Senin, 10 Oktober 2011

Adil Itu Indah

Si sulung, kerap kesal karena diminta selalu mengalah pada adiknya. Apa-apa harus serba ngalah. Mainannya direbut adik, ia diceramahi suruh ngalah. Soal makanan tak jauh beda, lagi-lagi diminta mengalah, padahal jatahnya lho... Yang lebih menyedihkan lagi, saat adik nangis karena kesandung sendiri, ia juga yang kena marah.  Huuuuuu… mengapa jadi begini ya? Alangkah malangnya jadi kakak, apalagi sulung yang punya banyak adik. Padahalkan sungguh ia tak pernah minta dilahirkan jadi anak sulung. Andai bisa memilih inginnya tentu jadi anak bungsu saja, yang selalu dibela Ayah dan Bunda. Ini isi curhatnya suatu ketika sambil termehek-mehek. 

Suara hati si bungsu lain lagi, alangkah tak enaknya jadi adik. Kalau Ayah Bunda tak ada di rumah aku jadi jajahan para kakak. Di suruh ini itu, dimarahi terus kadang sebabnya tak jelas. Oh alangkah enaknya jadi kakak, coba dulu aku bisa minta dilahirkan duluan ya, hikss…

Aku adalah anak sulung, tapi ilustrasi diatas bukan kisah yang kualami. Hanya saja, cerita itu banyak terjadi  disekitarku. Dan semua ini dipicu oleh sikap orangtua yang tidak adil. Sikap yang sesungguhnya lahir diluar kesadaran dan tak ada unsur kesengajaan. Berawal dari rasa sayang orangtua dan ingin melindungi anak yang lemah. Dalam hal ini adik dianggap pihak yang lemah. Ditambah ungkapan penguat lagi, karena adik belum mengerti. 

Jadi sebenarnya alasan tersebut ada benarnya juga ya… yang perlu diingat adalah sampai batas mana si adik boleh dibela, karena ia masih lemah dan belum mengerti? Yups, harus ada batasan yang tegas untuk masalah ini. Dalam buku “Sudahkah Aku Jadi Orangtua Shaleh?”, Bapak Ihsan Baihaqi menuliskan bahwa saat itu berlaku sampai anak berumur 3-5 tahun, saat ia sudah bisa membedakan akan nilai baik dan buruk. Kondisi ini beragam, masing-masing anak tidaklah sama, dan menurutku yang paling penting adalah peranan orangtua. 

Orangtua dengan bahasa cintanya harus terus mengkondikan si kakak untuk sayang pada adiknya, begitupun sebaliknya. Semua teori boleh kita pakai, tapi teladan adalah yang paling utama. Kalau kita sering membentak si kakak, maka kakakpun akan jadi pakar membentak terutama pada adiknya. Karena ia melihat contoh langsung bukan? 

Dan yang tak kalah penting adalah beri pujian bahkan reward pada si kakak, saat ia ikhlas mengalah.  Salah satu cara yang bisa dicoba adalah, jangan sungkan untuk membisikkan si kakak dengan kata-kata seperti ini:
“Kakak hebat, Ayah bangga pada Kakak. Kakak memang anak yang paling mengerti. Kalau adik masih sulit ya dibilangin, karena adik belum mengerti. Ayah sayang Kakak”. *Pelukkk…

Ya ini juga adalah satu cara mempermanenkan prilaku pada anak. Fokuslah saja pada prilaku baiknya, puji dan ulang-ulang sebutan sebagai anak baik, anak sholeh ketika mereka akur sebagai kakak beradik. Saat mereka bertengkar, jangan terlalu responsif. Beri ruang agar mereka berdamai sendiri. Jangan sedikit-sedikit kita langsung turun tangan, menjadi juru damai. Silakan mengintervensi bila sudah sampai menyakiti atau merusak.

Lebih jauh tentang konflik atau persaingan antar saudara kandung (sibling rivalry) itu biasa, maka tugas orantualah untuk mengarahkannya pada hal-hal yang positif, menjadikannya sarana untuk saling berlomba dalam kebaikan. Dan yang harus selalu diingat adalah peran orangtua untuk berlaku adil. Dalam segala hal dan semua suasana. Mulai dari kasih sayang sampai uang saku. Tapi adil bukan berarti harus sama lho ya...


Menurut para Ulama, adil itu adalah:
1. Adil bererti meletakkan sesuatu pada tempatnya.
2. Adil bererti menerima hak tanpa lebih dan memberikan hak orang lain tanpa kurang.
3. Melaksanakan hukum dengan saksama.
4. Memastikan orang berkuasa tidak menyalahgunakan kuasa dan orang yang lemah tidak teraniaya.
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS Al Ma’idah: 8

Belajar adil dari Nabi Sulaiman, AS
Nabi Sulaiman, AS yang terkenal bijak dan cerdas sejak usia belia menggunakan hati nuraninya  ketika menentukan nasib seorang bayi yang di perebutkan oleh 2 orang wanita yang mengaku ibunya. Kala itu Nabi Sulaiman, AS mengancam akan memotong bayi yang diperebutkan itu menjadi 2 dan masing-masing ibu mendapatkan 1 potong bagian tubuh si bayi. Kemudian salah seorang wanita yang memperebutkan bayi tersebut mengiklaskan bayinya agar dapat di miliki oleh wanita yang satu lagi. Akhirnya Nabi Sulaiman, AS memberikan bayi tersebut kepada wanita yang memasrahkan bayinya, karena hanya seorang ibu sejati yang ikhlas berkorban demi keselamatan anaknya. Sang ibupun bahagia mendapatkan haknya, buah dari sikap adil sang Nabi.
Och betapa adil memang indah,  
Adil itu diawali dari hal-hal yang mudah    
Dan adil itu bisa kita mulai dari rumah
Semoga kelak anak-anak kita menjadi pemimpin orang-orang taqwa,  yang selalu bersikap bijak juga adil. Lahir dari rumah-rumah kita, karena didalamnya ditanamkan nilai-nilai keadilan, lewat petuah dan contoh nan nyata.

Teriring salam dan do'a untuk Kakak Farhan dan Adik Razan, semoga menjadi anak sholeh dan barokah umurnya. Aamiin YRA...



***
Tulisan ini dikutkan untuk acara "Bingkisan Dari Kami" yang diadakan Mbak Ketty Husnia