Rabu, 03 Agustus 2011

Menanamkan Budaya Tertib pada Anak

Nilai kebaikan sejatinya memang harus kita tanamkan pada anak-anak kita sedini mungkin. Sejak mereka bisa membedakan kanan kiri. Termasuk budaya tertib. Mudah tampaknya, tapi prakteknya butuh perjuangan, perlu sabar yang tak bertepi. Anak-anak adalah sosok mereka sendiri bukan sosok kita dalam bentuk mini. Seringkali karena lupa atau kebablasan anak-anak kita pola untuk menjadi seperti kita termasuk dalam hal melaksanankan ketertiban, kita lupa bahwa tertib pada anak belum membudaya, jadi harus sering kali diingatkan.

Menanamkan budaya tertib pada anak selain harus sering diingatkan juga yang terpenting adalah harus dicontohkan. Karena ketauladanan jauh lebih berpengaruh pada anak-anak daripada kata-kata beruntun yang tak disertai contoh. Misal kita ingin anak-anak kita hidup disiplin dan tertib dalam kesehariannya, pulang sekolah langsung buka sepatu dan meletakkannya di rak sepatu, buka seragam dan ganti baju. Tapi selaku orangtua kita tak melakukan itu, pulang ke rumah sepatunya menghambur, parahnya lagi karena memang tak ada rak sepatu, besoknya mau berangkat kerja sepatu tinggal sebelah karena pasangannya sudah diboyong anjing tetangga. Mau marah seperti apa juga percuma, anak-anak kita keburu merekam semuanya, dan mana ada anjing yang tahu budaya tertib.

Jadi susah dong menanamkan budaya tertib pada anak? Ye, siapa bilang. Tinggal kita yang harus faham caranya. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang paling kecil dan mulailah sekarang juga. Ini jargon yang sangat tepat untuk menanamkan budaya tertib pada anak. Yang tak kalah penting manfaatkan moment untuk memasukkan nilai kebaikan kepada anak kita. Saat mereka sedang kesal atau asyik bermain dengan teman sebayanya tak ada guna kita paksakan petuah-petuah berharga, sebagus apapun tak akan menarik minat mereka. Tapi bila mereka sedang senang, menjelang mereka tidur atau saat berwisata bersama, maka tampa sadar anak-anak kita akan merekam apa yang disampaikan. Kalau perlu kita hipnotis mereka memakai beragam nilai kebaikan dengan mengulanginya berkali-kali atau menonton tayangan bergizi bersama anak-anak, why not?
Salah satu cara menanamkan budaya tertib pada anak, lewat media.
Dijamin ampuh, cobalah ;)
Satu lagi moment yang bisa kita gunakan untuk menanamkan budaya tertib pada anak-anak kita, yaitu saat bulan Ramadhan. Betapa banyak acara TV yang mengangkat soal keutamaan bulan suci Ramadhan, buku cerita anak-anak juga sekarang banyak bertaburan yang berkisah tetang indahnya Ramadhan. Semarak acara di lingkungan kitapun mendukung, masjid yang selalu hidup dengan tadarus juga meriahnya saat taraweh. Kesan yang dengan mudah ditangkap oleh anak-anak kita bahwa Ramadhan memang berbeda. Selanjutnya kita manfaatkan sebaik mungkin moment ini, Ramadhan saatnya mengup grade budaya tertib pada anak-anak kita. Kita bisa membahasakan bulan Ramadhan sebagai bulannya latihan tertib, tertib saat berbuka, tak boleh lho sebelum adzan magrib. Makanan saat berbuka juga harus diatur ketertibannya jangan sampai berlebihan minum sehingga tak bisa makan lagi. Sahur juga ada adab tertibnya, bagaimana bisa selesai tuntas sebelum habis waktu, maka perhatikan aba-aba saat imsak. Taraweh juga begitu, harus ikut sholat jangan sibuk bercanda sehingga menggangu kekhusyukan jama'ah lainnya. Wach ini sich curhat pribadiku mengelola tertib Ramadhan bersama anak di rumah.

Apapun ternyata menanamkan budaya tertib pada anak haruslah penuh cinta bukan dibawah paksaan apalagi tekanan. Agar budaya tertib tersebut benar-benar berkesan dan membekas menjadi ukiran indah sampai mereka dewasa nanti dan saat itulah mereka berhasil membuktikan sungguh indah warna dunia yang diajarkan pada mereka. Dan selanjutnya siap mereka wariskan pada generasi penerus kita kelak.

    ANAK BELAJA DARI KEHIDUPAN ( Dorothy Law Nolte )
 Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
 Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar membenci
 Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah
 Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri
 Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri
 Jika anak dibesarkan dengan rasa iri, ia belajar kedengkian

 Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
 Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
 Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
 Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
 Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai
 Jika anak dibesarkan dengan keadilan, ia belajar rasa aman
 Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri 

 Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan
 Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan
 Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
 Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran
Jika anak dibesarkan dengan keramahan, ia meyakini sungguh indah dunia ini
Dan tentu saja, jika anak diajari tertib sejak dini dengan cinta dan ketauladanan maka budaya tertib akan jadi gaya hidupnya. Tak percaya? Buktikan sendiri ;)


Artikel ini di ikutsertakan di ADUK nya Pakde Cholik dari Surabaya.

22 komentar:

Bunda Loving mengatakan...

Selamat puasa yu'...semoga menjadi pemenangnya...
Alhamdulillah..budaya tertib ini sudah sedari dulu kami terapkan dalam kehidupan kami...

Yunda Hamasah mengatakan...

Bunda Luv:
Terima Kasih ya sudah baca dan berekunjung...

Wach syukur Alhamdulillah ya Bun, aku masuih harus terus belajar.
Btw, iya nich bun makasih dukungannya namun sayang dari tadi aku g bisa daftar juga, gagal terus, Wordpress Error katanya, so walahu'alam ni ;)

Djangan Pakies mengatakan...

assalamu'alaikum,
bulan ramadhan adalah waktu yang tepat membiasakan hal-hal yang baik pada anak.
budaya tertib memang harus dimulai dari rumah. Dan keteladan orang tua adalah modal utama dalam menenamkan ketertiban pada anak. shalat berjamaah tepat waktu juga merupakan salah satu sarana yang sangat bagus untuk memulai budaya tertib pada anak, Insya Alloh

Oot: paketnya udah nyampe belum ya Mbak, soale saya kirim via pos

Lyliana Thia mengatakan...

Nah yaaa... sepatunya Mbak Keke digondol anjing tetangga yaaa...? ahahahaaa...

Mbak... si Syamil dan Dodo tuh favoritnya Vania banget deh... ia tiap hari nonton... setiap ke toko buku pasti qta juga berburu video syamil klo ada yg belom punya... qeqeqeqeq...

Klo Vania belom aku ajak ke masjid utk tarawih Mbak, paling klo pas buka puasa maghrib atau sholat biasa aja... takutnya malah rewel... hehehe...

senengnya Yunda udah bisa terawih bareng Umi ya... heheheee... *aku nggak sabar jadinya*

Abdul Cholik mengatakan...

Saya telah membaca artikel diatas dengan cermat
Akan langsung saya catat
Terima kasih atas partisipasi sahabat.
Tak lupa saya mohon maaf atas segala kesalahan lahir dan batin. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan.
Dari Surabaya saya kirim salam hangat

ita mengatakan...

mbak, like this banget dah ^^
sukses yaaaa :)

Tarry KittyHolic mengatakan...

Mau jd apa anak2 kita, trgntng bgmn kita mendidiknya kayake (halah ky yg pny anak aja) xixixiMau jd apa anak2 kita, trgntng bgmn kita mendidiknya kayake (halah ky yg pny anak aja) xixixi

Abdul Cholik mengatakan...

Cara merubah form komentar yang bisa mewadahi profile pengunjung.

1. Masuk ke dashboard-design
2. Klik : setting
3. Klik : comments
4. Centang (klik pada bulatan)
- Comments : centang yang : Show
- Who Can Comment ? : centang : anyone
- Commnet Form Placement :embedded below post.

5. Dengan form tsb. maka saya tidak harus memilih "Google Account " tetapi bisa mengisi kolom " Name " dan "Url" blog punya saya yang mana saja.
Dan juga memasang foto lain, bukan foto ini, yang hormat terus he he he he

Selamat mencoba

Salam hangat dari Surabaya

Hariyanti Sukma mengatakan...

Seandainya ...budaya tertib itu sudah diterapkan di setiap rumah, tentu di sekolah udah gak kewalahan lagi para guru ya, mbak...
Jujur nih .... kami para guru semakin sulit mengajak anak utk tertib dlm berbagai hal, yg sederhana saja spt buang sampah pada tempatnya susah banget, padahal sdh anak SMA loh.

Semoga jadi pemenangnya ya, mbak. Aamiin.

Cikal Ananda mengatakan...

Tangungjawab kita semua yang TUA untuk mengajarinya,,..
Sukses ya,,
makasi,,.

Yunda Hamasah mengatakan...

Pak Ies:
Terima Kasih atas kunjungan dan dukungannya ya ;) Tafsir Al Qur'annya sudah aku terima di Ramadhan hari pertama, aku sempat ngabari dikolom comment "kebiasaan" yang Pak Ies buat. Sekali lagi terima kasih banyak ya Pak, sudah aku pakai walau baca terjemahannya tak begitu runut karena ngejer target khataman, hehe...

Tia:
Yang digondol anjing itu buakn sepatuku Tia,(serius jawabnya, qeqe..)
Akang Yunda juga suka Syamil Nadia lho, sama dengan Vania ya ;)
Kalu Yunda tarawehnya dah tertib, Akang yang masih suka becandaan, begitulah anak laki2 lebih heboh dech kalau taraweh, haik curhat lagi :(
Ayoo Vania cepet gede ya biar diajak Bunda tarawehan, seru lho...

Yunda Hamasah mengatakan...

Pakde:
Terima Kasih ya Pakde, kirain tak terlacak sebab nggak bisa daftar di kolom komentar, gagal mulu ;(
Matur Nuhun atas ketertibannya melaksanakan ADUK ini, jeli sekali padahal kan puasa *apa ya hubungannya, hehe...

Yunda Hamasah mengatakan...

Mbak Ita, Mbak Yanti, Mbak Tarry, Pak Cikal:
Terima Kasih sudah ikut membaca dan berkunjung keblog ini, semoga makin barokah ;)

Selamat berpuasa dan semoga kita mendapat kemuliaan di Ramadhan nan agung ini, Aamiin YRA

dey mengatakan...

yang pasti sih, sebagai ortu (didukung lingkungan sekitar) harus memberi contoh nyata ya mbak .. karena anak2 biasanya lebih ampuh kalo dikasin contoh.

puteriamirillis mengatakan...

pelajaran bagi saya..makasih sharingnya mbak...

IbuDini mengatakan...

Yang penting budaya tertib ini kita lakukan dengan baik dimulai dari diri kita dan rumah kita....
Jika ini sudah berhasil kita lakukan , dimanapun kita pasti akan tertib maka damailah indoneisa kita tercinta ini.

Dhymalk dhykTa mengatakan...

Saya sangat terkesan dengan point2 ANAK BELAJAR DARI KEHIDUPAN ( Dorothy Law Nolte ).

seharusnya memang di tanamkan yg terbaik sejak balita, bahkan sejak masih dlm kandungan ibu, setiap attitude ibunya akan di follow oleh sang janin ketika lahir kedunia nanti, itulah pernah seorang muballigh mengatakan sering2lah memutarkan murottal kepada sang janin agar bisa bermental QURANI,

Wallahu A'lam

Abi Sabila mengatakan...

Selamat! Untuk kesekian kalinya tulisan Bunda berhasil memenangkan kontes, termasuk postingan ini. Semoga bisa menambah semangat untuk terus saling mengingatkan, menguatkan dan mendoakan melalui tulisan.

Mohon maaf, belakangan ini saya jarang bersilaturahim, semoga tidak mengurangi rasa persahabatan. Insya Allah.

Mas Coro mengatakan...

mbak blognya terinveksi virus malware kayaknya.....

Yunda Hamasah mengatakan...

Ibu Dey:
Iya Bu dengan contoh memang paling ampuh ya ;)
Terima Kasih sudah berkunjung...

Putri:
Terima Kasih sudah membaca tulisan ini ya...

Ibu Dini:
Iya Bu, sepakat sekali. Terima Kasih ya...

Dhymalk:
Iya Pak memang sungguh indah ;)
Terima Kasih sudah berkunjung...

Abinya Sabila:
Terima Kasih untuk info dan dukungannya...
Aamiin, semoga silaturahim yang penuh barokah ;)

Mas Coro:
Iya Mas? Gimana cara mengobatinya? BTW, terima kasih infonya ya...

Vania Anandita mengatakan...

Horeee... Ummi Yunda berhasil setting kolom komentarnya!!!

Selamat yah Tante... artikelnya emang bermanfaat sekali nih...

Tapi Vania belum bisa tertib tuh... hihihi... lebih enak klo bikin Bunda teriak2 sambil lari2 ngejar Vania... hehehehe

Atasi Wc Mampet Tanpa Sedot mengatakan...

menarik dan bermanfaat sekali nih infonya
du tunggu info selanjutnya
terimakasih