Tampilkan postingan dengan label Saudaraku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saudaraku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 April 2012

Kawan Nyata di Maya

Duch senangnya bila banyak kawan-kawan kita dinyata yang sekarang mulai ngeblog.

1. Kawan Kantor.
Nama blognya Bunda Opam. Aku biasa memanggilnya Yuk Yaya.


http://yayariana.blogspot.com


Jadi inget Pu, Nia dkk yang sekantor dan sama-sama suka ngeblog, seruuu... Sayangnya si Ayuk belakangan lagi sibuk jadi belum sempat buka blog untuk sementara ini.

2. Kawan se Kampung, ada 2 orang.
Sebut saja namanya Najhan, sebenarnya sudah lumayan lama punya blog http://aikenyana.blogspot.com, tapi baru bisa aktif lagi sekarang, semoga dech...


Foto Saya
     

Pengantin baru ini, sekarang mulai merambah dunia blogging, Nia aku biasa memanggilnya. Blog   Petualang Jiwa, http://biknya.blogspot.com


Nia dan suami, fotonya aku ciduk dari fb^^
Semoga semangat ya ngeblognya ^^
Yang mau kenalan, langsung aja ya...
*kalau kami bertemu, namanya kopdar apa bukan ya?

Senin, 12 Maret 2012

Segenap Rasa Buat si Bungsu

Setelah akhir bulan Februari lalu mengurai rindu dengan menuliskan tentang ketiga adikku, akhirnya malam ini kesampaian juga niatku untuk bercerita tentang segenap rasaku pada adik bungsuku. Sesungguhnya menuliskan tentang kebersamaanku dengan si bungsu, seolah membuka lembaran kisah yang sulit dituntaskan. Karena begitu banyak yang harus terlebih dahulu kuurai. Tapi mumpung ada Give Away bertema 'aku sayang saudaraku' dari Mbak Susindra jadilah aku memanfaatkan moment mengumpulkan kepingan memori mengungkap selaksa rasa pada adik bungsuku. 

Jarak umur kami belasan tahun. Saat aku kelas II SMP, adik bungsuku lahir. Jadi saat kelahirannya aku tak bisa langsung bertemu. Dan sejak saat si bungsu dilahirkan, Mamaku jadi jarang sekali bisa menengokku ke rantau. Tak ada lagi sidak mendadak Mama yang begitu aku nantikan, sebab beliau ternyata datang sebelum aku pulang sekolah. Tahukah apa yang terjadi? Lemari dan tempat tidurku jadi rapi, pakaian kotor termasuk mukenaku sudah wangi dicuci. Rasa senang yang begitu sulit kuungkapkan. Tapi meski rasa itu jadi hilang karena kehadiran si bunggu, herannya aku tak pernah protes. Yang ada akupun jadi sangat menantikan waktu liburan agar bisa menimang si bungsu.

Singkat cerita, karena jarak usia kami yang jauh, kami tak pernah melewati masa bertengkar khasnya saudara sekandung. Rebutan mainan jelas tak ada, beda generasi. Aku generasi 70-an sementara si bungsu sudah generasi 90-an. Rebutan makanan apalagi, yang ada kalau musim buah di kampung, si bungsu kecil akan sibuk mengingatkan untuk mengirimiku di rantau. Dan begitu usianya 1 tahunan ke atas, si bungsupun setia menengokku. Kebayangkan cerianya aku saat itu, kedatangan tamu cilik yang sedang lucu-lucunya. Waktu terus berlari, yang aku ingat sejak belajar jalan si bungsu sakit-sakitan. Tumbuh kembangnya seolah tak optimal. Secara rutin pengobatan padanyapun dilakukan, tak mengenal jeda. Syukurnya saat mulai masuk SD, serangkaian pengobatan menunjukkan hasil, tampak adik bungsuku mulai berotot.


Si bungsu di depan kampusnya.
Pinky, tak tampak jejak kurang gizi sewaktu bocah dulu.
.
Hari berganti, saat aku kuliah, semakin jarang aku bisa bertemu lama dengan si bungsu. Saat aku menikah, si bungsu baru kelas V SD. Dan ketika Yunda, sulungku lahir, si bungsu adalah orang yang paling pandai mengungkapkan rasa sayangnya. Seperti kebanyak emak-emak muda yang minim pengalaman, aku kerap minta didampingi Mama. Si bungsu yang saat itu baru kelas I SMP justru sangat mendukung, ia tak protes saat ditinggal Mama mengurusi cucu pertamanya. Demi ponakan tersayang ia rela belajar masak saat Mama tak ada di rumah. Itu kenangan manisku pada si bungsu. Ia minta dipanggil Ammahti. Ammahti selalu dinanti hadirnya oleh anak-anakku, walau kalau sudah bertemu mereka akan heboh, riuh rendah bercanda diwarnai dengan pertengkaran lucu. Ammahtinya suka jahil, memancing teriakan manja  mereka.



Narsis bersama Yunda dan Hamas.
Palembang, Februari 2012.

Kini, si bungsu sudah mahasiswa. Sudah bisa jadi teman curhat yang istimewa. Terutama tentang sakitnya Papa kami. Ya begitulah karena saat ini si bungsu yang Harum namanya tersebut memang sedang tercatat sebagai mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Lampung, semester ke VI. Cerdas, ceria dan sholeha. Muji adik sendiri *kapan lagi, hehe... Satu kebiasaanku yang ditiru dengan sucses hanya oleh si bungsu adalah mampu tidur dimana saja, bahkan dalam posisi duduk sekalipun, modal jaga saat di RS nanti, lumayan kan tak perlu sulit cari bantal. Tidur itu di mata, jadi bisa kapan dan di tempat apa saja, itu prinsip yang kami anut bersama. Merdekaaa !!!



Dan baru saat si bungsu tamat SMA, aku ketahui dengan nyata bahwa ia ternyata nge-fans berat padaku, hoho *mendramatisir banget yak... Sampai berusaha giat belajar untuk bisa masuk kedokteran. Walau ternyata saat ini kuliah di kedokteran, di Universita Negeri sekalipun,  biayanya tergolong mahal. Jauh beda dengan saat aku kuliah dulu. Imbas otonomi kampus khabarnya. Walhasil, hal ini nyaris menggagalkan cita-cita si bungsu untuk jadi dokter. Tapi semua kembali kepada skenario-Nya semata, saat si bungsu sudah bersiap mengubah haluan citanya, Allah berkenan menghadirkan solusi lewat adik ketigaku. Indahnya bersaudara, bila kita saling menyayangi.


Nama lengkap si bungsu sengaja kurahasiakan * maafkan ya... Salah satu sebabnya karena si bungsu saat ini masih jomblomania *uhhuuuuk, tak ada yang menanyakan hal ini  kukira, hehe... Dan saat pertemuan kami pada awal Februari lalu, untuk mengawal pengobatan komprehensif pada jantung Papa kami, tepat bersamaan dengan libur semesternya. Sang Ammahti sempat minta ajari ngeblog, setelah sebelumnya berhasil membujukku minta tambahi  tabungannya agar bisa membeli modem. Nama blog yang direncanakannya membuatku ngakak terhenyak. Ya ya, meski banyak kesamaan dan lahir dari rahim yang sama kami tetaplah pribadi yang jauh berbeda. 


Sulung dan bungsu, yang saling menyayangi.
Kata orang, sulung mirip Mama. Bungsu mirip Papa.


Bersama si bungsu mendampingi Papa ke SpPD-KKV.
Graha RSMH, Februari 2012.


Si bungsupun pernah menunjukkan foto-foto bersama para sahabatnya di kost. Uuuhh geli aku melihat aksinya, paling ceria. Dan menurut pengakuannya semua temannya itu pemikir serius persis seperti aku, si sulung yang dipanggilnya Ayuk ini. Aaacchhh, ternyata begitu ya penilaian si bungsu padaku. Tak mengapa, tak mengurangi rasa sayangku padanya.  Selanjutnya katanya lagi, ia ingin belajar menulis padaku. Ooohhh No, aku bukan guru yang baik untuk itu, tapi aku tetap menghargai keinginannya untuk mulai intens menulis. Memang aku melihat bakat menulis si bungsu yang aduhai, terbukti saat ia menulis status atau catatan di facebook, bahasanya penuh makna bersayap-sayap *burung kaleee... 


Demikianlah paparan selaksa rasa pada adik bungsuku. 
Segenap do'a terangkum untuk adinda.  


"Semoga lancar kuliahmu. Teruslah ceria dan menceriakan. Bila suatu saat dikau membaca tulisan ini, percayalah ini keluar dari lubuk hatiku yang terdalam, betapa aku menyayangimu. Akupun bangga padamu dan selalu berharap mampu mendukung semua cita-cita luhurmu, termasuk untuk  menjadi dokter SpPD-KKV lantaran dendam positifmu pada sakitnya Papa. Lebih dari itu akupun sangat berharap blog 'Tawa Tiwi'mu segera terbit. Niatkan untuk berbagi, jangan takut tak bisa mengatur waktu, justru ngeblog bisa jadi sarana untuk refresing hati dan fikiran ditengah jadwal kuliahmu yang padat dan berat itu". 





Tulisan ini diikutkan pada GIVEAWAY : Aku Sayang Saudaraku 
yang diselenggarakan oleh Susindra

Selasa, 06 Maret 2012

Blogger Semusim Bukan Pilihanku

Bukan blogger semusim, itu tema kontes Pakde hari ini. Pasti Pakde punya alasan memilihnya. Mungkin sepengamatan beliau sudah banyak yang terkategori blogger semusim ini. Aku jangan dimasukkan ya Pakde :D Akukan blogger sejati, gaya sok kepedean... Biarin wong ini mengamalkan ilmunya Pakde kok, lebih baik pede dari pada minder. 

Blogger semusim vs blogger sejati. Setidaknya ini yang ada dibenakku, dilarang protes. Mau pilih kubu yang mana? Aku sebenarnya nyadar ya kalau masih jauh dari kategori blogger sejati, yang sudah punya blog berdomain dan sudah bisa menghasilkan cring-cring. Blogku masih yang gratisan, menghasilkan uang juga belum. Untuk buat posting tiap hari saja belum berhasil. Tapi jujur aku sudah banyak menuai manfaat dari blog tercinta ini. Kenal dengan seleb blog sekeliber Pakde adalah salah satunya. Berbagi ilmu dan dapat rupa-rupa hadiah dari kontes para sahabat adalah karunia. Sungguh menyenangkan. Maka dari itu meski sebagai blogger sejati aku belum bisa, akupun mengaku bukan blogger semusim. 

Blogger semusim menurut hematku adalah blogger yang belum menemukan kebahagiaan dari aktivitas ngeblog ini. Padahal kalaulah mereka tahu rahasia bahagia dengan ngeblog, aku yakin mereka akan menyempat-nyempatkan waktunya untuk ngeblog. Andai karena satu atau banyak hal mereka terhalang untuk ngeblog, aku yakin mereka akan sedih dan merasa seolah ada yang kurang dalam dirinya. Adapun aku, sejujurnya aku sudah menemukan kebahagian dengan aktivitas ngeblog ini, maka aku katakan dengan lantang aku tak mau jadi blogger musiman. Aku bukan blogger semusim, kali ini tak hanya sebatas pengakuan. Tapi pilihan.

Duhai sobats blogger semua :D bila dirimu masih ragu untuk memilih menjadi blogger sepanjang musim, maka cobalah kendalikan musim itu. Saat musim hujan, biasanya kita banyak di rumah jadi rajin-rajinlah ngeblog. Kalau sedang kemarau malas jalan keluar rumah, ngeblog kembali jadi pilihan yang menyenangkan. Dan ternyata saat musim berganti, kita sudah terlanjur bahagia dalam ngeblog, dengan sendirinya bukan blogger semusim jadi pilihan sadar kita. Pilihan sadar untuk terus ngeblog.

Cobalah dengan mengendalikan musim untuk tetap seimbang, jangan dikendalikan musim adalah salah satu kiat sukses untuk tidak menjadi blogger semusim. Ini yang sudah aku rasakan. Bagaimana langkahnya? Seperti yang sudah pernah aku kemukakan, ngebloglah dengan bahagia, jangan jadikan beban. Seimbangkan diri dan bijak dalam banyak hal. Jangan hanya ikut-ikutan atau terpengaruh musim. Artinya berusahalah tak memaksakan diri menulis bila raga kita memang sedang butuh istirahat. Bila masih mungkin untuk membaca maka silakan membaca tulisan sahabat, bertebaran hikmah disana.  Dengan hanya membaca saja, kita seringkali mendapat ide dan motivasi untuk menulis lagi dan lagi. Berkah dari BW sama dengan bersilaturahim kan ya? Semoga sama :D bila ada keikhlasan disana.

Selanjutnya yang bisa kita lakukan adalah dengan menaklukkan musim, jangan ditaklukkan musim.  Contoh mudah adalah bila sedang musim kontes silakan kita nikmati untuk ikut kontes, tak perlu minder. Dan jangan hanya mengejar menang, kalau kalah jadi kecewa. Niatkan saja untuk latihan menulis, kalau menang ya bersyukur. Rizky namanya. Dan bila sedang tak ada kontes ya kita usahakan terus menulis, membaca dan menyapa sahabat ke blognya masing-masing. Atau bisa jadi kita yang mengadakan kontes, sekalian buat pengalaman jadi penyelenggara kontes. Pasti beda rasanya saat jadi peserta. Tapi bila semuanya sedang tak memungkinkan ya minimal kita tetap punya niatan untuk terus ngeblog. Tapi ingat sebatas niat saja tak bisa membuktikan bahwa kita bukan blogger semusim. 

Bukan blogger semusim adalah pilihan sadarku, akan kuwujudkan dengan aksi nyata, tak hanya sebatas niat saja. Bila nanti aku lupa, sapa dan ingatkanlah aku ya :D karena aku bukan blogger semusim berkat dukunganmu juga. 

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Tiga Kata Bukan Blogger Semusim di BlogCamp. 

Jumat, 02 Maret 2012

Cerita Mirip di Keluargaku

Pagi yang cerah di Jum'at pertama bulan Maret.
Semoga khabarmu baik dan bahagia wahai sobats semua ;)

Masih dalam rangka cerita tentang 'Aku Sayang Saudaraku' maka posting kali ini juga masih tentang saudara-saudaraku tersayang, hanya saja ini sebuah karya daur ulang, karena sebelumnya pernah kutulis dalam blog ini 10 Juni 2010 yang lalu, pindahan dari 'catatan di facebook'. Dan kali ini kutambah sekalian kulengkapi biar lebih terasa resapan bumbu sayangnya, cie...

Begini ceritanya...

Saat itu Abinya Hamas baru membuat status di facebooknya tentang mimpinya (mimpi kami tepatnya, untuk ke Tanah Suci) juga tentang mirip,

“Jemput Kando Pertama pulang Umroh. Ini kali keduanya menginjakkan kaki ke Tanah Suci. Yang pertama untuk berhaji. Menurut beliau, wajahku paling sering melintas selama disana *bukan hanya kerena kami mirip saja, bisa jadi ikatan hatilah penyebabnya. Ya Allah izin kan lah aku menjadi tamu-Mu di Baitullah, betapa harap dan rinduku”

Maka untuk menanggapi tentang mirip, aku buat tulisan ini.

Adalah suamiku, anak ke 4 dari 8 bersaudara, 6 laki-laki dan 2 perempuan. 
Kata banyak orang, terutama yang kenal tapi jarang bertemu, sangat mirip dengan Kakak pertamanya, beda umur mereka 6 tahun. 


Miripkah?

Bahkan keluarga jauh sering salah menyebut nama. Sering kali bila ada acara kondangan suamiku dipanggil untuk sambutan mewakili Ayahanda dengan nama Taufik, kakaknya, sudah tradisi biasanya anak sulung lebih tenar dikalangan keluarga besar, walau tidak semuanya. Keluarga akan langsung mengenali bila melihat istri yang mendampingi, karena jelas sangat tidak mirip.


Abinya Hamas bersama Kakak pertama dan Kakak ketiga.

Bukan itu saja, saudara seperguruanpun sering salah mengenali keduanya. Saudara seperguruan? Iya, PKS, Perguruan Keadilan Sejahtera *^ Tapi kalau buat orang-orang yang sering berinteraksi, sudah faham betul, sangat jelas ketidak miripan itu, apalagi buatku sebagai istrinya, tidak akan mungkin ketukar dach…


Buat yang lain, sah-sah saja mau bilang mirip atau tidak mirip :D

Generasi mirip selanjutnya adalah dua sepupu yang hanya berjarak 1 bulan ini. Khodijah binti Muhammad Ridwan lahir pada 25 Oktober 2003 di Palembang, sedangkan Aisyah binti Muhammad Taufik lahir pada 29 November 2003 di Perth.

Khodijah dan Aisyah, dua sepupu yang mirip.


Masih tentang mirip.

Uniknya, kemiripan ini berlaku juga padaku dengan adik perempuan ketiga, dengan selisih umur 5 tahun. Kami berdua mirip, kata banyak orang. Aku sulung dari 5 bersaudara, 3 perempuan dan 2 laki-laki. Sudah kuceritakan pada posting akhir Februari lalu.


De' Anggun dengan sulungnya, Muhammad Avignam Raya bin Arif Radigusman.

Hamas dan Umminya.
Almarhum Kakek kami sering sekali salah panggil. 
“Ke, mana adikmu?” padahal yang ditanya justru adikku. 


Belum lagi pasienku yang sering bingung saat aku masih bertugas di Puskesmas Blambangan dulu. Pernah dengan keheranan seorang pasien bilang, 


“Bu, tadi barusan ketemu dijalan kok sekarang sudah ada disini, trus bajunya kok lain ya?”


Nach lho…

Tapi buat orang yang sangat mengenal kami atau yang sudah faham banget, jelas kami sangat tidak mirip. Apalagi soal keahlian memasak, kami berbeda, bagaimana tidak, adikku seorang alumni akademi Gizi, jadi selain hobby, dia sangat piawai masak. Sementara aku? Suka masaknya baru tahap coba-coba. Ya beda tipislah ^^ 



***


Kemiripan lainnya.
Hamas mirip Abi? Hamas mirip Manda? Yang banyak diakui adalah Hamas mirip Jidah. Dagu dan senyumnya^^
Hamas dan Abinya, mirip kah?
Tapi menurutku saat Hamas makin besar makin tak mirip Abinya.

Hamas dan Manda, 2009 lalu mirip.
Sekarang? Entahlah...
Bahkan banyak yang bilang Hamas justru mirip Mandanya, adik keduaku yang tinggal di Jogya. Bisa jadi karena memang Hamas mirip Nek Anangku (Abah Mamaku) yang juga sangat mirip dengan De' Fata. Kalau Hamas mudik ke Way Kanan, ada beberapa orang kerabat yang ketika melihat Hamas tak bersamaku, mereka biasanya bertanya spontan.

"Ini anaknya Fata ya?" 


Nanya apa nebak? Haiiyyaa, kalau nebak kok salah ya, hehe...

Ya begitulah kisah mirip dalam keluargaku, tepatnya bukan mirip sungguhan, tapi mirip-miripan. Bedanya jauh lebih banyak. Mobil jelas sangat berbeda dong dengan mobil-mobilan. Betul?

Selasa, 28 Februari 2012

Tentang Ketiga Adikku

Aku sulung dari 5 bersaudara. Merantau, jauh dari keluarga sejak tamat SD, saat pertama kali merantau aku masih punya 3 orang adik. Artinya si Bungsu lahir saat aku tak ada di rumah. Dan sekarang, mari kukenalkan pada saudara-saudara serahimku ;)

Adik yang persis dibawahku seorang laki-laki, tampan dan pendiam. Nama aslinya Aria Fatra, lahir saat Iedul Fitri. Tapi sejak kecil aku biasa memanggilnya De' Fata. Tingginya menjulang, diatas rata-rata keluargaku. Kata orang-orang dekat paling mirip Almarhum Nek Anangku (Abahnya Mamaku). Manda kalau anak-anakku menyebutnya.

Manda sekeluarga di Kaliurang.
Alumni UII, Fakultas Teknik Industri. Sudah menikah dengan wanita asli Jogya, yang biasa disapa Nency oleh anak-anakku. Sekarang mereka sekeluarga bermukim di Kota Gudeg, tepatnya didaerah Godean. Ada rencana hijrah ke Lampung. Terkait promosi ditempat kerjanya. Semoga jadi...

Raffa dan Mama, mirip.
Naura dan Papa, mirip.
Sejak menikah aku paling jarang bertemu dengannya, terakhir Oktober 2009 saat Naura, anak keduanya lahir kami sekeluarga berkunjung ke Jogya. Putra pertamanya sekarang sudah TK, Raffa namanya, mirip banget sama Mamanya. Sebenarnya saat Iedul Adha 2010 mereka sekeluarga sempat mudik ke Way Kanan, tapi karena aku sedang menunaikan tugas sebagai TKHI, jadilah hanya aku saja yang tak berjumpa mereka. Kebayang dong rinduku pada De' Fata sekeluarga, secara sudah 2 tahun lebih tak pernah bertemu raga. Kapan ya bisa kumpul...

***

Avig, Abqar dan Abrar.
Ketiga jagoannya Bicak Anggun.
Berikutnya, adik tengah yang wajahnya paling mirip denganku, kata orang lho ya... Meski kulitnya sedikit lebih mateng dan jago masaknya itu lho yang membuat kami jadi tak mirip. Maklumlah adikku ini alumni Akademi Gizi Palembang. Kami lama sekamar bersama saat dikost depan Rumah Sakit Moch. Hussein. Namanya Anggun  Berbara, dan memang sosoknya saatlah anggun. Sekarang tinggal di Way Kanan, hanya berjarak 1 Km dari rumah Papa-Mamaku. PNS di RSUD sebagai Kepala Instalasi Gizi disana. Bicak sapaan Yunda dan Akang.

Bicak dan si kembar.
Avig, Ibu dan Babanya.
Suaminya asli Jawa tapi lahir dan besar di Lampung, sekarang bertugas di Dinas Lingkungan Hidup, PEMDA Way Kanan. Baba panggilan anak-anakku. Sudah dikarunia 3 orang jagoan, yang nomor dua kembar. Penampakannya, si sulung, Avig, sangat mirip Mahkungnya (Kakek dari pihak Baba), sedangkan si Kembar satu mirip Mas Avignya dan yang satu cenderung mirip Hamasku. Jadilah sering dibilang Abqar adiknya Avig, dan memang secara kebetulan tak begitu mau kalau kugendong. Sedangkan Abrar disebut sebagai adiknya Hamas, kalau aku datang langsung minta gendong. Lucuuunya...

Aku lumayan sering bertemu dengan De' Anggun sekeluarga, saat mudik ke Blambangan, Way Kanan. Biasanya kalau kami datang, mereka sekeluarga ikut boyongan menginap di rumah Papaku. Menambah seru suasana. Keahliannya masak sering kami manfaatkan, biasanya aku bagian ngasuh bocah-bocah, dan urusan mengolah menu sepenuhnya Bicak yang membereskan. Tak heran kalau anak-anak kami juga sangat dekat. Bahkan Avig nyata-nyata mengidolakan Akang Hamasnya. Dari model rambut sampai baju favorite Avig berusaha mencontoh Akangnya.

 ***

Adikku selanjutnya adalah seorang yang disapa Ami Aang oleh anak-anakku. Punya nama asli Angkasa Pranata. Sekarang mahasiswa semester akhir juga di UII, semoga segera kelar.
Ami Aang, narsis apa axis?
Si Ami yang gaya dan unik...
Rame kicaunya, suka main bola, kulitnya gelap, tinggi dan ceking. Suka jahil dengan para keponakan. Anehnya malah sering ditanya oleh anak-anakku.  Kapan Ami Aang datang? Ami Aang lebaran dimana? Kapan Ami Aang wisuda? Kapan nikah? Pertanyaan terakhir atas provokasi Emaknya :D

***

Lalu mana foto barengnya? Nach itu dia, kalau diingat-ingat kapan ya kami terakhir foto bareng? Sudah sekian lama tak ada foto-foto keluarga yang lengkap. Acara GIVE AWAY dari Mbak Susi menyadarkanku, walau foto bersama memang bukan satu-satunya cara melukiskan sayang, tapi paling tidak bisa dijadikan kenangan untuk diceritakan pada dunia, ini asli ranahnya kelebayyy-an, silakan diabaikan saja...

Tulisan ini bukan untuk diikutkan diacara manapun, jujur terinspirasi dari 'Aku Sayang Saudaraku' dari Mbak Susindra. Dan juga bermaksud membuat catatan yang bisa kujadikan arsip untukku dan keluarga. Sekalian menyiapkan serpihan 'dokumen penting' untuk hajatan Pakde Cholik mendatang,  kalau tak salah tentang 'Membangun Silsilah Keluarga'.

 Ssssttt, satu lagi adik yang belum kuceritakan, si Bungsu.

Sengaja :D biar ada bahan postingan berikutnya...