Novel karya A.Fuadi yang berjudul Negeri 5 Menara akhirnya difilmkan. Sebuah karya anak bangsa yang layak dihargai. Bukan soal ketika greget film tak bisa menandingi sensasi saat kita melalap novelnya, sudah barang tentu berbeda dunia kata dengan dunia akting bukan?
Aku sebetulnya tak suka nonton, apalagi dibioskop, suatu kegiatan langka buatku. Tapi aku tak anti nonton bioskop juga sebenarnya, lihat situasi
Pertama nonton di bioskop saat film Laskar Pelangi. Nonton bareng dengan keluarga besar suami. Berikutnya nonton lagi, Emak Ingin Naik Haji, kali ini hanya kami sekeluarga ditraktir Ayah (Yainya Hamas) hampir bertepatan dengan berakhir masa edar filmnya. Setelahnya ada ajakan di Rumah tampa Jendela, tapi sayang kami tak bisa. Saat libur sekolah lalu (lagi-lagi) Yai bayari kami nonton Hafalan Sholat Delisa. Saat itu Yai sudah mengingatkan bakal ada jadwal nonton bareng di awal maret nanti, film Negeri 5 Menara.
Dan kamipun akhirnya sukses menonton N5M tepat pada hari ketiga (3/3). Bangga dong
karena sejak baca ulasan Isa Alamsyah bahwa sebaiknya kita ikut mendukung bangkitnya film Indonesia yang berkualitas serupa N5M ini. Begini katanya:
Kita bisa mendukung film keluarga ini dengan menyempatkan untuk menonton di hari pertama. Kalau tidak bisa di hari pertama, sempatkan tonton di tiga hari pertama. Kenapa? Karena tiga hari pertama adalah masa evaluasi pihak bioskop. Kalau hasilnya tidak memuaskan, sekalipun film bagus berkualitas dan kaya pesan, akan segera diturunkan dari layar. Kalau belum sempat tontonlah di minggu pertama. Kalau tidak sempat, semoga saja film ini bertahan sampai minggu kedua, dst.
Tapi tanpa dukungan di minggu pertama, minggu kedua akan diturunkan. Sayang kan? Tentu saja Anda tidak mau membiarkan produser film-film inspiratif kapok bukan? Demi masa depan anak-anak kita. Jika ingin berperan lebih besar. Jangan nonton sendirian. Ajak keluarga, sanak saudara, dan teman sekolah atau teman kerja untuk menonton.
Setelah menonton jangan hanya diam, saatnya kita berhenti menjadi silent majority. Jika Anda setuju film ini baik, segera tulis status di facebook atau twitter setelah menonton, rekomendasikan ke teman teman untuk menonton. Kalau kita aktif mendukung film bagus, Insya Allah banyak produser yang lebih memilih film inspiring ketimbang film horor atau film kotor.
Ya kalau dulu aku biasanya mau nonton hanya dari CD saja, sekarang aku maulah ikut nonton ke bioskop, tentunya bareng keluarga, apalagi ada Yai yang bayari
Kalau balik kebelakang, Yai memang sosok yang hobby banget nonton bioskop. Dulu masa mudanya suka berdua Nyai nonton fim India di Bioskop Garuda, malam mingguan khas pengantin baru. Konon kisahnya, beliau terinspirasi jadi pengacara karena seringnya nonton film Bollywood itu, hehe... Lumayan ada perolehan, jadi catatan sejarah, malah sekarang keranjingan ngajakin para cucunya nonton bioskop
syukurnya bukan film sembarangan.
Jadi selain karena ada yang bayari, aku nonton juga dalam rangka mengambil peran guna mendukung bangkitnya film Indonesia berkualitas, semoga ini bisa dikategorikan sebagai bentuk kepedulianku selaku anak negeri yang cinta produk Indonesia, cieee...
Sekarang coba perhatikan data statistik film Indonesia saat ini.
Yang ada diposisi 10 besar Film Indonesia sampai Maret tahun 2012 adalah:
| # | Judul | Penonton | |
|---|---|---|---|
| 1 | Rumah Bekas Kuburan | 246.124 | |
| 2 | Pulau Hantu 3 | 237.007 | |
| 3 | Negeri 5 Menara | 175.507 | |
| 4 | Malaikat Tanpa Sayap | 150.678 | |
| 5 | Bila | 113.164 | |
| 6 | Kafan Sundel Bolong | 102.171 | |
| 7 | My Last Love | 86.409 | |
| 8 | Seandainya | 72.070 | |
| 9 | Rumah Hantu Pasar Malam | 63.591 | |
| 10 | Ummi Aminah | 50.941 |
Perhatikan baik-baik data di atas ya
Ternyata film bertema hantu (tak jelas /horor dan mungkin kotor) tahun ini di 3 bulan pertama memenangi pertarungan. Bayangkan kalau film jenis itu menjadi tuan rumah di negeri kita dimasa depan, nasib bangsa makin memprihatinkan. Akan makin banyak orang yang percaya klenik bukan? Ya betul , adalah fakta bahwa film bisa mempengaruhi perilaku penontonnya, dan tugas kita secara individu minimal mendukung film yang baik, film yang punya misi dan visi apalagi kalau kualitasnya juga bagus.
Masih belum terlambat!
Pertempuran antara film bervisi dan inspiratif dengan film horor belum berakhir.
Kita sebagai orang yang peduli dengan kualitas budaya bangsa, masih bisa memenangkan film bervisi dan inspiratif itu. Kita harus menang, kita bisa
*ini juga masih penggalan tulisannya Bang Isa, suaminya Mbak Asma Nadia itu lhoo...
Ajakanku, mari nonton Negeri 5 Menara, aku tak akan bercerita tentang isi filmnya, boleh juga baca versinya Uda Vizon di negeri 5 menara, the movie atau tulisannya Nique pada Nonton Film “Lima Menara” Tapi beneran bagus kok
Bahkan Ustadz Yusuf Mansyurpun mengaku merinding sepanjang menonton film N5M ini, dan Indra Bekti puas usai menontonnya, baca disini dan disana.
Kesimpulanku untuk film Negeri 5 Menara, pesannya sampai, bahwa pesantren itu bukan tempat sekolah mereka yang 'tak mampu', bukan pula sekolah tempat belajar agama saja, pesantern justru tempat memcetak pribadi-pribadi unggulan. Terlalu subjektif ya? Ini sich biar ringkas saja, lengkapnya silakan saksikan langsung di bioskop, mumpung masih tayang di kotamu. Buruan yaaa...








.jpg)