Kamis, 20 Desember 2012

Monitoring dan Evaluasi BTKL Palembang

Dalam sebuah organisasi setelah P1 (Perencanaan) dibuat, kegiatan dilaksanakan (P2) maka selayaknya dituntaskan dengan P3 (Monitoring dan Evaluasi). Dengan monitoring dan evaluasi (MONEV) akan diketahui berapa persen dari perencanaan yang tercapai dan bila tidak tercapai apa kendalanya. Hasil inilah yang akan jadi landasan dalam penyusunan program ditahun berikutnya. Benar begitu bukan?

Monitoring adalah pengumpulan informasi secara terus menerus dan teratur yang akan membantu menjawab pertanyaan mengenai proyek atau kegiatan.Monitoring membantu mengingatkan ketika terjadi sesuatu yang salah dan membantu agar pekerjaan tetap pada jalurnya.Monitoring bertujuan meningkatkan efektifitas dan efisiensi dari sebuah proyek atau organisasi, dan didasarkan pada sasaran dan rencana kegiatan yang sudah ditentukan. Monitoring memungkinkan kita untuk untuk menentukan apakah sumber daya kita telah mencukupi dan telah digunakan dengan baik dan menjadi dasar yang berguna untuk evaluasi apakah kapasitas kita telah layak dan cukup, apakah kita telah benar-benar melakukan apa yang telah direncanakan.

Evaluasi adalah melihat apa yang telah dilakukan,apa yang telah dicapai dan bagaimana mencapainya.Evaluasi adalah perbandingan antara dampak nyata dari proyek dengan perencanaan strategis yang disepakati. Evaluasi bisa bersifat formatif yaitu dilakukan ditengah berlangsungnya proyek atau organisasi agar tejadi perbaikan. Evaluasi juga bersifat sumatif yaitu mengambil pelajaran dari suatu proyek yang sudah selesai.

Kepala BTKL PP Palembang, 
Bapak Dr. Amar Muntaha, SKM, M.Kes
MC dan Tim dari P2PL Jakarta.
Disela acara, serius dan mesem-mesem?

Yang megang duet, orang belakang layar :D
Tujuan Evaluasi ada 2:
a) Untuk pembelajaran dan pengembangan
Ini tentang apa yang terjadi dan mengapa, apa yang bisa dan tidak bisa dikerjakan,serta apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan proyek.
b) Sebagai bentuk pertanggung jawaban (untuk menunjukkan kepada pihak lain bahwa kita telah bekerja dengan baik).
Lembaga donor ingin mengetahui apakah proyek telah selesai dikerjakan atau tidak, apakah perlu dilanjutkan atau tidak. Banyak proyek harus menanggapi permintaan ini supaya bias bertahan.
 
Monev bukanlah sulap yang secara ajaib dapat menghilangkan masalah begitu saja, tetapi harus melalui usaha yang keras. Monev juga bukan solusi tapi merupakan alat yang sangat berguna. 

Secara keseluruhan Monev dapat:
1. Membantu mengenali masalah dan penyebabnya
2. Memberi saran tentang solusi yang paling mungkin bagi masalah yang ada.
3. Memunculkan pertanyaan mengenai asumsi-asumsi dan strategi,
4. Mendorong untuk mereflexikan arah untuk melangkah dan bagaimana cara untuk melangkah
5. Memberi informasi dan gagasan,
6. Mendorong untuk menindaklanjuti informasi dan gagasan tersebut,
7. Memungkinkan pelaku untuk akan membuat perubahan positif.
 
Membedakan antara Monitoring dan Evaluasi:
Kita harus dapat membedakan monitoring dan evaluasi walaupun keduanya dapat dikerjakan bersama-sama. 
Contoh : semua organisasi pasti menyimpan rekaman dan catatan, pembahasan apa yang telah mereka kerjakan.  

Pemeriksaan ini disebut monitoring apabila informasi dikumpulkan secara rutin dan sistematis dan sesuai rencana.
Informasi tersebut dapat berupa informasi tentang kegiatan pelayanan, pengguna jasa, maupun tentang faktor-faktor.luar yang mempengaruhi organisasi atau proyek.. Informasi ini dikumpulkan dalam waktu tertentu misalnya : harian, bulanan, atau kuartalan.

Informasi tersebut diibutuhkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan:
· Seberapa baik pekerjaan yang kita lakukan?
· Apakah kita melakukan hal yang tepat?
· Perubahan apa yang bisa kita buat?

Pada saat titik ini sebenarnya kita juga sedang memulai evaluasi.


Dibanyak organisasi monev dipersyaratkan oleh lembaga donor sebagai alat manajemen, karena pemilik uang ingin mengetahui sejauh mana penggunaan dana telah dilakukan dan sejauh mana kejujuran dari pelaku dilapangan dapat dipercaya. Dan yang lebih penting lagi adalah apakah kegiatan ini telah berhasil membawa dampak perubahan perilaku yang diharapkan?

Secara umum monev digunakan ketika :
  • Membuat system pengumpulan data saat fase perencanaan proyek atau organisasi.
  • Perhatian pada efektifitas dan efesiensi kerja.
  • Ketika mencapai suatu tahap dalam proyek, atau dalam perjalanan organisasi, ketika kita berfikir evaluasi maka akan sangat berguna untuk melihat apakah pekerjaaan membawa dampak.
  • Donor meminta evaluasi eksternal terhadap organisasi dan atau pekerjaan.
Syarat Monitoring dan Evaluasi: 
1. Untuk melihat perkembangan dan capaian program
2. Menyepakati tujuan yang ingin dicapai dan manfaat yang diharapkan 
3. Membuat kesepakatan prinsip-prinsip yang ingin dicapai.

Jadi monev harus menjadi bagian dari perencanaan kerja paling awal, karena akan sangat sulit untuk kembali keawal dan menyusun system monitoring dan evaluasi setelah pekerjaan berjalan. Sejak awal kita perlu mengumpulkan informasi mengenai kinerja yang berhubungan dengan target yang ingin dicapai.
Caranya :
Semua yang terlibat dalam monev pertama-tama harus membuat rencana kerja yang digambarkan apa yang ingin dicapai dan bagaimana cara pencapaiannya. Rencana kerja tersebut juga harus menyatakan dengan jelas peran dan tanggung jawab, serta tempat dan batas waktu masing-masing.
 
Sebuah rencana kerja yang jelas terdiri dari:
1. Perubahan yang harus dicapai
2. Keluaran yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan
3. Kegiatan apa saja yang harus dilakukan
4. Siapa yang betanggung jawab
5. Siapa yang terlibat
6. Kapan dan dimana kegiatan akan dilakukan
7. Apa bahan-bahan yang diperlukan.
 
Menyepakati Tujuan
Seringkali monev diawasi oleh pihak luar. Hal pertama yang paling penting adalah setiap pihak harus sepakat dengan tujuan dan manfaat yang diharapkan dari suatu proyek. 

Secara umum tujuan monev harus mencakup dua hal mendasar yaitu:
Belajar dari pengalaman
  • Secara terus menerus mencari “pembelajaran baru” dari apa yang sedang dikerjakan.

  • Untuk meningkatkan efektifitas kinerja berdasarkan tujuan yang telah disepakati;

  • Untuk meningkatkan efisiensi kinerja, seperti tepat waktu, tidak melebihi batas anggaran, tidak boros dalam menggunakan sumber daya yang ada;

  • Melihat secara jelas penyebab dari keberhasilan dan kegagalan kegiatan.

  • Saling bertukar pengalaman yang relevan antar orang, kelompok, desa, maupun lembaga.
Bertanggung jawab
  • Memberikan jawaban yang jujur dan terbuka kepada masyarakat yang ingin mengetahui akuntabilitas program;

  • Siap menghadapi tantangan dan luwes dalam menghadapi orang lain jika pekerjaan dinilai orang lain tidak sesuai nilai-nilai yang disepakati

  • Mampu dan harus tertantang untuk meningkatkan akuntabilitas.
Penyajian Hasil Monitoring dan Evaluasi
Biasanya yang bertanggung jawab untuk mendokumnetasikan hasil-hasil monitoring dan evaluasi adalah penggagas dan pemilik proyek, peneliti, atau ahli lapangan lainnya.
Laporan harus memuat:
  • Penjelasan dari kegiatan apa yang terjadi saat pelaksanaan program.
  •  Ketidaksesuaian dan perbedaan antara rencana dengan pelaksanaan.
  •  Alasan terjadinya perbedaan tersebut.
  •  Cara untuk mengatasi perbedaan tersebut.
Sebagaimana di tempat lain, kantor kami, BTKL PP Palembangpun melakukannya. Dan akhir tahun 2012 ini acara  dilaksanakan pada hari Selasa di Peninsula, Kenten. Acara dihadiri oleh hampir semua warga kantor, bahkan mendatangkan TIM dari P2PL Pusat. 

Semua bidang dibahas, tata usaha berikut kepegawaian yang sudah banyak perubahan diharapkan makin baik lagi. Pelayanan makin maju dan senantiasa melaksanakan pelayanan prima sehingga pelanggan makin berdatangan. Surveilan Epidemiologi, ADKL, dan juga PTL juga demikian, semoga dimasa mendatang akan akan makin menyatu dan pencapaian programnyapun jelas tepat sasaran, sesuai dengan VISI dan MISI.

Kamis, 13 Desember 2012

Menjadi Lebih Baik

Semua berubah, tak terkecuali diri kita. Tapi sebagai seorang muslim, sejatinya perubahan itu menuju pada satu titik, kearah yang lebih baik. Ya, menjadi lebih baik.

Untuk menjadi lebih baik kita perlu proses, perlu belajar, perlu melihat kepada orang-orang yang sucses juga perlu pencerahan. Caranyapun beragam, ada yang dengan membaca buku, bisa juga berdiskusi atau mengikuti sebuah pelatihan dan pendidikan formal.

Kebaikan pribadi harus diusahakan karena memang prioritas, kebaikan komunitas juga tak kalah penting karena bisa mengubah sesuatu dengan lebih significan. Bersama kita bisa, pasti semua pernah mendengar ungkapan ini kan ya...

Dan dalam rangka itulah, kantor kami mendatangkan seorang trainer handal Bapak Ade R Saptadjie beliau ditemani oleh Mbak Niar dari Quantum Prashida yang awalnya bergabung dengan RCchem, http://www.rcchem.co.id/rcchem/profile. Semangat perbaikan begitu nyata, semoga bisa terealisir sesuai teori yang telah kami dapatkan.

Hari kedua, dominan suasana ceria.
Hari pertama, nuasa cool, apa sok serius :D
Latar belakang diadakan acara ini tak lain dan tak bukan karena sebagai PNS kami sering terjebak pada satu pendapat, ngapain rajin, tak perlulah kreatif toch gajinya sama saja. Huaaaa... tapi benar lho, ini fenomena.

Akhirnya dibuatlah acara ini, sebagai upaya menjadi lebih baik bersama-sama. Intinya, bahwa meningkatkan pelayanan itu harus dimulai dari diri sendiri. Sebagai Abdi Negara jangan banyak tuntutan, berkarya saja semampunya, maka akan terbuka kesempatan untuk meraih kemajuan, tentunya yang berbau keberkahan.

***

Terima kasih buat semua yang tetap menyempatkan diri menyambangi rumah mayaku, juga semua dulur blogger yang masih merindukanku #gubbraaaakkk# maafkan daku belum bisa bw, padahal rindu sekali, saat ini harus puas dengan sr.

Rabu, 12 Desember 2012

121212: Rekaman Filariasis

Sepintas Kilas tentang Filariasis

Penyakit Kaki Gajah atau Filariasis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan melalui berbagai jenis nyamuk.

Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan, dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki. Penyakit ini cukup banyak ditemukan di Indonesia.

Cara Penularan
Penyakit ini ditularkan melalui nyamuk yang menghisap darah seseorang yang telah tertular sebelumnya. Darah yang terinfeksi dan mengandung larva dan akan ditularkan ke orang lain pada saat nyamuk yang terinfeksi menggigit atau menghipas darah orang tersebut.
Tidak seperti Malaria dan Demam berdarah, Filariasis dapat ditularkan oleh 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes & Armigeres. Karena inilah, Filariasis dapat menular dengan sangat cepat.

Gejala klinis
Gejala Filariais Akut dapat berupa:
  • Demam berulang-ulang selama 3-5 hari, demam dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat
  • Pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiak (lymphadenitis) yang tampak kemerahan, panas dan sakit
  • Radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis)
  • Filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah
  • Pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (early lymphodema)
Gejala klinis yang kronis berupa pembesaran yang menetap (elephantiasis) pada tungkai, lengan, buah dada, buah zakar (elephantiasis skroti). 

Diagnosis
Bila seseorang tersangka Filariasis ditemukan tanda-tanda dan gejala klinis, diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan darah jari yang dilakukan mulai pukul 20.00 malam waktu setempat. Seseorang dinyatakan sebagai penderita Filariasis, apabila dalam darah ditemukan mikrofilaria.

Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan:
  • Berusaha menghindarkan diri dari gigitan nyamuk penular
  • Membersihkan tanaman air pada rawa-rawa yang merupakan tempat perindukan nyamuk, menimbun, mengeringkan atau mengalirkan genangan air sebagai tempat perindukan nyamuk
  • Membersihkan semak-semak disekitar rumah

Jejak Membidik Filariasis
Pemeriksaan Survey Darah Jari (SDJ) di Dua Tempat

SDJ di Gandus.
SDJ di Puskesmas Gandus
Penderita Filariasis di Gandus, Palembang

Filariasis di tengah kota Palembang.
Pemeriksaan Laboratorium Filariasis di BTKL

Berhari-hari nengok mikroskop, pedih juga mata ;D
Hasil yang positif, B. malayi
Kegiatan Survey Darah Jari(SDJ) di BTKL PP Kelas I Palembang sudah usai, ini hanya cuplikan untuk mengisi hari 121212 yang dianggap bersejarah oleh banyak orang. Bagaimana denganmu, apa acara di 121212 ini?

Jumat, 07 Desember 2012

PAEL Kajian KLB di Puskesmas Kenten

Masih dalam rangka PJJ PAEL tahap II, kami melakukan Praktek Lapangan ke Puskesmas terdekat. Dan yang terpilih untuk kami datangi adalah Puskesmas Kenten, Palembang.

Berikut cuplikannya...

***



I.  PENDAHULUAN

Pelatihan Asisten Epidemiologi Lapangan (PAEL)  bertujuan untuk memberi bekal kemampuan kepada peserta latih dalam melaksanakan program surveilans di Unit kerjanya. Kurikulum pelatihan disusun berdasarkan tugas serta kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang petugas surveilans di Unit kerjanya . Untuk itu proses pembelajaran dirancang melalui suatu proses dan penggunaan metode diklat jarak jauh yang melibatkan peran serta aktif dari peserta latih serta memberi kesempatan kepada peserta untuk melakukan proses pembelajaran sistem on line dan sambil melakukannya sendiri (learning by doing).

        Salah satu proses pembelajaran yang penting dalam suatu pelatihan jarak jauh adalah kesempatan menerapkan atau mempraktekkan hasil belajar di kelas melalui suatu praktek lapangan. Karena itu pada pelatihan surveilans epidemiologi untuk petugas surveilans ini, praktek kerja lapangan (PKL) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kurikulum pelatihan tersebut. PKL harus dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan peserta latih untuk mempraktekkan secara utuh pelaksanaan surveilans di puskesmas dan kabupaten yang meliputi : 1) Dasar-dasar epidemiologi, 2) Dasar-dasar surveilans epidemiologi, 3) Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB), 4) Pengelolaan data surveilans Epidemiologi (Aplikasi Epi Info 2000), serta 5) Komunikasi Risiko.

Oleh karena itu pada pelatihan PAEL untuk petugas surveilans juga perlu dilakukan PKL untuk mengamati serta mempraktekkan pelaksanaan surveilans di puskesmas dan kabupaten pada situasi yang sebenarnya. Disamping itu PKL juga dapat memberikan pengalaman belajar bagi peserta latih agar terwujud kemampuan melaksanakan surveilans yang sebenarnya nanti di tempat kerjanya masing-masing.

II.  TUJUAN

A.      Tujuan Umum :

Peserta mampu mempraktekkan pelaksanaan surveilans epidemiologi, dan penyelidikan Epidemiologi KLB  (PE-KLB).



B.      Tujuan Khusus :

Peserta mampu untuk :

1.       Melakukan system surveilans epidemiologi , yang mencakup

a.       Memahami konsep dasar dan langkah-langkah surveilans epidemiologi.

b.      Mengidentifikasi sumber data dan jenis data

c.       Memperhitungkan kelengkapan,ketepatan dan  kebenaran laporan.

d.      Mengaplikasikan penjelasan Sistem Kewaspadaan Dini KLB dan Pemantauan Wilayah Setempat/PWS, Surveilans penyakit potensial KLB,PD3I dan New merging diseases dengan :

§  Pengumpulan data

§  Pengolahan dan analisis data

§  Intepretasi dan penyusunan laporan

§  Menyajikan hasil surveilans epidemiologi ( presentasi/expose )

2.       Melakukan penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan KLB , yang mencakup:

a.       Memahami konsep penyelidikan epidemiologi, system pelaporan KLB/Wabah,langkah-langkah penyelidikan epidemiologi sesuai standard an penyelidikan KLB keracunan.

b.      Mengaplikasikan Penyelidikan Epidemiologi Penyakit  Menular dengan :

§  Pengumpulan data

§  Pengolahan dan analisis data

§  Intepretasi dan penyusunan laporan

§  Menyajikan hasil surveilans Epidemiologi (presentasi/expose)


III.GAMBARAN UMUM PKM KENTEN

           Merupakan Puskesmas di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Palembang yang berada di Kelurahan 8 Ilir, Kecamatan Ilir Timur 2, Kota Madya Palembang.

•Luas Wilayah   : 3979 Km2 
•Data Penduduk  :  Laki-Laki      : 19181 jiwa , Perempuan  : 20277 Jiwa,  Total : 39.458 Jiwa

•Sarana dan prasarana

  - Poskeskel  : 8 Ilir, Kuto Batu, Pustu  : 2,Posyandu  : 24, Pos UKK  : 1 dan BPS  : 8

IV. Kajian Epidemiologi Ancaman KLB

Untuk mengetahui adanya ancaman KLB, maka dilakukan kajian secara

terus menerus dan sistematis terhadap berbagai jenis penyakit berpotensi

KLB dengan menggunakan bahan kajian :

a. data surveilans epidemiologi penyakit berpotensi KLB,

b. kerentanan masyarakat, antara lain status gizi dan imunisasi,

c. kerentanan lingkungan,

d. kerentanan pelayanan kesehatan,

e. ancaman penyebaran penyakit berpotensi KLB dari daerah atau

negara lain, serta

f. sumber data lain dalam jejaring surveilans epidemiologi.


Sumber data surveilans epidemiologi penyakit berpotensi KLB adalah :

a. laporan KLB/wabah dan hasil penyelidikan KLB,

b. data epidemiologi KLB dan upaya penanggulangannya,

c. surveilans terpadu penyakit berbasis KLB,

d. sistem peringatan dini-KLB di rumah sakit


Dalam hal ini kami memilih fokus pada CAMPAK.

Cakupan Program Imunisasi
No
IMUNISASI
TARGET
PENCAPAIAN
2008
2009
2010
2011
1
BCG
90 %
99 %
102,9 %
96,1 %
96,1 %
2
DPT 1
90 %
99 %
108,8 %
97,3 %
93,3 %
3
DPT 3
80 %
90 %
108,6 %
96,5 %
88,9 %
4
POLIO 1
90 %
97 %
99,3 %
99,9 %
96,7 %
5
POLIO 4
90 %
97 %
90,9 %
96,1 %
92,2 %
6
HEPATITIS 1
90 %
90 %
108,8%
97,3 %
93,3 %
7
HEPATITIS 3
80 %
86,7 %
108,6 %
96,5 %
88,9 %
8
Hepatitis < 7 hari
80 %
85,4 %
63,4 %
84,7 %
59,6 %
9
Campak
90 %
97 %
99,9 %
96,1 %
93 %
10
TT 1
90 %
95,1 %
94,3 %
95,1 %
95 %
11
TT 2
90 %
90,5 %
90 %
90,9 %
89,8 %

 
•Berdasarkan rekap STP Pada tahun 2010 dan 2011 sebesar 80% penderita campak yang berobat ke PKM Kenten telah mendapatkan vaksin campak.



•Pada tahun 2012, pengisian data vaksin campak sebelum sakit pada penderita tidak diisi.
V. Kesimpulan dan Saran

•Berdasarkan data bahwa kasus campak termasuk tinggi di PKM Kenten, namun tidak pernah dilakukan penyelidikan epidemiologi lapangan. Hal ini dilihat dari tidak adanya pengambilan dan uji sampel darah.
Diskusi Surveilans Epidemiologi Campak
•Cakupan imunisasi per tahun >90%, sedangkan data pada tahun 2009-2010, 80% penderita telah divaksinasi. Hal ini memungkinkan adanya hubungan antara efikasi vaksin dan terjadinya campak termasuk di dalamnya proses cold chain, proses penyuntikan dll.
•Sedangkan pada tahun 2012 tidak diketahui karena datanya tidak diisi.

•Sebaiknya petugas kesehatan menindaklanjuti setiap rumor penyakit yang berkembang di masyarakat.
•Melibatkan peran aktif masyarakat dalam melaporakan setiap kejadian penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB
•Perlu meningkatkan upaya perbaikan gizi balita BGM.
•Petugas PKM perlu meningkatkan penyuluhan tentang pentingnya vaksinasi.