Tampilkan postingan dengan label Bilik Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bilik Kuliner. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juni 2012

Mie Koba

Satu porsi Mie Koba, harganya sekitar Rp. 15.000,-
*kuahnya belum ditambahkan, maaf...

Koba nama sebuah kota di Kabupaten Bangka Tengah. Sementara ragam cita rasa mie, hampir semua daerah di Negeri ini punya kekhasannya masing-masing. Sebut saja Mie Aceh, Mie Celor, Mie Cikalang, bahkan di Pelembang ada yang namanya Mie Jawa.

Adapun foto Mie Koba diatas, aku ambil saat di Kantor, Yuk Yaya yang asli Bangka membuat Mie tersebut. Mudah ternyata, ini resepnya.

Bahan dasar Mie, 

Mie kuning 1 kg, sebaiknya buat sendiri. Kalau tidak, silakan cari mie kuning (basah) di pasar.
Bisa ditambahkan kecambah dan irisan sawi sesuai selera.

Kuah,
Daging ikan tenggiri yang dikukus kemudian dipisahkan dari tulangnya, bukan ikan giling ya...
*ikan boleh diganti sesuai selera, tapi umumnya ikan laut.
Bumbu yang dipakai. bawang merah 5 siung, bawang putih 7 siung
kemiri 1, jahe satu ruas besar. Terasi udang seruas jempol kaki.
Semua bumbu dihaluskan, tumis dan ditambah air secukupnya. 

Selamat mencoba, kalau gagal jangan khabarkan aku ya, hehe...

Sabtu, 12 Mei 2012

Martabak Cuko

Martabak isi Kentang, makannya dengan cuko,
made in Tanteku^^
Di Palembang ada banyak makanan yang berkaitan erat dengan cuka atau 'cuko'. Sampai aku pernah lihat ada orang makan donat pakai cuko. Ada yang pernah lihat? Yupss, kalau bakwan pakai cuko, itu biasa. Risoleh atau roket pakai cuko juga sudah umum. Pisang goreng pakai cuko, ternyata di kotaku, lumrah saja. 

Nach kalau martabak pakai cuko? Tergantung jenis martabaknya. Secara garis besar, aku tahunya ada martabak manis dan martabak asin. Contoh martabak manis adalah Martabak Bangka, itu lho biasanya isinya coklat-keju atau bisa juga kacang. Adapun martabak asin, contohnya Martabak HAR, ada juga martabak isi kentang yang makannya pakai cuko pempek. Seperti tampak pada gambar. Udah pernah nyicip? Euunaaak lho...

Cara membuat Martabak Cuko biasa saja, seperti membuat roket, tebal tipis kulitnya tergantung selera. Sudah pada tahu kan? Dan apakah martabak cuko sudah masuk daftarBisnis Martabakmilik Komandan BlogCamp? *silakan dicek sendiri ya :D :)

Rabu, 25 April 2012

Kuliner Belitong: Gangan

Masih ceritaku dari Belitong. Setelah sepanjang pagi kami mengadakan wawancara, sekedar penyuluhan dan pengampilan sample di Puskesamas dan SMA, tibalah waktunya kami menunaikan hak fisik untuk bersantap. Untuk itu kami menyerahkan pada petugas dari DINKES setempat. Ikut saja, dijamin euunaak, kata hatiku ngidem.

Dan benar saja. Siang kemarin (24/4) kami dibawa ke Berage *bacanya pakai E taling ya jangan e pepet... Tahu artinya? Aku juga baru tahu kok...

Berage artinya menghidangkan, kalau bahasa Palembangnya 'besaji'


Tempatnya unik, paling tidak menurutku lho ya...
Coba lihat dech...


Gambar apanya coba? Ini plafonnya lho, berbatik ria, senada dengan tempat tissue dan lain-lainnya. Masakannya? Ooohhh, rasanya memang memuaskan, khasnya merasuk sukma *jiiiaaaahhh... 

Kenalkan, ini tokoh utamanya, sebut saja GANGAN.

Gangan Khas Belitong^^
Satu porsi seperti ini Rp. 115.000,-
Gangan dan kawan-kawannya di Berage.
Ada cumi goreng juga^^
Ikan Bulat Bakar, harga satuannya Rp. 35.000,-

Gangan itu ternyata mirip-mirip pindang tapi beda, serupa LEMPA KUNING kalau di Bangka. GANGAN bisa dibuat dari ikan apa saja, tapi khasnya pakai kepala ikan krakap. Lezatnya sangat, harganya lumayan juga, satu porsinya bisa dimakan berempat atau berlima. Berbeda dengan harga makanan yang lainnya,  jauh dibawah. 

Kawan makan GANGAN bisa macam-macam tergantung selera. Ada yang namanya sambal sereh. Mantap. Pokoknya siang kemarin memang waktu makan yang langka buat kami, ingat cerita seorang sahabat kalau di Belitong makan ikan lauk nasi, berbeda dari biasanya makan nasi lauk ikan, hohoo... Jadi kalau suatu saat bertandang ke Belitong, mampirlah ke Berage dan cicipi masakan khasnya, GANGAN dari kepala ikan krakap, yaaammm....

Maaf ya belum bisa BW :(

Sabtu, 14 April 2012

Es Cream Goreng

Ini penampakannya,



Menarik ya? Terobati penasaranku akan namanya yang unik, es cream kok digoreng :D:D

Tapi jangan bicara rasa, sebab setelah mencicipi aku janji tak akan memesannya lagi, artinya? Tak seperti yang kubayangkan :(

Bagaimana menurut sahabat?

Rabu, 11 April 2012

Lele LELA Palembang

Entah kapan pertama kali aku makan pecel lele, tapi yang kuingat sejak zaman hamil Yunda tahun 2003 lalu, aku sepertinya termasuk yang keranjingan makan pecel lele. Dari mulai yang kelas resto sampai yang warung tenda. Malah lebih seringnya yang diwarteng kaleee... Bahkan menu favorite di rumahpun ya sering juga pecel lele ala kadarnya, hehe... 

Maka tak heran saat Lele LELA hadir di Palembang, kami sekeluarga termasuk yang bersegera kesana. Icip-icip lah, membandingkan dengan yang kubuat sendiri. Ternyata memang 'sesuatu' ya, sebab ada beberapa menu olahan lele yang bisa jadi pilihan. Dasarnya mungkin selera Emak ya bakal menurun juga ke anaknya, tebukti Yunda dan Hamas hobby banget makan dengan lele.

Lele LELA di daerah Kampus,
katanya cabang ke 36.
Silakan pilih menu ^^
Lele Original,
Seleraku, dan Yunda.
Alternatif menu pilihan Abi,
Ayam Bali ^^


Lele Cabe Ijo
Salah satu menunya Abi ^^
Sesi makan bersama di Lele LELA.
Ini foto ekslusifnya, Hamas dan Yai tampak serius pilih menu...

Nach sekarang Lele LELA Palembang nambah satu cabang lagi, di daerah PTC Jl. Basuki Rahmat, khabarnya cabang ke 62. Aku salut pada cara promosinya, sampai pasang iklan dimana-mana, membuat paket gratis makan untuk yang ulang tahun dan bernama Lela, ada lomba foto unik "Espresi Makan Lele". Bahkan foto-foto saat Lele Lela masuk istana di undang Pak SBY juga mereka pamerkan. 


Slogannya untuk membuat "Lele makin mendunia bersama Lele LELA" memang mereka sertai dengan usaha nyata. Sucses lah pokoknya, semoga aja tulisanku ini juga dibaca mereka dan dianggap ikut berpromosi, jadi dapat voucher makan gratis dech, ngerep.com 

Aku sebenarnya sudah lama juga mau posting tentang Lele LELA ini, sejak Januari lalu, terhitung sejak pertama kali membaca postingan Della di Diary Bububil Lele Lela Petamburan. Lama buanget ya baru kesampaian. Maklumlah segala sesuatu yang diolah dalam blog ini sangat tergantung pada suasana hatiku ^^

Sabtu, 17 Maret 2012

ONIGIRI

Kata 'ONIGIRI' aku temukan dalam buku resep masakan Bekal Praktis untuk ke Kantor yang baru saja kubeli  dengan voucher belanja Gramedia, hadiah dari GIVEAWAY: PRIBADI MANDIRI yang diselenggarakan oleh Imelda Coutrier dan Nicamperenique. Pertama kalinya pakai voucher Gramedia, sesuatu dong...

Awalnya aku mencari buku kumpulan resepnya Bunda Inong seperti yang pernah diceritakan Thia pada Cooking With Love, tertarik dan penasaran :D tapi sayangnya sedang tak ada stok, tak apa, akhirnya aku dapat buku lain yang Insya Allah bermanfaat, untuk jadi sahabat 8 Jam (pinjam istilahnya Orin), mengingat Senin besok aku masuk Kantor dengan rentang waktu sekitar 8 Jam selama 5 hari itu. Selama ini tak ada jam kerja yang jelas, cenderung 24 jam kalau sedang ada di rumah, mengingat aku tinggal di Rumdin persis samping Puskesmas :P

Kembali ke ONIGIRI, ternyata artinya kepalan tangan. Maksudnya membuat atau mencetak nasi dari kepalan tangan. SEDERHANA saja, seperti yang sering dilakukan kebanyakan Emak saat menyiapkan bekal sekolah anaknya, termasuk aku. Tapi namanya ONIGIRI, aku ya baru tahu setelah membaca buku Bekal Praktis untuk ke Kantor. 

Ala Bento ^^

Si ONIGIRI ada di halaman 14 -15.

Tip membuat ONIGIRI:
1. Untuk memudahkan, gunakan nasi hangat. Kalau dingin mudah buyar dong...
2. Celupkan tangan ke dalam air garam. Kalau suka asin lho yaaa...
3. Bisa dibuat dengan menggunakan serundeng kelapa yang gurih.
4. Tangan bisa dilapisi daun pisang atau plastik wrap saat membuat ONIGIRI.

Bagaimana ;) mudah kan yaaa... berlaku juga untuk bekal sekolah ananda.
Selamat berkreasi dengan bontot, selamat mencoba ber-ONIGIRI-ria...

Jumat, 09 Maret 2012

Lenggang Panggang & Orang Pusat

Mari kutambahkan satu info makanan khas Palembang lainnya. Lenggang panggang namanya. Bahan dasarnya sama dengan pempek. Ikan dan sagu. Cara makannyapun sama, pakai cuko. Sepengamatanku yang paling terasa asli adalah LENGGANG PANGGANG di Sudi Mampir, atau juga dikenal dengan nama PEMPEK SAGA. Ikannya asli gabus, dipadukan dengan telur bebek. Cukonya kental dan pas dilidah banyak orang *udah kayak promosikah? hehe... Konon dulu tempatnya bekas bioskop SAGA. Lokasinya strategis di Jantung Kota, persis di depan Kantor Walikota. Pokoknya kalau ke Palembang mudah nyarinyo ;) pake baso Palembang tanyo be, hehe... geser sedikit dari Bundaran Masjid Agung.

Seporsi LENGGANG PANGGANG Rp. 15.000,-

Jujur tak sering kami sekeluarga kemari, karena selain ramai juga lumayan jauh dari rumah. Lagian rasanya yang mirip pempek membuatku sudah biasa membuat tiruannya di rumah. Mudah saja, pempek lenjer dipotong-potong, dicampur dengan telur kemudian digoreng. Lenggang goreng kami menamainya. Makannyapun pakai cuko, srrreppp tak kalah eunaknya dengan yang di SUDI MAMPIR. 


Soal ke SUDI MAMPIR, kami ke sana biasanya kalau ada kerabat atau sahabat yang datang dari jauh. Yuuuppss semacam menyambut tamu. Seperti kemarin. Ada seorang sahabat kami yang datang dalam rangka kunjungan dinas. Kamipun mengajaknya mencicipi kekhasan LENGGANG PANGGANG, tapi sayangnya beliau masih penasaran dengan KAPAL SELAM. Jadilah aku dan suami saja yang ber-LENGGANG-ria :lol: 


Ami Jaya dan Abinya Hamas.
Lokasi di Benteng Kuto Besak, tepian Musi.
Sesaat setelah sampainya Ami Jaya di Palembang.

Sahabat kami tersebut adalah seorang dokter yang pernah PTT di Puskesmas Sukabumi dulu. Masih junior 4 tahun dariku. Namanya dr. Jaya Supriyanto, alumni FK UNPAD. PTT setahun, selesai tahun 2008 akhir. Tak berapa lama kemudian ternyata beliau diterima sebagai PNS di Kementrian Kesehatan, langsung mendapat tugas di bagian Penanggulangan Krisis dan Bencana. Kami di Puskesmas dulu menjulukinya ORANG PUSAT. Kerjanya keliling nusantara, seputar Indonesia bahkan sampai luar negeri terkait pelatihan atau sebagai tim. Masih sering kami bersilaturahim via sms. Kadang khabarnya sudah di Papua, atau malah pernah Iedul Fitri harus dilaluinya di Thailand. Cerita petualangnya membuatku iri. 

Tapi lepas dari itu semua, kami sekeluarga merasa dengat dengannya, termasuk istrinya. Sayang kali ini kami hanya bertemu Ami Jaya saja. Kamis beliau datangnya, bertemu sebentar, beliau menginap di Hotel atas biaya dinas sampai Sabtu pagi. Jum'at malam baru kami bisa bertemu lebih lama. Yunda dan Hamaspun pada pertemuan di River Side semalam masih akrab, langsung ramai bercerita ini itu ;) Serangkaian kisahpun mengalir bebas kemana-mana. Maklum sejak perpishan 2008 lalu, Yunda dan Hamas baru kali ini bertemu lagi. Adapun aku dan suami pernah bertemu April 2010 lalu di Kantornya dalam rangka mengurusi SK Mutasiku. 

Dan sampailah pada satu khabar gembira, ya tepat hari Kamis (8/3) lalu SK MENKES atas kepindahanku sudah dalam genggaman. Senangnya. Mulai 1 April 2012 nanti aku sudah mulai berkantor di depan KODAM. Kantor Badan Tekhnik Lingkungan (BTKL) Palembang. Kantor Unit Kementrian Kesehatan yang ada di Palembang. Ahhaaa, ternyata akupun bakal jadi ORANG pegawai PUSAT  juga :D Namun sayangnya wilayah tugas hanya meliputi Bengkulu, Bangka dan Belitung. Bukan seluruh Indonesia, hikss... Khabar tak seberapa penting. Tapi serius, tolong do'akan aku bisa menjalani tugas baru ini dengan enjoy dan mampu segera beradaptasi dengan damai ya...

Minggu, 04 Maret 2012

Martabak HAR dan BBC

Martabak HAR yang khabarnya salah satu kuliner khas Palembang ini, ternyata asal namanya dari pemilik cikal bakal usaha ini, HAR singkatan dari Haji Abdul Rozak. Seorang tokoh pengusaha  muslim yang sucses asal India. Tapi memang sudah lama bermukim di Palembang. Beliau meninggal tahun 2001 *aku belum kenal dong sama Abinya Hamas, nggak ada yang nanya... Semasa hidupnya beliau salah satu klien tetapnya Ayah mertuaku. Dan dari 7 anaknya yang masih ada sekarang, hanya si Bungsu yang masih akrab dengan keluarga kami meski beliau tinggal di Jakarta, Kak Aman begitu kami biasa memanggilnya.

Balik ke martabak HAR, syukurnya sejak Almarhum Haji Abdul Rozak meninggal, usaha martabak HAR tak ikut gulung tikar, bahkan saat ini banyak warung yang memasang nama MARTABAK HAR juga, meski bukan termasuk jaringan asli keturunannya. Setahuku yang asli HAR di warungnya selalu memasang foto beliau. Sekedar melengkapi info, usaha Almarhum Haji Abdul Rozak ini banyak dan beragam, bukan hanya Martabak HAR saja. Hanya nama Sang Martabaklah yang memang paling fenomenal melekat langsung memakai singkatan namanya.

Foto Almarhumah Haji Abdul Rozak,
yang menandakan MARTABAK HAR asli.
Tapi apakah yang tak asli rasanya berbeda?  Aku kurang faham. Seingatku rasa martabak HAR relatif sama. Martabak berbahan dasar telur dan gandum ini makannya pakai kuah kare kambing yang ditambah irisan cabe dan cuka. Rasanya khas sekali. Berbeda sedikit dengan yang namanya MARTABAK MESIR. Dan jujur sejauh ini aku belum pernah membuatnya sendiri di rumah, padahal ada seorang teman yang punya resepnya :P kapan-kapan aku bakal belajar, hehe... 

Diseantero kota Palembang ada berapa cabang MARTABAK HAR asli atau yang tak asli. Tapi kalau ditanya ada berapa dan dimana saja, maaf, akupun belum pernah menghitungnya. Yang tak asli tapi namanya tetap MARTABAK HAR, ada satu di Simpang Pakjo arah rumah kami. Namun sayangnya kami sekeluarga justru belum pernah mampir kesana. Biasanya merk MARTABAK HAR yang tak asli justru lebih meriah, seperti tampak difoto asal sekali lewat dibawah ini, pake kamera hape ;)


Berbeda dengan merk MARTABAK HAR asli yang ada di Sudirman atau cabang lainnya, biasanya cenderung mirip, menurutku lebih terkesan sederhana. Kecuali yang ada di Simpang Sekip, mungkin pusatnya ya, jadi lebih WAH dan besar. Tapi sayang aku tak punya fotonya, jarang mampir kesana, sebab selalu ramai dan berada dikawasan yang padat, jadi kami malah merasa kurang cocok dengan MARTABAK HAR pusat.

Salah satu HAR di Jl. Sudirman.
Masalah merk gambang membedakannya, kalau penampakan MARTABAK HAR menurut hematku justru sulit dibedakan, cenderung sama rupa dan sama rasa. Seperti ini ;)

Uuuppppsss, maaf fotonya kurang okey...
Jadi kalau suatu saat 'sanjau' atau nyasar di Palembang, silakan mencicipi kuliner khas yang satu ini. Dijamin tak akan menyesal. Harganyapun standart saja, satu porsi sekitar Rp. 15.000,- Murah dan merakyat ya? Mau? Silakan mampir.

Hmmm, mumpung bisa nulis sekalian ya...
Cerita dikit tentang toko buku dulu dech :D

Suasana di BBC suatu hari.
Masih disekitaran kawasan Martabak HAR Sudirman, banyak toko buku murah di Palembang. Toko Buku Imam Bonjol bahkan persis disampingnya, terus geser jalan sedikit lagi ada Toko Buku Diponegoro, bukunya banyak, bermutu, okey :P dan murah-murah juga lho... Dan ada satu lagi toko buku favorite anak-anakku disana, namanya BBC, Bandung Book Centre. Kok bukan PBC saja ya, Palembang Book Centre? Entah ya mengapa, aku belum tahu sejarahnya, jadi belum bisa cerita tentang ini.

Rabu, 26 Oktober 2011

Jeda Kuliner: Donat Kentang

SEA GAMES makin dekat, tinggal hitungan hari lagi. Palembang sebagai salah satu tuan rumahnya mengalami kemacetan dimana-mana, Jl. Demang Lebar Daun yang biasanya lancar sekarang parah. Jangan tanya di Jl. Sudirman atau Jl. Veteran asli bikin gagap gaya (maksudnya tak sampai mati gaya). Entah ada hubungan atau tidak, yang jelas sekarang jaringan internet di seantero Palembang mengalami keleletan. Weleehh pokoknya jadi sulit berselanjar dirumah maya para sahabat, maafkan ya... *semoga ini bukan alasan pembenaran <img style='border: 0; padding:0'  src='http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/101.gif'/>

Ditengah situasi inilah, aku mencoba mencari hiburan hati, cie... maksudnya menyenangkan diri dengan mencoba resep-resep kolosal, kuno alias asal. Tapi ternyata disuka para penghuni rumah, akhirnya dalam tempo kurang dari seminggu sudah 2 kali praktek resep ini. Euuunaakkk juga ternyata, mana mudah dan murah meriah. Mau coba? Monggo silakan melihat gratiss...

Hasil Uji ke-2.
Produk Uji ke-1.
Resepnya udah pada hafal pastinya kan?
Tapi ternyata ada banyak versi ya, nach kalau aku pakai resep yang ini:
1. Kentang 1/2 Kg
2. Tepung protein tinggi, tapi aku kemaren pake yang ada saja, Segi3 Biru 350 mg
3.Vernifan 1/2 Bungkus
4. Telur 1 Butir
5. Blue Band 200 mg

Caraku membuatnya:
Pertama, kentang yang sudah dikupas, dikukus dan dihaluskan.
Lalu, campurkan semua bahan. Uleni sampai kalis, ya sebisanya saja. Diamkan 1 jam. 
Setelahnya bentuk sesuai selera, aku kemarin ya suka-suka, ada yang bentuk kepala boneka, ada yang bentuk kincir patah mematah, biasalah hasil kreasi Yunda dan Hamas. Sayangnya tak sempat difoto, keburu dimaem. 
Setelah dibentuk rupa-rupa, diamkan lagi 15-30 menit.
Baru digoreng. Sebenarnya lebih enak yang dipanggang lho, tapi akukan belum punya oven, hehe...
Dan hasilnya sungguh membuatku takjub, cepat sekali ludesnya. Laris manis. 
Pada uji ke-2 aku sampai buat untuk takaran 1 kg kentang, pas anak-anak lagi pada kumpul. Aku candain, "Bayar ya, 1 harganya 1000 aja".
Apa kata Hamas, "Jangan Mi, ini lebih enak dari yang pernah kita beli, rugi kalau segitu". Lebih enak dari DD, wech asli tersanjung lah daku <img style='border: 0; padding:0'  src='http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/8.gif'alt=':X'/> <img style='border: 0; padding:0'  src='http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/8.gif'alt=':X'/>

Bisa sering-sering ni dibuat, huhhhhuuuuyyy
Tapi kata satah seorang saudaraku, ada penyebab ia malas membuat donat. Coba tebak? Yuuuppss betul, lama buatnya (pake didiemin segala) tapi cepat habizznya. Iyaa ya benar juga. So?

Minggu, 09 Oktober 2011

Jeda Kuliner: Somay Labu

Melongok Rainbow Menu punya Tia, daPur keTty miliknya Mbak Kenia atau Kuliner & Usaha-nya Ibu Dini, sebenarnya aku ingin sekali punya blog yang khusus berisi rupa-rupa kuliner serupa ini.  Tapi sekarang belum memungkinkan :lol: Maka akhirnya blogku ini berisi segala hal, komplite, pokoknya gado-gado. Berisi apa saja, ada liputan, curhatan sampai sampahan, termasuk ragam kuliner ala la long :P

Jum'at lalu, setelah uji coba pada hari seninnya untuk skala internal keluarga, akupun PeDe membuat somay untuk acara pengajian Ibu-ibu, go eksternal, cie...

Hasilnya, tak mengecewakan yang datang, terbukti sepulang acara banyak yang minta dicatatkan resepnya, tersanjung aku :oops: Dan beginilah tampilan Somay Labu ala bilik kulinerku...

Somay Labu yang lezat dan sehat.

Resep Warisannya:
Bahan untuk Somay
1. Ikan giling (Ikan gabus lebih baik) 1 Kg
2. Sagu (Kalau di Palembang Sagu Udang) 3/4 Kg
3. Udang segar 1 Ons (Dihaluskan)
4. Labu 1/2 Kg (Biasanya 2 Buah)
5. Bumbu yang dihaluskan: Bawang Putih 5 siung besar, merica sesuai selera, bawang goreng.

Bahan untuk kreasi Somay.
Semua bahan 1-5 dicampur, bentuk sesuai selera, tak perlu dipadatkan, uleni pakai sendok saja. Lanjutkan dengan mengukus. Bisa dikreasikan dengan memakai pare dan wartel.

Bumbu Kacang:
Bahan dan Cara Membuat: 
1. Kacang Tanah 1/2 Kg (Digoreng dan haluskan, kalau aku cukup pakai blender saja, praktis. Beri air secukupnya saat memblender)
2. Haluskan: Bawang Putih 5 siung, bawang merah 3 siung, terasi seujung jari (sebelumnya disanggrai), gula 3 sendok atau sesuai selera, gula merah 1 buah ukurang sedang, garam secukupnya. Setelah dihaluskan, tumis semua bumbu sampai harum kemudian masukkan bumbu kacang yang sudah dihaluskan. Masak sampai mendidih.

Tarraaaa... jadi dech :lol:
Hidangkan hangat-hangat, bisa puas juga sampai 25 porsi.
Sulit keluar dari ragam kuliner khas palembang dari yang serba ikan, walau sudah berusaha cari jenis lain ujungnya kembali juga ke ikan.