Sabtu, 26 Februari 2011

Lombanya Para Bunda: Aku dan Anakku

Disiplin itu bukan bla…bla…bla…

Yunda, sulungku yang shaliha hampir 7 tahun. Sekarang kelas 2 SD di sebuah SDIT yang ada di kota Palembang. Sebagai orangtua, kami (aku dan suami) sudah mulai melatihnya disiplin dengan cara yang lebih tegas dibanding dengan Akang, adiknya yang baru 5 tahun. Memang kami berusaha menanamkan disiplin sejak mereka kecil, tapi sebatas pengenalan dan latihan disiplin. Ya sejak anak mulai bisa membedakan mana tangan kanan dan mana yang tangan kiri, saat itulah anak sudah bisa diajari dengan berbagai nilai atau semacam aturan termasuk disiplin. Misalnya saja membaca do’a disetiap aktivitasnya dengan do’a-do’a harian yang memang sudah mereka hafal. Buang sampah pada tempatnya, merapikan mainan seusai dipakai, segera meminta maaf bila melakukan kesalahan dan membiasakan untuk selalu mengucapkan salam bila masuk rumah. Alhamdulillah berjalan dengan baik, kuncinya adalah konsistensi dan keteladanan. 

Adapun melaksanakan disiplin yang disertai tanggung jawab seperti sholat 5 waktu, merapikan tempat tidur, sikat gigi menjelang tidur, menyiapkan keperluan sekolah secara mandiri termasuk urusan melihat jadwal dan menyelesaikan PR (bila ada) dengan pengingatan yang lebih tegas special baru kami lakukan pada Yunda. Dan inipun sebenarnya dengan kunci yang serupa yaitu konsistensi dan keteladanan. Tapi dalam hal ini point konsistensi menjadi lebih besar, setidaknya ini menurutku karena ini yang kurasakan. 

“Yunda sudah sikat gigi Nak?”, pertanyaan yang kerap kulontarkan menjelang tidur.
“Iya Mi, bentar lagi.” Sahut Yunda sembari asyik main bareng Akang. Selanjutnya terkadang aku lupa mengingatkan lagi, yang ada Yunda sudah dalam posisi sangat ngantuk dan rayuan merem meleknya membuatku lemah. Misalnya lagi saat aku melatihnya berdisiplin untuk menyiapkan keperluan sekolah secara mandiri, kadang sering harus benar sabarnya. Ada saja kendala yang sebenarnya masih dalam batas wajar. 

“Pensil Yunda hilang Mi.” Atau lain waktu saat sepulang sekolah langsung ke rumah Neneknya. Buku kerjasamanya Yunda ketinggalan. Atau pernah juga buku-buku yang lainnya. Rumah Nenek hanya berjarak sekitar 1 km dari rumah kami. Untuk yang satu ini aku kadang suka lupa bahwa tegas bukan berarti keras. Lain waktu caraku menegaskan disiplin yang kurang cantik, alih-alih ingin sucses yang ada Yunda malah protes.

Ceritanya suatu hari Yunda kehilangan buku PR-nya, awalnya aku kira hanya tertinggal di rumah Neneknya seperti yang sudah-sudah. Tapi setelah dipastikan dan dicari kesetiap penjuru tak tampak juga buku tersebut aku langsung mewanti-wantinya. 

“Ummi kan dah sering bilang, Yunda mesti disiplin. Karena disiplin itu penting Nak...Bla….bla….bla…..” 
Aku mulai memasuki nada-nada tinggi dengan nyanyian kata-kata yang sudah sering kulontarkan.
Dan Yunda tampak manyun. Air mukanya keruh dan sedih.

“Ummi kok gitu sich!” Protes Yunda hampir nangis. 

Syukurlah aku segera tersadar. Kupeluk Yunda erat. Kubimbing Yunda ke lemari bukunya. 

“Yunda sayang, lain kali kalu pulang sekolah. Yunda langsung beresin jadwal buat besok Nak. Buku-buku yang hari ini disusun rapi, kosongkan tas. Terus selanjutnya Yunda lihat jadwal buat besok, periksa dan susun buku-buku buat besok di tas. Nah kalu ada buku yang ketinggalan di rumah Nenek kan langsung ketahuan jadi bisa langsung diambil. Tidak sampai hilang Nak.” 
Kuatur nada suaraku selembut mungkin. Dan ternyata hal ini berhasil membuat Yunda nyaman.

“Ummi baru sekali bilang seperti ini sama Yunda.“ Akhirnya Yundapun melanjutkan protesnya. Tapi ini justru membuatku terpaku. Baru kali ini aku bicara tentang disiplin dengan bahasa yang dimengertinya.

“Maafkan Ummi ya Nak. “    
***
Terkadang kita sebagi orangtua lupa, bahwa anak-anak belum bisa berpikir yang abstrak atau menyambungkan segala uraian kata selayaknya orang dewasa. Cara berfikir anak masih butuh yang konkrit-konkrit. Mengapa begini, bagaimana langkahnya dengan serinci mungkin. Jadi jangan bosan untuk menguraikan apa yang kita maksud dengan sejelas dan sekonkrit mungkin. Satu lagi, jangan sampai sesuatu yang kita inginkan membuat kita lupa atau terburu-buru sehingga bercampur dengan emosi.
Ya seperti yang aku alami, karena inginnya Yunda berdisiplin aku justru lupa menuntunnya dengan tataran bahasa cinta untuk anak seusianya. Aku terlampau terpaku pada target bahwa sebentar lagi Yunda 7 tahun, artinya sudah masuk pada fase disiplin yang sesungguhnya. Sekali lagi, maafkan kami, maafkan Ummi Nak…

“Dan hendaklah takut orang-orang yang meninggalkan teturunan di belakang mereka dalam keadaan lemah yang senantiasa mereka khawatiri . Maka dari itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengatakan perkataan yang lurus benar.” (An Nisaa’ 9)

Ya. Salah satu pinta yang sering diulang Ibrahim dalam doa-doanya adalah mohon agar diberi lisan yang shidiq. Dan lisan shidiq itulah yang agaknya ia pergunakan juga untuk membesarkan puteranya sehingga mereka menjadi anak-anak yang tangguh, kokoh jiwanya, mulia wataknya, dan mampu melakukan hal-hal besar bagi ummat dan agama. Kita? Mari sejenak kita renungkan tiap kata yang keluar dari lisan dan didengar oleh anak-anak kita. Sudahkah ia memenuhi syarat sebagai Qaulan Sadiidaa, kata-kata yang lurus, benar, sebagaimana diamanatkan oleh ayat di Surat An Nisaa’ tersebut ? 

***
Pendidikan anak dalam Islam, menurut Sahabat Ali bin Abi Thalib ra, dapat dibagi menjadi 3 tahapan/ penggolongan usia:
  1. Tahap BERMAIN (“la-ibuhum”/ajaklah mereka bermain), dari lahir sampai kira-kira 7 tahun.
  2. Tahap PENANAMAN DISIPLIN (“addibuhum”/ajarilah mereka adab) dari kira-kira 7 tahun sampai 14 tahun.
  3. Tahap KEMITRAAN (“roofiquhum”/jadikanlah mereka sebagai sahabat) kira-kira mulai 14 tahun ke atas.
Disiplin pada dasarnya adalah perilaku kebiasaan, sehingga tanpa disuruh, secara otomatis anak masuk ke dalam pola kebiasaan tertentu. Penting untuk memudahkan hidup anak, karena hidup jadi ada teratur dan polanya dengan disiplin waktu. Lima komitmen orangtua untuk membentuk perilaku disiplin anak sedini mungkin:
  • Kasih yang tulus, terima anak secara realistis dan apa adanya agar terukur dalam mendidik  anak dan melandaskannya pada kepentingan anak sekarang dan nanti.
  • Konsekuen. Contoh, jika kita bilang A, maka kita juga melakukan A.  
  • Konsisten. Pembentukan kebiasaan butuh waktu, sampai perilaku itu tertanam.
  • Kompak. Harus dilakukan seluruh anggota keluarga  sehingga tidak terjadi kesenjangan perilaku  antara ayah, ibu dengan  pengasuh.
  • Kompromi. Kompromi tetap bisa dipertimbangkan. Misalnya ketika anak demam, dia tidak perlu mandi seperti biasanya.
Semua pembelajaran kedisiplinan pada anak tersebut bisa dengan mudah Anda terapkan dirumah. Anak jadi disiplin tanpa perlu menerima hukuman fisik.

Mengapa harus disiplin? Tentu saja anak usia satu tahun dapat mulai diperkenalkan pada disiplin. Bahkan, sejak berusia antara enam hingga sembilan bulan, anak sudah memahami arti perkataan "tidak" atau "jangan". Di usia satu tahun anak mulai memahami perintah-perintah sederhana.
Disiplin memang perlu diterapkan seawal mungkin, karena sejak dini anak perlu memahami konsep "benar - salah". Walaupun, anak membutuhkan waktu sedikit lama untuk benar-benar memahami konsep tersebut seutuhnya.

Selain itu, balita juga perlu disiplin untuk mengajarkan kontrol diri, serta menghargai aturan sedini mungkin. Dengan cara ini anak akan semakin memahami dan menghargai keberadaan orang lain di luar dirinya. Sehingga, anak yang awalnya egosentris, menjadi lebih sensitif pada orang-orang di sekitarnya.

Cara paling mudah bagi anak-anak usia ini untuk mengenal disiplin adalah melalui contoh dan bimbingan. Selain itu, mereka juga membutuhkan pembiasaan dengan pola yang sama dan konsisten.

Dalam menerapkan disiplin, beberapa hal perlu diingat. Yang paling utama dalam penerapan disiplin adalah konsistensi orang tua. Menurut Lerner, perintah dan rutinitas memberikan ”tempat” yang aman bagi anak dari apa yang mereka pandang sebagai dunia yang besar dan tak terduga.

”Ketika ada beberapa hal tidak bisa diduga dan rutin,itu membuat anak merasa jauh lebih aman dan nyaman, serta cenderung lebih bersikap tenang karena mereka tahu apa yang dia harapkan,” katanya.

Cobalah untuk selalu menjalankan jadwal yang sama setiap hari. Semisal, waktu tidur siang, waktu makan, waktu tidur malam, dan saat-saat di mana anak Anda bebas untuk melakukan apa pun seperti hanya berlari-lari dan bersenang-senang. Bila Anda memang harus melakukan perubahan jadwal, beri tahu anak sebelumnya.

Misalnya katakan kepada anak Anda, ”Bibi Jean akan menemanimu malam ini saat ibu dan ayah pergi sebentar. Kita ada keperluan sebentar”. Hal itu akan mempersiapkan dirinya untuk sebuah rutinitas yang sedikit berbeda dan mudah-mudahan tidak berpengaruh pada suasana si kecil saat waktu tidur. Konsistensi juga penting ketika penerapan disiplin ke anak. Ketika Anda mengatakan ”tidak boleh memukul” pertama kali kepada anak Anda saat dia berkelahi dengan anak lain di tempat bermain,Anda juga harus mengatakan ”tidak boleh memukul” untuk yang kedua, ketiga, dan keempat kali, saat si buah hati melakukannya lagi.


***
Yunda Akang di KI
 Bahagianya bisa nulis ini, ikut memeriahkan lomba, mengabadikan satu dari banyak  peristiwa berkesan dengan ananda. Semoga bisa bermanfaat. Menang kalah bukan masalah :)
  
Daftar Pustaka:
  • ·         Yuk Jadi Orang Tua Shalih!
  • ·         kosmo.vivanews.com/news/read/8957-tanamkan_disiplin_pada_anak
  • ·         voa-islam.com/muslimah/pendidikan/.../menanamkan-disiplin-pada-anak
  • ·         Abihafiz.wordpress.com/membangun disiplin pada anak tanpa kekerasan
  • ·         Lifestyle.okezone.com/terapkan disiplin pada anak
  • ·         Lifehancks.web.id/10 cara menanamkan disiplin pada anak

Tidak ada komentar: