Sabtu, 06 Agustus 2011

Umrah di Ramadhan

Akhirnya sesuai yang telah dijadwalkan, hari Jum'at tanggal 5 Agustus bertepatan dengan Ramadhan hari ke-5, 1432 H kemarin, suamiku beserta rombongan Ayah Ibu, Cek La dan Papa Mama dengan Travel Ar Raudhah berangkat Umrah.

Pulang sekolah, Yunda Akang dan Genk Sepupu langsung ke Bandara, mengantar ;)
Akang menggoda Jidah, minta saku ;)

Akang terkantuk-kantuk dibahu Yai ;)

Yunda dan Datuk tampak cerah ceria...
Seperti yang sudah pernah kuceritakan sekilas, bahwa keberangkatan suamiku Umrah kali ini juga mengemban misi pengawalan, ech... maksudnya mendampingi Ibu dan Ayah. Ini sebenarnya rencan sejak lama, awalnya diharapkan terlaksana bulan Juni tapi Allah berkehendak lain. Selain itu, Ramadhan justru waktu yang sangat utama untuk melaksanakan ibadah umrah, maka diaturlah rencana untuk bisa berangkat dibulan Ramadhan. Seiring dengan itu pula, waktu untuk menabung jadi bertambah. Alhamdulillah akhirnya biaya Umrah cukup untuk 5 orang, akupun diikut sertakan, karena memang sumber dana adalah honor kerja sebagai pengacara dari Kantor Hukum suami dan Ayah mertuaku. Satunya lagi Ayah mengajak anaknya yang lain, Cekla (Ayuk Abinya Hamas). Maka atas pertimbangan aku dan suami, akhirnya jatah kursiku diserahkan ke Mamaku yang memang belum dapat antrian haji, sampai akhirnya kumpulan dana kami usahakan bisa menambah untuk satu orang lagi agar bisa mengajak Papaku. Alhamdulillah didetik-detik terakhir dana untuk itu dicukupkan Allah dengan cara-Nya yang tak kami sangka-sangka.

Behind the Screen, ini satu cuplikan saat mengantar rombongan yang mau Umrah ke Bandara kemarin, sebelumnya berkumpul di rumah Yai-Nyai, anak-anak baru pulang sekolah, mungkin karena senangnya tak ada yang merengek atau uring-uringan karena puasa, tetap full becanda ria. Tapi saat agak lama di Bandara, Akang mulai terkantuk-kantuk, akhirnya aku sarankan agar rombongan segera masuk agar kami para pengantar dapat pulang ke rumah. Dan saranku disetujui, dan saat pamit-pamitan si Akang malah mewek, nangis tersedu-sedu lupa dengan kantuknya. Kalau Yunda memang sudah tak heran lagi, waktu aku berangkat TKHI dulu Yunda kerap menangis, atau mata kacanya suka tak bisa disembunyikan, gue banget gitu lho, mudah nangis, lihat orang nangis saja langsung nyamber. Nach kalau Akang baru ini, waktu aku berangkat dulu Akang adem ayem saja.

Memang belakangan Akang sedang dekat-dekatnya dengan Abinya, dulu Yunda yang Abi banget, sedangkan Akang sangat lengket denganku. Ternyata tampa sadar, anak-anakku mengalami fase oedipus complex juga, teori psikoanalisis ala Sigmund Freud yang tak sepenuhnya kusepakati tapi terlanjur populer itu. Btw entah persisnya kapan kuamati anak laki-lakiku mulai suka menikmati canda dan cengkrama berdua Abinya.


Satu yang tak disangka-sangka  juga;
Akang menangis melepas Abi berangkat Umrah.
Erat memeluk Abi sambil tersedu ;(
Yang tak mau kalah, fose ala pengantin baru ;)
Motivasi besar yang juga melatar belakangi keberangkatan Umrah di Ramadhan ini adalah,
Umrah di bulan Ramadhan pahalanya lebih besar daripada di bulan-bulan lainnya. 
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam sehabis pulang dari haji Wada’ berkata kepada seorang wanita dari Anshar bernama Ummu Sinan :

“Apa yang menghalangimu untuk berhaji (denganku).”
Ia menjawab: “Abu Fulan (suaminya) memiliki dua onta.
Salah satu dipakainya untuk berhaji dan yang lain untuk mengairi persawahan.” 


Maka Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda kepadanya:
Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan dapat mengganti haji bersamaku.”
(HR Bukhari no 1863; Muslim no 3028)

Dalam konteks yang lain,
"Umrah di bulan Romadhan sebanding dengan haji atau haji bersamaku." (HR: Bukhari dan Muslim)
Betapa besar keberuntungan orang yang umrah di bulan Ramadhan. Ia bagaikan berhaji bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam , seperti orang yang menyertai Beliau dalam ihram, sa'i dan thawaf dan seluruh manasik haji Beliau.

*** 

Tak terasa ini sudah hari ke-3 sejak rombongan suamiku berangkat. Dari khabar yang memang rajin dikirim suamiku, Alhamdulillah perjalanan lancar. Dari Jedah langsung ke Madinah. Sabtu 6 Ramadhannya sudah sholat dzuhur di Masjid Nabawi. Siang ini sedang bersiap berangkat ke Mekkah untuk Umrah pertama yang mengambil miqot di Bir Ali, sebuah masjid yang berjarak sekitar 5 Km dari pusat kota Madinah, tempat miqot untuk penduduk Madinah dan sekitarnya yang ingin haji atau umrah seperti yang dicontohkan Baginda Rasulullah, SAW. Sedangkan informasi cuaca, ternyata saat ini sedang musim panas, sekitar 52 derajat Celcius. Terlebih di Padang pasir tentu terasa lebih menyengat. Dan durasi waktu puasa yang juga lebih panjang. Terserta do'a kami...
"Semoga lancar dan sehat semuanya ya Bi...
Jaga Nyai Yai, Datuk Jidah dan Wak Lela."
Dan akupun disini sangat terasa harus lebih kuat berjuang semasa suami tak di rumah, termasuk dalam membangunkan Yunda Akang sahur, karena biasanya ada sosok Abi mereka yang selalu siap dengan semua bentuk respon manja khas anak-anak bangun sahur. Alhamdulillah anak-anak tetap semangat puasa dan tarawihnya. Abi pasti bangga pada kalian Nak...

2 komentar:

IbuDini mengatakan...

Allah sudah mengatur rejeki umatnya....dengan cara yang kita tidak duga dan ketahui...pasti akan kita dapatkan bila niat kita baik dan karna allah.

Moga perjalannanya semua lancar dan Yunda gak sedih lagi.

umroh mengatakan...

alhamdulillah,,
rahmat yang tak terkira,,
bisa umroh bersama keluarga,,
menjadi dambaan setiap orang.