Jumat, 18 Januari 2013

Galau Setelah Mengenal Ibu Ainun

Buku karya Pak Habibie yang berjudul Habibie & Ainun memang telah lama terbit. Dan lumayan jadi buah bibir. Tapi tak dapat dipungkiri, baru setelah film yang dibintangi Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari ditayangkan, sosok Habibie & Ainun makin dikenal khalayak. Ibu Ainun yang luar biasa jadi bahasan dibanyak forum. Dan hari ini, seorang sahabat sempat menceritakan kegalauan hatinya, saat mendengar seseorang membahas tentang keutamaan menjadi ibu rumah tangga dengan bercermin dari sosok Ibu Ainun.

Sosok Ibu Ainun yang bagaimana? Mari sejenak kita samakan persepsi :D Seperti yang diketahui banyak orang, termasuk aku bahwa meskipun Ibu Ainun punya latar belakang pendidikan yang tinggi, lulusan kedokteran dari sebuah Universitas Negeri ternama, namun tetap memilih untuk menjadi ibu rumah tangga sejati. Dalam kutipan yang beredar dari tulisan Ibu Ainun:
“Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir: buat apa uang tambahan dan kepuasanan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? apa artinya ketambahan uang dan kepuasan professional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu”
Galaunya sahabat tersebut sebenarnya terkait langsung dengan keberadaan Ibunya yang seorang wanita bekerja. Secara pribadi dirinya tak menerima ketika ada opini dari tulisan yang dibacanya (seolah) memojokkan wanita bekerja. Baginya meski Ibunya bekerja tapi tetap bisa mengurus keluarga dengan baik, dirinya dengan saudaranya yang lain bahkan begitu salut dengan perjuangan Ibunya. Ibunya bekerja disebuah stasiun TV yang jam kerjanya sangat tak menentu, terkadang sampai malam, malah saat iedul fitri dan adhapun sering harus tetap bertugas. "Ibuku tetap hebat meski bekerja diluar rumah", kira-kira begitu jerit hatinya. Ya aku menjadi saksi bahwa sang anak tumbuh menjadi wanita sholeha yang mandiri, amanah dan cerdas yang tetap mengakui bahwa jasa Ibundanyalah yang mengantarnya bisa seperti sekarang ini. Aahaaaa, kegalauan seorang anak dari Ibu yang bekerja diluar rumah dan sebenarnya juga adalah kegalauan banyak wanita bekerja lainnya. Akupun pernah mengalaminya. Syukurnya masa itu telah berlalu.

Dulu masa-masa awal punya anak aku jelas ingin mengasuhnya dengan tanganku sendiri, total, agar kelak anak-anak merasakan betul keberadaanku sebagai guru pertama dalam kehidupan mereka. Tapi semuanya berjalan beriringan dengan yang lainnya. Ada beberapa kondisi yang mendorongku sampai akhirnya mau jadi pegawai negeri. Padahal semasa kuliah dulu aku bersama banyak rekanku sudah terobsesi untuk jadi ibu rumah tangga sejati, punya klinik di rumah sendiri dan tak berminat sama sekali dengan namanya bekerja diluar rumah, apatah lagi jadi abdi negara. Hadeeeh, ribet, terikat waktu dan gajinyapun sering dibilang tak standart. Namun seiring berjalannya waktu ternyata banyak suara hati dari orang-orang terkasih yang harus juga aku dengar. Bahkan Ibunda tercinta yang seorang ibu rumah tanggapun berkeinginan supaya anaknya ini bisa jadi pegawai negeri.

Ya singkat cerita atas permintaan orangtua pada akhir 2004 aku mendaftarlah diri sebagai abdi negara. Di terima, maka mulai 01 janiari 2005 aku resmi menerima gaji dari negara. Alangkah bahagianya kedua orangtuaku. Akupun bersyukur bisa merasakan juga bahagia itu. Hanya suamiku yang ketar-ketir. Nanti bagaimana kelanjutannya. Bukankah janjinya hanya menjalankan PTT di kampung halaman Ayahandaku, Way Kanan, Lampung. Saat itu durasi PTT masih 3 tahun, nah kok malah jadi pegawai tetap. Bisa pindah ke Palembangkah nanti? Berbekal pada prasangka baik pada-Nya kami menjalani hari sampai masa tiga tahun pertama. Ketika akhir tahun 2007 ada celah untuk pindah, semua urusannya aku jalani. Mulai dari menghadap kadinkes, mengurus rekomendasi ke tempat yang mau menerimaku di Palembang aku lakoni dengan semangat baja. Sampai masuk masa satu tahun tak ada kemajuan. Maka pada Agustus 2008 aku bisanya hanya pindah tempat tugas masih di Kabupaten yang sama.

Sebenarnya sepanjang masa itu aku tetap bisa mengurus anak-anak dengan optimal, artinya masa bertemu mereka memang sangat leluasa. Anak-anak bahkan sering ikut aku ke puskesmas, karena memang jaraknya dekat dengan rumah Datuk mereka dimana aku tinggal. Hanya suamiku yang harus kerja jauh di Palembang, saat itu belum ada peluang untuk pindah bergabung bersama kami. Jarak 4-5 jam perjalanan  dengan kereta api ataupun bus yang harus ditempuh membuat kami rela harus berpisah. Ada kalanya 3 hari pisah, 2 hari kumpul, atau terkadang 5 hari pisah lalu kumpul selama 2 hari pisah lagi. Kasian, semuanya jadi tak maksimal. Keadaan masih sangat tidak sesuai dengan harapan kami, aku mulai galau. Ditambah anak-anak hampir masuk usia sekolah. Saat mana fase disiplin sudah selayaknya diterapkan.

Maka kamipun membuat satu kesepakatan, aku harus pindah. Kalaulah tak bisa pindah aku harus berhenti, tak ada pilihan lain. Kedua orangtuaku menyampaikan rasa hatinya. Tapi aku sudah mantap, ridho suami tentu lebih utama, tinggal bagaimana mengemasnya menjadi satu yang tak membuat keduanya berada pada kubu yang bersebrangan. Ternyata ini sulit. Suami mengingatkan pada kontrak waktu 3 tahun untuk mengabdi di kampung halaman, dan itu sudah berlalu. Disisi yang lain kedua orangtua memintaku untuk melihat status pegawai negeri yang sekarang sebagai bentuk kesyukuran, betapa banyak orang yang sampai tahan mengeluarkan uang demi bisa jadi pegawai negeri, sementara aku malah mau berhenti. Saat itu aku sampai merasa serba salah. Sebab secara financial, gajiku dari negara memang telah menjadi ladang berbagiku untuk biaya kuliah adik atau sekedar menyenangkan hati kedua orangtuaku, adapun nafkahku dan kedua anak kami sepenuhnya tetap dari suami.

Yang kuingat saat itu aku selalu memaksa diriku untuk terus berdo'a pada Allah dengan segenap kepasrahan untuk diberikan jalan keluar yang terbaik. Banyak tulisan tentang menjadi ibu rumah tangga yang produktif membuatku lebih yakin untuk berhenti bekerja saja. Tapi aku berusaha untuk tidak berdo'a agar aku bisa segera berhenti dari pegawai negeri tanpa ada konflik dengan kedua orantuaku. Aku tetap menyerahkan yang terbaik menurut Allah, bukan yang terbaik menurutku, menurut suamiku ataupun menurut kedua orangtuaku. Dan yang aku rasakan betul adalah ketika kepasrahan sudah makin bulat, Allah justru menunjukkan jalan-Nya agar aku bisa pindah ke Palembang. Luar biasanya kali ini begitu mudah, tak melalui kepala dinas kesehatan lagi tapi Bupati yang langsung tanda tangan. Semuanya begitu lancar, hingga membuatku terkaget-kaget. Lucunya rumah sakit yang awalnya mau menerimaku di Palembang justru berbalik menutup diri. Dan karena kebaikan seorang rekan aku malah masuk ke kantorku yang sekarang. Sampai akhirnya aku pindah ke Palembang dengan restu kedua orangtua dan tetap bekerja sebagai abdi negara atas izin suami.

Menjadi ibu rumah tangga sejati sampai sekarang tentulah tetap menjadi impianku. Akupun salut dengan semua orang yang memilih jalan untuk meninggalkan dunia bekerjanya untuk menjadi Ibu Rumah tangga seperti Ibu Ainun. Aku ajungkan jempol buat para IRT sejati, mereka telah menemukan lahan garapan yang tak meragukan dan diidamkan oleh para wanita perindu syurga. Tapi dizaman Rosulullahpun ada para tabib wanita, pasukan wanita bahkan juru masak wanita yang menyertai beliau ke medan jihad. Aku sadar aku bukan para sahabat yang mulia itu, aku hanyalah wanita akhir zaman yang ingin menjadikan lahan tempatku bekerja ini menjadi ladang jihadku yang mampu mengantarkanku pada kemuliaan.
Jadi memang saat ini aku tak galau lagi, dulu aku pernah iri pada mereka yang bisa begitu saja berenti bekerja saat sudah menikah. Sekarang aku tahu betul, wanita yang memilih bekerja ataukah ibu rumah tangga semua pasti punya segudang alasan. Semua tentu sudah melewati serangkaian pertimbangan untuk akhirnya memutuskan memilih profesi yang saat ini ditekuni. Bagiku saat ini. Apa saja pilihan kita asalkan kita tahu diri, sadar dengan tanggung jawab utama kita, sebagai istri dan Ibu para generasi penerus maka tak ada yang berhak membuat kita galau. Menjadi ibu bekerja sepertiku, asalkan tetap berjuang lebih keras memanagement waktu untuk menempatkan suami, anak-anak dan keluarga menjadi yang utama aku rasa tak kalah lebih baik dengan ibu rumah tangga yang masih sempat nonton acara selebriti di rumah. Jadi kembali kepada diri kita, saat memutuskan menjadi seperti Ibu Ainun silakan belajar menjahit, gubraaakkk... maaf, intermezo. Maksudnya tak perlu galau-galau lagi achhh :D

Ada banyak ibu bekerja yang bisa mengantarkan anaknya menjadi para ilmuan sholeh, meski ada banyak juga ibu bekerja yang melahirkan anak-anak putus sekolah, terkena narkoba atau terjerumus pergaulan bebas. Demikian juga dengan ibu rumah tangga sejati, banyak juga yang berhasil menjadikan anak-anaknya pakar pada bidang tertentu, tapi yang tak bisa dipungkiri ada juga ibu rumah tangga yang anaknya jadi preman. Jadi masalahnya bukan bekerja atau tidaknya sang Ibunda, melainkan bagaimana ia mampu menjadi guru pertama yang mengajarkan teladan buat anak-anaknya. Bila saat seorang ibu bekerja yang belum bisa bertemu anaknya hingga sore hari namun hatinya terus menggemuruhkan do'a buat anak-anaknya, agar selalu berada dalam lindungan-Nya, lalu mana yang lebih utama dengan seorang ibu yang bisa langsung menyambut anaknya saat mereka pulang dari sekolah lalu berteriak karena penat menyuruh anaknya makan, membentak mereka saat tak meletakkan tas atau sepatu pada tempatnya. Accchhhh semoga aku bukan sedang mencari pembenaran... aku hanya ingin selalu mengingatkan diriku, bahwa suami dan anak-anaklah yang paling berhak atas senyum manis dan kata-kata mesra nan bersahabat dariku, bukan atasan di kantor atau teman kerja. Semogaaaa... mari saling mengingatkan, do'akan aku sahabat :D

17 komentar:

Risablogedia mengatakan...

kenapa keputus tulisannya, mba?

Ririe mengatakan...

setuju Mbak, menajdi Ibu bekerja atau IRT full..semua tentu sdh ada pertimbangannya masing-masing. Dan semoga kelak jka sayya jd ibu bekerja bisa melkuakan peran saya dengan penuh tanggung jawab dan menempati posisi dengan proporsional...Amiin:)

Bintang mengatakan...

Menjadi wanita bekerja atau ibu rumah tangga murni adalah pilihan masing-masing individu dengan pertimbangan resiko maupun keuntungan yang pastinya sudah ditimbang matang.
Ibu Ainun dengan logikanya, dan sahabat Yunda dengan pengalamannya. Semuanya benar. Tinggal kita yang menentukan perhatian sebesar apa yang bisa kita berikan buat keluarga, pola asuh apa yang kita terapkan buat anak-anak, serta bakti seperti apa yang ingin kita berikan pada suami...

Ahaaa, saya malah belum nonton film-nya Yunda, baru baca bukunya aja :D

catatan kecilku mengatakan...

Aku belum baca bukunya dan juga belum nonton filmnya mbak... tapi "dilema" tentang ibu yang bekerja itu memang sudah ada sejak lama.
Bagaimanapun hidup adalah pilihan, dengan segala macam kondisi dan konsekuensi masing2.
Semoga apapun yang kita pilih mampu kita jalankan dg penuh tanggung jawab, keihklasan dan amanah.
Semoga kita mampu menjadi ibu yang baik buat anak2 kita...
Saling mengingatkan ya mbak..

cii yuniaty mengatakan...

Apapun pilihannya smua pasti ada konsekuensinya dan hrs bertanggung jawab thd pilihan tsb....

^bersyukur sy mba, bs bekerja stgh hari hanya sampai siang dan sisa waktunya bisa dipakai unt mengurus suami dan anak sy kelak (insyaallah)..

tsaah serius banget yak koment sy...hehehe

Jurnal Transformasi mengatakan...

Mbak Keke, aku percaya betul bahwa hidup ini cuma serangkaian pilihan. Jika Ibu Ainun memilih jadi ibu rumah tangga murni untuk mengasuh anak-anaknya itu lah pilihan terbaik baginya. Begitupun jika ada ibu yang memutuskan bekerja seperti Mbak Keke dengan tetap mengurus rumah tangga sebaik-baiknya, ini juga adalah pilihan terbaik..Jadi emang gak perlu galau..Kita semua telah memilih jalan hidup yang kita anggap baik, yah dijalani saja dengan sebaik-baiknya :)

Vicky Laurentina mengatakan...

Biro kepegawaian bisa disetel. Permohonan untuk pindah karena ingiin mengikuti suami dapat diluluskan, dan untuk daerah sekelas Palembang, mestinya itu bukan masalah besar.
Kalau Tuhan sudah kasih jalan dan kita punya niat, pasti jalannya mudah.

Yang harus dikasihani adalah perempuan-perempuan yang sudah mapan dengan kantor aslinya, lalu ingin pindah karena ingin mengikuti suaminya, sedangkan kantornya tidak memberinya jalan untuk itu.

HP Yitno mengatakan...

Menjadi ibu rumah tangga justru malah bagus untuk perkembangan anak kan? sayangnya masih banyak yang berpikiran sempit tentang pengabdian seorang ibu rumah tangga.

Adini mengatakan...

Emang sulit untuk melakukan hal yang membuat kita ingin melakukan keduanya.

Meskipun yang terbaik adalah keluarga, tetapi kembali lagi pada kehidupan pasti ada pilihan.

Aku belum baca bukunya bu, pengen banget baca bukunya penasaran...apalagi dengan filmnya.

octarezka mengatakan...

saya juga pengen nanti bisa fokus buat keluarga,
hm...tapi namanya rencana,seperti yang mbak tulis kedepannya mungkin akan banyak alasan yang mmaksa untuk kerja.. :D

Mugniar mengatakan...

Hm ... masing2 kita punya pilihan dan alasan ya Yunda? dan itu tidak berat.

Yang salah adalah mereka2 yang seenaknya mencibir. Sama tdk enaknya dengan yang saya rasakan bila dicibir "sarjana koq tidak bekerja" (sarjana teknik lagi) :D

Sayangnya ibu saya yang suka menyesal. Tapi saya tidak menyesal dengan pilihan saya karena setelah memperhatikan dan menimbang, memang pilihan ini yang paling tepat. Di antaranya karena tak ada orang yang benar2 bisa dititipi anak2 kalo saya bekerja di luar rumah. Dan banyak lagi hal lain. (Orang2 tak tahu itu).

Mudah2an kita bisa menjadi ibu yang baik ya Yunda, apapun pilihan kita :)

Anita Lusiya D mengatakan...

Saya masih bercita-cita menjadi mompreneur saja. Rasanya tidak enak, punya ibu yang terlalu sibuk.
Mohon doa, selagi masih single, saya sedang merintis usaha, semoga bisa menjadi bekal mompreneur. Aamiin :)

Djangan Pakies Net mengatakan...

Banyak orang bilang hidup adalah pilihan. Dalam dalam memilih, dengan menyertakan Alloh Tabarokta wa Ta'ala atas semua keputusan yang kita rencanakan, keputusan yang kita jalankan maka Insya Alloh hasilnya akan menjadi baik.

Abi Sabila mengatakan...

Apapun pilihannya, ada konsekuensi yang harus dijalani, juga ada plus minusnya, karenanya pertimbangan yang matang mutlak diperlukan sebelum mengambil keputusan, dan yang jangan sampai terlupakan adalah keikhlasan menjalaninya.
Salam hangat untuk keluarga tercinta.

lovely mengatakan...

kalau saya pribadi setuju kalau ibu RT itu fokus di dalam urusan rumah tangga, karena tugas menjadi seorang isteri dan sekaligus ibu rumah tangga itu bukanlah hal yang mudah, tugas sebagai seorang isteri yang harus melayani suami dan berusaha membuat suami merasa tentram di rumah, perlu trik khusus dan butuh keikhlasan dalam menjalankannya.. selain itu mendidik anak di rumah , merawatnya, menjaganya, juga kewajiban seorang ibu Rumah tangga yang tidak mudah, bukan hanya itu menyelesaikan pekerjaan rumah juga butuh kondisi yang fit, kalau mencari pembantu untuk dirumah bisa aja tapi resikonya juga banyak seperti kasus2 di TV. banyak juga kasus keretakan rumah tangga seperti perselingkuhan, perceraian yang disebabkan banyaknya kaum wanita yang ikut mencari karir diluar rumah, sebenarnya bukan itu penyebab utamanya akan tetapi dampak dari para isteri yang bekerja diluar rumah banyak yang tidak bisa membagi waktu untuk bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang isteri dan sekaligus ibu RT. Isteri yang baru pulang kerja pasti merasa lelah dan butuh istirahat sedangkan suami juga pulang kerja lelah dan butuh pelayanan dari isteri belum lagi anak anak yang juga butuh kasih sayang dan belaian dari ibunya..lelahnya seorang isteri membuat pelayanan terhadap suami nya tidak memuaskan dan akhirnya suami jadi tidak tentram di rumahnya dan bisa jadi suami cari kepuasan diluar rumah... sedangkan sang isteri merasa kurang di hargai dan di perhatikan juga akhirnya mencari seseorang yang bisa mengerti tentang dirinya.. dan akhirnya semua itu memicu keretakan dalam rumah tangga, hal ini saya ungkapkan karena bayak terjadi di lingkungan sekitar saya.. dan hal itu sangat disayangkan.. sebagai sesama wanita ingin juga berbagi hal hal yang mungkin bermanfaat untuk yang lain agar setiap wanita bisa mempertimbangkan matang matang jika ingin bekerja di luar rumah..maaf kalau ada yang tersinggung..
Thanks atas potingannya sangat menarik..

anom mengatakan...

Nice infoyang diberikan anda sangat bermanfaat.,
Ditunggu kembali artikelnya yang baru
Kunjungan balik blogsaya juga boss


kompetisiwu mengatakan...

Salut untuk para wanita yang sudah berhasil kembali kepada fitrahnya sebagai ujung tombak kesuksesan suami dan para anaknya dengan memilih sebagai ibu rumah tangga (yang masih mungkin untuk berkarya dan berpenghasilan sendiri dari rumah sambil tetap dapat lebih menjaga kehormatannya sebagai wanita dengan tidak menjadi objek pandangan orang2 yang idak berhak), semoga beliau2 ini para ibu rumah tangga karena keimanannya sudah tercatat sebagai ahli surga, aamiin yaa rabbal 'alamin.........