Tampilkan postingan dengan label Pilkada Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pilkada Jakarta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 September 2012

Seperti Ditimpa Kotak

Judul awalnya, seperti ditimpa kotak-kotak, tapi khawatir memancing kerusuhan, maka kusingkat saja. Bukan sekedar curhatan galau, tapi lebih kepada sebentuk pengharapan... Mestinya aku tak harus merasa terpuruk, huaaaa *tapi mengapa aku malah ingin nangis sejadi-jadinya...

Pertamanya aku memang bingung mau menerima pinangan yang mana. Sebab sebenarnya pujaan hatiku sudah mundur. Mau nguling-nguling juga tak mungkin bisa lagi. Maka kini aku mencoba untuk bersikap realistis. Diantara 2 yang tersisa, siapa yang lebih layak menemaniku mendulang keridhoan-Nya. Apakah si Kumis yang ganteng? Dan jelas didukung oleh kedua orangtua, sesepuh adat dan agama. Ataukah si Kotak-kotak yang sudah banyak mempesona banyak pihak, terutama mereka yang ada di pasar-pasar.

Kalau mau jujur aku sebenarnya sudah punya kecendrungan, tapi aku juga butuh penguatan jiwa. Istikharoh sudah lama kulakukan, aku sudah mantap. Tapi tetap ada rasa khawatir dalam diriku, apakah sanggup kulawan arus dukungan yang sedemikian deras pada si Kotak-kotak. Semua seolah kompak menutup mata pada latar belakang si Kotak-kotak dan orang terdekatnya. Mereka bahkan menggunakan berbagai cara merayu sekitarku. Apa dayaku sebagai manusia? Walau sejumlah fakta kupaparkan, apakah masih ada gunanya buat mereka yang seolah sudah terhipnotis. Ooohhhh....

Sakit rasanya, seperti ditimpa kotak besar. Menghimpit dada, raga dan jiwaku. Namun aku harus kuat. Betapapun berat resiko yang kutanggung nantinya atas pilihanku. Besok aku akan menyatakan suaraku dan tetap berharap ada keajaiban. Semoga Allah menjatuhkan pilihan pada dia yang akan memimpinku.

Bukan soal kelak aku dibilang begini dan begitu, bagiku masalah aqidah adalah hal yang prinsip. Duhai sahabat, bukan sebatas isu SARA atau etnis disini, tapi masalah kepedulian. Masih adakah iman didadaku? Dan apakah masih pantas aku disebut beriman? 

Saat khouf dan roja’ membumbung, aku tahu hanya Allah tempatku bersandar.


***

Aku disini tokoh fiktif, sebab aku yang nyata tak bisa ikut bersuara besok. Semoga masih ada waktu untukmu merenung Sahabat,

Ini berita baru, tahukah para Pengagum Kotak-kotak?

Solopos.com/2012/09/09/LAPSUS Kemacetan belum Teratasi 5 Tahun lagi Solo Lumpuh.

Solopos.com/2012/07/04/ Sampah Meluber PEMKOT Solo pusing atasi TPS Sampah Pasar Kliwon.

Berita8.com/read/2012/04/07/3/Saban Tahun Penduduk Miskin di Solo Meningkat

News.detik.com/read/2012/01/02/Banjir di Solo masih Tinggi.

Belum lagi tentang kesaksian seorang sahabatku yang baru-baru ini berkunjung ke Solo, tentang Masjid Agungnya yang ada di Pusat Kota, sangat tak membuat betah. Kotor katanya, kalah jauh dengan Masjid Agung Palembang. Ini baru satu masjidnya, bagaimana pula nasib masjid-masjid yang lain?

Sedangkan Jakarta bukanlah Solo. Bahkan luas Solo hanya menyamai Kodya Jakarta Pusat.

Mari dipikirkan lagi, apakah JOKOHOK cukup pantas memimpin DKI Jakarta, tanah tumpah darahnya si Doel yang berbudaya, yang kerjaannya sembahyang mengaji. Jangan cuma bisa bilang "sakit hati" dan menyesal nantinya ya...

Kamis, 05 Juli 2012

Pada Pertengahan Sya'ban

Sudah dipertengahan Sya'ban. Apa yang sudah kusiapkan untuk songsong Ramadhan? Yang pasti selalu ada harapan agar Ramadhan ini lebih baik dari Ramadhan yang sudah lalu. Banyak peristiwa terjadi diawal Sya'ban ini, dari mulai pentas seni dan perpisahan juga pembagian raport Yunda dan Hamas. Semua moment 'penting' ini belum sempat kurekam, maka hari ini akan kurangkum sebagai catatan pribadi. 

Kelulusan Perdana.
Perpisahan di SDIT Bina Ilmi tahun ini dikemas agak berbeda, sebab sekalian melepas kelulusan kelas VI untuk pertama kalinya. Angkatan pertama ini terdiri dari 1 kelas berjumlah 24 siswa, termasuk didalamnya Kakak Zaky, sepupu tertua Hamas. 


Kakak Zaky yang pojok kiri, senyum bahagia ^^


Pada sambutan orangtua kelas VI, aku terharu, betapa saat UAN mereka berjuang untuk menyakinkan dirinya bahwa anak-anak mereka bisa lulus murni dengan bermodalkan kejujuran. Mana lagi belum ada kelulusan sebelumnya hingga membuat mereka ketar-ketir juga. Dan syukurnya semua sucses, lulus dengan nilai yang memuaskan, bahkan ada 2 siswa yang mendapat nilai 10 untuk mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia.

Pentas Seni.
Acara pentas seni ikut menyemarakkan perpisahan di Bina Ilmi. Masing-masing kelas menampilkan kreasinya. Kelasnya Yunda dengan puisi - lagu 'Laskar Pelangi' dan 'Guruku', sucses membuat kami yang hadir terkagum haru. Kelasnya Hamas menampilkan atraksi 'five litle ducks' yang sangat menghibur.

Raportnya Yunda dan Hamas.
Alhamdulillah nilainya sangat baik. Yunda dapat peringkat 1 dan Hamas dapat peringkat 5, satu-satunya siswa yang masuk 5 besar, yang lainnya siswi. Di Bina Ilmi tak ditulis peringkat dalam raportnya, hanya kerap kali Bunda Gurunya menyebutkan saat kita tanda tangan absen pengambilan raport, tampa bertanya. Walau sejujurnya aku senang juga diberi tahu peringkatnya anak-anak.

Sekarang anak-anak sedang menikmati liburannya. Awal liburan sudah dihabiskan di Way Kanan, rumah Jidah-Datuk. Kemarin baru pulang. Masih 2 pekan lagi, rencanaku akan diisi dengan ragam kegiatan untuk mempersiapkan Ramadhan. Tahun ini adalah Ramadhan keduanya Hamas. Sedang Yunda sudah yang kelima kali ikut puasa di bulan yang penuh barokah ini. Satu yang selalu aku ingatkan pada diri, bahwa puasa di bulan Ramadhan memang belum wajib bagi ananda, tapi ada baiknya dibiasakan. Maka tak perlu ada paksaan, membiasakan dengan penuh cinta, biar mereka sendiri yang akan mengenang suka cita Ramadhan saat masa kecilnya. Untuk itu semua perlu disiapkan jauh hari, sejak Sya'ban ini, agar mereka ceria bahagia mengisi Ramadhan.