Tampilkan postingan dengan label Etika dan Nilai Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Etika dan Nilai Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Mei 2013

Beretika Lingkungan dengan EM 4

Mengenal EM 4


Sebagai starter mikroorganisme pada proses dekomposer EM4 menjadi begitu penting dalam dunia pertanian organik. Jika kita harus membeli EM4 tersebut harganya lumayan mahal, padahal ada berbagai cara untuk membuat EM4 sendiri dengan harga bahan baku yang sangat murah. Ada lima cara pembuatan EM4 yang dapat kita lakukan sebagai berikut:

Bahan - bahan

Pepaya matang atau kulitnya 0,5 kg
Pisang matang atau kulitnya 0,5 kg
Nanas matang atau kulitnya 0,5 kg
Kacang panjang segar 0,25 kg
Kangkung air segar 0,25 kg
Batang pisang muda bagian dalam 1,5 kg
Gula pasir 1 kg
Air tuak dari nira / Air kelapa 0,5 liter

Cara Pembuatan 



Pepaya, pisang, nanas, kacang panjang, kangkung dan batang pisang muda dihancurkan hingga ukuran menjadi agak halus. Buah harus yang sudah matang atau dapat juga digunakan kulit buah yang tidak dimakan.

Setelah dihancurkan, campuran bahan tersebut dimasukkan dalam ember.
Campurkan gula pasir dan tuak/air kelapa dalam ember tadi dan aduk hingga rata.
Wadah ditutup rapat dan disimpan selama 7 hari.

Setelah 7 hari larutan yang dihasilkan dikumpulkan secara bertahap setiap hari hingga habis.

Larutan tersebut disaring dan dimasukkan kedalam wadah yang tertutup rapat. Larutan tersebut adalah EM4 yang siap digunakan dan dapat bertahan hingga 6 bulan.
Ampas dari hasil penyaringan larutan bisa digunakan sebagai pupuk kompos.

Atau yang lebih sederhana bisa juga dengan cara berikut ini:

Bahan – bahan 
 
Air cician beras ( leri ) 5 liter
Air kelapa 5 liter
Cincangan halus sampah sayur 3 kg
Kulit Jeruk seadanya
Ragi tempe 1 butir
Cairan Gula Jawa/Merah 1 kg

Cara Pembuatan 

 
Semua bahan dicampur dan di aduk rata. Tutup rapat dengan perlakuan setiap 4 hari tutup dibuka untuk mengeluarkan gas. Pada hari ke -17 EM4 sudah jadi.



Contoh lebel EM 4

Mudah bukan? Jika kita beli ditiko pertanian harga per liternya bisa mencapai 25 ribu rupiah lhoo, buat sendiri tentu lebih murah, hayuuu siapa berminat jadi pengusaha, tinggal diberi lebel saja seperti contoh diatas dari blognya Prof. Supli.

Dan akupun ingin coba membuat EM 4 sendiri, langkah dan foto-fotonya akan segera menyusul yaaa...

Kamis, 11 April 2013

Kesehatan Lingkungan dalam Perspektif Etika Lingkungan



Kesehatan Lingkungan

Sebuah Pengantar

Ilmu kesehatan lingkungan adalah salah satu cabang ilmu kesehatan masyarakat yang memberikan perhatian terhadap segala macam bentuk kehidupan, bahan-bahan dan kondisi di sekitar manusia yang memiliki potensi untuk menimbulkan gangguan yang bisa mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan serta melakukan analisis dan mencari upaya-upaya alternatif pemecahan masalah.

Menurut Achmadi dalam Kunnoputranto (2002), kesehatan lingkungan adalah ilmu yang mempelajari dinamika hubungan interaktif antara kelompok penduduk atau masyarakat dengan segala macam perubahan komponen lingkungan hidup, seperti berbagai spesies kehidupan, bahan, zat, atau kekuatan di sekitar manusia, yang menimbulkan ancaman, atau berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan masyarakat, serta mencari upaya-upaya pencegahannya.
Tak dapat dipungkiri bahwa akhir-akhir ini, perhatian dan kesadaran umat manusia untuk menjaga dan memelihara kesehatan lingkungan hidupnya semakin meningkat. Hal itu sejalan dengan pengetahuan yang semakin banyak dan pengalaman yang semakin nyata bahwa lingkungan hidup atau planet bumi sedang sakit atau rusak. Sakit atau rusaknya planet bumi itu disebabkan oleh ulah manusia sendiri, yaitu dalam kaitannya dengan pemanfaatan dan pengelolaan sumber-sumber alam. Cara memanfaatkan dan mengelola lingkungan cenderung bersifat eksploitatif dan destruktif. Maka proses pemanfaatan dan pengelolaan lingkungan mengandung aspek perusakan lingkungan, baik sengaja maupun tidak sengaja.

Sebenarnya proses perusakan lingkungan sudah berjalan lama, yaitu sejak dimulainya proses industrialisasi. Industrialisasi menyadarkan manusia bahwa alam merupakan deposit kekayaan yang dapat memakmurkan. Maka mulai saat itu sumber-sumber alam dieksploitasi untuk diolah menjadi barang guna memenuhi kebutuhan demi kemakmuran hidup manusia. Dengan adanya alat ampuh, yaitu mesin, maka alam pun dipandang dan dikelola secara mekanis. Terjadilah intensitas pengeksploitasian lingkungan menjadi semakin gencar tak terkendali. Alam tidak lebih dari benda mekanis yang hanya bernilai sebagai instrumen untuk kepentingan manusia. Alam tidak lagi dihargai sebagai organisme. Sayangnya, kesadaran akan semakin rusaknya lingkungan hidup mulai muncul sejak sesudah Perang Dunia II dan mulai mengglobal tiga dekade yang lalu ketika alam terlanjur rusak berat atau sakit parah. Ketika itu manusia makin menyadari bahwa sumber-sumber alam (khususnya "non- renewable resources") semakin menipis.

Pengelolaan alam secara mekanistik yang diikuti pula oleh pertumbuhan demografi yang terus melaju sehingga pada akhir dekade 1960-an ditandai dengan "ledakan penduduk dunia". Kenyataan itu mendorong digerakkannya pembangunan yang berorientasi pada "pertumbuhan ekonomi" yang justru semakin meningkatkan pengeksploitasian sumber-sumber alam. Hal ini tidak untuk kemakmuran saja, tetapi bahkan untuk memenuhi kebutuhan paling dasar dari umat manusia yang semakin banyak. Misalnya, hutan selain sebagai sumber bahan baku untuk diolah menjadi bahan produk, juga dikonversi menjadi lahan pertanian. Perusakan ini diperberat oleh polusi atau pencemaran. Untuk menjaga kesuburan lahan pertanian, digunakan pupuk kimia, dan untuk menjaga panen dari serangan hama, digunakan pestisida secara besar-besaran sehingga produksi pertanian meningkat. Semua itu, bersama dengan industri dan transportasi yang dibangun untuk meningkatkan produksi dan distribusi, membentur alam dalam bentuk polusi. Akibatnya sumber alam semakin menipis, kemampuan daya dukung alam berkurang dan mengancam kehidupan manusia sendiri.

Dari keterangan di atas, menjadi nyata bahwa benturan yang menyebabkan lingkungan hidup menderita sakit atau rusak datang dari manusia dalam proses mengambil, mengolah, dan mengonsumsi sumber- sumber alam. Benturan terjadi ketika proses-proses itu melampui batas-batas kewajaran atau proposionalitas. Batas-batas kewajaran atau proposionalitas itu terlampaui ketika manusia semakin mampu dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi memanfaatkan sumber- sumber secara masal, intensif, dan cepat dan sekaligus mengotori atau mencemarinya. Tetapi yang lebih parah lagi, yaitu bahwa manusia yang merasa semakin enak semakin tidak tahu diri, sehingga ia seolah-olah menjelma menjadi tuan dan pemilik alam. Maka kesadaran untuk menjaga dan memelihara lingkungan hidup harus dikembalikan pada manusia, dengan mempertanyakan tentang dirinya dan kelakuannya terhadap alam. Bagaimana menurut etika lingkungan?

Etika Lingkungan

Sebagai Pembahasan

Etika Lingkungan berasal dari dua kata, yaitu Etika dan Lingkungan. Etika berasal dari bahasa yunani yaitu “Ethos” yang berarti adat istiadat atau kebiasaan. Ada tiga teori mengenai pengertian etika, yaitu: etika Deontologi, etika Teologi, dan etika Keutamaan. Etika Deontologi adalah suatu tindakan di nilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. Etika Teologi adalah baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan atau akibat suatu tindakan. Sedangkan Etika keutamaan adalah mengutamakan pengembangan karakter moral pada diri setiap orang.

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lain baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Jadi, etika lingkungan merupakan kebijaksanaan moral manusia dalam bergaul dengan lingkungannya.etika lingkungan diperlukan agar setiap kegiatan yang menyangkut lingkungan dipertimbangkan secara cermat sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga.

Adapun hal-hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan penerapan etika lingkungan sebagai berikut:
a.   Manusia merupakan bagian dari lingkungan yang tidak terpisahkan sehingga perlu menyayangi semua kehidupan dan lingkungannya selain dirinya sendiri.
b.  Manusia sebagai bagian dari lingkungan, hendaknya selalu berupaya untuk emnjaga terhadap pelestarian , keseimbangan dan keindahan alam.
c.    Kebijaksanaan penggunaan sumber daya alam yang terbatas termasuk bahan energy.
d.   Lingkungan disediakan bukan untuk manusia saja, melainkan juga untuk makhluk hidup yang lain.

Di samping itu, etika Lingkungan tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam, namun juga mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam dan antara manusia dengan makhluk hidup lain atau dengan alam secara keseluruhan.

Kesehatan Lingkungan dalam Perspektif Etika Lingkungan

Pandangan sebagai Seorang Muslim

Persoalan kesehatan lingkungan hidup adalah merupakan salah satu persoalan yang harus mendapat perhatian cukup serius dari seluruh ummat manusia, sebab ummat manusia mengeban tugas sebagai Khalifah Allah di muka bumi dan sekaligus sebagai pemegang Amanah Allah di muka bumi, sebab manusialah yang bersedia mengemban amanah Allah seperti tertuang dalam Al-Quran, sebagai berikut :
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan amat bodoh. (Q.S. Al-Ahzab: 72)
Sebagai Khalifah, ummat manusia bertanggungjawab atas pengelolaan dan pemeliharaan bumi. Bumi bagi ummat manusia adalah merupakan rahmat yang harus disyukuri dengan sepenuh hati. Bentuk syukur atas alam raya ini dapat dilakukan dalam tiga bentuk, yaitu :
1.      Memelihara agar tetap lestari.
2.      Menikmati sebagai bekal dalam hidup dan kehidupan.
3.      Mengembangkan, dalam bentuk budidaya dan penanaman ulang.
Bila kita memperhatikan ayat suci Al-Quran, wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT adalah ayat yang memperkenalkan Tuhan sekaligus memperkenalkan manusia sebagai makhluk yang hidup dengan kebergantungan, yaitu :
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (sesuatu yang bergantung atau yang memiliki sifat kebergantungan). 3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. Al-Alaq: 1-5).
Seluruh alam raya diciptakan untuk digunakan ummat manusia dalam rangka melanjutkan hidup dan kehidupannya, sehingga mencapai tujuan penciptaannya, sebab semua ciptaan Tuhan pasti ada tujuannya dan tidak satupun di antara ciptaannya itu yang sia-sia, sesuai firman-Nya:

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, Maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (Q.S. Shaad: 27).

Oleh karena itulah maka dapat dipahami apabila Allah, SWT memperingatkan ummat manusia agar jangan membuat kerusakan di muka bumi, sebab kerusakan di bumi pada dasarnya adalah merupakan akibat dari ulah manusia sendiri. Hal ini sesuai dengan firmannya:

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Q.S. Al-Qashash: 77) 

Dan juga firman Allah :
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Q.S. Ar-Ruum: 41)

Ayat-ayat tersebut mengisyaratkan kita agar senantiasa memelihara dan menjaga kesehatan lingkungan serta melestarikan lingkungan hidup, sebab kehidupan makhluk-makhluk tuhan dimuka bumi adalah saling terkait dan ketergantungan, apabila terjadi gangguan yang luar biasa terhadap salah satunya, maka makhluk yang berada dalam lingkungan hidup tersebut akan ikut terganggu, keserasian dan keseimbangannyapun akan rusak. Apabila ini yang terjadi maka akan mengakibatkan kehancuran dan malapetaka.

Seperti yang dikemukakan sebelumnya bahwa Allah SWT menciptakan manusia sebagai Khalifah Allah di muka bumi, sesuai dengan firman-Nya :
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman: Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (Q.S. Al-Baqarah: 30).

Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya membumikan Al-Quran menyatakan bahwa, kekhalifahan mempunyai tiga unsur yang saling kait mengkait, kemudian ditambah unsur keempat yang berada di luar, namun amat sangat menentukan arti kekhalifahan itu sendiri, sesuai konsep Al-Quran, yaitu:
1.      Manusia, yang dalam hal ini dinamai Khalifah.
2.      Alam raya, yang ditunjuk Allah SWT dalam surat AlBaqarah ayat 22 sebagai bumi.
3.      Hubungan antara manusia dengan alam dan segala isinya, termasuk dengan manusia sebagai tugas kekhalifahan.
4.      Yang memberi penugasan yaitu Allah SWT. Dalam hal ini yang ditugasi harus
memperhatikan kehendak yang menugasinya.

Hubungan antara manusia dengan alam, atau hubungan manusia dengan sesamanya, bukan merupakan hubungan antara penakluk dengan yang ditaklukkan atau antara tuan dengan hamba, tetapi hubungan kebersamaan dalam ketundukan kepada Allah SWT. Karena kemampuan manusia dalam mengelola bumi bukanlah akibat kekuatan yang dimilikinya, tetapi adalah akibat anugerah Allah SWT

Hal ini tergambar dari firman Allah :
Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. (Q.S. Ibrahim: 32).

Dalam ayat lain disebutkan:
Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan: “Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi Kami Padahal Kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. (Q.S. Az-Zukhruf: 13).

Salah seorang filsuf Muslim terkenal yang bernama Ibnu Tufail (lahir 1106 Masehi), merumuskan etika lingkungan hidup yang sangat khas dan apik. Beliau menyatakan, segala sesuatu yang ada di alam ini seperti tumbuhan, hewan dan sebagainya memiliki tujuan tertentu. Buah misalnya, dia keluar dari bunga, lantas menjadi masak dan ranum.bijinya jatuh di tanah kemudian tumbuh lagi menjadi pohon. Apabila ada orang yang memetik buah itu sebelum mencapai pertumbuhannya patutlah dicela dan tidak terpuji. Karena merintangi pertumbuhan buah tadi dalam mencapai tujuannya yang alami, sehingga berakibat adanya kelompok tumbuhan yang akan punah.

Ibnu Tufail juga menyatakan bahwa, orang yang memakan buah yang sudah masak lantas membuang bijinya ke laut, ke atas bebatuan atau ke tempat-tempat lain yang tidak memungkinkan biji tersebut tumbuh, yang bersangkutan telah melakukan perbuatan yang tidak terpuji, sebab telah merintangi pertumbuhan biji. Dengan demikian, ia telah mengurangi peluang bagi jenis tumbuhan itu untuk dapat mengembangkan keturunannya secara lestari dan alami. Menurut Tufail juga, orang tidak boleh memakan habis tumbuhan dan hewan langka karena itu berarti memusnahkan jenis makhluk hidup itu selama lamanya. 

Di dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW menjelaskan, orang-orang yang mengasihi akan dikasihi oleh Tuhan. Barang siapa yang mengasihi makhluk yang berada di bumi maka ia akan di kasihi oleh yang ada di langit. Pada hadist lain Nabi bersabda, Seorang wanita alim masuk neraka karena ia menggantung seekor kucing hingga mati dan seorang wanita tunasusila masuk surga hanya karena ia memberi minum seekor anjing yang kehausan. Suatu ketika Nabi Muhammad menerangkan ,tidak seorang Muslim pun yang menanam tanaman atau menyemaikan tumbuh-tumbuhan, kecuali buah itu hasilnya dimakan burung atau manusia. Yang demikian itu adalah shodaqah baginya. Nabi pun senantiasa menyuruh ummatnya,Tanamlah tanam-tanaman hari ini, sekalipun besok dunia akan kiamat.

Begitulah ajaran Islam mengatur sedemikian rupa tentang lingkungan hidup dalam segala macam kode etikanya, yang pelaksanaannya adalah merupakan pengejawatahan dari tugas ummat manusia sebagai Khalifah Allah di muka bumi. Tentunya sangat-sangat kita sayangkan dan sesalkan bahwa, apa yang kita lihat dan kita rasakan saat ini, ummat manusia dibantu dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi melakukan pengrusakan besar-besaran yang melampaui ambang batas kewajaran, akibatnya terjadi kerusakan lingkungan hidup yang cukup parah. nauzubillahi min zalik




Ayo selamatkan lingkungan !!!
Jaga kesehatan lingkungan untuk kehidupan dimasa mendatang…
 

Jumat, 05 April 2013

Jawaban Empat - Enam

Empat:

Menurut saya menggunakan blogspot ini merupakan bukti komitmen bahwa kita mendukung perwujudan kebijakan pemerintah dalam e-government di satu sisi dan mengeksperisikan etika kita terhadap lingkungan karena :
Menggunakan blogspot yang merupakan salah satu ncara kita untuk menerapkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sesuai dengan UU pengelolaan lingkungan hidup, dimana peran dan fungsi pemerintah dan individu dalam pengolaan lingkungan yang terdiri dari :
a.    Mematuhi kebijakan pemerintah
b.    Tidak mengekslorasi alam secara berlebihan
c.    Saling mengingatkan
d.    Menyayangi binatang dan tumbuhan sehingga terhindar dari kepunahan

Dengan menjadi penggunaan blogspot kita juga bisa mengekspresikan etika kita terhadap lingkungan karena dengan menggunakan blog sebagai lapak pendidikan dan pengajaran sebagai kebutuhan sehari hari. Dan bagi dunia pendidikan, catatan kuliah dan  pelajaran serta tugas, maka akan menjadikan sistem pendidikan yang kreatif, inovatif, bisa diakses siapa saja yang membutuhkan dan yang paling penting kita lebih beretika terhadap lingkungan karena kita tidak banyak menggunakan bahan-bahan seperti kertas dan dapat mengurangi sumber daya alam bahkan dapat terhindar dari tindakan merusak lingkungan.

Lima:

Dari definisi kitapun bisa tahu bahwa Ecological Footprint dapat digunakan sebagai ukuran prestasi kita dalam mendukung keberlanjutan bumi ini, dan menjadi indikator terbaik dan efisien dalam mendukung keberlanjutan kehidupan. Alat ukur ini menjadi penting dalam konteks untuk mengetahui apakah kegiatan konsumsi yang kita lakukan masih dalam batas daya dukung lingkungan ataukah sudah melewatinya, dengan kata lain masih dalam surplus ataukah sudah dalam defisit (penurunan kualitas) ekologi.

Jadi jejak ekologis merupakan gambaran apakah seseorang banyak merusak lingkungan atau tidak. Seseorang yang jejak ekologisnya tinggi berarti penghasilannya tinggi, jika penghasilannya tinggi maka banyak kebutuhannya yang ia penuhi dengan cara mengkonsumsi sumberdaya alam yang banyak dan menggunakan sumberdaya buatan yang banyak pula berarti dia banyak mencemari dan merusak lingkungan.

Enam:

Saya bersyukur sudah lama mengenal dunia blog, bahkan sudah banyak manfaat dari Ngeblog yang saya rasakan. Alhamdulillah, bahkan sudah sering saya tulis diblog ini, betapa saya menikmati bisa terus menulis diblog ini. Saya kutip dianatara tulisan tentang manfaat Ngeblog yang pernah dapat hadiah buku dari sahabat blogger.


Ngeblog banyak manfaatnya, itu pasti, sudah banyak yang mengakuinya. Bagaimana tidak, dengan ngeblog kita bisa saling berbagi cerita dan juga ilmu.

Menulis itu bisa membuat kita terhindar dari kepikunan
. Silakan dipraktekkan dan ceritakan hasilnya  :D

Bahkan kata Ali bin Abu Thalib, RA
"Ilmu itu ibarat kuda, dan menulis itu ibarat tali kekangnya. Maka ikatlah ilmu itu dengan menuliskannya". 

Jadi mari menulis dan teruslah menulis. Menulis diblog salah satu cara termudah yang bisa kita lakukan.

Gambar dari duniamuam. 

Aktivitas menulisku diilhami oleh para tokoh yang telah berhasil berjuang dengan tulisannya, dengan karya-karyanya. Terutama sosok Zainab Al Ghazali, beliau yang terlahir di wilayah Al-Bihira, Mesir pada 1917, dan merupakan keturunan dari kalifah kedua Islam, Umar bin Khattab dan Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Zainab Al-Ghazali adalah satu dari banyak pejuang wanita yang mengukirkan sejarahnya dengan menulis. Pena telah menjadi alat perlawanannya untuk menentang kezaliman melawan rezim Mesir pada saat itu, Presiden Gamal Abdul Naser. Hingga ia harus mengalami hidup yang penuh siksaan dalam tahanan. Tapi semua itu tidak membuatnya gentar, penjara dan siksaan tidak pernah mematahkan tekadnya bahkan membuatnya lebih kuat. Zainab Al-Ghazali meninggalkan jejak perjuangannya,  ia telah mengukirkan sejarah dirinya.


Demikianlah, dengan pena, seorang tokoh bisa menombak penguasa yang telah berlaku sewenang-wenang. Pena di tangan seorang tokoh kerap bersuara meskipun harus pula berbuah penjara dan siksaan. Ya, menulis memang mampu menghadirkan banyak fenomena. Begitu banyak tokoh mencipta karya, begitu banyak fenomena tercipta. Satu fenomena yang seakan-akan mengguratkan heroisme adalah perlawanan pena seorang tokoh.

Adalah aku, aku baru mulai belajar menulis, walaupun dengan segala keterbatasan. Alasan utama aku mulai menulis, bukan karena ranah bicaraku kehabisan kata, akau dibungkam penguasa. Bukan. Bukan pula karena medan gerakku disekap atau dikebiri, sungguh bukan karena itu semua. Aku (mulai) menulis karena aku makin meyakini bahwa hanya dengan menulislah aku akan terus hidup. Bahwa hanya dengan menulis, jejakku akan bisa direkam.  

Menulis dan menulis adalah kegiatan utamaku diblog. Aku akan berjuang untuk bisa terus nulis, termasuk menulis diblog, mengambil manfaat baik sebanyak-banyaknya dari kegiatan nge-blog ini dan juga semampuku menebar segala kebaikan. Merekam jejak diri untuk sang penerus mimpi, semoga bermanfaat minimal untuk orang-orang terdekat. Karena kita pernah ada.  

Satu lagi,  dalam ngeblog aku belajar dari air. Air yang sehat itu tak cukup dengan jernih saja. Tapi yang tak kalah penting air sehat itu tidak tergenang, sebab air yang tergenang bisa menyebabkan berkembangbiaknya jentik nyamuk sumber penyakit. Maka air sejernih apapun harus juga terus mengalir. Agar sehat dan menyehatkan. Begitu juga halnya dengan kita, kalau rajin membaca, sebaiknya lanjutkan dengan menulis. Bagilah ilmu dari yang kita baca. Karena dengan menulis artinya berbagi, kita bagai menjadi air yang mengalir, sehat dan menyehatkan. Semoga abadi, mampu memberi warna  sekitar, menghusung cerah semesta.

Sabtu, 30 Maret 2013

Tiga - Etika Lingkungan

Pengertian Etika Lingkungan

Etika Lingkungan berasal dari dua kata, yaitu Etika dan Lingkungan. Etika berasal dari bahasa yunani yaitu “Ethos” yang berarti adat istiadat atau kebiasaan. Ada tiga teori mengenai pengertian etika, yaitu: etika Deontologi, etika Teologi, dan etika Keutamaan. Etika Deontologi adalah suatu tindakan di nilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. Etika Teologi adalah baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan atau akibat suatu tindakan. Sedangkan Etika keutamaan adalah mengutamakan pengembangan karakter moral pada diri setiap orang.

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lain baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Jadi, etika lingkungan merupakan kebijaksanaan moral manusia dalam bergaul dengan lingkungannya.etika lingkungan diperlukan agar setiap kegiatan yang menyangkut lingkungan dipertimbangkan secara cermat sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga.

Adapun hal-hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan penerapan etika lingkungan sebagai berikut:
a.    Manusia merupakan bagian dari lingkungan yang tidak terpisahkan sehingga perlu menyayangi semua kehidupan dan lingkungannya selain dirinya sendiri.
b.   Manusia sebagai bagian dari lingkungan, hendaknya selalu berupaya untuk emnjaga terhadap pelestarian , keseimbangan dan keindahan alam.
c.    Kebijaksanaan penggunaan sumber daya alam yang terbatas termasuk bahan energy.
d.   Lingkungan disediakan bukan untuk manusia saja, melainkan juga untuk makhluk hidup yang lain.

Di samping itu, etika Lingkungan tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam, namun juga mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam dan antara manusia dengan makhluk hidup lain atau dengan alam secara keseluruhan.

Jenis-Jenis Etika Lingkungan

Etika Lingkungan disebut juga Etika Ekologi. Etika Ekologi selanjutnya dibedakan dan menjadi dua  yaitu etika ekologi dalam dan etika ekologi dangkal. Selain itu etika lingkungan juga dibedakan lagi sebagai etika pelestarian dan etika pemeliharaan. Etika pelestarian adalah etika yang menekankan pada mengusahakan pelestarian alam untuk kepentingan manusia, sedangkan etika pemeliharaan dimaksudkan untuk mendukung usaha pemeliharaan lingkungan untuk kepentingan semua makhluk.

 2. Etika Ekologi Dangkal

Etika ekologi dangkal adalah pendekatan terhadap lingkungan yang menekankan bahwa lingkungan sebagai sarana untuk kepentingan manusia, yang bersifat antroposentris. Etika ekologi dangkal ini biasanya diterapkan pada filsafat rasionalisme dan humanisme serta ilmu pengetahuan mekanistik yang kemudian diikuti dan dianut oleh banyak ahli lingkungan. Kebanyakan para ahli lingkungan ini memiliki pandangan bahwa alam bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.

Secara umum, Etika ekologi dangkal ini menekankan hal-hal berikut ini :
Ø  Manusia terpisah dari alam.
Ø  Mengutamakan hak-hak manusia atas alam tetapi tidak menekankan tanggung jawab manusia.
Ø  Mengutamakan perasaan manusia sebagai pusat keprihatinannya.
Ø  Kebijakan dan manajemen sunber daya alam untuk kepentingan manusia.
Ø  Norma utama adalah untung rugi.
Ø  Mengutamakan rencana jangka pendek.
Ø  Pemecahan krisis ekologis melalui pengaturan jumlah penduduk khususnya    dinegara miskin.
Ø  Menerima secara positif pertumbuhan ekonomi.
 
      2. Etika Ekologi Dalam

Etika ekologi dalam adalah pendekatan terhadap lingkungan yang melihat pentingnya memahami lingkungan sebagai keseluruhan kehidupan yang saling menopang, sehingga semua unsur mempunyai arti dan makna yang sama. Etika Ekologi ini memiliki prinsip yaitu bahwa semua bentuk kehidupan memiliki nilai bawaan dan karena itu memiliki hak untuk menuntut penghargaan karena harga diri, hak untuk hidup dan hak untuk berkembang. Premisnya adalah bahwa lingkungan moral harus melampaui spesies manusia dengan memasukkan komunitas yang lebih luas. Komunitas yang lebih luas disini maksudnya adalah komunitas yang menyertakan binatang dan tumbuhan serta alam.

Secara umum etika ekologi dalam ini menekankan hal-hal berikut :
Ø  Manusia adalah bagian dari alam.
Ø  Menekankan hak hidup mahluk lain, walaupun dapat dimanfaatkan oleh manusia, tidak boleh diperlakukan sewenang-wenang.
Ø  Prihatin akan perasaan semua mahluk dan sedih kalau alam diperlakukan sewenang-wenang.
Ø   Kebijakan manajemen lingkungan bagi semua mahluk.
Ø  Alam harus dilestarikan dan tidak dikuasai.
Ø  Pentingnya melindungi keanekaragaman hayati.
Ø  Menghargai dan memelihara tata alam.
Ø  Mengutamakan tujuan jangka panjang sesuai ekosistem.
Ø  Mengkritik sistem ekonomi dan politik dan menyodorkan sistem alternatif yaitu sistem mengambil sambil memelihara.  

Demikian pembagian etika lingkungan, Keduanya memiliki beberapa perbedaan-perbedaan seperti diatas. Tetapi bukan berarti munculnya etika lingkungan ini memberi jawab langsung atas pertanyaan mengapa terjadi kerusakan lingkungan. Namun paling tidak dengan adanya gambaran etika lingkungan ini dapat sedikit menguraikan norma-norma mana yang dipakai oleh manusia dalam melakukan pendekatan terhadap alam ini. Dengan demikian etika lingkungan berusaha memberi sumbangan dengan beberapa norma yang ditawarkan untuk mengungkap dan mencegah terjadinya kerusakan lingkungan.

      Strategi Menerapkan Etika Lingkungan
      
       Adapun prinsip-prinsip dari etika lingkungan adalah sebagai berikut:
Ø  Sikap hormat terhadap alam (respect for nature)
Ø  Prinsip tanggung jawab (moral responsibility for nature)
Ø  Solidaritas kosmis (cosmic solidarity)
Ø  Prinsip kasih sayang dan kepedulian terhadap alam (caring for nature)
Ø  Prinsip tidak merugikan alam secara tidak perlu
Ø  Prinsip hidup sederhana dan selaras dengan alam
Ø  Prinsip keadilan
Ø  Prinsip demokrasi
Ø  Prinsip integritas moral

Dari beberapa pembahasan di atas, bahwa kita di tuntut untuk menjaga lingkungan. Dalam menjaga lingkungan, manusia harus memiliki ”etika”. Etika lingkungan ini adalah sikap kita dalam menjaga kelestarian alam ini agar alam ini tidak rusak, baik ekosistem maupun habitatnya. Perlu kita sadari bahwa kita ini juga nagian dari alam ini. Maka kita harus menjaga lingkungan ini dengan baik dengan norma-norma etika lingkungan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa:
Ø  Etika lingkungan merupakan kebijaksanaan moral manusia dalam bergaul dengan lingkungannya.etika lingkungan diperlukan agar setiap kegiatan yang menyangkut lingkungan dipertimbangkan secara cermat sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga.
Ø  Manusia adalah bagian dari lingkungan yang tidak bisa dipisahkan, maka diperlukan menjaga, menyanyangi, dan melestarikan lingkungan. Karena lingkungan ini diciptakan tidak hanya untuk manusia saja, tetapi seluruh komponen alam di dunia ini.
Ø  Etika lingkungan disebut juga etika ekologi. Etika ekologi dibedakan menjadi etika ekologi dangkal dan etika ekologi dalam.
Ø  Etika ekologi dangkal adalah pendekatan terhadap lingkungan yang menekankan bahwa lingkungan sebagai sarana untuk kepentingan manusia, sedangkan etika ekologi dalam adalah pendekatan terhadap lingkungan yang melihat pentingnya memahami lingkungan sebagai keseluruhan kehidupan.
Ø  Teori lingkungan diantaranya adalah: Antroposentrisme, Biosentrisme, Ekosentrisme, Zoosentrisme, dan hak asasi alam.
Ø  Prinsip-prinsip lingkungan adalah: sikap hormat terhadap alam, tanggung jawab, solidaritas, kasih saying dan kepedulian, tidak merugikan alam secara tidak perlu, hidup sederhana dan selaras dengan alam, keadilan, demokrasi, dan integritas moral.

Tiada kesempurnaan di dunia ini, saya sangat mengharapkan kritik maupun saran untuk perbaikan dimasa mendatang. Dan semoga bermanfaat bagi kita semua, Aamiin ...

Refrensi

Hargrove, Eugene C,  Etika Lingkungan Dasar,  Prentice Hall: New Jersey, 1989 
Soeriaatmadja, R.E, Ilmu Lingkungan, Bandung: ITB, 2003 
Herimanto, Winarto, Ilmu Sosial & Budaya Dasar, Jakarta: Bumi Aksara, 2010