Jumat, 27 Maret 2015

Waspadai Penanda Cinta

Awas hati-hati! Penanda cinta haram tegangan tinggi
by. Rahmat Idris

Pernahkah anda terdiam dan menangis ketika mendengar sebuah lagu jaman baheula karena mengingatkan cinta lama anda?
Pernahkah anda merindukan seseorang ketika melewati sebuah bangunan, kota, atau propinsi?
Pernahkah anda tersentak dan terdiam untuk beberapa saat ketika bertemu dengan wajah yang dulunya pernah akrab di masa silam?
Pernahkah anda tanpa sadar mengetik nama seseorang di akun search fesbuk anda demi mencari tahu kabar seseorang dari akun tersebut?
Bila pernah dan saya yakin banyak orang pernah mengalaminya, maka anda baru saja menemukan salah satu penanda cinta dalam hidup anda. 
Penanda cinta adalah suatu kondisi dimana anda merasa kembali kemasa lalu anda disaat anda pernah merasakan cinta di dada begitu kentaranya ketika mendengar, melihat, atau kontak langsung dengan suatu hal.
Penanda cinta itu adalah hal yang wajar dan sangat manusiawi sekali. Setiap manusia mungkin memilikinya. Terkisah dalam sirah, di madinah pada masa Umar Radhi Allahu Anhu meminta Bilal untuk melantunkan azan pemanggil shalat. Maka Semua penduduk madinah menghentikan kegiatannya dan keluar dari rumahnya dengan menangis. Umar pun menangis. Mengapa mereka menangis?
“Sungguh setiap kali engkau melantunkan azan wahai Bilal, seolah-olah kami berada dimasa Rasulullah masih anda disekitar kami. Sungguh kami merasa beliau masih ada.”
Itulah penanda cinta para shahabat Rasulullah dan penduduk madinah yang terberkati.
Di kisah lain, banyak shahabat menyimpan beberapa benda peninggalan rasulullah, sebahagian menyimpan pedang Rasulullah, ada yang menyimpan baju miliknya, ada pula yang menyimpan helai rambutnya, demi penanda cinta mereka kepada Rasulullah.
Berbeda lagi dengan para pemuka ilmu selayak ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud serta shahabat unggulan lainnya, Mereka meletakkan penanda cintanya pada perkataan atau hadist Rasulullah. Ada shahabat yang ketika meriwayatkan hadist mereka tersenyum simpul hingga menampakkan gigi serinya. Ketika ditanya kenapa mereka tersenyum ketika meriwayatkan hadist tersebut. 

Mereka menjawab: “Aku mendapati Rasulullah menyampaikan hadist ini sembari tersenyum dan kami tersenyum pula mendengarnya. Maka aku menyampaikannya selayak rasulullah menyampaikan.”
Itulah penanda cinta kaum shalih-shalihin, mereka yang Allah janjikan syurga.
Penanda cinta adalah salah satu hal yang sangat menentukan sikap kita dalam melihat cinta tersebut. Bila penanda cinta berada dijalan keharaman dan maksiat. Boleh jadi seumur hidup kita akan tergugah untuk hal-hal haram. Sebaliknya bila penanda cinta berada dijalan ibadah dan kebaikan, sangat mungkin kita akan selalu tergugah dalam melakukan hal-hal yang baik pula.
Maka tidak heran bila kemudian kita menemukan banyak yang menangis ketika mendengar lagu romantis dan malah tidak pernah menangis ketika mendengar bacaan Al Qur'an ataupun kisah sirah nabawiyah. Hal ini adalah normal, karena dulu sekali, penanda cinta diletakkan pada lagu-lagu tersebut.
Tidak aneh juga bila kemudian kita menemukan banyak jiwa yang kemudian tergugah melihat mini drama 10 menit buatan produk tertentu yang sejatinya hanya cara perusahaan demi melariskan dagangannya karena awal pertama sekali dia mengenal cinta dimulai dari drama yang diputar 12 tahun lalu.
Tentunya sebaik-baik penanda cinta adalah manusia yang meletakkannya di hal-hal yang dekat dengan Allah. Bukan sebaliknya. dan bilapun kita pernah khilaf meletakkan penanda cinta di tempat yang salah, berjuanglah sekuat tenaga untuk melupakannya.
Percayalah, di setiap keinginan kita menjauhi keburukan, disana terdapat keberkahan dan pencatatan amal yang mulia.

Selamat berjuang duhai jiwa.


Jumat, 20 Maret 2015

Jauhilah Mantan

|Bertemu 'sang mantan'? Maka jauhilah|
by Rahmat Idris

'Sudahlah.. itu kan masa lalu..saat ini kita sudah berbeda. kita sudah menginsafinya. kita jadi teman saja ya.'
Begitu indah kalimat pembuka dari seorang lelaki atau perempuan yang mulai berinteraksi kembali dengan mantannya. Namun sungguh saya merinding membayangkan betapa mudah kata 'menjadi teman saja' mengalir dari para mantan-mantan tersebut. seolah dosa masa lalu tidak akan dipertanggung jawabkan, seolah perbuatan maksiat tidak akan masuk dalam catatan amal, seolah perbuatan dzalim tidak memberi efek apapun.
Padahal tidak seperti itu yang seharusnya kita lakukan. dalam urusan dosa khalwat, maka taubatnya adalah tidak melakukan komunikasi apapun lagi setelah bertaubat kecuali hubungan tersebut telah di ikat dengan akad pernikahan.
Tercatat satu kisah, seorang pemuda shalih yang dulu punya keinginan kuat untuk berkhalwat dengan seorang gadis cantik yang menawan. sang gadis itu adalah gadis gampangan yang menawarkan dirinya kepada siapapun demi sejumlah dinar. Maka dengan tekat kuat disebabkan hasrat berbalut cinta, dia bekerja keras untuk mencari prasyarat dekat dengan sang gadis.
Qadarullah, dia mendapati sejumlah dinar dan menuju ke gadis tersebut. ketika dia ditawarkan untuk merapat, belum sempat dia menyentuh sang gadis tersebut, tubuhnya mengigil, lututnya melemah, tangannya bergetar. lalu dia menyerahkan dinar tersebut cuma-cuma dan berlari keluar. Dia menyesal telah melakukan dosa khalwat hingga dia memutuskan diri untuk meninggalkan kota tersebut.
Gadis yang melihat peristiwa aneh tersebut itu pun kemudian bertaubat karena hidayah dari Allah dan memutuskan untuk mencari pemuda shalih itu serta meminta agar dia bersedia menjadi tempat labuhan jiwanya terakhir.
Namun apa yang terjadi? Setelah mencari kesana kesini hingga sampailah sang gadis di kediaman sang pemuda, kedatangan sang gadis yang sudah bertaubat dan berharap mendapatkan kebaikan dalam keinsyafannya itu tidak seperti yang dibayangkannya.
Bukan mendapatkan sambutan hangat nan membahagiakan, sang pemuda shalih tersebut malah terkejut serta menjerit kuat ketika melihat kedatangan sang gadis. dia menjerit karena melihat kedatangan sang penanda dosanya dimasa lalu. seketika itu dia meninggal dunia dan Insya Allah dalam keadaan khusnul khatimah.
Wahai para lelaki atau perempuan yang sudah menikah serta memiliki sejarah khalwat di masa lalu, ambillah ibrah dari kisah diatas. Begitulah seharusnya kita bersikap bila berhadapan atau bertemu dengan pasangan khalwat haram kita di masa lalu. 

Walau tidak berteriak ketakutan, setidaknya jauhilah mereka sejauh-jauhnya sedapat mungkin. tutup pintu-pintu hasrat yang dapat di susupi oleh syaithan. jangan memberi pembelaan seolah masa lalu sudah berakhir dan kita akan baik-baik saja.
Sedapat mungkin tidak usah membalas kontak via bbm, email, telepon, bahkan permintaan bertemu langsung. karena sungguh-sungguh ini dapat menjadi awal dari bencana besar. kalau bisa malah kita menghapus atau tutup segala bentuk hubungan komunikasi yang dapat membuat kita atau mereka berhubungan kembali.
Karena sering terjadi perselingkuhan bahkan perzinaan, banyak dimulai dari komunikasi seseorang dengan 'sang mantan' mereka dimasa lalu. jangan anggap enteng kehadiran mereka karena kelak anda dan mereka akan saling dihadapkan dengan depan Allah dan ditanyakan alasan mengapa anda bermaksiat dengan mereka. 

Bagaimana, masih menganggap remeh temeh hubungan dengan 'sang mantan?' 
Berpikirlah kembali hingga 100 juta kali.

Mari saling mengingatkan.

Jumat, 20 Februari 2015

Mrs. Masalah vs Miss Bahagia

|Mrs Masalah vs Miss bahagia|
by. Rahmat Idris

"Lalu bagaimana engkau bisa memilih menghabiskan waktu berjam-jam menelpon perempuan bukan mahrammu itu sedangkan istrimu sendiri engkau acuhkan? apakah engkau tidak malu dengan shalat dan sujudmu?"
Tanya saya ketika kepada dia, shahabat yang baru saya kenal 6 tahun lalu. beristri satu, beranak dua, berpenghasilan pas-pasan namun masih sempat-sempatnya menebar madu kepada siapun yang dikenalnya.
"Aku tahu menurutmu aku lelaki brengsek. tidak mengapa. aku jujur di depanmu. soal engkau mau menasehatiku dengan semua argumenmu lakukan saja. aku pun melakukan ini bukan tanpa alasan."
"Kamu tahu kan? penghasilannya 2 juta rupiah. dan dari 2 juta itu, semuanya aku berikan kepada istriku. tidak meninggalkan sepeserpun kecuali untuk ongkos transport dan pulsa. menurutmu apa yang kudapatkan dari usaha kerasku sebesar 2juta itu dari istriku?"
"Ucapakan terimakasih? senyuman dan pujian? pelukan selamat jalan di pagi hari dan pelukan selamat datang sore hari? tidak.. bahkan di hari rayapun tidak."
"Yang kudapat dari upah kerja kerasku sebesar 2 jutaan itu malah ratapan kesialan siang dan malam. spp anak semakin mahal. minyak makan naik, cabe menggila harganya. hidup yang semakin sukar. tentang tetangga yang suaminya sudah kerja ke malaysia dan mengirimkan uang tiap bulannya 5 juta sebulan. tentang sepupu istri yang mendadak kaya raya karena ikut-ikutan mencari batu giok ke calang. soal rumah sewa yang semakin sempit dan sumpek. selalu saja ketika aku pulang dalam kondisi capek, yang menyambutku adalah cerita masalah! masalah! masalah! dan kesuksesan orang lain. tidak pernah dia berusaha memahami betapa aku telah berkorban seluruh hariku untuk dia dan anak-anak."
"Lihatlah, dua juta sebulan aku mencari uang pagi hingga malam demi dia. namun berbilang tahun dapat kuhitung rasa hormatnya kepadaku. semakin besar anak-anak, semakin hilang hormatnya."
"Dan kamu tahu siapa yang kutelpon itu? dia entah anak perempuan mana yang ku kenal di jejaring sosial, dia tinggal dimana aku tidak peduli. Dia merahasiakan identitasnya, aku juga. yang kami lakukan hanyalah bicara apa saja yang bisa. Dari hal ringan hingga hal berat. namun tidak pernah sama sekali kami membicarakan masalah-masalah."
"Yang kami bicarakan hanya hal-hal yang membahagiakan saja. aku tidak peduli dia istri orang ataupun perempuan cacat. selama dia mampu membuatku tertawa dan dia juga tertawa itu sudah cukup. inilah hal yang aku dapatkan hanya dengan membayar 2000 rupiah perhari untuk sekedar mengaktifkan talkmania."
"Sedangkan dengan istriku, 2 juta sebulan pun tidak mampu membuat dia ceria sekejap pun seperti perempuan itu.lihat betapa mahal harga senyum seorang halal dan di sudut sana, betapa murah mendengar tertawa renyah perempuan yang tanpa ikatan"
Sering dalam ikatan pernikahan, dimana kebahagiaan seharusnya menjadi lebih dekat daripada hubungan lainnya, malah kebahagiaan itu menjadi nisbi dan sulit di ukur. Siapa yang harus disalahkan? Sepertinya tidak ada yang salah, mungkin iman didada sang suami yang sedang kelelahan, atau rasa syukur si istri yang sedang tiarap.

Namun pertanyaan yang lebih tepat diajukan kepada kita masing-masing adalah siapa yang terlebih dahulu bersedia memperbaiki diri.


Sebagai bahan renungan.


Jumat, 30 Januari 2015

Parenting Menurut Ali bin Abi Thalib

“Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya, Karena mereka hidup bukan di zamanmu” Itulah quote tekenal dari Ali Bin Abi Thalib RA, khalifah ke-4 umat islam yang terkenal dengan kepintaran, kejujuran dan juga kesetiaannya terhadap Rasulullah SAW.
Seperti sudah kita pahami bahwasannya mendidik dan membesarkan anak adalah amanah dari Allah SWT yang harus dijalankan dengan sebaik- baiknya. Banyak hal yang harus diperhatikan untuk menentukan pola pendidikan yang terbaik bagi masing-masing anak, apalagi mereka tidak hidup di jaman dahulu.
Menurut Ali bin Abi Thalib Ra. ada tiga pengelompokkan dalam cara memperlakukan anak:
1. Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja.
2. Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan.
3. Kelompok 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat.
ANAK SEBAGAI RAJA (Usia 0-7 tahun)
Melayani anak dibawah usia 7 tahun dengan sepenuh hati dan tulus adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan. Banyak hal kecil yang setiap hari kita lakukan ternyata akan berdampak sangat baik bagi perkembangan prilakunya, misalnya :
>> Bila kita langsung menjawab dan menghampirinya saat ia memanggil kita- bahkan ketka kita sedang sibuk dengan pekerjaan kita – maka ia akan langsung menjawab dan menghampiri kita ketika kita memanggilnya.
>>Saat kita tanpa bosan mengusap punggungnya hingga ia tidur, maka kelak kita akan terharu ketika ia memijat atau membelai pngung kita saat kita kelelahan atau sakit.
>> Saat kita berusaha keras menahan emosi di saat ia melakukan kesalahan sebesar apapun, lihatlah dikemudian hari ia akan mampu menahan emosinya ketika adik/ temannya melakukan kesalahan padanya.
Maka ketika kita selalu berusaha sekuat tenaga untuk melayani dan menyenangkan hati anak yang belum berusia tujuh tahun, insya Allah ia akan tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan, perhatian dan bertanggung jawab. Karena jika kita mencintai dan memperlakukannya sebagai raja, maka ia juga akan mencintai dan memperlakukan kita sebagai raja dan ratunya.
ANAK SEBAGAI TAWANAN (usia 8-14 tahun)
Kedudukan seorang tawanan perang dalam islam sangatlah terhormat, Ia mendapatkan haknya secara proporsional, namun juga dikenakan berbagai larangan dan kewajiban. Usia 7-14 tahun adalah usia yang tepat bagi seorang anak bagi seorang anak untuk diberika hak dan kewajiban tertentu.
Rasulullah SAW mulai memerintahkan seoang anak untuk sholat wajib pada usia 7 tahun, dan memperbolehkan kita memukul anak tersebut (atau mengukum dengan hukuman seperlunya) ketika iIa telah berusia 10 tahun namun meninggalkan sholat. Karena itu usia 7-14 tahun adalah saat yang tepat dan pas bagi anak-anak kita untuk diperkenalkan dan diajarkan tentang hal-hal yang terkait dengan hukum-hukum agama, baik yang diwajibkan maupun yang dilarang, seperti:
>> Melakukan sholat wajib 5 waktu
>> Memakai pakaian yang bersih, rapih dan menutup aurat
>> Menjaga pergaulan dengan lawan jenis
>> Membiasakan membaca Al-Qur’an
>> Membantu pekerjaan rumah tanngga yang mudah dikerjakan oleh anak susianya
>> Menerapkan kedisiplinan dalam kegiatan sehari-hari Reward dan punishment (hadiah/penghargaan/ pujian dan hukuman/teguran) akan sangat pas diberlakukan pada usia 7 tahun kedua ini, karena anak sudah bisa memahami arti dari tanggung jawab dan konsekuaensi.
Namun demikian, perlakuan pada setiap anak tidak harus sama kerena every child is unique (setap anak itu unik)
ANAK SEBAGAI SAHABAT (usia 15-21 tahun)
Usia 15 tahun adalah usia umum saat anak menginjak akil baligh. Sebagai orang tua kita sebaiknya memposisikan diri sebagai sahabat dan memberi contoh atau teladan yang baik seperti yang diajarkan oleh Ali bin Abi Thalib Ra.
>> Berbicara dari hati ke hati Inilah saat yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati dengannya, menelaskan bahwa ia sudah remaja dan beranjak dewasa.
Perlu dikomunikasikan bahwa selain mengalami perubahan fisik, Ia juga akan mengalami perubahan secara mental, spiritual, sosial, budaya dan lingkungan, sehingga sangat mungkin akan ada masalah yang harus dihadapinya. Paling penting bagi kita para orang tua adalah kita harus dapat membangun kesadaran pada anak-anak kita bahwa pada usia setelah akil baliqh ini, ia sudah memiliki buku amalannya sendiri yang kelak akanditayangkan da diminta pertanggung jawabannya oleh Allah SWT.
>> Memberi Ruang Lebih Setelah measuki usia akil BAliqh, anak perlu memiliki ruang agar tidakmerasa terkekang, namun tetap dalam pengawasan kita.
Controlling tetap harus dilakukan tanpa bersikap otoriter dan tentu saja diiringi dengan berdo’a untuk kebaikan dan keselamatannya. Dengan demikian anak akan merasa penting, dihormati, dicintai, dihargai dan disayangi. Selanjutnya, Ia akan merasa percaya diri dan mempunyai kepribadian yang kuat untuk selalu cenderung pada kebaikan dan menjauhi perilaku buruk.
>> Mempercayakan tanggung jawab yang lebih berat. Waktu usia 15- 21 tahun ini penting bagi kita untuk memberinya tanggung jawab yang lebih beratdan lebih besar, dengan begini kelak anak- anak kita dapat menjadi pribadi yang cekatan, mandiri, bertanggung jawab dan dapat diandalkan.
Contoh pemberian tanggung jawab pada usia ini adalah seperti memintanya membimbing adik- adiknya, mengerjakan beberapa pekejaan yang biasa dikerjakan oleh orang dewasa, atau mengatur jadwal kegiatan dan mengelola kuangannya sendiri
>> Membekali anak dengan keahlian hidup.
Rasulullah SAW bersabda, “Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah” (Riwayat sahih Ima Bukhari dan Imam Muslm) Secara harfiah, olah raga berkuda, berenang dan memanah adalah olah raga yang sangat baik untuk kebugaran tubuh. Sebagian menafsirkan bahwa berkuda dapat pula diartikan mampu mengendarai kendaraan (baik kendaraan darat, laut, udara). Berenang dapat disamakan dengan ketahanan dan kemampuan fisik yang diperlukan agar menjadi muslim yang kuat. Sedangkan memanah dapat pula diartikan sebagai melatih konsentrasi dan fokus pada tujuan.
Di zaman modern, sebagian pakar memperluas tafsiran hadist diatas sebagai berikut:
>Berkuda = Skill of Life, memberi keterampilan atau keahlian sebagai bekal hidup agar memiliki rasa percaa diri, jiwa kepemimpinan dan pengendalian diri yang baik.
> Berenang = Survival of Live, mendidik anak agar selalu bersmangat, tidak mudah menyerah dan tegar dalam menghadapi masalah.
> Memanah = Thingking of Life, mengajarkan anak untuk membangun kemandirian berpikir, merencanakan masa depan dan menentukan target hidupnya.
Semoga saja kita para orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya dapat memberikan perlakuan yang tepat pada anak-anak, siapapun mereka, dari manapun mereka berasal, dan dimanapun mereka berada, karena anak-anak adalah tanggung jawab kita yang menyayangi mereka.

Semoga bermanfaat.
Disarikan dari berbagai sumber.

Rabu, 21 Januari 2015

Vaksinasi Sesuai Usia

Vaksinasi sangat dibutuhkan untuk semua golongan umur, jadi tak hanya bayi dan balita yang membutuhkan vaksin atau imunisasi. Para remaja, orang dewasa, ibu muda, bahkan lansia pun memerlukan vaksinasi. Sebelum mencapai usia 12 bulan imunisasi yang diberikan adalah imunisasi primer. Untuk usia 1 – 3 tahun adalah imunisasi ulangan dan melengkapi imunisasi sebelumnya. Sedangkan untuk para remaja, ibu muda dan lansia imunisasi tambahan menjadi tindakan preventif pencegahan penyakit menular. Berikut vaksin-vaksin yang dibutuhkan manusia berdasarkan usia, yaitu :
1. Bayi
Imunisasi yang diperlukan adalah HB, BCG (mencegah tuberkulosis), DPT (mencegah difteri, pertusis dan tetanus), Hib (hemophilus influenza tipe b untuk mencegah pneumonia dan meningitis), PCV (pneumococcal conjugate vaccine untuk mencegah pneumonia), influenza dan campak.

2. Balita
Imunisasi yang diperlukan adalah DPT, Hib , PCV, influenza, MMR (mencegah campak, gondongan dan campak Jerman) dan varisela (mencegah pneumonia dan meningitis).

3. Balita (lanjutan)
Imunisasi yang diperlukan adalah DPT, MMR, varisela, tifoid, influenza dan hepatitis A.

4. Usia sekolah
Imunisasi yang diperlukan adalah Td, MMR, HB, varisela, hepatitis A, HPV.

5. Remaja
Imunisasi yang diperlukan adalah hepatitis B, varisela, hepatitis A dan HPV.

6. Ibu muda
Imunisasi yang diperlukan adalah HB dan HPV.

7. Lansia
Imunisasi yang diperlukan adalah influenza dan Pnc.

#edisimelengkapitulisankemari#menjawabkommentnyaJengLidya#

Sumber : Disarikan dari berbagai sumber

Selasa, 20 Januari 2015

Alasan Lansia Perlu Vaksinasi

1. Bahwa seiring bertambahnya umur sistem imun/kekebalan tubuh kita juga menurun.

2. Penipisan kulit, berkurangnya refleks batuk, dan perubahan lainnya yang terjadi  akibat penuaan menyebabkan lansia semakin rentan terhadap penyakit.

3. Sistem imun tubuh kita menjalani berbagai jenis perubahan konstan selama kita hidup

4. Bayi baru lahir, tidak pny sistem imun yang kuat untuk pertahanan tubuhnya sendiri, fungsi sistem imun tumbuh dengan cepat selama tahun2 pertama dan mjd lengkap ketika usia pubertas

5. Pada wanita subur, sistem imun naik-turun  sesuai dengan siklus menstruasi, juga terjadi perubahan yang dramatis selama kehamilan dan nifas

6. Menurut penelitian, umur akan merubah sistem imun tsb mjd lbh lemah. Hal ini sejalan dengan perubahan pada organ2 tubuh seiring berjalannya usia.

7. Penurunan sistem imun ini bahasa kerennya disebut Immunosenescence. Hal tsb melibatkan respon tubuh terhadap infeksi dan peningkatan memori jangka panjang sistem imun terutama thd vaksinasi.

8. Immunosenescence ini yang menyebabkan tingginya angka kematian orang tua akibat penyakit.

9. Oleh karena ini CDC (center for Diseases Control and Prevention) merekomendasikan beberapa vaksinasi untuk lansia agar melindunginya dari penyakit tertentu yang banyak menyerang kelompok usia tsb.

10. #sayangiorangtua #gerakansayangmertua # berikanvaksinsesuaikebutuhannya#


Sumber: Rumah Vaksinasi

Senin, 19 Januari 2015

Cara Kerjasama Dengan BPJS Kesehatan

14029979391502861092
Info BPJS
Berikut ini informasi mengenai kerja sama fasilitas kesehatan tingkat pertama yang ingin bekerja sama dengan BPJS Kesehatan dalam melayani pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Apa saja syarat utama menjadi fasilitas kesehatan tingkat pertama? Berikut ketentuannya sesuai Permenkes Nomor 71 Tahun 2013 tentang Pelayanan Kesehatan pada JKN.


Untuk praktik dokter atau dokter gigi harus memiliki:
- Surat Ijin Praktik
- Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
- Perjanjian kerja sama dengan laboratorium, apotek, dan jejaring lainnya
- Surat pernyataan kesediaan mematuhi ketentuan yang terkait dengan JKN

Setelah semua persyaratan telah terpenuhi, berkas penawaran kerja sama tersebut dapat diserahkan ke Kantor BPJS Kesehatan terdekat untuk diverifikasi. Jika tidak lengkap, maka berkas akan dikembalikan. Sedangkan jika kelengkapan sesuai dengan yang disyaratkan, berkas tersebut akan diproses ke tahapan selanjutnya, yaitu maping faskes.

Pada tahap ini, BPJS Kesehatan akan mengecek apakah jumlah fasilitas kesehatan di suatu daerah sudah sesuai dengan kebutuhan atau belum. Jika memang masih diperlukan penambahan fasilitas kesehatan, maka berkas tersebut akan diproses ke tahap kredensialing, yang menggunakan kriteria teknis yang meliputi:
- sumber daya manusia
- kelengkapan sarana dan prasarana
- peralatan medis
- lingkup pelayanan
- komitmen pelayanan

BPJS Kesehatan kemudian akan memberikan skor penilaian kepada fasilitas kesehatan tingkat pertama tersebut dengan berbagai kategori, mulai dari A (skor 85-100) yang berarti sangat direkomendasikan untuk bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, hingga D (skor kurang dari 60) yang berarti tidak direkomendasikan. Jika skor sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan, maka penandatangan kontrak kerja sama antara fasilitas kesehatan primer dan BPJS Kesehatan pun dapat segera dilaksanakan.

Terutama buat teman sejawat, semoga bermanfaat ya...

Rabu, 14 Januari 2015

Kasus PTM di Puskes Kenten tahun 2014

Pendahuluan

Penyakit tidak menular menjadi penyebab utama kematian secara global. Data WHO menunjukkan bahwa dari 57 kematian yang terjadi di dunia pada tahun 2008, sebanyak 36 juta atau hampir dua pertiganya disebabkan oleh penyakit tidak menular. Penyakit tidak menular juga membunuh penduduk dengan usia yang lebih muda. Di negara-negara dengan tingkat ekonomi rendah dan menengah, dari seluruh kematian yang terjadi pada orang-orang berusia kurang dari 60 tahun, 29% disebabkan oleh penyakit tidak menular, sedangkan di negara-negara maju menyebabkan 13% kematian. Proporsi penyebab kematian akibat penyakit tidak menular pada orang-orang berusia kurang dari 70 tahun,penyakit cardiovaskular merupakan penyebab terbesar (39%), diikuti kanker (27%), sedangkan penyakit pernafasan kronis, penyakit pencernaan dan penyakit tidak menular yang lain bersama-sama menyebabkan sekitar 30% kematian, serta 4% kematian disebabkan diabetes.
Menurut WHO, kematian akibat penyakit tidak menular diperkirakan akan terus meningkat diseluruh dunia, peningkatkan terbesar terjadi di negara-negara menengah dan miskin. Lebih dari dua pertiga (70%) dari populasi global akan meninggal akibat penyakit tdak menular seperti penyakit kanker, penyakit jantung, stroke dan diabetes. Dalam jumlah total, pada tahun 2030 diprediksi akan ada 52 juta kematian per tahun karena penyakit tidak menular, naik 9 juta jiwa dari 38 juta jiwa pada saat ini. Di sisi lain,kematian akibat penyakit menular seperti malaria, TBC atau penyakit infeksi lainnya akan menurun, dari 18 juta jiwa saat ini menjadi 16,5 juta jiwa pada tahun 2030. Pada negara-negara menengah dan miskin penyakit tidak menular akan bertanggung jawab terhadap tiga kali dari tahun hidup yang hilang dan disability (disability adjusted life years) dan hampir lima kali dari kematian penyakit menular,maternal, perinatal dan masalah nutrisi.
Secara global, regional dan nasional pada tahun 2030 transisi epidemiologi dari penyakit menular menjadi penyakit tidak menular semakin jelas. Diproyeksikan jumlah kesakitan akibat penyakit tidak menular dan kecelakaan akan meningkat dan penyakit menular akan menurun. Penyakit tidak menular seperti kanker, jantung, diabetes militus dan paru obstruktif kronik, serta penyakit kronik lainnya akan mengalami peningkatan yang signifikan pada tahun 2030. Peningkatan kejadian penyakit tidak menular berhubungan dengan peningkatan faktor resiko akibat perubahan gaya hidup seiring dengan perkembangan dunia yang makin modern, pertumbuhan populasi dan peningkatan usia harapan hidup.
Hasil  Riskesdas  tahun  2007  menunjukkan  tingginya prevalensi penyakit  tidak menular di  Indonesia, seperti hipertensi  (31,7  %),  penyakit  jantung  (7,2%),  stroke (8,3‰),  diabetes melitus  (1,1%)  dan  diabetes melitus di  perkotaan  (5,7%),  asma  (3,5%),  penyakit  sendi (30,3%),  kanker/tumor  (4,3‰),  dan  cedera  lalu  lintas darat (25,9%). Adapun stroke  merupakan  penyebab  utama  kematian  pada semua  umur,  jumlahnya  mencapai  15,4%,  hipertensi 6,8%,  cedera  6,5%,  diabetes  melitus  5,7%,  kanker 5,7%,  penyakit  saluran  nafas  bawah  kronik  (5,1%), penyakit  jantung  iskemik  5,1%  dan  penyakit  jantung lainnya 4,6%. 
BTKLPP Kelas I Palembang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Palembang, mengadakan kajian kasus baru penyakit tidak menular yang terjadi setiap bulannya khusus di 8 (delapan) Puskesmas Kota yang sudah ditunjuk, yaitu terdiri dari: Puskesmas Kenten, Puskesmas Merdeka, Puskesmas Pakjo, Puskesmas Dempo, Puskesmas Kertapati, Puskesmas sekip, Puskesmas Padang Selasa dan Puskesmas Makrayu. Adapun data yang sudah berhasil dikumpulkan ini terdiri dari data dari triwulan pertama (Januari-Maret) 2014 hingga triwulan keempat khususnya bulan Oktober hingga November dan kami tampilkan masing-masing per Puskesmas. Namun diblog ini hanya data Puskesmas Kenten saja yang dapat disajikan.

Gambaran Umum Puskesmas Kenten

Puskesmas Kenten terletak di Jalan Mangkunegara No. 1 Kenten Kecamatan Ilir Timur II. Luas wilayah : 377,978 Ha, dengan luas tanah 700 m2 dan luas bangunan pada Puskesmas Kenten 253,875 m2, Puskesmas ini didirikan pada tahun 1972. Wilayah kerja Puskesmas Kenten ini meliputi Kelurahan Kuta Batu dan Kelurahan 8 Ilir, jumlah Pustu Puskesmas Kenten ada 2 yaitu Tunanetra dan 8 Ilir.

               Hasil dan Pembahasan Kasus Baru PTM di Puskesmas Kenten

Pada triwulan I tahun 2014, penyakit tidak menular yang ada di Puskesmas Kenten yaitu hipertensi, DM Tipe II, asma bronkiale, cedera akibat kecelakaan, hipertiroid. Adapun jumlah hasil rekapitulasi kasus penyakit tidak menular sebanyak 45 kasus. Kasus yang dilaporkan merupakan kasus yang terjadi terjadi atau yang pertama kali datang. Sedangkan dari data triwulan II tahun 2014, penyakit tidak menular yang ada di Puskesmas Kenten yaitu hipertensi, DM Tipe II, asma bronkiale, cedera akibat kecelakaan. Adapun jumlah hasil rekapitulasi kasus penyakit tidak menular yang dilaporkan sebanyak 52 kasus. Data triwulan III tahun 2014, jumlah rekapitulasi kasus penyakit tidak menular sebanyak 59 kasus, dengan didominasi oleh penyakit hipertensi sebanyak 39 kasus, DM tipe II sebanyak 10 kasus, dan asma bronkiale sebanyak 10 kasus. 
Sedangkan bulan November penyakit tidak menular yang ada di Puskesmas Kenten adalah hipertensi sebanyak 15 kasus, DM tipe II sebanyak 6 kasus, asma bronkhiale sebanyak 1 kasus, cedera akibat kecelakaan lalu lintas 2 kasus. Adapun jumlah rekapitulasi yang dilaporkan pada Puskesmas Kenten ini sebanyak 24 kasus. Dan dari  data yang didapatkan ternyata bahwa penyakit hipertensi yang paling mendominasi dari penyakit tidak menular lainnya, meskipun penyakit hipertensi ini di bulan November sempat turun. 
Berdasarkan data 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Kenten, Hipertensi dan DM termasuk ke dalam 10 penyakit terbanyak. Bila dilihat berdasarkan kelompok umur. Kecendrungan penyakit hipertensi meningkat dialami oleh kelompok umur 45-54 tahun dan 55 tahun ke atas. Ini jelas terlihat pada Triwulan III, dimana terjadi kenaikan jumlah penderita Hipertensi pada kelompok umur 55 tahun ke atas dan 45-55 tahun sedangkan untuk kelompok umur 18-44 tahun tidak terdapat kasus penyakit hipertensi.
Untuk penyakit diabetes militus (DM) cenderung dialami oleh kelompok umur 55 tahun keatas dan kelompok umur 45-54 tahun, akan tetapi ternyata ada juga kasus DM pada kelompok umur 18-44 tahun pada triwulan III. Pada bulan Oktober penyakit tidak menular yang ada di Puskesmas Kenten ini meliputi hipertensi, DM Tipe II, asma bronkhiale, cedera akibat kecelakaan lalu lintas. Adapun  jumlah rekapitulasi yang dilaporkan Puskesmas Kenten ini adalah 25 kasus dan penyakit hipertensi yang paling tinggi sebanyak 16 kasus .

            Penutup

Data distribusi kasus baru PTM di Puskesmas Kenten, tampak bahwa kasus baru Hipertensi tinggi dan hampir selalu masuk dalam 10 penyakit terbanyak. Belum lagi bila digabungkan dengan kasus lama yang sudah menahun maka jumlahnya akan makin banyak lagi. Ini harus menjadi perhatian serius. Hampir 70% orang tidak mengetahui dirinya mengalami hipertensi dan mendapatkan pengobatan. Namun hampir separuh tidak mengontrol dengan baik. Padahal jika tekanan darah terkontrol dengan stabil maka akan memberi hasil terbaik untuk mencegah pasien terkena komplikasi seperti stroke dan penyakit jantung koroner. Pasien yang hanya sesaat minum obat tidak memberi hasil yang baik. Selain itu pasien juga harus diedukasi dengan baik mengenai pengobatan agar pasien dapat lebih paham. Beberapa masalah lainnya seperti kesalahpahaman pasien bahwa minum obat hipertensi jangka panjang dapat menyebabkan gagal ginjal, padahal hal ini tidak benar. Artinya harus terus ingkatkan usaha edukasi dan promosi kesehatan. Data laporan kejadian PTM yang dilaporkan ke Dinas Kota Palembang ada baiknya disertakan dengan data pasien PTM secara keseluruhan bukan hanya pasien baru saja. Terus dilakukan pembinaan dari Dinas Kesehatan Kota Palembang kepada petugas PTM yang ada di Puskesmas perlu ditingkatkan terutama terkait promosi dan preventifnya, sebab PTM makin meningkat dari waktu ke waktu jadi harus ada usaha serius dari pihak terkait dan yang berwenang.

Daftar Pustaka

Anggraeni, A. C. 2012. Asuhan Gizi Nutritional Care Process. Yogyakarta: Graha Ilmu

Boedhi, Darmojo. 2001. Mengamati Perjalanan Epidemiologi Hipertensi diIndonesia.Jakarta: Medika

Departemen Kesehatan R.I, 2002.  Panduan Pengembangan Sistem Surveilans Perilaku Berisiko Terpadu. Jakarta

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Buletin Penyakit Tidak Menular, Tahun 2012,  Semester II. Jakarta



Selasa, 02 Desember 2014

Yang Bersama Terus Berbenah

Ini kejadian beberapa hari yang lalu saat aku berkesempatan mendengarkan curhat seorang 'adik'. Begini kisahnya, cieee  

Dijeda sebuah pelatihan, aku membaca sebuah pembaharuan dari seorang Ust.Cahyadi Takariawan (beliau baru sepekan lalu dinobatkan sebagai Kompasioner Terfavorit pada penghargaan Kompasiana Awards 2014) yang memang pemberitahuannya rutin masuk ke fb-ku dan biasanya kerap kubaca, seringnya sambil senyum-senyum.

Dan kali ini, demikianlah isi status beliau:
Sekedar menelpon, atau sms, atau ngobrol via BBM atau WA, untuk menanyakan kondisi dan aktivitas masing-masing, adalah sesuatu banget bagi pasangan suami istri.....
Jangan menelpon atau mengontak hanya karena ada sebuah kepentingan yang khusus. Tidak perlu ada sesuatu kepentingan tertentu. Usahakan terus terhubung dan nyambung. Bahkan untuk sekedar "iseng" atau hal-hal yang sepertinya tidak penting.... 
Justru ini menjadi penting dalam rangka menyatukan hati dan jiwa suami istri.
Agar mereka selalu nyambung dan terhubung....

********

Istri : Sudah makan Bang?
Suami : Sudah Dek....
Istri : Makan apa Bang?
Suami : Makan siang Dek...
Istri : Ooh aku kira makan nasi Bang...
Suami : Kalo kamu udah makan Dek?
Istri : Udah Bang...
Suami : Makan apa Dek?
Istri : Makan ati Bang....
Suami : Ooh... kirain makan nasi...

***********
Isinya cuma iseng dan gak penting kan? 

Karena yang penting adalah selalu terhubung dan nyambung.... 
Isi chatting tidak terlalu penting....
Selamat siang sahabat semua.......


Seperti biasa akupun langsung mesem-mesem sendiri. Ternyata peserta pelatihan disebelahku, yang juga kawan sekamarku selama pelatihan kali ini memperhatikan dan langsung bertanya. "Baca apaan sich Mbak?" Serta merta aku menyodorkan hp-ku, dia membacanya dengan seksama. Aku kembali khusyuk dengan materi pelatihan yang mulai serius lagi. Barulah saat istirahat sholat dzuhur, Bunga (bukan nama sebenarnya) menggenggam tanganku erat. "Mbak, aku telat membaca tulisan bagus seperti tadi, sebenarnya aku punya pengalaman pahit seputar kehidupan berumahtangga". Dan akhirnya mengalirlah kisah berharga darinya tanpa kupinta. 

Sepuluhtahun lebih berubah tangga, Bunga merasa mereka hidup dalam keharmonisan, masuk dalam gambaran keluarga SAMARA. Suaminya adalah seorang pengusaha yang mulai menanjak, selain itu ia juga terkenal sebagai orang yang faham agama, bahkan banyak yang menyebutnya Ustadz. Sementara Bunga sendiri bekerja paruh waktu sebagai dokter PNS di Dinas Kesehatan sebuah kota. Kehidupan mereka sangat ideal dengan kehadiran 2 orang anak, yang sulung sudah kelas 4 SD sementara yang kedua masih balita. Saat Bunga ke kantor, dirumah ada asisten rumah tangga dengan Ibunya Bunga yang sudah menjanda dan memang sudah sejak lama tinggal bersama mereka. Bunga merasa sangat beruntung memiliki suami yang sangat menyayanginya dan keluarga, masuk kriteria tipe suami idaman. 

Sampai suatu ketika tanpa sengaja Bunga melihat percakapan mesra di inbox suaminya dengan seorang wanita muda yang bahkan masih mahasiswi. Bagai disambar petir disiang bolong, Bunga melolong, dunianya seperti runtuh. Apa salahnya sampai suaminya tega mengkhianatinya sedemikian rupa. Dialog yang penuh emosipun tak terelakkan lagi, rupanya kejadian ini baru seminggu, sejak Bunga sibuk merawat Ibunya yang sedang sakit, perhatian yang sebagian lagi tercurah untuk kedua buah hatinya dan pekerjaan di kantor yang sedang padat. Bunga memang sempat lalai memperhatikan suaminya, Bunga merasa suaminya baik-baik saja, memaklumi semua keadaan daruratnya. Tapi ternyata Bunga keliru, suaminya merasa kesepian, butuh kawan ngobrol dan merasa Bunga mengabaikan hak biologisnya yang sedang menggebu, layaknya pria yang hampir memasuki usia 40 tahun, sebagai dokter Bunga sebenarnya faham itu.

Yang disesalkan Bunga, mengapa suaminya tak mengkomunikasikan secara terbuka seperti yang biasanya mereka lakukan. Alasan suaminya, ia tak tega melihat Bunga yang kelelahan. Ketika Bunga menggali lebih dalam, suaminya mengakui bahwa seandainya diizinkan memang ia ada niat menikahi mahasiswi tersebut, asal Bunga memang ikhlas menerima keputusannya berpoligami. Bunga benar-benar tepuruk, tak menyangka akan mengalami tikaman sedahsyat ini. Sambil terisak-isak Bunga menegaskan bahwa ia tak sanggup diduakan dan kalau suaminya mau melanjutkan niatnya Bunga memilih bercerai. Bukannya Bunga menentang ayat poligami, tapi menurutnya ia belum sanggup kalau harus membagi hati, takut ia tak ikhlas sebagai istri yang akhirnya malah menjauhkannya dari syurga.

Singkat cerita akhirnya suaminya minta maaf dan berjanji tak akan menyakiti hati Bunga lagi. Meski berat, Bunga bersedia menerima maaf suaminya. Tapi ternyata si mahasiswi tak terima, dia merasa terdepak dan dengan segala cara masih mencuri-curi kesempatan untuk menyambungkan hati dengan suami Bunga, berbagai alasan dibuatnya dari minta nasehat sekaligus minta kasihani sebagai gadis yang tak bahagia karena terlahir dari orang tua yang bercerai. Sampai-sampai si mahasiswi membuatkan akun palsu atas nama 'Donald Duck' untuk suami Bunga agar mereka masih bisa chatt, dasar mahasiswi ganjen perusak rumah tangga orang. Suami Bunga juga masih menanggapi dengan alasan empatik. Syukurnya, lagi-lagi Bunga segera tahu, hatinya yang belum lagi sembuh dari luka kembali berdarah-darah. Perih seperti diiris sembilu, alangkah tega suaminya menghianatinya sampai bertubi-tubi. Kalaupun Bunga bersalah, tetap tak layak suaminya berlaku dzalim sepert itu. Bunga sampai stress berat, berhari-hari tak bisa tidur dan tidak ada nafsu makan, anak-anaknya terlantar, Ibu Bunga sampai merasa bersalah membuat anaknya kelelahan mengurusinya sakit. Pada suaminya Bunga benar-benar mati rasa, sampai terpikir mau bercerai, tapi anak-anak pasti menderita. Suami Bunga adalah Ayah terhebat dimata anak-anaknya. Bunga tahu anak-anak tak mungkin bahagia bila berpisah dari Ayahnya.

Disaat seperti itu, Bunga benar-benar limbung. Hanya pada Allah tempatnya bercerita, Bunga tak mungkin curhat pada kawan atau saudaranya, itu sama saja membuka aib suaminya, Bunga merasa emosinya masih begitu meraja, yang ada dalam ingatannya kala itu hanya kejelekan dan kesalahan suaminya saja. Hapus semua kebaikannya selama ini. Bunga trauma pada banyak hal, setiap suaminya memegang hp rasa curiganya kembali meluap-luap. Kota Bandung tempat mahasiswi ganjen itu tinggal adalah sebuah tempat yang terlarang untuk didatangi suaminya. Melihat boneka atau kata-kata 'Donald Duck' mampu membuatnya meneteskan air mata. Bagi Bunga inilah ujian terberat dalam hidupnya. Saat-saat sulit masa kecilnya sebagai anak yatim tak pernah dirasakan Bunga sebagai suatu derita. 

Suami Bunga sampai kehabisan kata untuk minta maaf. Bunga benar-benar berjuang melawan egonya demi anak-anak. Apalah artinya kebahagiaannya bila dibandingkan kebahagiaan anak-anak mereka. Akhirnya Bunga tak mau berlarut-larut, mereka berdamai. Meski manusiawi saja sampai saat ini kebencian Bunga pada mahasiswi penggoda itu masih membara. Dengan sadar Bunga diam-diam membuka akunnya dan sampailah pada satu kesimpulan memang dia kerjanya begitu, tebar-tebar pesona pada banyak laki-laki. Berharap dijadikan yang kedua. Syair lagi "Jadikan aku yang kedua, buatlah diriku bahagia" kerap diulangnya sebagai status fb-nya. Bunga juga membuka list pertemanan dan siapa saja yang rajin berkomentar, rata-rata adalah para lelaki yang tampaknya 'mapan' dan 'baik-baik'. Jauh dari kesan 'urakan', meski Bunga tak tahu siapa-siapa sajakah mereka itu, karena Bunga tak mau terlalu jauh. Cukup baginya untuk tahu siapa mahasiswi ganjen itu, ternyata tipe perempuan yang mau senangnya saja, tak mau berjuang merintis hidup susah dari bawah sehingga yang diincar adalah para pria yang sudah mapan. 

Saat ini Bunga memang sudah pulih, makanya ia memilih membagi kisahnya untuk dijadikan pelajaran, Bunga tahu aku suka menulis dan punya banyak kenalan. "Semoga bisa diambil hikmahnya Mbak", begitu pesan Bunga.

Bungapun mengakui, dulu sebelum kejadian itu. Bunga tak merasa perlu menghubungi suaminya disela-sela jam kerja, untuk sekedar bertanya keadaannya. Toch semuanya baik-baik saja. Bunga mengaku bahwa dirinya memang termasuk tipe perempuan mandiri, tegas dan tergolong kaku. Dalam hal bercinta Bunga juga tak merasa perlu beromantis ria, dulu Bunga juga nikah sama suaminya tak perlu pacaran, hanya dijodohkan saja. Itulah mengapa Bunga merasa rumah tangga mereka baik-baik saja selama sepuluh tahun lebih ini sampai prahara itu datang. Suaminya Bunga benar-benar bertaubat, dan sebagai istri yang baik Bungapun terus berbenah memperbaiki diri, belajar bahkan memaksa diri untuk bisa romantis pada suaminya. Sekarang Bunga makin meyakini bahwa kehidupan rumahtangga itu perlu diperjuangkan, agar bisa khusnul khotimah. 

Bahkan untuk urusan 'ranjang' Bunga sampai berani bilang kepada suaminya "Kapanpun Ayah meminta Bunda siap memberikan pelayanan terbaik, mau berapakali sehari juga oke. Kalaupun Bunda ogah-ogahan karena lelah, Ayah boleh paksa Bunda. Ayah jangan diam saja, sok nrimo, padahal mendongkol. Bunda lebih baik 'diperkosa' daripada diduakan". Aku sampai mesem geli mendengar komitmen Bunga. 

Aku peluk Bunga erat, banyak pelajaran yang dapat kuambil dari kisah seorang Bunga. Saat ini diluar sana memang makin banyak perempuan yang tak punya malu, mereka sudah kehilangan harga dirinya, mengoda dan merayu suami orang dengan cara yang tidak pantas. Para suamipun makin banyak yang kurang menyadari kewajibannya sebagai imam, hanya mengedepankan haknya saja. Ayat tentang poligami dijadikan andalan tanpa memahami syaratnya yang harus dipenuhi. Belum lagi era tekhnologi canggih zaman sekarang seringkali membuat orang terpedaya. Jadi teringat pernyataan seorang teman yang sampai enggan beli android, biar dech pakai hp jadul saja, alasannya takut terjerumus pada tipu daya dunia maya katanya. Menurutku, semuanya berpulang kepada kita, bagaimana kita mengambil manfaat dari tekhnologi, jangan justru sebaliknya tekhnologi yang mengendalikan kita. 

Adapun intinya dari kisah Bunga yang aku garis bawahi bahwa kita hidup diakhir zaman, rumah tangga kita sangat jauh bila hendak disandingkan dengan rumah tangganya Rasulullah, SAW dengan Bunda Khodijah, banyak sekali cacat celanya. Sebagai sepasang suami istri selayaknya kita bisa saling melengkapi, menguatkan dan mengingatkan. Terus belajar, terus berbenah memperbaiki diri. Silakan ikut pelatihan-pelatihan keluarga SAMARA atau baca-baca buku panduan tips meraih keluarga SAMARA. Berusaha selalu menjalin komunikasi aktif dengan pasangan, jangan hanya menunggu. Buat agenda liburan keluarga, hangatkan kembali suasana kebersamaan dalam keluarga. Jangan terjebak pada rutinitas, merasa berada di zona nyaman. Adalah salah bila membandingkan dengan kehidupan keluarga orangtua kita dulu yang baik-baik saja meski tak perlu bumbu-bumbu romantis ataupun penyegaran. Analoginya begini, sekarang kita hidup di bumi yang sudah makin banyak polusinya, jadi imunitas kita juga harus ditingkatkan. Jangan samakan dengan kondisi bumi zaman dulu yang semuanya masih serba segar alami, tanpa polutan berbahaya. Bila kita tidak mau meningkatkan imunitas, itu artinya kita akan dilibas polutan yang mengganas.