Paypal, nama yang asing bagiku. Secara jual beli online bisa dibilang masih sangat jarang kulakukan. Adanya Kontes Old &
New ~ Belanja Secara Online di
BlogCamp membuatku sedikit berkernyit. Penasaran, ingin tahu. Katrok apa norak
ya aku? Biarin dech, norok-norak bergembira, hehe…
Akupun bertanya kesana kemari, jawaban yang kudapatkanpun beragam. Kebanyakan justru balik bertanya: “Paypal? Oh untuk belanja online itu? Emang apa bedanya sama kartu kredit?” *asli makin bingung dech…
Atau dialogku dengan suami tercinta,
“Paypal buat belanja online kan, itu mach
buat orang yang sibuk banget Mi. Kalau kita buat apa ya, kita kan bisa
belanja langsung”
Terpaksa yang membawa nikmat.
Seperti kisah Pendekar Payman berikut ini:
Akupun bertanya kesana kemari, jawaban yang kudapatkanpun beragam. Kebanyakan justru balik bertanya: “Paypal? Oh untuk belanja online itu? Emang apa bedanya sama kartu kredit?” *asli makin bingung dech…
Disela-sela penyelenggaraan "GA Gurindam Muharam” lalu, akupun bertanya pada Tia. Biasanya Tia sangat bisa kuandalkan dalam menjawab semua keluguanku dalam ilmu pembloggeran, tapi ternyata kali ini beliaupun masih belum begitu mengenal si Paypal. Akupun pantang mundur. Akhirnya aku 'terpaksa' membaca banyak artikel yang berhubungan dengan belanja online dan tentunya juga tentang serba-serbi Paypal. Terutama di website JualBeliPaypalBalance.com. Tak terkecuali artikel para sahabat yang sudah mendaftar ikut kontes. Wich salut aku, ternyata ada yang sudah menjadikan Paypal sahabat dalam berinvestasi di dunia maya. Dan akupun tergiur.
Atau dialogku dengan suami tercinta,
“Abi tahu Paypal? Kita beli Paypal yuk!, ” dengan rayuan yang meragukan.
“Paypal buat belanja online kan, itu mach
buat orang yang sibuk banget Mi. Kalau kita buat apa ya, kita kan bisa
belanja langsung”
Aku diam, bingung mau jawab apa. Padahal
aku sangat setuju dengan Komandan Blog Camp, bahwa pesatnya perkembangan
informasi dan teknologi memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk belanja
secara online. Situs bisnis online bermunculan bak cendawan di musim
hujan. Aneka barang dagangan diperjual-belikan secara online misalnya barang
eletronik, buku, pakaian, asesoris, domain/hosting, perlengkapan/peralatan rumah
tangga dan lain sebagainya. Tak perlu bersusah payah mencari hadiah untuk
orang-orang tercinta. Dengan sekali atau dua klik mereka akan menemukan aneka
barang di toko online. Bahkan cara pembayarannya juga dipermudah melalui
PayPal. Belanja secara online memungkinkan anda menemukan barang yang langka di
pasar sekalipun. Tapi aku belum punya argument untuk meyakinkan diriku sendiri untuk membeli
Paypal, lantas bagaimana aku mampu meyakinkan orang lain? Karena sejujurnya belanja
online juga masih jarang sekali, itupun bisa melakukan pembayaran tampa pakai
si Paypal.
Mudah saja ternyata, dengan dana yang tak terlalu besar kita langsung bisa beli Paypal. Tapi masih begitu banyak pertanyaan berkelebat dalam kepalaku. Nanti kalau aku sudah punya Paypal bagaimana mengelolanya ya? Aachhch pertanyaan yang belum tuntas terjawab. Sementara hari ini batas akhir pendaftarannya. Jadi biarlah besok-besok aku belajar lagi. Yang penting ikut kontes dulu. Mana tahu justru dengan ikutan Kontes Old & New ~ Belanja Secara Online ini ada yang mampu 'memaksaku' untuk beli Paypal. Sebab seringkali, dalam hal kebaikan, kita justru perlu dipaksa.
Terpaksa yang membawa nikmat.
Seperti kisah Pendekar Payman berikut ini:
Pada suatu masa, hiduplah seorang Raja yang mempunyai seorang putri tunggal. Yang sudah saatnya menikah. Maka sang Rajapun bermaksud mengadakan sayembara untuk mencari seorang menantu untuk putri kesayangannya, sekaligus juga orang yang akan mewarisi singasananya kelak.
Dan untuk itulah sang Raja melakukan sayembara. Pengumuman disebar keseluruh pelosok negeri bahkan sampai ke seberang lautan dan kerajaan tetangga. Singkat cerita. Sampailah hari yang dinanti, saat mana sayembara itu berlangsung. Semua peserta sudah berkumpul dialun-alun kerajaan menanti peraturan sayembara yang akan segera digelar. Ternyata, sayembara yang sangat menantang. Dimana peserta diminta untuk menyeberangi sebuah sungai disamping istana. Sungai yang tak begitu besar, tapi sudah penuh diisi oleh binatang buas, dari mulai buaya sampai ular yang memang sedang sangat kelaparan. Sejumlah peserta yang terdiri dari para kesatria, pendekar juga pangeranpun mundur teratur. Tak sanggup menyongsong maut walau demi imbalan yang sangat mengiurkan.
Hari pertamapun ditutup tampa seorangpun berani mencoba. Rajapun kecewa, tapi masih berharap besok akan ada seoran peserta yang berani menjawab tantangannya, siapapun dia. Berita inipun menjadi buah bibir semua rakyat negeri, maka keesokan harinya saat fajar belum lagi menyinsing, berduyun-duyunlah orang menuju ke alun-alun istana tepat disisi sungai yang dijadikan arena lomba. Yang banyak itu, bukan datang untuk menjadi peserta. Tapi berniat menjadi penonton siapakah jawara sejati yang layak memenangkan sayembara ini. Saat matahari makin tinggi, orang yang berkumpulpun makin banyak. Rapat dan riuh sekali.
Saat itulah seorang pendekar tangguh yang baru turun gunung mendekati kerumunan itu.Tak tahu menahu. Iapun penasaran. "Permisi, permisi", katanya sambil meringsek maju. Sesekali lontaran tanyanyapun muncul. "Ada apa ya? Kok ramai sekali?" Tapi masing-masing orang sibuk dan tak peduli. Sang Pendekar itupun makin bergerak maju. Dan tiba-tiba, Sang Pendekarpun terjun ke sungai, cepat sekali. Berenang dengan sekuat tenaganya. Dan luar biasa, iapun berhasil sampai keseberang. Semua bersorak. Kagum dan langsung mendaulatnya sebagai pemenang. Sang Raja tak kalah gembira. Langsung menghambur memeluk pendekar itu yang masih basah kuyub. "Hebat, kamu memang layak mendapatkan putriku", kata sang Raja. Dipeluknya erat Sang Pendekar sampai megap-megap. "Coba ceritakan, bagaimana bisa dirimu begitu berani?" tanya sang Raja. Apa jawabannya sambil masih terengah-engah.“Sebentar tuan Raja, sebelumnya izinkan daku bertanya, sebenarnya siapa yang telah mendorongku tadi? Sehingga aku akhirnya terpaksa berenang seperti orang dikejar setan agar tak diterkam buaya dkk didalam sungai itu”.
*Huauuuuaaa, ternyata tadi ada yang menceburkannya secara tak sengaja too…
Tapi akhirnya berbuah kemenangan, sang Pendekar yang ternyata bernama Payman itupun justru berterima kasih pada orang yang telah mendorongnya ke Sungai tadi. Oh oh… akupun ingin menjadi orang seberuntung Pendekar Payman dalam kisah ini. Walaupun awalnya tak sengaja atau ‘dipaksa’. Dan semoga ada yang berhasil meyakinkanku, bahwa aku perlu Paypal, ya seseorang yang mungkin juga berhasil 'memaksaku' untuk membeli Paypal.
![]() |








