 |
| Award untuk sahabat... |
Pengumuman GA Muharam yang melibatkan Gurindam bisa dilihat di blognya Tia,
The Green Pensieve.
Buat Pakde Cholik kami haturkan banyak terima kasih, hanya Allah yang mampu membalas semuanya.
Pada 10 yang terpilih, selamat ya...
Dan buat Masbro, kami salut dengan semangatnya, semoga selalu bersegara dalam semua hal.
Dan buat semuanya, semoga kita saling mendo'akan untuk selalu lebih baik lagi dari waktu ke waktu.
***
Sebuah persembahan tentang Cinta dan Waktu, tag dari seorang sahabat, semoga kita bisa mengambil hikmahnya...
Alkisah di suatu pulau kecil, tinggal lah berbagai macam benda-benda abstrak: ada CINTA, Kekayaan, Kecantikan, Kesedihan, Kegembiraan dan sebagainya.
Awalnya mereka hidup berdampingan dengan baik dan saling melengkapi. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik semakin tinggi dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri.
CINTA sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencuba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki CINTA. Tak lama CINTA melihat KEKAYAAN sedang mengayuh perahu.
“KEKAYAAN! KEKAYAAN! Tolong saya!” teriak CINTA.
Lalu apa jawab KEKAYAAN, “Aduh! Maaf, CINTA!” kata KEKAYAAN.
“Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. saya tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini.” Lalu KEKAYAAN cepat-cepat mengayuh perahunya pergi meninggalkan CINTA.
CINTA sedih sekali, namun kemudian dilihatnya KEGEMBIRAAN lewat dengan perahunya.
“KEGEMBIRAAN! Tolong saya!”, teriak CINTA.
Namun apa yang terjadi, KEGEMBIRAAN terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tuli tak mendengar teriakan CINTA. Air makin tinggi membasahi CINTA sampai ke pinggang dan CINTA semakin panik. Tak lama lewatlah KECANTIKAN.
“KECANTIKAN! Bawalah saya bersamamu!”, teriak CINTA.
Lalu apa jawab KECANTIKAN, “Wah, CINTA, kamu basah dan kotor. saya tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini.” sahut KECANTIKAN.
CINTA sedih sekali mendengarnya. CINTA mulai menangis terisak-isak. Apa kesalahan saya, mengapa semua orang melupakan saya. Saat itu lewatlah KESEDIHAN. Lalu CINTA memelas, “Oh, KESEDIHAN, bawalah saya bersamamu”, kata CINTA.
Lalu apa kata KESEDIHAN, “Maaf, CINTA. saya sedang sedih dan saya hanya ingin sendirian saja”, kata KESEDIHAN sambil terus mengayuh perahunya.
CINTA putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. CINTA terus berharap kalau dirinya dapat diselamatkan. Lalu ia berdoa kepada Tuhannya, oh tuhan tolonglah saya, apa jadinya dunia tanpa saya, tanpa CINTA? Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, “CINTA! Mari cepat naik ke perahu ini!”
CINTA menoleh ke arah suara itu dan melihat yang sedang mengayuh perahu tersebut. Lalu Cepat-cepat CINTA naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Kemudian di pulau terdekat, perahu itupun menurunkan CINTA dan segera berlalu pergi, cepat sekali.
Pada saat itu barulah CINTA sadar, bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa yang berbaik hati menyelamatkannya itu. CINTA segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau, siapa sebenarnya pemilik perahu yang menolongnya tadi.
“Oh, itu. Dia adalah “WAKTU”, kata orang itu.
Lalu CINTA bertanya “Tapi, mengapa ia menyelamatkan saya? Sedangkan saya tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenal sayapun enggan menolong”, curhat CINTA heran.
“Satu sebab saja”, jawab orang itu.
“Hanya WAKTU lah yang tahu berapa nilainya harga sebuah CINTA itu”
***
 |
| Pantai Pasir Padi, Bangka... |
Selamat berakhir pekan ya...