Tampilkan postingan dengan label Sumatera Ekspres.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumatera Ekspres.. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 September 2012

Membidik Filariasis

Di Kantor kami sedang ada program Survey darah jari untuk pemeriksaan filariasis. Atau yang secara umum dikenal masyarakat dengan sebutan Kaki Gajah, karena mungkin sering ditemukan ada perbesaran pada kaki. Padahal secara umum filariasis bisa menyebabkan pembesaran pada tangan, mamae, dan juga pada scrotum. Penyakit ini pernah menjadi momok di ASEAN. Karena meski penyebabnya adalah cacing filariasis tapi dalam penularannya melibatkan nyamuk. Orang jadi membayangkan DHF yang mematikan itu. 

Maka agar tak keliru mari kita sejenak berkenalan dengan filariasis. 
Filariasis atau penyakit kaki gajah (elephantiasis) adalah penyakit menular yang mengenai saluran kelenjar limfe (getah bening) disebabkan oleh cacing filaria dan ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini menyerang semua golongan umur dan bersifat menahun. Jika seorang terkena penyakit ini dan tidak mendapatkan pengobatan sedini mungkin dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, buah dada dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki

Dsinyalir, penyakit ini ditemukan hampir pada seluruh Propinsi di Indonesia. Bahkan ada kasusnya di Kota Depok, yang dilaporkan pada tahun 2001 di Kelurahan Grogol Kecamatan Limo sebanyak 1 orang. Dan setelah dilakukan survey lanjutan sampai awal tahun 2008 di Kota Depok telah dilaporkan sebanyak 14 kasus kronis filariasis dan 23 orang mengandung mikro filarial positif dengan rata-rata mikro filarial rate ≥ 1%.

Filariasis memang mudah menular, meski tak sama dengan DHF. Adapun kriteria penularan penyakit ini adalah jika ditemukan mikro filarial rate ≥ 1% pada sample darah penduduk di sekitar kasus elephantiasis, atau adanya 2 atau lebih kasus elephantiasis di suatu wilayah pada jarak terbang nyamuk yang mempunyai riwayat menetap bersama/berdekatan pada suatu wilayah selama lebih dari satu tahun. Berdasarkan ketentuan WHO, jika ditemukan mikro filarial rate ≥ 1% pada satu wilayah maka daerah tersebut dinyatakan endemis dan harus segera diberikan pengobatan secara masal selama 5 tahun berturut-turut.


Jadi artinya survey sangat dibutuhkan untuk penanggulangan penyakit ini, sebab dengan demikian bisa ditemukan kasus yang positif filariasis diobati. Insya Allah bisa sembuh. Tapi kalau sudah keburu bengkak ya tak bisa dikempeskan lagi, hanya bisa dirawat. 

Sumber gambar dari www.health-healths.com 
filariasi...
Gambar ada disini
Di Sumatera Selatan sendiri kasus filariasis terbanyak ditemukan di daerah Banyu Asin. Sementara di Kota Palembang sendiri 2 tahun lalu pernah ada 1 orang, itupun warga pindahan dari Banyu Asin. Namun namanya kemungkinan penularan bisa saja terjadi. Sehingga tetap diputuskan untu dilakukan survey di dalam kota. Dan pada survey filariasis kemarin aku masuk Tim yang diturunkan di Palembang. Lumayan, daripada harus ke Bengkulu, #jauuhhhh.... Survey kali ini belum melibatkan Bangka Belitung, kalau kapan-kapan diadakan, aku ya mau ikutan :)

Syukurnya tim kami di Palembang kemarin sangat solid, pihak DINAS Kesehatan Kota Palembang yang mendampingipun sangat antusias. Puskesmas yang dilibatkanpun sangat mendukung, mereka menurunkan petugas dan kader-kader terbaiknya. Pihak kelurahan juga tak kalah gesit, mereka mengumpulkan warga dengan mengumumkan ke masjid dan rumah-rumah. Sehingga tak heran warga yang datangpun berbondong-bondong. Tak ada kejadian seperti tim lainnya yang harus door to door tengah malam. 

Masuk koran Sumatra Ekspres 16 September 2012.
Uniknya survey filariasis ini memang harus dilakukan malam hari antara jam 20.00-04.00 subuh. Sebab kalau siang hari cacing filariarisnya bersembunyi di kelenjar limpe sehingga sulit untuk diperiksa. Hanya pada malam hari saja cacing tersebut turun ke darah, maka bisa diperiksa di ujung jari. Di tusuk sekali saja, seperti kalau mau memeriksa golongan darah, diteteskan 3 tetes pada deckglass dan dibuat sediaan memanjang. Selanjutnya 1x24 jam dilisiskan, dan langsung difiksasi dengan methanol. Baru siap diperiksa dibawah mikroskop. Begitu panduan terbaru dari WHO. Pada 1 kali survey kami ditargetkan harus mendapat 250-300 sediaan, tak heran kalau harus gedor menggedor warga tengah malamnya, sebab tak semua warga tahu pentingnya pemeriksaan ini, apalagi kalau dari Puskesmas belum pernah melakukan penyuluhan. 

Sampai hari ini, sediaan apusan darah yang terkumpul sudah hampir 2 ribuan. Dan belum selesai pemeriksaan mikroskopisnya. Jadi belum ketahuan berapa yang positf. Sedang ngantri minta dikelarkan. Banyak ya, lumayan juga kerjanya. Belum lagi kegiatan belajar mengajar di STIK tempatku mengajar di luar sana sudah mulai aktif, jadi maafkan kalau aku belum bisa aktif berselanjar ke rumah para sahabat. Rindu ngeblog, silaturahim ke rumah maya sahabat juga sedang terkendala oleh modem yang error, tolong do'akan Sapidy kami segera bisa beroprasi yaaa...