Tampilkan postingan dengan label Pejuang Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pejuang Ilmu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Januari 2015

Parenting Menurut Ali bin Abi Thalib

“Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya, Karena mereka hidup bukan di zamanmu” Itulah quote tekenal dari Ali Bin Abi Thalib RA, khalifah ke-4 umat islam yang terkenal dengan kepintaran, kejujuran dan juga kesetiaannya terhadap Rasulullah SAW.
Seperti sudah kita pahami bahwasannya mendidik dan membesarkan anak adalah amanah dari Allah SWT yang harus dijalankan dengan sebaik- baiknya. Banyak hal yang harus diperhatikan untuk menentukan pola pendidikan yang terbaik bagi masing-masing anak, apalagi mereka tidak hidup di jaman dahulu.
Menurut Ali bin Abi Thalib Ra. ada tiga pengelompokkan dalam cara memperlakukan anak:
1. Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja.
2. Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan.
3. Kelompok 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat.
ANAK SEBAGAI RAJA (Usia 0-7 tahun)
Melayani anak dibawah usia 7 tahun dengan sepenuh hati dan tulus adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan. Banyak hal kecil yang setiap hari kita lakukan ternyata akan berdampak sangat baik bagi perkembangan prilakunya, misalnya :
>> Bila kita langsung menjawab dan menghampirinya saat ia memanggil kita- bahkan ketka kita sedang sibuk dengan pekerjaan kita – maka ia akan langsung menjawab dan menghampiri kita ketika kita memanggilnya.
>>Saat kita tanpa bosan mengusap punggungnya hingga ia tidur, maka kelak kita akan terharu ketika ia memijat atau membelai pngung kita saat kita kelelahan atau sakit.
>> Saat kita berusaha keras menahan emosi di saat ia melakukan kesalahan sebesar apapun, lihatlah dikemudian hari ia akan mampu menahan emosinya ketika adik/ temannya melakukan kesalahan padanya.
Maka ketika kita selalu berusaha sekuat tenaga untuk melayani dan menyenangkan hati anak yang belum berusia tujuh tahun, insya Allah ia akan tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan, perhatian dan bertanggung jawab. Karena jika kita mencintai dan memperlakukannya sebagai raja, maka ia juga akan mencintai dan memperlakukan kita sebagai raja dan ratunya.
ANAK SEBAGAI TAWANAN (usia 8-14 tahun)
Kedudukan seorang tawanan perang dalam islam sangatlah terhormat, Ia mendapatkan haknya secara proporsional, namun juga dikenakan berbagai larangan dan kewajiban. Usia 7-14 tahun adalah usia yang tepat bagi seorang anak bagi seorang anak untuk diberika hak dan kewajiban tertentu.
Rasulullah SAW mulai memerintahkan seoang anak untuk sholat wajib pada usia 7 tahun, dan memperbolehkan kita memukul anak tersebut (atau mengukum dengan hukuman seperlunya) ketika iIa telah berusia 10 tahun namun meninggalkan sholat. Karena itu usia 7-14 tahun adalah saat yang tepat dan pas bagi anak-anak kita untuk diperkenalkan dan diajarkan tentang hal-hal yang terkait dengan hukum-hukum agama, baik yang diwajibkan maupun yang dilarang, seperti:
>> Melakukan sholat wajib 5 waktu
>> Memakai pakaian yang bersih, rapih dan menutup aurat
>> Menjaga pergaulan dengan lawan jenis
>> Membiasakan membaca Al-Qur’an
>> Membantu pekerjaan rumah tanngga yang mudah dikerjakan oleh anak susianya
>> Menerapkan kedisiplinan dalam kegiatan sehari-hari Reward dan punishment (hadiah/penghargaan/ pujian dan hukuman/teguran) akan sangat pas diberlakukan pada usia 7 tahun kedua ini, karena anak sudah bisa memahami arti dari tanggung jawab dan konsekuaensi.
Namun demikian, perlakuan pada setiap anak tidak harus sama kerena every child is unique (setap anak itu unik)
ANAK SEBAGAI SAHABAT (usia 15-21 tahun)
Usia 15 tahun adalah usia umum saat anak menginjak akil baligh. Sebagai orang tua kita sebaiknya memposisikan diri sebagai sahabat dan memberi contoh atau teladan yang baik seperti yang diajarkan oleh Ali bin Abi Thalib Ra.
>> Berbicara dari hati ke hati Inilah saat yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati dengannya, menelaskan bahwa ia sudah remaja dan beranjak dewasa.
Perlu dikomunikasikan bahwa selain mengalami perubahan fisik, Ia juga akan mengalami perubahan secara mental, spiritual, sosial, budaya dan lingkungan, sehingga sangat mungkin akan ada masalah yang harus dihadapinya. Paling penting bagi kita para orang tua adalah kita harus dapat membangun kesadaran pada anak-anak kita bahwa pada usia setelah akil baliqh ini, ia sudah memiliki buku amalannya sendiri yang kelak akanditayangkan da diminta pertanggung jawabannya oleh Allah SWT.
>> Memberi Ruang Lebih Setelah measuki usia akil BAliqh, anak perlu memiliki ruang agar tidakmerasa terkekang, namun tetap dalam pengawasan kita.
Controlling tetap harus dilakukan tanpa bersikap otoriter dan tentu saja diiringi dengan berdo’a untuk kebaikan dan keselamatannya. Dengan demikian anak akan merasa penting, dihormati, dicintai, dihargai dan disayangi. Selanjutnya, Ia akan merasa percaya diri dan mempunyai kepribadian yang kuat untuk selalu cenderung pada kebaikan dan menjauhi perilaku buruk.
>> Mempercayakan tanggung jawab yang lebih berat. Waktu usia 15- 21 tahun ini penting bagi kita untuk memberinya tanggung jawab yang lebih beratdan lebih besar, dengan begini kelak anak- anak kita dapat menjadi pribadi yang cekatan, mandiri, bertanggung jawab dan dapat diandalkan.
Contoh pemberian tanggung jawab pada usia ini adalah seperti memintanya membimbing adik- adiknya, mengerjakan beberapa pekejaan yang biasa dikerjakan oleh orang dewasa, atau mengatur jadwal kegiatan dan mengelola kuangannya sendiri
>> Membekali anak dengan keahlian hidup.
Rasulullah SAW bersabda, “Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah” (Riwayat sahih Ima Bukhari dan Imam Muslm) Secara harfiah, olah raga berkuda, berenang dan memanah adalah olah raga yang sangat baik untuk kebugaran tubuh. Sebagian menafsirkan bahwa berkuda dapat pula diartikan mampu mengendarai kendaraan (baik kendaraan darat, laut, udara). Berenang dapat disamakan dengan ketahanan dan kemampuan fisik yang diperlukan agar menjadi muslim yang kuat. Sedangkan memanah dapat pula diartikan sebagai melatih konsentrasi dan fokus pada tujuan.
Di zaman modern, sebagian pakar memperluas tafsiran hadist diatas sebagai berikut:
>Berkuda = Skill of Life, memberi keterampilan atau keahlian sebagai bekal hidup agar memiliki rasa percaa diri, jiwa kepemimpinan dan pengendalian diri yang baik.
> Berenang = Survival of Live, mendidik anak agar selalu bersmangat, tidak mudah menyerah dan tegar dalam menghadapi masalah.
> Memanah = Thingking of Life, mengajarkan anak untuk membangun kemandirian berpikir, merencanakan masa depan dan menentukan target hidupnya.
Semoga saja kita para orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya dapat memberikan perlakuan yang tepat pada anak-anak, siapapun mereka, dari manapun mereka berasal, dan dimanapun mereka berada, karena anak-anak adalah tanggung jawab kita yang menyayangi mereka.

Semoga bermanfaat.
Disarikan dari berbagai sumber.

Selasa, 25 September 2012

Belajar Nyamuk

Seruangan sama entomolog ternyata mengasyikkan ya, aku jadi bisa belajar tentang nyamuk. Aku bahkan baru tahu ternyata untuk bertahan hidup itu nyamuk hanya perlu mengisap sari bunga dan buah. Jadi saat nyamuk menggigit manusia dan menghisap darah itu untuk berkembang-biaknya, meneruskan generasi. Berguna untuk mematangkan sel-sel telurnya. Artinya yang menggigit manusia itu memang hanya nyamuk betina. 

Bukan kumbang saja, yang menghisap bunga.

Nyamuk jantan? Tak pernah menggigit kita, sebab ia akan mati segera sesaat setelah mengawini pasangannya, kurang dari seminggu bahkan *alangkah setianya nyamuk jantan pada pasangannya ya, komment tak penting... 

Itu yang baru aku ketahui dari si nyamuk, kalau jenis nyamuk itu bermacam-macam sudah lama aku tahu :D Ada Aedes yang terbagi menjadi Aedes Albofiktus dan Aedes Agipty si penular DBD. Ada Anopheles yang jadi vektor penyakit malaria. Ada Culex dan Mansonia pembawa vektor filariaris. Hanya Armigeres dan Toxorhyncities yang baru aku kenal hari ini. Dan penulisan namanyapun, aku tak yakin benar, maaf yaaa...

Belum lagi ciri-cirinya, yang aku ingat luar kepala hanya bahwa Aedes Agipty itu tubuhnya belang, hitam putih, menggigit di pagi sampai sore hari. Semua juga tahu kan ya :D Ini dia penampakannya.

Hitam putihnya jelas terlihat.

Semetara ciri lainnya yang bisa dilihat dari sayap, antenanya, mengenali jantan betina. Khasnya saat menggigit itu semua ternyata ada ilmunya. Ho ohh... ternyata ya ilmu yang aku punya masih sangat sedikit. Hanya separoh titik, mungkin malah tak sampai. Jadi tak ada gunanya merasa sombong. Yang ada adalah mari kita terus belajar. Dan belajar itu tak mesti di bangku sekolah bukan? tapi bisa di Universitas kebanggaan kita. Meski maya, disini banyak kelebihannya, dan inilah yang selalu membuat aku rindu membuka blog ini, meski tak berkelas. Aku terlanjur cinta.

Gambar kedua nyamuk di atas aku copy dari materi pelatihan entomologi :D

Kamis, 12 April 2012

Slogan Belajar

Kemarin Hamas dapat tugas Bahasa Indonesia menuliskan slogan dengan tema BELAJAR. Membuatnya diatas selembar kertas, boleh dikreasi dan silakan diberi warna. Aku jadi penonton saja, tak hendak mengomentari, biarlah Hamas berekspresi.

Hamaspun membuat 2 lembar.

Lembar pertama, tulisannya :
"Belajar itu menyenangkan.
Tidak belajar itu tidak menyenangkan"
Hatiku bersorak, bisa juga nich si Akang, walau menurutku tulisannya kekecilan jadi sedikit sulit dibaca. Gak papa dech, yang penting Hamas PeDe :)

Nach dilembaran satunya lagi, Hamas menulis :
"Belajar YES.
Tak belajar NO"
Aku mulai geli, nich anak lucu juga ya, membuat dengan sepenuh hati dan dengan keyakinan yang sempurna, tampa noleh kiri kanan. Dan pada kertas kedua tulisannya lebih jelas, warna juga lebih menyala.

Sorenya, dengan riang Hamas bercerita padaku. Bunda gurunya memuji slogan belajar yang dibuat Hamas dan kawan-kawan sekelasnya. Yang bikin aku spontan tertawa saat Hamas bilang,

"Yang paling bagus punya Nindy *nama disamarkan, takut tenar ;P
 Warnanya keren, tulisannyapun sangat rapi. Tapi kata Bunda sayangnya kok beda sama tema, sebab yang diminta tentang BELAJAR, sedangkan Nindy nulisnya tentang SHOLAT"


Tak mampu kusembunyikan gelakku, ada-ada saja, namanya juga anak-anak :):)
Yang aku rekam, ternyata Hamas mengingat kejadian ini dengan caranya, tak ada nada ngenyek atau apalah. Dunia mereka memang selalu indah ya...

Senin, 12 Maret 2012

Segenap Rasa Buat si Bungsu

Setelah akhir bulan Februari lalu mengurai rindu dengan menuliskan tentang ketiga adikku, akhirnya malam ini kesampaian juga niatku untuk bercerita tentang segenap rasaku pada adik bungsuku. Sesungguhnya menuliskan tentang kebersamaanku dengan si bungsu, seolah membuka lembaran kisah yang sulit dituntaskan. Karena begitu banyak yang harus terlebih dahulu kuurai. Tapi mumpung ada Give Away bertema 'aku sayang saudaraku' dari Mbak Susindra jadilah aku memanfaatkan moment mengumpulkan kepingan memori mengungkap selaksa rasa pada adik bungsuku. 

Jarak umur kami belasan tahun. Saat aku kelas II SMP, adik bungsuku lahir. Jadi saat kelahirannya aku tak bisa langsung bertemu. Dan sejak saat si bungsu dilahirkan, Mamaku jadi jarang sekali bisa menengokku ke rantau. Tak ada lagi sidak mendadak Mama yang begitu aku nantikan, sebab beliau ternyata datang sebelum aku pulang sekolah. Tahukah apa yang terjadi? Lemari dan tempat tidurku jadi rapi, pakaian kotor termasuk mukenaku sudah wangi dicuci. Rasa senang yang begitu sulit kuungkapkan. Tapi meski rasa itu jadi hilang karena kehadiran si bunggu, herannya aku tak pernah protes. Yang ada akupun jadi sangat menantikan waktu liburan agar bisa menimang si bungsu.

Singkat cerita, karena jarak usia kami yang jauh, kami tak pernah melewati masa bertengkar khasnya saudara sekandung. Rebutan mainan jelas tak ada, beda generasi. Aku generasi 70-an sementara si bungsu sudah generasi 90-an. Rebutan makanan apalagi, yang ada kalau musim buah di kampung, si bungsu kecil akan sibuk mengingatkan untuk mengirimiku di rantau. Dan begitu usianya 1 tahunan ke atas, si bungsupun setia menengokku. Kebayangkan cerianya aku saat itu, kedatangan tamu cilik yang sedang lucu-lucunya. Waktu terus berlari, yang aku ingat sejak belajar jalan si bungsu sakit-sakitan. Tumbuh kembangnya seolah tak optimal. Secara rutin pengobatan padanyapun dilakukan, tak mengenal jeda. Syukurnya saat mulai masuk SD, serangkaian pengobatan menunjukkan hasil, tampak adik bungsuku mulai berotot.


Si bungsu di depan kampusnya.
Pinky, tak tampak jejak kurang gizi sewaktu bocah dulu.
.
Hari berganti, saat aku kuliah, semakin jarang aku bisa bertemu lama dengan si bungsu. Saat aku menikah, si bungsu baru kelas V SD. Dan ketika Yunda, sulungku lahir, si bungsu adalah orang yang paling pandai mengungkapkan rasa sayangnya. Seperti kebanyak emak-emak muda yang minim pengalaman, aku kerap minta didampingi Mama. Si bungsu yang saat itu baru kelas I SMP justru sangat mendukung, ia tak protes saat ditinggal Mama mengurusi cucu pertamanya. Demi ponakan tersayang ia rela belajar masak saat Mama tak ada di rumah. Itu kenangan manisku pada si bungsu. Ia minta dipanggil Ammahti. Ammahti selalu dinanti hadirnya oleh anak-anakku, walau kalau sudah bertemu mereka akan heboh, riuh rendah bercanda diwarnai dengan pertengkaran lucu. Ammahtinya suka jahil, memancing teriakan manja  mereka.



Narsis bersama Yunda dan Hamas.
Palembang, Februari 2012.

Kini, si bungsu sudah mahasiswa. Sudah bisa jadi teman curhat yang istimewa. Terutama tentang sakitnya Papa kami. Ya begitulah karena saat ini si bungsu yang Harum namanya tersebut memang sedang tercatat sebagai mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Lampung, semester ke VI. Cerdas, ceria dan sholeha. Muji adik sendiri *kapan lagi, hehe... Satu kebiasaanku yang ditiru dengan sucses hanya oleh si bungsu adalah mampu tidur dimana saja, bahkan dalam posisi duduk sekalipun, modal jaga saat di RS nanti, lumayan kan tak perlu sulit cari bantal. Tidur itu di mata, jadi bisa kapan dan di tempat apa saja, itu prinsip yang kami anut bersama. Merdekaaa !!!



Dan baru saat si bungsu tamat SMA, aku ketahui dengan nyata bahwa ia ternyata nge-fans berat padaku, hoho *mendramatisir banget yak... Sampai berusaha giat belajar untuk bisa masuk kedokteran. Walau ternyata saat ini kuliah di kedokteran, di Universita Negeri sekalipun,  biayanya tergolong mahal. Jauh beda dengan saat aku kuliah dulu. Imbas otonomi kampus khabarnya. Walhasil, hal ini nyaris menggagalkan cita-cita si bungsu untuk jadi dokter. Tapi semua kembali kepada skenario-Nya semata, saat si bungsu sudah bersiap mengubah haluan citanya, Allah berkenan menghadirkan solusi lewat adik ketigaku. Indahnya bersaudara, bila kita saling menyayangi.


Nama lengkap si bungsu sengaja kurahasiakan * maafkan ya... Salah satu sebabnya karena si bungsu saat ini masih jomblomania *uhhuuuuk, tak ada yang menanyakan hal ini  kukira, hehe... Dan saat pertemuan kami pada awal Februari lalu, untuk mengawal pengobatan komprehensif pada jantung Papa kami, tepat bersamaan dengan libur semesternya. Sang Ammahti sempat minta ajari ngeblog, setelah sebelumnya berhasil membujukku minta tambahi  tabungannya agar bisa membeli modem. Nama blog yang direncanakannya membuatku ngakak terhenyak. Ya ya, meski banyak kesamaan dan lahir dari rahim yang sama kami tetaplah pribadi yang jauh berbeda. 


Sulung dan bungsu, yang saling menyayangi.
Kata orang, sulung mirip Mama. Bungsu mirip Papa.


Bersama si bungsu mendampingi Papa ke SpPD-KKV.
Graha RSMH, Februari 2012.


Si bungsupun pernah menunjukkan foto-foto bersama para sahabatnya di kost. Uuuhh geli aku melihat aksinya, paling ceria. Dan menurut pengakuannya semua temannya itu pemikir serius persis seperti aku, si sulung yang dipanggilnya Ayuk ini. Aaacchhh, ternyata begitu ya penilaian si bungsu padaku. Tak mengapa, tak mengurangi rasa sayangku padanya.  Selanjutnya katanya lagi, ia ingin belajar menulis padaku. Ooohhh No, aku bukan guru yang baik untuk itu, tapi aku tetap menghargai keinginannya untuk mulai intens menulis. Memang aku melihat bakat menulis si bungsu yang aduhai, terbukti saat ia menulis status atau catatan di facebook, bahasanya penuh makna bersayap-sayap *burung kaleee... 


Demikianlah paparan selaksa rasa pada adik bungsuku. 
Segenap do'a terangkum untuk adinda.  


"Semoga lancar kuliahmu. Teruslah ceria dan menceriakan. Bila suatu saat dikau membaca tulisan ini, percayalah ini keluar dari lubuk hatiku yang terdalam, betapa aku menyayangimu. Akupun bangga padamu dan selalu berharap mampu mendukung semua cita-cita luhurmu, termasuk untuk  menjadi dokter SpPD-KKV lantaran dendam positifmu pada sakitnya Papa. Lebih dari itu akupun sangat berharap blog 'Tawa Tiwi'mu segera terbit. Niatkan untuk berbagi, jangan takut tak bisa mengatur waktu, justru ngeblog bisa jadi sarana untuk refresing hati dan fikiran ditengah jadwal kuliahmu yang padat dan berat itu". 





Tulisan ini diikutkan pada GIVEAWAY : Aku Sayang Saudaraku 
yang diselenggarakan oleh Susindra

Rabu, 07 Maret 2012

Nonton Negeri 5 Menara

Novel karya A.Fuadi yang berjudul Negeri 5 Menara akhirnya difilmkan. Sebuah karya anak bangsa yang layak dihargai. Bukan soal ketika greget film tak bisa menandingi sensasi saat kita melalap novelnya, sudah barang tentu berbeda dunia kata dengan dunia akting bukan?

Aku sebetulnya tak suka nonton, apalagi dibioskop, suatu kegiatan langka buatku. Tapi aku tak anti nonton bioskop juga sebenarnya, lihat situasi ;) Pertama nonton di bioskop saat film Laskar Pelangi. Nonton bareng dengan keluarga besar suami. Berikutnya nonton lagi, Emak Ingin Naik Haji, kali ini hanya kami sekeluarga ditraktir Ayah (Yainya Hamas) hampir bertepatan dengan berakhir masa edar filmnya. Setelahnya ada ajakan di Rumah tampa Jendela, tapi sayang kami tak bisa. Saat libur sekolah lalu (lagi-lagi) Yai bayari kami nonton Hafalan Sholat Delisa. Saat itu Yai sudah mengingatkan bakal ada jadwal nonton bareng di awal maret nanti, film Negeri 5 Menara.

Dan kamipun akhirnya sukses menonton N5M tepat pada hari ketiga (3/3). Bangga dong :D karena sejak baca ulasan Isa Alamsyah bahwa sebaiknya kita ikut mendukung bangkitnya film Indonesia yang berkualitas serupa N5M ini. Begini katanya:
Kita bisa mendukung film keluarga ini dengan menyempatkan untuk menonton di hari pertama. Kalau tidak bisa di hari pertama, sempatkan tonton di tiga hari pertama. Kenapa? Karena tiga hari pertama adalah masa evaluasi pihak bioskop. Kalau hasilnya tidak memuaskan, sekalipun film bagus berkualitas dan kaya pesan, akan segera diturunkan dari layar. Kalau belum sempat tontonlah di minggu pertama. Kalau tidak sempat, semoga saja film ini bertahan sampai minggu kedua, dst.
Tapi tanpa dukungan di minggu pertama, minggu kedua akan diturunkan. Sayang kan? Tentu saja Anda tidak mau membiarkan produser film-film inspiratif kapok bukan? Demi masa depan anak-anak kita. Jika ingin berperan lebih besar. Jangan nonton sendirian. Ajak keluarga, sanak saudara, dan teman sekolah atau teman kerja untuk menonton. 
Setelah menonton jangan hanya diam, saatnya kita berhenti menjadi silent majority. Jika Anda setuju film ini baik, segera tulis status di facebook atau twitter setelah menonton, rekomendasikan ke teman teman untuk menonton. Kalau kita aktif mendukung film bagus, Insya Allah banyak produser yang lebih memilih film inspiring ketimbang film horor atau film kotor.

Ya kalau dulu aku biasanya mau nonton hanya dari CD saja, sekarang aku maulah ikut nonton ke bioskop, tentunya bareng keluarga, apalagi ada Yai yang bayari :D Kalau balik kebelakang, Yai memang sosok yang hobby banget nonton bioskop. Dulu masa mudanya suka berdua Nyai nonton fim India di Bioskop Garuda, malam mingguan khas pengantin baru. Konon kisahnya, beliau terinspirasi jadi pengacara karena seringnya nonton film Bollywood itu, hehe... Lumayan ada perolehan, jadi catatan sejarah, malah sekarang keranjingan ngajakin para cucunya nonton bioskop ;) syukurnya bukan film sembarangan. 

Jadi selain karena ada yang bayari, aku nonton juga dalam rangka mengambil peran guna mendukung bangkitnya film Indonesia berkualitas, semoga ini bisa dikategorikan sebagai bentuk kepedulianku selaku anak negeri yang cinta produk Indonesia, cieee...

Sekarang coba perhatikan data statistik film Indonesia saat ini.


Yang ada diposisi 10 besar  Film Indonesia sampai Maret tahun 2012 adalah:
#Judul
Penonton
1Rumah Bekas Kuburan
246.124
2Pulau Hantu 3
237.007
3Negeri 5 Menara
175.507
4Malaikat Tanpa Sayap
150.678
5Bila
113.164
6Kafan Sundel Bolong
102.171
7My Last Love
86.409
8Seandainya
72.070
9Rumah Hantu Pasar Malam
63.591
10Ummi Aminah
50.941




Perhatikan baik-baik data di atas ya :D Ternyata film bertema hantu (tak jelas /horor dan mungkin kotor) tahun ini di 3 bulan pertama memenangi pertarungan. Bayangkan kalau film jenis itu menjadi tuan rumah di negeri kita dimasa depan, nasib bangsa makin memprihatinkan. Akan makin banyak orang yang percaya klenik bukan? Ya betul , adalah fakta bahwa film bisa mempengaruhi perilaku penontonnya, dan tugas kita secara individu minimal mendukung film yang baik, film yang punya misi dan visi apalagi kalau kualitasnya juga bagus.

Masih belum terlambat!
Pertempuran antara film bervisi dan inspiratif dengan film horor belum berakhir.
Kita sebagai orang yang peduli dengan kualitas budaya bangsa, masih bisa memenangkan film bervisi dan inspiratif itu. Kita harus menang, kita bisa ;) *ini juga masih penggalan tulisannya Bang Isa, suaminya Mbak Asma Nadia itu lhoo...

Ajakanku, mari nonton Negeri 5 Menara, aku tak akan bercerita tentang isi filmnya, boleh juga baca versinya Uda Vizon di negeri 5 menara, the movie atau tulisannya Nique pada Nonton Film “Lima Menara” Tapi beneran bagus kok :D Bahkan Ustadz Yusuf Mansyurpun mengaku merinding sepanjang menonton film N5M ini, dan Indra Bekti puas usai menontonnya, baca disini dan disana.

Kesimpulanku untuk film Negeri 5 Menara, pesannya sampai, bahwa pesantren itu bukan tempat sekolah mereka yang 'tak mampu', bukan pula sekolah tempat belajar agama saja, pesantern justru tempat memcetak pribadi-pribadi unggulan. Terlalu subjektif ya? Ini sich biar ringkas saja, lengkapnya silakan saksikan langsung di bioskop, mumpung masih tayang di kotamu. Buruan yaaa...