Rabu, 30 Mei 2012

Bangkit Indonesia, Tetaplah Bekerja!

Abah Jamal menolak pinangan Satria pada Srikandi, anak gadisnya. Alasannya Satria belum mempunyai pekerjaan tetap. Hanya punya warnet dengan 5 unit komputer, kata Abah itu usaha kecil, tak bisa jadi andalan untuk kelangsungan hidup dan membahagiakan anak cucunya kelak. Abah yang pensiunan Guru berhasrat sekali ingin punya menantu yang juga PNS. Karena menurutnya, PNS itu walau gajinya tak besar, tapi jelas tiap bulannya, nanti kalau pensiun juga tetap dapat secara rutin. Oochh merana sungguh hati Srikandi, menanggung lara berkepanjangan karena niat suci menggenapkan 1/2 agama bersama Satria gagal lantaran pandangan kolot Abahnya.

Lain lagi cerita Pak Hartawan, demi masuknya sang anak menjadi PNS ia rela membayar uang muka sebesar 150 juta. Uang tak ada artinya buat keluarga tersebut, lebih dari itupun mereka mampu. Sementara PNS adalah sebuah status yang mereka kejar, selain prestise juga untuk masa depan yang terjamin kesejahteraannya. Menurut siapakah? Acch entahlah... padahal anak Pak Hartawan yang Sarjana Pertanian itu sudah semangat mau membuka kebun dan mengumpulkan beberapa orang rekannya untuk membentuk "Kelompok Tani, Suka Makmur", mereka bahkan sudah mempelajari syarat dan ketentuan untuk memperoleh bantuan bibit Karet dan Kelapa Sawit dari Menteri Pertanian.

***

Dua lakon yang banyak terjadi disekitarku, betapa status PNS masih sangat dielu-elukan. Padahal kalau mau jujur, tak ada PNS yang bisa cepat kaya. Kecuali bila mengikuti jejak tercoreng lagak Gayus yang terkenal itu. Kalau mau kaya raya silakan jadi pengusaha. Tak masalah memulainya dengan usaha rumahan. Jual karya semacam handmade misalnya. Sebagai rintisan untuk mendapatkan peluang usaha yang lebih besar. Tapi memang semuanya butuh proses, punya mental usahawan tak bisa instans langsung tertanam.

Aku contohnya, terlahir dari orangtua yang belum berjiwa usahawan, Ayah seorang pegawai pemerintah, lulusan Sarjana Muda pada masanya. Ibuku pernah jadi guru di SMP tapi sejak menikah lebih memilih berkarir menjadi Ratu Rumah Tangga tulen. Kami 5 bersaudara sejak Sekolah selalu ditanamkan semangat untuk bisa dapat beasiswa, hidup sehemat mungkin dari uang saku yang diberikan Ayah. Tampa ada motivasi untuk punya usaha sampingan. Sekolah tugasnya belajar, sebanyaknya membaca buku. Bukan karena Ayahku kaya, tapi karena beliau berprinsip bahwa biaya Sekolah dan menghidupi keluarga mutlak ada ditangannya.

Aku bangga pada orangtuaku, akupun bahagia terlahir dalam keluarga yang begitu mengutamakan pendidikan, meski secara harta benda kami nyaris tak punya apa-apa. Tapi aku tak pernah rendah diri di Sekolah. Dan kalau ditanya apakah aku punya sejarah berwirausaha saat Sekolah. Jawabnya tidak pernah, bahkan belum terfikirkan olehku saat itu. Maka kini, aku iri saat mendengar banyaknya mahasiswa yang punya usaha saat kuliah, dengan berjualan pulsa misalnya. Dulu, aku mandek, mau buka usaha modal darimana? Mentok tak ada ide kreatif. Mungkin terimbas dari lingkungan masa kecilku, mungkin lho ya, mengambil hikmah bukan menyesali keadaan.

Maka betapa menggebuku setelah tamat kuliah, pokoknya aku mau buka usaha. Bukankah aku bisa mengumpulkan modal? Tapi ternyata suaraku masih kurang lantang, tekadku menyenangkan orangtua ternyata lebih unggul. Akhirnya aku menyerah juga saat diminta Ayah untuk ikut test PNS. Lulus murni, tampa bayar sepeserpun. Aku jadi ingat kata seorang tokoh pergerakan modern, jadi Pegawai Pemerintah itu tak usah terlalu dikejar, jangan memaksakan diri,  tapi kalau sudah masuk jadi PNS, lakukan yang terbaik. Itu memang yang kulakukan, menjadi Abdi Negara semampuku. Memberikan yang terbaik yang aku bisa. Dan selanjutnya akupun bertekad bisa sambil membuka usaha rumahan yang maju kelak *mohon do'anya...

Adapun pada anak-anakku, kini aku semangat sekali menanamkan mental wirausaha pada mereka. Sekolah sambil jualan hasil karya, atau bisa juga menjual alat-alat tulis yang dibeli kodian kemudian dijual dengan harga eceran jadi bisa dapat untung walaupun sedikit. Aku percaya ini akan berguna buat mereka dimasa depan. Bukan masalah besar kecilnya keuntungan, tapi keberkahannya. Dan menanamkan jiwa usahawan sejak dini itu yang terpenting menurutku. Sebagaimana Rasulullah Sang Teladan yang terlatih berniaga sejak masih kecil sehingga mampu menjadi pengusaha handal namun tetap bersahaja. Aku ingin anak-anakku mencontohnya, tak mesti masuk Sekolah Enterpreneur yang mulai menjamur saat ini.

Hamas belajar berdagang.
Tak butuh bakat turunan, yang penting mau dan terus berlatih^^
Karya yang dijual Hamas dan Yunda di Sekolah,
dengan kisaran harga Rp. 1.000,- sampai Rp. 3.000,- 
Sementara yang ini dijual dengan harga Rp. 5.000,-
Ada yang menawar sampai Rp. 4.000,-, pernah kutulis di Berkreasi dan Berdagang
***

Kemarin aku bertemu dengan seorang seniorku, yang juga seorang istri anggota dewan, beliau bercerita anak bujangnya sekarang jadi Office Boy, tugasnya disebuah perusahaan. Sembari buka usaha toko buku. Oaallaa, anak anggota dewan punya peluang besar untuk bisa jadi PNS, batinku. Tapi aku yakin itu tak akan dilakukan keluarga itu. Mereka yang aku kenal sangat lekat memegang prinsip kehalalan. Mereka yang selalu memisahkan antara yang halal dan haram, tak akan mau masuk golongan suap-meyuap termasuk dalam hal mencari pekerjaan. Terkait tanggungjawabnya yang teramat besar, sampai akhirat. Dan mereka tahu benar itu. Yang penting semangat untuk tetap bekerja, bukan punya pekerjaan tetap ala orang banyak yang identik dengan PNS.

Teringat juga obrolanku dengan suami beberapa waktu lalu. Kata suamiku, syukurlah dulu orangtuaku tak mensyarat menantunya harus PNS. Kalau tidak lewatlah dirinya yang berprofesi pengangguran banyak acara. Tetap bekerja itu yang penting, bukan pekerjaan tetap yang kerja tak kerja dapat gaji diawal bulan. Makin parah kalau masuknyapun pakai sistem siluman. Oh No !!! Semoga dimasa depan ini tak ada lagi, agar Sejahtera Negeriku. Mari semua, singsingkan lengan baju, terus berkarya dan tetaplah bekerja untuk bangkit Indonesia yang kita cintai bersama.

         Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bangkit di BlogCamp

Indonesia Bangkit

17 komentar:

Lozz Akbar mengatakan...

Ckckckck piye bapake Srikandi ya.. Pengusaha warnet aja ditolak apalagi penjaga warnet hehehe.

Yupz dalam sebuah profesi ada sebuah keberkahan. Dan semua tergantung kita ya Yunda, Halal atau tidaknya setiap rejeki yang kita terima

Sukses kontesnya Yunda :)

Ririe Khayan mengatakan...

Saya juga mASih dan selalu terheran-heran..kenapa org bgitu berebut jd PNS sampai mengeluarkan uang ratusan juta? Lha org kerja kan salah satunya utk cari uang? Knp malah membayar? Jd saya sepakat dengan " jadi Pegawai Pemerintah itu tak usah terlalu dikejar, jangan memaksakan diri...." setiap org bisa teguh dengan pendirian spt ini, maka 'model membayar' utk jd PNS akan cepat terkikis.

Ironisnya saat ini justru malah ngantri pakai 'waiting list' gitu..

Great article Mbak, semoga menginspirasi orang utk BANGKIT bekerja dengan cara2 yg sportif..

Sukses ya Mbak:)

Ajeng Sari Rahayu mengatakan...

Amin, sebenarnya ada timbal baliknya sih mbak kalau menurut saya. kalau masuknya dengan cara yang siluman tadi otomatis gajinya juga nggak halal-nggak awet artinya. Nggak tentrem juga, hhe. zaman sekarang kalau mau yang instan sih emang banyak-tapi balik lagi ke kitanya...kita mau yang halal kah yang enggak :)

Insan Robbani mengatakan...

karena Manusia menginginkan sesuatu yang Save, jarang mau berpetualang dlm hidupnya, sedangkan berwira usaha apalagi sbg pengusaha harus berani gambling, berani petualang dan punya perhitungan matang hari demi hari.

Haya Nufus mengatakan...

Di kampungku juga begitu mbak padahal kalau dihitung2 pns itu harus ngirit terus ya? kalau punya usaha malah pegang uang terus meski banyak hutang tapi banyak untung juga.

Mau juga ah menanamkan semangat enterpreneur sama anak2 :D

Ide tulisan yang menarik mbak ^^d

genial mengatakan...

oooow nooo sistem silumaaan?!?!? :(

Mami Zidane mengatakan...

banyak orang2 yang masih menganggap bahwa pekerjaan yang paling menjanjikan adalah jadi PNS, padahal sebenarnya menjadi wirausahawan juga prospeknya menjanjikan juga ya mbak

Andy mengatakan...

Tulisan ini mengiangatkan aku dulu pas baru awal ngeblog mba,soalnya pernah bikin tulisan tentang PNS tapi di kritik habis2 sama oknum PNS yang kurang suka :)
Kerjalah sesuai Passion,bukan kerja cari aman

Shohibul Kontes Indonesia Bangkit mengatakan...

Saya telah membaca dengan seksama artikel diatas.
Akan segera saya daftar
Terima kasih atas partisipasi sahabat
Salam hangat dari Surabaya

Evi mengatakan...

Mbak Keke hebat. Sangat setuju menanamkan jiwa kewiraanswastaan kepada anak2 sejak kecil. Dengan begitu mindset mereka terbentuk untuk produksi. Aku doakan semoga doa untuk para ananda terkabul Mbak. Mereka tak mencari kerja tapi menciptkan lapangan kerja :)

Mugniar mengatakan...

Sesuai sama judul blognya mbak: "Indah pada masanya" :D

Mugniar mengatakan...

Sesuai sama judul blognya mbak: "Indah pada masanya" :D

An Maharani Bluepen mengatakan...

Subhanallah...super kreatif dan mandiri, ya, Bund

kakaakin mengatakan...

Orang banyak yang pengen jadi PNS, padahal bekerja di sektor swasta atau berwiraswasta jauh lebih 'menghasilkan' :D
Sukses ngontesnya ya, Mbak.
Ohiya, saya gak lolos TKHI tahun ini :)

dey mengatakan...

Hamas udah bisa berdagang ya .. hebat uy ..
Fauzan juga saya ajarin gitu Mbak, tapi rugi terus, karena hasil kreasi yg di tawarin malah di kasiin karena dibilang jelek, Trus ada yg ngutang tapi gak bayar. Malah ada yg disobek sama temennya ...
Sementara kalau ada temennya yg jual barang yg sama, malah dibeli ama dia .. hadeuh ..

Si Belo mengatakan...

tentang PNS jadi inget sinetron Anak Kaki Gunung, yang dimana pak Taufik kagak mau jadi PNS dengan hasil nyuap.. :)

Wuiih.. Hamas pinter euy bikin pra karya, ajarin dong buun... ^^

Nurmayanti Zain mengatakan...

MasyaAllah, hamas keren sekali ^^
hehehe saya nggak bisa dagang mbak (-_-)/ aihh, tipsnya dong mbak hehe