Ini adalah kisah abadi di dalam Al Qur'an, yang disampaikan Bapak Yogie Safril, Kepala Sekolah SDIT Bina Ilmi didepan para siswa/i saat hari pertama sekolah (16/7). Aku yang memang masih menunggu di pinggir lapanganpun ikut menikmatinya.
Epilog
Prolog
Kisah yang dibuka dengan sebuah dialog antara Yusuf Kecil
dengan Ayahandanya Nabi Ya’qub AS tentang mimpi besarnya, tunduk sebelas bintang, matahari dan bulan di hadapannya.
(Ingatlah)
ketika Yusuf berkata kepada ayahnya :” Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari
dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku“ (QS Yusuf:4)
Mungkinkah ?
Melihat adegan
demi adegan berikutnya, rasanya tidak mungkin Yusuf akan berhasil mewujudkan
impiannya. Persekongkolan jahat antara syetan dan saudara-saudaranya telah
merubah arah perjalanan hidup Yusuf dan menyimpangkan langkahnya menuju
impiannya. Dan setelah itu
hanya penderitaan demi penderitaan yang menemani hari-harinya.
Dipisahkan secara paksa dari orang yang
dicintai dan mencintainya, terkurung di kegelapan dasar sumur tua, menjadi
budak yang diperjual belikan di pasar. Itulah urut-urutan berikutnya dari
perjalanan hidup Yusuf sampai akhirnya dia dibeli oleh seorang bangsawan Mesir
untuk dijadikan pelayan di rumahnya sampai Yusuf tumbuh menjadi
seorang lelaki dewasa yang sempurna ketampanannya laksana malaikat yang mulia.
”
....Dan mereka berkata : Maha Sempurna Allah, ini (Yusuf)
bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia ” (QS Yusuf: 31)
Ternyata penderitaan belum berakhir, ketampanannnya justru
kemudian mengantarkannya ke puncak penderitaannya, dijebloskan ke penjara yang
pengap tanpa salah. Di mana mimpinya dahulu ? Apa yang bisa dilakukan Yusuf
dalam penjara untuk mewujudkan impiannya ?
Subahanallah, luar biasa, dalam puncak deritanya
justru Yusuf mampu menemukan dan mengasah potensi dirinya, dia mampu menemukan
titik terkuat dalam dirinya. Maka meskipun samar dan tersembunyi celah
keberuntungan mulai menghampiri dirinya. Prestasi kecil yang diraihnya ketika
menjawab problem yang dihadapi dua temannya di dalam penjara menjadi The
Turning Point menuju impiannya, walaupun dia masih harus menunggu beberapa tahun lagi. Tapi Yusuf tidak putus asa, dia tetap berusaha, berusaha dan
berusaha meningkatkan kompetensi dirinya walaupun berada di balik penjara yang
pengap.
Akhirnya saat itu tiba, peluang besar terkuak dan tidak ada seorangpun yang mampu mengambilnya
kecuali Yusuf. Maka dari balik penjara yang dingin dan pengap dia berjalan ke
istana yang hangat dan megah mengambil peluang besar tersebut sambil berkata :
” Jadikanlah aku bendaharawan negara
(Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai lagi berpengetahuan ” (QS Yusuf: 55)
Jalan menuju impian semakin
terkuak lebar di hadapan Yusuf, derita tak lagi mampu menahan langkah Yusuf
untuk meraih takdir yang diimpikannya semasa kecil; sebelas bintang, bulan
dan matahari bersujud di hadapannya. Dengan air mata berlinang
Yusuf merayakan kemenangannya sambil bersimpuh dan menengadahkan ke dua belah
tangannya kemudian dengan suara lirih berkata :
”Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh ” (QS Yusuf: 101)
”Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh ” (QS Yusuf: 101)
“ Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas
singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan
diri seraya sujud. Dan berkata Yusuf “ Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku
yang dahulu itu; sesungguhnya Rabbku telah menjadikannya suatu kenyataan…..”
(QS Yusuf:100)
Demikianlah adegan
terakhir dalah kisah dramatis ” Yusuf Menggapai Mimpi”. Salah satu kisah
dalam Al Qur’an yang berhasil menyabet predikat “Ahsanal Qoshos” (The
Best Story).
“Kami menceritakan kepadamu kisah
yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya
kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum
mengetahui “ (QS Yusuf : 3)
Ini bukan cerita pengantar tidur, bukan kisah dari negeri antah berantah, tapi sebuah pelajaran Tuhan yang mengguncang
fikiran, menjungkir balikkan paradigma, menyengat perasaan dan membakar jiwa.
Sebuah taujih Rabbani yang akan menghapuskan kata ”Tidak Bisa” dalam
kamus kehidupan, membuang kata ”Tidak Mungkin” dalam catatan harian.
Sebuah penawar Ilahi di saat duka dan putus asa.
Mimpikanlah keberhasilanmu sekarang, jangan hindari jalan yang
paling sulit untuk dilalui, panjatlah gunung yang paling terjal untuk didaki, bila perlu ambil laut yang terdalam untuk disebrangi, kemudian bersabarlah sebentar
maka yakinkanlah jalan menuju impian itu akan terkuak lebar di hadapanmu. Terakhir, jangan lupa rayakan kemenanganmu dengan ledakan rasa
syukur, guyuran air mata ikhlas, dan rintihan do’a pada Sang Pembuat Takdir
dari mimpi-mimpi kita.
Sekarang ambilah buku harianmu, tuliskan tebal-tebal dengan huruf paling
besar tentang MIMPI-MIMPIMU, yakinkan hatimu akan mampu meraihnya, kemudian bersabarlah, maka BANGKITLAH karena KALIAN adalah YUSUF DARI MIMPI ITU.
***
Aku bukannya ingat kata perkata, tapi kisah ini sama dengan isi ceramah pekanan yang aku dapat beberapa bulan lalu, kali ini aku sajikan dengan sedikit peng-editan. Semoga bermanfaat...