Tampilkan postingan dengan label Iedul Fitri 1433 H. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iedul Fitri 1433 H. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Agustus 2012

Cerita Lebaranku (2)

Hari pertama lebaranpun berlalu dengan cepatnya. Ini lanjutan cerita lebaranku, maaf kalau semuanya hanya berisi curhatan basi, sekedar menuangkan isi hati.

H+2, 20 Agustus 2012
Kami sekeluarga paginya masih di Way Kanan, sembari menerima tamu, sibuk berbenah persiapan pulang ke Palembang. Dan sore harinya, kamipun jadi juga berangkat ke Palembang meski sempat ada kejadian Hamas dan Yunda ngambek karena masih mau di Way Kanan, ketemu sepupu kembarnya (anak adik ketigaku, yang sedang mudik ke Metro). Tapi apa daya De' Anggun sekeluarga belum ada tanda-tanda pulang dari Metro, mau ada acara Syukuran dulu di rumah mertuanya. Akhirnya sekitar jam 14.00 kami meluncur ke Palembang, ikut serta bersama kami adik bungsunya Jidah, Mang Winku, yang mendadak ingin jalan-jalan ke Tepian Musi.

Kami lewat lintas tengah Sumatera lagi seperti biasa. Jalanan sepi, tak ada kemacetan. Hanya saja di daerah Prabumulih kami sempat terpana saat melintasi area Waterboom, ramai sekali, parkirannya sampai luber ke jalan raya. Ini sejak kapan ya suasana yang lekat dengan silaturahim beralih ke acara wisata, mungkin sekalian lah ya, mumpung liburan. Gpp, asal jangan sampai melewatkan moment Ied Fitri dengan bertandang ke rumah-rumah untuk bersilaturahim. 

Sampailah kami di Palembang, sesaat setelah Adzan Isya. Karena suasana lebaran di Palembang masih kental, maka rumah makan masih pada tutup. Sepanjang pengamatan kami hanya ada 1 RM Padang yang buka di Jalan Angkatan 45 dan 1 warung tenda di Kawasan Istana Gubernur, yang tampak dibanjiri pengunjung. Kami beruntung di bekali segepok rendang dan malbi lengkap dengan nasi yang masih bisa dipanasi sampai rumah dan bertahan sampai sarapan keesokan harinya *irit apa medit yak? Dan akhirnya berlalulah hari itu, sementara kami tak kuat lagi mampir ke rumah Yai-Nyai, sudah ngantuk berat.

H+3, 21 Agustus 2012
Pagi-pagi sarapan ala kadarnya, menghabiskan sisa bekal dari Jidah. Jam 8-an pagi kami sudah berburu tiket kereta api Limex, kereta malam Palembang-Lampung untuk Mang Win. Semua loket pemesanan menyatakan HABIS *Alhamdulillah sorenya dapat dengan harga yang melonjak naik, padahal beli di loket resmi lho, bukan di calo... 

Mengantar Mang Win (Adiknya Jidah),
Mengitari Sungai Musi dan bernostalgia di BKB-AMPERA.
Acara pagi itu dilanjutkan dengan jalan-jalan sejenak di BKB dan seputaran AMPERA memenuhi hasrat Mang Winku, kamipun berpisah karena beliau mau ke Masjid Agung sementara kami menghadiri Open House di rumah Pak Amar, Kepala Kantorku di Jalan Hangtuah *padahal sebelumnya berniat izin tak bisa hadir. Tapi bersyukur sangat, sebab disana aku banyak bertemu kawan-kawan kantor, saudara 8 jamku, lengkap dengan keluarganya. Pulang dari sana, Yunda Hamas yang paling sumbringah dapat seamplop THR, yang lumayan isinya.

Senangnya Yunda dan Hamas dapat tambahan THR  :)

Jam 10-an kami sudah sampai di rumah Yai-Nyai, ba'da dzuhur mau jalan-jalan ke rumah Ayuk-Kakak, Wak-Bibik. Eh ternyata serombongan keluarga Paman dari Prumnas mau sanjau ke rumah kami, jadi kamipun pulang dulu. Baru setelah semuanya bubar, kami merealisasikan niat awal. Silaturahimpun bersambung sampai malam.

H+4, 22 Agustus 2012
Hari terakhir cuti bersama, mau silaturahim ke tetangga kiri kanan masih pada mudik, yang ada juga sudah ketemu. Kekeluarga Abinya Hamas sudah dibabat habis kemarin, akhirnya memenuhi hasrat anak-anak untuk berenang, maklum sepanjang Ramadhan acara renang dicoret dari jadwal. Pagi -pagi langsung siap-siap *namanya mau renang ya kudu sarapan berat dong...

AMANZI Water Park  :)
Kelar renang, saatnya mencari hadiah yang diminta Hamas atas puasanya yang penuh satu bulan. Apa ayo, tebak? Ini penampakannya...

Kandang Ayam ini dijual @Rp. 500.000,-
Iya, Hamas mau peliara Ayam. Ayamnya sudah dapat sepasang diberi oleh Yai Darmisa, adiknya Nyai. Sekarang masih belum diambil, masih menunggu kandang yang pantas dan layak. Tapi begitu tahu harganya sebegitu, aku bergidik juga, lumayan muahal menurutku :mrgreen: Syukurnya Hamas mau dibujukin supaya kandang ayamnya minta dibuatkan Yai Zul saja. Agar bisa menekan harga, perkiraanku paling mahal ya 200 ribu. Dan hingga berita ini diturunkan, kadang ayam idaman Hamas belumlah terwujud :cry:

H+5, 23 Agustus 2012
Nyang ini sich acara makan-makan di rumah Ibu KASI,
Masakan Bu Mega diserbuuu...
Sudah masuk kerja. Hari ini juga berarti jatah usiaku berkurang 1 tahun lagi didunia, semoga keberkahan selalu menyertai hari-hariku *serangkum do'a kuhaturkan dalam hati... Suasana kantor sepi, masih banyak yang cuti tahunan. Lalu lintas di Palembangpun masih lenggang, tampaknya masih banyak yang diluar kota. 

Baru hari ini, Senin (27/8) kehidupan di kantor mulai berdenyut normal :P

Jumat, 24 Agustus 2012

Cerita Lebaranku (1)

Rencana awal kami sekeluarga akan berhari raya di Palembang, setelah bertahun-tahun selalu melewati Iedul Fitri di Way Kanan, Lampung sementara Iedul Adha di Palembang. Maka pada 1433 H kali ini rencananya akan dibalik, sholat Iedul Fitri di Palembang, sore dilanjutkan silaturahim ke tetangga dan keluarga Abinya Hamas. Setelah paginya ke rumah Yai-Nyai sembari menunggu kunjungan keluarga disana, karena Yai sekarang yang paling sepuh. Esoknya baru keliling ke rumah Wak Bibik. H+2 sore baru mudik ke Way Kanan.

Tapi semua berubah, saat menerima khabar adik ketigaku sekeluarga lebaran ke Metro (rumah mertua) sementara adik keduaku sekeluarga yang mukim di Jogya tak jadi mudik. Itu artinya di Way Kanan hanya ada Datuk-Jidah, Ami Aang (adik keempat) dan Amahtie (adik bungsuku). Tak tega membayangkan sepinya lebaran kali ini di rumah Datuk tanpa kehadiran cucu-cucunya. Maka akhirnya H-1 pagi kami mudik ke Way Kanan.

H-1, 18 Agustus 2012
Kami mudik, seperti biasanya, lewat lintas tengah Sumatera, Palembang-Prabumulih-Baturaja-Martapura, baru sampai Way Kanan. Situasi arus mudik, meski padat tapi tak ada kemacetan. Alhamdulillah lancar... Tiba di Way Kanan menjelang Ashar. Hamas dan Yunda langsung heboh minta hadiah (sesuai yang diiming-imingkan) Datuk, karena puasanya full sebulan penuh. Senangnya mereka saat menerima uang merah, masing-masing 100 ribu. Menerbangkanku pada kenangan masa kecil, saat menerima hadiah serupa dari Kakek karena sucses berpuasa sebulan penuh. Satu kenangan yang begitu membekas, aku yakin itu juga yang nanti akan diingat oleh Yunda dan Hamas pada Datuk mereka. 

Letih tubuh selama perjalanan terasa menguap saat merasakan suasana riang yang seketika hadir di rumah Datuk. Selepas sholat Ashar, aku dan adik-adik berjibaku menyiapkan hidangan berbuka untuk terakhir kalinya di Ramadhan 1433 H ini. Dan kami sekeluargapun berbuka bersama ditemani celoteh Hamas dan Yunda yang riuh bercerita tentang apa saja. 

Malamnya, Ami Aang menyempatkan diri mengajak Yunda Hamas menonton pawai takbiran, yang tak semeriah biasanya. Kembang api dan merconpun tak seheboh tahun-tahun lalu, semoga bukan dampak krisis melainkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menghindari kemubadziran semakin tinggi. Sementara Jidah. seperti biasanya, masih sibuk menyelesaikan masakan untuk keesokan harinya, kami hanya membantu ala kadarnya. Tata menata kue dan beberesan. Malamnya kutawari Jidah bekam, tapi katanya besok saja. Ya pada setiap kali ada kesempatan bertemu Jidah, aku selalu menyediakan diri untuk membekamnya. Sementara Datuk kurang suka dibekam, baru mau kalau sudah dipaksa-paksa dulu.

Hari Raya, 19 Agustus 2012
Kami sekeluarga sholat Iedul Fitri di Lapangan Masjid Agung Way Kanan yang juga dihadiri oleh Bapak Bupati. Di Ibukota Kabupaten Way Kanan, ada 3 tempat lagi yang menyelenggarakan sholat Ied, masing-masing di halaman Masjid Taqwa, Islamic Centre dan Masjid Lembasung. Tapi sejak kecil aku bersama seluruh keluarga selalu sholat Ied di Lapangan Masjid Agung, masjid tertua di Way Kanan, meski bukan yang terbesar.

Jidah, Menunggu Sholat Ied
di Lapangan Masjid Agung Way Kanan.

Pulang sholat Ied, kami menunggu keluarga di rumah Datuk, karena memang saat ini Datuk yang paling dituakan dalam keluarga besarnya. Sampai sore tamu tak ada putusnya, keluarga dekat, sanak-kerabat, jiran-tetangga semuanya ingin meraup berkah silaturahim. Biasanya malam kami keluar ke rumah Paman dan Bibi, tapi tidak untuk kali ini, tamu masih silih berganti, kalau kami tetap keluar justru bisa selisih jalan.

Ramai rombongan anak-anak kecil juga yang datang bertamu. Persis seperti zaman aku kecil dulu, kami berkeliling kampung datang ke rumah-rumah, terutama ke rumah para guru. Makan kue dan minum apa saja yang dihidangkan, kadang sampai kekenyangan. Sekarang bedanya, anak-anak kecil yang datang bertamu biasanya tak lagi makan kue-kue, sebagai gantinya mereka mendapatkan selembar uang baru, entah itu dua ribuan atau seribuan, semoga saja itu bukan tujuan utama mereka datang ke rumah-rumah.

Malamnya setelah usai serbuan tetamu, serasa open house, jadi juga aku membekam Jidah. Entah ya, kali ini ada bilur air mata yang jatuh tak tertahankan, saat menyadari tubuhnya yang makin ringkih dimakan usia. Menyusupkan segenap pinta pada-Nya, izinkan aku lewatkan lebaran demi lebaran lagi bersamanya. Huhuuu... belum sanggup kulanjutkan hari ini.

Judul tulisan ini sengaja kubuat sama dengan Mbak TARRY, nggak papa kan Mbak :)

Kamis, 23 Agustus 2012

Iedul Fitri 1433 H

Taqabballahu minna wa minkum, Siyamana wa Siyamakum...


Salam kami dari Tepian Musi :D

                     Semoga Allah, SWT  meridhoi kita kembali kepada fitrah dan mendapat kemenangan
Semoga kita diberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan berikutnya
dalam keadaan yang lebih baik