Kamis, 24 Mei 2012

Diam yang Menjawab

Sungguh berat cobaan seorang Maryam. Dinadzarkan kepada Tuhan sejak dalam kandungan. Melewati hari-hari dengan menjaga kesucian diri dan tekun beribadah pada Robbnya. Tiba-tiba harus mengandung anak tanpa disentuh laki-laki. Tak ada yang bisa dilakukan kecuali dia harus pergi menjauh. Dan dalam kesendirian saat sakit melilit hendak melahirkan, sebagai manusia biasa Maryam tidak tahan untuk mengadukan “deritanya”, dengan berandai dia tidak pernah hadir ke muka bumi dan menjadi sesuatu yang tidak dikenal dan dilupakan orang.


"Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, Dia berkata: "Aduhai, Alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan". QS Maryam 22-23

Sang Maha Tahupun mengutus Jibril untuk menghibur Maryam dan memberikan solusi terhadap “masalah” yang dihadapi dengan cara “berhenti bicara” alias DIAM ketika nanti menghadapi pertanyaan dan tuduhan dari sekitarnya.

The show must go on. Maryam harus kembali kepada kaumnya dengan membawa anak yang telah dilahirkannya tanpa ayah. Maka sesuai dengan petunjuk Sang Maha Segala, Maryam hanya “diam” menghadapi pertanyaan dan hujatan. Satu-satunya bentuk jawaban yang dia lakukan adalah  memberikan isyarat dengan menunjuk pada anaknya untuk “berbicara” tentang misteri kelahiran dirinya. Dan atas izin-Nya, bayi merah itu pun kemudian menjelaskan sendiri tentang siapa dirinya.

Kisah Maryam tidak berulang dan tak akan pernah berulang, kecuali jika Allah menghendakinya berulang. Akan tetapi pelajarannya selalu bisa dipetik sepanjang masa. Salah satunya, kisah Maryam mengajarkan kepada kita cara yang efektif dan efisien dalam mengkomunikasikan satu kebenaran yang sulit dijelaskan lewat kata-kata.

Kelahiran bayinya tanpa sentuhan laki-laki, adalah kebenaran Ilahi yang harus dikomunikasikan Maryam. Tuduhan logis dan sulit dibantah adalah Maryam telah berzina. Maryam tidak perlu berteriak “tidak”, atau sibuk membantah tuduhan itu, tapi Maryam menjawab dengan “diam” dan membiarkan faktanya saja (bayinya) yang “berbicara”.

Di negeri yang  “langit akhlaqnya rubuh berserak-serak dan hukumnya tak tegak doyong berderak-derak” seperti ungkapan Taufik Ismail dalam puisinya, para “generasi gemilang” harus berani tampil ke depan untuk mengumpulkan dan menegakkannya kejayaan kembali. Tampil menjadi “gemintang” yang menegakkan kebaikan tanpa takut celaan orang-orang yang suka mencela.

Maka para “generasi gemintang” dimanapun berada, harus segera “mengandung dan melahirkan bayi-bayi kebaikan” sebanyak mungkin dan menghadirkannya  di tengah-tengah masyarakat negeri ini. Bisa jadi lewat karya-karya bernas kita sebagai seorang blogger. Tampa kata, tak perlu berteriak. Mungkin masyarat tak akan merespon atau malah mereka akan mencibir, heran dan menuduh kita dengan berbagai tuduhan miring bahkan fitnah. Tapi jangan hiraukan semua itu, cukup kita jawab dengan “diam” seperti Maryam dan biarkan “bayi-bayi kebaikan” itu yang nanti akan berbicara dengan sendirinya.

Persembahan spesial buat Vania, 
Hasil editan penuh cinta dari ‘serial nasehat’ dengan judul asli Belajar “DIAM” dari “Maryam”
Selamat hari lahir ya sayang, semoga barokah umurmu Nak...
Salam sayang dari Yunda dan Akang Hamas ^^

Maaf kemarin tak bisa ikutan Our Pensieves1st Giveaway

15 komentar:

Mugniar mengatakan...

Betul juga mbak. "Diam" malah bisa terkesan elegan dibanding merepet ...

Ita mengatakan...

Bagus mbaaakkk..

WaroengBlogger mengatakan...

Mengaminkan supaya banyak kebaikan tersebar dan mengaminkan agar bunda sukses GAnya :)
salam

epay mengatakan...

subhanallah makasih ya bunda, inspiring

dhenok habibie mengatakan...

"Berbicaralah yang baik atau diam"

hmm, kurang lebih seperti itu juga yaa yundo.. dhe juga sering diam kok, dhe kan pendiam.. hehe #abaikan :D

meskipun seperti biasa panjang, tapi bahasanya jauh lebih santai dan mengalir.. nyaman dan ngena baca postingan ini.. +9 deh pokoknya untuk diam kali ini.. :)

Sarah mengatakan...

judulnya mantab cing !!! :D

Lyliana Thia mengatakan...

Diam sejujurnya bukan aib ya mbak... Duh mbak Keke... Terima kasih sangat utk tulisannya... Vania save yaaa... ;-)

Bundanya Vania jg lg belajar "diam" demi menjaga lisan... Tp tnyata gak mudah.... Hiks...

Lyliana Thia mengatakan...

Diam sejujurnya bukan aib ya mbak... Duh mbak Keke... Terima kasih sangat utk tulisannya... Vania save yaaa... ;-)

Bundanya Vania jg lg belajar "diam" demi menjaga lisan... Tp tnyata gak mudah.... Hiks...

Lyliana Thia mengatakan...

Diam sejujurnya bukan aib ya mbak... Duh mbak Keke... Terima kasih sangat utk tulisannya... Vania save yaaa... ;-)

Bundanya Vania jg lg belajar "diam" demi menjaga lisan... Tp tnyata gak mudah.... Hiks...

Abi Sabila mengatakan...

Sungguh, postingan yang mengingatkan saya untuk kembali menata lisan dan juga tulisan, yang terkadang begitu lancang tak terkendalikan.

Sayang sekali ini terlambat diikutkan giveaway. Tapi tak masalah, selalu ada hikmah yang bisa dibagi.

Salam hangat untuk keluarga tercinta.

Nchie Hanie mengatakan...

lebih baik diam ya Mba..
aku juga lebih suka begitu..

prih mengatakan...

Mbak Keke, ikut menyimak rahasia Maryam, dengan 'diam' dan saatnya 'bayi kebaikan' bersuara, indah dan manjur sekali keteladanannya. TFS ya, salam

Bintang mengatakan...

Kalimat-kalimatnya keren, Yundaaa...saya sampe nggak bisa komen saking bagusnya...
:)

Pakde Cholik mengatakan...

Apik tenan aretikel ini.
Pesan dan maknanya sungguh bagus.
Semoga berjaya dalam GA
Kok belum ikut Indonesia Bangkit jeng ??
Salam hangat dari Surabaya

obat panas lambung mengatakan...

semoga menjadi informasi yang bermanfaat
salam kenal

NANGKRING.
obat tradisional lambung.
OBAT SAKIT GIGI ANAK .