Tampilkan postingan dengan label DBD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DBD. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juni 2012

Obat Herbal untuk DBD

Juice Daun Pepaya untuk Obat Demam Berdarah

Berdasarkan pengalaman dari seorang anak laki-laki yang telah sembuh dari penyakit demam berdarah setelah sebelumnya mengalami masa kritis di ICU ketika trombositnya mencapai angka 15 ribu dan menghabiskan 15 liter tranfusi darah.

Ayah dari anak tersebut mendapatkan rekomendasi dari temannya tentang Juice Daun Pepaya Mentah.Setelah minum juice tersebut, trombosit temannya yang semula 45 dengan 25 liter tranfusi darah naik dengan cepat menjadi 135. Hal ini membuat dokter dan perawat terkejut. Bahkan keesokan harinya, temannya itu sudah tidak diberikan tranfusi lagi.

Cara membuat Juice tersebut:

♣ 2 helai daun pepaya dibersihkan, ditumbuk dan diperas dengan saringan kain
♣ Akan didapatkan 1 sendok makan per helai daun
♣ Takarannya 2 sendok makan 1 kali sehari
♣ Daun jangan dimasak, direbus atau dicuci dengan air panas karena khasiatnya akan hilang
♣ Ingat: hanya daunnya saja, bukan batangnya atau getahnya.
♣ Rasanya memang pahit sekali, tetapi tetap harus diminum

Pengalaman lain tentang juice daun pepaya mentah ini didapat oleh seseorang dengan kondisi yang sangat parah. Orang ini keadaannya sangat kritis, dimana paru-parunya telah mulai diisi air karena angka trombositnya yang sangat rendah. Sampai-sampai ia kesulitan bernafas.

Dokter hanya bisa berkata bahwa kekebalan tubuhnya yang akan bisa membuat dia bertahan. Untungnya, ibu mertua dari pasien tersebut mendengar tentang juice daun pepaya mentah tersebut. Setelah diberikan kepada pasien, keesokan hari, trombositnya mulai naik dan demamnya mulai hilang. Juice itu terus diberikan dan 3 hari berikutnya dia dinyatakan sembuh.

Tolong sebarkan informasi ini karena belakangan ini banyak sekali kasus penyakit demam berdarah. Dengan kontribusi anda, banyak nyawa dapat diselamatkan.

Indahnya Berbagi.


Jumat, 15 Juni 2012

Jangan Tertipu DBD

Hari ini 15 Juni diperingati sebagai hari DBD, ASEAN.

Sedih melihat Yunda sakit, wajahnya pucat, lesu dan tak bergairah. Demamnya tinggi sempai 40 derajat. Paling turun sedikit sekitar 39,7 derajat. Ibu mana yang tak cemas. Makan masih mau sedikit, minum juga mau tapi harus dengan penawaran. Sesekali terdengar erangannya minta dipijit, linu dan pusing katanya. 

Yunda termasuk tak rewel bila sedang sakit, biasanya bila hanya batuk filek saja tak mempan menghalanginya Sekolah. Batuk filek adalah sakit yang tersering pada Yunda. Diare pernah tapi tak sampai parah. Demam? Sesekali, tapi biasanya masih energik dan mau bermain. Tapi kali ini sedikit berbeda. Demamnya disertai dengan rengekan, Yundapun tampak sangat lemah. Masuk hari ke 3 aku terus waspada, saat sore menjelang belum ada tanda-tanda demamnya turun maka aku langsung mengajak suamiku ke UGD RSI Khodijah, memang yang paling dekat dengan rumah kami.

Yunda saat di UGD.
Maunya ditemani Ummi.

Syukurnya dokter jaga sore itu aku kenal, dr. Feli adik tingkatku. Diperiksa sebentar sesuai standar operasional pelayanan, langsung ke laboratorium. Cek darah untuk curiga DBD. Saat pengambilan darah inilah naluri seorang ibu sering terkalahkan, tak tega melihat anaknya ditusuki jarum suntik. Tapi buatku, saat memang tindakan itu adalah upaya menegakkan diagnosa atau dalam rangka pengobatan, aku harus kuat. Walau seperti biasa, disertai air mata *ya andai saja rasa sakit itu bisa kuwakili, kupastikan justru tampa air mata.

Singkat cerita, selesailah prosesi yang menegangkan itu. Aku langsung pamit pulang dan hasilnya minta ditelfon saja. Sebuah kemudahan karena mengenal dokter jaganya. Selang 1 jam, aku dikhabari bahwa trombosit Yunda masih >200 ribu. Lega. Bayangan mencekam itupun sirna. Malamnya jadi bisa tidur dengan tenang, walaupun masih demam Yunda juga sudah tak merengek lagi.

Besoknya Yunda sudah mau main lagi bareng Hamas dan sepupunya yang datang menjenguk. Kontan saja banyak suara yang menyudutkanku sebagai 'Ibu yang mudah panik', aku ya senyum saja. Biarlah yang penting aman, aku tak mau terpedaya dengan DBD yang suka menipu. Tugas kita sebagai makhluk termulia adalah berusaha sebaik mungkin, soal hasil serahkan pada Sang Pemilik Hidup dan Mati. Selengkapnya silakan menikmati sajian di Warung Blogger, tempat mangkalnya orang pintar.

Sekedar catatan dari seorang Ibu.
*sebuah kenangan buatku bersama Yunda, semoga kelak tulisan ini dibacanya.