Rabu, 07 Maret 2012

Nonton Negeri 5 Menara

Novel karya A.Fuadi yang berjudul Negeri 5 Menara akhirnya difilmkan. Sebuah karya anak bangsa yang layak dihargai. Bukan soal ketika greget film tak bisa menandingi sensasi saat kita melalap novelnya, sudah barang tentu berbeda dunia kata dengan dunia akting bukan?

Aku sebetulnya tak suka nonton, apalagi dibioskop, suatu kegiatan langka buatku. Tapi aku tak anti nonton bioskop juga sebenarnya, lihat situasi ;) Pertama nonton di bioskop saat film Laskar Pelangi. Nonton bareng dengan keluarga besar suami. Berikutnya nonton lagi, Emak Ingin Naik Haji, kali ini hanya kami sekeluarga ditraktir Ayah (Yainya Hamas) hampir bertepatan dengan berakhir masa edar filmnya. Setelahnya ada ajakan di Rumah tampa Jendela, tapi sayang kami tak bisa. Saat libur sekolah lalu (lagi-lagi) Yai bayari kami nonton Hafalan Sholat Delisa. Saat itu Yai sudah mengingatkan bakal ada jadwal nonton bareng di awal maret nanti, film Negeri 5 Menara.

Dan kamipun akhirnya sukses menonton N5M tepat pada hari ketiga (3/3). Bangga dong :D karena sejak baca ulasan Isa Alamsyah bahwa sebaiknya kita ikut mendukung bangkitnya film Indonesia yang berkualitas serupa N5M ini. Begini katanya:
Kita bisa mendukung film keluarga ini dengan menyempatkan untuk menonton di hari pertama. Kalau tidak bisa di hari pertama, sempatkan tonton di tiga hari pertama. Kenapa? Karena tiga hari pertama adalah masa evaluasi pihak bioskop. Kalau hasilnya tidak memuaskan, sekalipun film bagus berkualitas dan kaya pesan, akan segera diturunkan dari layar. Kalau belum sempat tontonlah di minggu pertama. Kalau tidak sempat, semoga saja film ini bertahan sampai minggu kedua, dst.
Tapi tanpa dukungan di minggu pertama, minggu kedua akan diturunkan. Sayang kan? Tentu saja Anda tidak mau membiarkan produser film-film inspiratif kapok bukan? Demi masa depan anak-anak kita. Jika ingin berperan lebih besar. Jangan nonton sendirian. Ajak keluarga, sanak saudara, dan teman sekolah atau teman kerja untuk menonton. 
Setelah menonton jangan hanya diam, saatnya kita berhenti menjadi silent majority. Jika Anda setuju film ini baik, segera tulis status di facebook atau twitter setelah menonton, rekomendasikan ke teman teman untuk menonton. Kalau kita aktif mendukung film bagus, Insya Allah banyak produser yang lebih memilih film inspiring ketimbang film horor atau film kotor.

Ya kalau dulu aku biasanya mau nonton hanya dari CD saja, sekarang aku maulah ikut nonton ke bioskop, tentunya bareng keluarga, apalagi ada Yai yang bayari :D Kalau balik kebelakang, Yai memang sosok yang hobby banget nonton bioskop. Dulu masa mudanya suka berdua Nyai nonton fim India di Bioskop Garuda, malam mingguan khas pengantin baru. Konon kisahnya, beliau terinspirasi jadi pengacara karena seringnya nonton film Bollywood itu, hehe... Lumayan ada perolehan, jadi catatan sejarah, malah sekarang keranjingan ngajakin para cucunya nonton bioskop ;) syukurnya bukan film sembarangan. 

Jadi selain karena ada yang bayari, aku nonton juga dalam rangka mengambil peran guna mendukung bangkitnya film Indonesia berkualitas, semoga ini bisa dikategorikan sebagai bentuk kepedulianku selaku anak negeri yang cinta produk Indonesia, cieee...

Sekarang coba perhatikan data statistik film Indonesia saat ini.


Yang ada diposisi 10 besar  Film Indonesia sampai Maret tahun 2012 adalah:
#Judul
Penonton
1Rumah Bekas Kuburan
246.124
2Pulau Hantu 3
237.007
3Negeri 5 Menara
175.507
4Malaikat Tanpa Sayap
150.678
5Bila
113.164
6Kafan Sundel Bolong
102.171
7My Last Love
86.409
8Seandainya
72.070
9Rumah Hantu Pasar Malam
63.591
10Ummi Aminah
50.941




Perhatikan baik-baik data di atas ya :D Ternyata film bertema hantu (tak jelas /horor dan mungkin kotor) tahun ini di 3 bulan pertama memenangi pertarungan. Bayangkan kalau film jenis itu menjadi tuan rumah di negeri kita dimasa depan, nasib bangsa makin memprihatinkan. Akan makin banyak orang yang percaya klenik bukan? Ya betul , adalah fakta bahwa film bisa mempengaruhi perilaku penontonnya, dan tugas kita secara individu minimal mendukung film yang baik, film yang punya misi dan visi apalagi kalau kualitasnya juga bagus.

Masih belum terlambat!
Pertempuran antara film bervisi dan inspiratif dengan film horor belum berakhir.
Kita sebagai orang yang peduli dengan kualitas budaya bangsa, masih bisa memenangkan film bervisi dan inspiratif itu. Kita harus menang, kita bisa ;) *ini juga masih penggalan tulisannya Bang Isa, suaminya Mbak Asma Nadia itu lhoo...

Ajakanku, mari nonton Negeri 5 Menara, aku tak akan bercerita tentang isi filmnya, boleh juga baca versinya Uda Vizon di negeri 5 menara, the movie atau tulisannya Nique pada Nonton Film “Lima Menara” Tapi beneran bagus kok :D Bahkan Ustadz Yusuf Mansyurpun mengaku merinding sepanjang menonton film N5M ini, dan Indra Bekti puas usai menontonnya, baca disini dan disana.

Kesimpulanku untuk film Negeri 5 Menara, pesannya sampai, bahwa pesantren itu bukan tempat sekolah mereka yang 'tak mampu', bukan pula sekolah tempat belajar agama saja, pesantern justru tempat memcetak pribadi-pribadi unggulan. Terlalu subjektif ya? Ini sich biar ringkas saja, lengkapnya silakan saksikan langsung di bioskop, mumpung masih tayang di kotamu. Buruan yaaa...

Selasa, 06 Maret 2012

Blogger Semusim Bukan Pilihanku

Bukan blogger semusim, itu tema kontes Pakde hari ini. Pasti Pakde punya alasan memilihnya. Mungkin sepengamatan beliau sudah banyak yang terkategori blogger semusim ini. Aku jangan dimasukkan ya Pakde :D Akukan blogger sejati, gaya sok kepedean... Biarin wong ini mengamalkan ilmunya Pakde kok, lebih baik pede dari pada minder. 

Blogger semusim vs blogger sejati. Setidaknya ini yang ada dibenakku, dilarang protes. Mau pilih kubu yang mana? Aku sebenarnya nyadar ya kalau masih jauh dari kategori blogger sejati, yang sudah punya blog berdomain dan sudah bisa menghasilkan cring-cring. Blogku masih yang gratisan, menghasilkan uang juga belum. Untuk buat posting tiap hari saja belum berhasil. Tapi jujur aku sudah banyak menuai manfaat dari blog tercinta ini. Kenal dengan seleb blog sekeliber Pakde adalah salah satunya. Berbagi ilmu dan dapat rupa-rupa hadiah dari kontes para sahabat adalah karunia. Sungguh menyenangkan. Maka dari itu meski sebagai blogger sejati aku belum bisa, akupun mengaku bukan blogger semusim. 

Blogger semusim menurut hematku adalah blogger yang belum menemukan kebahagiaan dari aktivitas ngeblog ini. Padahal kalaulah mereka tahu rahasia bahagia dengan ngeblog, aku yakin mereka akan menyempat-nyempatkan waktunya untuk ngeblog. Andai karena satu atau banyak hal mereka terhalang untuk ngeblog, aku yakin mereka akan sedih dan merasa seolah ada yang kurang dalam dirinya. Adapun aku, sejujurnya aku sudah menemukan kebahagian dengan aktivitas ngeblog ini, maka aku katakan dengan lantang aku tak mau jadi blogger musiman. Aku bukan blogger semusim, kali ini tak hanya sebatas pengakuan. Tapi pilihan.

Duhai sobats blogger semua :D bila dirimu masih ragu untuk memilih menjadi blogger sepanjang musim, maka cobalah kendalikan musim itu. Saat musim hujan, biasanya kita banyak di rumah jadi rajin-rajinlah ngeblog. Kalau sedang kemarau malas jalan keluar rumah, ngeblog kembali jadi pilihan yang menyenangkan. Dan ternyata saat musim berganti, kita sudah terlanjur bahagia dalam ngeblog, dengan sendirinya bukan blogger semusim jadi pilihan sadar kita. Pilihan sadar untuk terus ngeblog.

Cobalah dengan mengendalikan musim untuk tetap seimbang, jangan dikendalikan musim adalah salah satu kiat sukses untuk tidak menjadi blogger semusim. Ini yang sudah aku rasakan. Bagaimana langkahnya? Seperti yang sudah pernah aku kemukakan, ngebloglah dengan bahagia, jangan jadikan beban. Seimbangkan diri dan bijak dalam banyak hal. Jangan hanya ikut-ikutan atau terpengaruh musim. Artinya berusahalah tak memaksakan diri menulis bila raga kita memang sedang butuh istirahat. Bila masih mungkin untuk membaca maka silakan membaca tulisan sahabat, bertebaran hikmah disana.  Dengan hanya membaca saja, kita seringkali mendapat ide dan motivasi untuk menulis lagi dan lagi. Berkah dari BW sama dengan bersilaturahim kan ya? Semoga sama :D bila ada keikhlasan disana.

Selanjutnya yang bisa kita lakukan adalah dengan menaklukkan musim, jangan ditaklukkan musim.  Contoh mudah adalah bila sedang musim kontes silakan kita nikmati untuk ikut kontes, tak perlu minder. Dan jangan hanya mengejar menang, kalau kalah jadi kecewa. Niatkan saja untuk latihan menulis, kalau menang ya bersyukur. Rizky namanya. Dan bila sedang tak ada kontes ya kita usahakan terus menulis, membaca dan menyapa sahabat ke blognya masing-masing. Atau bisa jadi kita yang mengadakan kontes, sekalian buat pengalaman jadi penyelenggara kontes. Pasti beda rasanya saat jadi peserta. Tapi bila semuanya sedang tak memungkinkan ya minimal kita tetap punya niatan untuk terus ngeblog. Tapi ingat sebatas niat saja tak bisa membuktikan bahwa kita bukan blogger semusim. 

Bukan blogger semusim adalah pilihan sadarku, akan kuwujudkan dengan aksi nyata, tak hanya sebatas niat saja. Bila nanti aku lupa, sapa dan ingatkanlah aku ya :D karena aku bukan blogger semusim berkat dukunganmu juga. 

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Tiga Kata Bukan Blogger Semusim di BlogCamp. 

Senin, 05 Maret 2012

Olahan Kripik Semangka

Pernah makan kripik semangka? Belum. Sama :(
Pernah lihat? Belum juga. Sama lagi dong...
Kalau mengolahnya sendiri, bisa? Aku mungkin bisa :D  
*akan kucoba, walau rasanya jelas akan membingungkan...


Membayangkannya saja bingung, apalagi mengolahnya, aku nyerah dech, angkat tangan tinggi-tinggi. Dan inilah yang aku alami saat diminta membuat tulisan untuk GIVE AWAY KRITIKMU SEMANGATKU. Bukan saja bingung tapi sejujurnya aku tak biasa. Tak biasa mengkritik hasil karya yang aku sendiri belum bisa membuatnya. Ya, dunia fiksi apalagi FF sungguh suatu hal yang tak akrab denganku. Tapi demi cintaku pada seorang sahabat maya yang mengganggapku 'aneh' karena tak biasa belanja sendiri, sampai rela mengirimiku hadiah, maka akan kucoba mengolah kripik semangka yang rasanya tak jelas, pedas apa kecut, manis  atau gurih. Tunggu saja ya, rasakan olahannya nanti. Umumnya rasa semangka itu manis, sedangkan rasa kripik itu biasanya gurih, betul? *heellleeeh, ini prolognya melebihi panjang kisah FF dech, sudah kubilang aku bukan ahlinya, jadi nikmati saja ya Niq, maksa :)

FF yang berjumlah 19 judul itu, 4 diantaranya sudah pernah kubaca sesaat setelah terbitnya dulu. Yang pertama Halo, Siapa Namamu dan Dag Dig Dug, ya saat itu aku memang sedang banyak waktu buat ngeblog. Sayangnya saat itu aku tak ikut berkomentar. Setelah itu beberapa hari aku kehilangan jejak FF ini, baca lagi pas di Ini Bukan Judul Terakhir, ada senyum harapan saat usai membacanya, spontan saja, semoga kitapun terus menulis walau tulisan kita sering ditolak atau kalah dalam lomba-lomba yang kita ikuti *haaaahhh, inilah aku, suka sulit membedakan fiksi beneran atau fiksi dari kisah nyata... 


Selanjutnya aku baca Soto Koya, berawal karena tertarik dengan judulnya. Promosi makanan kah?  Teryata masih FF, aku suka karena berkisah tentang Ibu dan anak laki-lakinya. *Ahaaahaaa, seketika aku membayangkan hubungan yang lekat antara suamiku dengan Ibunya, yang dulu sering membuatku cemburu buta, memalukan... 


Dan hari ini aku membaca ke-15 judul FF karya Niq dengan seksama, cie... Luar biasa, sensasinya bikin keki, kok bisa ya, berimajinasi seliar itu. Kelayapan kemana-mana. Nuansa perselingkuhan pada Ada Dia Di Matamu, mampu membuatku membatin, sedemikinan 'biasa' kah selingkuh itu? Ooocchhh, semoga segera kembali ke jalan yang benar. Stop ini FF. Tapi yang pasti, Niq kurang tepat menuliskan judul, harusnya  Ada Dia di Matamu, di- pake huruf kecil ya...


Dalam Hujan aku temukan Niq saat ABG dulu, salah pastinya, inikan FF. Tapi disini aku menemukan tulisan yang 'biasa', sepasang ABG yang jatuh cinta berlatar hujan. Uuuuhh, sudah sering baca yang serupa ini... Tapi gaya Niq yang lincah masih bisa kunikmati dalam alur kisahnya. Walau jujur secara keseluruhan aku kurang bisa masuk, tak sepenuhnya bisa kumengerti 'siapa' tokohnya. Apa karena FF ya, jadi terbatas, seperti tak tuntas.


Senyum Untukmu Yang Lucu, menurutku ini sangat special. Aku bahkan tak menyangka akan isinya. Judul yang diberikan tak berhasil memasung Niq seperti layaknya aku dalam alam fikiranku saat menbaca sepenggal judul tersebut. Setulusnya aku pujikan , Niq sungguh berbakat difiksi sejak menuntaskan yang satu ini.


Yang sangat kurang 'menyentuh' menurutku adalah  Es Krim. Sulit aku menikmati FF yang satu ini, kaku dan terkesan dipaksakan *maaf gaya sok tahunya keluar juga... Padahal aku kalau disuruh buat juga bingung mau cerita apa. Niq tetap juaranya, karena bisa buat FF yang sedemikian memikat.


Puncak dari hasil olahan kripik semangkaku, sampailah aku pada benang merah yang secara naluri perempuan, aku coba hubungkan dalam SAHJadi Milikku, Mau? Sepucuk Surat (bukan) Dariku dan  Aku Maunya Kamu. Titik ! dilengkapi dengan  Ada Dia Di MatamuTentang konflik dalam rumah tangga yang banyak belakangan ini. Seperti berangkat dari realita. Tema yang klasik, tapi berhasil dikemas dengan apik. Bila kelak Niq berminat melanjutkan untuk mengarang cerpen atau bahkan novel fiksi, aku sarankan untuk bisa fokus disini. Sepertinya sudah sangat menjiwai, sangat lekat. Sampai seolah 'aku' adalah Niq... Walaupun untuk yang SAH terlalu lebay diakhirnya, tulisan ini jadi terasa 'rusak' diujung. Mungkin karena FF ya, jadi musti buru-buru klimaks. Kalau nanti dibuat lebih panjang, dibuat bahagia aja ya Niq, serasa memesan naskah *kapan lagi :D mumpung tulisanku dibaca oleh yang punya hajat, heuheuuu...


Demikianlah kripik semangka yang coba kuolah, tersaji diatas nampan pualam. 
Beginilah kritikku menyemangatimu, dibungkus saran dariku yang tak berpengalaman.


Maaf bila tak berkenan. Diatas semuanya, menurutku, dikau sangatlah berbakat. Semoga dimasa depan semakin terasah bakatmu, katanya bukan karena 'tajam' seseorang bisa sukses jadi penulis, tapi yang paling bersungguh-sungguhlah justru bisa berhasil *maklum masih terbawa suasana nonton N5M... Dikau pasti BISA, ditunggu karya-karya selanjutnya ya... 





Minggu, 04 Maret 2012

Martabak HAR dan BBC

Martabak HAR yang khabarnya salah satu kuliner khas Palembang ini, ternyata asal namanya dari pemilik cikal bakal usaha ini, HAR singkatan dari Haji Abdul Rozak. Seorang tokoh pengusaha  muslim yang sucses asal India. Tapi memang sudah lama bermukim di Palembang. Beliau meninggal tahun 2001 *aku belum kenal dong sama Abinya Hamas, nggak ada yang nanya... Semasa hidupnya beliau salah satu klien tetapnya Ayah mertuaku. Dan dari 7 anaknya yang masih ada sekarang, hanya si Bungsu yang masih akrab dengan keluarga kami meski beliau tinggal di Jakarta, Kak Aman begitu kami biasa memanggilnya.

Balik ke martabak HAR, syukurnya sejak Almarhum Haji Abdul Rozak meninggal, usaha martabak HAR tak ikut gulung tikar, bahkan saat ini banyak warung yang memasang nama MARTABAK HAR juga, meski bukan termasuk jaringan asli keturunannya. Setahuku yang asli HAR di warungnya selalu memasang foto beliau. Sekedar melengkapi info, usaha Almarhum Haji Abdul Rozak ini banyak dan beragam, bukan hanya Martabak HAR saja. Hanya nama Sang Martabaklah yang memang paling fenomenal melekat langsung memakai singkatan namanya.

Foto Almarhumah Haji Abdul Rozak,
yang menandakan MARTABAK HAR asli.
Tapi apakah yang tak asli rasanya berbeda?  Aku kurang faham. Seingatku rasa martabak HAR relatif sama. Martabak berbahan dasar telur dan gandum ini makannya pakai kuah kare kambing yang ditambah irisan cabe dan cuka. Rasanya khas sekali. Berbeda sedikit dengan yang namanya MARTABAK MESIR. Dan jujur sejauh ini aku belum pernah membuatnya sendiri di rumah, padahal ada seorang teman yang punya resepnya :P kapan-kapan aku bakal belajar, hehe... 

Diseantero kota Palembang ada berapa cabang MARTABAK HAR asli atau yang tak asli. Tapi kalau ditanya ada berapa dan dimana saja, maaf, akupun belum pernah menghitungnya. Yang tak asli tapi namanya tetap MARTABAK HAR, ada satu di Simpang Pakjo arah rumah kami. Namun sayangnya kami sekeluarga justru belum pernah mampir kesana. Biasanya merk MARTABAK HAR yang tak asli justru lebih meriah, seperti tampak difoto asal sekali lewat dibawah ini, pake kamera hape ;)


Berbeda dengan merk MARTABAK HAR asli yang ada di Sudirman atau cabang lainnya, biasanya cenderung mirip, menurutku lebih terkesan sederhana. Kecuali yang ada di Simpang Sekip, mungkin pusatnya ya, jadi lebih WAH dan besar. Tapi sayang aku tak punya fotonya, jarang mampir kesana, sebab selalu ramai dan berada dikawasan yang padat, jadi kami malah merasa kurang cocok dengan MARTABAK HAR pusat.

Salah satu HAR di Jl. Sudirman.
Masalah merk gambang membedakannya, kalau penampakan MARTABAK HAR menurut hematku justru sulit dibedakan, cenderung sama rupa dan sama rasa. Seperti ini ;)

Uuuppppsss, maaf fotonya kurang okey...
Jadi kalau suatu saat 'sanjau' atau nyasar di Palembang, silakan mencicipi kuliner khas yang satu ini. Dijamin tak akan menyesal. Harganyapun standart saja, satu porsi sekitar Rp. 15.000,- Murah dan merakyat ya? Mau? Silakan mampir.

Hmmm, mumpung bisa nulis sekalian ya...
Cerita dikit tentang toko buku dulu dech :D

Suasana di BBC suatu hari.
Masih disekitaran kawasan Martabak HAR Sudirman, banyak toko buku murah di Palembang. Toko Buku Imam Bonjol bahkan persis disampingnya, terus geser jalan sedikit lagi ada Toko Buku Diponegoro, bukunya banyak, bermutu, okey :P dan murah-murah juga lho... Dan ada satu lagi toko buku favorite anak-anakku disana, namanya BBC, Bandung Book Centre. Kok bukan PBC saja ya, Palembang Book Centre? Entah ya mengapa, aku belum tahu sejarahnya, jadi belum bisa cerita tentang ini.

Jumat, 02 Maret 2012

Cerita Mirip di Keluargaku

Pagi yang cerah di Jum'at pertama bulan Maret.
Semoga khabarmu baik dan bahagia wahai sobats semua ;)

Masih dalam rangka cerita tentang 'Aku Sayang Saudaraku' maka posting kali ini juga masih tentang saudara-saudaraku tersayang, hanya saja ini sebuah karya daur ulang, karena sebelumnya pernah kutulis dalam blog ini 10 Juni 2010 yang lalu, pindahan dari 'catatan di facebook'. Dan kali ini kutambah sekalian kulengkapi biar lebih terasa resapan bumbu sayangnya, cie...

Begini ceritanya...

Saat itu Abinya Hamas baru membuat status di facebooknya tentang mimpinya (mimpi kami tepatnya, untuk ke Tanah Suci) juga tentang mirip,

“Jemput Kando Pertama pulang Umroh. Ini kali keduanya menginjakkan kaki ke Tanah Suci. Yang pertama untuk berhaji. Menurut beliau, wajahku paling sering melintas selama disana *bukan hanya kerena kami mirip saja, bisa jadi ikatan hatilah penyebabnya. Ya Allah izin kan lah aku menjadi tamu-Mu di Baitullah, betapa harap dan rinduku”

Maka untuk menanggapi tentang mirip, aku buat tulisan ini.

Adalah suamiku, anak ke 4 dari 8 bersaudara, 6 laki-laki dan 2 perempuan. 
Kata banyak orang, terutama yang kenal tapi jarang bertemu, sangat mirip dengan Kakak pertamanya, beda umur mereka 6 tahun. 


Miripkah?

Bahkan keluarga jauh sering salah menyebut nama. Sering kali bila ada acara kondangan suamiku dipanggil untuk sambutan mewakili Ayahanda dengan nama Taufik, kakaknya, sudah tradisi biasanya anak sulung lebih tenar dikalangan keluarga besar, walau tidak semuanya. Keluarga akan langsung mengenali bila melihat istri yang mendampingi, karena jelas sangat tidak mirip.


Abinya Hamas bersama Kakak pertama dan Kakak ketiga.

Bukan itu saja, saudara seperguruanpun sering salah mengenali keduanya. Saudara seperguruan? Iya, PKS, Perguruan Keadilan Sejahtera *^ Tapi kalau buat orang-orang yang sering berinteraksi, sudah faham betul, sangat jelas ketidak miripan itu, apalagi buatku sebagai istrinya, tidak akan mungkin ketukar dach…


Buat yang lain, sah-sah saja mau bilang mirip atau tidak mirip :D

Generasi mirip selanjutnya adalah dua sepupu yang hanya berjarak 1 bulan ini. Khodijah binti Muhammad Ridwan lahir pada 25 Oktober 2003 di Palembang, sedangkan Aisyah binti Muhammad Taufik lahir pada 29 November 2003 di Perth.

Khodijah dan Aisyah, dua sepupu yang mirip.


Masih tentang mirip.

Uniknya, kemiripan ini berlaku juga padaku dengan adik perempuan ketiga, dengan selisih umur 5 tahun. Kami berdua mirip, kata banyak orang. Aku sulung dari 5 bersaudara, 3 perempuan dan 2 laki-laki. Sudah kuceritakan pada posting akhir Februari lalu.


De' Anggun dengan sulungnya, Muhammad Avignam Raya bin Arif Radigusman.

Hamas dan Umminya.
Almarhum Kakek kami sering sekali salah panggil. 
“Ke, mana adikmu?” padahal yang ditanya justru adikku. 


Belum lagi pasienku yang sering bingung saat aku masih bertugas di Puskesmas Blambangan dulu. Pernah dengan keheranan seorang pasien bilang, 


“Bu, tadi barusan ketemu dijalan kok sekarang sudah ada disini, trus bajunya kok lain ya?”


Nach lho…

Tapi buat orang yang sangat mengenal kami atau yang sudah faham banget, jelas kami sangat tidak mirip. Apalagi soal keahlian memasak, kami berbeda, bagaimana tidak, adikku seorang alumni akademi Gizi, jadi selain hobby, dia sangat piawai masak. Sementara aku? Suka masaknya baru tahap coba-coba. Ya beda tipislah ^^ 



***


Kemiripan lainnya.
Hamas mirip Abi? Hamas mirip Manda? Yang banyak diakui adalah Hamas mirip Jidah. Dagu dan senyumnya^^
Hamas dan Abinya, mirip kah?
Tapi menurutku saat Hamas makin besar makin tak mirip Abinya.

Hamas dan Manda, 2009 lalu mirip.
Sekarang? Entahlah...
Bahkan banyak yang bilang Hamas justru mirip Mandanya, adik keduaku yang tinggal di Jogya. Bisa jadi karena memang Hamas mirip Nek Anangku (Abah Mamaku) yang juga sangat mirip dengan De' Fata. Kalau Hamas mudik ke Way Kanan, ada beberapa orang kerabat yang ketika melihat Hamas tak bersamaku, mereka biasanya bertanya spontan.

"Ini anaknya Fata ya?" 


Nanya apa nebak? Haiiyyaa, kalau nebak kok salah ya, hehe...

Ya begitulah kisah mirip dalam keluargaku, tepatnya bukan mirip sungguhan, tapi mirip-miripan. Bedanya jauh lebih banyak. Mobil jelas sangat berbeda dong dengan mobil-mobilan. Betul?