Tampilkan postingan dengan label Martabak HAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Martabak HAR. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Januari 2013

Diversifikasi Pangan Sederhana

Bukan sebuah bahasan serius tentang diversifikasi pangan, hanya merekam apa yang pernah diajarkan Profesor Gambir. Bahwa sebenarnya konsep diversifikasi pangan bukan suatu hal baru dalam peristilahan kebijakan pembangunan pertanian di Indonesia karena konsep tersebut telah banyak dirumuskan dan diinterprestasikan oleh para pakar. 

Kasryno et al. (1993) memandang diversifikasi pangan sebagai upaya yang sangat erat kaitannya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan pertanian di bidang pangan dan perbaikan gizi masyarakat, yang mencakup aspek produksi, konsumsi, pemasaran, dan distribusi. 

Sementara Suhardjo (1998) menyebutkan bahwa pada dasarnya diversifikasi pangan mencakup tiga lingkup pengertian yang saling berkaitan, yaitu diversifikasi konsumsi pangan, diversifikasi ketersediaan pangan, dan diversifikasi produksi pangan. Kedua penulis tersebut menterjemahkan konsep diversifikasi dalam arti luas, tidak hanya aspek konsumsi pangan tetapi juga aspek produksi pangan. 

Pakpahan dan Suhartini (1989) menetapkan konsep diversifikasi hanya terbatas pangan pokok, sehingga diversifikasi konsumsi pangan diartikan sebagai pengurangan konsumsi beras yang dikompensasi oleh penambahan konsumsi bahan pangan non beras. 

Secara lebih tegas, Suhardjo dan Martianto (1992) menyatakan dimensi diversifikasi konsumsi pangan tidak hanya terbatas pada diversifikasi konsumsi makanan pokok, tetapi juga makanan pendamping. 

Dari beberapa pendapat tersebut terlihat telah terjadi kerancuan dalam mengartikan konsep diversifikasi pangan. Dan pada dimensi diversifikasi konsumsi pangan tidak hanya terbatas pada pangan pokok tetapi juga pangan jenis lainnya, karena konteks diversifikasi tersebut adalah untuk meningkatkan mutu gizi masyarakat secara kualitas dan kuantitas, sebagai usaha untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia.

Jadi ya sebenarnya divertivikasi pangan itu bukan hanya terkait makanan pokok saja. Bukan sebatas menggantikan beras dengan nonberas saja tapi lebih mengacu pada menu 3b yaitu beragam, bergizi dan berimbang. Yang mencakup hal pokok; tepat memilih, terampil mengolah dan pandai menyajikan.

Terkait masalah keragaman jenis makanan, dari pempek, lenggang, mie celor, martabak HAR, tekwan, model, celimpungan, burgo sampai laksan dan turunannya, patut di akui bahwa Sumatera Selatan sangat potensial untuk menyukseskan divertifikasi pangan. Tapi pada kenyataannya, anggapan bahwa tak kenyang kalau belum makan nasi ternyata juga masih dianut oleh sebagian masyakat Wong Kito, termasuk keluargaku tentu saja.

Lenggang Panggang, made in SUDI MAMPIR.
Sate alias Sambal Terong :D


Namun semakin mengetahui tentang aneka rupa pangan yang diunggulkan, seperti kripik gadung yang ternyata mengandung monosodium glutamat alami, tapai yang sebaiknya dimakan sebagai pengganti B1 yang banyak hilang dari beras yang kita makan karena tak  tepat cara pengolahannya. Tempoyak yang dua coleh bisa menyamai dua botol Yalult, petai yang banyak kelebihannya. Aku janji dimasa depan akan lebih bisa lagi menjadi orang terdepan dalam menyuksesekan divertifikasi pangan secara sederhana khususnya di singasanaku, dapur rumahku maksudnya, he he ...

Tak muluk-muluk mau membuat Neraca Bahan Makanan (NBM) untuk Palembang, karena ini memang suatu yang harus dikerjakan oleh tim yang beranggotakan para ahli, bahkan harus melibatkan BPS agar hasil sensus pendusuknya akurat, dan tentunya bukan aku anggota tim tersebut. Tidak sanggup juga kalau harus menunggu Pola Pangan Harapan (PPH) ideal, karena sekarang saja Negeriku masih terus berbenah untuk tak lagi menjadi pengimport beras. Tapi paling tidak baik aku atau kita bisa memulainya dari yang paling mungkin untuk dilakukan. 

Mulai dari yang paling mudah, paling sederhana dari rumah kita sendiri. Mulai sekarang juga setidaknya untuk membuat anak-anak hobby makan sayur asem, sayur lodeh, ikan panggang, pepes kerang tak melulu mau makan kalau ada ayam saja. Ayam lagi ayam lagi, capek dech kata seorang teman curhat tentang menu yang dipilih anaknya. Lebih naif lagi kalau hanya mau yang dari Ka eF Ce bersaudara itu. Bukan saja soal kantong yang bisa sakit, tapi itu kan jenis makanan yang sudah lama ditinggalkan oleh negara asalnya, nach sekarang kok malah kita yang kedemenan. Semoga ya kalaupun sesekali mau masak ayam, kita bisa nemu ayam kampung yang dipotong sendiri dari kandang kita, seperti zaman aku kecil dulu, mimpi apa ngayal Mak? Ngarep dong!

Minggu, 04 Maret 2012

Martabak HAR dan BBC

Martabak HAR yang khabarnya salah satu kuliner khas Palembang ini, ternyata asal namanya dari pemilik cikal bakal usaha ini, HAR singkatan dari Haji Abdul Rozak. Seorang tokoh pengusaha  muslim yang sucses asal India. Tapi memang sudah lama bermukim di Palembang. Beliau meninggal tahun 2001 *aku belum kenal dong sama Abinya Hamas, nggak ada yang nanya... Semasa hidupnya beliau salah satu klien tetapnya Ayah mertuaku. Dan dari 7 anaknya yang masih ada sekarang, hanya si Bungsu yang masih akrab dengan keluarga kami meski beliau tinggal di Jakarta, Kak Aman begitu kami biasa memanggilnya.

Balik ke martabak HAR, syukurnya sejak Almarhum Haji Abdul Rozak meninggal, usaha martabak HAR tak ikut gulung tikar, bahkan saat ini banyak warung yang memasang nama MARTABAK HAR juga, meski bukan termasuk jaringan asli keturunannya. Setahuku yang asli HAR di warungnya selalu memasang foto beliau. Sekedar melengkapi info, usaha Almarhum Haji Abdul Rozak ini banyak dan beragam, bukan hanya Martabak HAR saja. Hanya nama Sang Martabaklah yang memang paling fenomenal melekat langsung memakai singkatan namanya.

Foto Almarhumah Haji Abdul Rozak,
yang menandakan MARTABAK HAR asli.
Tapi apakah yang tak asli rasanya berbeda?  Aku kurang faham. Seingatku rasa martabak HAR relatif sama. Martabak berbahan dasar telur dan gandum ini makannya pakai kuah kare kambing yang ditambah irisan cabe dan cuka. Rasanya khas sekali. Berbeda sedikit dengan yang namanya MARTABAK MESIR. Dan jujur sejauh ini aku belum pernah membuatnya sendiri di rumah, padahal ada seorang teman yang punya resepnya :P kapan-kapan aku bakal belajar, hehe... 

Diseantero kota Palembang ada berapa cabang MARTABAK HAR asli atau yang tak asli. Tapi kalau ditanya ada berapa dan dimana saja, maaf, akupun belum pernah menghitungnya. Yang tak asli tapi namanya tetap MARTABAK HAR, ada satu di Simpang Pakjo arah rumah kami. Namun sayangnya kami sekeluarga justru belum pernah mampir kesana. Biasanya merk MARTABAK HAR yang tak asli justru lebih meriah, seperti tampak difoto asal sekali lewat dibawah ini, pake kamera hape ;)


Berbeda dengan merk MARTABAK HAR asli yang ada di Sudirman atau cabang lainnya, biasanya cenderung mirip, menurutku lebih terkesan sederhana. Kecuali yang ada di Simpang Sekip, mungkin pusatnya ya, jadi lebih WAH dan besar. Tapi sayang aku tak punya fotonya, jarang mampir kesana, sebab selalu ramai dan berada dikawasan yang padat, jadi kami malah merasa kurang cocok dengan MARTABAK HAR pusat.

Salah satu HAR di Jl. Sudirman.
Masalah merk gambang membedakannya, kalau penampakan MARTABAK HAR menurut hematku justru sulit dibedakan, cenderung sama rupa dan sama rasa. Seperti ini ;)

Uuuppppsss, maaf fotonya kurang okey...
Jadi kalau suatu saat 'sanjau' atau nyasar di Palembang, silakan mencicipi kuliner khas yang satu ini. Dijamin tak akan menyesal. Harganyapun standart saja, satu porsi sekitar Rp. 15.000,- Murah dan merakyat ya? Mau? Silakan mampir.

Hmmm, mumpung bisa nulis sekalian ya...
Cerita dikit tentang toko buku dulu dech :D

Suasana di BBC suatu hari.
Masih disekitaran kawasan Martabak HAR Sudirman, banyak toko buku murah di Palembang. Toko Buku Imam Bonjol bahkan persis disampingnya, terus geser jalan sedikit lagi ada Toko Buku Diponegoro, bukunya banyak, bermutu, okey :P dan murah-murah juga lho... Dan ada satu lagi toko buku favorite anak-anakku disana, namanya BBC, Bandung Book Centre. Kok bukan PBC saja ya, Palembang Book Centre? Entah ya mengapa, aku belum tahu sejarahnya, jadi belum bisa cerita tentang ini.