Rabu, 07 November 2012

Kail bukan Koin

Berbagi dengan Yatim adalah sebuah keutamaan, menyayangi mereka sudah dicontohkan langsung Sang Junjungan. Jadi tak ada keraguan lagi tentangnya. Jangan tanya, seberapa besar berkahnya atau sebesar apa ganjaran pahalanya. Semua biarlah tetap haknya Sang Maha Tahu untuk menilainya.

Dulu semasa kecilku di Blambangan Umpu, sebuah Kampung yang sekarang sudah menjadi Kabupaten, aku tak pernah melihat ada plank Yayasan atau Rumah Yatim Piatu. Bukan berarti tak ada anak yatim di sana. Anak-anak yatim masih hidup dalam naungan keluarga yang bertalian darah langung di rumah-rumah mereka. Alhamdulillah dalam kondisi yang pantas dan terpelihara kehormatannya. Tercukupi sandang pangan dan masih terus bersekolah. Bahkan ada diantara anak yatim yang aku kenal mereka hidup berkecukupan dari harta warisan almarhum Ayah mereka. Itu dulu. 

Sekarangpun, saat sudah lama aku merantau alhamdulillah keadaan ini masih terus berlanjut. Tak ada anak yatim yang terlantar disana. Berbeda sekali dengan yang aku temukan di Palembang, kota tercinta tempat kami menetap sekarang ini. Panti Asuhan hampir ada disetiap sudut kota. Di daerah kami tinggal contohnya, ada sekitar 5 Panti Asuhan yang kerap aku lihat disepanjang jalan dari Km 5 sampai Pakjo. Ragam bentuk apresiasi sosial bagi yang ingin peduli tentu bisa disalurkan ke Panti Asuhan ini. Tak ada celaku buat semua Panti Asuhan yang ada. Hanya saja bila ditanya seberapa sering aku mengajak anak-anak ke Panti Asuhan A? Atau lebih suka ke Panti Asuhan B atau C? Pernahkah ke Panti Asuhan D, aku butuh waktu yang cukup panjang untuk menjelaskan jawabanku.

Panti Asuhan di daerah rumahku, ada yang sangat pesat tumbuh kembangnya, dalam banyak hal. Yang paling terlihat adalah perubahan dalam bangunan fisiknya, awalnya ngontrak kini sudah punya gedung sendiri, permanent, bertingkat dan lumayan megah. Tak ada maksudku meragukanya, selain aku ingin katakan bahwa menurut hematku kami sebagai tetangga dekat 'sekelurahan' tak harus lagi mendahulukan Panti Asuhan itu untuk berbagi bukan? Sebab paling tidak, sudah banyak para donatur yang mempercayakan dana mereka pada Panti Asuhan tersebut.

Jadi saat ini, bila ingin berbagi atau mengadakan moment yang melibatkan Panti Asuhan, aku memilih mengadakan koordinasi dengan Komunitas Peduli Anak Yatim, memang ada beberapa orang pengurusnya yang aku kenal. Sehingga aku leluasa menanyakan Panti Asuhan mana yang masih 'minus'. Bukan dalam artian berpikiran negatif, tapi lebih kepada menentukan prioritas sebab terkadan dana yang ingin disalurkan jumlahnya tak seberapa.

Bersama KPAY Palembang, http://www.facebook.com/groups/kpay.palembang/
Ramadhan bersama Yatim,
dibawah koordinasi Komunitas Peduli Anak Yatim.

Dan dari dana yang tidak seberapa tersebut, bila bisa memilih aku sebisanya memilih untuk keperluan para yatim bersekolah atau memulai usaha. Karena aku yakin betul, bahwa banyak anak yatim yang memang berpotensi menjadi pemimpin dimasa depan. Mereka yang sangat antusias menutut ilmu, tapi belum banyak beasiswa khusus anak yatim yang bisa mereka raih.

Bukan berarti aku ingin katakan bahwa masalah pangan sandang mereka tak penting, tapi lebih banyak orang sekitarku yang sudah berbagi dari sisi ini. Misal, kalau ada baju layak pakai yang kekecilan banyak yang sudah bersedia menyalurkannya ke Panti Asuhan daripada menyimpannya di lemari. Kalau ada perayaan ulang tahun atau syukuran, sudah mulai terbuka mereka mengundang anak yatim untuk makan bersama.

Dan untuk hal ini, aku pujikan sebuah program yang aku ketahui sudah intens dilakukan oleh Yayasan Yatim Mandiri untu membangun sebuah sekolah unggulan bagi para yatim. Sekolah yang kelak aku yakin bisa melahirkan pemimpin berkwalitas. Saat ini sekolah tersebut dalam tahap pembangunan. Setiap tahapan dilaporkan dengan begitu lengkap. Aku suka cara Yayasan Yatim Mandiri menyapaikan lewat majalah bulanannya. Semoga tahun ajaran depan sekolah itu sudah beroprasi. Aku mengenal Yayasan Yatim Mandiri sejak bulan April 2012 lalu, saat mana aku baru pindah ke kantor yang sekarang.

Terpikat aku pada program-program Yayasan Yatim Mandiri, sungguh aku jatuh hati. Sebab satu hal yang aku yakini, meski yatim keadaan mereka sekarang harus membuat mereka prihatin, tapi semoga kedepan mereka bisa menjadi pribadi-pribadi yang mandiri. Bisa berdaya guna untuk orang banyak. Dan kita punya peran yang teramat besar untuk itu. Dengan banyak cara yang kita bisa. Namun satu hal yang ingin aku ingatkan, sebisa mungkin biasakan memberi mereka kail bukan koin. Kail yang bisa mereka gunakan untuk mencari koin-koin emas dimasa depan.

Mungkin terkesan menggurui, maafkan, tapi yakinlah bila koin yang biasa kita berikan pada para yatim maka itu tak akan banyak menolong mereka. Kecuali bila koin itu mereka belikan kail, artinya kita yang harus tetap mendampingi mereka, mengarahkannya dengan penuh cinta seperti yang sudah dilakukan saudara kita di Yatim Mandiri.

Semoga dengan kasih sayang pada saudara yatim, bisa membuat hati kita menjadi lembut dan kebutuhan kita bisa tercukupi. Ini bukan cerita isapan jempol semata karena hadist Nabi yang sudah menyatakan demikian. Sebuah janji-Nya yang tak perlu kita ragukan lagi.

 Cerita ini diikutsertakan pada Gaveaway: Cinta untuk Anak Yatim

9 komentar:

Lidya - Mama Cal-Vin mengatakan...

kalau dikasih kail bisa untuk berusaha ya mbak

Lidya - Mama Cal-Vin mengatakan...

kalau dikasih kail bisa untuk berusaha ya mbak

achoey el haris mengatakan...

Aamiin

Ya, kita juga harus memotivasi mereka untuk bersemangat dan bisa menjadi pribadi-pribadi yang sukses.

Tercatat sebagai peserta GA Cinta untuk Anak Yatim di http://romantisan.com

Susi Susindra mengatakan...

Kebanyakan orang memberi koin daripada kail ya mbak. Bentar lagi bulan Suro (kalo dipalembang namanya apa, ya?) Banyak orang yang tiba-tiba ingat anak yatim.

rina mengatakan...

semoga menang kontesnya ya mbak...

kakaakin mengatakan...

Saya baru tau ada kegiatan seperti yang dilakukan Yayasan Yatim Mandiri. Saya setuju dengan kegiatan tersebut. Anak yatim yang dibimbing untuk mandiri insya Allah akan membuatnya lebih bisa bertahan ke depannya.

monda mengatakan...

setuju, anak2 harus diberi ketrampilan sejak dini, supaya mereka bisa cepat mandiri
sukses ngontesnya ya

Ejawantah Wisata mengatakan...

Kata dalam sebuah makna yang besar, dimana keduanya dapat saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.

Semoga kesempatan mereka tetap akan menjadi jalan terbuka untuk kebangkitan generasi bangsa dalam membawa suatu perubahan yang mengarah ke jalan yang lebih baik.

Sukses selalu
Salam Wisata

Pakde Cholik mengatakan...

Perlu banyak kail untuk mereka ya jeng agar upaya untuk memandirikan mereka terwujud.

Menyayangi anak yatim dengan ikhlas sungguh merupakan perbuatan mulia dan bernilai ibadah.

Salam hangat dari Surabaya