yang terkenal itu. Selama ini aku hanya tahu gambir untuk makan sirih #beneran... Eh ternyata ya...

Tapi sampai seumur ini, aku belum pernah lho lihat pohon gambir. Ada yang tahu? #boleh ngacung lho...Dan buat yang belum pernah tahu, ini dia penampakan pohon gambir itu:

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiI2I_UhV4kd8Ea8u5M9nLfMYJuoIK7pp4I90Od6DzRN_gErCq5s_utzC8FhtvzV8s2mBwH2B57Mb7cZDRhqe5QikFLu5qyl0ZdTOPzOOBxvvKLw2wnEw5shbdkNKS1PNPANbqbw0hnXFQ/s1600/gambir.JPG
flora-sutamto.blogspot.com
  • Tanaman Gambir (Uncaria Gambir) banyak tumbuh di Indonesia bahkan khabarnya banyak di Sumatera Barat, tapi mengapa aku tak merasa pernah melihat tanaman gambir ini ya? #heran dech, padahal akukan orang Sumatera juga... Tanaman yang berupa perdu dengan tinggi 1-3 cm dan batang bulat warna cokelat dapat diolah menjadi gambir dalam bentuk tertentu. Gambir mengandung Katekin, kuersetin, zat samak katekin, merah katekin, lendir, lemak, dan malam yang memiliki banyak khasiat.
  • Dalam ilmu kefarmasian, gambir dikenal sebagai sumber antioksidan yang potensial. Ekstrak gambir (dengan kandungan utama katekin) yang telah distandarisasi dapat diformulasi menjadi bentuk sediaan farmasi tertentu yang dapat mengeliminasi hal-hal yang tidak disukai dari sifat ekstrak tersebut, misalnya rasanya yang pahit, atau sifatnya yang sukar larut dalam air.
  • Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa gambir bisa digunakan sebagai astringen dan hemostatik yang menghambat pertumbuhan bakteri. Gambir banyak dipakai sebagai penahan rasa sakit, seperti diare, sakit gigi, gusi bengkak, tersengat lebah atau serangga, suara parau atau sariawan mulut, tertusuk duri, dan luka luar lainnya. Oleh sebab itu maka gambir juga digunakan sebagai bahan campuran untuk menyirih atau menginang bagi sebagian orang.
  • Konon katanya Gambir Sarawak bisa untuk Mengatasi Ejakulasi Dini.  
  • Menurut Profesor Gambirku, salah satu khasiat gambir adalah sebagai pengawet alami, hebatnya tak kalah dengan si formalin yang menghebohkan itu. Tapi jangan tanya takarannya ya sebab kemarin diskusinya belum sampai kesana #malu...
Benar begitu? 
Wallahu'alam    
Tapi kalau katekin juga terdapat dalam teh tahu dong, hehee...

Sabtu, 13 Oktober 2012

Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

Sepanjang usia aku belum pernah terlibat langsung atau tak langsung dengan yang namanya tawuran. Aku menghabiskan masa SMP dan SMA di Bandar Lampung, sebuah kota kecil yang pada awal tahun 90-an masih sangat adem, ayem dan jauh dari yang namanya hiruk pikuk aktivitas mertopolis. Namun sepanjang pengetahuanku *yang jelas terbatas ini... tawuran adalah perkelahian massal, atau perkelahian beramai-ramai (2008, KBBI). Sedangkan perkelahian yang asal katanya kelahi adalah pertengkaran adu kata-kata atau adu tenaga. Belum mengarah pada tawuran bukan? Maka aku coba menggali lagi, masih KBBI, aku dapatkan arti kata perkelahian yang disama artikan dengan perjuangan. Katanya disana perjuangan adalah perkelahian atau peperangan merebut sesuatu, atau disetarakan juga dengan peperangan, atau suatu usaha yang penuh dengan kesukaran dan bahaya.

Yang perlu kita garis bawahi dari arti kata perkelahian massal yang mendasari sebuah bentuk tawuran ternyata sudah ada sejak lama, tawuran bukan merupakan hal yang baru. Lalu mengapa seolah hanya sekarang saja kita merisaukan isu maraknya tawuran? Bahkan zaman awal peradaban manusiapun tawuran sudah ada. Dalam bahasa yang sedikit berbeda, yaitu perang. Perang dilakukan secara massal dan untuk memperebutkan sesuatu juga bukan? Sama artinya dengan perkelahian yang dilakukan secara massal sekarang ini meski kita lebih mengenal dengan bahasa tawuran. Bahkan Panglima Besar Jendral Soedirman melakukan perang demi memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Beliau tentu melakukan perang tidak sendirian, berkelompok dengan strategi grilya. Itu artinya Indonesia tidak akan merdeka tanpa proses peperangan atau perkelahian massal. Jadi siapa bilang perkelahian massal itu tidak penting? *diucapkan dengan nada berapi-api dan sambil mengelap peluh...

Dan belakangan ini kita dihebohkan dengan susul-menyusul berita tawuran yang terjadi di Seantero Negeri. Terkhusus di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tawuran memang lebih sering terjadi. Data di Jakarta misalnya (Bimmas Polri Metro Jaya), tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan dua anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta dua anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas. Nyata terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat.

Sementara menurut catatan Polda Metro Jaya tahun 2011 lalu, jumlah korban aksi tawuran pelajar lebih banyak dibandingkan tahun 2010. Hingga September 2012, jumlah korban yang meninggal sebanyak 5 siswa, sedangkan tahun 2011 jumlah korbannya 4 siswa. Komisi Nasional Perlindungan Anak juga mencatat sejak tahun 2011 korban akibat tawuran pelajar mencapai 339 kasus, dengan korban tewas mencapai 82 korban. Jumlah itu meningkat tajam dari tahun 2010 yaitu sebanyak 128 kasus. Cukup menyeramkan, tapi tak selesai kalau cuma bergidik prihatin, harus ada langkah kongkret.

Kalau perkelahian merupakan salah satu metode yang digunakan oleh manusia untuk menunjukkan kemampuannya, menguasai, dan merebut sesuatu. Sebenarnya itu menjadi satu hal yang bisa mendorongan kompetitif positif. Lalu sebenarnya apa yang salah dengan tawuran yang makin marak terjadi saat ini? Ternyata situasi dan kondisinya memang salah besar, penempatannya yang sudah pasti melanggar norma. Dan ini yang menyebabkan banyak terjadi efek negatif dari tawuran tersebut. Tawuran sendiri secara umum di masyarakat sering dikaitkan dengan perkelahian yang dilakukan oleh pelajar, padahal banyak juga yang terjadi di lingkungan Kampus, seperti yang kemarin di Makassar. Dan bisa juga terjadi tawuran antar kampung, atau antar suku. Karena memang banyak faktor yang mendorong terjadinya tawuran, mulai dari faktor sosiologis, budaya, psikologis, hingga kebijakan pemerintah.
  
Setelah menyimak dan menimbang beberapa hal diatas, maka menurut pendapatku cara mencegah dan menanggulangi tawuran antara lain adalah:

Pencegahan, sebelum terjadinya tawuran. Seperti mencegah banjir, artinya langkah yang diambil sebelum banjir terjadi. Bahasa kesehatannya preventif. Meliputi langkah:

Menjadikan rumah sebagai tempat yang nyaman dan sehat buat anak-anak tumbuh dan berkembang. Ada komunikasi dan saling menyayangi didalam keluarga. Bangun keluarga berdasarkan ajaran agama yang utuh, bukan hanya sebatas sholat dan puasa saja. Kehadiran orangtua sangat dibutuhkan dalam pembinaan anak-anak. Orangtua, jadi bukan hanya Ibu. Sebab disinyalir salah satu penyebab terjadi tawuran pelajar karena adanya fenomena lapar "Ayah". Sebuah riset atas hubungan peran ayah dan anak laki lakinya, dimana menurut Psikolog terkenal John Gottman, anak-anak yang ayahnya tidak terlibat dalam kehidupan mereka, akan mengalami kesulitan yang lebih besar untuk menemukan keseimbangan antara ketegasan laki laki dan pengendalian diri.

Maka tak bosan aku mengingatkan, mari hadirkan Ayah hebat di hati anak-anak. Sebelum masa kanak-kanak mereka berlalu, sebelum keceriaan mereka tak terwarnai dengan kehadiran figur Ayah. Ayah hebat adalah mereka yang dampingi anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang kokoh, mengajarkan jiwa kesatria berakhlak syuhada tak hanya sebatas menanamkan jargon "Anak laki-laki tak boleh nangis". Alangkah disayangkan apabila saat pencarian jati dirinya, anak justru tak mendapatkannya dari sosok Ayah, maka mereka akan mencari sosok lain yang bisa jadi tak layak. Sebab memang Ayah tak pernah ada saat anak-anak butuh berbagi. Bila sudah demikian apa yang harus dikatakan. 

Sejak kecil anak-anak hanya sering berinteraksi dengan Ibu dirumah, Ibu yang mengajari mereka sabar, kuat dan berani. Hanya Ibu yang selalu ada buat mereka. Cukupkah? Ya mungkin lebih dari cukup. Terlebih sejak memasuki usia playgroup banyak sosok guru-guru karismatik yang juga mengajarkan anak tentang nilai dan norma termasuk indahnya persahabatan, berbagi dan kasih sayang. Guru-guru bijak yang juga lekat dihati anak sampai usia SD kebanyakan perempuan. Meski berjiwa perkasa tapi mereka kurang bisa mencontohkan bagaimana menendang bola seperti Maradona. Anak laki-laki galau dimasa mereka mencari jati dirinya. Lagi-lagi Ayah tak ada. Maka saat ada memprovokasi untuk jadi jawara lewat tawuran merekapun sulit mengelak.
Bila menyimak tulisanku tentang sosok Ayah, jangan lantas menganggapku menyampingkan para yatim. Bukankah sosok Ayah juga tetap hadir pada diri Rasulullah Muhammad, SAW yang yatim sejak masih dalam kandungan. Ayah yang terwakili oleh Sang Kakek dan dilanjutkan oleh Pamanda Abu Thalib. Maka buat anak yatim disekitar kita, semoga juga ada sosok Ayah disamping mereka, bila belum maka silakan ambil peran tersebut. Menjadi Ayah yang membanggakan buat yatim tentulah suatu keutamaan. Hingga saatnya kelak, mereka menjadi Ayah-ayah hebat yang berhasil menghantarkan generasi terbaik. Kita bisa belajar dari Ibrahim, AS menjadi Ayah yang bijak bestari, hingga lahir generasi pilihan selayak Islmail, AS. Karena adanya sosok Ayah hebat yang bisa meredakan emosi anak laki-lakinya untuk menghindar dari perkelahian massal. Anak-anak tahu bahwa jantan bin macho selayak Ayah di rumah, tak mesti turun ke jalan buat tawuran. Mengapa kutekankan pada anak laki-laki, sebab sepanjang sejarah yang aku tahu belum ada tawuran pada anak perempuan.

Penanggulangan bila sudah terjadi tawuran, dalam bahasa kesehatannya cara kuratif dan rehabilitatif. Kuratif itu sebuah tindakan mengobati dan rehabilitatif meliputi fase pemulihan. Diantara yang bisa kita lakukan adalah:

Tak hanya cukup dengan kata prihatin seperti yang dilakukan banyak pihak terkait. Tak ada gunanya juga mengecam dan melarang tawuran tanpa memberikan solusi efektif sesuai dengan gejolak remaja. Apalagi bila tawuran sudah membudaya, sulit dihapuskan. Tak akan mudah menghilangkannya. Lakukan pengarahan bertahap. Pendekatan dari semua pihat wajib untuk dilakukan. Ajak komunikasi geng atau kelompok remaja yang terlibat. Karena dalam memandang berbagai permasalahan mereka hendaklah jangan hanya dipandang dari sudut pandang teoritis dari para ahli, namun kita perlu melakukan pendekatan dari sudut pandang sederhana pelajar yang melakukan tawuran itu, gunakan bahasa mereka, bukan bahasa para pakar.


Yang tak kalah penting seperti mengobati sakit kepala, tak cukup dengan memberinya obat penghilang rasa sakit, justru itu menipu. Cara yang benar adalah dengan mencari penyebab sakitnya, obati langsung pada sumber sakit tersebut. Demikian juga pada kasus tawuran, mengobatinya dengan menjebloskan ‘yang dianggap pelaku’ dan mengangkat berita ini menjadi berita utama dengan dalih agar tak dicontoh justru seperti membangunkan harimau tidur. Auranya justru menyebar, banyak pelajar yang malah kebablasan ingin meniru. Maka stop pemberitaan berlebih tentang tawuran, ganti dengan berita kegiatan positif kelompok pelajar di SMA yang saat ini malah belum banyak diliput. Misal tentang gerakan pecinta alam di SMA yang punya program unggulan menanam pohon satu orang satu saat kelulusan, atau ragam acara ROHIS. Kajian tentang tips tata laksana mandi wajib atau trik anggun bergaya saat tadarusan bersama. 

Sumber Gambar.
Semoga dimasa mendatang, banyak foto serupa ini di media, bukan foto tawuran.

Sederhana bahkan klise tampaknya, jadi wajar masih luput dari pemberitaan, sebab media hanya mau mengangkat ulasan pretasi bila sudah bisa menciptakan tekhnolagi canggih sekelas robot atau menang olimphyade tingkat Internasional. Padahal tidak semua pelajar mampu sampai pada taraf tersebut. Sementara mereka juga ingin sesekali ada yang mengakui keberadaannya. Jadi biar tenar dengan mudah (memungkinkan) pilihannya jatuh pada tawuran *na'uzubillahhi... 

Akhirnya, merujuk pendapat beberapa pihak bahwa penyelesaian maraknya tawuran ini bukan dengan menghapuskan tawuran. Namun mengarahkan tawuran dengan cara yang lebih kreatif. Semua pihak hendaknya tidak hanya menyalahkan dan mengecam tawuran, namun mewadahi tawuran. Mengapa  tawuran dilakukan di tempat-tempat umum yang tidak seharusnya adalah karena tidak ada tempat khusus yang mewadahi tawuran itu sendiri, tidak ada pihak yang memfasilitasi aksi tawuran. Masih kurang yang peduli dengan salah satu ekspresi keaktifan dan gejolak remaja dalam proses pencarian jati dirinya dengan mengarahkan bagaimana melakukan “tawuran yang sehat”. 

Bisa diawali dengan membuat agenda tawuran  sesuai waktu yang dijadwalkan, dengan demikian maka tawuran dapat diawasi. Logikanya jika disediakan tempat khusus tawuran, maka tidak akan ada lagi tempat umum yang rusak karena tawuran. Jika ada pihak pemerhati tawuran, maka pelajar pun bisa melakukan tawuran dengan cerdas, penuh strategi selayak bagaimana memperoleh kemenangan dalam sebuah kopetisi. Apalagi hadiahnya sudah disiapkan, misalnya piala bergilir dari Menteri Pendidikan, beasiswa dari Menteri Pemuda dan Olahraga. Olala... Sepak bola banyak diminati oleh masyarakat Indonesia bukankah tawuranpun demikian. Jadi jika pertandingan sepak bola  saja bisa dijadikan ajang nasional pemersatu bangsa, maka mengapa tawuran tidak? 

Tawuran yang tidak menimbulkan korban, tidak merusak fasilitas umum, yang senjatanya dibuat dari bahan-bahan lunak seperti di OVJ dan pemenang tawuranpun dianugerahi hadiah perlu mulai diwujudkan.  Ide gila unik dan memungkinkan untuk dilaksanakan, setidaknya ini menurutku yang kurang faham dunia tawuran ini. Bila saja aku si Pembuat Kebijakannya, akan aku buat UU tentang cara tawuran yang sehat dan damai. Tapi berhubung aku belum bisa ambil bagian sebagai pembuat kebijakan maka bisanya saat ini aku ikut kontes unggulan kiat mecegah dan mengatasi tawuran di Taman Blogger. Mana tahu dapat hadiah 


Indonesia Bersatu


Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bersatu:

Jumat, 27 Juli 2012

Belajar kepada Yusuf

Ini adalah kisah abadi di dalam Al Qur'an, yang disampaikan Bapak Yogie Safril, Kepala Sekolah SDIT Bina Ilmi didepan para siswa/i saat hari pertama sekolah (16/7). Aku yang memang masih menunggu di pinggir lapanganpun ikut menikmatinya. 

Prolog

Kisah yang dibuka dengan sebuah dialog antara Yusuf Kecil dengan Ayahandanya Nabi Ya’qub AS tentang mimpi besarnya, tunduk sebelas bintang, matahari dan bulan di hadapannya.
(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya :” Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku“ (QS Yusuf:4)

Mungkinkah ?

Melihat adegan demi adegan berikutnya, rasanya tidak mungkin Yusuf akan berhasil mewujudkan impiannya. Persekongkolan jahat antara syetan dan saudara-saudaranya telah merubah arah perjalanan hidup Yusuf dan menyimpangkan langkahnya menuju impiannya. Dan setelah itu hanya penderitaan demi penderitaan yang menemani hari-harinya.

Dipisahkan secara paksa dari orang yang dicintai dan mencintainya, terkurung di kegelapan dasar sumur tua, menjadi budak yang diperjual belikan di pasar. Itulah urut-urutan berikutnya dari perjalanan hidup Yusuf sampai akhirnya dia dibeli oleh seorang bangsawan Mesir untuk dijadikan pelayan di rumahnya sampai Yusuf tumbuh menjadi seorang lelaki dewasa yang sempurna ketampanannya laksana malaikat yang mulia.
” ....Dan mereka berkata : Maha Sempurna Allah, ini (Yusuf) bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia(QS Yusuf: 31)

Ternyata penderitaan belum berakhir, ketampanannnya justru kemudian mengantarkannya ke puncak penderitaannya, dijebloskan ke penjara yang pengap tanpa salah. Di mana mimpinya dahulu ? Apa yang bisa dilakukan Yusuf dalam penjara untuk mewujudkan impiannya ?

Subahanallah, luar biasa, dalam puncak deritanya justru Yusuf mampu menemukan dan mengasah potensi dirinya, dia mampu menemukan titik terkuat dalam dirinya. Maka meskipun samar dan tersembunyi celah keberuntungan mulai menghampiri dirinya. Prestasi kecil yang diraihnya ketika menjawab problem yang dihadapi dua temannya di dalam penjara menjadi The Turning Point menuju impiannya, walaupun dia masih harus menunggu beberapa tahun lagi. Tapi Yusuf tidak putus asa, dia tetap berusaha, berusaha dan berusaha meningkatkan kompetensi dirinya walaupun berada di balik penjara yang pengap.

Akhirnya saat itu tiba, peluang besar terkuak dan tidak ada seorangpun yang mampu mengambilnya kecuali Yusuf. Maka dari balik penjara yang dingin dan pengap dia berjalan ke istana yang hangat dan megah mengambil peluang besar tersebut sambil berkata :
Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai lagi berpengetahuan(QS Yusuf: 55)

Jalan menuju impian semakin terkuak lebar di hadapan Yusuf, derita tak lagi mampu menahan langkah Yusuf untuk meraih takdir yang diimpikannya semasa kecil; sebelas bintang, bulan dan matahari bersujud di hadapannya. Dengan air mata berlinang Yusuf merayakan kemenangannya sambil bersimpuh dan menengadahkan ke dua belah tangannya kemudian dengan suara lirih berkata :


Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh (QS Yusuf: 101)

Epilog


“ Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud. Dan berkata Yusuf “ Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Rabbku telah menjadikannya suatu kenyataan…..” (QS Yusuf:100)

Demikianlah adegan terakhir dalah kisah dramatis ” Yusuf Menggapai Mimpi”. Salah satu kisah dalam Al Qur’an yang berhasil menyabet predikat “Ahsanal Qoshos” (The Best Story).

 “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui(QS Yusuf : 3)

Ini bukan cerita pengantar tidur, bukan kisah dari negeri antah berantah, tapi sebuah pelajaran Tuhan yang mengguncang fikiran, menjungkir balikkan paradigma, menyengat perasaan dan membakar jiwa. Sebuah taujih Rabbani yang akan menghapuskan kata ”Tidak Bisa” dalam kamus kehidupan, membuang kata ”Tidak Mungkin” dalam catatan harian. Sebuah penawar Ilahi di saat duka dan putus asa.

Mimpikanlah keberhasilanmu sekarang, jangan hindari jalan yang paling sulit untuk dilalui, panjatlah gunung yang paling terjal untuk didaki, bila perlu ambil laut yang terdalam untuk disebrangi, kemudian bersabarlah sebentar maka yakinkanlah jalan menuju impian itu akan terkuak lebar di hadapanmu. Terakhir, jangan lupa rayakan kemenanganmu dengan ledakan rasa syukur, guyuran air mata ikhlas, dan rintihan do’a pada Sang Pembuat Takdir dari mimpi-mimpi kita.

Sekarang ambilah buku harianmu, tuliskan tebal-tebal dengan huruf paling besar tentang MIMPI-MIMPIMU, yakinkan hatimu akan mampu meraihnya, kemudian bersabarlah, maka BANGKITLAH karena KALIAN adalah YUSUF DARI MIMPI ITU.

***

Aku bukannya ingat kata perkata, tapi kisah ini sama dengan isi ceramah pekanan yang aku dapat beberapa bulan lalu, kali ini aku sajikan dengan sedikit peng-editan. Semoga bermanfaat...