Selasa, 19 April 2011

Naskah Lomba KBHS


Kembali ke Madu dan Bekam
(Lomba Ketika Buah Hati Sakit)

Hamas baru bisa jalan.
Hamas saat Playgroup, umur 3 tahun.

Hamas TK A dan Yunda Kelas 1 SD.
Sedih melihatnya sakit. Tidurnya gelisah, sering terbagun karena batuk atau jalan nafasnya tersumbat. Kuraba dahinya, masih panas. Cek temperature terakhir masih 38,6 derajat celcius, hanya turun sedikit dari sebelumnya yang mencapai 39,8 derajat celcius. Ini demam hari ke 5, demamnya turun naik, tapi bila sedang turun tak sampai batas normal. Obat penurun panas sudah berulang kali kuberikan. Awalnya aku ingin menganggapnya influenza karena virus saja, tapi aku segera tersadar melihat cairan ingus yang mulai kental dan menguning. Sudah ada infeksi bakteri rupanya. Kutenang-tenangkan diriku. Sebenarnya bila tak ada cerita sebelumnya tentang riwayat sakit dan pengobatan Hamas, anak keduaku, tentu aku akan lebih rasional. Ingin bertahan hanya memberikan antibiotik yang ada di Puskesmas tapi ini sudah masuk hari ke 2 pemberian amoxillin generik tak juga ada kemajauan.

Kejadiannya bermula beberapa tahun yang lalu saat aku prajabatan. Waktu itu aku masih tugas di Lampung. Prajabatan berlangsung 14 hari dari pukul 06.00 WIB sampai 20.00 WIB bahkan adakalanya sampai pukul 21.00 WIB. Hari pertama aku mulai prajab Hamas sudah mulai demam, tapi sudah kusiapkan obat  penurun panas. Ternyata keesokan harinya karena panasnya tak kunjung turun, Ibuku berinisiatif langsung membawanya kedokter spesialis anak terkenal. Singkat cerita, obat yang diberikanpun langsung antibiotik generasi ke II. Sungguh membuatku terpana, Hamas baru 8 bulan kala itu, dan seperti umumnya bayi dengan ASI Ekslusif, ini adalah sakitnya yang pertama. Dan bukankah ciri-cirinya seperti infeksi virus biasa. Mengapa harus dengan antibiotik, langsung generasi ke II pula. Sesalku berkepanjangan. Seperti yang kukhawatirkan, bulan berikutnyapun sakit serupa berulang kembali dan mau tak mau obat Puskesmaspun sudah tak lagi berguna. Maklum saja Hamas langsung kenal obat dosis tinggi.

Ketahuilah, tak ada maksud sedikitpun mendeskriditkan para dokter spesialis dalam hal ini SpA, karena pengalamanku pada Yunda anak pertamaku justru sebaliknya. Guru besarku, seorang professor yang SpA di Palembang justru telah yang mengajarkanku agar percaya diri memberikan pengobatan kepada anak sendiri bahkan dengan menggunakan obat-obatan generik. Ceritanya saat Yunda sakit perdana diusia 7 bulan, aku masih menyelesaikan tahap akhir kepanitraan klinik di RSMH (Rumah Sakit Mohammad Hussen) Palembang, dengan paniknya aku langsung membawanya ke tempat praktek Sang Profesor. Kami menjadi pasiennya yang pertama pagi itu. Anamnesanya lengkap penuh senyuman. Dan saat resep obat kami tebus di Apotik, sungguh mampu membuatku terperangah. Apa? Hanya duapuluh delapan ribu rupiah. Akupun meminta salinan resepnya, ingin memastikan. Benar saja, hanya berisi racikan obat generik penurun panas dan pelega tenggorokan. Diluar bayanganku. Kali lain saat 2 bulan berikutnya Yunda terkena batuk dan lagi-lagi kubawa kepada beliau, Yunda hanya mendapat antibiotik pilihan pertama untuk infeksi saluran pernafasan yang juga generik. Sejak saat itu, aku jadi yakin bahwa pengobatan rasional seperti dalam teori itu ada. Akupun akhirnya jadi percaya diri untuk memberikan serangkaian therapy pada anak, baik itu anakku sendiri maupun pasien anak yang ada di Puskesmas saat aku sudah bertugas. Setamat kuliah dari Fakultas Kedokteran Sriwijaya aku PTT di Lampung, dan langsung pengkatan pegawai negeri juga. 

Ceritanya sejak kejadian pemberian obat antibiotik generasi II itu, hampir setiap bulan Hamas sakit dan tak lagi mempan dengan obat antibiotik generik yang ada di Puskesmas. Puncaknya saat usia 1,5 tahun, Hamas batuk dengan demam tinggi disertai sesak nafas. Kekhawatirankupun langsung berbuah rawat inapnya Hamas di Rumah Sakit. Dan saat itu akupun sempat sedikit berdebat dengan SpA yang menanganinya karena pemberian antibiotik injeksi yang begitu mahal. Bukan soal harganya, tapi mengapa tak dimulai dengan yang generik dulu. Tapi pada akhirnya akupun harus mengalah, panjang do’a dan harapku kala itu untuk kesembuhan ananda yang terlihat sangat menderita dengan nafas yang tersengal, apa kata dokter yang merawatnya akupun berusaha untuk berbaik sangka saja. Setelah dirawat 3 hari Hamaspun boleh pulang tapi masih tampak lesu. Di rumah pemberian obat masih aku lanjutkan. Syukurnya seminggu kemudian Hamas benar-benar sehat. Bulan demi bulan berlalu. Dan Hamaspun masih sering sakit serupa mungkin karena ada bakat Asthma turunan dariku. Jujur setiap Hamas mulai sakit akupun mulai tegang, memikirkan obat apa yang sebaiknya kuberikan. Sangat berbeda dengan bila Yunda yang sakit, aku langsung serta merta tahu obat pamungkasnya.  Obat Puskesmaslah andalanku, generik saja sudah cukup. Dan luar biasanya Yunda justru jarang sekali sakit. 

Waktu berlalu sampai akhirnya kami sekeluargapun pindah ke Palembang lagi. Benakku penuh rencana untuk rangkaian peningkatan stamina Hamas. Dan kami sekeluargapun akhirnya sepakat membuat jadwal renang secara rutin. Karena aku menyakini bahwa renang masih sangat direkomendasikan untuk para penderita Ashthma. Padahal sampai saat itu Hamas tidak diagnosa Asthma. Hanya aku saja yang menganggapnya jendrung ada bakat Asthma. Selanjutnya memang tak mudah mengatur waktu agar kami bisa rutin berenang, tapi ternyata meski hanya sebulan sekali, aku bisa melihat banyak manfaat untuk pertumbuhan dan peningkatan stamina Hamas tak terkecuali Yunda. Memasuki usia TK, sakit langganan Hamas masih belum beralih, walau tak sesering dulu. Dan karena staminanya sudah bagus, badannya berotot, pertumbuhannya benar-benar optimal, aku mulai berfikir untuk tak lagi mengalah begitu saja dengan antibiotik-antibiotik super duper, yang bukan hanya mahal harganya tapi juga rawan efek sampingnya. Sebagai dokter, aku sangat memmperhatikan masalah efek samping obat. Yang menurutku bila masih bisa dihindari maka sebaiknya kita menghindar saja dari penggunaan obat-obatan kimia yang berdosis tinggi tersebut. 

Kisah sakitnya Hamas pada awalnya jelas sudah membuatku tak lagi bisa hanya mengandalkan obat -obatan generik seperti yang ada di Puskesmas. Tapi Allah Maha Kaya, ini justru yang membuatku bisa benar-benar lepas dari penggunaan obat-obatan kimia pada anak-anakku. Aku merasakan efek pemberian obat dosis tinggi pada Hamas justru semakin membuat stamina atau daya tahan tubuhnya menurun. Bila anak sakit, saat itu berarti daya tahan tubuhnya sedang menurun, dan pemberian antibiotik apalagi dalam dosis tinggi akan semakin melemahkan daya tahan tubuhnya. Antibiotik memang akan membunuh bakteri penyebab penyakit tapi juga akan memusnahkan flora normal yang ada ditubuh, padahal flora normal inilah yang sangat berperan dalam menjaga daya tahan tubuh. Akhirnya atas pertimbangan inilah akupun membuat keputusan tak lagi mau memberikan antibiotik dosis tinggi pada Hamas. Maka untuk itu aku melakukan kajian juga diskusi pada banyak teman untuk merealisasikan niatku. Ternyata benar saja, bila kita mau berusaha, Allah akan berikan jalannya.  Pada kesempatan yang tepat inilah, Allah mengirim seorang  teman sejawat, kawan kostku dulu yang sekarang sudah menekuni pengobatan herbal. Saat aku curhat tentang Hamas. Ia langsung menodongku.

“Inilah kita, kadang kita tak yakin dengan Al Qur’an dan Hadist. Bukankah Allah sudah menyebutkan bahwa madu adalah  obat dari segala macam penyakit,” katanya menohokku.

Jadi maksudnya, cukup pakai madu saja? Itu pertanyaan polosku. Diskusi kamipun berkembang tentang pengobatan ala Nabi. Madu sebagia obat andalan, bahkan untuk pengobatan luar seperti luka bakar atu luka bekas jahitan operasi. Keoptimisanku membumbung tinggi, karena jelas ini sumbernya wahyu Illahi. Kesadaranku dihantam, bahwa selama ini belum mengamalkan ilmu ini. Akhirnya sejak hari itu kami sekeluarga kembali ke madu. Selanjutnya mencari dan memastikan bahwa itu adalah madu murni adalah bentuk perjuangan, karena bukan rahasia lagi banyak madu yang dijual di pasar adalah madu yang sudah dicampur bahan lain. Dan untuk pilihan utama sebenarnya adalah madu gurun, karena kandungan airnya rendah. Madu yang dihasilkan oleh lebah yang hidup didaerah trofis juga murni akan tetapi kandungan airnya relatif tinggi. 

Dan kenyataan membuktikan sejak mengkonsumsi madu sebagai obat, Hamas jadi jarang sekali terkena penyakit, termasuk sakit batuk dengan demam tinggi yang disertai sesak nafas. Luar biasa, bahkan saat demampun cukup beri madu dan air putih lebih banyak saja, tak adalagi obat penurun panas dirumahku. Sekiranya diperlukan aku hanya mengkombinasikan madu dengan jintan hitam saja. Jintan hitam alias habatussauda adalah salah satu obat yang juga disebut dalam hadist sebagai obat untuk semua penyakit, hanya kematian yang tak bisa diobati dengan habatussauda. Dan salah satu metode pengobatan yang kupakai juga untuk keluarga termasuk anak-anakku adalah bekam. Ketahuilah ternyata metode bekam sudah banyak dipakai di mana-mana, dan sebagai muslim kita wajib yakin karena hadist untuk melakukan pengobatan dengan bekam ini ada. Hamas dan Yunda bahkan senang sekali dibekam, walau hanya bekam kering, tanpa mengeluarkan darah. Metode bekam ada juga yang disebut dengan bekam basah yaitu yang disertai dengan pengeluran darah. Akupun baru 3 bulan lalu ikut pelatihan bekam, ternyata besar manfaatnya. Bisa dipakai untuk keluarga dan orang sekitar. 

Buatku langkah ini tak sepenuhnya mudah, banyak juga suara-suara sumbang dari sekitar. 

“Lama sekolah dokter tapi mengapa sekarang malah jadi dukun.”

 Ini salah satu yang terdengar nyaring. Tak mengapa, bukankah islam awalnya dianggap asing, tak banyak yang mau mengikutinya. Tapi bila kita yakin ini adalah kebenaran, maka keyakinan itulah yang akan meguatkan kita. Hidup adalah perjuangan, perjuangan menebarkan kebenaran. Mengamalkan pengobatan ala Nabi. Kembali menghidupkan teori kedokteran islam, kalau bukan kita siapa lagi, kalau tidak sekarang kapan lagi. Dan rasakanlah manfaatnya. Sekaranglah saatnya menyalakan lilin, bukan mencela kegelapan. Sekarang saatnya kita kembali ke madu, habatussauda dan bekam tanpa perlu sibuk merutuki obat-obatan kimia yang memang ternyata dibuat untuk melemahkan kita, belum lagi kehalalannya masih perlu diuji.

Alhamdulillah jadi juga ikut lomba, didetik-detik terakhir, bukan soal menang kalahnya. Tapi semangat ingin ikut berpartisipasi. Semoga dapat hadiah, ya paling tidak dapat pahala ya....hihi, ngarep.com

Senin, 18 April 2011

Promosi Buku

Dalam buku ini ada tulisanku juga lho....beli ya, beli....

Covernya keren kan? Apalagi isinya, ayo buruan beli ya....

ALHAMDULILLAH TELAH TERBIT BUKU KITA :

SEPUCUK SURAT UNTUK RASULULLAH
Harga   : 39.900
Penulis : Ady Azzumar, Endang SSN, Hylla Shane Gerhana, Naqiyyah Syam, dkk
Kata Pengantar : Sinta Yudisia
Editor : Emzy Azzam
Desain Sampul : Akhi Dirman Al-Amin
Pemeriksa Aksara : Dudy Art
Cetakan 1 : April 2011

Endorsment:
"Setiap kali menelisik karya anak FLP, saya senantiasa menemukan semangat, cinta dan dakwah yang tinggi. Semuanya berawal dari ketulusan dan keikhlasan berkarya, mengabdi dan demi mencerahkan ummat. Maka, buku inipun telah mencakup semuanya itu. Salam Kreatif dalam Cinta dan Dakwah!" (Pipiet Senja, novelis asli Sumedang)

Testimoni:
Subhanallah... Allahummasholli ala muhammad.... membaca buku ini membuat saya 'panas dingin'.. laksana jatuh cinta pada pandangan pertama...Romantis luar biasa... seakan menikmati pemandangan Alam yang mempesona... terimakasih untuk para penulis yang berhati romantis menuliskan kalimat yang membuat saya makin cinta pada sosok rosulullah... Anda yang belum baca... segera dibaca deh... maka akan anda rasakan atmosfer keindahannya... dan saya yakin.. anda akan terjangkit penyakit "Romantisme mencintai Rosulullah" karena saya sudah terkena dan tak ingin sembuh olehnya...

Bang Dillah 'Habeeb'
MC, Penyiar Radio, Personil Nasyid Senandung Hikmah.

Kata Pengantar
Oleh: Sinta Yudisia 

 A Poem on Prophet Muhammad Saw by Sir Allama Iqbal

He slept on a mat of rushes,
But the crown of Chosroes lay beneath the feet of his followers;
He chose the nightly solitude of Mount Hira,
And founded a nation, law and government;
He passed his nights with sleepless eyes,
That his Millet  might sleep on Chosroes throne
In the hour of battle, iron was melted by the flash of his sword.
At prayer time, tears fell like drops of rain from his eyes.
In his prayer for Divine help, his Amen' was a sword,
Which extirpated  the lineage of kings.
He inaugurated a new Order in the world,
He brought the empires old to an end:
In his sight the high and the low were one,
He sat with the slave at table one;
He burnt clear the distinctions of birth and clan.
His fire consumed   all this trash  and bran

 Penulis ini adalah Nama FB bukan nama di daLam buku:

1.      Endang Ssn
2.     Nurlaili BrSembiring
3.      Syaque Hikaritokusaikizoku Elsheeraknightvanrijkdom
4.      Ragil Papa Aira
5.      Imam Apriansyah
6.      Rafif Amir Ahnaf
7.      Hylla Shane Gerhana
8.      Niken Prawesthi  
9.      Asni A Sueb Aan
10. Fitri Bundanya Elfad  
11.   Inggar Ash
12.    Anas Nasrudin
13.   Revika Rachmaniar
14.  Lisfatul Fatinah Munir
15. Rofi' Maryam
16.   Rahman Hanifan Semakin Dahsyat
17.  Tri Lego Indah
18.  Akhwatul Chomsiyah Firdausa  
19.   Rosella Asy-syams
20.  Yandigsa Saja
21. Suden Basayev  
22.   Rurin Kurniati
23.  TeLaga Mega Cynthia
24.  Aisyah Al Farisi
25.  Yully Riswati  
26.   IsLami Dina 'Poe'
27.  Muhammad Irfan Abdul Aziz
28.  Artineke A Muhir   
29.   Maryam Zakaria
30.  Nur Hidayati
31. Naqiyyah Syam Full
32.   Milda Solihin
33. Huriyah Riza Almusyarofah
34.   Fiani Gee
35.  Puput Ariatna
36. Faiz Ezra
37.   Mata Pena
38.   Mieny Angel
39. Syari VaQoth
40.  oleh
41.  Fagaz Zhi
42. Kurotul 'Aeni
43. Nur Imamatul Choir
44.   Rosintan Hasibuan  
45.   El Kinanti
46.   Sofi Bramasta
47.   Isti Subandini
48.  Hamliati Musta  
49.   Akh Mul
50.   Mas Adi III
51.  Alfi Anafidah
52.   LiNa Astuti
53.  Khairus Syifa   
54. Cak Ndor
55. Ady Azzumar


Keji Beling

Keji Beling(Stachytarpheta mutabilis, Vahl.)
Sinonim :
Strobilantes crispus, Bl. Sericocalyx crispus, (Linn.), Bremek.
Familia :
Acanthaceae
Nama Lokal :
Keji Beling (Indonesia), Ngokilo (Jawa)

Ini keji beling, jangan salah.
Keji beling adalah tanaman semak, tinggi 1-2 meter. Batang beruas, bula, berbulu kasar, percabangan monopodial, warna hijau. Tumbuhan ini mudah berkembang biak pada tanah subur, agak terlindung dan di tempat terbuka.

Syarat Tumbuh
a. Iklim · Ketinggian tempat : 1 m - 1.000 m di atas permukaan laut · Curah hujan tahunan : 2.500 mm - 4.000 mm/tahun · Bulan basah (di atas 100 mm/bulan) : 8 bulan - 9 bulan · Bulan kering (di bawah 60 mm/bulan): 3 bulan - 4 bulan · Suhu udara : 200 C - 250 C · Kelembapan : sedang · Penyinaran : sedang

b. Tanah · Tekstur : pasir sampai liat · Drainase : sedang - baik · Kedalaman air tanah : 25 cm dari permukaan tanah · Kedalaman perakaran : 5 cm dari permukaan tanah · Kemasaman (pH) : 5,5 - 7 · Kesuburan : sedang

Pedoman Bertanam
a. Pegolahan Tanah · Buatkan lubang tanam berukuran 25 cm x 25 cm x 25 cm
b. Persiapan bibit · Perbanyakan tanaman kejibeling dilakukan dengan stek.
c. Penanaman · Stek ditanam pada lubang tanah yang telah disiapkan dengan jarak tanam 1 m x 1 m.



Tumbuhan ini memiliki banyak mineral seperti kalium, kalsium, dan natrium serta unsure mineral lainnya. Disamping itu juga terdapat asam silikat, tannin, dan glikosida.

Resep tradisional untuk pengobatan:

Kencing batu :
Daun Keji beling 1 gram; daun tembuyung 10 gram; Air 100 ml, Dibuat infus; diseduh; dipipis, Diminum 1 kali sehari 100 ml; Apabila dipipis diminum 1 kali sehari 1/4 cangkir

KENCING KURANG LANCAR :
Daun segar 25 gram dicuci bersih lalu direbus dengan 2 gelas air bersih selama 15 merit. Setelah dingin disaring lalu minum sekaligus. Lakukan pada pagi atau siang hari.

BATU KANDUNG KENCING : 
Segenggam daun keji beling dan 1 tongkol jagung muda dicuci, lalu direbus dengan 2 liter air bersih sampai tersisa 1 liter. Setelah dingin disaring, lalu diminum. Lakukan pagi dan sore hari, masing­-masing I/2 gelas.

BATU KANDUNG EMPEDU : 
Daun keji beling segar 5 lembar, daun ungu segar 7 lembar, dicuci bersih lalu di rebus dengan 3 gelas air sampai tersisa 2 gelas Minum seperti teh

KENCING MANIS : 
Daun segar 20 ‑ 50 gram, direbus dengan 6 gelas air sampai tersisa 3 gelas, dinginkan, disaring. Minum 3 kali 1 gelas per hari.

BATU GINJAL : 
Daun keji Beling 50 gram, meniran segar 7 batang, daun ungu 7 lembar. Dicuci dulu direbus dengan 4 gelas air sampai menjadi 2 gelas dinginkan, saring, minum 3 kali 2/3 gelas per hari. ATAU Daun keji beling 5 lembar, daun tempuyung segar 5 lembar tongkol jagung 6 buah, dicuci lalu direbus dengan 5 gelas air bersih sampai tersisa 2 ¼ gelas. Setelah dingin disaring, dibagi untuk 3 kali minum, habis dalam sehari. Lakukan setiap hari sampai rasa sakit menghilang.

SEMBELIT : 
Ambil 1/2 genggam daun keji beling segar, cuci bersih lalu direbus dengan 2 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring lalu diminum.

WASIR : 
Daun segar 20 ‑ 50 gram, di rebus dengan 6 gelas air sampai tersisa 3 gelas, dinginkan, saring. Minum 3 kali 1 gelas per hari.

Tumor
Bahan: Daun Keji Beling mentah dan segar 3 lembar.
Cara pemakaian: dimakan sebagai lalapan setiap hari dan dilakukan secara teratur.
Pantangan: Ikan Asin, cabai, tauge, sawi putih, kangkung, nanas,
durian, lengkong, nangka, es, alkohol dan tape, limun dan vitzin.

Diabetes Mellitus
Bahan: Daun Keji Beling mentah dan segar 3 lembar.
Cara Pemakaian: dimakan sebagai lalapan setiap hari dan dilakukan secara teratur.

Lever (sakit Kuning)
Bahan: Daun Keeji Beling mentah dan segar 3 lembar.
Cara Pemakaian: dimakan sebagai lalapan setiap hari dan dilakukan
secara teratur.
Pantangan: makanan yang mengandung lemak.

Ambeien (wasir)
Bahan: Daun Keji Beling mentah dan segar 3 lembar.
Cara Pemakaian: dimakan sebagai lalapan setiap hari dan dilakukan
secara teratur.
Pantangan: Daging kambing dan makanan/masakan yang pedas.

Kolesterol tinggi
Bahan: Daun Keji Beling mentah dan segar 3 lembar.
Cara Pemakaian: dimakan sebagai lalapan setiap hari dan dilakukan
secara teratur.
Pantangan: makanan yang berlemak.

Maag
Bahan: Daun Keji Beling mentah dan segar 3 lembar.
Cara Pemakaian: dimakan sebagai lalapan setiap hari dan dilakukan
secara teratur.
Pantangan: makanan pedas atau asam.

Kena Bisa Ulat dan Semut Hitam
Bahan: Daun Keji Beling mentah dan segar 1 lembar.
Cara Pemakaian: digosokkan pada bagian tubuh yang gatal hingga
daun tersebut mengeluarkan air dan hancur. Dilakukan 2 kali setelah berselang 2 jam.
Ada banyak manfaatnya juga ternyata buka-buka blog tanaman obat herba, jadi tahu, ternyata selama ini salah sangka. Dulu ada yang kasih bibit tanaman katanya pecah beling, ech.... ternyata bukan :( 

Ya udah nanti jadi ingin cari bibit keji beling yang sesungguhnya, mengingat banyak manfaatnya. Yang dihalaman, ya biarin aja, itung-itung tanaman hias.


Minggu, 17 April 2011

Kenanga juga Obat

Diminta Bunda Aspi (Kepsek SDIT Bina Ilmi, sekolahnya Yunda) ngisi kajian Ibu-ibu majelis taklim yang dibinanya di Seberang Ulu hari Jum'at 22 April nanti dengan tema pengobatan alternatif sebagai bentuk mengamalkan pengobatan ala Nabi dan kembali ke obat-obatan herbal termasuk memanfaatkan tanaman obat yang ada disekitar. Wech....ini siapa ya yang kasih rekomendasi. Btw, mesti siap-siap dong....
Baca blog tentang tanaman obat keluarga, asli baru tahu juga, ternyata KENANGA yang selama ini hanya kuanggap bunga adalah salah satu obat untuk penyakit Ashtma.
Langsung kehalaman lihat tanaman KENANGA-ku, Alhamdulillah tumbuh subur dan mulai berbunga. Ingat baru beberapa bulan lalu membeli bibit 'bayi'nya ke penjuanl bunga di jalan menuju sekolah anak-anak.

Kenangaku, yang baru belajar berbunga.

Nama botani: Canangium adoratum
Famili:  Annonaceae

Dengan bunganya yang cantik dan wangi, kenanga menjadi pokok hiasan yang tidak asing lagi.
CANANGA ODORATA dalam bahasa Latin dan dikatakan berasal dari Malaysia.

Pokok ini boleh ditemui di negara-negara Asia Tenggara manakala spesies lain juga terdapat di Afrika. 
Banyak hidup meliar di hutan-hutan. Tingginya boleh mencapai 30 dan 35 meter.  
Batangnya lurus, berwarna kelabu asap dan terdapat dahan-dahannya yang agak melentur. 
Daunnya pula membujur tirus dengan tujuh hingga 23sm panjang dan empat hingga 10sm lebar. 
Bunganya berwarna kuning bergugus-gugus membentuk mahkota dikelilingi tiga helai daun hijau dengan jambak kembang enam kelopak. Di setiap jambak terdapat tujuh biji buah yang berbentuk bujur. Selain tarikan pada kecantikannya, bunga kenanga juga mempunyai kegunaan lain termasuk dalam perubatan berasaskan herba.
Khasiat dan kegunaan

Bunga kenanga berkhasiat mengubati sesak nafas, lelah dan malaria.
  • Untuk sesak nafas, segenggam bunga kenanga yang telah dibasuh bersih direbus dengan sedikit air sehingga masak.
Ketika menggelegak, masukkan setengah sendok gula pasir dan tunggu sehingga tahap air berkurang sepertiga daripada jumlah asal. Kemudian minum air berkenaan sedikit demi sedikit pada waktu pagi dan petang serta ulangi amalan ini terutama pada hari-hari diserang sesak nafas.

  • Berbeda untuk penggunaan mengobati lelah dan malaria adalah lebih mudah. Ambil tiga kuntum bunga kenanga dan celurkan dalam semangkuk air panas selama kira-kira 5 menit atau sehingga air menjadi hangat.
Buangkan kuntum-kuntum bunga tersebut dan kemudian minum air itu secara perlahan-lahan. Ulangi dua kali sehari.
  • Sementara itu, bunga kenanga turut dijadikan ramuan untuk mandi bunga dan juga ramuan air mandian ibu-ibu lepas bersalin.

Sabtu, 16 April 2011

Mbak Endang KK

Nama lengkapnya Endang Khusnul Khotimah
sebuah nama yang indah dan mengandung arti.


Sudah hampir 3 tahun ini, ia menjadi bagian keluarga kami.
Sejak masuk SMA, Mbak End tinggal bersama keluarga kami.

Silih berganti khadimat bahkan sekarang tak ada khadimat, Mbak End terus membantuku dalam urusan tugas-tugas rumah tangga disela-sela kesibukanya belajar, les dan sekolah.


Keluarga bahkan kawan dekat yang pernah ke rumah kami di Pakjo biasanya langsung akrab dengan Mbak End, ia anak yang ramah dan sangat simpatik.


"Kelihatan tulusnya"  itu kata banyak orang yang kenal Mbak Endang.

Awal mula kenal Mbak End saat aku ada Posyandu di Sukadana (sebuah desa di wilayah kerja Puskesmas tempatku bertugas), ada seorang Ibu yang membawa 2 BALITAnya yang sedang sakit, dan Ibunya pun ternyata juga sakit. Setelah anamnesa, dialogpun berlanjut. Ternyata anak Ibu tersebut banyak, ada 7 orang. Yang sulung dan kedua sudah merantau ke Jawa masuk Pesantren. Yang ke 3 masih kelas 3 SMP, 2 orang lainnya SD, dan BALITA yang dibawanya adalah yang nomor 6 dan 7. Subhanallah....Merasa senang diajak ngobrol, si Ibupun curhat tentang anak ketiganya yang akan tamat SMP, betapa besar keinginannya untuk melanjutkan sekolah tapi sepertinya sulit terlaksana. Dengan spontan akupun menawari untuk menyekolahkannya, ya kira-kira begitu. Reponnya tak begitu jelas saat itu. Waktupun berlalu sampai hitungan bulan, bahkan akupun nyaris melupakan dialog itu. Tapi tak dinyata suatu hari si Ibu datang bersama suaminya ke rumah dinasku di Puskesmas Sukabumi dan menyatakan menerima tawaranku untuk menyekolahkan anaknya yang baru selesai UAN SMP.
Kaget lah daku....kirain ndak minat, ternyata sejak bertemu denganku beberapa bulan yang lalu suami istri yang bersahaja ini mengumpulkan info tentangku. Dan hasilnya mereka sepakat menitipkan anak gadisnya padaku. Aku masih ingat kata-kata si Ibu hari itu, walaupun redaksinya tak 100 % sama, tapi kira-kira begini....

" Kami dengar Bu Dokter ini orang baik dan anaknya masih kecil-kecil, jadi kami berniat menitipkan anak kami pada Ibu dan Suami. Tolong dibimbing, terserah mau dimasukkan apa, yang penting anak kami bisa Sekolah" sungguh rangkaian kata yang mampu membuatku terharu. Sejak hari itu aku berjanji pada Ibu Bapak Mbak Endang untuk memenuhi harapannya.

Langkah awal ternyata tak begitu mudah, karena saat itu seluruh SMA sudah tutup masa pendaftarannya, belum lagi Mbak Endang harus mengurus surat pindah rayon dan lainnya. Akhirnya berkat pertolongan Mbak Yani guru SMUN 1 Bahuga, Mbak Endang bisa masuk sekloah tersebut dan setelah pembagian raport pertamanya baru bisa diurus pindah sekolah SMU di Palembang. Nilai Mbak Endang rata-rata 7, tak ada yang menonjol tapi juga tak kurang. Sejauh ini menurutku ia tak kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah.

Special momment, di BKB berlatar AMPERA.
Bersama Yunda, saat rihlah ke AGROWISATA BIDAR.
Adapun diluar sekolah, Mbak Endang adalah pribadi yang matang, ia menonjol dari sisi kesabarannya. Ibadahnyapun rajin. Oya aku lupa ceritakan bahwa Bapaknya Mbak Endang seorang guru ngaji di desanya. Selain itu beliau menggarap sawah orang untuk penghidupan mereka sekeluarga. Belakangan Pak Jamal (nama Bapaknya Mbak Endang) sudah bisa menyewa 1/4 hektar sawah. Dari sinilah sekali dua Pak Jamal menitipkan uang untuk Mbak Endang, katanya hasil panen. Tak pernah kutolak, karena menurutku inilah kebanggaanya sebagai orangtua.

Kalau libur sekolah Mbak Endang pulang kampung, tapi sudah 2 kali lebaran Iedul Fitri dilaluinya bersama kami. Itu memang pesan Ibunya, bahwa kalau lebaran biar Mbak Endang bersama kami sekeluarga agar bisa bantu-bantu. Dan bisanya hari ke 3 kami semua akan mudik ke Sukabumi, artinya Mbak Endangpun bisa pulang ke rumah orangtuanya.

Akang, Mas Syamsul (adik Mbak Endang yang keempat), Lina dan Yunda. Saat liburan di Sukabumi.
Lina (adiknya Mbak End yang kelima) bersama Yunda, akrab.
Cita-cita Mbak End, dulu Ibunya pernah bilang sebenarnya Mbak Endang ingin jadi tenaga kesehatan. Tapi aku tak terlalu memikirkan kala itu, terlebih setahun yang lalu saat Mbak End kelas 2 SMA, ada sepupuku (Linda namanya, anak piatu, yang ikut orangtuaku sejak umur 4 tahun. Ibunya adik Mamaku dan sudah meninggal) yang harus masuk kuliah juga dan kami (aku dan suami) diamanahi oleh Mama Papa untuk mendanainya, sebelumnya Mama Papa yang sudah menyekolahkan sampai SMU berhubung adik bungsuku bersamaan masuk FK maka kamipun diminta untuk ambil alih tanggung jawab, itung-itung berbagi keberkahan ya.....tadinya mau masuk bidan, tapi yang negeri tidak masuk kamipun cari info untuk kebidanan swasta. Ternyata menembus angka 20-an juta. Akhirnya Ohtie (ini panggilan anak-anakku untuk sepupuku Linda) tak jadi masuk kebidanan, iapun harus rela masuk FKIP. Dari bidan beralih ke guru. Tak apalah ya....sama-sama mulia :)

Di GOR, bersama Ohtie, Mbak Helmi dan Mbak Ria.
Mampir di Bakso Kepala Sapi BATURAJA, dalam perjalanan ke Palembang.
Kembali ke cita-cita Mbak End, jujur aku pernah dibuat tertegun saat mau berangkat tugas TKHI. Waktu membaca buku kumpulan titipan do'a dari sanak keluarga bagian tulisan Mbak End : mohon do'anya agar bisa jadi Bidan. Ya Robb, sungguh kuterharu. Namun do'a ini tetap aku baca berulang ditempat-tempat mustajab setiap ada kesempatan musim haji lalu. Semoga Allah berikan yang terbaik.

Maret lalu, setelah aku ikut pelatihan BEKAM di HPA pada bulan sebelumnya, aku mulai sering membekam tapi tetap seringnya kesulitan mencari orang yang bisa memBEKAM diwaktu yang pas, akhirnya akupun mengikutkan Mbak End pelatihan BEKAM. Dan ternyata Mbak End beminat sekali, sekarang Mbak End lah yang rutin memBEKAM ku tiap 1/2 bulan sekali dan aku juga yang membekam Mbak End 1/2 bulan sekali. Mbak End juga penderita Ashtma sama sepertiku. Kisah tentang BEKAM inilah akhirnya yang merubah cita-cita Mbak End.
Ceritanya suatu hari beberapa Ibu majelis Taklim tempat Nyai ada yang mau minta Bekam, Ammah Evipun minta ditemani. Awalnya aku yang akan berangkat, tapi ternyata aku ada agenda lain, dan saat itu Mbak End sudah pulang sekolah. Dan Mbak End bersedia menemani Ammah Evi membekam. Singkat ceita Mbak End menuai banyak pujian dari ibu-ibu yang dibekamnya bahkan dapat uang sebagai imbalan jasanya membekam. Mbak End senang sekali, pulangnya langsung bilang bahwa Mbak End tidak usah kuliah Kebidanan karena Mbak End mau jadi ahli BEKAM saja. Luar biasa. Aku kaget sekaligus bersyukur, rasanya lebih mungkin memenuhi harapan Mbak End untuk jadi ahli BEKAM, dibenakkupun langsung ada rencana untuk mengikutkan Mbak End ke MTN, agar lebih faham ilmu BEKAM lanjutan juga tekhnik pengobatan ala Nabi lainnya nanti setamat Mbak End SMA.

Teriring do'a, agar mampu lalui dan dimudahkan dalam UAN tanggal 18 April 2011, senin besok untuk Mbak End kami.
Sucses ya Mbak.....Mbak End pasti BISA :)

Aksi Palestine, masa ada Mbak Ika.

Sebelum belajar bekam Mbak End memang sudah ada bakat dalam hal urut dan pijat. Hal ini sudah diakui oleh Nyai Sun ataupun Jidah Off, jadi Insya Allah kedepan Mbak End akan sucses jadi therapis yang handal. Selain itu, akupun ada niat masukin Mbak End PGTK karena menurut ku ilmu di sini banyak manfaatnya dan berdasarkan anjuran banyak teman yang sudah kenal Mbak End.

"Masukin PGTK aja Ke', cocok buat Mbak Endang yang senang dan mudah dekat dengan anak-anak. Dan biayapun terjangkau" begitu kira-kira usul mereka.

Adalagi komentar lucu beberapa orang kawanku yang kenal Mbak End.

"Ke'....kalu masih ado yang model Mbak Endang, pesen sikok yo, aku galak"
Terjemahannya : "Ke'....kalau masih ada yang model Mbak Endang, pesen satu ya, aku mau"

Wew.....emang barang, pake pesen segala, hehe

Penutup tentang Mbak End, keberadaannya sangat berarti buat kami sekeluarga. Ia bisa jadi teman yang baik untuk anak-anakku, Mbak End bahkan bisa diandalkan untuk sesekali menggantikanku nyimak ngaji dan muroja'ah hafalan Yunda, Mbak End bisa jadi therapis BEKAM untukku juga bisa dengan sangat cekatan membantu menyelesaikan kerjaan RT, terutama saat sedang kosong khadimat seperti saat ini. Tapi besok Mbak End harus fokus untuk UAN bahkan Abipun sudah siap membantuku mencuci menggantikan Mbak End selama UAN. Siip....siip :)

Jumat, 15 April 2011

Kembali ke Madu

Sebenarnya ingin ikut dalam lomba menulis tentang "saat buah hati sakit",
deadline 18 April 201. Semoga masih ada waktu.
Lagi mengumpulkan refrensi dan mengulik-ulik ide.
Kebanyakan yang ingin disampaikan jadi bingung sendiri mau mulai dari mana.

Yach intinya ingin berbagi, bahwa sejak 6 bulan terakhir saat anak-anak sakit maka madu dan obat-obatan herba lainnya menjadi pilihan utama.

Tentang madu, tak ada lagi keraguan. Jelas dalilnya (baca posting : Madu itu...., maret 2011). Kita hanya perlu jeli memastikan keasliannya. Karena banyak madu yang dijual ternyata bukan madu murni. Yang jadi masalah berikutnya, ternyata tak semua anak senamg minum madu. Bagian ini mungkin hanya belum optimal mengupayakannya, hihi....jadi malu.
Tapi ini nyata, karena Yunda, sulungku tak SUKA madu. Why?
Tak jelas mengapa. Hanya tak suka.
Jadi pilihan obat untuk Yundapun beralih ke Habatussauda (baca juga: Habatussauda, posting akhir maret 2011) dan Kopi Radix.

Habatussauda adalah obat dari segala macam penyakit kecuali kematian 

(H.R. Bukhari).

Obat favorite Yunda, Abi dan Ummi juga :)
 Akang lain lagi, ia justru suka sekali madu. Bahkan MADU PAHIT yang pernah dibawa Abi dari Bangkapun SUKA. Hingga saat ini obat andalan untuk Akang adalah semua yang mengandung MADU termasuk madu murni. Batuk filek pakai Extragreen, demam Extragreen plus madu. Bila adanya Spirumadu ya bisa juga pakai Spirumadu Kids, masih produck HPA juga. Bila batuknya lumayan berat ditambah juga dengan Habbatusauda, syukurnya dalam sebulan terakhir Akangpun sudah bisa minum kapsul Habatussauda tanpa harus dibuka. Hebat kan !!!

Andalannya Akang Hamas.
Sementara untuk obat luar, seperti luka, bisul atau bekas gigitan serangga bahkan jerawat, kami sekeluarga cukup pakai minyak But, sekarang kemasannya berganti Minyak Jawi 99. Hanya saja, karena baunya kurang sedap, cie....jujur aku agak kesulitan meyakinkan orang lain akan khasiat minyak ini. Padahal bila sudah mencoba dan YAKIN akan terasa manfaatnya. Pegel linupun bisa diatasi dengan minyak AJAIB ini.

Ajaib untuk semua anggota KELUARGA, Mbak Endang apalagi :) 
Dulu awal kenal minyak but-but, saat anak-anak masih bayi wech seru dech....berasa manfaatnya. Kejedut langsung oles, digigit nyamuk dan semut lanjut juga. Pokoke serba but-but. Karena semangatnya langsung promosi di Puskes, hasilnya....yups asli diledekin, dibilang minyak jelantah (minyak bekas penggorengan). Kasian kan, hikszz....dakpapa dech, ujung-ujungnya banyak juga warga Puskes yang demen dengan minyak ini, walau tak semuanya. Ssttt...ntar kapan-kapan ya kita buka-bukaan tentang keajaiban plus keunikan minyak ini.

Akhir tulisan, kok kayak promosi obat yak?
Tak tau lah ya....maka masih perlu waktu untuk menyulapnya menjadi "tulisan" yang layak dilombakan :) Tinggal 3 hari lagi nich....BISA !!!
BISA donk....dah lama kan ndak nimbrung dilomba-lombaan, ehmmmm....

Kamis, 14 April 2011

Semusim Sudah Berlalu

Tak terasa sudah lewat semusim yang lalu
Saat rasa sedih perpisahan itu nyata
Tak banyak kata
Waktu untuk saling berceritapun sudah enggan menyapa

Ya....semua ternyata sudah hampir setahun yang lalu
Sekarang rasa kehilangan itu sudah berganti
Yang ada hanya kerinduan
Akan kah kita bisa bertemu lagi?

Dirimu satu yang mengajarkan ku untuk selalu TEGAR berdiri
Keberadaan kita harus terus punya arti
Adalah orang lain, hanya bisa menilai
Tapi kita yang lebih tahu, bagaimana seharusnya :0

Saat rindu terkuak kala dikau menelfonku subuh tadi,
hanya untuk konsul kesehatan?
What?
Berapa banyak dokter spesialis yang bisa diajak diskusi di Kota tinggalmu sekang
Akupun semakin tersadar, begitulah caramu memberi arti diri seorang saudara

Tak terasa sudah setahun kita tak lagi bersama sebagai tetangga
Dan ketahuilah, bahwa warisan tanamaman darimu masih kurawat
Bahkan belimbingnya sempat kami panen
Ranum dan lebat buahnya
Pohonnyapun semakin tinggi, semakin terasa sesak halaman mungil kami

Ranum...ini foto belimbing setahun yang lalu, sesaat setelah kepindahan pemiliknya.
Bulan Septenber 2010 sempat berbuah lagi tapi sedikit dan tak terabadikan. Bulan ini buahnya semakin banyak.

Menggok, dak lurus.Pertumbuhan tak optimal.

Ada yang terkena serangan ulat bulu.

Masih ada yang berbungga.
Ulat bulu yang merusak belimbingku
Semoga bukan seperti serangan hama di TV

Tidak banyak, tapi sudah merusak, apa ya solusinya?
Kedondong?
Ternyata belum juga berbuah, hanya pernah berbunga
Dua bunga pudding semakin besar, walau tak subur maksimal
Sepertinya harus segera diganti media (kapan ya?sedih@com)
belum sempat upload fotonya

Minggu, 10 April 2011

Rihlah di MUKERDA

Pemancingan Glora, Tangga Buntung
( Episode Rihlah )

Maksudnya, ikutan Abi yang MUKERDA DPD PKS Palembang,
kami sekeluarga sekalian rihlah dech....

Yunda, Yuk Ais, Fathi, A'am dan Akang main jungkat-jungkit.
MUKERDA kali ini dikemas unik dan cerdas, bertempat di Lokasi Pemancingan Glora.
Ba'da acara formil langsung disambung lomba pancing dan mendayung KANO :) Seru....

Bahkan saat acara MUKERDA sedang berlangsung para KC ~ kader kecil sudah mulai mancing duluan.
Ami Kepanduan dan Ammah Santikanya yang ikut dihebohkan.
Syukurlah bawa alat pancing lengkap, pinjaman dari keluarga Kak Hodsay.

Mancing euy....senengnya bisa dapet IKAN :)
Alhasil Yunda berhasil dapat 4 ikan, senengnya. Ada yang lebih banyak lagi, A'am ( anaknya Kak Adi ) berhasil dapat 6 ekor ikan.

Ba'da dzuhur, saat lomba pancing resmi dimulai anak-anakpun tergeser.
Dan merekapun mencoba naik KaNo.

Ber- KaNo ria....bukan lomba.
Abi hebat ya....serasa menuntaskan kerinduan masa kecil di 5 ULU.
Sebelum para Abi lomba KaNo, nyobain dulu bareng para junior.
Walau hanya jadi penumpang, ya iya lah mendayungkan butuh keahlian, jadi Abi dong ahlinya.
Dan Abipun serasa kembali ke masa kecil saat di 5 Ulu dulu. Siip...

Yang ini, Yunda ikut naik bebek kayuh bareng keluarga Kak Darussalam.
Akhirnya karena ada agenda menghadiri lamaran Ria ( anaknya Abang Farida ) maka kamipun pulang duluan. Langsung luncur ke KM 12. Dan sorenya baru nyadar saat Yunda nanya ikan hasil pancingannya, ya...Nak maaf ya lupa :(  Paling dah dibawa oleh para Ami panitia. Dan ternyata pancingnya Kak Hodsay ada yang nyebur, alhasil besok mesti ambil dulu ke Glora.

* Catatan: Pancing yang nyeburpun ketemu, masih rezeky....
                 Akang Yunda said;  kapan mancing lagi ???

Kamis, 07 April 2011

Bolak-balik Naik Busway

Naik Busway di Jakarta, Transjakarta.
Ke Dirjen PP & PL


Trus ke Dep Kes yang di HR Rasuna Said, jauh ya....3 kali transit :)



Di Palembang malah belum pernah naik Busway, TransMusi.

Minggu, 03 April 2011

Pegagan di Halamanku

Ada Pegagan di Halaman

Pegagan? Benarkah...Kok kecil-kecil ya daunnya, tak seperti gambar yang pernah kulihat.
Tapi ternyata ini pegagan beneran :) Mama yang bawa bibitnya dari Lampung. Alhamdulillah hidup, walaupun tak begitu subur.
 Masih nyampur dengan rumput liar. Ach kapan ya disiangi...

 Nach yang ini malah merambat ke dinding got.


Cerita Ilmiahnya Pegagan
Nama Latin : Hydrocotyle asiatica Linn.

Nama Daerah : rumput kaki kuda, antanan gede, panegowang, tikusan, pagaga, piduh, kori-kori, gagan-gagan atau kisukisu.

Klasifikasi :
Bangsa : Umbilifreales
Suku : Umbelliferae atau Apiaceae
Marga : Centella
Jenis : Centella asiatica (L.) urban.

Khasiat  :
Dalam pengobatan Alternatif Herbal
Infeksi batu saluran kencing, Kencing keruh, Susah kencing, Pembekakan hati, Campak, Bisul, Mata merah, Batuk darah ~ TBC, Muntah darah, Mimisan, Batuk kering, Demam, Radang amandel, Sakit tenggorok, Bronchitis, Darah tinggi.

Pegagan atau nama kerennya Centella asiatica itu tumbuhan liar yang ada di dataran rendah, sampai sekitar 2.500 m di atas permukaan air laut.

Secara empiris, biasa digunakan sebagai tonik, antiinfeksi, antirematik, penenang, mempercepat penyembuhan luka, dan diuretik. Berbagai penelitian telah dilakukan guna mendukung manfaat empirisnya.  Misalnya, penelitian yang merujuk pegagan sebagai antiinflamasi, antioksidan, antitumor, atau untuk meningkatkan daya ingat (susunan saraf pusat), eksem (luka terbuka), dan hepatitis. Hal itu berkaitan dengan kandungan senyawa yang dimiliki pegagan, yaitu asiaticiside, thankuniside, medecassoside, brahmoside, brahminoside, madastic acid, vitamin B1, B2, dan B6.

Dari berbagai penelitian in vitro terhadap pegagan menemukan kemampuannya menghancurkan berbagai bakteri penyebab infeksi, seperti Staphylococcus aureus, Escherechia coli, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella typhi, dan sejenisnya. Sementara dalam bentuk infus atau ekstrak etanol, tumbuhan ini dipercaya dapat menghambat pertumbuhan bakteri.

Laorpuksa A. dan kawan-kawan dalam penelitian pada 1988 membuktikan, estrak air pegagan dapat melawan bakteri yang menyebabkan infeksi pada saluran napas. Sementara Herbert D. dan kawan-kawan dari Tuberculosis Research Center di India mencoba efek pegagan pada bakteri tuberkulosis H37Rv secara in vitro. Hasilnya, pegagan tidak langsung berefek pada bakteri tuberkulosis. Namun, Herbert menyarankan penelitian lebih lanjut terhadap senyawa aktif asiaticoside. Feeling Herbert terbukti benar. Berdasarkan penelitian lanjutan, senyawa aktif pegagan itu ternyata dapat melawan Mycobakterium tuberculosis dan Bacillus leprae (Oliver-Bever, 1986). Penelitian berikutnya yang dilakukan Walter H. Lewis juga menyatakan, pegagan termasuk kelompok tanaman yang menghasilkan zat seperti antibiotika dan asiaticoside.

Keampuhan pegagan juga telah diuji coba oleh Boeteau P. dan kawan-kawan, yang menginokulasi binatang percobaan marmut dengan bakteri basilus tuberkulosis selama 15 hari. Injeksi 0,5 ml 4% asiaticoside yang diberikan pada marmut, terbukti dapat mengurangi jumlah lesi tuberkular di paru-paru, hati, dan limpa. Senyawa asiaticoside membuat pegagan tak hanya dapat menghambat pertumbuhan bakteri tuberkulosis, tapi juga berpotensi sebagai imunomodulator – peningkat daya tahan tubuh.

Secara empiris, pemanfaatan pegagan untuk membasmi tuberkulosis paru-paru dapat dilakukan dengan berpedoman pada resep berikut. Cuci 30 – 60 g pegagan segar, lalu rebus dalam 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas, dan diminum 3 kali sehari. Untuk TB kulit, lumatkan pegagan, kemudian tempelkan pada bagian yang sakit.

Jumat, 01 April 2011

Pertualangan Jum'at

Mendampingi suami mengadvocasi kasus tanah warga ke dusun di OKI.
Talang Jawa kecamatan Jejawi.
Benar-benar memprihatinkan.
Kehidupan yang termarginalkan, akan kah mereka merasakan sentuhan kemajuan pembangunan.
Adakah pemerintah tahu nasib mereka?
Apa yang dilakukan Umar bin Khatab bila saat ini beliau Khalifahnya? 

Benar miskinnya.
Bukan yang mengaku-aku miskin.
Wajar bila mereka mengajukan permohonan untuk mendapat bantuan hukum gratis.
Syukurnya Abinya anak-anakku sejak akhir 2010 yang lalu masuk jadi salah satu advocat di Bantuan Hukum Gratis untuk masyarakat tak mampu.

Perjalanan hanya bisa lewat transfortasi air yang sangat sederhana 'getek, perahu atau speadboat' itupun sangat terbatas. Atau bisa juga masuk dari Simpang Pamulutan naik motor trus nyambung nyebrang menyusuri tepian sungai Musi naik 'getek' atau perahu bermesin.
Dan ini yang kami lakukan hari ini.
Motoran sekitar 45 menit ke Polsek Pemulutan, nitip motor trus naik 'getek' sekitar 30 menit lagi. Jauh ya....yang pasti pegel di pinggang bakal awet sampai beberapa hari ke depan :)
 Wech ada bendera PKS euy....sakalian promosi PKS ni ke Pak Ernaldi, yang punya 'getek', sekali mendayung 2 3 pulau terlampaui :)

Seruunya berasa rihlah.
Berangkat 07.30 dari anter anak-anak ke sekolah, pulang jam 11-an lewat, ngejer Jum'atan di Polygon. Wow Musi II sedang padat-padatnya. Benar-benar bertualang nich ceritanya.
Kebayangkan nikmatnya, bertualang dengan orang terkasih untuk satu misi mulia dihari yang utama.
Semoga keridhoan-Nya menjadi milik kami. Aamiin