Tampilkan postingan dengan label BlogCamp. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BlogCamp. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Juli 2012

Pada Hariri BlogCamp

Tak ada rangkaian kata bak pujangga yang dapat kukirimkan
Tak juga senandung merdu yang bisa kulantunkan
Apalagi kado berharga yang kuhantarkan 
Hanya setulus do'a dan satu tulisan ala kadarnya ini
Yang coba mewakili rasa hatiku...



Pencil Sketch: Hormat Graakkk...
*menerapkan ilmu yang diajarkan Sang Komandan ^^


BlogCamp yang kerap kali kukunjungi di maya
Selalu menebar pesona
Gayamu khas, penuh warna-warni membangkitkan dari keminderan
Lengkap dengan bahasa yang mudah dicerna membuatku (merasa) makin pintar

Sering kali aku dibuat terkagum pada ragam tips dari BlogCamp
Cara mengikat tali sepatu
Cara membuat roti, resep sayur lodeh juga tak ketinggalan
Belum lagi tips ngeblog yang menghasilkan, acapkali membuatku manggut-manggut
Dan berjanji dalam hati untuk terus belajar dan belajar *meski belum juga sucses :(

Kalau dikau mengadakan kontes 
Dijamin bakal diserbu peserta *termasuk aku...
Sebab hadiahnya selalu menggairahkan
Temanyapun unik dan keren, membuat banyak yang tertarik 
Dan aku kapok tak ambil bagian, cukup menyesal sekali saja
Tak percaya? 
Masih ingat, Kontes Tumpeng Ngetril 61hampir setahun yang lalu?
Aku terlalu banyak pertimbangan sehingga tak jadi berpartisipasi
Ehhh ternyata, semua yang ikut dapat hadiah

Tak hanya saat kontes, ada banyak kesempatan
Saat kejutan 'tanda cinta' itu membuatku bahagia *aku tahu bukan hanya aku...
Belum lagi kesempatan jadi Model di BlogCamp, membuatku tersanjung
Sejujurnya kukatakan, "Bersyukurnya aku bisa mengenalmu"
Meski belum pernah bersua raga *semoga suatu ketika bisa berjumpa ;)

Belum lagi posting khas hari Jum'at yang selalu kurindu
Sarat makna dan menginspirasi
Dikau memang tak hanya pandai mengolah kata mutiara ataupun meraup dollar
Tapi juga jagonya mengkaji ilmu
Dan menjabar ragam hikmah

BlogCamp memang OKE, mantapnya terasa sampai ke hati
*siapa dulu Komandannya?
Semangat berbagimu membuatku iri
Ditambah lagi dengan indahnya silaturahim yang terjalin di BlogCamp
*menjadi perantara perkenalanku dengan blogger lain
Semoga kedepan BlogCamp, Komandan dan Keluarga besarnya sehat selalu
Makin sejahtera, hingga bisa terus berbagi dan semakin menyala


"Pokoke semoga BlogCamp terus Berjaya !!!"



                             Persembahkan khusus untuk Blogcamp yang sedang berhariri yang ke-3

Rabu, 30 Mei 2012

Bangkit Indonesia, Tetaplah Bekerja!

Abah Jamal menolak pinangan Satria pada Srikandi, anak gadisnya. Alasannya Satria belum mempunyai pekerjaan tetap. Hanya punya warnet dengan 5 unit komputer, kata Abah itu usaha kecil, tak bisa jadi andalan untuk kelangsungan hidup dan membahagiakan anak cucunya kelak. Abah yang pensiunan Guru berhasrat sekali ingin punya menantu yang juga PNS. Karena menurutnya, PNS itu walau gajinya tak besar, tapi jelas tiap bulannya, nanti kalau pensiun juga tetap dapat secara rutin. Oochh merana sungguh hati Srikandi, menanggung lara berkepanjangan karena niat suci menggenapkan 1/2 agama bersama Satria gagal lantaran pandangan kolot Abahnya.

Lain lagi cerita Pak Hartawan, demi masuknya sang anak menjadi PNS ia rela membayar uang muka sebesar 150 juta. Uang tak ada artinya buat keluarga tersebut, lebih dari itupun mereka mampu. Sementara PNS adalah sebuah status yang mereka kejar, selain prestise juga untuk masa depan yang terjamin kesejahteraannya. Menurut siapakah? Acch entahlah... padahal anak Pak Hartawan yang Sarjana Pertanian itu sudah semangat mau membuka kebun dan mengumpulkan beberapa orang rekannya untuk membentuk "Kelompok Tani, Suka Makmur", mereka bahkan sudah mempelajari syarat dan ketentuan untuk memperoleh bantuan bibit Karet dan Kelapa Sawit dari Menteri Pertanian.

***

Dua lakon yang banyak terjadi disekitarku, betapa status PNS masih sangat dielu-elukan. Padahal kalau mau jujur, tak ada PNS yang bisa cepat kaya. Kecuali bila mengikuti jejak tercoreng lagak Gayus yang terkenal itu. Kalau mau kaya raya silakan jadi pengusaha. Tak masalah memulainya dengan usaha rumahan. Jual karya semacam handmade misalnya. Sebagai rintisan untuk mendapatkan peluang usaha yang lebih besar. Tapi memang semuanya butuh proses, punya mental usahawan tak bisa instans langsung tertanam.

Aku contohnya, terlahir dari orangtua yang belum berjiwa usahawan, Ayah seorang pegawai pemerintah, lulusan Sarjana Muda pada masanya. Ibuku pernah jadi guru di SMP tapi sejak menikah lebih memilih berkarir menjadi Ratu Rumah Tangga tulen. Kami 5 bersaudara sejak Sekolah selalu ditanamkan semangat untuk bisa dapat beasiswa, hidup sehemat mungkin dari uang saku yang diberikan Ayah. Tampa ada motivasi untuk punya usaha sampingan. Sekolah tugasnya belajar, sebanyaknya membaca buku. Bukan karena Ayahku kaya, tapi karena beliau berprinsip bahwa biaya Sekolah dan menghidupi keluarga mutlak ada ditangannya.

Aku bangga pada orangtuaku, akupun bahagia terlahir dalam keluarga yang begitu mengutamakan pendidikan, meski secara harta benda kami nyaris tak punya apa-apa. Tapi aku tak pernah rendah diri di Sekolah. Dan kalau ditanya apakah aku punya sejarah berwirausaha saat Sekolah. Jawabnya tidak pernah, bahkan belum terfikirkan olehku saat itu. Maka kini, aku iri saat mendengar banyaknya mahasiswa yang punya usaha saat kuliah, dengan berjualan pulsa misalnya. Dulu, aku mandek, mau buka usaha modal darimana? Mentok tak ada ide kreatif. Mungkin terimbas dari lingkungan masa kecilku, mungkin lho ya, mengambil hikmah bukan menyesali keadaan.

Maka betapa menggebuku setelah tamat kuliah, pokoknya aku mau buka usaha. Bukankah aku bisa mengumpulkan modal? Tapi ternyata suaraku masih kurang lantang, tekadku menyenangkan orangtua ternyata lebih unggul. Akhirnya aku menyerah juga saat diminta Ayah untuk ikut test PNS. Lulus murni, tampa bayar sepeserpun. Aku jadi ingat kata seorang tokoh pergerakan modern, jadi Pegawai Pemerintah itu tak usah terlalu dikejar, jangan memaksakan diri,  tapi kalau sudah masuk jadi PNS, lakukan yang terbaik. Itu memang yang kulakukan, menjadi Abdi Negara semampuku. Memberikan yang terbaik yang aku bisa. Dan selanjutnya akupun bertekad bisa sambil membuka usaha rumahan yang maju kelak *mohon do'anya...

Adapun pada anak-anakku, kini aku semangat sekali menanamkan mental wirausaha pada mereka. Sekolah sambil jualan hasil karya, atau bisa juga menjual alat-alat tulis yang dibeli kodian kemudian dijual dengan harga eceran jadi bisa dapat untung walaupun sedikit. Aku percaya ini akan berguna buat mereka dimasa depan. Bukan masalah besar kecilnya keuntungan, tapi keberkahannya. Dan menanamkan jiwa usahawan sejak dini itu yang terpenting menurutku. Sebagaimana Rasulullah Sang Teladan yang terlatih berniaga sejak masih kecil sehingga mampu menjadi pengusaha handal namun tetap bersahaja. Aku ingin anak-anakku mencontohnya, tak mesti masuk Sekolah Enterpreneur yang mulai menjamur saat ini.

Hamas belajar berdagang.
Tak butuh bakat turunan, yang penting mau dan terus berlatih^^
Karya yang dijual Hamas dan Yunda di Sekolah,
dengan kisaran harga Rp. 1.000,- sampai Rp. 3.000,- 
Sementara yang ini dijual dengan harga Rp. 5.000,-
Ada yang menawar sampai Rp. 4.000,-, pernah kutulis di Berkreasi dan Berdagang
***

Kemarin aku bertemu dengan seorang seniorku, yang juga seorang istri anggota dewan, beliau bercerita anak bujangnya sekarang jadi Office Boy, tugasnya disebuah perusahaan. Sembari buka usaha toko buku. Oaallaa, anak anggota dewan punya peluang besar untuk bisa jadi PNS, batinku. Tapi aku yakin itu tak akan dilakukan keluarga itu. Mereka yang aku kenal sangat lekat memegang prinsip kehalalan. Mereka yang selalu memisahkan antara yang halal dan haram, tak akan mau masuk golongan suap-meyuap termasuk dalam hal mencari pekerjaan. Terkait tanggungjawabnya yang teramat besar, sampai akhirat. Dan mereka tahu benar itu. Yang penting semangat untuk tetap bekerja, bukan punya pekerjaan tetap ala orang banyak yang identik dengan PNS.

Teringat juga obrolanku dengan suami beberapa waktu lalu. Kata suamiku, syukurlah dulu orangtuaku tak mensyarat menantunya harus PNS. Kalau tidak lewatlah dirinya yang berprofesi pengangguran banyak acara. Tetap bekerja itu yang penting, bukan pekerjaan tetap yang kerja tak kerja dapat gaji diawal bulan. Makin parah kalau masuknyapun pakai sistem siluman. Oh No !!! Semoga dimasa depan ini tak ada lagi, agar Sejahtera Negeriku. Mari semua, singsingkan lengan baju, terus berkarya dan tetaplah bekerja untuk bangkit Indonesia yang kita cintai bersama.

         Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bangkit di BlogCamp

Indonesia Bangkit