Tampilkan postingan dengan label Catatan Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Mei 2014

Waspadai Peningkatan PTM

PTM alias Penyakit tidak menular, belakangan makin jadi sorotan di dunia kesehatan baik Nasional maupun Internasional. Pola hidup yang berubah, dari kebiasaan menyantap makanan siap saji, kebiasaan oleh raga yang makin minimalis, apa-apa dilakukan pakai mesin makin mendukung ledakan kasus PTM.

Sebenarnya pemerintah lewat dinas kesehatan  sudah melakukan banyak hal untuk mengatasinya, dari penyuluhan sampai melakukan pemeriksaan gratis untuk tekanan darah dan bahkan sesekali dilakukan pemeriksaan gratis terkait gula darah sewaktu (GDS) karena memang kasus DM tipe II makin banyak saja. Banyaknya obesitas pada anak juga harus jadi perhatian.

Dalam hal ini kita tak bisa bekerja sendiri, harus melibatkan banyak pihak. Ahhh terlalu muluk ya kedengarannya, sayapun belum melakukan dengan baik padahal tugas saya di kantor yang berkutat di masalah Penanggulangan Penyakit Tidak Menular ini, lah bagaimana ya, masyarakat kita masih sulit sekali diajak melakukan pemeriksaan berkala. Lebih sering sudah ada keluhan baru ribut cari obatnya.

Sering menganggap segala sesuatu hal kecil, sepele. Contoh kasus saja, ini saya tampilkan data terbaru dari Puskesmas Makrayu, sebuah Puskesmas yang ada di Kota Palembang. Coba perhatikan, ini data kasus baru PTM dari Januari - Maret 2014. Focus di hipertensi saja.




Saat data ini saya tampilkan tak sedikit yang berkomentar, cuma sedikit kok, itu Januari cuma 1 orang. Hallo!!! Kalau 1 orang tiap bulan di setiap Puskesmas yang ada 16 di Kota Palembang saja sudah 16 orang. Tambahkan dengan kasus lama yang memang sudah ada. Gabungkan dengan Kota lain. Di Sumsel saja ada 17 kota, kalau masing masing ada 16 Puskesmas saja artinya sudah ada 17 x 16 orang di Sumsel. Belum di Propinsi lainnya. Indonesia raya ini luas, Propinsinya ada 33. Alangkah banyaknya. Jadi waspadalah.

La trus kita bisa bantu apa?

O iya pasien hipertensi yang sadar dirinya itu hipertensi hanya 70 % lho, dan dari yang sadar itu hanya 30 % saja yang mau rajin kontrol, padahal hipertensi itu penyakit kronis, yang memang tak bisa disembuhkan, hanya bisa dikendalikan dan dicegah akibat lanjutannya seperti stroke dst.

Jadi sebagai individu tugas yang bisa kita lakukan:

1. Menjadi pribadi dan pelopor untuk melakukan cek kesehatan secara berkala, jangan tunggu ada keluhan.
Ingat pesannya Imam Syahid Hasan Al Banna, Kewajiban Muslim pada point Ke - 3.
Hendaklah engkau melakukan general check up secara berkala.
Segera berobat, begitu penyakit terasa mengenaimu.
Di samping itu perhatikanlah faktorfaktor
penyebab kekuatan dan perlindungan tubuh, dan hindarilah faktor-faktor penyebab lemahnya kesehatan.

2. Jauhkan asap rokok dari lingkungan tinggal dan kantor kita, sebab perokok pasif juga berbahaya.

3. Menjadi pribadi dan penggerak keluarga untuk rajin beraktivitas. Jangan dikit-dikit naik lift, naik ojek. Kalau memungkinkan buat jadwal berolah raga bersama keluarga. Idealnya 3 kali seminggu selama 30 menit tiap periodenya.

4. Menjaga pola makan diri dan keluarga untuk ikuti Menu Sehat Beragam dan Seimbang sesuai dengan kebutuhan kalori.

5. Upayakan istirahat yang memadai. Ikuti anjuran sunnah untuk tidur yang sehat.

6. Pandai-pandailah mengelola stress, kuncinya iman dan takwa.

Ini sesuai dengan pola hidup CERDIK sesuai arahan Direktorat PPTM.







C  CEK KESEHATAN BERKALA

E ENYAHKAN ASAP ROKOK

R RAJIN AKTIVITAS FISIK

D DIET DENGAN KALORI SEIMBANG

I ISTIRAHAT YANG CUKUP

K KELOLA STRESS


Ya semoga ada manfaatnya, mengisi blog sambil buat laporan di kantor.
Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil dan yang penting, mulailah sekarang juga.

Senin, 14 Januari 2013

Giveaway Senangnya Hatiku: Saat Bertugas

Sebuah pengalaman yang sebenarnya sudah sering aku ceritakan di blog ini. Sudah berseri bahkan, tapi jujur aku tak pernah bosan untuk mengulangnya, mengambil sisi lain disetiap jengkal kenangan tersebut. Saat dimana pada musim haji tahun 1431 H atau bertepatan dengan tahun 2010 yang lalu aku diizinkan Allah menginjakkan kaki di dua tanah haram, dan bisa menunaikan rukun islam kelima, walaupun bukan sebagai jama'ah biasa. Karena aku diberi kesempatan naik haji gratis, tanpa bayar dan tak perlu mengantri. Pada tahun yang sama untuk bisa berangkat haji seseorang harus sudah mengantri paling tidak sejak dua tahun yang lalu, adapun sekarang antrian calon jama'ah haji khususnya Sumatera Selatan sudah sampai 2023, sepuluh tahun lagi. Dan saat itu akupun mendapat uang honor dari tugas yang dijalankan. Yang jumlahnya lumayan, kalau dibelikan motor bebek merk ternama uangnya masih ada kembalian. Nah kenapa ujung-ujungnya ngomongin duit yak? Ini imbas rasa senang dihati. Pokoknya Subhanallah dech, syukur Alhamdulillah...
 
Alkisah, aku berangkat sebagai Petugas Kesehatan Haji Indonesi, tepatnya sebagai dokter kloter 31 JKG. Tugasku saat itu adalah sebagai koordinator kesehatan kloter yang harus mengurusi 450 orang jama'ah dan didampingi oleh 2 paramedis yang lain. Bayangkan kami bertiga harus mengurusi begitu banyak orang. Berat rasanya, tapi karena aku yakin bahwa ini adalah tugas mulia maka aku tetap bersemangat. Apalagi menjadi dokter kloter atau sering juga disebut TKHI (tim kesehatan haji Indonesia) adalah impianku sejak zaman kuliah dulu. Namun karena saat tamat aku sudah menikah dan sulungku masih batita maka keinginan tersebut hanya aku pendam. Anak kedua lahir tak sampai dua tahun kemudian, dan dengan komitmenku untuk tetap memberikan ASI sampai umur 2 tahun, maka niatan untuk ikut seleksi TKHI belum juga bisa kuwujudkan. Tahun berikutnya saat ananda belum disapih, suami masih berat mengeluarkan izin. Maka tiba masanya Hamas berumur 5 tahun, barulah suami berkenan memberiku izin, lama ya, tapi justru izin suamilah kata kuncinya, maklum masa tugasnya 40 hari.

Awalnya memang suamiku berat melepasku berangkat sendiri ke sebuah Negeri yang jauh dalam waktu yang lama, tapi aku berhasil meyakinkan. Sumber kekhawatirannya adalah karena aku punya penyakit ashtma, sedangkan tugas selama disana terkategori berat dan cuaca yang sangat ekstrim. Panas dan dingin yang berbeda dari Indonesia. Alasan yang masuk akal bukan? Aku sebenarnya juga tak kalah cemas, tapi aku mengantisipasi semuanya dengan persiapan yang matang. Ibarat mau perang, amunisiku harus yang terbaik dan juga harus menguasai medan. Olahraga teratur, bawa habattussauda, spirulina dan kopi Radix untuk menjaga stamina selama disana. Sedangkan untuk berjaga-jaga aku tetap membawa inhaler, obat ashtma pamungkas yang disemprotkan bila terjadi serangan. Dan alhamdulillah selama disana, kesehatanku justru paripurna. Jangankan ashtma, batuk filekpun tak kebagian, bukannya aku termasuk golongan onta atau tiang listrik lho, secara katanya semua jama'ah haji pasti mengalami batuk filek, kecuali onta dan tiang listrik, hiiii... Tapi sungguh, para jama'ahpun banyak yang heran, kenapa aku tak kena batuk filek seperti kebanyakan mereka, bahkan ada yang sampai berulang kali. Ini bisa jadi karena banyak yang mendo'akanku dan yang pasti karena Allah sudah menunjukkan Maha Kuasanya.
  
Dan seperti yang kita ketahui haji itu adalah satu bentuk ibadah fisik. Artinya semua rangkaian ibadah selama di sana sangat mengandalkan kesehatan dan kebugaran jasmani. Saat berangkat sebagai petugas tanggung jawabku adalah membantu para jama'ah untuk tetap sehat saat menjelang, puncak haji dan sampai kepulangannya. Sebuah kebahagian yang luar biasa bila kita bisa mendampingi para jama'ah melaksanakan ibadahnya dengan maksimal karena ditunjang oleh kesehatan yang baik. Karena tak semua jama'ah haji Indonesia dapat sukses menjalankan semua rangkaian ibadah selama disana, paling mereka hanya mampu berada pada zona aman. Artinya berada pada kondisi hanya bisa ikut ibadah wajibnya saja. Padahal berapa banyak biaya yang sudah dikeluarkan untuk berangkat, mencapai > 30 juta. Mau tahu penyebabnya? Umumnya ini karena kondisi kesehatan mereka yang tidak memungkinkan, sudah banyak yang lanjut usia. Jadi untuk tawaf keliling ka'bah 7 kali saja, mereka harus naik kursi roda, butuh biaya lagi. Apalagi sya'i bolak-balik Syafa ke Marwa, banyak yang tak kuat lagi. Ditambah daya ingat para lanjut usia sudah semakin menurun, akibatnya sering nyasar dan banyak lupa tuntunan ibadah haji. Och sungguh disayangkan.
 
Setiap tahunnya jumlah calon jama'ah haji Indonesia akan terus bertambah, seiring dengan kesadaran beragama yang makin baik juga tingkat ekonomi yang semakin sejahtera. Tapi yang justru memprihatinkan, jumlah yang makin banyak itu tidak dibarengi dengan mutu yang makin baik pula. Sedih bila melihatnya, banyak jama'ah haji kita yang hanya sibuk belanja. Kalau ditanya mengapa tak sholat ke Masjid Haram, alasannya kurang enak badan. Tapi kalau belanja oleh-oleh bisa dari pagi sampai malam, enak-enak saja itu badannya. Belum lagi banyak yang rajin mengeluh. Cuaca panas dikeluhkan, antri kamar mandi mengeluh, makanan tak sesedap di Indonesia bisa jadi bahan keluhan berkepanjangan. Kasiankan, jadi hilang rasa syukurnya.

Terlebih pada puncak haji saat fase wukuf di Arafah, Musdhalifah dan mabid 3-4 hari di Mina. Totalnya hanya 5 hari saja pelaksanaan ibadah wajib. Secara lebih jelas pernah kuceritakan disini. Sedangkan sisa waktunya untuk serangkaian ibadah sunnah yang memang sangat menggiurkan pahalanya. Coba renungkan, satu kali sholat wajib di Masjidil Haram, Mekkah sama dengan 10.000 sholat dimasjid biasa. Sedangkan untuk sholat di Masjid Nabawi, Madinah itu setara 1.000 kali. Sebuah keutamaan yang tak selayaknya dilewatkan. Maka bila suatu saat kita berangkat haji, usahakan saat masih muda, agar selama disana bisa optimal beribadahnya bahkan bisa menolong orang lain. Biasanya jama'ah yang masih muda akan lebih banyak melakukan ibadah-ibadah sunnah selama disana karena fisiknya lebih bugar dan kesehatan badannya lebih terjaga.   

Tapi tidak semuanya begitu, banyak juga jama'ah haji yang tetap semangat dalam beribadah selama disana. Sering sulit sekali ketemu mereka di Maktab karena dari sebelum subuh sampai setelah Isya beribadah di Masjidil Haram. Ya, saat di Mekkah kami mendapat Maktab yang jaraknya sekitar 2 Km, jadi tanggung memang kalau mau bolak-balik. Ada juga angkutan, tapikan mesti tambah ongkos, belum lagi cuaca yang memang jauh lebih panas dibanding di Indonesia. Jadi memang kalau aku selaku jama'ah yang leluasa beribadah sunnah, pasti juga memilih banyak-banyak berada di Masjidil Haram, menggunakan aji mumpung, mumpung di Mekkah, kapan lagi. Namun aku sadar, kondisiku berbeda, bila ingin ke Masjidil Haram harus lihat situasi dan kondisi kesehatan para jama'ah dulu, kalau aman baru bisa berangkat. Dan itupun harus gantian dengan petugas yang lain. Namanya petugas, berada di sana adalah dalam rangka tugas, mendampingi para jama'ah haji. Setiap hari selama di Mekkah bisa ke Masjidil Haram pada satu waktu sholat saja sudah bersyukur. Itupun dalam kondisi yang sangat beragam, ada yang mengambil waktu subuh, berangaktnya tengah malam, sekitar jam 2. Atau pada waktu dhuha sampai dzuhur. Biasanya aku pergi bersama dengan rombongan jama'ah yang lain. Kadang lihat mereka jalan bareng suami atau orangtuanya, aku suka sedih sendiri. Tapi aku yakin suatu hari aku akan datang lagi kesana, tidak sendiri lagi dan bukan sebagai petugas. Do'akan ya...

Dan bila berkisah tentang Madinah, membuatku banyak merenung tentang peristiwa hijrah. Ternyata jarak antara Mekkah ke Madinah itu jauh. Kalau naik bus sekitar 7-8 jam perjalanan. Selama dalam perjalanan menuju ke Madinah, aku merasakan suasana yang mengharu biru. Membayangkan sosok Nabi Muhammad yang Agung bersama para sahabat saat peristiwa hijrah, mereka hanya berjalan kaki, sebagian dengan naik onta. Sejauh mata memandang hanya gurun pasir dan batu cadas, panas terik sangat menyengat. Apalagi mereka harus berangkat dibawah kejaran kaum kafir Quraysi, sungguh peristiwa yang luar biasa. Dan aku selalu terkesima kalau mendengar atau membaca cerita hijrah. Sangat fenomenal. Wajarlah bila dianggap sebagai tonggak babak baru dakwah Nabi. 
 
Maka saat kloter kami sampai di Madinah, aku sungguh kagum dan terpesona. Begitu damai. Kota yang bersih, tertib dan sangat bersahaja. Aku langsung jatuh hati. Rasa segera ingin beristirahatpun hilang, dikalahkan oleh hasrat untuk berziarah ke makan manusia paling mulia, Nabi Akhir zaman. Makam Nabi Muhammad, SAW tersebut terletak di salah satu sudut masjid Nabawi. Didukung dengan jarak antara Maktab dengan masjid Nabawi hanya 200 m saja. Kubah masjid bahkan terlihat jelas dari Maktab kami, suara adzanpun terdengar keras. Pokoknya semua jama'ah kloter kami langsung sehat sampai di Madinah. Bukan berarti tak ada jama'ah yang sakit. Ada, tapi tak banyak, rata-rata aman terkendali. Ada satu jama'ah kloterku yang sejak awal datang ke Madinah sampai menjelang pulang ke tanah air harus rawat inap di BPHI karena ashtmanya anfal dan paru-parunya gagal mengembang sehingga selalu perlu dipasang oksigen. Hal ini dipicu juga oleh cuaca dingin di Madinah saat itu yang mencapai 6 derajat Celsius, dingin menusuk sampai ke tulang. Aku yang juga ashtma sangat bersyukur bisa bertahan dicuaca yang sangat dingin itu.

Bersama Nenek Halimah, seorang jama'ah yang berumur 80 tahun,
yang rajin menyambangiku ke Posko Kesehatan. 
Jama'ah tertua dikloterku adalah Nenek Zahro, 90 tahun, sudah lumpuh dan pikun, berangkat bersama anak dan menantunya.

Bersama dua Nini yang selalu semangat ke Nabawi, Nenek Jamilah dan Nyai Masayu.
Jangan tanya umurnya ya karena aku lupa mencatat :D


Berada di Madinah hanya 8 hari, semuanya untuk serangkaian ibadah sunnah. Ziarah ke makam Nabi, ke Raudhah dan sholat wajib selama 40 waktu di Masjid Nabawi (ini yang dikenal dengan sebutan sholat Arbain). Entah karena senang hampir pulang ke tanah air, atau senang karena leluasa bisa ke Masjid Nabawi tampa khawatir tersesat, umumnya jama'ah kloterku jadi sehat dan segar. Mereka bahkan bersemangat bisa ikut sholat Arbain di Masjid Nabawi. Aku juga luar biasa bahagianya, karena semua jama'ah sehat artinya aku bisa leluasa selama di Madinah. Mana lagi memang managemant penanganan jama'ah yang sakit sangat berbeda dengan di Mekkah. Kalau ada jama'ah kloter yang perlu diinfus, maka aku harus langsung merujuknya ke Sektor, dari sanapun biasanya langsung dibawa ke BPHI (Balai Pengobatan Haji Indonesia). Rangkaian kemudahan dari Allah yang sangat aku syukuri. Akupun puas berpetualang di Madinah. Ke Raudhah, ikut shalat Arbain, kepasar kurma, pokoknya puncak bahagianya aku adalah saat berada di Madinah ini. 

Sejujurnya saat bertugas sebagai dokter kloter inilah yang paling membuat hatiku senang, sepanjang sejarah menjalani tugas keprofesian ini. Dan akhirnya berangkat dari pengalamanku bertugas ini, sepenuh hati aku menghimbau kepada semua sahabat blogger agar meniatkan diri untuk bisa berangkat haji selagi masih muda. Selanjutnya usahakan segera mendaftar sesegera mungkin sesuai dengan kemampuan. Jangan menunggu ada kelebihan rezky baru mendaftar, tapi sebaliknya dengan mendaftar haji, Insya Allah akan diberikan keluasan rezky. Karena tugas kita adalah menjalankan serangkaian proses memantaskan diri untuk menjadi tamu-Nya di Baitullah. Sempurnakan do'a-do'a kita untuk menuju kesana. Soal giliran tahun berapa kita akan berangkat haji, serahkan hanya pada-Nya.


ga amazzet
Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway Senangnya Hatiku.

Rabu, 23 Mei 2012

Hanya Sehari di Lintang

Melanjutkan kisah Liburan Balek Dusun yang teramat berkesan kemarin, ternyata malah sempat membuatku bingung mau nulis yang mana dulu, lebay :) Bagaimana tidak, keseruan bertumpang tindih, menyentak-nyentak seperti mau meledak, tapi waktu belum jua bersahabat, piutang kerjaan masih menunggu diselesaikan, imbas liburan nambah sehari kemarin *aku masuk kantor baru Selasa, karena Senin kupakai izin menampingi tugas suami, boleh dong...

Tapi daripada tak ada sama sekali, aku sempatkan nulis yang sedikit ini...

Kamis-Jum'at kami menginap di Lintang, Empat Lawang. Nama tenarnya, sebutan ini yang sering dibahasakan Jidah pada kami. Padahal nama dusunnya Gunung Merakso Baru, salah satu dusun yang dulu masuk Kabupaten Lahat tapi kini sudah ikut Kabupaten Empat Lawang. Dulu Nek Anangku suka bercerita, bahwa daerah Lintang terkenal rawan, banyak rampok dan penjarahan, apa lagi kalau musim paceklik. Kalau punya ternak, sapi misalnya, kita harus ikut tidur di kandangnya, kalau tidak, pagi sudah hilang. Pelihara ikan juga begitu, harus dijaga dengan tidur dipinggir empangnya kalau mau menikmati hasil panen. Aku kira itu dulu saja. Ternyata masih berlaku sampai sekarang. Kalau ada orang datangan ke dusun tersebut, motor atau mobilnya bakal dijarah orang, minimal dirusak. 

Dan kami ikut dicekam rasa was-was saat menginap kemarin, mobil kami harus dijagai sepanjang malam oleh adik sepupunya Jidah, Mang Fauzi, beliau harus tidur semalaman di dalam mobil. Kasian kan... Makanya rencana kami menginap 2 malam di Lintang batal, dipersingkat jadi hanya semalam. Alhasil, sepanjang hari Jum'at kami berusaha merampungkan acara silaturahim pada sanak keluarga dan berziarah ke makam. Bahkan kami menyempatkan ke rumah sepupuku yang berjarak 3 dusun dari Gunung Merakso Baru. Sepupuku anak Ayuk Mamaku, Uwak Ubai yang sekarang ikut anaknya di Way Kanan juga. Pada kesempatan ini kami ajak serta sebagai penunjuk jalan.

Full, sampai sore. Jelang magrib kami menuju Pagar Alam, menginap di Tinggi Hari, rumah Uwak sahabatnya Abi Hamas yang kosong, memang sudah disiapkan untuk kami sekeluarga masuk Sabtu, syukurnya mereka langsung mempersilakan saat kami mengabari bahwa kami akan datang Jum'at malam. Maju satu hari. Bukan takut, tapi karena banyak pertimbangan, belum lagi kelangkaan BBM *baca premium, mobil kami 1300 CC lho, haknya pakai BBM bersubsisi ya... sudah makin parah di daerah Lintang, antrian sampai 1/2 Km di SPBU, jual eceran dengan harga membumbung dan kualitasnyapun meragukan. Begitulah Negeriku, prihatin ya...

Semoga besok bisa kulanjutkan ;) 

Selasa, 22 Mei 2012

Liburan Balek Dusun

Kamis tanggal merah, disambung Jum'at cuti bersama. Sabtu dan Ahad memang libur. Senin Abi punya kerjaan di PN Pagar Alam. Akupun punya tugas mengawali survey Filariasis ditiga kabupaten berendeng, Lahat - Pagar Alam- Empat Lawang. Waktu yang sayang bila dilewatkan untuk tidak sekalian merencanakan liburan keluarga. Jadilah semua dipadu-padankan agar bisa berjalan bersama, beriringan, menyenangkan dan yang terpenting dengan hasil maksimal. 

Menjadi paket liburan yang seru manakala Jidah juga ternyata ingin ikut sekalian balek dusun ke Lintang Empat Lawang, tanah kelahirannya. Sekalian ziarah ke makam Umak katanya. Ternyata saat dihitung-hitung sudah 18 tahiun beliau tak ke sana. Aku sendiripun sudah > 30 tahun tak menginjakkan kaki ke dusun tersebut, tak ada memori yang kuingat tentang rumah panggung Nek Anang, empang dipekarangan, sawah atau gemericik aliran air pegunungan di belakang rumah. Dan semua bayanganku tentang apa yang sering diceritakan Jidahpun tak kutemukan. Karena seluruhnya sudah berganti wajah, pemiliknyapun sudah berubah. 

Maka hari Kamis hingga Jum'at kemarin kami menginap dirumah Nek Anang Romli, adik kandung Almarhum Nek Anangku, beliaulah Paman Jidah satu-satunya yang masih hidup dan punya rumah di dusun itu. Kami sampai saat hari sudah malam, 10 jam waktu yang kami butuhkan melewati liku likat Pagar Alam yang terkenal itu. Sepanjang hari Jum'at kami bersilaturahim ke rumah para sepupu Jidah dan berziarah ke makam Nek Ino Sahatimah (Umaknya Jidah) juga Buyut H. Amak (Abahnya Nek Anang Roniku).

Rumah Nek Anang Romli, tempat kami menginap Kamis-Jum'at.
Selang dua rumah dari depan Rumah Nek Anang Romli,
SD Jidah dulu, sudah banyak berubah.
Sementara makam Nek Anang Roni seperti yang dulu pernah selintas kutulis, adanya di Tanjung Karang dekat Komplek Rumah Mang Win (Adik Jidah), karena memang beliau meninggal saat di RSAM Tanjung Karang. Beliau menghabiskan sisa hidupnya di Blambangan Umpu kampung Datuknya Hamas. Achh jadi terkenang Nek Anang Roniku, beliau yang hanya mau tinggal dengan Jidah sepeninggal Nek Inoku, meski anaknya yang lain ada 4. Beliau yang selalu sehat meski dengan darah tinggi yang terkontrol. Beliau tutup usia pada 07 Mei 2009. Di awali dengan serangan sroke, hanya beberapa jam di ICU RSAM. Syukurnya beliau berwasiat untuk menguburkan dimana saja tempat terdekat saat beliau meninggal. Bukan disamping kubur Nek Inoku yang ada di dusun Lintang. Tak ingin merepotkan *maaf jadi edisi kenang-mengenang yang tak berujung pangkal...

Pendeknya acara liburan kemarin berjalan dengan lancar dan sucses, hanya nge-Blog yang tak bisa sesuai rencana, mendadak hiatus, sebab ternyata jaringan tak bagus disana, belum lagi raga yang lelah dan kedinginan *dusunnya di kaki Gunung Dempo, kebayang dong... maunya langsung istirahat saja. Rindunya mau berselancar ke rumah maya para sahabat, semoga bisa kesampaian hari ini dan esok-esok.

*Balek Dusun = Pulang Kampung

Belum Selesai.

Senin, 07 Mei 2012

Temuan di Tanjung Pandan

Catatan perjalanan yang sempat tertunda karena ikut moment seru Kartinian di Blognya para Sahabat. Sayang bila dilewatkan, makanya aku memilih menunda posting ini *maaf walau tak ada yang bertanya...

Rombonganku tiba di Bandara H.AS. HANANDJOEDDIN lewat tengah hari, terik yang menyambut kami ternyata lebih dari yang kubayangkan. Lebih panas dari Palembang, tak ada sejuk-sejuknya. Gegas kami menuju kantin, karena seorang rekanku nyaris mabok kelaparan, maklum lagi hamil muda. Tak ada acara foto-foto disini, kami jalan lurus bak pakai kacamata kuda, beeeuuu... Singkat cerita kami menyelesaikan acara lapor-melapor siang itu juga dan mencari hotel yang sesuai dengan anggaran   standart pegawai pemerintah. Lagi-lagi tak ada acara berfoto-ria, sumuk, maunya langsung bisa rebahan.

Dan senangnya saat kami berhasil menemukan kamar kosong di Hotel Harlika Jaya, persis di bibir Pantai Tanjung Pendam, bersisian dengan Hotel Bintang 4, GRAND HATIKA *mirip ya namanya...

Pagar Hotel yang tampak dari Bibir Pantai.
Pantai yang sedang surut^^
Tampak Depan, bagai Padepokan.
Somay dan Rujak yang tak sempat kucicipi ;(
Tapi kata kawanku yang hamil muda, eeuuunaak tenan.
Ada banyak hotel yang tersebar di Tanjung Pandan, hanya yang perlu kuingatkan, sebaiknya kita sudah punya rujukan kalau mau berlibur ke Belitong khususnya Tanjung Pandan - Manggar - Gantong. Sebab sudah banyak hotel yang menyediakan paket liburan super murah, mereka biasanya bekerjasama dengan pihak travel. Boleh menghubungi Pak Tarmizi, kami memanganggilnya Bang Mizi *masih muda dan sangat bersahabat... beliaulah yang setia mengantarkan kami kemana-mana selama di Belitong.

Jalan sedikit dari tempat kami menginap, ada Museum Timah yang berhadapan langsung dengan RSUD Tanjung Pandan. Sayangnya aku tak bisa masuk ke Museum tersebut, sebab setiap tiba diseputarannya hari selalu diujung petang, sudah tutup. Begitu pula kalau pagi harinya, berangkat ke tempat tugas pagi buta, jadi Museumnya masih belum buka.

RSUD Kabupaten Belitong, tampak samping.
Lokomotif ala Museum Timah.
Tampak depan, Museum Timah.

Lanjut, jalan lagi, kita bisa melihat bangungan tua peninggalan Belanda, namanya Eks. Rumah Tuan Kuase. Di depannya ada Masjid Megah, namun sayang tak ada difotoku dan akupun lupa namanya.

Penampakan plank namanya.
Bangunan Tua yang tampak terawat.
Saat aku asyik mengambil foto-foto bangunan yang kuanggap 'sesuatu' disekitar tempat kami menginap, Bang Mizi langsung menawari untuk berkeliling kota imut Tanjung Pandan sore itu. Maka inilah yang kutemukan selanjutnya. Tampak sebuah gedung tua yang dimultifungsikan sebagai tempat olahraga atau gelar seni, orang sana menyebutnya GEDUNG NASIONAL.

Ada yang sedang khusuk menikmati senja.
Banyak sampah di halamannya. 
Bangunan di depan Gedung Nasional, lupa namanya^^
Keliling lagi ke arah pelabuhan, tengok kiri dan kanan, lihat seputaran jalannya. Ooo banyak bangunan tua dimana-mana, sampah juga tak mau kalah menyebar teronggok dipinggir jalan. Jangan tanya ini tugas siapa? Atau salah siapa? Tapi inilah yang kulihat. 

Ini di Pusat Kota Tanjung Pandan.

Sampailah kami di gerbang pelabuhan Tanjung Pandan, hhuuppps apa ini tempatnya Ikal dan Aray menyebrang saat mau ke Pulau Jawa? Bukan, kurasa itu dari Manggar. Karena di Manggar juga ada pelabuhan kapal lautnya.

Khasnya pelabuhan, banyak truck.
Kapal yang merapat.
Disekitaran Pelabuhan,
tampak  spanduk LASKAR PELANGI.
Berakhir sudah acara menyusuri kota Tanjung Pandan senja itu. Yang terekam dalam benakku, Tanjung Pandan sebuah kota kecil yang sudah ada sejak zaman Belanda dulu, saat Timah mencapai puncak kecayaannya dikelola oleh pihak asing. Sekarang masanya sudah berganti, meski Timah masih bisa ditemukan disepanjang pantai Belitong tapi pengelolaannya sudah dikerjakan secara perorangan. Tak ada lagi perusahaan asing yang mendominasi, runtuh seiring majunya pemikiran anak negeri. Tapi belum berhasil juga PEMDA setempat mengelolanya secara optimal. Barangkali, masih butuh waktu.

Lain hari kami berburu ikan dan cumi-cumi di Pasar Baro', melanglangbuana mencari segepok oleh-oleh dan mendampingi Ibu Titi yang tertarik dengan kerajinan Batu Satam. Pada kesempatan lain kamipun menghabiskan senja di beberapa Pantai kenamaan sekitaran Tanjung Pandan, 30-45 menit kearah luar kota, tapi berlawanan arah dengan Kabupaten Belitong Timur. Semoga bisa kulanjutkan esok hari.

Ini nomor handphone Bang Mizi 0818112719
Pengelola Tour & Travel di Belitong.

Jumat, 27 April 2012

Pada Pasir

Jari jemari^^
Bayangan diri...
Cinta oh cinta^^

Edisi bermain pasir di Bukit Berahu. Sebuah pantai nan elok di Belitong.
Waktu yang diperlukan ke sana dari tempat kami menginap sekitar 20 menit, dekat ya... 
Khasnya pantai ini harus melewati tebing yang curam sejumlah 93 anak tangga...
Kapan-kapan kulanjutkan ceritanya ya, mau siap-siap ke Bandara dulu :)

Rabu, 25 April 2012

Kuliner Belitong: Gangan

Masih ceritaku dari Belitong. Setelah sepanjang pagi kami mengadakan wawancara, sekedar penyuluhan dan pengampilan sample di Puskesamas dan SMA, tibalah waktunya kami menunaikan hak fisik untuk bersantap. Untuk itu kami menyerahkan pada petugas dari DINKES setempat. Ikut saja, dijamin euunaak, kata hatiku ngidem.

Dan benar saja. Siang kemarin (24/4) kami dibawa ke Berage *bacanya pakai E taling ya jangan e pepet... Tahu artinya? Aku juga baru tahu kok...

Berage artinya menghidangkan, kalau bahasa Palembangnya 'besaji'


Tempatnya unik, paling tidak menurutku lho ya...
Coba lihat dech...


Gambar apanya coba? Ini plafonnya lho, berbatik ria, senada dengan tempat tissue dan lain-lainnya. Masakannya? Ooohhh, rasanya memang memuaskan, khasnya merasuk sukma *jiiiaaaahhh... 

Kenalkan, ini tokoh utamanya, sebut saja GANGAN.

Gangan Khas Belitong^^
Satu porsi seperti ini Rp. 115.000,-
Gangan dan kawan-kawannya di Berage.
Ada cumi goreng juga^^
Ikan Bulat Bakar, harga satuannya Rp. 35.000,-

Gangan itu ternyata mirip-mirip pindang tapi beda, serupa LEMPA KUNING kalau di Bangka. GANGAN bisa dibuat dari ikan apa saja, tapi khasnya pakai kepala ikan krakap. Lezatnya sangat, harganya lumayan juga, satu porsinya bisa dimakan berempat atau berlima. Berbeda dengan harga makanan yang lainnya,  jauh dibawah. 

Kawan makan GANGAN bisa macam-macam tergantung selera. Ada yang namanya sambal sereh. Mantap. Pokoknya siang kemarin memang waktu makan yang langka buat kami, ingat cerita seorang sahabat kalau di Belitong makan ikan lauk nasi, berbeda dari biasanya makan nasi lauk ikan, hohoo... Jadi kalau suatu saat bertandang ke Belitong, mampirlah ke Berage dan cicipi masakan khasnya, GANGAN dari kepala ikan krakap, yaaammm....

Maaf ya belum bisa BW :(