Selasa, 19 April 2011

Naskah Lomba KBHS


Kembali ke Madu dan Bekam
(Lomba Ketika Buah Hati Sakit)

Hamas baru bisa jalan.
Hamas saat Playgroup, umur 3 tahun.

Hamas TK A dan Yunda Kelas 1 SD.
Sedih melihatnya sakit. Tidurnya gelisah, sering terbagun karena batuk atau jalan nafasnya tersumbat. Kuraba dahinya, masih panas. Cek temperature terakhir masih 38,6 derajat celcius, hanya turun sedikit dari sebelumnya yang mencapai 39,8 derajat celcius. Ini demam hari ke 5, demamnya turun naik, tapi bila sedang turun tak sampai batas normal. Obat penurun panas sudah berulang kali kuberikan. Awalnya aku ingin menganggapnya influenza karena virus saja, tapi aku segera tersadar melihat cairan ingus yang mulai kental dan menguning. Sudah ada infeksi bakteri rupanya. Kutenang-tenangkan diriku. Sebenarnya bila tak ada cerita sebelumnya tentang riwayat sakit dan pengobatan Hamas, anak keduaku, tentu aku akan lebih rasional. Ingin bertahan hanya memberikan antibiotik yang ada di Puskesmas tapi ini sudah masuk hari ke 2 pemberian amoxillin generik tak juga ada kemajauan.

Kejadiannya bermula beberapa tahun yang lalu saat aku prajabatan. Waktu itu aku masih tugas di Lampung. Prajabatan berlangsung 14 hari dari pukul 06.00 WIB sampai 20.00 WIB bahkan adakalanya sampai pukul 21.00 WIB. Hari pertama aku mulai prajab Hamas sudah mulai demam, tapi sudah kusiapkan obat  penurun panas. Ternyata keesokan harinya karena panasnya tak kunjung turun, Ibuku berinisiatif langsung membawanya kedokter spesialis anak terkenal. Singkat cerita, obat yang diberikanpun langsung antibiotik generasi ke II. Sungguh membuatku terpana, Hamas baru 8 bulan kala itu, dan seperti umumnya bayi dengan ASI Ekslusif, ini adalah sakitnya yang pertama. Dan bukankah ciri-cirinya seperti infeksi virus biasa. Mengapa harus dengan antibiotik, langsung generasi ke II pula. Sesalku berkepanjangan. Seperti yang kukhawatirkan, bulan berikutnyapun sakit serupa berulang kembali dan mau tak mau obat Puskesmaspun sudah tak lagi berguna. Maklum saja Hamas langsung kenal obat dosis tinggi.

Ketahuilah, tak ada maksud sedikitpun mendeskriditkan para dokter spesialis dalam hal ini SpA, karena pengalamanku pada Yunda anak pertamaku justru sebaliknya. Guru besarku, seorang professor yang SpA di Palembang justru telah yang mengajarkanku agar percaya diri memberikan pengobatan kepada anak sendiri bahkan dengan menggunakan obat-obatan generik. Ceritanya saat Yunda sakit perdana diusia 7 bulan, aku masih menyelesaikan tahap akhir kepanitraan klinik di RSMH (Rumah Sakit Mohammad Hussen) Palembang, dengan paniknya aku langsung membawanya ke tempat praktek Sang Profesor. Kami menjadi pasiennya yang pertama pagi itu. Anamnesanya lengkap penuh senyuman. Dan saat resep obat kami tebus di Apotik, sungguh mampu membuatku terperangah. Apa? Hanya duapuluh delapan ribu rupiah. Akupun meminta salinan resepnya, ingin memastikan. Benar saja, hanya berisi racikan obat generik penurun panas dan pelega tenggorokan. Diluar bayanganku. Kali lain saat 2 bulan berikutnya Yunda terkena batuk dan lagi-lagi kubawa kepada beliau, Yunda hanya mendapat antibiotik pilihan pertama untuk infeksi saluran pernafasan yang juga generik. Sejak saat itu, aku jadi yakin bahwa pengobatan rasional seperti dalam teori itu ada. Akupun akhirnya jadi percaya diri untuk memberikan serangkaian therapy pada anak, baik itu anakku sendiri maupun pasien anak yang ada di Puskesmas saat aku sudah bertugas. Setamat kuliah dari Fakultas Kedokteran Sriwijaya aku PTT di Lampung, dan langsung pengkatan pegawai negeri juga. 

Ceritanya sejak kejadian pemberian obat antibiotik generasi II itu, hampir setiap bulan Hamas sakit dan tak lagi mempan dengan obat antibiotik generik yang ada di Puskesmas. Puncaknya saat usia 1,5 tahun, Hamas batuk dengan demam tinggi disertai sesak nafas. Kekhawatirankupun langsung berbuah rawat inapnya Hamas di Rumah Sakit. Dan saat itu akupun sempat sedikit berdebat dengan SpA yang menanganinya karena pemberian antibiotik injeksi yang begitu mahal. Bukan soal harganya, tapi mengapa tak dimulai dengan yang generik dulu. Tapi pada akhirnya akupun harus mengalah, panjang do’a dan harapku kala itu untuk kesembuhan ananda yang terlihat sangat menderita dengan nafas yang tersengal, apa kata dokter yang merawatnya akupun berusaha untuk berbaik sangka saja. Setelah dirawat 3 hari Hamaspun boleh pulang tapi masih tampak lesu. Di rumah pemberian obat masih aku lanjutkan. Syukurnya seminggu kemudian Hamas benar-benar sehat. Bulan demi bulan berlalu. Dan Hamaspun masih sering sakit serupa mungkin karena ada bakat Asthma turunan dariku. Jujur setiap Hamas mulai sakit akupun mulai tegang, memikirkan obat apa yang sebaiknya kuberikan. Sangat berbeda dengan bila Yunda yang sakit, aku langsung serta merta tahu obat pamungkasnya.  Obat Puskesmaslah andalanku, generik saja sudah cukup. Dan luar biasanya Yunda justru jarang sekali sakit. 

Waktu berlalu sampai akhirnya kami sekeluargapun pindah ke Palembang lagi. Benakku penuh rencana untuk rangkaian peningkatan stamina Hamas. Dan kami sekeluargapun akhirnya sepakat membuat jadwal renang secara rutin. Karena aku menyakini bahwa renang masih sangat direkomendasikan untuk para penderita Ashthma. Padahal sampai saat itu Hamas tidak diagnosa Asthma. Hanya aku saja yang menganggapnya jendrung ada bakat Asthma. Selanjutnya memang tak mudah mengatur waktu agar kami bisa rutin berenang, tapi ternyata meski hanya sebulan sekali, aku bisa melihat banyak manfaat untuk pertumbuhan dan peningkatan stamina Hamas tak terkecuali Yunda. Memasuki usia TK, sakit langganan Hamas masih belum beralih, walau tak sesering dulu. Dan karena staminanya sudah bagus, badannya berotot, pertumbuhannya benar-benar optimal, aku mulai berfikir untuk tak lagi mengalah begitu saja dengan antibiotik-antibiotik super duper, yang bukan hanya mahal harganya tapi juga rawan efek sampingnya. Sebagai dokter, aku sangat memmperhatikan masalah efek samping obat. Yang menurutku bila masih bisa dihindari maka sebaiknya kita menghindar saja dari penggunaan obat-obatan kimia yang berdosis tinggi tersebut. 

Kisah sakitnya Hamas pada awalnya jelas sudah membuatku tak lagi bisa hanya mengandalkan obat -obatan generik seperti yang ada di Puskesmas. Tapi Allah Maha Kaya, ini justru yang membuatku bisa benar-benar lepas dari penggunaan obat-obatan kimia pada anak-anakku. Aku merasakan efek pemberian obat dosis tinggi pada Hamas justru semakin membuat stamina atau daya tahan tubuhnya menurun. Bila anak sakit, saat itu berarti daya tahan tubuhnya sedang menurun, dan pemberian antibiotik apalagi dalam dosis tinggi akan semakin melemahkan daya tahan tubuhnya. Antibiotik memang akan membunuh bakteri penyebab penyakit tapi juga akan memusnahkan flora normal yang ada ditubuh, padahal flora normal inilah yang sangat berperan dalam menjaga daya tahan tubuh. Akhirnya atas pertimbangan inilah akupun membuat keputusan tak lagi mau memberikan antibiotik dosis tinggi pada Hamas. Maka untuk itu aku melakukan kajian juga diskusi pada banyak teman untuk merealisasikan niatku. Ternyata benar saja, bila kita mau berusaha, Allah akan berikan jalannya.  Pada kesempatan yang tepat inilah, Allah mengirim seorang  teman sejawat, kawan kostku dulu yang sekarang sudah menekuni pengobatan herbal. Saat aku curhat tentang Hamas. Ia langsung menodongku.

“Inilah kita, kadang kita tak yakin dengan Al Qur’an dan Hadist. Bukankah Allah sudah menyebutkan bahwa madu adalah  obat dari segala macam penyakit,” katanya menohokku.

Jadi maksudnya, cukup pakai madu saja? Itu pertanyaan polosku. Diskusi kamipun berkembang tentang pengobatan ala Nabi. Madu sebagia obat andalan, bahkan untuk pengobatan luar seperti luka bakar atu luka bekas jahitan operasi. Keoptimisanku membumbung tinggi, karena jelas ini sumbernya wahyu Illahi. Kesadaranku dihantam, bahwa selama ini belum mengamalkan ilmu ini. Akhirnya sejak hari itu kami sekeluarga kembali ke madu. Selanjutnya mencari dan memastikan bahwa itu adalah madu murni adalah bentuk perjuangan, karena bukan rahasia lagi banyak madu yang dijual di pasar adalah madu yang sudah dicampur bahan lain. Dan untuk pilihan utama sebenarnya adalah madu gurun, karena kandungan airnya rendah. Madu yang dihasilkan oleh lebah yang hidup didaerah trofis juga murni akan tetapi kandungan airnya relatif tinggi. 

Dan kenyataan membuktikan sejak mengkonsumsi madu sebagai obat, Hamas jadi jarang sekali terkena penyakit, termasuk sakit batuk dengan demam tinggi yang disertai sesak nafas. Luar biasa, bahkan saat demampun cukup beri madu dan air putih lebih banyak saja, tak adalagi obat penurun panas dirumahku. Sekiranya diperlukan aku hanya mengkombinasikan madu dengan jintan hitam saja. Jintan hitam alias habatussauda adalah salah satu obat yang juga disebut dalam hadist sebagai obat untuk semua penyakit, hanya kematian yang tak bisa diobati dengan habatussauda. Dan salah satu metode pengobatan yang kupakai juga untuk keluarga termasuk anak-anakku adalah bekam. Ketahuilah ternyata metode bekam sudah banyak dipakai di mana-mana, dan sebagai muslim kita wajib yakin karena hadist untuk melakukan pengobatan dengan bekam ini ada. Hamas dan Yunda bahkan senang sekali dibekam, walau hanya bekam kering, tanpa mengeluarkan darah. Metode bekam ada juga yang disebut dengan bekam basah yaitu yang disertai dengan pengeluran darah. Akupun baru 3 bulan lalu ikut pelatihan bekam, ternyata besar manfaatnya. Bisa dipakai untuk keluarga dan orang sekitar. 

Buatku langkah ini tak sepenuhnya mudah, banyak juga suara-suara sumbang dari sekitar. 

“Lama sekolah dokter tapi mengapa sekarang malah jadi dukun.”

 Ini salah satu yang terdengar nyaring. Tak mengapa, bukankah islam awalnya dianggap asing, tak banyak yang mau mengikutinya. Tapi bila kita yakin ini adalah kebenaran, maka keyakinan itulah yang akan meguatkan kita. Hidup adalah perjuangan, perjuangan menebarkan kebenaran. Mengamalkan pengobatan ala Nabi. Kembali menghidupkan teori kedokteran islam, kalau bukan kita siapa lagi, kalau tidak sekarang kapan lagi. Dan rasakanlah manfaatnya. Sekaranglah saatnya menyalakan lilin, bukan mencela kegelapan. Sekarang saatnya kita kembali ke madu, habatussauda dan bekam tanpa perlu sibuk merutuki obat-obatan kimia yang memang ternyata dibuat untuk melemahkan kita, belum lagi kehalalannya masih perlu diuji.

Alhamdulillah jadi juga ikut lomba, didetik-detik terakhir, bukan soal menang kalahnya. Tapi semangat ingin ikut berpartisipasi. Semoga dapat hadiah, ya paling tidak dapat pahala ya....hihi, ngarep.com

2 komentar:

Lyliana Setianingsih mengatakan...

Pahala lebih berharga daripada hadiah dok... hehehe... Subhanallah ya dok, emang benar sunnah Rasulullah tentang Madu dan Habbattusaudah...

Dok, diluar kontes ini, ada award buat dokter, mohon diambil di tempatku yah,...

Dan semoga menang kontes nya dok... :-)

Yunda Hamasah mengatakan...

Dapat award? Wach thanks banget ya....jadi pingin malu :) Oke ntar kuambil, mau siapin tempatnya dulu, hehe....