Sabtu, 29 Januari 2011

Para Wanita Pengukir Sejarah

Sebuah Kompilasi 

Wanita-wanita pengukir sejarah. Sebuah judul yang menggetarkan, hmmmm.....ya setidaknya ini kesan pertama saat aku mendengarnya. Apa ya TIKnya? batinku selanjutnya.Tapi apapun itu, inilah yang berhasil kurangkum dari buanyak sumber, semoga bermanfaat :)

PROLOG

Dengan menyebut Nama Allah. Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, segenap keluarga, para sahabat dan generasi penerusnya.

Sejarah, babad, hikayat, riwayat, atau tambo dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau asal-usul (keturunan) silsilah, terutama bagi raja-raja yang memerintah. Adapun ilmu sejarah adalah ilmu yang digunakan untuk mempelajari peristiwa penting masa lalu manusia. Pengetahuan sejarah meliputi pengetahuan akan kejadian-kejadian yang sudah lampau serta pengetahuan akan cara berpikir secara historis. Orang yang mengkhususkan diri mempelajari sejarah atau ahli sejarah disebut sejarawan.

Pengukir sendiri berasal dari kata ‘ukir’ yang berarti yang menoreh, yang memahat atau orang yang membuatnya ukiran atau orang yang membuat kenangan dalam hati. 

Sejarah Islam dipenuhi dengan peristiwa besar dan berpengaruh terhadap peradaban.
Kita berada di sini, saat ini, dan dalam kondisi seperti ini adalah buah dari karya besar para pendahulu kita. Karena jasa merekalah saat ini kita menikmati kehidupan seperti sekarang. Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah kita mengenang, mengingat, mempelajari, dan meneladani kehidupan dan perjuangan mereka.

“Barang siapa yang tidak berterimakasih kepada manusia, berarti tidak bersyukur kepada Allah.” (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Tak terkecuali orang-orang besar yang telah mengukirkan karyanya dalam sejarah adalah wanita-wanita Islam. Para muslimah tersebut bahu membahu, berkontribusi  dan turut berjuang bersama kaum lelaki dalam membela yang hak.

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”  
(QS Yusuf: 111)

Musuh-musuh Islam tahu bahwa wanita merupakan salah satu unsur kekuatan masyarakat Islam.  
Musuh-musuh Islam telah menempuh berbagai cara untuk merusak wanita muslimah. Oleh karena itulah, kita harus kembali mengungkap kembali profil dan meneladani perjuangan wanita-wanita muslimah sebagai bekal untuk mengangkat harkat dan derajat wanita muslimah. Setiap pejuang muslimah memiliki keistimewaan dan sarat dengan nilai-nilai positif yang telah mengukirkan sejarahnya dalam sejarah Islam.
HKN 2009, Pisang Baru
Berikut kita bisa menyimak beberapa profil dan meneladani  para pejuang wanita Islam sepanjang sejarah.


Khadijah RA binti Khuwailid.

Nama lengkapnya Khadijah binti Khuwailid bin As’ad bin Abd Al Uzza’. Ia dilahirkan di Makkah tahun 68 sebelum hijrah. Ia adalah wanita yang sukses dalam perniagaan, seorang saudagar wanita terhormat dan kaya raya. Pada masa jahiliyah ia dipanggil Ath Thaharoh (wanita suci) karena ia senantiasa menjaga kehormatan dan kesucian dirinya.  Orang-orang Quraisy menyebutnya sebagai pemimpin wanita Quraisy.

Rasulullah bersabda tentang Khadijah, “Allah tidak menggantikan untukku wanita yang lebih baik darinya. la beriman kepadaku di saat orang lain ingkar kepadaku, ia mempercayaiku di saat orang lain mendustakanku, ia menolongku dengan hartanya di saat orang lain tidak ada yang menolongku, dan Allah telah mengaruniakan kepadaku putra (dari hasil perkawinan dengan) nya sedang wanita-wanita lain tidak.”
Keistimewaan Khadijah, RA:
1  .  Ia adalah wanita yang pertama kali memeluk Islam, yang pertama sholat bersama Nabi. Ia beriman kepada Nabi disaat semua orang kafir padanya.

2.      Ia adalah wanita pertama yang dijamin masuk surga bahkan ia mendapat kabar gembira dari Allah, bahwa Allah telah membangunkan bagi rumah di surga. Salah satu dari 4 wanita penghulu surga.
Abu Hurairah RA menyatakan bahwa Jibril datang kepada nabi saw seraya berkata, “Wahai Rasulullah, Khadijah sedang berjalan kemari. Ia membawa wadah yang berisi kuah, makanan atau minuman. Jika ia sampai kepadamu, maka katakanlah bahwa Tuhannya dan aku menyampaikan salam kepadanya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepadanya bahwa ia mendapat sebuah rumah di dalam surga”. (Mutafaq ‘alaih)

3. Manusia pertama yang mendapat salam dari Allah yang disampaikan dari langit ke tujuh. Ia pantas menerimanya karena selalu setia mendampingi Nabi dalam kondisi seperti apapun.

Anas RA meriwayatkan bahwa ketika Jibril datang kepada Rasulullah saw yang sedang berduaan dengan Khadijah RA, Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah menyampaikan salam kepada Khadijah”. Khadijah membalas, “Sesungguhnya Allah-lah As Salaam (Maha Pemberi Kesejahteraan). Sebaliknya kuucapkan salam kepada Jibril dan kepadamu. Semoga Allah melimpahkan kesejahteraan, rahmat dan berkahNya kepadamu.” (HR An Nasa’i)

4. Wanita pertama yang layak dikategorikan shiddiq di antara wanita mukmin lainnya.
5. Mengorbankan seluruh hartanya untuk kepentingan Nabi
6. Wanita yang memberikan keturunan bagi Nabi
7. Wanita yang matang dan cerdas, pandai menjaga kesucian, dan terpandang bahkan sejak masa   jahiliyah dan diberi gelar Ath Thahiroh (wanita yang suci). Ia adalah orang yang terhormat, taat beragama dan sangat dermawan.

Asma’ binti Abu Bakar.

Nama lengkapnya adalah Asma’ binti Abdullah bin Utsman Abi Bakar As-Sidik. Lahir pada tahun 27 sebelum Hijriyah, dan termasuk orang-orang pertama yang masuk Islam (Assabiqun Awwalum). Menikah dengan Zubair bin Awwab yang dikenal sebagai salah satu dari orang-orang yang telah dijanjikan masuk surga. Bahkan ia merupakan ibu dari Abdullah bin Zubair yang dikenal sebagai salah satu dari ke empat orang-orang terkemuka dalam bidang Hadits (al Ibadalah al Arbaah). Maka tidaklah mengherankan sekali, jika kelahirannya pula merupakan kelahiran pertama yang dirayakan di Madinah. Dan tak hanya itu saja, ayah, ibu, suami, anak, dan saudara perempuan Asma’ bin abu Bakar, merupakan sahabat-sahabat Nabi yang setia.
Dalam sebuah riwayat dari Bukhari dicertakan bahwa Asma r.ha. sendiri pernah menceritakan tentang keadaan hidupnya.
"Ketika aku menikah dengan Zubair r.a., ia tidak memiliki harta sedikit pun, tidak memiliki tanah, tidak memiliki pembantu untuk membantu pekerjaan, dan juga tidak memiliki sesuatu apa pun. Hanya ada satu unta milikku yang biasa digunakan untuk membawa air, juga seekor kuda. Dengan unta tersebut, kami dapat membawa rumput dan lain-lainnya. Akulah yang menumbuk kurma untuk makanan hewan-hewan tersebut. Aku sendirilah yang mengisi tempat air sampai penuh. Apabila embernya peceh, aku sendirilah yang memperbaikinya. Pekerjaan merawat kuda, seperti mencarikan rumput dan memberinya makan, juga aku sendiri yang melakukannya. Semua pekerjaan yang paling sulit bagiku adalah memberi makan kuda. Aku kurang pandai membuat roti. Untuk membuat roti, biasanya aku hanya mencampurkan gandum dengan air, kemudian kubawa kepada wanita tetangga, yaitu seorang wanita Anshar, agar ia memasakkannya. Ia adalah seorang wanita yang ikhlas. Dialah yang memasakkan roti untukku."

Ketika Rasulullah saw. sampai di madinah, maka Zubair r.a. telah diberi hadiah oleh Rasulullah saw. berupa sebidang tanah, seluas kurang lebih 2 mil (jauhnya dari kota). Lalu, kebun itu kami tanami pohon-pohon kurma. Suatu ketika, aku sedang berjalan sambil membawa kurma di atas kepalaku yang aku ambil dari kebun tersebut. Di tengah jalan aku bertemu Rasulullah saw. dan beberapa sahabat Anshar lainnya yang sedang menunggang unta. Setelah Rasulullah saw melihatku, beliau pun menghentikan untanya. Kemudian beliau mengisyaratkan agar aku naik ke atas unta beliau. Aku merasa sangat malu dengan laki-laki lainnya. Demikian pula aku khawatir terhadap Zubair r.a. yang sangat pencemburu. Aku khawatir ia akan marah. Memahami perasaanku, Rasulullah membiarkanku dan meninggalkanku. Lalu segera aku pulang ke rumah.

Setibanya di rumah, aku menceritakan peristiwa tersebut kepada Zubair r.a. tentang perasaanku yang sangat malu dan kekhawatiranku jangan-jangan Zubair r.a. merasa cemburu sehingga menyebabkannya menjadi marah. Zubair r.a berkata,
"Demi Allah aku lebih cemburu kepadamu yang selalu membawa isi-isi kurma di atas kepalamu sementara aku tidak dapat membantumu."

Setelah itu Abu Bakar, ayah Asma r.ha., memberikan seorang hamba sahaya kepada Asma. Dengan adanya pembantu di rumahnya, maka pekerjaan rumah tangga dapat diselesaikan dengan ringan, seolah-olah aku telah terbebas dari penjara.

Ketika Abu Bakar ash-shidiq r.a. berhijrah, sedikit pun tidak terpikirkan olehnya untuk meninggalkan sesuatu untuk keluarganya. Ia berhijrah bersama-sama Rasulullah saw.
Untuk keperluan itu, seluruh kekayaan yang ia miliki, sejumlah lebih kurang 5 atau 6 dirham dibawa serta dalam perjalanan tersebut. Setelah kepergiannya, ayah Abu Bakar r.a. yakni Abu Qahafah yang buta penglihatannya dan sampai saat itu belum masuk Islam mendatangi cucunya, Asma r.ha. dan Aisyah r.ha. agar mereka tidak bersedih karena telah ditinggal oleh ayahnya. Ia berkata kepada mereka, "Aku telah menduga bahwa Abu Bakar r.a. telah menyebabkalian susah. Tentunya seluruh hartanya telah dibawa serta olehnya. Sungguh ia telah semakin banyak membebani kalian."

Menanggapi perkataan kakeknya, Asma r.ha. berkata, "Tidak, tidak, wahai kakek. Ayah juga meninggalkan hartanya untuk kami." Sambil berkata demikian ia mengumpulkan kerikil-kerikil kecil kemudian diletakkannya di tempat Abu Bakar biasa menyimpan uang dirhamnya, lalu ditaruh di atas selembar kain. Kemudian dipegangnya tangan kakeknya untuk merabanya. Kakeknya mengira bahwa kerikil yang telah dirabnya itu adalah uang. Akhirnya kakeknya berkata, "Ayahmu memang telah berbuat baik. Kalian telah ditinggalkan dalam keadaan yang baik." Sesudah itu, Asma r.ha. berkata, "Demi Allah, sesungguhnya ayahku tidak meninggalkan harta sedikit pun. Aku berbuat demikian semata-mata untuk menenangkan hati kakek, supaya kakek tidak bersedih hati."

Asma r.ha. memiliki sifat yang sangat dermawan.  Terlebih saat mendengar Rosulullah bersabda:

"Hendaklah kalian selalu meningkatkan diri dalam membelanjakan harta di jalan Allah, jangan menunggu-nunggu kelebihan harta kita dari keperluan-keperluan kita (yaitu jika ada sisa harta setelah dibelanjakan untuk keperluan membeli barang-barang, barulah sisa tersebut disedekahkan.) Jangan kalian berpikir tentang sisanya. Jika kalian selalu menunggu sisanya, sedangkan keperluan kalian bertambah banyak, maka itu tidak akan mencukupi keperluan kalian sehingga kita tidak memiliki kesempatan untuk membelanjakannya di jalan Allah. Jika keperluan itu disumbangkan di jalan Allah, maka kalian tidak akan mengalami kerugian selamanya."
Akhirnya setelah mendengar nasihat ini, Asma r.ha. semakin banyak menyumbangkan hartanya. Ia juga selalu menasehati anak-anak dan perempuan-perempuan yang ada di rumahnya.

Ia meriwayatkan 56 Hadits Nabi, dan 26 di antaranya terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Asma’ bin Abu Bakar meninggal dunia di Mekah pada usia seratus tahun. Anehnya pada usia yang begitu lanjut itu, tak ada satu pun giginya yang patah, dan otaknya masih sangat sehat dan berjalan sebagaimana mestinya, tidak sebagaimana orang-orang tua lainnya. Ia merupakan orang Muhajirin yang terakhir meninggal dunia.

Al Khansa’

la adalah binti Umar bin Kharis bin Syarit. la masuk Islam di saat mendatangi Nabi bersama dengan Bani Syulaim. Semua pakar keilmuan telah sepakat bahwa tak ada seorang wanita pun, baik sebelum Khansa’ maupun sesudahnya, yang dapat menandingi kepiawaiannya dan bersyair. Ia dinobatkan sebagai penyair paling mahir di Arab secara mutlak.
Dan setelah ia masuk Islam, ia pun berujar “dulu aku menangisi kehidupanku, namun sekarang, aku menangis karena takut akan siksa neraka.” Keempat anaknya pernah diberi hadiah oleh Umar bin Khathab, masing-masing dari mereka sebanyak 400 dirham.
Al Khansa’ terlibat pula dalam sebuah perang suci bersama ke empat anak laki-lakinya. la berkata kepada mereka “wahai anak-anakku! Kalian semua masuk Islam secara taat, tanpa ada tekanan dari siapapun. Kalian sendiri yang telah memilih hijrah. Demi Allah yang tak ada lagi Tuhan selain-Nya, kalian semua adalah laki-laki yang berasal dari satu wanita. Jangan kamu permalukan ayah, bibi, saudara, dan garis keturunanmu. Kalian semua telah mengetahui betapa besar pahala yang akan diberikan Allah kepada orang-orang yang memerangi orang-orang kafir. Ketahuilah kalian semua! Bahwa kehidupan akhirat lebih utama daripada kehidupan dunia.

Allah Subhanahu wa Taala Berfirman “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (AH Imran: 200), dan insya Allah kalian semua akan menyambut pagi dengan , selamat. Dan pada saat menjelang siang, berangkatlah kalian memerangi orang-orang kafir dengan penuh kecermatan. Allah akan selalu menjadikan musuh-musuhnya itu sebagai kaum yang kalah. Dan apabila kalian semua melihat peperangan telah berkecamuk, hadapilah dengan penuh semangat dan kelapangan hati.”
Berangkatlah anak-anak Al Khansa’ menuju medan perang dengan memegang teguh nasihat-nasihat dari ibunya. Mereka semua akhirnya mati terbunuh dalam peperangan itu. Namun, itu tak menjadikan Al Khansa’ merasa sedih. Mendengar kabar ten tang kematian anak-anaknya di medan perang, ia malah bersyukur kepada Allah. la berkata “segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan cara mematikan anak-anakku dalam keadaan syahid. Aku memohon kepada Allah agar bersedia menyatukanku kembali dengan anak-anakku di surga nanti.
Al Khansa’ meninggal dunia pada tahun 24 Hijriyah.

Rabi’ah al-Adawiyah

Nama lengkap Rabi’ah adalah Rabi’ah bin Ismail al-Adawiyah al-Bashriyah al-Qaisiyah. 
Ia diperkirakan lahir pada tahun 95 H / 713 M atau 99 H / 717 M di suatu perkampungan dekat kota Basrah (Irak) dan wafat di kota itu pada tahun 185 H / 801 M. 
Ia dilahirkan sebagai putri keempat dari keluarga yang sangat miskin. 
Itulah sebabnya orang tuanya menamakan Rabi’ah. Kedua orang tuanya meninggal ketika ia masih kecil. Konon pada saat terjadinya bencana perang di Basrah, ia dilarikan penjahat dan dijual kepada keluarga Atik dari suku Qais Banu Adwah. Dari sini ia dikenal dengan al-Qaisiyah atau al-Adawiyah. Pada keluarga ini ia bekerja keras, namun kemudian ia dibebaskan karena tuannya melihat cahaya yang memancar di atas kepala Rabi’ah dan menerangi seluruh ruangan rumah pada saat ia sedang beribadah.

Setelah dimerdekakan tuannya, Rabi’ah hidup menyendiri menjalani kehidupan sebagai zahidah dan sufiah. Ia menjalani sisa hidupnya hanya dengan ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah sebagai kekasihnya. Ia memperbanyak tobat dan menjauhi hidup duniawi. Ia hidup dalam kemiskinan dan menolak segala bantuan materi yang diberikan oleh orang lain kepadanya. Bahkan dalam doanya, ia tidak meminta hal-hal yang bersifat materi dari Tuhan.

Rabi’ah al-Adawiyah telah dewasa dalam tapaan, dan tidak pernah berpikir berumah tangga. 
Bahkan akhirnya memilih hidup zuhud, menyendiri, beribadah kepada Allah. 
Ia tidak pernah menikah, karena ia tidak ingin perjalanannya menuju Tuhan mendapat rintangan.

Perkawinan, baginya adalah rintangan. Ia pernah memanjatkan doa :  

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala perkara yang menyibukkanku untuk menyembah-Mu. Dan dari segala penghalang yang merenggangkan hubunganku dengan-Mu.”

Di antar mereka yang mencoba membujuknya untuk menikah adalah Abdul Wajid bin Zaid, yang termasyur dalam kezuhudan dan kesucian hidupnya, seorang ahli ilmu agama, seorang khatib, dan penganjur hidup menyepi bagi siapa saja yang mencari jalan kepada Tuhan. Rabi’ah menolak lamarannya dan berkata :  

“Hai orang yang sangat bernafsu, carilah wanita lain yang juga sangat bernafsu sebagaimana dirimu. Apakah kau melihat ada tanda birahi dalam diriku?”

Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi, Amir Abbasiyah untuk Basrah pada saat itu, juga pernah melamar Rabi’ah. Setelah mendiskusikannya dengan para pejabat di Basrah, dia menawarkan mas kawin seratus ribu dinar dan menulis surat kepada Rabi’ah bahwa dia memiliki gaji sepuluh ribu dinar tiap bulan dan semua itu akan dilimpahkan kepada Rabi’ah. Tetapi Rabi’ah membalas surat itu dengan :  

“Hal itu tidaklah menyenangkanku, kamu akan menjadi budakku dan semua yang kau miliki akan menjadi milikku, atau kamu akan memalingkan aku dari Tuhan dalam sebuah pertemuan abadi.”

Versi lain lamaran tersebut mengatakan bahwa Amir mengumumkan kepada masyarakat Basrah, meminta mereka untuk mencarikan seorang isteri baginya. Mereka sepakat memilih Rabi’ah. Dan ketika ia menulis surat kepada Rabi’ah, mengutarakan keinginannya, jawaban Rabi’ah :

“Sesungguhnya zuhud kepada dunia memberikan ketenangan, sedangkan terlalu mendambakan dunia menimbulkan keprihatinan dan kesedihan. Karena itu persiapkanlah dirimu dan dahulukanlah tempatmu kembali. Hendaklah engkau mengurus dirimu sendiri. Dan janganlah engkau andalkan orang lain mengurus kepentinganmu, karena mereka akan membagi-bagikan warisanmu. Lakukanlah puasa sebanyak-banyaknya, dan jadikanlah kematian sebagai hari besarmu.
Mengenai aku sendiri, walaupun Allah telah melimpahkan kekayaan sebanyak yang telah dilimpahkan-Nya kepadamu, atau berlipat ganda dari itu, aku sama sekali tidak akan berbahagia meninggalkan zikir kepada Allah, walaupun hanya sekejap.”

Kisah lain menceritakan Hasan Basri yang dalam sebuah majelis sufi, mendesak Rabi’ah agar memilih seorang di antara para sufi sebagai suami. Rabi’ah memberikan jawaban :  

“Ya, baiklah. Siapa yang pandai di antara kalian, yang memungkinkan aku akan menikah dengannya?” Para sufi sepakat menjawab : “Hasan Basri.” Lalu Rabi’ah mengajukan empat pertanyaan : Pertama, apakah hakim dunia akan bertanya saat aku mati? Adakah aku saat meninggal dunia dalam keadaan muslim ataukah kafir? 
Kedua, kapan aku masuk dalam kubur, dan jika Munkar-Nakir menanyaiku, mampukah aku menjawab mereka?  
Ketiga, kapan manusia dikumpulkan pada hari kebangkitan dan buku-buku dibagikan? Berapa yang menerima buku dengan tangan kanan dan berapa dengan tangan kiri?  
Keempat, kapan umat manusia dikumpulkan pada hari pengadilan, berapa yang masuk surga dan berapa yang ke neraka, di antara kedua kelompok itu, kelompok manakah aku?”    

Hasan Basri tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut karena hanya Allah yang mengetahuinya. Kemudian Rai’ah berkata :  
“Karena aku mempunyai empat pertanyaan yang merupakan keprihatinan pribadiku, bagaiman aku akan menemukan seorang suami yang tidak dapat menjadi tempat bersandar?”

Berbagai sumber menyebutkan bahwa Rabi’ah wafat pada tahun 185 H / 801 M. sedangkan tempat wafat dan makamnya tidak diketahui secara pasti. Ada yang menyebutkan ia dikuburkan di Jerussalem (al-Quds al-Syarif) di atas sebuah bukit. Tetapi sumber yang lebih kuat menyebutkan bahwa Rabi’ah wafat di Basrah, daerah Syam (Syiria).

Dalam Islam, ajaran cinta kepada Allah bukan hal baru, karena sejak semula Rasulullah memang telah mengajarkan ajaran cinta tersebut. Dalam dunia tasawuf pun sejak masa awal asketisme (zuhud), cikal bakal tasawuf, cinta merupakan salah satu langkah yang harus ditempuh oleh seorang zahid. Hasan Basri, zahid sebelum Rabi’ah, juga pernah bicara tentang cinta. Ia mengatakan :

“Barangsiapa mengenal Rabbnya maka dia akan mencintai-Nya, dan barangsiapa mengenal dunia maka dia bersikap zuhud. Bagaimana dapat digambarkan orang mencintai dirinya sendiri dan tidak mencintai Rabbnya, yang menciptakan keberadaan dirinya?”

Tetapi dalam kenyataannya, kepada Rabi’ah lah dirujukkan pemakaian kata cinta dalam kalangan para sufi. Sajak Rabi’ah, cinta kepada Allah menjadi perbincangan utama kaum sufi. Sebelumnya yang menjadi perbincangan utama adalah khauf (rasa takut) dan raja’ (pengharapan).
Hasan Basri telah merintis aliran asketisme dalam Islam berdasarkan rasa takut dan harap, dan Rabi’ah merintis jalan cinta kepada Allah.
Untuk memperjelas pengertian al-Hubb yang diajukan Rabi’ah, yaitu Hubb al-Hawa dan Hubb anta ahl lahu, perhatikanlah tafsiran beberapa tokoh berikut. Abu Thalib al-Maliky dalam Qud al-Qulub—sebagaimana dijelaskan Badawi—memberikan penafsiran bahwa makna Hubb al-Hawa adalah rasa cinta yang timbul dari nikmat-nikmat dan kebaikan yang diberikan Allah. Adapun yang dimaksud nikmat-nikmat adalah nikmat-nikmat materiel, tidak sprituil, karenanya hubb di sini bersifat hubb indrawi. Walaupun demikian, hubb al-hawa yang diajukan Rabi’ah ini tidak berubah-ubah, tidak bertambah dan berkurang karena bertambah dan berkurangnya nikmat. Hal ini karena Rabi’ah tidak memandang nikmat itu sendiri, tetapi sesuatu yang ada dibalik nikmat tersebut. Adapun al-hubb anta ahl lahu adalah cinta yang tidak didorong kesenangan indrawi, tetapi didorong Dzat yang dicintai. Cinta yang kedua ini tidak mengharapkan balasan apa-apa. Kewajiban-kewajiban yang dijalankan Rabi’ah timbul karena perasaan cinta kepada Dzat yang dicintai. Rabiah mengungkapkan hal ini dalam sebuah syair berikut :

“Aku mencintai-Mu dengan dua cinta,
Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu.
Cinta karena diriku adalah keadaan senantiasa mengingatkan-Mu,
Cinta karena diri-Mu adalah keadaanku mengungkapkan tabir sehingga Engkau kulihat.
Baik ini maupun untuk itu, pujian bukanlah bagiku.
Bagi-Mu pujian untuk kesemuanya.”

Sementara itu, Al-Ghazali memberikan ulasan tentang syair Rabi’ah sebagai berikut,

“Mungkin yang dimaksud oleh Rabi’ah dengan cinta karena dirirnya adalah cinta kepada Allah karena kebaikan dan karunia-Nya di udnia ini. Sedangkan cinta kepada-Nya adalah karena Ia layak dicintai keindahan dan keagungan-Nya yang tersingkap kepadanya. Cinta yang keduua merupakan cinta yang paling luhur dan mendalam serta merupakan kelezatan melihat keindahan Tuhan. Hal ini seperti disabdakan dalam hadits qudsi, “Bagi hamba-hamba-Ku yang saleh Aku menyiapkan apa yang tidak terlihat mata, tidak didengar telinga, dan tidak terbersit di kalbu manusia.”

Cinta Rabi’ah kepada Allah begitu mendalam dan memenuhi seluruh relung hatinya, sehingga membuatnya hadir bersama Tuhan. Hal ini seperti terungkap dalam syairnya :

“Kujadikan Kau teman berbincang dalam kalbu.
Tubuhku pun biar berbincang dengan temanku.
Dengan temanku tubuhku bercengkrama selalu.
Dalam kalbu terpancar selalu kekasih cintaku.”

Dalam kesempatan bermunajat, Rabi’ah kerapkali menyampaikan,

“Wahai Tuhanku, tenggelamkan aku dalam mencintai-Mu, sehingga tidak ada yang menyibukkan aku selain diri-Mu. Ya Tuhan, bintang di langit telah telah gemerlapan, mata telah bertiduran,pintu-pintu istana telah dikunci dan tiap pecinta telah menyendiri dengan yang dicintai, dan inilah aku berada di hadirat-Mu.”

Hal tersebut juga disinggung Rabi’ah dalam sebuah syair :

“Aku mengabdi kepada Tuhan
bukan karena takut neraka….
Bukan pula karena mengharap masuk surga….
Tetapi aku mengabdi, karena cintaku pada-Nya

Ya Allah, jika aku menyembah-Mu,
karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembah-Mu,
karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembah-Mu,
demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan
memperlihatkan keindahan wajah-Mu
yang abadi padaku”

Dari pemabahasan tentang Rabi’ah al-Adawiyah di atas, dapat disimpulankan bahwa Rabi’ah al-Adawiyah seorang sufiah yang merentas jalan berbeda dibanding kebanyakan orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah pada masanya. Sebelumnya para sufi mendekatkan diri dengan jalan khauf wa raja’, yaitu rasa takut dan pengharapan kepada Allah. Namun Rabi’ah mengenalkan dan mengajukan jalan lain yaitu mahabbah (cinta Illahi), sehingga beribadah atau mengabdi kepada Tuhan secara tulus ikhlas tanpa rasa terpaksa. Bukan karena merasa takut pada neraka atau karena mengharap surga, karena bagi Rabi’ah beribadah seperti ini berarti beribadah dengan pamrih kepada Allah.


Zainab Al-Ghazali

Dia terlahir di wilayah Al-Bihira, Mesir pada 1917, dan merupakan keturunan dari kalifah kedua Islam, Umar bin Khattab dan Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Ketika masih berusia sangat muda, 10 tahun, Zainab Al-Ghazali telah memperlihatkan kepandaian dan kelancarannya dalam berbicara di depan umum. Dan sepanjang hidupnya, dia lantas membentuk dirinya sebagai orang yang berhasil belajar secara otodidak. Ambisinya yang kuat dan tekadnya yang membara, membuatnya maju untuk mencapai jenjang pendidikan tinggi, pada saat kaum wanita pada saat itu jarang yang mengenyam pendidikan karena dianggap tabu.

Saat menginjak usia remaja, Zainab aktif di organisasi Persatuan Kelompok Feminis Mesir yang dibentuk oleh Huda Al-Sharawi tahun 1923. Namun tak lama dia mengundurkan diri dari organisasi itu karena bersebarangan pendapat mengenai perjuangan menuntut kesetaraan.
Dia tidak setuju dengan ide-ide sekular tentang gerakan pembebasan perempuan. Meski demikian, Al-Ghazali tetap menghormati Sharawi dan menyebutnya sebagai seorang wanita yang memiliki komitmen dan keimanan yang baik. Saat usianya 18 tahun (1936), dia mendirikan Asosiasi Wanita Muslim untuk mengorganisasi kegiatan-kegiatan kaum perempuan yang sesuai norma-norma Islam dan ditujukan untuk kepentingan-kepentingan Islam.

Zainab Al-Ghazali selalu berusaha mengedepankan masalah keseimbangan antara hal-hal yang bersifat religius dan modern. Ia mendapat pendidikan agama pertama kali dari cendikiawan muslim terkemuka di Al-Azhar, Syeikh Ali Mahfuz dan Mhammad al-Naggar. Tidak lama setelah ia mendirikan Asosiasi Wanita Muslim, Al-Ghazali langsung melakukan sejumlah aksi dan mendapatkan dukungan dari Menteri Wakaf untuk mendirikan 15 mesjid dan belasan mesjid lainnya yang dibiayai oleh masyarakat umum.
Asosiasi yang didirikannya melahirkan generasi dai-dai wanita yang mempertahankan status perempuan dalam Islam serta meyakini bahwa agama mereka memberikan peluang sebesar-besarnya bagi kaum perempuan untuk memainkan peranan penting di tengah masyarakat, memiliki pekerjaan, masuk ke dunia politik dan bebas mengeluarkan pendapatnya.

Dalam sebuah wawancara tahun 1981, dia mengemukakan bahwa Islam telah memberikan segalanya bagi kaum pria dan wanita. Islam memberikan kebebasan, hak ekonomi, hak politik, hak sosial, maupun hak pribadi kepada kaum Muslimah. Islam memberikan kaum wanita hak-hak tertentu di dalam keluarga yang tidak dimiliki oleh komunitas lain. Para Muslimah harus mempelajari Islam sehingga mereka mengetahui bahwa Islam telah memberikan segalanya kepadanya. Zainab juga meyakini bahwa Islam tidak pernah melarang kaum wanita untuk beraktivitas di masyarakat, bekerja mencari nafkah, masuk ke dunia politik dan mengungkapkan gagasan-gagasannya. Dia percaya Islam mengizinkan mereka untuk memiliki harta benda, berusaha pada bidang perekonomian atau apapun kegiatan demi menunjang perkembangan masyarakat Muslim. Meski begitu, dia berpendapat bahwa tugas utama seorang wanita adalah menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya dan menjadi istri setiap bagi suaminya. Jangan ada apapun yang menghalangi kaum wanita untuk tidak menjalankan tugas yang satu ini.

Al-Ghazali banyak dipengaruhi oleh pendiri Ihkwanul Muslimin, Syekh Hasan al-Banna. Ia memegang teguh pandangannya bahwa tidak ada konflik antara agama dan politik. Al-Ghazali adalah orang yang lantang mempertahankan syariah dan kerap menghadapi masalah dengan rezim Mesir pada saat itu, Presiden Gamal Abdul Naser. Dia mengalami hidup yang penuh siksaan dalam tahanan rezim itu.

Zainab Al-Ghazali adalah satu dari banyak pejuang wanita yang mengukirkan sejarahnya dengan menulis. Menulis memang mampu menghadirkan banyak fenomena. Begitu banyak tokoh mencipta karya, begitu banyak fenomena tercipta. Satu fenomena yang seakan-akan mengguratkan heroisme adalah perlawanan pena seorang tokoh. Pena telah menjadi alat perlawanan untuk menentang kezaliman. Dengan pena, seorang tokoh hendak menombak penguasa yang telah berlaku sewenang-wenang. Pena di tangan seorang tokoh kerap bersuara meskipun harus pula berbuah penjara dan siksaan.

Mungkin kita pernah mendengar kisah seorang Zainab Al-Ghazali (1917–2005). Perempuan Mesir ini merangkai kalimat yang membuat pena bermakna. Banyak referensi untuk mengenal dan mengkaji sosok muslimah ini. 
Dari banyak referensi itu, Nafiah Al-Mar’ab (2010) menyusun kalimat mengenang perjuangan pena Zainab Al-Ghazali. 

“Suatu ketika ia melihat kondisi pemerintahan Mesir melakukan kezaliman yang luar biasa. 
Dilandasi rasa keimanan yang mendalam, Zainab mengirimkan tulisan ke media massa nasional yang isinya mengkritisi kebijakan pemerintah Mesir. Tulisan Zainab serta-merta mendapat respons negatif dari pemerintah Mesir. Maka, pada suatu malam diculiklah Zainab oleh aparat pemerintah Mesir. Zainab lalu dimasukkan ke kamar sempit yang gelap gulita dalam kondisi terikat. Beberapa menit kemudian lampu kamar dinyalakan. Dan ternyata di dalam kamar tersebut telah berkumpul puluhan ekor anjing yang disiapkan untuk menyiksa Zainab. Dengan dibalut pakaian putih, Zainab tak henti-hentinya berdo;
“Ya Allah, sibukkanlah aku dengan mengingati-Mu, sehingga hal yang lain tak terasakan olehku”.
 Anjing-anjing tadi pun menyerang Zainab. Menggigit sekujur tubuh Zainab. Ia hanya mampu memejamkan mata, tak sanggup menyaksikan puluhan anjing tadi menggerogoti tubuhnya. Tak berapa lama kemudian, pintu kamar dibuka kembali dan lampu dinyalakan. Subhanallah, dengan izin Allah, Zainab tak mendapati sedikit pun luka di sekujur tubuhnya. Allah Azza wa Jalla telah menunjukkan kekuasaan-Nya pada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dan Zainab sebagai juru dakwah tulisan telah melakukan hal yang patut menjadi renungan untuk para aktivis dakwah tulisan pada hari ini.” 
Tinta-Tinta Dakwah dalam Dwi Suwiknyo dkk., Menulis, Tradisi Intelektual Muslim

Penjara dan siksaan, tidak pernah mematahkan tekadnya bahkan membuatnya lebih kuat. Zainab Al-Ghazali meninggalkan warisan berupa perjuangan membela Islam dan reputasinya sebagai aktivis perempuan yang tanpa ragu melawan sekularisme dan liberalisme dan menggantikannya dengan nilai-nilai Islam. 
Saat kerab kudengar pergolakan di Mesir sekarang ini, merindu sosok selayak Zainab Al-Ghazali.

EPILOG

Begitulah mereka telah mengukirkan sejarahnya. Abadi, membawa cerah untuk semesta. Tentang makna diri yang mampu mewarna sekitar, Adalah kita, kitapun mampu mengukir sejarah peradaban. Untuk itu setidaknya ada 2 syarat untuk menjadi wanita pengukir sejarah. Setidaknya ini menurutku :)
Syarat 1: 
Harus menjadi pribadi yang mempunyai visi. Visi yang jelas, visi tentang sebuah cita-cita besar, bukan sebat pada seorang pangeran dari negeri dongeng. Visi menjadi ibu generasi,  menjadi wanita pengukir sejarah adalah sebuah visi peradaban. 
Syarat 2:
Harus aktif mengubah diri dari shalih menjadi muslih. Mengaktualisasikan diri dengan tarbiyah dan peran apa saja yang mampu diambil. Tak kenal jeda, tak ada istilah istirahat, tak mengharap pujian dan selalu meluruskan niat hingga khusnul khotimah. Aamiin. 
 
Sebagai Wali Siswa, SIT Bina Ilmi
Kisah Seuntai Awan Kecil Oleh Subcomandante Marcos
Kutipan dari Kumpulan Tulisan Terpilih "Kata adalah Senjata"
Sengaja kusertakan, semoga menginspirasi 

Alkisah, hiduplah sebuah awan kecil.
Ia sangat kecil, nyaris tak sampai seuntai. Dan manakala awan-awan besar menjadikan diri mereka hujan dan mengecat hijau pengunungan, si awan kecil akan terbang mendekat untuk menawarkan jasanya. Tapi mereka mengoloknya, karena ia begitu kecil.........
Mereka mengoloknya menjadi-jadi.
.............
Maka awan kecilpun pergi lebih jauh lagi dan sampailah ketempat yang sangat kering kerontang sampai tak ada satu dahanpun yang tumbuh. Awan kecil berkata:
"Ini lokasi yang sempurna untuk menjadikan diriku hujan, karena tak ada awan lain yang pernah datang kemari."

Si awan keci mengerahkan semua kemampuan untuk menjadikan dirinya hujan, dan akhirnya menelurkan satu tetes kecil............
akhirnya tetes kecil itu menciprat sendiri. Karena padang itu begitu kering, tetesannya menimbulkan kebisingan hebat saat menciprat tepat diatas batu. Iapun membangunkan bumi. Dan bumipun bertanya:
"Ribut-ribut apa itu?"
"Tetes hujan jatuh" jawab batu.
"Tetes hujan? Artinya hujan bakal turun! Lekas bangun! " Bumi mengingatkan semua tetumbuhan yang sembunyi dibawah tanah dari terk matahari.

Maka tumbuh-tumbuhanpun bangun dan mengintip, dan untuk sesaat seisi padang gersang tersaput warna hijau. Awan-awan besarpun melihat hijau itu dari kejauhan dan berkata:
"Lihat ada banyak hijau disana. Ayo kita bikin hujan ditempat itu. 
Kita tidak tahu disana begitu hijau !"
.....................
Tak seorangpun ingat, tapi si batu menyimpan rahasia tentang seuntai awan kecil. Waktu berlalu, awan-awan besar pertama itupun lenyap dan tanaman-tanaman pertamapun mati.
Dan batu yang tak pernah mati, memberitahu tanaman-tanaman baru yang terlahir dan awan-awan baru yang tiba, kisah tentang seuntai awan kecil yang mengucurkan setetes hujan.

***

Disampaikan dengan penuh cinta untuk adik-adik seperjuangan pada DT, 30 Januari 2010 di Al-Huda

Jumat, 28 Januari 2011

Sucses Suami

Menikah itu ibadah. Menikah juga adalah sunah Nabi, mewujudkannya adalah menggenapkan setengah agama. Ada banyak potensi baik yang melejit pada diri seseorang setelah ia menikah. 

Lucu dan sangat tak beralasan saat seorang laki-laki menunda niatnya untuk menikah hanya karena tak PD dengan penghasilannya pas-pasan, khawatir tak bisa menghidupi istri dalihnya. Padahal....siapa yang berhak menyimpulkan demikian? Ada banyak kisah sucses seseorang justru dimulai saat sudah menikah.

Setelah menikah, suami adalah qowwam. Tapi seperti apa keluarga yang akan dibangun bukan berarti hanya urusan Sang qowwam. Ada besar peran istri menyertai, melengkapinya dan mendukung suksesnya seorang suami juga sebuah bangunan keluarga. 

Tak ada maksud apa-apa saat mem-post tulisan ini selain menebar hikmah, memahat ibrah, semoga abadi jadi do'a agar diri menjadi istri yang bisa mendukung sucses suami. Semoga....pun kepada semua saudariku para istri  yang merindu dan pemburu syurga :)


Thomas Wheeler, CEO Massachusetts Mutual Life Insurance Company, dan istrinya sedang menyusuri jalan raya antarnegara bagian ketika menyadari bensin mobilnya nyaris habis.
Wheeler segera keluar dari jalan raya bebas hambatan itu dan tak lama kemudian menemukan pompa bensin yang sudah bobrok dan hanya punya satu mesin pengisi bensin. Setelah menyuruh satu-satunya petugas di situ untuk mengisi mobilnya dan mengecek oli, dia berjalan-jalan memutari pompa bensin itu untuk melemaskan kaki.
Ketika kembali ke mobil, dia melihat petugas itu sedang asyik mengobrol dengan istrinya. Obrolan mereka langsung berhenti ketika dia membayar si petugas. Tetapi ketika hendak masuk ke mobil, dia melihat petugas itu melambaikan tangan dan dia mendengar orang itu berkata, Asyik sekali mengobrol denganmu.
Setelah mereka meninggalkan pompa bensin itu, Wheeler bertanya kepada istrinya apakah dia kenal lelaki itu?, istrinya langsung mengiyakan.
Mereka pernah satu sekolah di SMA dan pernah pacaran kira-kira setahun. Astaga, untung kau ketemu aku, Wheeler menyombong.
Kalau kau menikah dengannya, kau jadi istri petugas pompa bensin, bukan istri direktur utama.
Sayangku, jawab istrinya, kalau aku menikah dengannya, dia yang akan menjadi direktur utama dan kau yang akan menjadi petugas pompa bensin.

Saudariku, bantu suami kita untuk meraih sukses dunia dan akhirat.…

Source : (The Best Of Bits & Pieces, satu dari 71 Kisah dalam Buku Chicken Soup For The Couples Soul) Judul Asli : SUKSES KARENA DUKUNGAN ISTRI

Senin, 24 Januari 2011

Selamat Jalan Guruku

Innalillahi wa innalillahi rojiun...

Selamat jalan Guru, semoga ilmu yang engkau ajarkan menjadi amal jariyah yang selalu mengalir pahalanya.

Selamat Jalan Dokter, smoga amal Ibadahmu, diterima di sisi-Nyad. Semoga lapang dan terang alam kuburmu. 

Aamiin Yaa Robbal Alamin

Selamat Jalan dr. Ruslan HS, SpRM

***
Aku baru dapat khabar beliau meninggal dari status TS dr. Adi Kurniawan, bahkan tak tahu jelas kapan dan sakit apakah beliau sebelum meninggal. Tapi sungguh aku ingin menulis kisah ini, kisah yang mungkin Almarhum tak mengingatnya lagi. Namun buatku tak akan terlupakan.

Dokter Ruslan, begitu kami menyapanya. Kebapaan, berwibawa, karismatik dan sangat bersahaja. Ini kesanku tentang beliau. Aku punya kisah spesial tentang beliau. Ya...beliau adalah salah seorang yang memberiku kado istimewa dihari pernikahanku lebih dari 8 tahun yang lalu. Begini kisahnya : 

Aku hampir selesai menjalani stase di PDL saat aku mulai 'diproses', satu fase yang menghantarkanku kejenjang pernikahan. Aku melewatinya dengan banyak kisah perjuangan. Berjibaku dengan ujian di PDL yang memang berat, ditambah dengan harus menyakinkan orangtua di Lampung dan dalam kondisi yang belum lancar komunikasi (belum era hp-hpan), cukup rumit pokoknya. Belum lagi sholat istikharohpun aku jalani disela jam jaga dan persiapan ujian di PDL. Akhirnya fase awal terlewati. Aku mulai menghitung tentang tanggal yang paling real untuk fase selanjutnya. Khitbah, akad nikah dan walimatul ursy, hmmm....sekitar 6 pekan lagi. Akhirnya akupun merancang stase berikutnya harus 'minor' yang saat itu memakan waktu 5 pekan. Nah setelah minor sepertinya aku baru ambil Rehab dan Gilut yang saat itu masa stasenya 2,5 pekan. Artinya aku berharap hanya 'cuti' alias staknasi 2,5 pekan tersebut. Klop.

Tapi ternyata Allah berkehendak lain, saat aku sudah yakin bakal masuk stase JIWA ( karena sempat urus-urus) ternyata aku masuk Gilut yang dengan sendirinya nyambung Rehab. Akhirnya aku sempet cari kalau-kalau ada kawan yang mau diajak tuker. Hasilnya, sayang sekali aku tak mendapat seorangpun yang bersedia, karena memang aku tak sampaikan alasan bahwa aku mau nikah, btw meski kecewa karena aku bakal 'cuti' 5 pekan tak apalah pasti ada hikmahnya, batinku saat itu. 

Stase GILUT berlalu dengan lancar. REHAB kutiti sudah dengan tidak konsent. Karena banyaknya ini itu yang harus kupersiapkan untuk akad nikah dan acara lainnya. Akhirnya saat pengumuman ujian dan tugas diumumkan, dokter pengujiku adalah dr. Ruslan, SpRM dan tugasku refratkupun dengan beliau. Ujian tak terlalu mengecewakan, Alhamdulillah bisa jawab, tinggal hasilnya. Nach saat mencari bahan refrat aku yang rada kesulitan. Refrensinya langka. Akhirnya karena keterbatasan waktu, aku harus segera pulang mudik, refrat yang jauh dibawah sempurna kukumpulkan. Aku masih jelas mengingat moment itu. Ku ketuk ruang Kepala Bagian Rehabilitasi Medik, RSMH dan aku bertemu dr. Ruslan, SpRM pagi itu. 

Kusampaikan maksudku menghadap beliau, yaitu mengumpulkan tugas refrat sekaligus menyerahkan undangan akad nikah dan walimatul ursy-ku yang masih sekitar 10 hari lagi. Beliau buka undangan 'hijau'ku, tertegun sejenak, reaksinya....dengan senyuman beliau menanyakan kartu staseku, menandatanganinya, membaca refratku sekilas langsung tandatangan dan menulis diselembar kertas. 

"Tolong ini serahkan ke dekanaat ya....nilai Rehabmu langsung keluar hari ini. Sebagai hadiah pernikahan nilai B untukmu" 
Wow....rasanya seperti tak menginjakkan kaki dibumi lagi karena girang dan seunengnya. Akupun pamit dan mengucapkan banyak terima kasih, tak henti-henti ku bersyukur,  rupanya ini salah satu hikmah aku stase Rehab sebelum akad nikah, mendapat kado istimewa dari orang yang juga istimewa. Allah memang sebaik-baik merancang moment :) 

dr. Ruslan HS, SpRM in memorian 
Besoknya aku kontak Yuk Erna Dekanat, menanyakan khabar tentang meninggalnya dr. Ruslan, ternyata Yuk Erna membenarkan dan menambahkan informasi bahwa dr. Ruslan meninggal di ICU RSMH karena serangan stroke yang ke-4 kalinya. Selamat jalan guru, selamat jalan Bapak, semoga ilmu yang kau beri pada kami menjadi amal yang tak terputus, semoga lapang dan terang alam kuburmu. Diterima amal dan diampuni semua dosamu.

Calon Penulis Handal


Jum'at sepulang sekolah sebenarnya Yunda sudah bilang ada PR membuat cerita tentang Sedekah atau Zakat dari Bunda gurunya di Sekolah.
Dan Akangpun laporan ada PR menulis dari Bunda.
Kulihat sepintas: Waw benar-benar PR nich :)
Menuliskan kalimat " Saya senang belajar" dipenuhkan selembar kertas. PR persiapan SD tampaknya. Akupun mulai atur strategi, Akang kuajak menulis sedikit dulu agar tak terasa banyaknya, secara baru kali ini Akang dapat PR. Dulu waktu Yunda TK sering juga ada PR tapi yang ditulis hurup "a" ....atau....hanya kata-kata " Ayah" dan itupun diawali dengan 5 baris saja. Itulah mengapa saat lihat PR Akang, aku langsung berkernyit, kok buanyak banget ya, langsung  " kalimat" pula.

Tapi karena sejak Jum'at siang lanjut sabtu dan tahu-tahu sudah Ahad lagi, anak-anakku happy bermain dan memang jadwal silaturrahim kesana kemari, dan jujur akupun tak enak hati harus mengingatkan akan adanya tugas yang belum dikerjakan. Libur gitu lho !!! Jadilah nasib si-PR baru bisa dikerjakan Ahad malam ba'da sholat magrib.

Yunda, Akang, Kakak dan Abang di depan Masjid Agung


O...ya, Sabtu sore ada kejadian duka yang menimpa Abang Daffa dan Kak Wildan. Tapi kami sekeluarga justru baru mengetahuinya ba'da subuh hari Ahadnya, saat Abi sholat subuh di Masjid. Ceritanya memang kami tahu Abang dan Kakak sore mau beli layangan naik sepeda ke Indomart, bahkan Akang sebenarnya sempat mau ikut, tapi karena memang hari ini tak ada jadwal beli mainan, jadi Akang berhasil dibujuk untuk tak ikut serta. Nach ternyata sepulang dari Indomart itulah ada motor yang menabrak sepeda Abang Kakak. Ada luka-luka dikaki dan benjol juga memar di kepala. Abang dan Kakak juga muntah taklama dari kejadian. Akhirnya Abang Kakak di bawa ke RS oleh keluarga si-penabrak. Sejak Ahad pagi Yunda Akang antusias membujuk Abi untuk nengok ke RS, namun apamau dikata jadwal Abi yang padat tak kenal kompromi. Dan Yunda Akang juga pagi sampai siang dirumah Nyai langsung dari lokasi LTTQ. Jam 13.00 sampai sore Yunda TRK dengan Bunda Narti di rumah Ayuk Fathiyah. Ada waktu sorenya, tapi mau naik motor tampa Abi tak memungkinkan juga karena hujan seharian mengguyur kota Palembang. Akhirnya acara menengok Abang dan Kakakpun batal, sesaat setelah sholat magrib Yunda Akang segera menghambur kerumah Abang Kakak, berharap mereka sudah pulang, ternyata hanya ada Ayuk Nadia dan Adik Nayla yang bertemankan Nenek juga Ombai.
Ceria ala Abang, Kakak, Akang dan Yunda
Sampai berita ini ditulispun Abang Kakak masih dirawat, yang sabar ya Bang, Kak....cepat sembuh, sepenuh do'a untukmu berdua dari kami penghuni B7. Akang kesepian tak ada kawan main. Dan tadi pagi menjelang pergi sekolahpun, Akang sudah menyampaikan harapannya untuk bisa menengok Abang Kakak hari ini. Semoga bisa ya Nak.....

Lanjut tentang PR. Pulang dari rumah Abang Kakak, PR pun digarap. Aku kira akan butuh waktu lama buat Akang menyelesaikan PR tulisannya, ternyata diluar dugaan Akang begitu bersemangat dengan tulisan yang lumayan rapi ala Akang. Masih ada waktu main dan baca buku sebentar sebelum tidur, bahkan sempat mati lampupun tak ada masalah. Saluut buat Akang. Akangpun pulas sebelum Abi sampai dirumah .
Adapun Yunda, Subhanallah bakat mengarangnya ternyata luar biasa, seolah tak lagi butuh waktu untuk berfikir Yunda langsung menuliskan PR ceritanya. Mau tau isinya, ya aku memang sengaja menyalinnya disini. Utuh, karena tadi pagi ceritanya tersebut disalin ulang ke kertas polio dengan huruf sambung, kalau semalam ditulis dibuku dengan huruf cetak saja.

Begini ceritanya:

"Pada hari Sabtu kami sekeluarga diajak Ummi Abi ke Toko Buku. 
Lagi asyik memilih buku, datang Ibu-ibu mengendong bayinya, mereka orang miskin yang tidak punya rumah. 
Mereka melihat buku dengan senang tetapi sayangnya mereka tidak punya uang, jadi orang-orang yang ada di Toko Buku itu merasa kasihan dan memberi uang sedekah kepadanya. 
Termasuk aku dan Ummi. Tidak seberapa banyak sich. 
Akhirnya mereka membeli buku yang murah dan mereka merasa senang. 
Ternyata sedekah bisa membuat orang lain senang".

Pendek dan lugas saja, tapi sungguh ini hasil karya Yunda yang dibuatnya dengan sukacita. Tidak merasa terbebani. Yach...mungkin memang di Sekolah sudah sering membuat tugas mengarang serupa ini, tapi baru kali ini aku melihat langsung proses penulisannya. Biasanya aku baca hasilnya saja. Yunda sekarang kelas 2 SD, hmm....aku mencoba mengingat kelas 2 SDku dulu seperti apa ya kalau disuruh mengarang :)  Dan maafkan, aku benar-benar lupa, hehe

Aku jadi teringat dialogku dengan Mbak HTR kala itu, saat bercerita dengan mata berbinar bagaimana beliau mengasah kemampuan bahasa Faiz, putranya yang sekarang sudah berhasil menulis banyak buku dan memenangkan begitu banyak lomba kepenulisan. Bahwa beliau selalu mengajaknya berdialog tentang buku, tebak-tebakan kata bahkan sampai sesi membuka membaca juga mempelajari kamus Bahasa Indonesia. Sebegitunya lho....ach, anak memang bisa jadi sudah punya bakat alam, tapi andil orangtua terutama Ibulah yang bisa mengasahnya agar bakat itu semakin bersinar. Mengarahkan, mendukung dan membimbing. Aku tau, aku belum maksimal melakukan tugas ini Nak....tapi aku sangat mau, semoga kedepan lebih baik.

Paginya kuceritakan semua pada Abinya anak-anakku, tentang kehebatan aksi "menulis" Yunda Akang semalam. Ya....karena Abi pulang malam sekali, saat kami semua sudah pulas tertidur :( 
Dengan bangga aku bilang: 
"Ternyata Yunda calon pengarang handal lho Bi.... dan Akang adalah penulis hebat"

Mengulik-ulik hasil karya Yunda:
  • Pada hari Sabtu.....biasanya gaya bahasa karangan seorang anak, seingatku adalah "pada suatu hari....." Hmm...ini sudah selangkah lebih kreatif Nak...aku ingat Ammah Evi pernah cerita tentang sebuah pelatihan untuk mereka para guru di SDIT tempatnya mengajar, bahwa...anak SD kalu ngarang coba dech diarahkan untu tidak selalu memulai kalimat dengan "pada suatu hari...."  Berarti Yunda mengingat moment dan merekam dengan baik cerita Ammah Evinya.
  • Di Toko Buku....mengapa ya kok tidak di Pasar , di PS atau di jalan atau dimana gitu? Hmm....ternyata Toko Buku adalah tempat yang sangat berkesan buat Yunda. Jadi tambah seneng ngajak Yunda Akang ke Toko Buku, tapi kan jadwalnya sebulan sekali ya Nak....kalu ndak salah pekan ke 4, minggu depan dong :)
  • .....Termasuk aku dan Ummi. Kok bukan "aku dan adik ya?" Hmm....entahlah, tapi memang menurutku, sampai sekarang antara Yunda Akang masih ada iklim kompetisi alias rada ngiri-ngiri khas ala dua kakak beradik. Tapi sebenernya saling sayang kok :)
  • Nach yang ini yang bikin geli menurutku : "......datang Ibu-ibu menggendong bayinya" Kenapa bukan anaknya, kan bisa juga tu....Hmm.....ya, ya....menurutku inilah keinginan terpendam Yunda. Pengen banget punya adik Bayi, hehe...Aamiin
 
Moment yang indah, sayang bila tak kutulis :)

Jumat, 21 Januari 2011

Sahabat Rahim

Segenap rasa syukur ini lengkap menyatu
Sejak kau ada dalam rahimku
Aku bertekad menjadi sahabat terbaikmu
Kalian adalah sumber inspirasi
Kalian adalah anugrarah terindah
Hari-hariku bertambah ceria sejak kalian hadir
Warna indah pelangipun membias sempurna dihati sejak adamu


Khodijah ATs binti M Ridwan Saiman

Akang Hamas
Dengan segenap fitrahmu
Tiada kata yang mampu melukis bahagiaku
Hari-hari berlalu
Saat semua mulai bertumbuh dan bergerak cepat
Mengapa aku seolah tak siap

Nabawi, 1431 H

Tapi Nanda....
Aku sadar, semua tak mudah
Duhai diri yang tengah berjuang menjadi sahabat terbaikmu
betapa bersamamu adalah hal yang perlu ilmu
tak cukup hanya mengandalkan tradisi warisan seperti kala kudidik dan diasuh dulu
karena dirimu bukanlah aku
dan tentu tak suka dibandingkan, bahkan dengan diriku dimasa lalu

Yunda, Akang, Ummi dan Buku
Sebenarnya...
anak bisa patuh tanpa diteriaki
anak senang berbuat baik tanpa diminta
anak akan belajar tanpa dipaksa
anak dapat mandiri tanpa digurui
anak punya ketahanan diri tanpa harus diisolasi

Bersama Abi
Yunda, Abi dan Akang

Bertualang, rihlah dan renang adalah moment istimewa.

Dan sesungguhnya...
orangtua baik akan menjelaskan
orangtua bijak melakukan teladan
orangtua cerdas selalu menginspirasi


*****

Penuh Cinta untuk Yunda, Akang dan Adeks
Kami kan selalu berjuang untuk menjadi sahabat jiwa terbaik untuk kalian :)

Jumat, 14 Januari 2011

" Alhamdulillah "

Khodijah Auliya Tsabitta, Kelas II Badar, SDIT Bina Ilmi.
Alhamdulillah....o thanks you Allah
Dad at work....Alhamdulillah
Mom at home....Alhamdulillah
Thanks you Allah....
For You blesssing on me

Alhamdulillah....terimakasih Allah
Ayah bekerja....Alhamdulillah
Ibu di rumah.....Alhamdulillah
Terimakasih Allah....Rahmat-Mu untukku

Demikian bunyi syair sederhana yang sudah 2 hari ini selalu didendang ulangkan sulungku.
Sederhana memang. Tapi tidak buatku, ya paling tidak saat ini.
Aku tahu mungkin tak terbersit difikirnya, bahwa bait-bait syair tersebut akan membuatku merenumg. Dalam. 

Awalnya, saat sepulang sekolah Yunda bernyanyi, aku langsung menebak ini lagu terbarunya yang diajarkan Bunda gurunya di Sekolah. Dan ketika keesokan hari kembali terdengar, akupun ingin memastikan :

" Yunda, lagunya siapa yang ngajari?"
Jawabnya : " Bunda Weni"

Hmmm....sesuai dugaanku. Dialogpun berlanjut,

"Jadi Bunda Weni ajari nyanyinya dari rumah ya? "
"Ummi nich :) hehe..." sahut Yunda berderaiiiiiiiiii.  Dan kamipun tertawa bersama.

Achhh....bisa jadi ini curahan semua Bunda, semua Ibu sepertiku.

Rabu, 12 Januari 2011

Tentang Menulisku....

Semua orang yang suka membaca pasti bisa menulis.
Tapi tak banyak orang yang mau mulai menulis,
padahal semua kemauan, semangat, bahkan bakat tak akan bisa menghasilkan sebuah tulisan.
Ya....menulis hanya butuh satu kata "mulai"




Adapun aku? Aku baru mulai (lagi) menulis, walaupun dengan segala keterbatasan.
Dan aku mulai menulis, bukan karena ranah bicaraku kehabisan kata, akau dibungkam penguasa. 
Bukan. Bukan pula karena medan gerakku disekap atau dikebiri,
sungguh bukan karena itu semua.
Aku (mulai) menulis karena aku makin meyakini
bahwa hanya dengan menulislah aku akan terus hidup.

Jumat, 31 Desember 2010

Bicara Kita....

Atas apa kita bicara
Sungguhkah atas nama cinta
tapi mengapa tak berimbas nyata
karena cinta yang tak sempurna, atau sinyalnya yang salah



Atas apa kita bicara
Benarkah atas segenap asa
lalu mengapa masih selalu dilanda galau
bukan karena apa dan pada siapa, tapi asa memang harus tetap ada


 Atas apa kita bicara
Yakinlah tidak bercampur dengan kesumat
sebab tak ada keberkahan yang menyatu dengannya
meski atas dalih apapun
pun ketika semua ragam nestapa menimpa negeri kita
pastikan semua cinta, sebentuk asa tak bersinergi dengan angkara

*** 

Sukabumi, Penghujung Desember 2010


Menuangkan damai jiwa, dan berharap menuangku damaikan jiwa :)

Rabu, 22 Desember 2010

[1001 Cerita Cinta Ibu dan Anaknya ]



 Episode Melek Finansial, Tentang Uang Saku
Sebetulnya masalah uang saku aku punya pengalaman sendiri. Seingatku sejak SMP, aku sudah ditempa untuk bisa mengelola uang saku selama 2 pekan, SMA dan kuliah diterapkan uang saku bulanan, ya….ya….awalnya kerepotan juga karena ini tak diawali dari kecil atau dimulai dengan rentang waktu yang lebih singkat dua hari pertama misalnya. Tanpa latihan tapi langsung ujian dan dipaksa harus lulus. Karena ketika SMP aku masuk asrama, terpisah dari orangtua dan ditengok 2 pekan sekali, bergantian oleh kedua orangtua. Syukurnya tak begitu banyak kendala.

Kalaulah ditela’ah dampaknya dikemudian hari memang ada, justru sangat jelas. Karena konsep uang saku yang belaku saat zaman aku sekolah dulu adalah kagetan, tanpa pembelajaran, mesti BISA tanpa difahamkan, harus cukup tanpa boleh minta tambahan karena orangtua jauh dan belum kenal metode transfer, artinya bisa karena terpaksa.

Adapun dampaknya yang paling terasa adalah saat sudah bisa punya uang sendiri  aku kadang sering melakukan impulse buying (belanja yang tidak terencana). Sebenarnya aku sudah melakukan belanja bulanan, tapi kadang suka tergoda dengan diskon atau faktor lain, aku tidak berfikir panjang apakah sesuai kebutuhan seperti saat sekolah dulu, yang takut kehabisan uang saku, toch sekarang aku seperti bersekongkol dengan yang namanya pembenaran, nanti kan bisa minta suami atau cari lagi.

Adalagi penyebabnya, saat mau pergi anak-anak pesan :
”Mi, nanti beli Es Krim ya..”  atau  “beli buku dan mobilan ya....”
Serta merta aku ”IYA” kan, karena merasa ingin membuat mereka senang, toch berapa juga harganya, tak begitu mahal. Tapi pesan apa yang sudah aku sampaikan pada anak-anakku.

”Boleh punya keinginan apa saja, kapan saja maka akan kupenuhi Nak...agar kalian bahagia”

Begitukah ? Bukan soal harganya yang kurang dari lima ribu. Lebih dari itu mereka tanpa sadar sudah kulatih untuk dikendalikan oleh keinginan. Tanpa sengaja aku sudah mendidik mereka bermental pasif, menjerumuskan mereka pada pola belanja berbasis keinginan bukan kebutuhan, terlalu mudah mendapatkan sesuatu, tanpa harus keras berjuang. Yang paling tampak, ternyata aku sudah mewariskan pola belanja yang tidak terencana pada anak-anakku. Mengarah pada pola konsumtif. Padahal jelas aku tak ingin ini terjadi pada anak-anakku.

***

Pada kenyataannya, banyak orangtua mengajarkan cara menabung, *menabung yang sangat konvensional :)
”Ini uang untuk nabung ya Nak...”
Bagus memang, tapi perlu dikaji lagi ini yang mau nabung anak atau orangtuanya.

Disatu sisi, banyak orangtua yang tidak mengajarkan cara mengelola uang. Tak ada panduan cara membelanjakan uang, cukupkah kasih uang saat anak meminta, belilah sesuai keinginan, tak ada rencana, tak ada diskusi, boleh minta kapan saja, asal tidak dalam jumlah yang besar, kalaupun sesekali dikasih Yai Nyai ( Kakek Nenek) boleh belanja ini itu, asal tidak semaunya, sisanya ditabung, Hmm..lagi-lagi orangtua yang ngatur, akupun begitu, ikut-ikutan. Ya itu yang aku dapat dan ”nyaris” kebablasan turut menurunkannya.

Sampai suatu waktu aku membaca buku tentang kecerdasan finansial sejak dini, *lupa judul dan pengarangnya, sudah berusaha saya cari, tapi belum ketemu, tak ada jejaknya, hiks. Dari buku itu aku mendapat pencerahan, bahwa sesungguhnya konsep uang saku justru akan melatih anak untuk me-manej uangnya. Walau aku tak serta merta menerapkan konsep uang saku dalam buku itu. Karena deskripsinya uang saku untuk satu pekan. Pada anak kelas 3 atau 4 SD. Jelas dan fokus isinya. Membuatku terkesan, dan berjanji akan menerapkannya beberapa tahun lagi.

Tapi fakta berkata lain, ada pengalaman teman, ada juga yang kualami sendiri.
Suatu ketika seorang temanku dengan panik bercerita, bahwa anaknya diberi uang 100 ribu oleh temannya. Jumlah yang besar *paling tidak menurutku, untuk anak kelas 3 SD. Selidik punya selidik, si- teman anak seorang pejabat diatas Kepala Dinas yang juga seorang pengusaha sucses, yang biasa mengantongi uang 1 juta/hari kesekolahnya.
Panik ?? Boleh saja, asal bukan kepanikan yang membuat tak enak makan dan tak nyenyak tidur, dan semoga kepanikan yang melahirkan kesadaran bahwa kita wajib memberikan vaksinasi, vitamin dsb agar ”imunitas” anak-anak kita optimal terkhusus yang berhubungan dengan uang. Karena anak-anak punya lingkungan sekolah dan bermain yang tidak ”steril”, dan kita tak bisa ada disamping mereka sepanjang waktu.

Adalagi, anak sulungku saat di TK punya cerita heboh, ada kejadian pembobolan uang infaq di kelasnya. Diprovokasi oleh seorang siswi. Cerita Bunda Asiah, guru kelasnya membuat aku membuncah haru, saat sebagian anak ikut membelanjakan uang infaq ke kantin sekolah, sulungku tidak. Dan apa jawabannya saat ditanya mengapa tak ikutan.
”Yunda takut dengan Allah ”
Duch....tak tertahan kan airmata bahagia ini Nak, betapa bangga punya anak sepertimu.
Alhamdulillah konsep ma’rifatullah tertanam dengan baik. Selebihnya tentang kecerdasan finansial yang harus dimatangkan lagi, tadinya aku berniat memulainya saat Yunda SD kelas 3. Ternyata pengalaman ini menyadarkanku, sepertinya harus lebih awal.

Jujur sejak itu mulai memperbanyak membaca refrensi tentang kecerdasan finansial. Khusus pada konsep uang saku diperdalam lagi. Sharing dengan teman juga lebih intensif kulakukan. Kapan tepatnya mereka dikenalkan pada konsep uang saku, pola pemberian bahkan seberapa besar yang ‘pas’ untuk mereka. Mulai dari yang paling mungkin, paling mudah pengawasannya. Dan akupun mulai PD melatih mereka punya uang saku sendiri. Yang tentu disertai dengan memahamkan pakai bahasa mereka. Karena jarak umur kedua anak saya tak begitu jauh, terpaut 1,5 tahun, jadi sekali jalan.
  • Yunda hampir 7 tahun uang sakunya Rp.10.000,-/ pekan. Awalnya pertengahan kelas 1 SD, uang sakunya Rp. 1.000,-/ hari. Kecuali kalau nanti ada les atau sumbangan lain,  dan ini diluar makan siang.
  • Akang 5 tahunpun sama, Rp.1.000,-/hari, ada snack dari sekolah. Belakangan Akang malah tak berminat lagi untuk minta uang sakunya, karena ada peraturan di TK-nya untuk tidak membawa uang saku.
Uangnya boleh buat apasaja, termasuk nabung atau infaq di Sekolah. Awalnya ada rengekan disana sini, minta tambah karena tadi uang sakunya sudah buat beli stick Ipin Upin, jadi habis, trus pengen beli yang lain ( ini khasnya Akang). Tak ada tambahan, boleh nangis, boleh kesel, tetap tak ditambah, atau pernah juga jatah besok diminta hari ini, tapi yakinkan besok tak akan diberi lagi. Mau merayu atau melengking sama saja. Betapa buahnya mulai terlihat. Belum sampai sebulan sejak pemberlakuan uang saku harian pada mereka. Sudah ada serangkaian cerita. Tentang nasib uang saku mereka.

Memang sesekali Yunda masih pengen uang sakunya ditambah, buat nabung.
”Masak nabung 1.000,- Kawan-kawan Yunda nabung 10.000,- bahkan lebih Mi...”
Ku tanya begini, ”Jadi Yunda pengennya berapa Nak...”
”2.000,- ”, jawabnya. Kirain berapa :) Jadi PR-ku untuk membuatnya tak tergiur besarnya uang kawan.

Menjadi lebih simple karena masalah Es Kriim dan belanja buku, sudah kuselesaikan terlebih dulu, *nanti kapan-kapan akan ku tulis sendiri. Boleh ada Es Kriim dan buku, sesuai jadwal yang sudah disepakati, dalam syuro yang selalu ramai plus lucu. Seiring waktu berjalan aku mulai menyiapkan mereka. Untuk jangka waktu yang lebih lama. Masih dalam tahap analisa. Agar tak kaget sepertiku, hu hu... Berproses !!!

Lebih dari semua itu aku tersadar, bahwa sebagai orangtua sudah saatnya aku menambah wawasan mereka tetang uang. Tentang kecerdasan financial atau aku lebih suka istilah ”MELEK FINANSIAL” dan ternyata dalam ilmu Melek Finansial ada tingkatan yang lebih tinggi daripada menglola uang. Dalam buku Rich Dad, Poor Dad. Kisah orang-orang terkaya didunia, bagaimana kita bisa menghasilkan uang sedini mungkin, menghasilkan, menciptakan uang sejak kecil. Tak hanya sekedar mengelola uang yang sudah ada. Waaw lebih dahsyat, akupun ingin. Ini butuh “ belajar cepat”, hanya masalah waktu. Kedepan kitapun harus BISA. Dan kesadaran akan melek financial sejak dini ini harus  kutularkan. Mengajak orang-orang terdekat.

“Dan hendaklah takut orang-orang yang meninggalkan teturunan di belakang mereka dalam keadaan lemah yang senantiasa mereka khawatiri . Maka dari itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengatakan perkataan yang lurus benar.” (An Nisaa’ 9)

Ya. Salah satu pinta yang sering diulang Ibrahim dalam doa-doanya adalah mohon agar diberi lisan yang shidiq. Dan lisan shidiq itulah yang agaknya ia pergunakan juga untuk membesarkan puteranya sehingga mereka menjadi anak-anak yang tangguh, kokoh jiwanya, mulia wataknya, dan mampu melakukan hal-hal besar bagi ummat dan agama. Kita? Mari sejenak kita renungkan tiap kata yang keluar dari lisan dan didengar oleh anak-anak kita. Sudahkah ia memenuhi syarat sebagai Qaulan Sadiidaa, kata-kata yang lurus, benar, sebagaimana diamanatkan oleh ayat di Surat An Nisaa’ tersebut ? Ataukah selama ini dalam membesarkan mereka kita hanya berprinsip “asal tidak menangis” atau ”asal anak bahagia”. Padahal baik agama, ilmu jiwa, ilmu psikologi juga ilmu perilaku menegaskan bahwa menangis itu penting dan bahagiapun bisa dengan airmata.
***


Pertengahan Mei  2010, tapi baru bisa edit sana-sini sekarang, sembari menikmanti proses. Kalaulah ada getah, semoga laksana gaharu. Manfaat saja terasa :)
Diposting ulang untuk memeriahkan LOMBA cinta seorang ibu di 13 tahun sulungnya yang sholeh dan jalan membentang menjadi pengusaha kaos anak sholeh  
Buruan ikutan yuuukkkkk !!!!

Minggu, 19 Desember 2010

Bertemu Mbak HTR pada Workshop Menulis di Makkah

Siapa yang punya mimpi ingin jadi penulis, pasti sueneng ya bisa ketemu Mbak HTR.
Apalagi kalau ketemunya di Tanah Haram, Makkah. Uch pasti suenengnya berlipat ganda.
Terlebih bila ndak hanya sekedar ketemu, melainkan bisa menimba ilmu penulisan langsung darinya. Wach...kebayangkan rasa seunengnya :) Dan ini yang kualami tangal 02 Desember 2010 yang lalu.

Bla....bla....
Ceritanya belum lengkap, lanjut kapan-kapan ya :)