Selasa, 22 Mei 2012

Liburan Balek Dusun

Kamis tanggal merah, disambung Jum'at cuti bersama. Sabtu dan Ahad memang libur. Senin Abi punya kerjaan di PN Pagar Alam. Akupun punya tugas mengawali survey Filariasis ditiga kabupaten berendeng, Lahat - Pagar Alam- Empat Lawang. Waktu yang sayang bila dilewatkan untuk tidak sekalian merencanakan liburan keluarga. Jadilah semua dipadu-padankan agar bisa berjalan bersama, beriringan, menyenangkan dan yang terpenting dengan hasil maksimal. 

Menjadi paket liburan yang seru manakala Jidah juga ternyata ingin ikut sekalian balek dusun ke Lintang Empat Lawang, tanah kelahirannya. Sekalian ziarah ke makam Umak katanya. Ternyata saat dihitung-hitung sudah 18 tahiun beliau tak ke sana. Aku sendiripun sudah > 30 tahun tak menginjakkan kaki ke dusun tersebut, tak ada memori yang kuingat tentang rumah panggung Nek Anang, empang dipekarangan, sawah atau gemericik aliran air pegunungan di belakang rumah. Dan semua bayanganku tentang apa yang sering diceritakan Jidahpun tak kutemukan. Karena seluruhnya sudah berganti wajah, pemiliknyapun sudah berubah. 

Maka hari Kamis hingga Jum'at kemarin kami menginap dirumah Nek Anang Romli, adik kandung Almarhum Nek Anangku, beliaulah Paman Jidah satu-satunya yang masih hidup dan punya rumah di dusun itu. Kami sampai saat hari sudah malam, 10 jam waktu yang kami butuhkan melewati liku likat Pagar Alam yang terkenal itu. Sepanjang hari Jum'at kami bersilaturahim ke rumah para sepupu Jidah dan berziarah ke makam Nek Ino Sahatimah (Umaknya Jidah) juga Buyut H. Amak (Abahnya Nek Anang Roniku).

Rumah Nek Anang Romli, tempat kami menginap Kamis-Jum'at.
Selang dua rumah dari depan Rumah Nek Anang Romli,
SD Jidah dulu, sudah banyak berubah.
Sementara makam Nek Anang Roni seperti yang dulu pernah selintas kutulis, adanya di Tanjung Karang dekat Komplek Rumah Mang Win (Adik Jidah), karena memang beliau meninggal saat di RSAM Tanjung Karang. Beliau menghabiskan sisa hidupnya di Blambangan Umpu kampung Datuknya Hamas. Achh jadi terkenang Nek Anang Roniku, beliau yang hanya mau tinggal dengan Jidah sepeninggal Nek Inoku, meski anaknya yang lain ada 4. Beliau yang selalu sehat meski dengan darah tinggi yang terkontrol. Beliau tutup usia pada 07 Mei 2009. Di awali dengan serangan sroke, hanya beberapa jam di ICU RSAM. Syukurnya beliau berwasiat untuk menguburkan dimana saja tempat terdekat saat beliau meninggal. Bukan disamping kubur Nek Inoku yang ada di dusun Lintang. Tak ingin merepotkan *maaf jadi edisi kenang-mengenang yang tak berujung pangkal...

Pendeknya acara liburan kemarin berjalan dengan lancar dan sucses, hanya nge-Blog yang tak bisa sesuai rencana, mendadak hiatus, sebab ternyata jaringan tak bagus disana, belum lagi raga yang lelah dan kedinginan *dusunnya di kaki Gunung Dempo, kebayang dong... maunya langsung istirahat saja. Rindunya mau berselancar ke rumah maya para sahabat, semoga bisa kesampaian hari ini dan esok-esok.

*Balek Dusun = Pulang Kampung

Belum Selesai.

18 komentar:

al kahfi mengatakan...

sepertinya kebanyakan rumah2 di pagar alam,atau sumsel mmg modelnya rata2 seperti itu yo mbak,ada juga ya beberapa jenisnya panggung,,tapi ya rata2 dgn bentuk2 yg hampir mirip,,bener gk mbak kira2

Mama Olive mengatakan...

Ahh Liburannya ga ngajak2..
Di kakai gunung Dempo, hmm kbayang sejuknya..mauu..!!

iya nih kirain kemna Mba keke..

Rumahnya itu loh,.., kaya di pelem2 tuh..

Bunda Kanaya mengatakan...

kangen palembang jadinya aku mi,

Orin mengatakan...

Huwaa....liburan plus plus jadinya ya Mi heuheu.
Ditunggu lanjutannya ;)

Andy mengatakan...

itu foto SD'a mirip sama sekolah'a Ikal yang Laskar Pelangi mba

Nurmayanti Zain mengatakan...

MasyaAllah aroma asrinya terasa benar, mbaaaak :D mau mau mau
ajak aku dong mbak!
hihihihi

Ririe Khayan mengatakan...

wah, Mbak Keke habis long week end ya. Liburan plus siturahim, mantab deh

Ririe Khayan mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Ririe Khayan mengatakan...

wah, Mbak Keke habis long week end ya. Liburan plus siturahim, mantab deh

Hariyanti Sukma mengatakan...

masih sangat terpelihara rumah tempo dulu itu ya, mbak....
Rumah dengan jendela2 yg besar dan cahaya dgn leluasa meyinari ruang dalam rumah. Jadi gak perlu lagi AC dan lampu2 ..... hemat energi. ternyata org2 dulu lebih bijak ya, mbak dlm mendisain rumah mereka

Catatan Dari Sahabat mengatakan...

wow liburan yg mengasyikkan ..... jadi kangen kampuang nih

Mami Zidane mengatakan...

balek dusun nya pasti sangat berkesan ya mbak....

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

akhk pasti adem tuh tempatnya.

Bintang mengatakan...

Wuuuuiiih, rumah adat begini yang bikin saya jatuh cinta...pengen ikutan nginep rasanya, Yunda...

Pulang kampung selalu menyenangkan, apalagi pas cuti bersama yang lumayan panjang kemarin itu, duh, duh...saya jadi ngebayangin gimana dinginnya di kaki gunung Dempo, di Surabaya justru panas banget lo!

Shohibul Kontes Indonesia Bangkit mengatakan...

wah asyik bisa membuat paket tugas dan liburan ya jeng.
Balek kampung memang asyik dan mengasyikkan, terlebih jika sudah lama kita tak kesana. Ini saya alami ketika dinas di Balikpapan dan Palembang. Mudik adalah hal yang menyenangkan kami maupun orangtua dan kerabat.

Salam hanagat dari Surabaya

Sarah mengatakan...

oalah, bahasa Palembangkah Balek Dusun itu Mbak? hehehe. aku malah gak punya kampung :D

obat panas lambung mengatakan...

semoga menjadi informasi yang bermanfaat
salam kenal

NANGKRING.
obat tradisional lambung.
OBAT SAKIT GIGI ANAK .

Yopies Lintang mengatakan...

salam kenal, gk sengaja browsing dengan kata lintang ketemu dengan blog ini, dan yang lebih mengejutkan foto artikel yang dimuat adalah foto rumah tetanggaku, (yang aku juga panggil sebagai neanang/ kakek romli)..kebetulan rumah nya pas di samping rumah saya, sekali lagi salam kenal mbak, dan kalo kangen dengan kampung halaman maen2 ke blog ku ya mbak.. :) http://lintangdusunku.blogspot.com