Jumat, 29 April 2011

Yunda dan Akang pisah Kamar

Pernah dengar hadist bahwa pemisahan tempat tidur pada anak laki-laki dan perempuan harus sudah mulai dilatih sejak usia menjelang 5 atau 6 tahun, tapi sudah beberapa hari ini kucari belum dapat lagi. Ada yang bisa bantu mencarikan? Aku tunggu ya.....

Langsung dapat dari blog-nya Mbak Irly, matursuwoon ya Mbak.....
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila pada usia sepuluh tahun tidak mengerjakan shalat, serta pisahkanlah mereka di tempat tidurnya.”
(Hadits hasan diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan).

Tapi yang jelas aku sepakat bahwa anak-anak, saat mulai memasuki usia pra-sekolah, sekitar 5 tahunan layaknya, harus mulai dilatih untuk tidur terpisah dari kedua orangtuanya. Selain melatih kemandirian, ini penting juga untuk mulai memahamkan adab islami dalam keseharian, sejak usia dini. Termasuk adab meminta izin masuk kamar orangtuanya diwaktu-waktu tertentu. Artinya kalau mereka masih tidur sekamar dengan kita, orangtuanya, mereka akan merasa ini kamar mereka juga, jadi mengapa harus minta izin? 

Dulu waktu usia mereka menjelang 4 tahun, saat masuk TK, aku mulai mengkondisikan mereka untuk pisah kamar dariku dan suami. Diawali dengan sedikit menata kamar sesuai ingin mereka, akhirnya terlaksanalah satu kondisi Yunda dan Akang tidur sekamar berdua. Yunda dikasur yang atas dan Akang di kasur bawah yang bisa ditarik-dorong. Menjelang tidur ditemani, sesekali masih juga suka pindah kamar malam-malam. Sampai akhirnya berhasil untuk tahapan ini. 

Tapi bukan kah Yunda Akang berbeda jenis kelamin, artinya harus ada langkah selanjutnya. Setelah mereka terbiasa tak lagi tidur sekamar dengan Ummi Abinya, sekarang giliran memisahkan mereka dikamar masing-masing. Dimulai saat Yunda sudah kelas 2 SD usianya menjelang 8 tahun dan Akang, Juni nanti 6 tahun, menjelang masuk SD.  Akang hampir SD, ini yang selalu dibanggakannya. Maka tak ada salahnya memanfaatkan momment ini untuk membuatnya berani tidur sendiri. Pengkondisianpun diatur. Untuk Yunda tak begitu sulit karena menyiapkan 2 kamar untuk mereka artinya menggabungkan penghuni kamar lain, Ohtie Lindanya (sepupuku) ke kamar Yunda dan kamar yang selama ini dihuni sepupuku tersebut jadi kamar Akang. Ya, sedikit perlu perombakan, tapi tak apa untuk sebuah kebaikan kita memang harus berjuang. Akhirnya dengan iming-iming bahwa punya kamar sendiri itu jauh lebih enak, karena kita bebas berkreasi dikamar kita tanpa ada yang protes, Akang yang memang suka beda minat dengan Yunda pun sepakat. Sedangkan Yunda tidur sekamar dengan Ohtie-nya.
"Akangkan mau masuk SD, jadi harus berani tidur sendiri", begitu katanya bangga.

Rada ribet kalu pas keduanya lagi manja, minta ditemani tidur sama Umminya saat yang bersamaan, wach....asli heboh, kadang sampai ada acara ngambek dan mewek dikit. Tapi belakangan sudah ketahuan selanya jadi lebih mudah. Ajak Akang pergi tidur duluan, bacakan cerita sementara Yunda muroja'ah dulu bareng Mbak Endang. Biasanya Akang cepat pulasnya, jadi waktuku bersama Yunda lebih longgar. Ritual tidur yang paling kusuka. Tapi tak selamanya berjalan mulus. Kalau mati lampu, wow akan lain ceritanya, biasanya Akang minta ngungsi ke kamar Yunda. Atau saat Jidah dan Datuknya datang dari Lampung, ini perlu penataan ulang. Biasalah.....

Tapi dari semua kondisi tak stabil, yang terparah untukku adalah saat aku harus berangkat TKHI. Masa 4o hari, bukan waktu yang singkat. Aku harus mempersiapkan mental anak-anakku saat mereka harus tanpa aku lebih dari 1 bulan. Karena Jidah (Neneknya dari Lampung, maksudnya Mamaku) sudah janji untuk menemani mereka saat aku berangkat maka perasaan beratku meninggalkan anak-anak sedikit berkurang.
Dan ternyata karena adikku melahirkan bayi kembar di Lampung, Jidahpun harus pulang meninggalkan Yunda dan Akang saat belum lagi selesai tugas TKHI-ku. Sebenarnya ada Nyai Sun (Ibu dari Abinya Hamas) yang sesekali menginap di rumah kami, tapi tak bisa sering-sering juga karena Nyai ada adik Alisa (sepupunya Yunda dan Akang) yang mesti dimomong.
Ternyata inilah cara Allah menunjukkan bukti bahwa suamiku memang Abi siaga, beliau sangat bisa diandalkan menjaga anak-anak saat Umminya tak di rumah. Akang malah sempat kena diare berat, sampai hampir dirawat. Dan Abilah yang pontang-panting mengurusi semuanya. Thanks ya Abi sayang....
Ada Mbak Endang, ada Ohtie juga ada Mbak Helmi di rumah, bahkan saat itu masih ada Mbak Ria yang jago masak, tapi ya namanya anak-anak....kalau ada Abi dirumah, yang lain lewat :) Kecuali kalau ada Ummi, hehe.....

Alhasil sepulang aku bertugas selama 42 hari (aku berangkat tanggal 01 November 2010), bisa nebak ndak saudara-saudara?
Yuuppss, acara pisah tidurnya anak-anak mengalami kemajuan total. Yunda dan Akang jadi bergabung lagi di kamar utama, kamar Ummi dan Abinya. Gitu dech.....akhirnya sejak pertengahan Desember 2010 yang lalu latihan pisah kamarpun diremedial. Sebulan lebih sejak aku pulang tanggal 13 Desember 2010, sampai Januari 2011 tak tega rasanya pisah tidur dari mereka, secara aku juga masih kangen :) Baru sekitar Februari kami mulai lagi.
Syukurnya jauh lebih mudah. Sekarang sudah stabil, makanya aku bersedia berbagi cerita ini.

Boleh ngintip kamar Yunda, tapi tanpa Penghuninya :

Pintu kamarnya aja cewek banget :)

Lemari buku bagian atas isinya boneka masa kecil Yunda hadiah dari Ju Shinta.

Ada seperangkat alat sholat ya....Yunda memang sudah biasa sholat 5 waktu kecuali ketiduran.

Sisi dinding di kamar Yunda, rapi tanpa coretan.

Pink lagi, cewek banget lho.....
Beda donk.... dengan kamar Akang Hamas. Ini dia kamar bujangku:
Ya iya lah, tipe kepribadiannya juga beda. Apalagi jenis kelamin, jelas bedanya :)
Nach....kalau kamar Akang boleh buka-bukaan, foto ini diambil bahkan saat penghuninya sedang tertidur pulaszzz.
Zona kamarnya Akang, narsis juga ya :)

Ini mainan yang masih sangat di SUKA-nya.

Ada tempelan yang sering digonta-ganti, biasanya hasil kreasinya di Sekolah.

Sisi dinding yang penuh warna.

Ini baru aja terlelap, bentar lagi gulingnya melayang.

Sekali lagi, biar lebih jelas, tidur aja ekspresif :)
Banyak juga sahabatku yang tahu cerita bahwa Akang sudah berani tiduk dewek yang bertanya, kok bisa? Gimana caranya? Memangnya mudah ya?
Ada lagi yang bertanya apa tak takut  jatuh, apa nanti idak nangis. Yang paling bikin senewen ada juga yang ngomong, kok tega nian, kan masih kecik?
Jawabanku. Tak mudah, butuh perjuangan, aku bangun malam sedikitnya 2 kali untuk menengoknya, merapikan posisinya atau paling sering memungut gulingnya yang jatuh. Kadang kakinya sudah menjuntai, ini awal-awal dulu, makin kesini Akang makin rapi tidurnya. Dan yang pasti, paginya dikomunikasikan padanya bahwa semalam Ummi nengok Akang tidur, dengan bahasa-bahasa yang membuatnya bangga.
Bahkan ini kukomunikasikan juga pada gurunya di Tk, hingga Akangpun menuai pujian : Akang hebat, sudah berani bobo sendiri. Begitulah, namanya usaha :)
Hasilnya, ya sejauh ini bagus, walau sekali dua tengah malam Akang masih suka pindah kamar juga. Tak apa, sekali lagi inilah yang namanya usaha.
Soal tega karena masih keci, aku pernah diskusi dengan beberapa ahli, cie....tentang konsep pendidikan anak, sampai umur berapa anak sudah bisa kita ajarkan pada nilai baik dan buruk, benar dan salah?
Jawabnya: sejak anak-anak tamyiz (ini istilahnya Awy, sahabat fb-ku yang hafidz sekarang sedang S2 di Ummul Quro' Mekkah, Baba dan Umminya punya pondok pesantren di Jawa Timur), saat mereka sudah bisa membedakan mana tangan kanan dan mana tangan kiri. Ayooo....para ibu, ingat-ingat lagi, umur berapa?

Ini Satu Kisah yang membuatku Terinspirasi :
Perhatikan kedua tanaman dalam pot ini, ini gambar bunga yang aku ambil sekitar Juli 2010 yang lalu (saat aku masih bertugas di Puskesmas Sukabumi, Way kanan, Lampung) setelah mengamati dengan keheranan, hanya tasbih dan tahmid semata yang layak terucap.
Betapa tidak, ini bunga yang kusemai dari bijinya. Sebenarnya tak begitu kuamati saat awal 2 biji bunga itu mulai tumbuh, anak-anak di Puskesmas pada minta.
"Ini nanti aku minta ya Bu....Nanti yang satu buatku ya...." kira-kira begitu, akupun boleh-boleh saja. Hingga suatu waktu ada pot kecil kosong, aku isi tanah dan salah satu dari bibit bunga yang masih kecil itupun aku pisah. Jujur lagi-lagi tak begitu kuperhatikan pertumbuhannya, sampai ada yang komentar.
"Lho....ini kok anak bunganya tinggal 1 ya, yang 1 mana?"
Menanyakan isi pot awal (gambar sebelah bawah).
Dan kala itulah aku tersadar, alangkah jauh beda pertumbuhan kedua anak bunga tersebut (aku tak tahu ini namanya bunga apa, tapi banyak yang suka, aku dapat bunga ini dari rumah Mamaku).
Mari saksikanlah, jauh berbeda bukan?
Bunga yang kupisah, yang kusiangi kedalam pot sendiri, pertumbuhannya sangat pesat. Lebih besar dan lebih subur. Sampai banyak yang keheranan, nyaris tak percaya, tapi ini nyata, ini asalnya dari biji yang seumur, menyemainyapun bersamaan. Bukti Maha Kuasanya sang Pemilik Hidup.

Anak bunga yang kupisah, ternyata tumbuh lebih subur.
Anak bunga yang masih bergabung dengan induknya, cenderung kerdil.
Mungkin analogi cerita tentang 2 anak bunga ini lebih tepat diibaratkan dengan seorang yang merantau dengan yang tidak merantau, ingat cerita Alif Fikri dalam Negeri 5 Menara dan Tanah 3 Ranah? Dalam buku itu juga ada penguatan tentang keutamaan merantau dari Imam Syafe'i. Tapi aku saat ini tetap terinspirasi untuk pemisahan kamar tidur buat kedua anakku. Masalah nya anak-anakku belum usia siap merantau. Adalah aku dulu juga pernah merasakan sebagai seorang perantau ulung (kapan-kapan ya ceritanya).

Kajian Ilmiah sebagai Pelengkap :
Bahwa pada usia 5 tahun kebawah, serabut meylin pada otak manusia belum sempurna terbentuk, hingga memory yang dilihat dan dialami tak sempurna diingat. Tapi ketika usia 5 tahun keatas, serabut tersebut mulai sempurna, itulah mengapa kita lebih mudah mengingat kenangan masa SD keatas ketimbang sebelumnya. Inilah mengapa, saat usia 5 tahun adalah usia yang sudah seharusnya anak tak lagi tidur sekamar dengan orangtuanya. Agar anak tak merekam apa yang seharusnya tak ia lihat.
Ada lho temansku yang cerita bahwa anaknya pernah tak sengaja melihat "ibadah" khusus Ayah dan Ibunya. Hmm.....ngertikan maksudku? Ambil hikmahnya, ya memang tak sengaja, tak mungkinkan kalau disengaja? Tapi artinya kita harus lebih hati-hati lagi.
Salah satunya dengan mengajarkan adab minta izin masuk kamar kedua orangtuanya, atau dengan mulai memisahkan kamar tidur mereka saat sudah memungkinkan, dan memang harus diawali dengan latihan dan butuh perjuangan.

Mungkin pernah baca berita, ada kakak kandung yang memperkosa adiknya sendiri, atau bahkan seorang Ayah yang tega memperkosa anak kandungnya sendiri karena tergoda saat melihat si adik/anak gadis sedang tertidur? Pernah bacanya atau nonton di TV? Ternyata saat ditanya memang mereka tidurnya bersama-sama, tak ada kamar di rumahnya, karena memang mereka sangat miskin. Oh....benar ternyata bahwa kemiskinan bisa mendatangkan kemaksiatan. Ada orang miskin mencuri karena lapar. Begitulah....walau tak semua orang miskin berbuat maksiat. Banyak juga orang miskin yang tetap menjaga kemuliaannya.


Semoga juga menginspirasi.
Tadinya aku lagi cari-cari bahan tulisan untuk ikut lomba di blog FLAST-nya Bayu, sebagai hadiah Milad untuk istrinya, tapi kok malah nge-lebay nulis ini ya....Next aja dech ikutan lombanya, semoga masih ada waktu :)

8 komentar:

Irly mengatakan...

Hehe..iya bun...emang ada hadits yang mengajarkan untuk misahin anak(kebetulan ada di postingan baru saya). saya juga umur 5 tahun dh berani tidur sendiri(lhoo..promosi lagi.hihi)

Wahh..kajian ilmiahnya jg bikin saya ngerti, kenapa saya lebih banyak ingat masa2 kecil saya dibanding yang udah gede,ngerti..ngerti..

Makasih bun..artikelnya membantu sekali :)

Arief Bayoe Sapoetra mengatakan...

Wah kamar nya bagus sekali Bunda yunda, semoga anak-anak cepat besar & menjadi anak yang sholeh & sholeha..... salam ya Bun, buat mereka........:)

Ticka Y mengatakan...

wah bund, kisah bunga nya itu bener2 mneginspirasi,beneran jadi paham sekarang..

ternyata begitu banyak hal disekeliling kita yang Allah berikan kpd kita sbagai pelajaran, asal kita mau memahaminya :)

ohya, saya juga mau bund bibitnya.. :D
hehe..

salam buat yunda dan akang hamas ya bund :)

Yunda Hamasah mengatakan...

Mbak Irly:
Thanks teks terjemahan hadistnya langsungku susulkan. Oke, sama-sama mengingatkan ya....

Bayu:
Makasih Om Bayu untuk do'a dan salamnya :)
Soal kamar, bukan bagus tidaknya yang bikin anak-anak betah tapi nyaman tidaknya buat mereka.

Ticka:
Bibit bunganya boleh ambil ke rumah, ntar kapan-kapan mampir ya ke Palembang :)
Thanks salamnya ya....

Lyliana Setianingsih mengatakan...

Wah mudah2an nanti proses pisah kamarku dengan anak bisa semudah Mba Yunda... :-)

Analoginya nyambung banget Mba... Emang bener, mandiri bisa membuat seseorang mengeluarkan segala potensinya yah...

Dan, ditunggu cerita perantauannya..,:-)

Yunda Hamasah mengatakan...

Lyli:
Aamiin semoga malah lebih mudah :)
Kapan ke Palembang nich?
Episode anak rantau ntar ku daur ulang dari posting lawas, hehe

Bunda Loving mengatakan...

Alhamdulillah...mbak anakku krn sendiri dan laki2 lagi...jd sejak bayi sampai sekarang sdh pisah kamar/ kamar sendiri kok....dan syukurnya ia jadi ngerti..gmn harus merapikan kamar sendiri, krn sdh dr kecil diberi tanggung jawab sendiri....kecuali dalam menyusun baju dlm lemari yg blum bisa rapi...

Yunda Hamasah mengatakan...

Bunda:
Alhamdulillah ya Bun....udah pada gede ya Bun?
Bolehlah berbagi cerita tentang mereka :)