Tari Pagar Pengantin, adalah tarian khas daerah Palembang. Tarian yang biasanya ditampilkan saat resepsi pernikahan. Tari ini dijadikan simbol melepas masa lajang bagi pengantin wanita. Dilakukan bersama saudara perempuan lainnya, bisa berjumlah 3, 5 atau 7 orang. Sang pengantin wanita menari ditengah sebuah nampan besar (dulang, bahasa Palembangnya) disaksikan oleh mempelai pria. Hal ini mengambarkan bahwa sang pria siap menjaga sang istri.
Meski tari ini terkenal namanya, tapi sekarang jarang ditampilkan oleh mempelai wanita di daerah Palembang. Padahal setahuku Tari Pagar Pengantin ini terkategori unik, karena tak semua daerah di Nusantara memilikinya. Berbeda dengan Tari Gending Sriwijaya yang dilakukan untuk menyambut tamu sebagai simbol penghormatan, masing-masing daerah ada tari serupa ini, walau dengan nama yang berbeda. Sebut saja Tari Sembah di daerah Lampung, maksud dan tujuannya sama-sama untuk menghormati tamu.
Sementara Tari Pagar Pengantin, kekhasan maksudnya belum kutemukan selain di Palembang. Pertama kali menyaksikan Tari Pagar Pengantin saat menghadiri resepsi pernikahan Kakaknya sahabatku. Zaman masih kuliah dulu. Sempat bertanya juga, apakah semua pengantin wanita Palembang harus menari seperti ini? Kesimpulanku saat itu, tidak harus. Repot juga kalau dijadikan syarat, batinku.
Meski tari ini terkenal namanya, tapi sekarang jarang ditampilkan oleh mempelai wanita di daerah Palembang. Padahal setahuku Tari Pagar Pengantin ini terkategori unik, karena tak semua daerah di Nusantara memilikinya. Berbeda dengan Tari Gending Sriwijaya yang dilakukan untuk menyambut tamu sebagai simbol penghormatan, masing-masing daerah ada tari serupa ini, walau dengan nama yang berbeda. Sebut saja Tari Sembah di daerah Lampung, maksud dan tujuannya sama-sama untuk menghormati tamu.
Sementara Tari Pagar Pengantin, kekhasan maksudnya belum kutemukan selain di Palembang. Pertama kali menyaksikan Tari Pagar Pengantin saat menghadiri resepsi pernikahan Kakaknya sahabatku. Zaman masih kuliah dulu. Sempat bertanya juga, apakah semua pengantin wanita Palembang harus menari seperti ini? Kesimpulanku saat itu, tidak harus. Repot juga kalau dijadikan syarat, batinku.
Dan dulu saat resepsi pernikahanku meski memakai busana adat Palembang, aku bersyukur tak diminta mertua untuk belajar Tari Pagar Pengantinp ini, seandainya dulu diagendakan tak terbayang bagaimana harus berlatih. Tak akan sempat, sebab dulu aku sedang padat stase di Rumah Sakit Jiwa.
Setelah menikah dan sering menghadiri acara resepsi pernikahan sahabat juga kerabat, ternyata Tari Pagar Pengantin bukanlah salah satu tari yang sering kusaksikan. Bisa dibilang jarang atau hanya sesekali. Diantara banyaknya sepupu suamiku yang menikah dengan orang asli Palembang, hanya 1 yang mengikuti tradisi menampilkan tarian khas ini. Tarian Pagar Pengantin ini seolah mulai dilupakan.
Maka aku salut pada seorang Siti Ruby Aliya Radjasa yang mau sengaja melatih dirinya selama kurang lebih 3 bulan untuk menampilkan Tarian Pagar Pengantin pada acara resepsi pernikahannya (munggah, dalam bahasa Palembang) di Istana Cipanas, November 2011 lalu.
| Asal gambar, Klik disini. Gambar lainnya bisa lihat disini. |
Tak ayal lagi Tari Pagar Pengatin sempat menjadi buah bibir kala itu. Resepsi pernikahan Aliya dengan Ibas, putra Presiden SBY makin terasa eloknya. Pasalnya tarian khas yang cenderung langka ini jadi salah satu agenda yang ditunggu banyak pihak, kapan lagi bisa melihat pengatin wanita menari. Hanya memang ramainya acara munggah tersebut belum bisa menandingi pesta pernikahan Pageran William di Negerinya.
Selanjutnya tak berlebihan kiranya bila akupun berharap Tari Pagar Pengantin ini bisa terpelihara sebagai kekayaan khasanah budaya bangsa, bukan hanya agar tak dicaplok bangsa lain. Tapi karena tari ini memang pantas dijadikan sebuah kebanggaan, betapa kayanya budaya kita. Pengantin mana di dunia ini yang bisa gemulai menari dengan balutan busana pengantin lengkap, kalau bukan di Negeri kita. Apa nama tarinya? Tak lain dan tak bukan, itulah Tari Pagar Pengantin yang mempesona.
Selanjutnya tak berlebihan kiranya bila akupun berharap Tari Pagar Pengantin ini bisa terpelihara sebagai kekayaan khasanah budaya bangsa, bukan hanya agar tak dicaplok bangsa lain. Tapi karena tari ini memang pantas dijadikan sebuah kebanggaan, betapa kayanya budaya kita. Pengantin mana di dunia ini yang bisa gemulai menari dengan balutan busana pengantin lengkap, kalau bukan di Negeri kita. Apa nama tarinya? Tak lain dan tak bukan, itulah Tari Pagar Pengantin yang mempesona.
![]() |
Artikel ini diikutsertakan dalam Jambore On the Blog 2012 Edisi Khusus
bertajuk Lestarikan Budaya Indonesia
bertajuk Lestarikan Budaya Indonesia
