Tampilkan postingan dengan label Impianku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Impianku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Mei 2012

Edisi Mancing

Ini sebenarnya bagian liputan liburan Lahat - Pagar Alam - Empat Lawang yang belum selesai kemarin, tapi ya apa mau dikata belum dapat kesempatan yang tepat untuk merangkai cerita serunya.

Maka kali ini sedikit memamerkan foto saja, betapa edisi mancing kemarin sangat dinikmati oleh anak-anakku dan Abinya. Mereka begitu antusias sampai rela berlarian dalam gerimis menuju Empang pemancingan di belakang rumah Uwak, desa Pajar Bulan, masuk dari desa Simpang Aceh, Pagar Alam. 

Uwak adalah mantan kepala desa, saat Abi KKN tahun 1999 lalu. Kami sengaja menyambangi mereka untuk bersilaturahim dan memang rute liburan kami melewati daerah sana. Abi sudah sering berkisah tentang desa tempat KKN tersebut, penduduknya ramah dan Abi merasa dekat dengan orang-orang yang dikenalnya di desa itu, maka jadilah kami 'sanjau' ke sana.

Benar saja, orang-orang sana masih ingat sosok Abinya Hamas, hanya kok sekarang jadi 'bunder' kata mereka *nguyok... Keluarga Uwak yang mantan Kades itu berulang kali mengulang kisah serupa dengan yang sudah sering disampaikan Abi. Ooohhh berasa bernostalgia. Anak-anakpun langsung dekat dengan Uwak. Mereka langsung menghambur saat ditawari mancing. Padahal Uwak mendadak tak bisa mendampingi karena ada warga dusun tetangga yang meninggal. Jadilah Abi serasa penguasa Empang dan ahli pancing-memancing dadakan. Ini gayanya.

Menurunkan ilmu pasang umpan,
cacing lho yang dipakai, iiihhhh...
Mejeng dulu, lupa pamer ikannya,
sengaja, malu, dapatnya kecil-kecil, hehe..
Di Palembang sendiri anak-anakku pernah mancing di Pemancingan Glora, tapi ya tak seheboh ini, pancingnyapun pakai alat modern, pakai umpan yang dibeli. Acchhh, pendek kata ada sebongkah harap kelak di Kampung Datuk yang ada aliran air di belakang rumah akan kami bendung dan dijadikan Empang Pemancingan mencontoh punya Uwak *semoga suatu saat terwujud ya... Berkah silaturahim, bisa terinspirasi untuk punya Empang Pemancingan, biar bisa mancing sepuasnya saat liburan.

Jumat, 30 Maret 2012

Catatan Hati Seorang Istri



Ini memang bukan dalam rangka mereview, tapi judul ini aku ambil dari buku karya Asma Nadia yang berisi beragam kisah menyentuh sekaligus menggetarkan tentang perjuangan seorang perempuan yang berstatus sebagai istri menghadapi berbagai prahara dalam rumah tangga. Buatku pribadi buku ini mampu menjadi satu perenungan panjang betapa kisah nyata para istri di luar sana sangatlah berliku, membuatku sepenuhnya tersadar bahwa pada kenyataannya banyak perempuan sebagai seorang istri harus jatuh bangun mencari kekuatan untuk melanjutkan laju rumahtangga.

Akupun diajak menjadi saksi betapa semua kesulitan dan ketabahan harus selalu beriringan dengan perjuangan dan ternyata sungguh panjang jalan menuju sebuah keikhlasan. Berkaca pada perjalanan rumahtanggaku yang memasuki sepuluh tahun, sungguh banyak nikmat dan anugerah tak ternilai buatku sebagai seorang istri. Sehingga mematri hatiku pada satu sikap, sebagai seorang istri aku harus senantiasa pandai bersyukur. Jangan menunggu ada badai baru tersyungkur menyesal dulu tak bersyukur.

Diantara sekian banyak kisah bernuansa perselingkuhan dan beraroma poligami dalam buku ini, ada satu episode dalam buku tersebut yang membuatku tercenung. Yaitu pada kisah ‘perempuan istimewa di hati Aba Aqil’ berisi tulisan seorang anak (yang juga sudah menjadi istri) tentang Ayahnya yang tak mau menikah lagi sepeninggal Ibu mereka. Hal ini dikarenakan betapa sang Ayah yang mulai sepuh, tak sanggup mengantikan figur almarhumah istrinya dihati beliau. Achhh, sebuah romantisme yang aku rasa sangat disukai oleh banyak perempuan, membuat hati tersanjung.

Tapi bukan sekedar pilihan untuk tidak menikah laginya seorang suami sepeninggal istri. Bukan, sangat jelas dalam siroh, bahwa Rasulullah junjunganpun menikah lagi sepeninggal Syaidinna Khodijah, ra. Walau memang sosok istimewanya tak mampu digantikan oleh wanita lain. Pilihan untuk menikah ataupun tidak lagi tersebut tentu melewati serangkaian pertimbangan panjang dari seorang suami. Faktor usia juga sangat menentukan bukan? Aku sangat berbaik sangka pada para suami yang menikah lagi justru untuk menjaga dirinya dari serangan fitnah dan godaan. Yang artinya juga mengikuti sunnah nabi.

Jadi sekali lagi bukan soal pilihan menikah atau tidak menikah lagi, disini aku lebih menggarisbawahi pada faktor keridhoan suami, saat seorang istri telah tiada. Karena syurga hakiki buat seorang perempuan bisa didapat bila suaminya ridho saat kehidupan berakhir, entah suami atau dirinya yang lebih dulu tiada. Membuat harapku membumbung, semoga keridhoan suami selamanya bisa kuraih.  Tak harus menunggu salah satu tiada baru sibuk memulung ridho.


Lain lagi garis hidup yang dialami sepupuku, usianya lebih muda beberapa bulan dariku, ia menikah tahun 2001. Saat hamil anak kedua tahun 2004, suaminya berpulang dalam sebuah  kecelakaan lalu lintas. Dan sepupuku membuktikan ketegarannya, sebagai seorang bidan ia optimis membesarkan kedua anaknya meski single parent. Tapi Allah punya skenario lain, tahun 2007 seorang laki-laki yang sudah beristri melamarnya. Tentu dengan persetujuan istrinya. Aku turut menjadi saksi, bahkan sebelum mereka menikah aku sempat berkenalan dengan sang istri, sebut saja namanya Rahmi. Usianya 3 tahun diatasku. Mbak Rahmi pasti punya alasan, tapi maaf tak bisa kubagi disini. Yang pasti bukan perkara anak, karena dari pernikahnya saat itu mereka sudah dikarunia 3 orang anak.


Singkat cerita sepupuku akhirnya menikah. Dan selang setahun ia melahirkan anak ketiga dari pernikahan keduanya. Lengkap sudah kebersamaan mereka. Kedua anaknya dari pernikahan pertamapun tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan tidak kehilangan keceriaan. Semua tampak baik-baik saja, seperti yang juga kulihat. Sampai suatu hari sekitar pertengahan tahun 2010, Mbak Rahmi menelfonku sambil berurai air mata. Beliau curhat tentang sikap suaminya. Sekarang jadi jarang pulang ke rumahnya, padahal sebelumnya sudah ada kesepakatan pembagian hari. Komunikasi yang aku sarankan. Mudah kalau hanya bicara, nyatanya beliau mengaku sudah melakukannya dengan berbagai cara.



Curhat Mbak Rahmi berlanjut, beliau mengeluhkan sikap suaminya yang selalu mesra pada sepupuku sementara padanya cuek. Bahkan saat bersamanya, sang suami kerap memuji sepupuku. Sepupuku yang penuh pengertian, perhatian dan pandai merayu. Bahkan soal cara menghidangkan makanan dimeja, seduan tehnya yang mantap tak luput dibeberkan suaminya pada Mbak Rahmi. "Mengapa justru sekarang aku dibandingkan", kata Mbak Rahmi meradang. Selama ini suaminya selalu nrimo, bahkan saat harus nyeplok telur sendiri ia tak keberatan. Tapi semua berubah setelah kehadiran sepupuku.


Klimaksnya Mbak Rahmi menelfonku, meminta agar aku memberikan solusi. Ooohhh… Saran sudah kulakukan, meski mungkin tak sesuai kebutuhan atau bahkan tak tepat sasaran. Lalu pada sepupuku, apa yang sebaiknya aku katakan? Bercerita bahwa Mbak Rahmi menelfonku sambil berurai air mata? Memintanya untuk mengurangi kualitas pelayanan pada sang suami? Kurasa itu bukan wewenangku , adakah salah tindakannya pada suaminya? Semua tentu berhak punya pendapat. Adapun tindak lanjut yang kuambil saat itu meminta suamiku berbicara dari hati ke hati pada suami sepupuku yang sekaligus suaminya Mbak Rahmi. Sampailah pada satu kata laki-laki, adil itu tak semudah yang dibayangkan.

Dan buatku, ini satu pelajaran berharga, terkadang sebagai seorang istri aku lupa untuk meningkatkan pelayanan prima pada suami disemua sektor, apalagi bertemu dengan suami yang penyabar, penuh pengertian. Ngelunjak kalau orang bilang, suka semaunya. Astaghfirullah... Padahal suami lebih dari sekedar atasan di kantor yang berhak mendapatkan kerja terbaikku. Aku bertekad untuk selalu sibuk berbenah, tak harus menunggu ada saingan dari luar.

Makin salut aku pada banyak perempuan sebagai seorang istri yang suaminya pemarah, suka mukul, neko-neko dan bermasalah tapi mereka tetap bersabar. Berjuang dengan baktinya sebagai seorang istri. Mereka maknai betul satu hadist yang menegaskan bahwa seandainya sesama manusia boleh bersujud, maka akan diperintahkan seorang istri bersujud pada suaminya. Aku bagai disentil-Nya untuk terus memperbaiki diri lagi, bukan karena takut cinta suamiku berpaling, tapi lebih dari itu, bukankah sebagai seorang muslim kita memang harus selalu lebih baik dari hari ke hari. 


Selamat berjuang untuk semua istri hebat diseantero jagad, semoga cinta dan ridho suami mampu mengantarkan kita pada keridhoan Illahi Robby.




Rabu, 25 Januari 2012

Selembar STR di Negeriku

Negeriku memang bukan Negeri para malaikat
Negeri dimana, orang korupsi trilyunan bisa melenggang bebas ke Luar Negeri
Negeri yang sempat heboh dengan pencurian sendal
Negeri yang pejabatnya kerap terlambat berbuat saat ada TKWnya kena gantung

Negeriku bukan juga Negeri Peri dicerita donggeng
Negeri yang katanya subur tapi petani banyak yang tak punya lahan sendiri
Negeri dimana para pemain bolanya saja masih banyak yang import
Negeri yang pernah menorehkan cerita mendadak seleb seorang Briptu Norman

Negeriku bukan Negeri para bedebah
Setidaknya aku tak mau menyebutnya begitu
Meski di Negeriku kini banyak limbah, tapi tetap saja sebenarnya bisa diolah
Dan satu lagi, alangkah banyaknya manfaat lebah yang juga hidup di Negeriku

Negeriku sebenarnya kaya raya, itu pasti
Karena di Negeriku banyak sumber daya alamnya
Tapi nyata juga, disetiap pulau Negeriku ada saja hutannya yang gundul
Dan dihembusan angin berita, selalu ada saja tema tentang kelaparan

Negeriku yang masih terseok bangkit dari kepungan hutang Negara Asing
Meski begitu, anak bangsanya begitu mempesona. Pandai berwibawa, bijak wijaksana
Sungguh sosok Laskar Pelagi atau Shohibul Menara dalam Negeri 5 Menara itu ada
Para pemuda yang gempita mengejar mimpi-mimpi

Negeriku sangatlah berbudaya
Hingga budaya korupsi, sangat kental membudaya
Dan ilmu sosial budaya begitu jarang diminati
Budaya malu juga makin terkikis, meringis miris diusir senyuman sinis

Negeriku, sangatlah lengkap kisahnya
Dari kisah Mahabarata sampai kisah Mesuji
Kisah pendidikan yang masih jauh dari berkarekter
Pun kisah dunia industri yang hanya minoritas memihak usaha kecil

Negeri yang marak dagelan politiknya
Saat ramai-ramai orang bincang politik padahal tak ada ilmunya
Saat politik hanya untuk kepentingan pribadi saja
Saat politik bagai jualan kacang rebus di atas kereta ekonami

Di Negeriku ini juga banyak cerita tentang kesehatan
Pengobatan gratis katanya untuk membantu rakyat jelata agar sehat
Tapi benarkah? Mengapa orang miskin justru sulit sekali masuk RS
Entahlah, apa ada hubungannya dengan pelaku dunia kesehatan?

Lalu, adahkah kau tahu, kisah sedih dibalik selembar STR di Negeriku?
Ya untuk langgeng berpraktek seorang dokter harus punya STR ini
STR berlaku selama 5 tahun, selanjutnya harus diperpanjang lagi
Jangan tanya syaratnya, banyak dan njlimet 



Masih tentang STR di Negeriku
Sebenarnya tujuannya baik hati dan tidak sombong
Agar para dokter terus belajar dan berbenah diri
Sebab yang dihadapi adalah sesosok makhluk bernyawa yang katanya paling mulia

Tapi dan tetapi STR justru jadi ajang bisnis tak berujung
Tujuan tinggal tujuan, para dokter banyak yang memilih memalsukan data
Hanya ngaku-ngaku ikut pelatihan, atau kalaupun sungguhan ikut
Biayanya yang membumbung dibebankan pada perusahaan obat
Ujung-ujungnya mencekik si sakit yang sekarat

STR oh STR
Miris hatiku mengingatmu, STR milikku memang sudah ditangan Agustus 2011 lalu
Tapi aku masih harus prihatin dengan banyak kisah seputar STR para sejawat
Akhirnya dengan sangat menyesal sedih kukatakan,
"Berfikir ulanglah bila ingin menjadi dokter di Negeriku"


* STR = Surat Tanda Registrasi, semacam SIM untuk praktek dokter.

***

Untuk Trio Mak Cebong, ini kisah sedihku. Hampir lewat aku diambang DL, tapi demi  kuingat salah satu syarat penulisannya boleh dalam bentuk puisi, pantun, gurindam atau apa saja dengan tak ada batasan panjang pendeknya, maka untuk memperjuangkan cintaku pada sahabat, sengaja kutulis kisah sedih ini.
Nyata tak pakai bulu air mata buaya palsu.



Maka dengan ini, aku 'Umminya Hamas' menyatakan bahwa tulisan yang tak selebar daun kelor dan tak sedalam lautan biru ini diikutkan dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng Soes-Jeng Dewi-Jeng Nia”. Disponsori oleh : “Jeng AnggieDesa BonekaKios108

Senin, 09 Januari 2012

Embun, Berbagilah Selalu

Berbagi itu hangat dan menyenangkan ya, buat diri kita juga buat orang lain…
Sesederhana apapun tetap mampu menghangatkan, dan menurutku juga selalu menyenangkan. Dan satu hal, tak akan mampu berbagi seseorang yang tidak memiliki, iya kan? Apa yang mau dibagi kalau diri sendiri tak berpunya. Trus kalau merasanya tak punya selalu, kapan giliran berbaginya ya? Bagaimana kalau dibalik, berbagilah selalu, agar Sang Pemilik menjadikan kita memiliki, walau tak lumrah, aku suka. Maka kemudian aku selalu ingin mengingatan diriku untuk selalu mau berbagi, agar Sang Pemilik menambahkan apa yang aku miliki. Meski sudah begitu wanti-wanti, tetap seringkali masih banyak alasanku. Tak sempatlah, tak layak lah, belum cukuplah, dan seterusnya… Akhirnya aku tak juga berbagi. Padahal sejatinya berbagi tak hanya berupa materi lho… Bisa justru berupa motivasi dan juga semangat. Mudah tampaknya. Tapi kembali ke konsep awal tentang hakikat berbagi, motivasi apa yang bisa kubagi bila aku sendiri tak cukup punya motivasi. Semangat apa yang mampu kubagi andai aku sendiri tak punya semangat yang kuat. Aku malu menuliskan resolusiku di 2012, khawatir tak ada yang layak untuk dibagi, tak ada yang menginspirasi. 

Tapi aku ingin bukunya. Buku perdana dari seorang yang belum aku kenal. Mbak Diana Wardani. Entah ya, baru baca dari blognya Pu, langsung kepincut ingin ikutan. Kumpulan puisi? Batinku bertanya-tanya. Akukan banyak punya puisi, sejak SMP suka buat puisi tapi tak pernah terfikir untuk dibukukan. Terserak saja, berceceran. Achhh… inginku membaca buku Kisah Cinta Embun Pagi dan Tuhan (KCEPDT), berharap sekali bisa belajar dan termotivasi untuk membuat buku juga. Perciki aku embun, agar aku juga bisa berbagi, jujur aku malu padamu. Embun pagi yang tak pernah takut sirna karena kilau mentari. Embun akan terus mencipta diri esok dan esok. Lagi dan lagi, embun akan terus berbagi.

Lalu bagaimana mungkin bisa dapat, syaratnyakan harus membuat resolusi tahun 2012 ya? Maka baiklah, aku akan menuliskannya, Bismillah...
-       Meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, termasuk sholat tepat waktu, puasa sunnah, dst. Sekaligus juga menjadi teladan untuk anak-anakku dalam menghidupkan Al Qur'an, baik membaca, menghafal juga mengamalkannya.

-       Lebih optimal dalam melaksanakan hak suami, termasuk semua adab yang terangkum didalamnya, jadi tak hanya sebatas tersenyum manis plus tidak ceriwis. Dulu aku gagap membedakan zona taat dan zona tawar. Sekarang, masih suka terjebak, hikksss... Semoga aku tak pernah terperangkap.

-       Berupaya semaksimal mungkin untuk menjadi anak yang sholeh, sebelum sibuk menjadi orangtua sholeh. Salah satu contoh dengan membuat jadwal mudik ke orangtua. Dan silaturahim seseringmungkin kepada mertua, karena faktor jarak yang dekat, hanya sekitar 2 km.

-       Terus berjuang menjadi Ibu idola buat ananda, yang bisa jadi kawan curhat dan pandai bermusyawarah dengan bahasa mereka.

-        Menyengerakan dalam membayar ZIS (Zakat, Infaq dan Shodaqoh), termasuk berfoya-foya dan ikhlas dalam membayarnya. Jangan tunggu sampai Allah mengambilnya dengan paksa, misal kehilangan barang ataupun uang. 

-       Mengoptimalkan terlaksananya pola hidup sehat. Termasuk didalamnya rutin berolah raga dan konsisten melaksanakan puasa sunnah.

-       Terealisasinya CENTRA HAMASAH (Rumah Baca dan Kreasi Anak), semoga tak sebatas cita-cita mulia saja. 

-       Berdisiplin dalam berinvestasi. Kadang suka lupa, atau suka nyimpang ke biaya kuliah adinda, untuk alasan ini seringkali justru aku harus bersyukur. Dan rencananya mau kuliah lagi, cari yang konsentrasi ke pengobatan herbal tapi inginnya tak keluar dari Palembang, ini yang bikin repot *iiih yang ini campur sari githu ya, ndak ada yang bakalan marahi juga, heeeheee... Punya usaha sendiri yang mapan, klinik herbal yang jadi dambaan. Sekalian buka dagangan. Semoga ada modal yang memadai untuk ini. Rencana gedungnya nyatu sama kantor suamiku.

-       Umroh sekeluarga. Meski belum tahu bisa dapat dananya dari mana. Yang ada kalau beli barang ada kupon umrohnya selalu berharap bisa dapat, kemarin malah beli buku milih yang ada kupon umroh juga menyimpang dari rencana awal, kebeneran buku yang dicari tak dapat juga sich...

-       Ingin lebih giat menulis. Belajar dari mana saja, termasuk ikut pelatihan menulis online gratis. Menulis buku dan juga menambah antalogi.

Semoga dimudahkan menggapainya. Aamiin YRA…

Menuliskan tentang resolusi jadi sekaligus ingin berinstrospeksi pada tahun 2011 lalu. Bagiku tahun 2011 sangatlah bermakna, banyak berkah dari dunia blogging yang kudapat. Dapat rupa-rupa hadiah dan yang terpenting menambah sahabat di maya yang terasa lekat dan bisa dijadikan sarana untuk menambah ilmu. Aku bersyukur. 

Namun bila diingat lagi, dulu tahun 2010 aku saat satu puisiku berhasil masuk dalam antalogi “SELAKSA MAKNA CINTA” aku sudah bertekad untuk terus menulis, bahkan ingin punya buku sendiri. Tapi nyatanya aku belum berhasil, meski buku antalogi kedua dan ketigaku menyusul, antalogi keempat dan kelima tak jelas wujudnya, semoga beneran jadi terbit. Sebagai bahan perenungan buatku. Masih mau buat buku lagi kah? Atau berlalu 2012, tapi bukuku masih sebatas impian. Aku ingin, tidak menyerahkan pada waktu untuk menjawabnya. Karena semua tergantung aksi nyataku. Akan kujadikan karya para sahabat untuk memacuku. Aku ingin, aku yakin, aku bisa karena-Nya. 

Seperti embun pagi, 
...semoga bisa terus berbagi
Bisa karena-Nya...

Tulisan ini diikutsertakan pada Give Away Sederhana di Akhir Tahun

Selasa, 03 Januari 2012

Untuk 2 Hani

Mengikuti perhelatan sahabat blogger, entah itu kontes ataupun yang bertajuk give away termasuk PR berantai, adalah sebuah kebahagian buatku. Salah satu bentuk kebahagian karena bisa kujadikan cara yang bisa 'memaksa'ku untuk menulis, salah banyaknya karena mengincar hadiah-hadiahnya, suit...suit... jujur ini mach!

Menang kalah bukanlah soal, karena itu bukan hal yang utama. Walau kadang harus menanggung kecewa karena ternyata aku terlewatkan acaranya, secara saat DL belum juga sempat nulis. Ya semoga dimasa-masa mendatang aku bisa lebih 'bersegera' lagi.

Ada satu moment give away yang sebenarnya aku niat banget ikutan, sudah memperkenalkan diri dan menghaturkan harapan untuk ikutan, tapi apa daya, saat mau posting tanggal 28 Desember lalu, lihat blognya ternyata sudah pengumuman pemenang. Hikss, hikksss, berasa banget sedihnya, secara sudah menyiapkan jawaban hanya tinggal memindahkan foto, tapi oh no ternyata sudah telaaat. Yang kumaksud adalah acaranya Mbak Hani Von Gillern, di Pojok Utak-atik.

Maka saat sudah berhasil memindahkan foto aku buatlah posting ini, kujadwalkan dihari ke 3 Januari. Sebab 1 dan 2 Januarinya sudah terisi. Ini salah satu bentuk usaha mengisi blog ini minimal 1 posting sehari, walau isinya rupa-rupa tak jelas. Kuantitas dulu ajee kali, ntar besok-besok baru meningkatkan kwalitas, hehee...

So, inilah jawabanku buat Mbak Hani:
Diantara perhiasan perempuan yang paling kusukai adalah anting-anting. Apa ya bahasa bakunya. Setahuku ada yang menyebutnya giwang. Entah ya Mbak, aku suka aja memakainya. Punya beberapa di rumah yang masih utuh sepasang. Sebenarnya kalau dari kecil kukumpulkan patahan atau yang tinggal sebelah buaaanyaak banget kali yaa...
Kalau koleksi mungkin banyak bros, sebab sering diberi orang. Banyak banget sich nggak tapi lebihlah kalau 5. Ini gambarnya Mbak...

Lumayan banyak kan ya...
Untuk poin mengabarkannya kepada yang lain, maaf ya Mbak tak bisa kulakukan lagi...
Maka sebagai gantinya pada kesempatan kali ini aku mau ucapkan selamat pada para sahabat yang sudah mendapatkan bingkisan dari Mbak Hani.

Nach kalau kerajianan yang paling kuminati, adalah kerajinan daur ulang. Yang memanfaatkan barang bekas menjadi lebih cantik dan bermanfaat. Seperti ini:

Ini termasuk daur ulang kah?

***
Dan satu lagi PR tentang adalah 5 rahasia yang aku dapat dari Hani si Pemilik blog Honeylizious. Udah lupa kali yang ngasih, tapi biarlah ya walau teelatnya setahun, hmmm...

1. Aku sebenarnya bisa mengendarai motor, tapi itu dulu waktu di Kampung. Trus sudah lama banget. Jadi kemaren saat nyobain aku ngelagapan sendiri. Akhirnya aku menyimpulkan aku harus belajar lagi. Dan kalee lebih mudah kalau naik matic, ternyata aku benar. Tapi anehnya sampai saat ini aku belum berani naik motor ke jalan gede. Hanya di sekitar Kompeks saja. Terkategori bisa kah aku nyopir motor? SIM? Boro-boro punya. Belum, sungguh aku belum punya SIM, jadi maaf ya tak punya fotonya.

2. Aku suka pakai antingan, seingatku ini sejak kecil. Sampai ketika aku sudah berjilbab akupun tetap suka pakai antingan. Entah ya, aku kok merasanya perempuan banget kalau pakai antingan. Antingan yang kupunya tak mesti emas, lebih sering perak atau bahan lain yang tidak menimbulkan gatal di kulit. Saat sudah menikah, kesukaanku pada si antingan justru bertambah. Mungkin efek pujian suami kali ya... Jadi saat ini aku punya beberapa antingan. Hanya 1 yang dari emas, dulu aku belinya Rp. 200.000,- Zaman kapan ya? Lupa. Emas berapa karat? Aachhch tak tahu pasti, yang jelas tak tampak sekarat. Aku suka ganti-ganti pakainya terutama pada moment-moment yang menurutku spesial, cieee... Misal saat suamiku pulang berpergian yang agak lama, atau menyambut bulan Ramadhan, ya spesial kan ya? Sayang aku tak bisa menampilkan foto saat aku berfose memakai antingan, sebagai gantinya aku kasih lihat yang ini saja ya...

Pojok kiri atas, aku beli di Mekkah harganya 2 Real.
*atau saat itu setara Rp. 5000,-
Itu yang pojok kanan bawah sudah tak sepasang lagi. Oya rata-rata kalau antingan aku beli sendiri, kagak pernah ada yang kasih kado ini. Ya mungkin pada nggak nyangka aja kalau aku ternyata suka antingan. Apakah aku termasuk perempuan yang suka berhias? Heelleeeh, tak usah kujawab ya, tapi setahuku seorang istri itu kudu pandai menyenangkan hati suaminya.Berhias didepan suami, semoga berpahala, suiit, suit, ciieee...

3. Ternyata saat ini tak ada satu jam tanganpun yang aku punya. Parah nggak sich? Dulu pernah punya dong, ya iya lah zaman kuliah ini termasuk benda wajib, harus ada jarum detikannya untuk menghitung nadi dll. Dulu juga pernah di kasih suami kado jam, tapi pesannya pakailah disaat-saat yang istimewa, nach karena aku merasa setiap waktu itu istimewa ya aku pakee terus, rusak. Tapi pada dasarnya lagi sejak dulu aku kurang suka pake jam, malah suka kukantongi, atau masuk kotak pensil saat zaman kuliah. Suka ribet kalau mau berwudhu, heheee... maka beli yang tahan air? Na itu, apa lagi sekarang saat handpone sudah menjadi kebutuhan, ya tinggal lihat ke hp aja jam berapa?

4. Aku ternyata sudah sering mematahkan kaca mata, 5 kalian ada kali ya? Sejak awal pakai kaca mata kelas 2 SMP dulu. Sayang tak pernah kufoto bangkai kaca mata yang dulu-dulu.  Bangkai terakhir saja yang masih ada saat aku rapi-rapi kemaren. Ini fotonya sebelum dibuang.

Terakhir kaca mata ini yang patah. 
Termasuk cerobohkah aku? Ampun semoga enggak lagi. Tapi kaca mata bagiku sudah menjadi alat bantu yang begitu lekat. Kata Bunda Monda disatu postingnya, benda keramat. Ya begitupun yang kurasakan. Bangun tidurpun aku langsung cari kaca mata. Sekarang aku minus 3,5 dan ini sejak 5 tahun terakhir, semoga tak bertambah. Awal aku mulai pakai kaca mata minus 0,75. Dan aku sadar kaca mata riskan cidera, maka dulu saat aku tugas sebagai TKHI, aku bawa 4 kaca mata. Tenang, tenang kaca mata yang kupunya, harganya murah saja, Rp. 25.000,- sampai Rp. 50.000,- Hanya ada satu kaca mata yang harganya diatas itu, kaca mata dinas aku menyebutnya. Jadi kalau di rumah kaca mata dinasnya disimpen saja.

5. Rahasia selanjutnya, apa ya?
Ternyata aku punya PIL (Pria Idaman Lain). Dan dalam sebulan terakhir, aku bolak-balik dibuat cemas pada laki-laki tersebut. Beliaulah laki-laki cinta pertamaku. Beliau sakit. Macam-macam diagnosanya. Ada vertigo, ada jantung. Darahnya tinggi. Padahal beliau terkategori orang yang sehat dan awet muda. Sejak aku SMA sampai sekarang tak banyak yang berubah pada wajahnya. Jarang sakit, bahkan tak kenal pijat dan kerok. Ubannyapun masih jarang-jarang. Umurnya? Beliau kelahiran tahun 1946. Ya, beliau adalah Papaku. Walau caranya mengungkapkan cinta tak biasa, tapi aku tahu, beliau begitu mencintaiku, dan aku juga sangat amat mencintainya. Meski kini ada laki-laki lain yang kupuja selain dirinya, tapi tetap namanya yang tersemat abadi dibelakang namaku.

Bergaya dengan cucu pertamanya.
*Sekarang sudah 7 cucunya.
Aku sedih sebab saat ini tak bisa sering-sering berada dekat disampingnya. Terakhir tanggal 25 Desember lalu kami bertemu. Saat beliau ke Palembang, karena menjadi wakil keluarga dalam acara lamaran sepupuku. Dan aku sudah merayu suamiku agar dalam minggu-minggu ini kami bisa menemuinya lagi. Dari Palembang ke Way Kanan (Kampung halaman, tempat Papaku tinggal) sekitar 5 jam perjalanan darat, dengan kecepatan standart. Semoga jadi, mumpung anak-anak masih liburan juga. Dan kalau jadi mungkin dalam beberapa hari ke depan aku tak bisa BW. Maaf  ya dan mohon do'anya untuk kesehatan Papaku, semoga umurnya barokah....

Hmmm, ini rahasia yang sifatnya subjektif sekali, mungkin ada banyak orang yang menganggap 5 hal ini bukan termasuk rahasia, tapi buatku ini hal yang jarang sekali kuceritakan pada sahabat di nyata. Makanya berasa rahasia buatku. Nach ini rahasiaku, apa rahasiamu? Kuteruskan PR ini untuk:
1. Al Kahfi yang sedang sibuk.
2. Mbak Reni di Madiun
3. Kenia yang sedang hamil anak ketiga.
4. Dhenok Habibie di Palembang
5. ESF si pemilik It's Life, yang tulisannya sedang timbul tenggelam.
6. All,  yang belum mendapat tag dan berkenan mengerjakan 5 rahasia ini.
Anggap saja sebagai tema membuat posting di blog atau bisa sebagai sarana untuk saling kenal, kalau sudah kenal kan jadi makin sayang yaa...

Untuk 2 Hani sahabatku, kubuat posting ini.


Happy Blogging !!!

Senin, 02 Januari 2012

Aksi dan Gaya

Aksinya Hamas

Satu dari banyak aksi dalam foto ini sudah berhasil mengatarkan  Hamas mendapatkan hadiah
di "Ayo Ngakak Sejenak"nya Om Kahfi dan Tante Fanny. Ayo tebak foto yang mana?

Gaya Yundanya Hamas





photo edited for free at www.pizap.com
Yunda saat masih mau bergaya tampa pakai jilbab. Mumpung belum jerawatan ya Nak...
*Sekarang dah nggak mau lagi.



Maaf ini posting narsis bin sok manis, kurang kreatif atau apalah namanya. 
Yach secara mau tetap exis ngisi blog tapi belum bisa cerita banyak... 
Selamat liburan. Happy Blogging!!!

Kamis, 29 Desember 2011

Dua Sehat Tiga Sempurna

Sejak awal sudah meniatkan untuk ikutan Ce I eN Te A ini, tapi entah mengapa selalu tertunda. Belum telat kan ya?  Bicara cinta memang tak ada habisnya, dan aku setuju bahwa cinta sering sulit diungkapkan dengan kata-kata, tapi karena acara ini justru diselenggarakan agar merangkai cinta lewat kata-kata, maka baiklah kutuliskan ini untuk Anis dan Angga.

Mungkin sudah banyak yang cerita bahwa pernikahan tak selamanya harus bermodalkan rasa cinta, dan aku salah satu pelakunya. Kami dikenalkan, merasa cocok. Satu komitment. Bismillah... kamipun menikah. Singkat dan mudah saja, tak sampai 2 bulan waktu untuk mempersiapkan semuanya, juga disaat masa-masa kepanitraan klinikku di Rumah Sakit sedang berjalan, jadi tak sepenuhnya aku bisa ikut terlibat. Bahkan acara lamaran aku tak hadir, keluarga yang menyelesaikan semuanya. Aku ikut saja, tapi saat tanggal pernikahan ditentukan justru jadwalku yang jadi acuan. Karena mempertimbangkan masa 'cuti'ku agar tak terlalu lama. Seminggu menjelang pernikahan baru aku bisa benar-benar fokus. Kami menikah saat aku belum tamat kuliah itu betul, tapi bukan berarti pernikahan dini lho, karena umurku memang sudah selayaknya menikah.

Pada masa setelah menikah inilah kami melewati masa-masa yang orang bilang 'pacaran', belajar bagaimana mengungkapkan rasa hati masih dengan malu-malu. Romantisme kental khas pengantin baru. Haripun berganti, banyak sekali ternyata perbedaan diantara kami. Saat-saat terberat adalah setahun pertama kata banyak orang, itulah kenapa katanya dimasa inilah angka perceraian paling tinggi. Akupun merasakannya. Biasalah egoisme masih sering meraja. Aku yang terkategori parah kalee ya... Masih suka gamang sama yang namanya taat, padahal kudu kan ya... Pernah juga cemburu sama wanita lain, Ibu mertua maksudnya, achh maluuu kalau ingat. Tapi ya itulah, semua ternyata hanya butuh waktu. Disinilah kujawab mengapa aku setuju dengan pendapat bahwa cintapun butuh waktu, aku tulis lebih jelas disini. Tapi kalau bertanyaannya kapan aku mulai jatuh cinta pada suamiku? Sulit aku menjawabnya, bukan nggak mau ngaku lho ya, tapi kalau jatuh apa nggak sakit ya rasanya?*bukannya dijawab, malah balik nanya lagi, ngeles aja... Dalam hal ini aku suka sekali istilahnya "Salim A. Fillah" salah satu pengarang buku favoritku, begini katanya:
Jika kita menghijrahkan cinta, dari jatuh cinta menjadi bangun cinta maka cinta akan menjadi sebuah istana, tinggi menggapai Syurga.
Saat usia pernikahan masuk 5 tahun atau lebih, saat perekonomian sudah mulai stabil. Lahir atau belumnya anak-anak dalam rumah tangga, saat inilah cinta makin menunjukkan eksistensinya. Dan pada masa inilah pernikahanku sekarang bertahta. Anis dan Angga juga kan? Sama ya kita, hanya beda hampir 5 tahun, trus dimana samanya?*simak ya, kan diawal aku sempat bilang  fase 5 tahun atau lebih... Bahasa cinta makin berwarna-warni. Kadang mati gaya karena terjebak rutinitas. Kehangatan jadi barang langka, kejenuhan melanda. Komunikasi jadi hambar. Lalu apa yang sebaiknya dilakukan?

Yang terpenting adalah bagaimana membahasakan semuanya dengan bahasa cinta kita masing-masing. Kita yang paling tahu pasangan kita. Bukan lagi ribut masalah istri harus taat, suami harus bijak atau siapa yang seharusnya mencari nafkah? Taat seorang istri itu memang seharusnya kan ya? Tapi lantas kalau sebagai istri tak boleh ngomong itu artinya apa hayooo? Ya menurutku solusinya hanyalah masalah komunikasi yang sehat. Apa-apa dikomunikasikan.

Bahkan kakipun bisa bicara...
Cara berkomunikasikah?
Pakai bahasa yang dipahami oleh pasangan ya, jangan pakai bahasanya para peramal atau bahasa isyarat. Kita kepada rekan kerja saja bisa berbahasa dengan manis, santun, humoris, penuh sanjungan mosok sama pasangan ketus bak gunung meletus. Mungkin ada pasangan yang dengan semburan pedas justru bisa romantis, mungkin lho ya, selera pedas kan banyak yang suka... Tapi menurutku, pasangan kita justru adalah orang pertama yang harus kita perlakukan paling manis *semanis madu, atau semanis manggis yang dikasih gula... maksudnya teristimewa gitu lho... Dan kita yang paling tahu caranya. Wong sudah bertahun-tahun bersama juga.

Selanjutnya, aku cuma mau mengingatkan diriku. Bahwa tak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Sang Khalik saja. Maka jangan pernah mimpi punya pasangan yang sempurna. Cukup kiranya kisah ini menjadi perenungan. Dan aku sangat setuju bahasanya Asma Nadia dalam bukunya 'Sakinah Bersamamu',
"Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna, tapi menerima pasangan kita dengan sempurna"
Demikianlah Anisayang, maka resep andalanku hanya 3 saja, menu favorite tentunya,
Satu: Komitmen yang Sama
Bahwa menikah itu adalah ibadah. Akupun percaya kalau niatnya ibadah, nikah jadi mudah. Jadi menikahlah, bukan untuk cari kekayaan, kepuasan apalagi yang lainnya. Kalau menikahnya seseorang supaya ada yang masakin, silakan cari koki, kalau menikah biar ada yang nyuciin, ya silakan saja menikah dengan mesin cuci*tenang-tenang, kenapa aku tampak sewot  yack...

Dua: Komunikasi yang Sehat
Dengan komunikasi yang sehat semoga mampu kita bangun cinta yang bisa menghantarkan kita bersama ke Syurga-Nya.

Tiga: Menerima dengan Sempurna.
Masing-masing kita tentu punya kelebihan dan kekurangan, semoga dalam pernikahan kita bisa saling melengkapi dan menyempurnakan. Bukankah kesempurnaan sejati hanya milik-Nya saja?

S3 ini mach namanya. Sama-Sehat-Sempurna, ambil kosa kata akhir maksudnya, hihiiii... Ini termasuk resep bukan sich, dikepala yang aku bayangkan adalah menu 4 Sehat 5 Sempurna yang terkenal itu lho, dimonifikasi jadi 2 Sehat 3 Sempurna, tapi yang tertuang mengapa jadi begini ya, so Pak Juri yang guanteng maafkanlah ya ... 

Setulus hati kudo'akan buat Anis dan Angga semoga pernikahanmu barokah, menjadi keluarga SAMARA yang diridhoi-Nya. Semoga terkabul semua do'a, dimudahkan dalam semua usaha, juga selalu bahagia kini dan kelak. 


Tulisan ini spesial tampa telor untuk acara 5th Anniversary Giveaway: CeIeNTeA 
yang diselenggarakan oleh Anis Zoothera.

Rabu, 14 Desember 2011

Pasangan Sempurna?



Alkisah ada seorang pemuda yang sudah cukup usianya untuk mengakhiri masa lajangnya dengan menikah. Maka ia putuskan untuk mencari seorang gadis yang akan dia nikahi. Namun ada satu syarat yang ingin ia dapatkan, yaitu dia ingin mempunyai istri seorang gadis yang sempurna.



Setelah beberapa lama dia mencari, akhirnya dia menemukan seorang gadis yang sangat cantik. Bayangan si pemuda tadi, “Inilah gadis sempurna yang selama ini aku impikan untuk kujadikan istriku”. Namun ternyata pemuda tadi mengurungkan niatnya untuk menikahi gadis itu, karena ternyata gadis tersebut tidak bisa memasak.



Karena kecewa gadis yang akan dinikahinya tadi tidak sesempurna seperti yang dia impikan, pemuda tadi kemudian mencari gadis lainnya. Alhasil bertemulah dia dengan seorang gadis yang sangat cantik dan masakannya sangat luar biasa lezatnya. “Inilah gadis sempurna yang aku cari,” pikir pemuda tersebut. Setelah pemuda tersebut mendekati sang gadis, alangkah kecewanya pemuda tersebut karena ternyata gadis tersebut berpendidikan amat rendah. Dia hanya lulusan SD dan kemampuan memasaknya dia peroleh dari ibunya. Akhirnya dia tinggalkan gadis itu untuk mencari gadis lainnya.



Beberapa waktu kemudian bertemulah pemuda tadi dengan seorang gadis yang sangat cantik, pandai memasak, lulusan S2 sebuah perguruan tinggi ternama dan bahkan sudah memiliki beberapa restoran yang cukup ternama. “Sempurna,” pikir pemuda tersebut. ”Inilah calon istriku yang selama ini menjadi harapanku.” 


Namun pemuda tersebut kembali kecewa tidak bisa menikahi gadis tersebut. 
Karena apa? Ternyata gadis tersebut mencari pemuda yang sempurna.



Disarikan dari MENCARI YANG SEMPURNA, tulisan Ajahn Brahm.

***

Dan buat kita yang sudah menikah, bukan lagi masanya mencari pasangan yang sempurna. Sudah lewat, masa kita adalah bersama pasangan. Pasangan yang harus kita cintai, terlepas sempurna atau tidaknya.
Bila kita meyakini tak ada manusia yang sempurna di dunia ini, maka proses mencintai pasangan kita akan berjalan dengan lebih indah.

"Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna, tapi menerima pasangan kita dengan sempurna"





Ini katanya Asma Nadia dalam "Sakinah Bersamamu", jadi bukan quote-ku. Tapi aku sangat amat setuju. Bagaimana menurutmu?


**Dalam pengumpulan bahan untuk ikutan resep GA Ce I eN Te A 
di http://zoothera.wordpress.com/2011/12/01/5th-anniversary-giveaway-ce-i-en-te-a


Kamis, 24 November 2011

Lanjutan Sebelas

Ini menjawab sebelas pertanyaan dari Nia Angga...

1. Mending dapat beasiswa tapi jurusan nggak sesuai atau melepasnya? Alasannya?
Kalau aku lihat dulu apa sesuai dengan minatku, misalnya beasiswa dibidang menulis *ngimpi kalee... nach walau beda jurusan tapi karena sesuai minatku ya aku minta izin suamiku dulu, semoga aja boleh :P

2. Milih bo'ong nyenengin apa jujur menyakitkan?
Khusus buat suami milih bo'ong nyenengin dech *semoga dapat pahalaaa...


3. Gambarkan Nia Angga dalam 3 kata:
Sanguinis, melankolis dan pemalu ;) Sesuai dengan pengakuannya di Pe Er Sebelas.

4. Blogger yang seruangan Nia:
Putri Amirilis dan Epay *salah ya...


5. Dikiri kanan pas kapan Nia? *mikir gaya Pooh...


6. Pak RT? Pernah disebutkan ya? Maaf aku terlewatkan *asli kali ini aku menggeleng keras-keras...


 Dari blognya AdEK PoOh
7. Tokoh yang menggambarkan Nia?
PoOh ini kali ya, tapi bukan karena kemiripan lho, hanya karena nama blognya AdEk PoOh. Apa ya maknanya? *penasaran juga...

8. Mimpi terpendam, banyak dech, sudah kutulis di Gurindam Sebelas *semoga banyak yang mendo'akan ya... Cara mewujudkannya dengan berusaha, berdo'a dan minta do'akan orang banyak ;)

9. Alat Doraemon yang aku impikan adalah the Pensieve *tapi kayaknya tak akan pernah ada dalam kenyataan ya...


10. Andai bisa memutar waktu aku ingin memperbaiki banyak hal saat kelahiran anak pertamaku, karena aku kurang pengetahuan dan kurang persiapan, banyak kesalahan yang aku lakukan sebagai orantua baru. Contoh kecil, Sulungku tak dapat ASI Ekslusif. Aku bisa saja koar-koar karena aku masih kuliah, tapi sesungguhnya aku yang kurang optimal dan belum tahu persis cara menyimpan ASI di kulkas, hikkksss...


11. Yang paling aku cinta...
Adalah yang paling mencintaiku, yang memberiku hidup, rizky dan semuanya. Yang selalu memberiku yang terbaik *walau kadang aku telat menyadarinya, ampuni ya Allah...


Selesai, legaaaaa...
Khusus yang dari Bunda Vania, nanti kuminta Yunda Akang buat malam ini ya *Insya Allah...

Selanjutanya, sebelas pertanyaan kepada semua yang bersedia...
Aku minta sahabat membuat :
1. Sebelas fakta terbaru tentang diri dan keluarga, bagusnya lagi disertai foto keluarga terbaru.
2. Sebelas harapan dan impian untuk tahun depan lengkap dengan cara meraihnya secara kongkret.
3. Sebelas hal yang terjadi ditahun ini tapi tak ingin terulang/mengulanginya lagi tahun depan, jadi semacam ajang instrospeksi maksudnya. Bukankah tahun depan harus lebih baik dari tahun ini.
Aamiin YRA. Semoga...

Buatlah sepenuh hati.
Tahan sampai 27 November besok, bertepatan dengan 1 Muharam 1433 H. 


Ya, aku ingin mengajak sahabat semua menciptakan sebuah gurindam bertemakan Muharam, dilengkapi 3 sebelas tersebut, spesial pada hari tersebut saja. Nyontek acaranya BATIKKAN HARIMU: Trio Pu, Mbak Lidya dan Mbak Nia.

Jurinya aku sendiri ditambah 2 orang sahabatku dinyata yang guru Bahasa Indonesia, bisa jadi lebih dari 2 orang. Hadiah untuk skor terbesar, sementara baru tersedia 1 buku, semoga dalam 2-3 hari ini ada tambahan. Format acara, pendaftaran dan serba serbi Give Away sedang coba kubuat *masih sambil belajar, so menyusul yaa...

Terima kasih semuaaaa,
Salam hangat dari Palembang

Gurindam Sebelas

Tentang sebelas beredar dibanyak blog yang aku kunjungi, akupun kebagian dari Al Kahfi juga dari Nia Angga. Baiklah saatnya aku kerjakan, sekalian bergurindam. Gurindam Sebelas. Kalau Raja Ali punya Gurindam Duabelas, ini beda tipislah, 11 - 12 kata Tia yang sudah mempersembahkan tugas sebelas buat Yunda dan Akang. Makasih Bunda Vania :P 

Sebelas tentangku, dalam gurindam yang coba aku ciptakan...

1. Suka sambal tapi tak tahan pedas
    Sebagai pengingat diri agar tak mudah sebal sama hal-hal tak jelas.

2. Sejak kecik, Tamat SD sudah merantau.
    Selalu suka mudik, tak ada alasan untuk tidak pulang ke dangau.

3. Karena tahu bahaya efek samping obat, jadi kapok minum obat.
    Akupun mengajak sobat beralih ke herbal, karena herbal juga bisa jadi obat.

4. Ingin punya klinik herbal.
    Lagi ngumpulin modal.

5. Seorang dokter fungsional.
    Yang masih berjuang untuk profesional.

6. Lebih suka berkebun dari pada masak.
    Suka berembun tapi tak suka bersasak.

7. Sedang belajar menulis.
    Walau hasilnya suka bikin meringis, tak apalah yang penting tak menangis.

8. Benci rokok. Sering merasa kasian dengan para perokok. 
    Jadi terpanggil kalau ada orang yang ingin berhenti merokok.

9. Merasa sanguinis padahal pemalu.
    Tak pandai melukis hanya bisa menyapu.

10. Ingin punya "Rumah Baca"
    Agar bisa menciptakan lingkungan sekitar punya budaya membaca.

11. Ingin jadi pedagang.
     Walau katanya aku tak punya keturunan dan bakat sebagai pedagang.

Jawaban sebelas pertanyaan dari Al Kahfi: Man and the Moon...

1. Paling suka tulisan tentang pengetahuan alam terapannya.

2. Suka biru, karena mengingatkanku pada alam. Langit, laut dll.

3.Ganti-ganti.

4. Semoga selalu ingat berdo'a, agar nge-blog juga bernilai ibadah.

5. Biasanya menemani dan mengantar anak-anak tidur, terus kalau tak terlalu capek bangun     lagi dan beraktivitas termasuk nge-blog, tapi tak jarang ikut ketiduran, hehe...

6. Semuanya oke dan masing-masin punya daya tarik.

7. Pernah dan memang disengaja, biasanya dalam rangka muhasabah/instrospeksi.

8. Pernah, sering malah, waktu kost. Kiriman belum datang. Jadi terpaksa ngutang.

9. Malam sunyi suka terdengar suara jangkrik atau lolongan anjing, bahkan jarum jam berdetak. Kalau belum terdengar tak tik jarum jam, artinya belum sunyiiiiiii...
Bulan purnama? Aku suka sekali, aku pernah cerita ini di Menatap Purnama bulan Oktober lalu. Aku sekaligus juga suka dengan amalam puasa sunnah yang bersamaan dengan bulan purnama.

10. Makan nasi ya? Biasanya 3x sehari. 

11. Suka lah Mas ;) Beneran, bukan saja karena aku mau dikasih hadiah buku lho ya...Suka sebagai saudara.

Baru kelar yang dari Al Kahfi. Sabar ya Nia dan Tia, mau ngawas UTS dulu ...