Minggu, 03 April 2011

Pegagan di Halamanku

Ada Pegagan di Halaman

Pegagan? Benarkah...Kok kecil-kecil ya daunnya, tak seperti gambar yang pernah kulihat.
Tapi ternyata ini pegagan beneran :) Mama yang bawa bibitnya dari Lampung. Alhamdulillah hidup, walaupun tak begitu subur.
 Masih nyampur dengan rumput liar. Ach kapan ya disiangi...

 Nach yang ini malah merambat ke dinding got.


Cerita Ilmiahnya Pegagan
Nama Latin : Hydrocotyle asiatica Linn.

Nama Daerah : rumput kaki kuda, antanan gede, panegowang, tikusan, pagaga, piduh, kori-kori, gagan-gagan atau kisukisu.

Klasifikasi :
Bangsa : Umbilifreales
Suku : Umbelliferae atau Apiaceae
Marga : Centella
Jenis : Centella asiatica (L.) urban.

Khasiat  :
Dalam pengobatan Alternatif Herbal
Infeksi batu saluran kencing, Kencing keruh, Susah kencing, Pembekakan hati, Campak, Bisul, Mata merah, Batuk darah ~ TBC, Muntah darah, Mimisan, Batuk kering, Demam, Radang amandel, Sakit tenggorok, Bronchitis, Darah tinggi.

Pegagan atau nama kerennya Centella asiatica itu tumbuhan liar yang ada di dataran rendah, sampai sekitar 2.500 m di atas permukaan air laut.

Secara empiris, biasa digunakan sebagai tonik, antiinfeksi, antirematik, penenang, mempercepat penyembuhan luka, dan diuretik. Berbagai penelitian telah dilakukan guna mendukung manfaat empirisnya.  Misalnya, penelitian yang merujuk pegagan sebagai antiinflamasi, antioksidan, antitumor, atau untuk meningkatkan daya ingat (susunan saraf pusat), eksem (luka terbuka), dan hepatitis. Hal itu berkaitan dengan kandungan senyawa yang dimiliki pegagan, yaitu asiaticiside, thankuniside, medecassoside, brahmoside, brahminoside, madastic acid, vitamin B1, B2, dan B6.

Dari berbagai penelitian in vitro terhadap pegagan menemukan kemampuannya menghancurkan berbagai bakteri penyebab infeksi, seperti Staphylococcus aureus, Escherechia coli, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella typhi, dan sejenisnya. Sementara dalam bentuk infus atau ekstrak etanol, tumbuhan ini dipercaya dapat menghambat pertumbuhan bakteri.

Laorpuksa A. dan kawan-kawan dalam penelitian pada 1988 membuktikan, estrak air pegagan dapat melawan bakteri yang menyebabkan infeksi pada saluran napas. Sementara Herbert D. dan kawan-kawan dari Tuberculosis Research Center di India mencoba efek pegagan pada bakteri tuberkulosis H37Rv secara in vitro. Hasilnya, pegagan tidak langsung berefek pada bakteri tuberkulosis. Namun, Herbert menyarankan penelitian lebih lanjut terhadap senyawa aktif asiaticoside. Feeling Herbert terbukti benar. Berdasarkan penelitian lanjutan, senyawa aktif pegagan itu ternyata dapat melawan Mycobakterium tuberculosis dan Bacillus leprae (Oliver-Bever, 1986). Penelitian berikutnya yang dilakukan Walter H. Lewis juga menyatakan, pegagan termasuk kelompok tanaman yang menghasilkan zat seperti antibiotika dan asiaticoside.

Keampuhan pegagan juga telah diuji coba oleh Boeteau P. dan kawan-kawan, yang menginokulasi binatang percobaan marmut dengan bakteri basilus tuberkulosis selama 15 hari. Injeksi 0,5 ml 4% asiaticoside yang diberikan pada marmut, terbukti dapat mengurangi jumlah lesi tuberkular di paru-paru, hati, dan limpa. Senyawa asiaticoside membuat pegagan tak hanya dapat menghambat pertumbuhan bakteri tuberkulosis, tapi juga berpotensi sebagai imunomodulator – peningkat daya tahan tubuh.

Secara empiris, pemanfaatan pegagan untuk membasmi tuberkulosis paru-paru dapat dilakukan dengan berpedoman pada resep berikut. Cuci 30 – 60 g pegagan segar, lalu rebus dalam 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas, dan diminum 3 kali sehari. Untuk TB kulit, lumatkan pegagan, kemudian tempelkan pada bagian yang sakit.

2 komentar:

Lyliana Setianingsih mengatakan...

Aku juga punya pegagan dirumah dok.. saudara ku juga pernah minum ramuan pegagan utk penyakit parunya..
Tp kalo dikonsumsi bukan sebagai obat, dimakan spt sayur biasa bisa nggak ya..?

Yunda Hamasah mengatakan...

Bisa aja...enak malah, aku pernah coba juga. Soalnya di Lampung Mamaku suka petik dujadikan 'lalapan', tapi harus diyakini nyucinya yang bersih...khawatir malah jadi banyak bakteri lainnya :)