Kamis, 15 Maret 2012

SOTOJI Sebagai Alternatif

Membaca review para sahabat blogger seputar SOTOJI awalnya tak begitu kuhiraukan. Paling promosi mie instans, batinku cuek. Tapi karena banyak yang ikut, akupun sulit menahan rasa hati untuk tidak penasaran. Kuseriusilah membaca ulasan Mama Ina tentang SOTOJI. Mulai tertarik. Namun akupun terhenti karena mengetahui harus posting sesaat setelah terima sample SOTOJI. Biasanya khusus Jabotabek dong, aku yang di Palembang, kejauhan kali yaaa...

Tunggu dulu, saat bersamaan, akupun terusik ingin menguji. Seberapa serius pihak promosi dan marketing SOTOJI mau bekerja. Akhirnya aku pelajari cara mendapatkan sample SOTOJI. Mudah, dan akupun langsung kirim data dengan mengisi form pemesanan sampel. Sempat lupa. Tapi ternyata 4 hari berselang sesuai janji, sample SOTOJI datang dengan utuh ke rumah kami. Trio SOTOJI. Kaget dong, tapi suka :P 

Sample trio duo SOTOJI, yang satu sudah tercabik :mrgreen:

Aku nyaris 'lewat' tak mengambil foto sample SOTOJI karena buru-buru langsung dimasak. Tak sabar mencicipi rasanya. Bahkan saat mendidihkan air, aku sambil baca cara penyajiannya. Mudah, seperti umumnya masak mie instan. Sambil menunggu, kubaca kandungannya. Ohhh ternyata tinggi serat ya... jelas berbeda dengan mie instan kebanyakan yang minus serat. Langsung aku pelajari disini, lengkap ulasannya.  Boleh juga nich batinku mulai tergoda, coba baca langsung kalau nggak percaya.

SOTOJI sesuai yang ada di lebel kemasannya "Soto jamur lezat tinggi kandungan serat dan protein nabati" artinya jelas tak ada protein hewani, maka kalau boleh kusarankan mengkonsumsi SOTOJI sebaiknya bersamaan dengan sepotong daging, bisa juga ikan atau yang paling mudah dengan sebutir telur. Agar ada tambahan kandungan protein hewani, seperti yang sudah dicontohkan pada kemasan SOTOJI. Dan akupun sukses meniru, lihat gambar berikut ini :lol: mirip ya... Bedanya, hasil kreasiku pakai telur mata sapi bukan telur rebus, yang penting tujuannya sama, menambah protein hewani pada semangkuk SOTOJI. Lezaaatnya terasa makin mantap !!!

SOTOJI siap disantap bersama telur ^^

Dan saat kucermati, dikemasan bagian belakang tertulis jelas bahwa menikmati SOTOJI sebagai lauk pelengkap nasi. Aku bahkan menganggap SOTOJI juga pantas sebagai alternatif pengganti nasi. Ini cocok sekali di keluargaku terutama untuk Yainya Hamas (Ayah mertuaku) yang sejak tahun 2000 terkena diabetes militus, juga Jidah Hamas (Mamaku) yang sejak tahun 1996 gula darahnya sering diatas normal. Sehingga dalam keseharian sering disarankan untuk mengurangi konsumsi nasi yang tinggi glukosa itu. Aku yakin SOTOJI bisa jadi solusi cerdas untuk kedua orangtuaku tersebut. Mengingat kandungan karbohidrat pada SOTOJI sampai 60 %, paling tinggi dibanding yang lainnya. Maka jujur aku sangat berharap SOTOJI makin melebarkan sayap penjualannya. Gempur sampai ke warung-warung di seluruh pelosok nusantara.


Kemasan belakang dari www. SOTOJI.com

Yang membuatku makin kesemsem pada SOTOJI adalah rasa bumbunya yang berbeda dengan kebanyakan mie instan lainnya. Biasanya kalau mie instan tenggorokanku yang sensitif akan terasa lekat dan langsung perih. Tapi SOTOJI sangat berbeda. Tenggorokanku aman sampai hirupan kuah terakhir. Senangnya lagi, anak-anakku juga suka. Dan yang pasti sudah ada lebel HALAL dari MUI, jadi tak perlu ragu...

Ekspresi Yunda dan Hamas saat menyantap SOTOJI,
Sedaaap :P Siap nambah lagi ^^ 


Rasanya seperti makan soto buatanku, kata mereka kompak. Tersanjung aku jadinya, hehee... Jadi mau dong makan SOTOJI lagi... Tapi sayangnya kok masih online ya, jadi agak sulit kalau harus selalu pesan dulu. Bisa kalah dong bersaing dengan mie instan cs yang merajalela itu. Semoga dimasa depan SOTOJI makin maju, jadi bisa masuk ke pasaran offline dan yang terpenting harganyapun tetap terjangkau.

Terima kasih SOTOJI untuk 3 sample kirimannya :lol: 
Sehingga bisa mengobati rasa penasaranku. Sekarang rasa penasaran itu sudah berganti dengan rasa ketagihan, hehe... Untuk para sahabat belum tahu  silakan kenalan langsung dengan SOTOJI. Sayangnya bila ingin mendapatkan sample SOTOJI sudah terlambat, kemarin aku pesan sample disini. Tapi lomba blognya masih ada waktu, info lomba blog SOTOJI bisa dilihat disini.


Jujur, aku salut pada kreatifitas yang bekerjasama dengan  sehingga terselenggaranya lomba ini. Semoga sukses selalu menyertai sebuah usaha yang lahir dari kesungguhan.

Rabu, 14 Maret 2012

Kehamilan itu Anugerah

Salah satu pengalaman tak menyenangkan sebagai tenaga medis adalah saat ada emak-emak 'tak bertanggung jawab' datang dan minta dibuatkan resep untuk menggugurkan kandungan. Ada ya? Ada.  Banyak malah. Apa alasannya? Macam-macam. Dari yang tak logis sampai yang berusaha dilogiskan, tapi sayangnya tetap tak logis :P Bagaimana tidak, mosok alasannya karena anaknya sudah banyak, jadi repot kalau nambah anak lagi. Terus kok rajin 'membuat' Mak? Atau mengapa tak pasang pengaman Mak? Alasannyapun bisa aneh-aneh. Pendeknya aku sangat sebal bila berhadapan dengan emak-emak tipe ini. Mau berbuat, tapi tak mau bertanggung jawab. 

Padahal, alangkah banyaknya pasangan suami istri yang dengan serius mencari tahu cara cepat hamil sampai rela melakukan serangkaian pengobatan untuk bisa hamil, kok mereka malah mau membuang kehamilannya, pakai melibatkan orang lain sepertiku pula, hikss... Sungguh tak bermartabat :mrgreen: Selamanya aku jelas tak akan mau terlibat, meski kadang mereka berusaha membujuk rayu dengan iming-iming mengiurkan. Tapi aku tak akan terperdaya. Aku memandang kehamilan adalah sebuah anugerah yang harus disyukuri walau bagaimanapun keadaan kita. Siap tak siap itu berdasarkan penilaian-Nya, bukan menurut kita sebagai manusia.

Jadi ingat pengalamanku dulu. Setelah menikah aku tak langsung hamil, sampai 6 bulan kemudian aku baru diizinkan-Nya untuk merasakan anugerah kehamilan. Sempat was-was juga, sampai hampir mau periksa ke SpOG segala. Segitunya ya :lol: jadi malu, belum lagi sampai 1 tahun. Kalau aku faham ilmu seperti yang ada di caracepathamils.com sejak dulu, aku tentu akan tenang-tenang saja. Ya, ilmu itu sangatlah penting. Termasuk ilmu tentang kehamilan lengkap dengan semua tips mempersiapkan dan menjalankannya.

Tapi maaf ya, aku juga mau bilang bahwa menguasai ilmu untuk bisa hamil itu tidak 100 % menjamin seseorang segera hamil. Bukan jaminan memang, tapi ini bentuk usaha kita sebagai manusia. Orang yang berilmu akan lebih tinggi derajatnya kan? Seperti kisahku dulu, saat belum juga hamil setelah menikah, banyak sanak-saudara yang meledek. Ini kok belum hamil, padahal sudah belajar ilmunya. Begitulah. Maka sekali lagi aku tegaskan, bila kita belum hamil, itu bukan karena kita kurang ilmu, atau karena kita tak tepat menghitung masa subur. Atau posisi saat melakukan hubungan seks tidak benar. Bukan pula karena kurang mengkonsumsi vitamin dosis tinggi. Atau karena takaran hormon kita tidak pas. Bukan semata karena itu lho ya ;)

Ada banyak orang yang mudah hamil tapi justru tak mensyukuri kehamilannya, sebaliknya ada juga banyak orang yang menganggap bahwa belum hamilnya karena faktor kesehatan. Adalah aku, aku termasuk orang yang sependapat bahwa kehamilan itu anugerah. Faktor kesehatan bukan satu-satunya penentu. Ada banyak faktor pendukung saat seorang perempuan bisa hamil. Contoh nyata, terjadi pada seorang sahabatku yang sudah diangkat 1 ovariumnya karena kista, 5 tahun lalu persis saat melahirkan anak pertamanya lewat operasi, tapi belum lagi setahun anaknya ia sudah hamil lagi :P Bahkan saat ini anaknya sudah 3 orang, dengan jarak yang berdekatan. Luar biasa, mengingat ovariumnya tak lagi sepasang. Tak ada yang tak mungkin bila Allah sudah berkehendak, mari sejenak kita belajar dari kisah Nabi Zakaria, AS, yang dikarunia seorang anak (Nabi Yahya, AS) saat sudah renta.

Fakta berikutnya, terjadi pada sahabatku yang lain. Semuanya dinyatakan normal dan sehat tapi sudah lebih 10 tahun usia pernikahannya belum juga hamil. Sudah melewati masa pengobatan sampai ke luar negeri, bahkan naik haji juga sudah. Saat ini sedang menjalani program bayi tabung *mohon do'anya ya... Jadi sungguh kehamilan adalah sebuah anugerah dari-Nya semata. Harus disyukuri bila sudah bisa hamil. Bila belum, wajib hukumnya untuk terus berusaha dan berdo'a :P Berusaha semaksimal mungkin, dengan cara-cara yang tetap dibenarkan-Nya. Berdo'a dengan sepenuh hati, mohon dan pinta hanya pada-Nya saja.  Dan ini yang kulakukan untuk bisa hamil lagi saat ini, berusaha dan berdo'a. *sekalian minta do'anya ya...

***

Tulisan ini diikutkan pada Giveaway Awal Maret 2012 yang diadakan oleh Mama Sedja.

Senin, 12 Maret 2012

Segenap Rasa Buat si Bungsu

Setelah akhir bulan Februari lalu mengurai rindu dengan menuliskan tentang ketiga adikku, akhirnya malam ini kesampaian juga niatku untuk bercerita tentang segenap rasaku pada adik bungsuku. Sesungguhnya menuliskan tentang kebersamaanku dengan si bungsu, seolah membuka lembaran kisah yang sulit dituntaskan. Karena begitu banyak yang harus terlebih dahulu kuurai. Tapi mumpung ada Give Away bertema 'aku sayang saudaraku' dari Mbak Susindra jadilah aku memanfaatkan moment mengumpulkan kepingan memori mengungkap selaksa rasa pada adik bungsuku. 

Jarak umur kami belasan tahun. Saat aku kelas II SMP, adik bungsuku lahir. Jadi saat kelahirannya aku tak bisa langsung bertemu. Dan sejak saat si bungsu dilahirkan, Mamaku jadi jarang sekali bisa menengokku ke rantau. Tak ada lagi sidak mendadak Mama yang begitu aku nantikan, sebab beliau ternyata datang sebelum aku pulang sekolah. Tahukah apa yang terjadi? Lemari dan tempat tidurku jadi rapi, pakaian kotor termasuk mukenaku sudah wangi dicuci. Rasa senang yang begitu sulit kuungkapkan. Tapi meski rasa itu jadi hilang karena kehadiran si bunggu, herannya aku tak pernah protes. Yang ada akupun jadi sangat menantikan waktu liburan agar bisa menimang si bungsu.

Singkat cerita, karena jarak usia kami yang jauh, kami tak pernah melewati masa bertengkar khasnya saudara sekandung. Rebutan mainan jelas tak ada, beda generasi. Aku generasi 70-an sementara si bungsu sudah generasi 90-an. Rebutan makanan apalagi, yang ada kalau musim buah di kampung, si bungsu kecil akan sibuk mengingatkan untuk mengirimiku di rantau. Dan begitu usianya 1 tahunan ke atas, si bungsupun setia menengokku. Kebayangkan cerianya aku saat itu, kedatangan tamu cilik yang sedang lucu-lucunya. Waktu terus berlari, yang aku ingat sejak belajar jalan si bungsu sakit-sakitan. Tumbuh kembangnya seolah tak optimal. Secara rutin pengobatan padanyapun dilakukan, tak mengenal jeda. Syukurnya saat mulai masuk SD, serangkaian pengobatan menunjukkan hasil, tampak adik bungsuku mulai berotot.


Si bungsu di depan kampusnya.
Pinky, tak tampak jejak kurang gizi sewaktu bocah dulu.
.
Hari berganti, saat aku kuliah, semakin jarang aku bisa bertemu lama dengan si bungsu. Saat aku menikah, si bungsu baru kelas V SD. Dan ketika Yunda, sulungku lahir, si bungsu adalah orang yang paling pandai mengungkapkan rasa sayangnya. Seperti kebanyak emak-emak muda yang minim pengalaman, aku kerap minta didampingi Mama. Si bungsu yang saat itu baru kelas I SMP justru sangat mendukung, ia tak protes saat ditinggal Mama mengurusi cucu pertamanya. Demi ponakan tersayang ia rela belajar masak saat Mama tak ada di rumah. Itu kenangan manisku pada si bungsu. Ia minta dipanggil Ammahti. Ammahti selalu dinanti hadirnya oleh anak-anakku, walau kalau sudah bertemu mereka akan heboh, riuh rendah bercanda diwarnai dengan pertengkaran lucu. Ammahtinya suka jahil, memancing teriakan manja  mereka.



Narsis bersama Yunda dan Hamas.
Palembang, Februari 2012.

Kini, si bungsu sudah mahasiswa. Sudah bisa jadi teman curhat yang istimewa. Terutama tentang sakitnya Papa kami. Ya begitulah karena saat ini si bungsu yang Harum namanya tersebut memang sedang tercatat sebagai mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Lampung, semester ke VI. Cerdas, ceria dan sholeha. Muji adik sendiri *kapan lagi, hehe... Satu kebiasaanku yang ditiru dengan sucses hanya oleh si bungsu adalah mampu tidur dimana saja, bahkan dalam posisi duduk sekalipun, modal jaga saat di RS nanti, lumayan kan tak perlu sulit cari bantal. Tidur itu di mata, jadi bisa kapan dan di tempat apa saja, itu prinsip yang kami anut bersama. Merdekaaa !!!



Dan baru saat si bungsu tamat SMA, aku ketahui dengan nyata bahwa ia ternyata nge-fans berat padaku, hoho *mendramatisir banget yak... Sampai berusaha giat belajar untuk bisa masuk kedokteran. Walau ternyata saat ini kuliah di kedokteran, di Universita Negeri sekalipun,  biayanya tergolong mahal. Jauh beda dengan saat aku kuliah dulu. Imbas otonomi kampus khabarnya. Walhasil, hal ini nyaris menggagalkan cita-cita si bungsu untuk jadi dokter. Tapi semua kembali kepada skenario-Nya semata, saat si bungsu sudah bersiap mengubah haluan citanya, Allah berkenan menghadirkan solusi lewat adik ketigaku. Indahnya bersaudara, bila kita saling menyayangi.


Nama lengkap si bungsu sengaja kurahasiakan * maafkan ya... Salah satu sebabnya karena si bungsu saat ini masih jomblomania *uhhuuuuk, tak ada yang menanyakan hal ini  kukira, hehe... Dan saat pertemuan kami pada awal Februari lalu, untuk mengawal pengobatan komprehensif pada jantung Papa kami, tepat bersamaan dengan libur semesternya. Sang Ammahti sempat minta ajari ngeblog, setelah sebelumnya berhasil membujukku minta tambahi  tabungannya agar bisa membeli modem. Nama blog yang direncanakannya membuatku ngakak terhenyak. Ya ya, meski banyak kesamaan dan lahir dari rahim yang sama kami tetaplah pribadi yang jauh berbeda. 


Sulung dan bungsu, yang saling menyayangi.
Kata orang, sulung mirip Mama. Bungsu mirip Papa.


Bersama si bungsu mendampingi Papa ke SpPD-KKV.
Graha RSMH, Februari 2012.


Si bungsupun pernah menunjukkan foto-foto bersama para sahabatnya di kost. Uuuhh geli aku melihat aksinya, paling ceria. Dan menurut pengakuannya semua temannya itu pemikir serius persis seperti aku, si sulung yang dipanggilnya Ayuk ini. Aaacchhh, ternyata begitu ya penilaian si bungsu padaku. Tak mengapa, tak mengurangi rasa sayangku padanya.  Selanjutnya katanya lagi, ia ingin belajar menulis padaku. Ooohhh No, aku bukan guru yang baik untuk itu, tapi aku tetap menghargai keinginannya untuk mulai intens menulis. Memang aku melihat bakat menulis si bungsu yang aduhai, terbukti saat ia menulis status atau catatan di facebook, bahasanya penuh makna bersayap-sayap *burung kaleee... 


Demikianlah paparan selaksa rasa pada adik bungsuku. 
Segenap do'a terangkum untuk adinda.  


"Semoga lancar kuliahmu. Teruslah ceria dan menceriakan. Bila suatu saat dikau membaca tulisan ini, percayalah ini keluar dari lubuk hatiku yang terdalam, betapa aku menyayangimu. Akupun bangga padamu dan selalu berharap mampu mendukung semua cita-cita luhurmu, termasuk untuk  menjadi dokter SpPD-KKV lantaran dendam positifmu pada sakitnya Papa. Lebih dari itu akupun sangat berharap blog 'Tawa Tiwi'mu segera terbit. Niatkan untuk berbagi, jangan takut tak bisa mengatur waktu, justru ngeblog bisa jadi sarana untuk refresing hati dan fikiran ditengah jadwal kuliahmu yang padat dan berat itu". 





Tulisan ini diikutkan pada GIVEAWAY : Aku Sayang Saudaraku 
yang diselenggarakan oleh Susindra

Minggu, 11 Maret 2012

Menapaki Jejak Perjuangan di MONPERA

Wisata sejarah tak terlalu banyak di Sumatera Selatan, tapi itu saja belum semuanya berkesempatan aku kunjungi. Hanya khusus ke MONPERA yang sudah beberapa kali, bersama ananda. Bahkan Yunda sudah pernah kunjungan edukatif dari sekolahnya, SDIT Bina Ilmi, ke MONPERA. MONPERA singkatan dari monumen perjuangan rakyat. Dari namanya sudah nyata monumen ini sengaja dibangun untuk mengenang perjuangan rakyat Sumatera Selatan. Meski tak setersohor MONAS, tapi paling tidak keberadaan MONPERA cukup mewakili sebagai sebuah ikon kota Palembang, daerah bercikal bakal kerajaan SRIWIJAYA ini. 


Selama ini kalau ke MONPERA, aku belum pernah menuliskannya, bukan karena tak istimewa tapi ya memang berkunjung ke tempat-tempat bersejarah tak terlalu menarik minat kami sekeluarga. Tapi jujur sejak mengenal Bunda Monda, aku jadi penasaran sendiri mencoba merasakan sensasinya berwisata ditempat-tempat bersejarah. Dan kini, akupun berjanji pada diriku untuk menikmati sekaligus menuliskannya. Big thanks untuk penyelenggara Give Away sehingga aku nekat membuat tulisan tentang wisata ke tempat bersejarah ini, maaf foto-fotonya terbatas dan masih banyak yang hasil pinjeman, secara belum lulus belajar motretnya :lol: Lagi pula, kehadiran foto disini bukan untuk memuaskan, justru hanya bersifat menambahkan rasa penasaran agar suatu saat para sahabat pembaca blog ini bisa melihat langsung MONPERA dari dekat.

Simak ya, semoga nanti kalau ke Palembang tertarik untuk mampir ke MONPERA kami, hayoo serasa pemiliknya saja :P

Foto pinjeman, MONPERA tampak depan.
Apik ya?

Coba perhatikan penampakannya dimalam hari, berkilauan cahaya, indah rupawan, bak sebuah warisan budaya nan bercahaya, hallah lebay :lol: Namun demikian, semoga foto ini mewakili perumpamaan bergaya lebay itu, sayangnya bukan foto asli hasilku memotret, hehe...


Monpera, Palembang
Foto yang ini, pinjeman juga^^

Alasan ke MONPERA

1. MONPERA mudah dijangkau. 
*ditambah lagi karena Palembang tak banyak tempat wisata alam yang menarik...

Bangunan ini terletak di pusat kota tepatnya di depan Masjid Agung. 

2. Mempunyai nilai sejarah yang menggugah semangat juang.


Konon khabarnya lokasi tersebut dulunya merupakan basis pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang yang pecah pada tanggal 1 Januari 1947 yang melibatkan seluruh rakyat Palembang melawan Belanda. 


Bagaimana,  terasa kan aroma juangnya? Inilah yang berusaha kugelorakan saat mengajak Yunda dan Hamas ke MONPERA. Bukan kah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai perjuangan pahlawannya? Semoga anak-anakku mampu mengambil pelajaran dengan menyusuri jejak juang yang tertoreh nyata di MONPERA.


Ada tank baja di halaman MONPERA.
Kapan Berdirinya?

Peletakan batu pertamanya dan pemancangan tiang bangunan pada tanggal 17 Agustus 1975 dan diresmikan pada tanggal 23 Februari 1988 oleh Menko Kesra Alamsyah Ratu Perwira Negara.


P1080674
Pinjeman dari sini.
Ada apa di MONPERA?


Halamannya luas, asri dan bersih. Tampak terawat dan banyak relief-relief perjuangan di sana. Berada dirimbun tanaman sembari melihat ke AMPERA, kita bisa bercerita pada ananda. Terasa angin sepoi-sepoinya menambah akrab suasana. Berwisata keluarga sekaligus mengupas sejarah. Terasa 'sesuatu' buatku. Dan memang sekarang ini, usia Yunda dan Hamas sudah bisa diajak berkisah plus berdiskusi tentang apasaja, termasuk sejarah.


Tembok bertuliskan semangat perjuangan.

Pertempuran lima hari lima malam dalam gambaran relief.


Tapi kalau anak masih kecil harus benar-benar diawasi, jangan dilepas begitu saja, sebab diarena yang datar dan relatif aman di halaman inipun tenyata ada bagian yang sedikit curam.
Yunda hampir jatuh di'serodotan' ini :D 


Adapun di dalam gedung. Bangunan ini terdiri dari VI lantai. Di dalam gedungnya khususnya lantai I, terdapat foto-foto masa perjuangan enam tokoh perang kemerdekaan. Mereka masing-masing, dr AK Gani, drg M Isa, Haji Abdul Rozak (Residen Abdul Razak). Kemudian, Mayjen TNI H Bambang Utoyo, Brigjen TNI H Hasan Kasim, dan Kolonel H Barlian. Termasuk juga patung-patung dalam berbagai bentuk.


P1080673
Foto pinjeman, lihat ada nama pemilik fotonya kan?
P1080667
Ini juga dapat pinjem, 
heran ya kok kalau motret sendiri didalam gedung jadi buram tak elok.
Pake kamera apa dulu?
Di lantai II, kita dapat melihat 14 pucuk senjata yang sebagian besar merupakan hasil rampasan perang zaman sebelum kemerdekaan. Ada senjata jenis pistol, senapan, kecepek, ranjau hingga alat pelontar bom yang kerab dipakai pejuang tempo dulu.  Untuk keamanan bersama, senjata-senjata itu ditempatkan pada ruang khusus berdinding kaca. Hanya dapat dilihat dari luar. Ini tak lain untuk mengantisipasi ulah tangan-tangan tak bertanggung jawab, begitu yang kuketahui.


Lantai IV dipakai untuk kantor. Sedangkan untuk mencapai lantai VI harus hati-hati, karena tangganya kecil dan keluarnya melalui lubang kecil persis seperti tutup tank. Tapi jangan salah, kalau sudah berhasil mencapai puncak, maka akan kita saksikan pemandangan indah Kota Palembang, lengkap dengan jembatan AMPERA dan Masjid Agung kebanggaan kami :D


Serba-serbi MONPERA
Alamat MONPERA
Jalan Merdeka No. 1,
Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I,
Palembang, Sumatera Selatan

Jam Kunjungan
Buka setiap hari pukul 08.00-15.30 WIB
Senin & Hari libur nasional: Tutup

Tiket Masuk
Dewasa dan anak-anak: Rp 2. 000,-
*sangat merakyat ya...


Nach bagaimana, berminat untuk berwisata ke MONPERA? Beritahu aku ya, nanti kuantar sampai puncak, sekalian aku bayari tiket masuknya juga :lol: Sebelum tiketnya ikut melonjak bersama naiknya harga BBM ;)

               Tulisan ini diikutkan  pada  Giveaway Pertama di Kisahku bersama Kakakin

Sabtu, 10 Maret 2012

Kisah Benda Keramat

Sebuah tulisan smart untuk menceritakan perubahan  kutemukan dalam benda keramat, buah karya khasnya Bunda Monda di Kisahku 25 Oktober 2011. Aku memilih tulisan ini bukan karena tepat hari itu sulungku genap berusia 8 tahun. Bukan, ini justru baru kusadari saat menulis posting ini. Sebuah kebetulan yang cantik. Jujur saja saat membaca tulisan ini aku sepenuhnya tersadar bahwa seiring waktu, usia berkurang dan kitapun akan menghadapi banyak perubahan. Termasuk dalam hal ketajaman penglihatan. Tak hanya sebatas bertambah minus, tapi yang tadinya normal bisa menjadi plus. Seperti yang dialami Bunda Monda dalam sebuah postingnya tentang si benda keramat itu.

Tak sepenuhnya sama dengan kisahku, beda jauh malah. Tapi saat membaca benda keramat tersebut, aku jadi ingat kisah kaca mata yang juga menjadi benda keramat buatku. Aku mulai memakai kaca mata minus sejak kelas II SMP, entah apa penyebabnya. Namun yang kuingat saat itu aku langsung minus 3/4, kiri dan kanan sama. Merasakan mata tak mampu melihat tulisan di papan tulis walau sudah duduk di bangku paling depan. Tahukah bagaimana rasanya? Sangat tak nyaman. Dan bersyukurnya aku setelah mengunakan kaca mata, masalah itu teratasi. Sejak saat itu kaca mata menjadi sahabatku, meski awalnya terasa berat dan 'berbeda', kunikmati saja. 

Seiring bertambahnya waktu, hampir setahun sekali mata terasa tak kuat melihat kejauhan, kuperiksakan dan benar saja minusku terus bertambah. Baru saat kuliah semester V,  minusku menetap diangka 3,5  hingga sekarang. Dan sejak itu aku sulit dipisahkan dari kaca mata. Terasa ada yang hilang bila tak segera berkaca mata, pun sesaat setelah bangun tidur.  Dan sejak itulah kaca mata menjadi semacam benda keramat buatku. Aku tak pernah bisa jauh darinya, bahkan saat tidur harus diletakkan didekat posisi kepala, agar segera kutemukan saat bangun. Segitunya, tapi memang itulah kenyataannya. 

Masalah lainpun timbul, karena selalu butuh si 'benda keramat' akupun harus meningkatkan kewaspadaan. Salah satu caranya dengan menyiapkan cadangan kaca mata di rumah. Mengapa? Bukan hal yang berlebihan buat si pemakai kaca mata maniak sepertiku, ada kalanya ia lupa meletakkan kaca mata saat selesai berwudhu, dan saat ditemukan kaca mata sudah remuk ringsek. Atau tiba-tiba jatuh terpelanting dan terinjak. Atau usai membaca, kaca mata tertimpa buku selanjutnya terduduki atau ditimpa benda berat. Oohhh tidaaaaaaaaaak. Tapi beginilah nasib si benda keramat di tanganku :lol: Aku sudah meminimalisir bentuk kecelakaan terhadap benda keramatku tersebut, tapi kadang tak bisa juga menghindarinya. 


Berburu benda keramat.
Bukan soal warna gaya, tapi  harga fungsi :D

Penampakan benda keramat dan si mantan benda keramat.

Dan untuk sekarang aku selalu berusaha punya cadangan kaca mata di rumah. Tak harus mahal. Tak perlu pesan lama, sebab benda keramatku bahkan banyak dijual dipinggir jalan, dengan harga special. Dulu aku membelinya hanya dengan Rp. 20.000,- Terus naik, saat ini kebanyakan harganya Rp. 50.000,-  Masih jauh lebih murah dari kaca mata dari OPTIC bukan? Beruntungnya aku bisa menjadi salah satu pemakai benda keramat yang harganya murah meriah itu, karena tak semua yang berkaca mata bisa menikmatinya. Hanya pada mata dengan tajam penglihatan yang kiri kanan sama dan tampa tambahan lain seperti silindris. 


Pada kenyataannya memang benda keramatku hanya satu saja yang produk OPTIC, untuk ke luar rumah. Sedangkan untuk di rumah cukup dengan kaca mata emperan. Bagian yang ini mirip sama kisah kaca mata Bunda Monda dalam posting benda keramat. Setuju aku, toch sama saja fungsinya, untuk membantu tajam penglihatan. Bukan untuk bergaya bak model iklan kaca mata, hehe... Kalau tiba-tiba patah atau pecah, bisa segera kucari gantinya. Merah, kuning, biru atau unggu? Silakan pilih saja, sesuai dengan suasana hatiku saat itu. Benda keramat langsung bisa kupakai lagi. 


Ssstttsss jangan salah ya, sebelum baca kisah Bunda Monda yang tak malu beli kaca mata baca 'emperan', aku malu lho mengungkap bahwa aku punya benda keramat yang murah meriah itu :P Ngeblog memang bisa membuat kita banyak mengenal sahabat sekaligus guru yang cerdas dan mencerdaskan ya...  Jadi membayangkan bagaimana kalau mata hati yang kurang 'penglihatan', adakah benda keramat yang bisa membantunya? Kalau ada, semoga harganya terjangkau dan cocok buat yang membutuhkan, hehe...



Tulisan ini diikutkan  pada  Giveaway Pertama di Kisahku bersama Kakakin

Jumat, 09 Maret 2012

Lenggang Panggang & Orang Pusat

Mari kutambahkan satu info makanan khas Palembang lainnya. Lenggang panggang namanya. Bahan dasarnya sama dengan pempek. Ikan dan sagu. Cara makannyapun sama, pakai cuko. Sepengamatanku yang paling terasa asli adalah LENGGANG PANGGANG di Sudi Mampir, atau juga dikenal dengan nama PEMPEK SAGA. Ikannya asli gabus, dipadukan dengan telur bebek. Cukonya kental dan pas dilidah banyak orang *udah kayak promosikah? hehe... Konon dulu tempatnya bekas bioskop SAGA. Lokasinya strategis di Jantung Kota, persis di depan Kantor Walikota. Pokoknya kalau ke Palembang mudah nyarinyo ;) pake baso Palembang tanyo be, hehe... geser sedikit dari Bundaran Masjid Agung.

Seporsi LENGGANG PANGGANG Rp. 15.000,-

Jujur tak sering kami sekeluarga kemari, karena selain ramai juga lumayan jauh dari rumah. Lagian rasanya yang mirip pempek membuatku sudah biasa membuat tiruannya di rumah. Mudah saja, pempek lenjer dipotong-potong, dicampur dengan telur kemudian digoreng. Lenggang goreng kami menamainya. Makannyapun pakai cuko, srrreppp tak kalah eunaknya dengan yang di SUDI MAMPIR. 


Soal ke SUDI MAMPIR, kami ke sana biasanya kalau ada kerabat atau sahabat yang datang dari jauh. Yuuuppss semacam menyambut tamu. Seperti kemarin. Ada seorang sahabat kami yang datang dalam rangka kunjungan dinas. Kamipun mengajaknya mencicipi kekhasan LENGGANG PANGGANG, tapi sayangnya beliau masih penasaran dengan KAPAL SELAM. Jadilah aku dan suami saja yang ber-LENGGANG-ria :lol: 


Ami Jaya dan Abinya Hamas.
Lokasi di Benteng Kuto Besak, tepian Musi.
Sesaat setelah sampainya Ami Jaya di Palembang.

Sahabat kami tersebut adalah seorang dokter yang pernah PTT di Puskesmas Sukabumi dulu. Masih junior 4 tahun dariku. Namanya dr. Jaya Supriyanto, alumni FK UNPAD. PTT setahun, selesai tahun 2008 akhir. Tak berapa lama kemudian ternyata beliau diterima sebagai PNS di Kementrian Kesehatan, langsung mendapat tugas di bagian Penanggulangan Krisis dan Bencana. Kami di Puskesmas dulu menjulukinya ORANG PUSAT. Kerjanya keliling nusantara, seputar Indonesia bahkan sampai luar negeri terkait pelatihan atau sebagai tim. Masih sering kami bersilaturahim via sms. Kadang khabarnya sudah di Papua, atau malah pernah Iedul Fitri harus dilaluinya di Thailand. Cerita petualangnya membuatku iri. 

Tapi lepas dari itu semua, kami sekeluarga merasa dengat dengannya, termasuk istrinya. Sayang kali ini kami hanya bertemu Ami Jaya saja. Kamis beliau datangnya, bertemu sebentar, beliau menginap di Hotel atas biaya dinas sampai Sabtu pagi. Jum'at malam baru kami bisa bertemu lebih lama. Yunda dan Hamaspun pada pertemuan di River Side semalam masih akrab, langsung ramai bercerita ini itu ;) Serangkaian kisahpun mengalir bebas kemana-mana. Maklum sejak perpishan 2008 lalu, Yunda dan Hamas baru kali ini bertemu lagi. Adapun aku dan suami pernah bertemu April 2010 lalu di Kantornya dalam rangka mengurusi SK Mutasiku. 

Dan sampailah pada satu khabar gembira, ya tepat hari Kamis (8/3) lalu SK MENKES atas kepindahanku sudah dalam genggaman. Senangnya. Mulai 1 April 2012 nanti aku sudah mulai berkantor di depan KODAM. Kantor Badan Tekhnik Lingkungan (BTKL) Palembang. Kantor Unit Kementrian Kesehatan yang ada di Palembang. Ahhaaa, ternyata akupun bakal jadi ORANG pegawai PUSAT  juga :D Namun sayangnya wilayah tugas hanya meliputi Bengkulu, Bangka dan Belitung. Bukan seluruh Indonesia, hikss... Khabar tak seberapa penting. Tapi serius, tolong do'akan aku bisa menjalani tugas baru ini dengan enjoy dan mampu segera beradaptasi dengan damai ya...