Sudah lama buku Habibie&Ainun aku terima sebagai tali asih atas permintaanku saat jadi model BlogCamp edisi Awal Januari 2012 lalu. Keren ya, dah jadi model numpang tenar malah dikasih hadiah pula. Mengenal Pakde Cholik memang berwarna pelangi ya... Saat datang sebenarnya buku ini mau langsung kubaca, tapi apa daya ternyata aku kepincut pada hadiah buku satunya lagi. Karya Jondru tentang "Menerbitkan BUKU itu GAMPANG". Beneran, asli gampang sampai banyak yang terlena, aku maksudnya, hikss...
Akhirnya awal Maret lalu buku Habibie & Ainun sukses juga aku tamatkan. Tapi maaf ya kali ini aku sedang tak bisa meriviewnya secara keseluruhan. Silakan baca sendiri dech, kisah cinta sejatinya seorang Prof. Habibie-Almh. Ibu dr. Ainun, belahan jiwanya. Sepeninggal Ibu Ainun, betapa beliau merasa kehilangan itu begitu mengguncang, meluluh lantakkan pertahanan jiwanya, bagaimana beliau ternyata sempat limbung sampai harus dikonsulkan pada psiater. Syukurnya setelah mengikuti saran untuk menuliskan kisah cinta, kebersamaannya dengan mendiang istrinya tersebut, jiwa Bapak Prof. Habibie yang pernah dinyatakan sebagai Sang Jenius dari Indonesia itu akhirnya berangsur pulih. Ya ternyata menulis adalah therapy yang mujarab buat kestabilan psikis Bapak Habibie yang remuk nyaris porak-poranda.
![]() |
| Buku Habibie & Ainun dari Pakde Gemuk Cholik |
Dan selanjutnya terbitlah buku Habibie & Ainun yang menginspirasi banyak orang itu, termasuk aku. Terbukti sudah bahwa suksesnya seorang Habibie adalah andil pendamping beliau, Ibu Ainun, tampa melupakan peran besar keduaorangtuanya. Prof Habibie menulis buku ini dengan 'gaya' seorang ilmuawan tulen, ya paling tidak ini menurutku. Datanya lengkap, bahkan yang berbau ilmiah kentalpun masih diingatnya. Runut terinci dan tersusun rapi. Secara keseluruhan buku ini sangat bisa ditebak, berisi kebersamaan manis beliau dengan Ibu Ainun sejak dari awal jatuh cinta, masa indah sekaligus sulit diawal menikah, saat mendapat kepercayaan berkarya di IPTN, kala menjadi orang nomor 1 di RI dan hari-hari sakitnya almarhumah sampai menghembuskan nafas terakhir.
Buatku buku ini tetap bisa dinikmati meski bahasanya jauh dari bahasa para seniman, aku serasa baca sebuah karya ilmiah. Tapi ada satu hal yang sempat membuatku tertegun. Persis kalimatnya aku lupa, secara bukunya sedang dipinjam seorang sahabat. Ternyata saat awal menikah dulu pasangan ini pernah melewati masa-masa penuh perjuangan di sebuah kota kecil, Jerman sampai Pak Habibie harus berjalan kaki sejauh belasan kilometer untuk menghemat pengeluaran, saat dikantongnya uang yang tersisa bahkan tak cukup untuk ongkos kereta.
Bu Ainun yang terbisa hidup serba berkecukupanpun pandai mengimbangi dengan mengerjakan pekerjaan RT sendiri tampa bantuan asisten RT. Walau begitu mereka hidup bahagia jauh di Negeri Orang. Pada ulang tahun pernikahan mereka yang pertama, Bu Ainun mendapat hadiah mesin jahit dari Pak Habibie, SINGER merknya, saat itu harganya sedang diskon kalau tak salah, bahkan Bapak Habibie membelinya dengan mencicil. Luar biasa, Bu Ainun sangat memanfaatkan hadiah tersebut.
Bu Ainun yang terbisa hidup serba berkecukupanpun pandai mengimbangi dengan mengerjakan pekerjaan RT sendiri tampa bantuan asisten RT. Walau begitu mereka hidup bahagia jauh di Negeri Orang. Pada ulang tahun pernikahan mereka yang pertama, Bu Ainun mendapat hadiah mesin jahit dari Pak Habibie, SINGER merknya, saat itu harganya sedang diskon kalau tak salah, bahkan Bapak Habibie membelinya dengan mencicil. Luar biasa, Bu Ainun sangat memanfaatkan hadiah tersebut.
![]() |
| Hasil motret sendiri^^ |
Hari-hari selanjutnya dibeberapa bagian dalam buku tersebut banyak menceritakan kegiatan Bu Ainun saat menunggu kepulangan suaminya adalah menjahit. Achhh sungguh bersahaja dan rajinnya beliau. Ya aku selalu kagum pada perempuan yang bisa menjahit, apalagi bila sampai menghasilkan banyak kreasi dengan mesin jahit, tak peduli merk apapun. Aku sendiri sejauh ini belum pernah belajar menjahit, pernah dulu dibelikan suami mesin jahit kecil yang mirip streples, seperti yang dikisahkan Bun Monda pada Mesin Jahit dalam Genggaman. Karenanya hanya bisa menjahit untuk perbaikan saja, bila ada robek-robek kecil. Kalau besar apalagi membuat kreasi tak bisa diandalkan. Maka saat melihat pameran mesin jahit SINGER suatu hari lalu, aku tertarik dong... bertanya pada penjaul tentang spesifikasinya, sampai benar-benar dikira mau membeli. Iya sich mau, tapi belum sekarang dech... Mau belajar jahitnya dulu, dari pada buru-buru beli terus karatan karena jarang dipakai *alasanajakaleee...

