Tampilkan postingan dengan label Tajwid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tajwid. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Mei 2012

Terharu Biru Bersama Al Qur'an Biru

Setiap anak itu istimewa, mereka mempunyai keunikan masing-masing. Tak bisa dipungkiri, orangtua kadang keliru dalam memberikan perlakuan, mungkin termasuk aku. Yunda, sulungku seperti yang sudah sering kuceritakan, waktu masih kecil adalah sosok anak yang pemalu. Sosialisasi dengan orang-orang yang baru dikenalnya butuh waktu dan proses yang lumayan panjang. Kalau bertemu dengan seseorang pertama kali, ditanya nama nunduk, diajak salaman sembunyi, ya gitu-gitu dech... Biasanya awal berinteraksi Yunda hanya mengamati *hmmm... mengamati kok "hanya" ya... Akupun meralat kata-kata itu dengan menyebut Yunda sang pengamat ulung. Tapi seiring waktu sudah banyak perubahan yang tampak. Nanti kapan-kapan aku tulis.

Lain halnya dalam hal akademik *apa ya istilah yang lebih tepat. Kognitif kali ya? Yunda tak mengalamai kendala, bahkan cenderung menonjol, cemerlang kata Emaknya. Yunda sudah lancar membaca sejak usia 5 tahun lebih, begitu pula dengan mengaji Al Qur'an, sudah sejak TK dulu Yunda piawai. Alhamdulillah... Dan semua itu dilaluinya dengan mudah, maksudnya aku sebagai Emak tak harus mengarahkan atau mendampingi terlalu serius, eh tahu-tahu sudah bisa, berlalu saja masa itu. Aku sadari semuanya sebagai karunia. Maka saat Yunda sedikit bermasalah dengan aktivitas mewarnai, aku ya wajib rela berjuang lebih ekstra. Ini pernah kuceritakan juga di blog dulu. 

Soal kepemilikan mainan atau barang pribadi Yunda juga tak ada masalah. Saat punya Al Qur'an pertama kali di TK, ada Al Qur'an di rumah yang dibawanya ke Sekolah. Untuk di rumahpun Yunda biasa pakai Al Qur'an yang ada. Seingatku saat Jidah pulang Umroh, Yunda senang sekali diberi Al Qur'an sebagai oleh-oleh. Al Qur'an itu dibelikan Jidah di Madinah. Waktu itu Yunda langsung membawanya ke Sekolah dan menukarnya. Al Qur'an yang ada di Sekolah dipulangkan ke rumah. Semuanya berlalu dalam damai. 

Maka jujur aku kaget saat Yunda agak ngambek kemarin.
Ceritanya begini.
Hamas sudah beberapa bulan ini menyelesaikan Bagdadiyahnya di rumah, pindah ke Al Qur'an dong... Pakai Al Qur'annya bergantian dengan Yunda kalau ngaji di rumah. Oyaaa, Yunda dan Hamas aku biasakan mengaji rutin di rumah, normalnya sehalaman, tapi kalau lagi capek atau hilang mood aku usahakan agar mereka tetap mau ngaji walaupun seayat, biasanya ritual ini ba'da magrib. Kalau aku sedang berhalangan, biasanya aku minta tolong pada Mbak Nyai atau Mbak Endang untuk menyimak. 

Soal ngajinya Hamas, seperti yang sudah pernah kukisahkan, berbeda dengan Yundanya, aku harus berjuang lebih kuat, mengingat sampai kelas I SD, Hamas belum juga lancar membaca Al Qur'an.  Iqro'nya tak ada kemajuan, bahkan tampak mulai bosan. Bukan bermaksud membandingkan dengan Yunda, tapi aku kasian kalau Hamas jadinya kesulitan saat baca soal ujian yang pakai tulisan Arab (Bahasa Arab, Hadist). Maka aku targetkan Hamas harus segera bisa baca Al Qur'an. Syukurnya dengan metode Bagdadiyah di rumah, hal ini teratasi. Namun untuk di Sekolah ya Hamas masih lanjut mengikuti proses bersama Bunda Gurunya. Aku tak hendak menginterpensi. Dan betapa girangnya aku saat Senin (7/5) lalu Hamas mengabarkan bahwa Rabu nanti Hamas sudah diminta Bunda bawa Al Qur'an. Akupun spontan bertanya.

Ummi : "Nanti Hamas mau bawa Al Qur'an yang seperti apa, boleh milih. Akan Ummi belikan" Dengan sumbringah dan mata berbinar, imbas rasa senang karena Hamas sudah benar-benar bisa baca Al Qur'an di Sekolahnya, sudah dapat pengakuan dari Gurunya *padahal ada Al Qur'an di rumah...

Hamas : "Mau Al Qur'an yang besar, seperti yang ada di rumah, tapi warna biru ya Mi" 
Al Qur'an yang ada di rumah adalah yang sebesar polio, terjemahan perkata, warnanya PINK KEUNGUAN. 

Selasa, aku tak sempat membelinya. Maka Rabu kemarin Hamas belum bawa Al Qur'an dari rumah, masih pinjam milik sekolah. Rabu siang, saat istirahat kantor aku pergi ke Bandung Book Center (BBC, toko buku favorite kami sekeluarga), khusus membeli Al Qur'an untuk Hamas diantar Yuk Susan. Ada yang warna biru terjemahan perkata, hampir saja kubeli. Tak jadi, karena aku lebih tertarik memilih Al Qur'an serupa tapi yang ada tulisan dilengkapi dengan TAJWID. Aku buka, memang tulisan Arabnya lebih besar-besar dan berwarna sesuai tajwid. Aku yakin Hamas pasti suka.

Singkat cerita, sore kemarin aku berikan Al Qur'an tersebut pada Hamas dengan antusias. Hamaspun senang sekali, berulang kali diucapkannya: "Terima kasih ya Mi..."

Aku kaget saat Yunda berkomentar garing.

Yunda : "Ummi, Yunda mau juga Al Qur'an seperti itu, bagus. Kenapa Ummi tak pernah menawari Yunda untuk milih Al Qur'an" *nada ngambek khas anak perempuan, bersungut-sungut.

Deg... aku terdiam. Yapps, Yunda benar. Mengapa aku selama ini tak berfikir Yunda juga berhak punya Al Qur'an sesuai keinginannya. Bukan Al Qur'an yang aku pilihkan atau oleh-oleh Jidahnya, walaupun itu dari Madinah. Acchhh... kuajak ia bicara. Tapi menawarinya seperti pada Hamas kemarin pasti sudah basi, harus spesial dong... Sebelum pembicaraan kami menemukan kata sepakat. Hamas mendekat. 

Hamas : "Ummi, boleh nggak Al Qur'an biru ini buat di rumah aja. Biar bisa samaan dengan Yunda. Akang biar bawa yang lama" *Al Qur'an lama yang dimaksud Hamas adalah yang terjemahan perkata warna pink ungu, sebelumnya Hamas menolak membawanya ke Sekolah.

Ummi : "Lho, katanya itu warna cewek, Akang malu bawanya ke Sekolah" *heran.

Hamas : "Ndak papa kok Mi, kan yang biru ini Yunda suka juga"

Duuchhh terharu biru hati Emaknya. Yundapun senang. Tuntas, berakhir dengan bahagia. Magribnya Al Qur'an biru itu yang mereka pakai bergantian. 

Tadi pagi, Kamis (10/5), aku coba menggoda Hamas lagi saat mau berangkat ke Sekolah. 

Ummi : "Akang nggak malu bawa Al Qur'an warna cewek?" *mesem.
Hamas : "Kan yang penting isinya Mi..." *mantap.

Catatan Hati :
Perlakukan anak dengan spesial, bukan saja saat mereka melakukan sesuatu yang menurut kita (para orangtua) istimewa. Mengenali anak memang sebuah proses yang tak pernah usai, sepanjang masa. Walaupun adil itu BUKAN dengan memberikan 'sesuatu' yang sama.